SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 19 Februari 2018   -HARI INI-
  Minggu, 18 Februari 2018
  Sabtu, 17 Februari 2018
  Jumat, 16 Februari 2018
  Kamis, 15 Februari 2018
  Rabu, 14 Februari 2018
  Selasa, 13 Februari 2018
POKOK RENUNGAN
Lengkapkanlah ibadah dengan menerapkan makna ibadah itu sendiri dalam seluruh sisi kehidupan kita.
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas Budianto
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Memaknai Ibadah
Memaknai Ibadah
Senin, 25 September 2017
Memaknai Ibadah
Yosua 24:14-24

Kata ibadah tentu sangat familier di telinga. Di gereja banyak kegiatan-kegiatan ibadah, bahkan setiap kita juga bisa beribadah secara pribadi melalui saat teduh pribadi atau keluarga di rumah. Aktivitas-aktivitas ibadah tersebut, baik secara bersama ataupun pribadi, merupakan upaya kita mendekatkan diri kepada Tuhan. Tetapi tentunya upaya tersebut harus dimaknai secara benar dalam praktik hidup keseharian.

Yosua pernah menyampaikan tantangan kepada bangsa Israel yang akan menempati tanah perjanjian yang telah direbut dan telah dibagi-bagi kepada setiap suku untuk ditinggali. Sebelum mereka menempati dan mengusahakan tanah yang telah diperoleh, Yosua menyampaikan ‘ceramahnya’ di hadapan bangsa itu agar mereka terus berkomitmen beribadah kepada Tuhan. Makna apa yang bisa kita peroleh dari ibadah?

Pertama, Ibadah adalah mengabdi kepada Tuhan [ayat 16-18]. Dalam kata ‘avodah’ [ibadah] terkandung makna mengabdi. Bangsa Israel mengakui bahwa Tuhan telah membebaskan dan menyertai, oleh sebab itu mereka berjanji hanya mengabdi kepada-Nya. Ibadah bukan sekadar hadir di kegiatan ibadah, tetapi juga sikap hidup yang...selengkapnya »
Jadilah seperti Gideon Hakim-hakim 6:15-16 Tetapi jawabnya kepada-Nya: ’Ah Tuhanku, dengan apakah akan kuselamatkan orang Israel? Ketahuilah, kaumku adalah yang paling kecil di antara suku Manasye dan akupun seorang yang paling muda di antara kaum keluargaku.’ Berfirmanlah TUHAN kepadanya: ’Tetapi Akulah yang menyertai engkau, sebab itu engkau akan memukul kalah orang Midian itu sampai habis.’ Tuhan memanggil Gideon untuk menjadi alat-Nya, untuk menyelamatkan umat-Nya dari penindasan bangsa Midian. Tapi Gideon merasa dirinya tidak memiliki kemampuan untuk melakukan tugas itu. Dia merasa bahwa dia berasal dari kaum yang tidak punya pengaruh di kalangan umat Israel, dan juga dia merasa masih terlalu muda. Tetapi Tuhan tidak membutuhkan orang yang punya kemampuan tinggi atau punya latar belakang yang hebat. Tuhan hanya membutuhkan seorang yang siap untuk dipakai-Nya. Tuhan mencari orang untuk menyelamatkan umat-Nya yang saat ini tertindas oleh kuasa dosa. Seperti bangsa Israel pada waktu itu, sekarang banyak orang yang menderita akibat dosa. Ada yang keluarganya hancur, ada yang menderita sakit penyakit, ada yang terikat oleh narkoba, hawa nafsu yang memalukan, maupun kebiasaan yang merusak kehidupan mereka sendiri. Hidup mereka hancur akibat dosa dan kesalahan yang mereka perbuat sendiri. Mereka tidak bisa lepas dari belenggu itu dan berharap ada yang menolong mereka. Kita tahu bahwa di dalam Injil ada kuasa Allah yang menyelamatkan. Berarti yang diperlukan oleh mereka adalah berita bahwa Allah yang penuh kasih karunia itu sanggup memberi pertolongan kepada mereka, jika mereka percaya kepada Kristus. Tapi siapa yang memberi tahu kepada mereka? Memang tidak mudah untuk menyelamatkan jiwa yang terbelenggu dosa. Kuasa Iblis selalu berusaha menghalangi dan menggagalkan karya keselamatan atas orang berdosa. Iblis menghendaki sebisa mungkin tetap menancapkan kekuasaannya atas jiwa-jiwa tersebut. Namun firman Tuhan berkata bahwa Allah sendiri yang menyertai kita, sehingga kita akan mengalahkan kuasa Iblis itu. Jadilah seperti Gideon, yang siap dan rela dipakai Allah untuk menyelamatkan umat-Nya. Tuhan memberkati. Pdt. Goenawan Susanto
Keyakinan yang kokoh dalam Injil Roma 1:16-17 Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: ’Orang benar akan hidup oleh iman.’ Kita tidak mungkin meyakinkan orang lain akan sesuatu yang kita sendiri tidak meyakininya. Misalnya kita merekomendasikan sejenis daun tertentu yang mempunyai khasiat untuk menyembuhkan suatu penyakit. Kalau kita belum mengalami sendiri khasiat penyembuhan daun itu, maka kita tidak mempunyai keyakinan untuk kita rekomendasikan pada orang lain. Paling kita hanya bisa berkata: ’Katanya daun ini berkhasiat untuk menyembuhkan. Tapi pastinya saya tidak tahu....’ Beda kalau kita sendiri mengalaminya. Kita akan berkata: ’Daun ini sangat berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit ini. Buktinya saya sembuh karena daun ini.’ Demikian juga jika kita ingin meyakinkan orang lain akan kebenaran Injil Kristus, maka kita harus terlebih dahulu mengalami kebenaran dan kuasa Injil Kristus itu. Rasul Paulus sangat giat mengabarkan Injil karena dia mempunyai keyakinan yang kokoh kepada Injil. Dia meyakini bahwa Injil sanggup menyelamatkan orang berdosa, bahwa Injil sanggup mengubah hidup seseorang. Dia sangat meyakini kuasa Injil karena dia sendiri sudah mengalaminya. Hidupnya diubahkan oleh Injil Kristus. Dulunya dia adalah seorang yang menentang iman kepada Kristus, sehingga dia selalu benci dan menganiaya orang yang percaya kepada Kristus, tetapi sejak dia berjumpa dengan Yesus, dia berubah menjadi seorang yang giat memberitakan Injil Kristus. Melalui pelayanannya banyak orang menjadi percaya kepada Yesus Kristus. Kalau seorang belum pernah mengalami kuasa Injil Kristus, maka tidak mungkin dia meyakini kuasa Injil. Maka kuncinya adalah mengalami terlebih dahulu. Sesudah mengalaminya, barulah dia dapat bercerita kepada orang lain tentang kuasa Injil itu. Kalau kita ingin menyelamatkan jiwa-jiwa yang terhilang, maka kita terlebih dahulu harus mengalami kuasa Injil. Setelah itu baru kita bisa mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil. Keyakinan itulah yang membuat kita giat membawa jiwa-jiwa kepada Kristus. Marilah kita merindukan pengalaman-pengalaman baru bersama dengan Tuhan Yesus. Tuhan memberkati kita. Pdt. Goenawan Susanto
Penulis Paul Little mengatakan bahwa kita sering kali tidak bersaksi seperti Yesus. Kita cenderung cepat menyalahkan orang lain. Paul Little menulis, ’Kita sering kali berpikir keliru, yakni jika kita tidak menyalahkan suatu sikap atau tindakan yang salah, berarti kita menyetujuinya.’ Dia menambahkan, ’Kita tidak hanya harus menghindari sikap menyalahkan orang lain, tetapi juga perlu mempelajari seni memberikan pujian yang rasional.’ Paul Little juga menceritakan pengalaman seorang penulis bernama Charles Trumbull. Di sebuah kereta api, sang penulis bertemu seorang pemabuk yang melontarkan kata-kata tak senonoh dan duduk di sampingnya. Ketika laki-laki itu menawarkan minumannya, Trumbull sama sekali tidak menyalahkan orang itu. Malahan dia menjawab, ’Tidak, terima kasih, tapi saya tahu Anda sangat murah hati.’ Mendengar kata- katanya, mata laki-laki itu langsung bersinar. Sewaktu mereka bercakap-cakap, laki-laki itu mendengar tentang Pribadi yang menawarkan air kehidupan yang dapat memuaskannya. Tak lama kemudian ia pun menerima Kristus. Kita dapat belajar banyak tentang bersaksi secara efektif dengan belajar dari Yesus, melalui peristiwa saat Yesus bersaksi kepada wanita yang ditemui-Nya di sumur [Yohanes 4:5-26]. Sebenarnya secara sosial Yesus tidak boleh berbicara dengan wanita Samaria itu, karena Yesus orang Yahudi. Dalam kisah tersebut diceritakan Yesus meminta minum kepada wanita itu. Ini dilakukan-Nya dengan sikap menghargai wanita tersebut. Bisa saja Yesus menyalahkan cara hidup wanita yang penuh dosa itu, tetapi Dia tidak melakukannya. Pada saat kita bersaksi tentang Yesus, ingatlah bahwa kita perlu hikmat. Artinya adalah cara kita bersaksi harus cerdik. Dapat membaca situasi serta diperlukan timming yang tepat. Semua itu perlu dilakukan agar Kabar Sukacita tentang Yesus dapat diterima oleh orang di sekitar kita. Semua orang dapat mendengarkan dengan penuh sukacita. Mari beritakan Injil dengan berhikmat.
Pada masa Musa memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir untuk masuk ke tanah yang dijanjikan Tuhan, bangsa Israel sebenarnya sudah mengalami begitu banyak penyertaan Tuhan sepanjang perjalanan mereka. Mulai dari tiang api dan tiang awan untuk menghangatkan disaat dingin dan memayungi mereka disaat panas: “TUHAN berjalan di depan mereka, pada siang hari dalam tiang awan untuk menuntun mereka di jalan, dan pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka, sehingga mereka dapat berjalan siang dan malam. Dengan tidak beralih tiang awan itu tetap ada pada siang hari dan tiang api pada waktu malam di depan bangsa itu.” [Keluaran 13:21-22], burung puyuh yang diberikan Tuhan karena mereka bersungut-sungut hanya makan roti terus menerus [Keluaran 16:13] dan lain-lain, sampai sebuah mukjizat besar ketika Tuhan membelah laut Teberau sehingga mereka bisa berjalan melewati laut itu sementara Firaun dan tentaranya habis tersapu laut yang kembali menutup di saat mereka melintasinya. [Keluaran 14]. Ini baru beberapa dari bukti nyata penyertaan Tuhan yang mereka saksikan langsung dengan mata kepala sendiri. Apakah bangsa Israel ini menjadi teguh imannya dan bisa percaya penuh kepada Tuhan? Sayangnya tidak. Dasar bangsa yang keras kepala dan tidak tahu terima kasih, mereka terus berulang-ulang menunjukkan sikap buruk mereka, baik lewat keluh kesah bahkan menyembah ilah lain hingga beberapa generasi selanjutnya. Kembali kepada perjalanan mereka menuju Kanaan, Musa sudah mengingatkan mereka bahwa mereka seharusnya sadar bahwa mata mereka sendiri sebetulnya sudah menyaksikan segala perbuatan besar Tuhan [Ulangan 11:2-6]. Dan sebuah ketegasan pun dikatakan oleh Musa: “Sebab matamu sendirilah yang telah melihat segala perbuatan besar yang dilakukan TUHAN.” [Ulangan 11:7]. Tetapi bangsa Israel tetap tegar tengkuk, tidak menyadari penyertaan Allah, bahkan memerontak kepada Allah. Tidakkah ini pun menjadi teguran buat kita? Kita seringkali hanya sibuk terfokus memandang masalah sehingga lupa bagaimana Tuhan telah menyertai kita selama ini. Berbagai bukti nyata penyertaan Tuhan yang pernah kita alami kita kesampingkan, lalu kita hanya sibuk mengeluh menghadapi berbagai kesulitan hidup. Oleh sebab itu lihatlah janji Tuhan yang indah ini: “suatu negeri yang dipelihara oleh TUHAN, Allahmu: mata TUHAN, Allahmu, tetap mengawasinya dari awal sampai akhir tahun.” [Ulangan 11:12]. Janji yang sama Tuhan berikan kepada kita dalam memasuki tahun 2018 ini. Kita belum melihatnya, tapi sesungguhnya apa yang disediakan Tuhan akan dinyatakan kepada kita. Tuhan menghendaki kita untuk taat melakukan setiap kehendak-Nya. Maka Janji-Nya akan di nyatakan kepada kita, Jika kita mendahulukan kerajaan Allah dan kebenaranNya maka semua akan ditambahkan kepada kita [ Matius 6:33].
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Jadilah Seperti Gideon
28 Januari '18
Mata Tuhan Melihat
23 Januari '18
Tulus Hati
30 Januari '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang