SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 24 Januari 2020   -HARI INI-
  Kamis, 23 Januari 2020
  Rabu, 22 Januari 2020
  Selasa, 21 Januari 2020
  Senin, 20 Januari 2020
  Minggu, 19 Januari 2020
  Sabtu, 18 Januari 2020
POKOK RENUNGAN
Bila kita memahami bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan keselamatan bagi semua manusia, maka kita tidak akan ragu buka mata, lakukan sekarang untuk menuai jiwa-jiwa bagi Tuhan.
DITULIS OLEH
Pdm. Hendy Aguswibowo L.
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Melihat, Lakukan, Menuai
Melihat, Lakukan, Menuai
Selasa, 10 September 2019
Melihat, Lakukan, Menuai
Yohanes 4:35


Pada saat yang tepat sekali ketika Tuhan mengatakan perkataan-perkataan ini, Ia sedang berada di tengah-tengah ladang penuaian yang berisi jiwa-jiwa dari orang-orang Samaria, laki-laki maupun perempuan. Ia sedang menjelaskan kepada para murid bahwa pekerjaan besar untuk mengumpulkan hasil panen terhampar di depan mereka, dan bahwa mereka harus mengerjakannya segera dan dengan tekun.

Jadi hari ini, Tuhan berkata kepada kita, “Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning.” Tuhan meletakkan di dalam hati kita beban untuk jiwa-jiwa terhilang di sekeliling kita. Tuhan memanggil kita untuk bangun dan bekerja bagi Dia, mencari untuk membawa masuk berkas-berkas tuaian .

Lalu apa yang pertama-tama kita lakukan?? Pertama, Melihat, artinya buka mata dan perhatikan kemudian mengerti, bahwa mereka yang belum mengenal Kristus adalah orang-orang yang perlu dikasihani. Karena mereka sedang menuju kepada kebinasaan. Tugas kitalah membawa mereka kepada Kristus sehingga merekapun mengalami keselamatan. ...selengkapnya »
Waktu berjalan dengan begitu cepat, dan tidak terasa tulisan demi tulisan yang ada di renungan warta jemaat sudah berjalan selama tujuh tahun lamannya. Sejak tulisan renungan warta untuk pertama kalinya dimuat di dalam warta jemaat pada bulan Januari tahun 2011, hingga di hari terakhir di tahun 2019 ini, ada banyak hal menarik di dalamnya. Para penulis renungan harian berusaha memberikan yang terbaik bagi para pembaca renungan ini. Para penulis berusaha menuangkan ide dan perenungannya untuk mengajak jemaat dan seluruh pembaca dapat bertumbuh imannya melalui tulisan ini. Bukan hal yang mudah, bagi para penulis untuk menyajikan ide yang segar, original dan bermanfaat bagi para pembaca. Lihatlah, bagaimana ide tulisan dengan ilustrasi tokoh imajimer yang bernama Benay dan Sambey, dikemas dengan segar yang kemudian membawa jemaat masuk dalam refleksi yang lebih dalam. Atau ilustrasi seputar kisah pribadi dari sang penulis, yang dimunculkan dalam tulisannya. Juga ilustrasi pengantar berupa hal-hal yang terkait dengan sepakbola atau film juga turut muncul di sana. Bahkan, ulasan seputar politik, maupun kejadian sehari-hari yang update pun, pernah muncul dalam renungan harian warta jemaat. Konsisten untuk tetap menulis dan menuangkan ide yang segar sebagai bahan perenungan untuk renungan di warta jemaat, bukan hal yang sederhana dan mudah bagi para penulis. Para Penulis hanya alat-Nya Tuhan untuk memberkati jemaat melalui tulisan. Jika bukan karena Tuhan yang membimbing, para penulis bukanlah siapa-siapa. Tuhan yang membimbing dan memberikan kekuatan! Nabi Samuel beserta seluruh umat Israel pun menyadari hal yang serupa. Bangsa Israel merasakan dan tahu benar tentang sulitnya berperang melawan orang Filistin. Bahkan, tidak jarang juga bangsa Israel harus menelan kekalahan dari lawannya itu, seperti yang dikisahkan di dalam 1 Samuel 4. Seperti halnya sebuah roda yang ada kalanya di atas dan ada kalanya di bawah, kisah sebaliknya justru diceritakan di 1 Samuel 7. Di dalam 1 Samuel 7, bangsa Israel mengalami kemenangan yang luar biasa. Apakah kemenangan ini adalah karena bangsa Israel yang hebat? Nabi samuel, memberi jawaban dengan mendirikan sebuah “monumen”, dengan berkata, ’Eben-Haezer, katanya: ’Sampai di sini TUHAN menolong kita’ [ay.12]. Kata-kata ini bukanlah hanya sebuah perkataan formalitas, namun ada makna mendalam di dalamnya. Sebuah ungkapan iman yang menyatakan Tuhan yang menjadi pelindung, penolong dan pembela bagi umat Israel, di dalam segala keadaan. Bagaimana dengan kita? Apakah kita masih percaya bahwa Tuhan menolong dan menyertai kita hingga detik ini? Masihkah percaya dengan kuasa Tuhan yang tidak terbatas? Masihkah kita percaya pada kebaikan Tuhan? Ataukah, justru dari hari ke hari kita menjadi ragu kepada Tuhan? Tinggal beberapa saat lagi kita meninggalkan tahun yang lama, untuk memulai tahun yang baru. Kira-Nya di tahun yang baru, iman itu tidak menjadi pudar. Iman kita harus terus menyala-nyala di dalam Tuhan. Sebab dari sekarang dan sampai selama-lamanya, Tuhan selalu menolong kita. Selamat bersukacita di dalam Tuhan di tahun yang baru. Tuhan Yesus Memberkati.
Malam itu, pukul setengah dua belas malam. Seorang wanita Negro rapi yang sudah berumur, sedang berdiri di tepi jalan tol Alabama. Ia nampak mencoba bertahan dalam hujan sangat deras, hampir seperti badai. Mobilnya kelihatannya lagi rusak, dan perempuan ini sangat ingin menumpang mobil. Dalam keadaan basah kuyup, ia mencoba menghentikan setiap mobil yang lewat. Mobil berikutnya dikendarai oleh seorang pemuda bule, dia berhenti untuk menolong ibu ini. Kelihatannya si bule ini tidak paham akan konflik etnis tahun 1960-an, yaitu pada saat itu. Pemuda ini akhirnya membawa si ibu Negro selamat hingga suatu tempat, untuk mendapatkan pertolongan, lalu mencarikan si ibu ini taksi. Walaupun terlihat sangat tergesa-gesa, si ibu tadi bertanya tentang alamat si pemuda. Wanita itu menulisnya, lalu mengucapkan terima kasih pada si pemuda. 7 hari berlalu, dan tiba-tiba pintu rumah pemuda bule ini diketuk seseorang. Kejutan baginya, karena yang datang ternyata kiriman sebuah televisi set besar berwarna [1960-an !] khusus dikirim kerumahnya. Terselip surat kecil tertempel di televisi, yang isinya adalah : “ Terima kasih nak, karena membantuku di jalan Tol malam itu. Hujan tidak hanya membasahi bajuku, tetapi juga jiwaku. Untung saja anda datang dan menolong saya. Karena pertolongan anda, saya masih sempat untuk hadir disisi suamiku yang sedang sekarat hingga wafatnya. Tuhan memberkati anda, karena membantu saya dan tidak mementingkan dirimu pada saat itu” Tertanda Ny.Nat King Cole. Perempuan kaya Sunem memberikan pertolongan kepada Elisa. Ia mengetahui bahwa Elisa adalah seorang abdi Allah. Sehingga ia selalu memberi makan setiap Elisa melakukan perjalanan ke daerah tersebut. Bahkan pada kesempatan yang baik, ia membuatkan sebuah kamar lengkap dengan perabotannya. Ia melakukan semua itu bukan semata-mata karena ia ingin menunjukkan kehidupannya mampu, tetapi memang ia sungguh memiliki kebaikan hati untuk menolong sesama serta menunjukkan perhatian kepada kepentingan orang lain. Elisa mengetahui bahwa perempuan Sunem sudah tidak lagi membutuhkan apa-apa lagi. Elisa melalui hambanya, menanyakan apa yang dibutuhkan oleh perempuan itu. Ternyata satu hal yang belum dimiliki olehnya, yaitu keturunan. Perempuan itu merindukan kehadiran seorang anak dalam hidupnya. Dengan perantaraan Elisa, Tuhan memenuhi kebutuhan perempuan itu, yaitu memberikan seorang anak baginya. Jemaat terkasih, salah satu bentuk pelayanan adalah memberikan pertolongan. Dari ilustrasi dan kisah perempuan Sunem, menjadi teladan yang baik bagi kita. Bentuk sederhana dari pelayanan yang bisa kita lakukan kapanpun dan di manapun. Oleh karena itu, mari terus melayani Tuhan setiap ada kesempatan, karena bagi Dialah segala kemuliaan.
Natal telah tiba, dunia menyambut gembira, pesta pora bersama. Adakah kita termasuk di dalamnya??? Pastinya tidak karena bagi kita umat percaya, Natal bukanlah pesta pora tetapi ucapan syukur karena Dia Sang putra Allah mau lahir untuk mati buat tebus dosa kita. Dan yang tidak boleh kita lupakan adalah kedatanganNya yang ke dua yang tak seorangpun tahu, malaikat-malaikat di Surga juga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri [Mat 24:36]. Dari Matius 25:1-13 kita membaca sebuah perumpamaan yang menceriterakan bagaimana persiapan yang dilakukan oleh gadis-gadis bijaksana dan gadis-gadis yang bodoh saat akan menyongsong mempelai laki-laki. Pada saat perumpamaan ini disampaikan, merupakan kebiasaan bagi seorang pengantin wanita Yahudi ditemani oleh sepuluh pengiring yang sepertinya adalah teman-teman dekat dan seumur dengan pengantin wanita. Juga merupakan adat kebiasaan, mempelai laki-laki datang malam hari dengan tidak ada kepastian jam/waktunya. Itulah sebabnya para gadis pengiring tentu harus membawa pelita saat menyongsong mempelai laki-laki. Karena jam/waktunya tidak diketahui seharusnya gadis-gadis pengiring membawa persediaan minyak. Ternyata yang membawa hanya 5 orang. Di akhir perumpamaan ini tragis bagi 5 gadis yang tidak membawa persediaan minyak dan mereka tidak diperkenankan masuk ruang pesta perkawinan. Bagaimana dengan diri kita ? Karena kedatangan-Nya yang kedua tidak bisa diprediksi, satu-satunya yang harus kita lakukan adalah selalu siap tidak boleh lengah walau sekejap. Mari kita bersikap bijaksana seperti lima gadis yang siap membawa minyak sehingga saat mempelai datang pelita masih bisa dinyalakan. Jangan sampai kita kehabisan minyak yaitu api Roh Kudus seperti lima gadis yang bodoh.Amin.
Setiap manusia pasti memiliki pengalaman hidup bermacam-macam dan berbeda satu dengan yang lainnya. Setiap pengalaman yang dialami baik itu pengalaman menyenangkan maupun tidak, pasti akan meninggalkan kesan berbeda. Terkadang pengalaman yang telah dialami akan ikut memperngaruhi sikap hidup manusia ke depannya. Misalnya seseorang akan menjadi lebih berhati-hati ketika berkendara karena memiliki pengalaman kecelakaan. Atau misalkan seseorang akan tidak mudah percaya kepada orang lain ketika pernah dibohongi. Pengalaman bisa menjadi pelajaran penting bagi manusia untuk bertindak lebih baik lagi pada hari depan. Dan menjadikan manusia tidak sembarangan untuk mengambil langkah-langkah kehidupan yang banyak diperhadapkan dengan pilihan di dalam kehidupan ini. Ketika kita melihat kembali apa yang dialami Daud pada saat ia dikejar-kejar oleh musuh-musuh yang ingin membunuhnya, Daud mengalami suatu pengalaman bersama Tuhan. Dalam 2 Samuel 22:1-7 dituliskan mengenai ucapan syukur Daud ketika ia telah dibebaskan oleh Tuhan dari cengkraman musuh-musuhnya. Pengalaman sulit Daud digambarkan seperti tali-tali dunia orang mati yang membelitnya. Namun Tuhan tidak membiarkan dia celaka. Tuhan mendengar seruan doa Daud. Bagaimana Daud bisa bertahan menghadapi musuh-musuhnya ? Karena, Pertama, dia tetap mengikuti jalan Tuhan dan tidak menjauhkan diri dari jalan Tuhan [ayat 22]. Ke dua, Dia memperhatikan segala hukum-Nya dan tidak menyimpang dari ketetapannya [ayat 23], Ke tiga, dia berlaku tidak bercela dan menjaga diri terhadap kesalehan [ayat 24]. Pengalaman yang dialami Daud menjadikan dia semakin dekat dengan Allah dan semakin beriman kepada-Nya. Orang yang benar-benar mengalami pengalaman dengan Tuhan secara nyata akan memiliki konsistensi iman yang kuat dengan apa yang dialami. Mereka akan tetap memiliki iman yang kuat ketika mengalami pengalaman yang pahit maupun manis. Kita bisa mengalami Tuhan ketika hidup kita selalu dekat dengan Tuhan. Hidup dekat dengan Tuhan melalui, tidak menyimpang dari ketetapan-Nya, berlaku tidak bercela dan menjaga diri terhadap kesalehan. Mari diawal tahun ini kita semakin rindu bersekutu dengan Tuhan supaya kita tetap kuat dalam menghadapi segala macam keadaan di hari-hari kedepan. Kita akan semakin mantap melangkah menghadapi kehidupan ini karena kita tahu bahwa Allah sendiri yang selalu menyertai dan menuntun langkah hidup kita.
FOLLOW OUR INSTAGRAM
RENUNGAN HARIAN
Selamat Datang 2020
01 Januari '20
Kemarin, Hari ini dan Esok Tuhan Menolong
29 Desember '19
Natal : Sebuah Ketaatan
26 Desember '19
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang