SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 27 Mei 2018   -HARI INI-
  Sabtu, 26 Mei 2018
  Jumat, 25 Mei 2018
  Kamis, 24 Mei 2018
  Rabu, 23 Mei 2018
  Selasa, 22 Mei 2018
  Senin, 21 Mei 2018
POKOK RENUNGAN
Lengkapkanlah ibadah dengan menerapkan makna ibadah itu sendiri dalam seluruh sisi kehidupan kita.
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas Budianto
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Memaknai Ibadah
Memaknai Ibadah
Senin, 25 September 2017
Memaknai Ibadah
Yosua 24:14-24

Kata ibadah tentu sangat familier di telinga. Di gereja banyak kegiatan-kegiatan ibadah, bahkan setiap kita juga bisa beribadah secara pribadi melalui saat teduh pribadi atau keluarga di rumah. Aktivitas-aktivitas ibadah tersebut, baik secara bersama ataupun pribadi, merupakan upaya kita mendekatkan diri kepada Tuhan. Tetapi tentunya upaya tersebut harus dimaknai secara benar dalam praktik hidup keseharian.

Yosua pernah menyampaikan tantangan kepada bangsa Israel yang akan menempati tanah perjanjian yang telah direbut dan telah dibagi-bagi kepada setiap suku untuk ditinggali. Sebelum mereka menempati dan mengusahakan tanah yang telah diperoleh, Yosua menyampaikan ‘ceramahnya’ di hadapan bangsa itu agar mereka terus berkomitmen beribadah kepada Tuhan. Makna apa yang bisa kita peroleh dari ibadah?

Pertama, Ibadah adalah mengabdi kepada Tuhan [ayat 16-18]. Dalam kata ‘avodah’ [ibadah] terkandung makna mengabdi. Bangsa Israel mengakui bahwa Tuhan telah membebaskan dan menyertai, oleh sebab itu mereka berjanji hanya mengabdi kepada-Nya. Ibadah bukan sekadar hadir di kegiatan ibadah, tetapi juga sikap hidup yang...selengkapnya »
Suatu ketika seorang pria berkonsultasi dengan Norman Vincent Peale. Ia tampak sedih. ’Semuanya telah hilang. Tidak ada lagi yang saya miliki dalam hidup ini. Tak ada harapan lagi, aku sekarang hidup dalam kegelapan yang amat dalam. Aku telah kehilangan hidup ini’, kata pria itu. Norman Vincent Peale, penulis buku ’The Power of Positive Thinking’, tersenyum dan berkata: ’Mari kita pelajari keadaan anda.’ Pada selembar kertas ia menggambar sebuah garis lurus dari atas ke bawah tepat di tengah-tengah halaman. Ia menyarankan agar pada kolom kiri pria itu menuliskan apa-apa yang telah hilang dari hidupnya. Sedangkan pada kolom kanan, ia menulis apa-apa yang masih dimiliki. ’Kita tak perlu mengisi kolom sebelah kanan, aku sudah tak punya apa-apa lagi.’ kata pria itu . ’Lalu kapan kau bercerai dari istrimu?’ tanya Norman. ’Aku tidak bercerai dari istriku. Ia amat mencintaiku!’ jawab pria itu. ’Mari kita catat itu sebagai nomor satu di kolom sebelah kanan ’Istri yang amat mencintai’. Nah, sekarang kapan anakmu itu masuk penjara?’. ’Anda ini konyol sekali. Tak ada anakku yang masuk penjara!’jawab pria itu ’Bagus! Itu nomor dua untuk kolom sebelah kanan. Anak-anak tidak berada dalam penjara.’ kata Norman. Setelah beberapa pertanyaan dengan nada yang serupa, akhirnya pria itu menyadari banyak hal bagus yang dia miliki, ia mulai tersenyum dan bahkan tertawa, menyadari betapa dia masih memiliki banyak sekali hal yang menyenangkan, keluarga yang baik, pekerjaan yang baik, teman yang baik, dan banyak hal yang baik yang bisa kita gali dalam kehidupan kita. ’Luar biasa, betapa segala sesuatunya berubah ketika kita berpikir positif, berpikir yang baik-baik,’ katanya.
Di dalam kehidupan bergereja, acap kali persembahan umat Kristiani kepada Tuhan diwujudkan dalam bentuk pelayanan. Dan pelayanan di gereja pada umumnya, langsung maupun tak langsung, saling terkait satu sama lain. Satu seksi pelayanan saja bisa beranggotakan banyak orang; yang berarti banyak ide, banyak usul, banyak potensi kreasi yang terkumpul di sana. Belum lagi kaitannya dengan bidang-bidang pelayanan yang lain. Kondisi ini membuat gesekan antar anggota tidak terelakkan. Para pelayan Tuhan sering menganggap bahwa ’hasil akhir’ dari sebuah pelayanan adalah yang mendasari penilaian Tuhan sehingga masing-masing pribadi berusaha keras untuk memperjuangkan apa yang menurutnya paling ideal. Bahkan tak jarang ’perjuangan’nya itu sampai mencederai perasaan rekan-rekan sepelayanan. Sesungguhnya, apakah seperti itu persembahan pelayanan yang diperkenan oleh Tuhan? Bacaan Firman Tuhan pada hari ini mengingatkan umat Kristiani bahwa Tuhan sangat mementingkan kebersihan hati, kerukunan dan perdamaian di antara umat-Nya. Kristus sendiri yang memerintahkan umat-Nya untuk membereskan masalah yang ada, sebelum mempersembahkan sesuatu kepada-Nya [Mat 5:23-24]. Tuhan tidak hanya memandang persembahan yang dihaturkan di hadapan-Nya, namun Ia juga melihat kondisi hati si pemberi persembahan. Apakah dia datang dengan hati yang bersih? Apakah dia masih terlibat dalam perselisihan dengan orang lain? Apalagi dengan sesama rekan sepelayanan. Ironis sekali jika kita menganggap persembahan pelayanan kita berhasil bagus, padahal di balik itu ada hati dan perasaan-perasaan yang tersakiti karena idealisme pribadi kita. Marilah menjadi pribadi-pribadi pelayan Tuhan yang lebih dewasa. Mari menghaturkan persembahan kepada Tuhan melalui proses yang saling menghargai. Biarlah dunia melihat kerjasama dan perilaku kita yang baik sehingga mereka memuliakan Bapa di Surga.
Seorang pria mengalami kejadian tak mengenakkan ketika hendak membeli mobil di sebuah showroom di Karawang Barat karena penampilannya sederhana. ’Waktu itu saya diminta tolong oleh adik yang kerja di Timika Papua untuk membeli mobil secara cash,’ katanya. Namun karena ia hanya memakai sandal jepit dan celana pendek, jangankan dilayani oleh pelayan showroom, dilirik saja tidak. ’Mas-mas pelayan itu malah pergi meninggalkan saya lalu kembali ngerumpi bersama teman-temannya sambil makan rujak,’ tuturnya. Merasa diperlakukan sebelah mata, akhirnya ia pun kesal. Dan saking kesalnya, ia mengeluarkan uang 350 juta di tasnya. “Tadinya saya mau beli mobil di sini, tapi karena mas-mas dan mbak-mbak memandang remeh, saya mending mencari showroom lain yang lebih sopan kepada pelanggan,’ katanya sambil bergegas pergi meninggalkan showroom mobil tersebut. Salah menilai pernah dilakukan oleh Samuel ketika Tuhan mengutusnya untuk mengurapi salah seorang anak Isai menjadi raja menggantikan Saul. Satu persatu anak-anak Isai masuk bertemu dengan Samuel. Mulai dari Eliab, kemudian Abinadab, dilanjutkan Syama sampai tujuh anak Isai lewat di depannya, tetapi ternyata tidak seorangpun yang dipilih oleh Tuhan. Samuel sempat salah menilai ketika ia melihat Eliab. Samuel menyangka Eliablah yang dipilih untuk diurapi karena ia melihat perawakan Eliab yang tinggi. Dan Tuhan mengingatkan Samuel, “Janganlah pandang paras atau perawakannya yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Allah melihat hati. Salah menilai seringkali terjadi karena kecenderungan ‘melihat apa yang di depan mata’; hanya melihat penampilan fisik semata. Padahal penampilan fisik bisa saja ‘menipu’ karena tidak sepenuhnya merepresentasikan diri seseorang. Penilaiaan yang hanya berdasarkan penampilan fisik merupakan penilaian yang terburu-buru, gampangan dan dangkal. Penilaian seperti ini bisa mengakibatkan sikap meremehkan, memandang negatif, bahkan menghakimi. Tentunya penilaian tersebut bukan saja tidak fair, tetapi sangat merugikan pihak yang dinilai. Allah tidak seperti manusia dalam menilai. ‘Allah melihat hati’. Allah melihat bahkan mengetahui dengan tepat ‘sisi dalam’ dari seseorang. Allah adalah pribadi Maha Tahu, tentu tidak sulit untuk melihat hati. Lalu bagaimana dengan kita, manusia yang bukan pribadi mahatahu? Untuk kita bisa menilai dengan baik; tidak terjebak hanya menilai secara fisik, maka kita harus berusaha untuk mengenal lebih dalam pribadi seseorang. Membangun relasi yang baik, berusaha menyelami cara berpikirnya, bahkan menenmpatkan diri kita pada posisinya. Dengan demikian kita tidak akan salah menilai.
Hari ini tibalah saat yang ditunggu-tunggu. Benay akan segera meninggalkan Iraq untuk kembali ke tanah air. Ada sukacita dirasakannya karena tidak lama lagi ia akan berjumpa dengan paman dan keluarganya, dengan Pdt. Itong, Mbah Wanidy, dan tentu saja Sambey, sahabatnya, yang sudah lama ia rindukan. Namun ada pula kesedihan. Sembari menatap jauh ke arah horizon negeri 1001 malam itu, Benay menangis tersedu. Hatinya hancur melihat negeri-negeri Arabia yang terus dilanda konflik. Kapankah akan tercipta kedamaian dimana orangtua dapat bekerja dengan aman dan membangun keluarga yang bahagia? Bilamanakah anak-anak dapat bersekolah dan bermain dengan ceria tanpa rasa takut lagi? Bilamanakah umat beragama yang berbeda dapat hidup berdampingan tanpa kebencian? Rasanya hampir mustahil harapan-harapan itu dapat terwujud. Mengingat kepentingan-kepentingan ambisius dari berbagai negara yang tidak berorientasi pada keadilan oleh semua dan bagi semua. Padahal keadilan itu bagaikan tanah untuk tumbuh suburnya pohon keadilan. “Aaahh mungkin hanya Tuhan yang mampu membuat negeri-negeri ini berkeadilan dan damai”, gumam Benay sambil mengusap air matanya. Jemaat yang dikasihi Tuhan. Keadilan adalah terjemahan dari kata tsedaqah dalam bahasa Ibrani. Kata tsedaqah juga bisa diterjemahkan sebagai kebenaran. Dan keadilan/kebenaran adalah kata yang penting dalam Alkitab kita. Sebab keadilan/kebenaran adalah dasar dari terciptanya kondisi damai sejahtera [32:17]. Dengan kata lain, damai sejahtera tanpa didahului oleh adanya keadilan/kebenaran adalah damai sejahtera yang palsu [32:9-14]. Sebagaimana tampak dari kondisi umat Yehuda yang mendambakan kedamaian tetapi tak kunjung mereka alami. Mengapa itu terjadi? Sebab mereka berlaku tidak adil dan tidak benar di hadapan Tuhan dan sesamanya. Tangan mereka berbuat jahat, mulut mereka berdusta, lidah mereka melakukan kecurangan dan fitnah, berbuat tidak adil pada orang lain, bertindak lalim dan kejam [59:2-7]. Akibatnya kedamaian menjauh dari mereka dan tangan Tuhan tak kunjung menolong mereka. Jemaat yang terkasih. Kita tentu mendambakan damai sejahtera tercipta dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan dan negara kita. Oleh sebab itu marilah kita berupaya berbuat adil dan benar sesuai dengan kehendak Tuhan. Baik dalam relasi kita dengan Tuhan maupun dengan sesama yang adalah anggota keluarga kita, rekan-rekan sepekerjaan, sepelayanan dan saudara sebangsa setanah air kita. Dan apabila kita melihat atau menjadi korban ketidakadilan yang dilakukan orang lain, tegurlah ia namun janganlah sampai membalas dengan berlaku tidak adil kepadanya. Semoga dengan berbuat demikian kita dapat mengalami dan merasakan damai sejahtera yang sejati yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Selamat berbuat adil dan benar. Terpujilah Tuhan!
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Gagal Dan Berhasil
25 Mei '18
Bersaksilah Bagi Semua Bangsa
03 Mei '18
Pembawa Terang Yang Takut Pada Kegelapan
14 Mei '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang