SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 12 Desember 2017   -HARI INI-
  Senin, 11 Desember 2017
  Minggu, 10 Desember 2017
  Sabtu, 09 Desember 2017
  Jumat, 08 Desember 2017
  Kamis, 07 Desember 2017
  Rabu, 06 Desember 2017
POKOK RENUNGAN
Lengkapkanlah ibadah dengan menerapkan makna ibadah itu sendiri dalam seluruh sisi kehidupan kita.
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas Budianto
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Memaknai Ibadah
Memaknai Ibadah
Senin, 25 September 2017
Memaknai Ibadah
Yosua 24:14-24

Kata ibadah tentu sangat familier di telinga. Di gereja banyak kegiatan-kegiatan ibadah, bahkan setiap kita juga bisa beribadah secara pribadi melalui saat teduh pribadi atau keluarga di rumah. Aktivitas-aktivitas ibadah tersebut, baik secara bersama ataupun pribadi, merupakan upaya kita mendekatkan diri kepada Tuhan. Tetapi tentunya upaya tersebut harus dimaknai secara benar dalam praktik hidup keseharian.

Yosua pernah menyampaikan tantangan kepada bangsa Israel yang akan menempati tanah perjanjian yang telah direbut dan telah dibagi-bagi kepada setiap suku untuk ditinggali. Sebelum mereka menempati dan mengusahakan tanah yang telah diperoleh, Yosua menyampaikan ‘ceramahnya’ di hadapan bangsa itu agar mereka terus berkomitmen beribadah kepada Tuhan. Makna apa yang bisa kita peroleh dari ibadah?

Pertama, Ibadah adalah mengabdi kepada Tuhan [ayat 16-18]. Dalam kata ‘avodah’ [ibadah] terkandung makna mengabdi. Bangsa Israel mengakui bahwa Tuhan telah membebaskan dan menyertai, oleh sebab itu mereka berjanji hanya mengabdi kepada-Nya. Ibadah bukan sekadar hadir di kegiatan ibadah, tetapi juga sikap hidup yang...selengkapnya »
Perayaan Natal semakin dekat. Persiapan apa saja yang kita lakukan untuk menyambut dan merayakan hari istimewa di akhir tahun ini? Bukan penampilan luar yang Tuhan lihat, melainkan hati. Hati memang tak tampak dari luar, tak tampak oleh mata tapi memberi dampak yang luar biasa. Bagaimana keberadaan hati para gembala saat memperoleh kunjungan seorang malaikat dan saat mendengar berita tentang kelahiran Sang Juruselamat? Pertama, hati yang takut. Ini sesuatu yang wajar dan alami. Ketakutan bisa datang saat ada lawatan mahluk sorgawi. Namun takut itu tidak bertahan lama. Hati para gembala kemudian berubah menjadi sukacita. Kedua, hati yang percaya. Mereka mendengar pesan malaikat tapi mereka tidak mempertanyakannya. Ini menunjukkan percaya yang tulus. Kadangkala kita perlu bersikap kritis tapi dalam konteks yang benar. Firman Tuhan tidak perlu dikritisi karena benar adanya, yang perlu dilakukan adalah mempercayainya. Ketiga, hati yang rindu. Mereka cepat-cepat berangkat ke Betlehem menjumpai bayi Yesus yang terbaring di palungan. Tindakan yang segera ini menunjukkan hati yang memiliki kerinduan untuk melihat dan mengalami penggenapan janji Allah. Keempat, hati yang bersyukur. Saat mereka kembali, mereka memuji dan memuliakan Allah. Sebagai orang-orang yang sederhana, mereka memperoleh anugerah yang luar biasa dari Allah, yaitu menjadi orang-orang pertama yang datang menjumpai bayi Yesus Kristus, Sang Juru Selamat dunia.
Di dalam kehidupan, manusia pasti pernah mengalami saat-saat yang sulit dan merasa tersesat tidak tahu harus berbuat apa. Mungkin mengalami pencobaan di dalam kehidupan keluarga, kesulitan ekonomi dan mungkin juga mengalami kekeringan rohani dalam kehidupan spiritual. Dan akhirnya hidup serasa tersesat tidak tahu harus ke mana dan bagaimana. Hal itu mungkin pernah kita alami, namun itulah keidupan yang harus dijalani. Jika hidup kita sedang tersesat atau mungkin pernah tersesat maka mari kita melihat kembali apa yang Yesus ajarkan. Dalam Injil Matius 18:10-14, Tuhan Yesus memberikan pengajaran tentang kasih kepada yang terhilang. Yesus mengatakan bahwa anak-anak yang polos itu sama seperti malaikat-malaikat di surga yang memandang wajah Allah. Sebenarnya malaikat tidaklah identik dengan anak kecil, tetapi Tuhan Yesus mengingatkan bahwa di hadapan Allah, para malaikat memandang wajah Bapa-Nya dan bersikap seperti anak kecil yang rendah dan taat mutlak. Ketaatan dan kerendahan hati inilah yang membuat para malaikat sujud dan menyembah Allah. Setelah memberikan gambaran umat-Nya yang dikasihi seperti anak-anak, lalu Ia menggambarkan umat yang dikasihi-Nya seperti domba-domba yang dikasihi oleh gembala mereka. Umat-Nya yang dipandang rendah oleh dunia ini pun dicari oleh Allah seperti kesungguhan seorang gembala yang mencari dombanya yang tersesat. Bapa di surga tidak ingin anak-anak-Nya tersesat dann terhilang. Terhilang karena tidak percaya Tuhan, terhilang karena terjerumus dalam dosa, terhilang kaerna terjerat tipu muslihat Iblis. Tuhan tidak ingin itu terjadi kepada anak-anak-Nya. Tuhan begitu mengasihi kita semua, Ia tidak ingin kita tersesat. Ia meninggalkan yang lain untuk mencari yang tersesat. Yang tersesat memerlukan perhatian lebih. Mari kita mengambil peran bagi saudara kita yang sedang tersesat, bawa mereka kembali kepada Tuhan. Berikan dukungan dan semangat supaya mereka kembali kepada Tuhan. Atau mungkin saat ini kita merasa terhilang jauh dari Tuhan, maka segeralah datang kepada-Nya dengan kerendahan hati dan penyerahan diri penuh, pasti Ia akan menghampiri dan memeluk kita dengan cinta dan kasih-Nya sehingga kita terbebas dari segala hal yang mengikat. Bapa di surga begitu mengasihi kita dan tidak ingin kita terhilang.
Hari Pengucapan Syukur adalah hari libur nasional yang diperingati di beberapa negara, di antaranya adalah Amerika Serikat, Kanada, Jerman, Jepang, dll. Warga Amerika Serikat merayakannya pada Kamis keempat di bulan November, sedangkan warga Kanada merayakannya pada Senin kedua Oktober. Pada mulanya Thanksgiving merupakan peristiwa jamuan makan yang diadakan warga pendatang di Amerika Serikat sebagai ucapan syukur atas keberhasilan panen mereka. Jamuan makan di musim gugur yang berlangsung sampai tiga hari itu dihadiri pula oleh penduduk asli Amerika yang tinggal tak seberapa jauh dari tanah yang mereka tempati. Pada perkembangannya, peringatan Thanksgiving Day bergeser menjadi sekedar momen mudik bagi mereka yang merayakan. Dan buat sebagian orang yang terlalu sibuk untuk berkumpul dengan keluarga besar, Thanksgiving Day tak ubahnya seperti hari libur nasional biasa. Hari Pengucapan Syukur mulai kehilangan makna. Manusia memang mudah teralihkan. Mudah lupa. Banyak kemurahan yang diterima dari Tuhan, dianggap biasa. Sedikit kesusahan yang diijinkan terjadi, dianggap malapetaka. Berkali-kali dianugerahi belas kasihan, tidak sadar juga. Manusia memang gudangnya lupa. Tetapi umat kepunyaan Tuhan tidak boleh menyerah pada kecenderungan daging. Mari tetap mengingat semua kebaikan Tuhan; mari tetap mengucap syukur karena kasih setia-Nya tak berkesudahan. Biarlah setiap hari yang kita jalani menjadi hari pengucapan syukur.
Konon, wanita tidak bisa jauh dari sesuatu yang bersifat ’hiasan’. Benar atau tidak, Andalah yang menilai. Wanita mana yang tidak suka mengenakan perhiasan? Wanita mana yang tidak suka pernak-pernik? Kebanyakan wanita suka memasang pohon natal. Hal apa yang menyenangkan soal pohon natal? Menghias pohon natal itu, bukan? Setiap awal bulan Desember para kaum ibu mulai merakit kembali pohon natal dan mengubah hiasannya menurut kreasinya sendiri. Tiap tahun ganti tema. Bagi pria yang penting ada pohon natal. Tapi bagi wanita kepuasan terbesarnya adalah bagaimana pohon natal itu jadi indah karena ada hiasan-hiasannya. Tahukah Anda bahwa Tuhan juga suka hiasan? Hiasan seperti apa yang disukai Tuhan? Kekudusan. Dalam 1 Tawarikh 16:29 dikatakan, ’Sujudlah menyembah kepada Tuhan dengan berhiaskan kekudusan.’ Frasa’berhiaskan kekudusan’ ini ditulis berulang-ulang kali dalam Alkitab, yaitu ketika kita hendak datang menghampiri Tuhan. Dengan kata lain, jika kita hidup dalam kekudusan maka itu sesuatu yang sangat indah di hadapan Tuhan. Itu menyenangkan hati-Nya. Hidup dalam kekudusan membuat Tuhan puas melihat kita. Sayangnya, kerap kita mengabaikan hal ini. Kita tidak mau mengerti hati Tuhan. Kita bahkan tidak berusaha mencari tahu apa selera Tuhan dan hal apa yang menyenangkan hati-Nya. Firman Tuhan jelas mengatakan bahwa menghampiri Tuhan dengan berhiaskan kekudusan adalah sesuatu yang menyenangkan hati-Nya. Bayangkan seorang wanita yang berbinar-binar ketika melihat perhiasan, demikian juga hati Tuhan senang melihat anak-anak-Nya hidup berhiaskan kekudusan.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Hati Para Gembala
07 Desember '17
Hati Yang Tenang
19 November '17
Dinamis Dan Efektif
24 November '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang