SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 21 Januari 2018   -HARI INI-
  Sabtu, 20 Januari 2018
  Jumat, 19 Januari 2018
  Kamis, 18 Januari 2018
  Rabu, 17 Januari 2018
  Selasa, 16 Januari 2018
  Senin, 15 Januari 2018
POKOK RENUNGAN
Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, takhabis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! [ Ratapan 3 : 22 – 23 ]
DITULIS OLEH
Pnt. Andreas Haryanto
Penatua
Renungan Lain oleh Penulis:
  Tekun1
Home  »  Renungan  »  Melupakan Yang Di Belakang
Melupakan Yang Di Belakang
Rabu, 10 Januari 2018
Melupakan Yang Di Belakang
Filipi 3 : 13 – 14

Nama bulan Januari diambil dari nama “Yanus” dewa pintu dalam mitologi Romawi kuno. Seorang dewa berwajah dua. Satu menghadap ke depan dan satunya ke belakang. Untuk menentukan mana yang depan atau belakang ditandai dengan wajah yang menghadap depan selalu tersenyum dan optimis sedangkan yang menghadap kebelakang selalu terlihat muram dan sedih. Itulah mengapa bulan pertama setiap tahun dinamakan dengan bulan Januari. Karena bulan ini bias dikatakan berwajah dua. Wajah yang satu menghadap ketahun sebelumnya dan lainnya ketahun berjalan. Setiap awal tahun orang-orang biasanya memiliki resolusi tahun baru yang didapatkan dari dualisme yaitu masa lampau dan masa mendatang [ dengan berpijak dari masa lampau akan meraih masa depan ].

Paulus mengatakan, tetapi yang aku lakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam KristusYesus.

Dalam bulan Januari kita masih teringat dan sering tidak bisa melupakan peristiwa yang terjadi di tahun sebelumnya apalagi peristiwa yang sa...selengkapnya »
Pernahkah kita memperhatikan minuman bersoda ketika dibuka dan kemudian dituangkan ke sebuah gelas? Ketika sebuah botol atau kaleng minuman bersoda dibuka akan menimbulkan suara mendesis. Suara tersebut berasal dari tekanan gas karbon dioksida yang keluar dari dalam botol atau kaleng. Ada dorongan gas yang kuat keluar sehingga menimbulkan bunyi. Kemudian ketika dituang ke dalam gelas, maka akan ada busa yang mengembang dengan cepat ke atas tetapi sesaat kemudian hilang. Beberapa orang mengatakannya sebagai efek soda. Kelahiran Tuhan Yesus ke dunia menyiratkan semangat Natal itu sendiri. Dari renungan-renungan warta yang telah kita baca selama bulan Desember ini dan dari ayat nats hari ini tentang nubuatan seorang hamba Tuhan yang menderita, kita bisa mendaftarkan semangat Natal yang bisa terus kita hidupi setiap hari, dan bukan hanya sekedar ketika menyambut Natal di bulan Desember. Semangat itu antara lain: semangat kesederhanaan, semangat kepedulian kepada sesama, semangat cinta kasih dan hidup damai dengan sesama, semangat mengabdikan hidup dan kerelaan berkorban bagi Tuhan, dan masih banyak lagi yang bisa kita sebutkan. Tetapi intinya, bukan pada seberapa banyak semangat Natal yang bisa kita daftarkan, tetapi justru pada seberapa banyak semangat Natal yang bisa kita praktikan dan hidupi. Beberapa hari yang lalu kita merayakan Natal dengan penuh antusias dan sukacita yang besar. Ibadah Christmas Eve dan Christmas Celebration dikemas dengan acara yang menggugah jiwa dan memberi gairah baru. Ada berkat rohani yang kita peroleh dari ibadah-ibadah tersebut. Tetapi lebih dari itu, harapannya adalah Natal tidak sekedar menjadi semacam ‘efek soda’ dalam kehidupan kita, yang hanya memacu dan menyemangati kita sesaat saja. Hendaknya semangat Natal terus mewarnai kehidupan kita di hari-hari selanjutnya, khususnya di tahun 2018 yang beberapa hari lagi kita masuki.
Dari sejak kecil saya senang memelihara anjing. Saya selalu mengajari setiap anjing saya untuk melakukan prilaku-prilaku baik. Misal: makan harus dengan duduk, tidak boleh memakan makanan yang tidak di taruh tempat makannya, dan lainya. Saya berusaha mendidiknya dengan susah payah. Bahkan saya pernah di gigitnya ketika saya mengajari makan di tempatnya. Ketika anjing itu masih kecil pernah saya ikat di tempat tidurnya, karena tidak mau tidur di tempat yang saya buat. Semua kesulitan itu membuahkan hasil. Anjing saya berkali-kali diberi makanan beracun tidak pernah berhasil. Karena Anjing saya tidak mau makan makanan yang tidak ditempatnya. Malah anjing tetangga yang mati. Peristiwa di atas mengingatkan kita. Jika hidup kita ingin mengerti kehendak dan rencana Tuhan, harus siap menerima didikan, teguran Tuhan. Didikan, teguranNya memang tidak enak, tapi memberkati kita. Masih banyak orang Kristen yang mudah sekali tersinggung dan marah ketika mendengar firman Tuhan yang keras. Lalu kita pun mogok tidak mau pergi ke gereja, atau tetap beribadah tapi kita pindah ke gereja lain. Inilah gambaran dari hati yang keras! Kita tidak mau menerima teguran! Hati yang demikian harus dibongkar dan diolah kembali, kalau tidak, meski ditaburi benih firman apa pun juga tetap saja hasilnya akan nihil, sebab firman yang mereka dengar berlalu begitu saja dan tidak tertanam di dalam hati. Yakobus memperingatkan, ’...hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.’ [Yakobus 1:22]. Karena itu milikilah hati yang mau dibentuk dan jangan terus-terusan mengeluh, bersungut-sungut dan memberontak ketika mata bajak Tuhan turun untuk mengolah hidup kita. Tertulis: ’Setiap harikah orang membajak, mencangkul dan menyisir tanahnya untuk menabur? Bukankah setelah meratakan tanahnya, ia menyerakkan jintan hitam dan menebarkan jintan putih, menaruh gandum jawawut dan jelai kehitam-hitaman dan sekoi di pinggirnya?’ [Yesaya 28:24-25]. Perlu kita ingat bahwa proses pembentukan dari Tuhan itu ada waktunya; selama kita mau tunduk, proses itu akan segera selesai. Bila kita punya penyerahan diri penuh kepada Tuhan, aliran-aliran airNya [Roh Kudus] akan dicurahkan atas kita sehingga tanah hati kita menjadi lunak [gembur] dan siap untuk ditaburi benih firmanNya. Alkitab menyatakan bahwa benih ’Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.’ [Lukas 8:15] dan ’...setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat.’ [Lukas 8:8].
Dengan perasaan antara yakin dan ragu, Mbah Wanidy memberanikan diri mengayunkan kakinya selangkah demi selangkah menghampiri orang yang tampak seperti Benay itu. Namun ketika jarak makin dekat, Mbah Wanidy memperlambat langkahnya. Kini keraguan lebih menguasainya. Tampak dipenglihatannya bahwa Benay lebih tua dari usia semestinya. Mbah Wanidy bertanya-tanya dalam benaknya mengapa begitu cepat Benay menjadi tua? Apakah ini karena pengaruh tekanan berat selama melayani di Iraq? Atau karena terpapar radiasi bom biologi? Tak bersedia ditaklukkan oleh keraguannya, Mbah Wanidy memantapkan langkahnya untuk menjumpai Benay-tua itu. Kini ia bertemu muka dengan muka. Tapi sesuatu yang tak diduganya terjadi. Tubuh renta Mbah Wanidy tiba-tiba bergetar hebat. Keringat dingin keluar membasahi wajahnya. Mulutnya terkatup tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Sorot mata dari Benay-tua menusuk tajam tanpa berkedip. Mbah Wanidy sangat ketakutan. Ia merasa bahwa orang bertubuh gempal yang ada di hadapannya adalah seorang preman pelabuhan, bukan Benay yang ia sangka. Jemaat yang terkasih, perasaan antara yakin dan ragu seperti yang dialami oleh Mbah Wanidy pernah dialami pula oleh Yohanes Pembaptis. Dari dalam kondisi menderita karena sedang dipenjara, Yohanes Pembaptis digelayuti keraguan apakah Yesus itu sungguh Kristus [Mesias]. Tidak mau ditaklukkan oleh keraguannya, ia menyuruh murid-muridnya untuk menjumpai dan bertanya secara langsung pada Yesus. Yesus tidak memberikan jawaban secara langsung, “ya” atau “tidak”. Dia memilih untuk menyampaikan bukti mujizat-mujizat yang telah dilakukan-Nya dan kabar baik yang diberitakan-Nya bagi orang miskin. Dengan demikian, Yesus memberi ruang pergumulan dalam diri Yohanes Pembaptis dan murid-muridnya untuk memutuskan sendiri apakah Dia adalah mesias atau tidak bagi mereka. Jemaat yang dikasihi Tuhan, berbagai penderitaan hidup yang kita alami dapat “melotot tajam” menantang iman kita. Bukankah beberapa orang di antara kita sering bertanya mengapa mengalami musibah atau masalah yang berat? Padahal sudah setia beribadah? Sudah aktif melayani Tuhan? Dalam kondisi seperti itu kita menjadi gemetar dan keraguan iman kita alami. Ini adalah hal yang wajar dalam hidup setiap orang percaya. Justru di sinilah iman kita sedang diasah dan dipertajam oleh penderitaan hidup kita. Oleh sebab itu Tuhan menghendaki kita untuk tidak kecewa dan menolak Dia. Namun sebaliknya, semakin mengarahkan diri untuk belajar berserah, bersyukur dan mengarahkan hidup pada kehendak-Nya. Berani menyangkal diri dan memikul salib. Selamat untuk tidak kecewa pada Tuhan!
Damai dalam badai ???? Mana mungkin....! Yang ada takut, bingung, kalang kabut saat badai datang.... Tahun 2017 dengan segala kenangan manis & pahit telah kita tinggalkan. Termasuk di dalamnya badai kehidupan yang terkadang menerpa kita bahkan mungkin membuat kita trauma dan gentar menapaki hidup di tahun yang baru ini. Dari kehidupan Raja Daud yang sering menghadapi berbagai tantangan bak badai yang tiada henti, ada beberapa nasehat sang pemazmur agar kitapun dapat juga menghadapi badai kehidupan yang sewaktu-waktu Tuhan ijinkan terjadi dalam kehidupan ini. 1. Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri kepada orang yang berbuat curang sebab mereka segera lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau. [ayat 1,2] 2. Percayalah kepada Tuhan, lakukanlah yang baik; bergembiralah karena Tuhan serta serahkan hidup kepada Tuhan maka Tuhan akan memunculkan kebenaran kita seperti terang dan hak kita seperti siang. [ayat 3-6] 3. Tidak usah takut karena Tuhan menetapkan setiap langkah hidup kita yang berkenan kepada-Nya dan apabila Tuhan ijinkan kita jatuh tidak akan sampai tergeletak sebab Tuhan menopang tangan kita dan anak cucu kita tidak akan terlantar hidupnya. [ayat 23-25] 4. Nantikanlah Tuhan dan tetap ikuti jalan-Nya [ayat 34] 5. Hiduplah dengan tulus hati , jujur dan suka damai maka pasti ada masa depan dalam hidup kita.[ ayat 37] Dengan berbekal nasehat-nasehat pemazmur ini, mari kita mantap memasuki tahun 2018 !! Jika badai datang hadapi dengan damai yang dari Tuhan.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Kemenangan Di Tahun Baru
03 Januari '18
Harapan Itu Masih Ada
20 Januari '18
Cara Pandang Yang Baru
12 Januari '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang