SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 20 April 2018   -HARI INI-
  Kamis, 19 April 2018
  Rabu, 18 April 2018
  Selasa, 17 April 2018
  Senin, 16 April 2018
  Minggu, 15 April 2018
  Sabtu, 14 April 2018
POKOK RENUNGAN
Lalu Ia berkata kepada mereka: ’Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.’ [Markus 16:15]
DITULIS OLEH
Pdt. Victor Y. Nugraha
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Melaksanakan Komitmen Yang Satu : Mewartakan Injil-Nya
Melaksanakan Komitmen Yang Satu : Mewartakan Injil-Nya
Sabtu, 28 Oktober 2017
Melaksanakan Komitmen Yang Satu : Mewartakan Injil-Nya
Markus 16:15-16

Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia
Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia
Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia

Teks di atas merupakan isi teks dari Sumpah Pemuda yang dibacakan di Jakarta pada 28 Oktober 1928. Sumpah Pemuda merupakan sebuah komitmen bersama dari segenap pemuda dan pemudi Indonesia yang terdiri dari berbagai elemen di bangsa ini yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, dari Minangas hingga Pulau Rote. Komitmen untuk apa? Komitmen untuk bersama-sama melepaskan ego pribadi dan melepaskan diri dari kolonialisme penjajah, serta bertekad bulat untuk bersatu menjunjung tinggi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sumpah Pemuda menjadi tonggak dimulainya sebuah kesatuan perjuangan dengan satu nama Indonesia. Perjuangan yang bukan lagi tentang kesukaan dan kedaerahan. Indonesia bukan lagi hanya berbicara dan berjuang tentang Jawa...selengkapnya »
Seorang guru bijak mendatangi muridnya yang tampak murung. ’Kenapa kau murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini?’ sang guru bertanya. ’Guru hidupku penuh masalah. Sulit bagiku untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya.’ jawab sang murid. Sang guru tersenyum. ’Nak, ambillah segelas air dan dua genggam garam, bawalah kemari.’ Si muridpun beranjak pelan tanpa semangat, mengambil gelas dan garam yang diminta gurunya. ’Coba ambil segenggam garam dan masukkan ke gelas air itu’, kata gurunya. ’Sekarang kau minum airnya sedikit.’ Si muridpun melakukannya. Wajahnya meringis karena minum air asin. ’Bagaimana rasanya?’ tanya sang guru. ’Asin sekali dan perutku jadi mual.’ jawab sang murid. ’Sekarang kau ikut aku.’ Sang guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat pondokan mereka. ’Ambil garam yang tersisa dan tebarkan ke danau.’ Si murid menebar garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. ’Sekarang coba kau minum air danau itu.’ kata sang guru. Si murid menangkupkan kedua tangannya mengambil air danau, dan membawa ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di kerongkongannya, sang guru bertanya kepadanya. ’Bagaimana rasanya?’ ’Segar sekali.’ kata si murid. ’Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?’ ’Tidak sama sekali’ kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang guru hanya tersenyum memperhatikannya membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas. ’Nak.’ kata sang guru setelah muridnya selesai minum. ’Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah diketahui oleh Tuhan, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia inipun demikian. Tidak ada satupun manusia, walau dia seorang nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah. Rasa ’asin’ dari penderitaan yang kita alami itu sangat tergantung dari besarnya hati yang menampungnya. Jadi nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan hati dalam dadamu itu sebesar danau.’ Si murid terdiam mendengarkan. Milikilah hati yang lapang, hati yang penuh dengan ucapan syukur dan yang sanggup menampung setiap perkara yang terjadi dalam hidup kita.
Yeremia adalah salah satu nabi yang dipakai oleh Tuhan seperti halnya Musa. Ketika Tuhan memanggil Yeremia dan memberitahukan kepadanya bahwa ia telah ditetapkan menjadi nabi bagi bangsa-bangsa. Yeremia menanggapi panggilan Tuhan dengan “Tahu diri” bahwa dirinya tidak pandai bicara, apalagi dirinya yang masih muda, belum ada pengalaman. Namun demikian bukan berarti Yeremia menolak panggilan tersebut. Ada 2 hal yang terkandung dalam tanggapan Yeremia atas panggilanNya. Pertama : Ketidakmampuannya. Yeremia menjelaskan ketidakmampuannya dalam hal berbicara karena ia sadar betul dimana seorang nabi harus tegar dalam menyampaikan perkataan Firman yang dari Tuhan kepada umatNya. Sementara ia “Tahu diri” masih muda belum berpengalaman lalu harus berbicara di hadapan sebuah bangsa, baik yang anak-anak, remaja, pemuda, dewasa dan para tua-tua yang sudah berpengalaman diantara umat-umat tersebut [ayat 6] itulah yang dibayangkan oleh Yeremia. Mampukah aku menyuarakan kehendak Tuhan? mampukah aku berbicara dengan tegas? Kedua : Penyerahan diri. Orang yang menolak sebuah tugas karena alasan tidak mampu sangat berbeda dengan orang yang menolak tugas karena memang tidak bersedia melakukan tugas tersebut. Di dalam tanggapan atas panggilannya Yeremia menjelaskan keadaan yang sesungguhnya bahwa ia memiliki kelemahan. Pengakuan Yeremia itu bukan sekedar untuk memberitahu Tuhan namun itu adalah suatu bentuk penyerahan diri. Dan Tuhan tahu hal itu. Tuhan tidak butuh hal lain dari Yeremia. Ia butuh kesediaan dan ketaatan Yeremia untuk melakukan apa yang Ia perintahkan. Kekurangan dalam diri Yeremia bukan menjadi penghalang untuk Tuhan memakainya. Hanya dengan mengulurkan tanganNya ke mulut Yeremia, kesulitan itu teratasi. Semua orang pasti memiliki kekurangan dalam dirinya termasuk kita orang percaya yang seringkali menjadi penghalang bagi diri kita untuk melakukan sesuatu untuk Tuhan tetapi apapun kekurangan itu akuilah semua di hadapan Tuhan. Tuhan tahu bagaimana memperlengkapi kita guna dipakai untuk tujuanNya bahkan dengan karunia-karunia yang tidak pernah kita duga untuk diberikan kepada kita untuk memberikan yang terbaik buat keselamatan jiwa-jiwa melalui Roh KudusNya yang ditaruh di dalam hidup kita. Nyatakan kekurangan dan kelemahan diri kepada Tuhan dan penyerahan diri kita kepadaNya maka Tuhan akan memampukan kita seperti halnya Tuhan sudah memampukan Yeremia.
Mengalami Tuhan yang bangkit Yohanes 20:24-29 Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: ’Kami telah melihat Tuhan!’ Tetapi Tomas berkata kepada mereka: ’Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.’ [ayat 25] Tomas tidak percaya bahwa Tuhan Yesus bangkit dan hidup. Sebelumnya murid-murid yang lain telah berjumpa dengan Yesus yang bangkit, tetapi waktu itu Tomas tidak ada bersama mereka. Tomas tidak mengalami Tuhan yang bangkit karena dia tidak ikut berkumpul bersama murid-murid yang lain. Tomas termasuk tipe orang yang sulit percaya sebelum melihat bukti. Dia menuntut bukti kebangkitan Yesus dengan cara meraba atau menyentuh dengan tangannya sendiri tubuh Yesus yang bangkit. Lalu Yesus menampakkan diri dan mempersilahkan Tomas mencucukkan jarinya ke dalam lobang bekas paku dan mencucukkan tangannya ke dalam lambung-Nya. Apa yang bisa kita pelajari dari peristiwa ini? Pertama, bahwa Tuhan Yesus yang bangkit itu adalah pribadi yang riil, nyata. Dia bukan sekedar ada dalam cerita atau dalam angan-angan para murid. Dia hadir secara nyata di tengah murid-murid-Nya. Dia menyatakan bahwa Dia tetap hidup dan berkuasa, seperti sebelum Dia mati di kayu salib. Dia juga tetap hidup sampai hari ini. Kita bisa mengalami kehadiran-Nya secara nyata pula. Kedua, Tuhan Yesus menyatakan diri-Nya di tengah persekutuan murid-murid-Nya, ketika mereka sedang berdoa bersama. Tomas ketinggalan menyaksikan Tuhan karena dia tidak ikut persekutuan mereka. Di sini kita melihat betapa pentingnya persekutuan orang percaya atau ibadah bersama. Tuhan Yesus hadir dan menyapa umat-Nya yang bersatu hati di dalam doa, sebab Dia sendiri pernah berkata: ’Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.’ [Matius 18:20]. Marilah kita merindukan kehadiran Tuhan yang bangkit di dalam hidup kita. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
Banyak tokoh di dunia ini terus menginspirasi masyarakat luas untuk jangka waktu yang cukup lama. Di antaranya Martin Luther King, Jr., yang berjuang melawan diskriminasi ras di Amerika Serikat, Mother Theresa, yang rela terjun langsung ke lapangan untuk merawat orang sakit di India, William Wilberforce, yang berjuang menghapus perbudakan di Inggris, Romo Mangun yang berjuang di Yogyakarta, untuk merubah kondisi masyarakat di Kali Code, dan masih banyak lagi tokoh lainnya. Apakah kunci keberhasilan mereka? Mereka terus menjagai komitmen yang telah dibuat. Walaupun harus mengalami masa-masa berat, mereka pantang menyerah sehingga mencapai akhir perjuangan. Alkitab juga mencatat tokoh-tokoh yang menjaga komitmen hingga akhir. Contohnya Paulus. Setelah bertobat, ia memberitakan Injil, terutama kepada bangsa bukan Yahudi. Hal ini bukan perkara yang mudah. Begitu banyak tantangan berat menghampirinya, dari kaum Yahudi, dari orang-orang bukan Yahudi, dari alam [2 Korintus 11:23-33], bahkan dari penyakit tubuhnya [2 Korintus 12:7,8]. Namun, ia tetap dapat menjaga komitmennya. Rahasianya? Dari waktu ke waktu ia menjalani pertandingan iman dengan selalu melupakan apa yang di belakang [dalam bahasa Yunani kata ’melupakan’ di sini tidak sama seperti kalau kita lupa sesuatu. Kata ini lebih berarti tidak berfokus ke masa lalu, tetapi kepada tujuan, visi hidup di depan] dan mengarahkan diri pada tujuan hidupnya, yakni memenuhi panggilan Tuhan [Filipi 3:13,14]. Apakah berbagai tantangan juga terus menghantam kita, sehingga kita sulit menjaga komitmen? Seperti Paulus, kita ini hamba yang dituntut untuk taat, maka mintalah kekuatan dari Tuhan. Seperti Paulus, kita ini hamba yang Tuhan pilih dan layakkan untuk menjadi saksi-Nya, maka ingatlah pentingnya tugas yang harus terus kita kerjakan. Sebab hanya dengan kekuatan yang datangnya dari Tuhan sajalah kita dimampukan untuk tetap setia dan tetap berkomitmen untuk mengikut dan melayani-Nya.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Melakukan Yang Terbaik
23 Maret '18
Tuhan Yesus Teguh Iman Dan Mengutus
14 April '18
Jesus Effect
12 April '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang