SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 27 Mei 2018   -HARI INI-
  Sabtu, 26 Mei 2018
  Jumat, 25 Mei 2018
  Kamis, 24 Mei 2018
  Rabu, 23 Mei 2018
  Selasa, 22 Mei 2018
  Senin, 21 Mei 2018
POKOK RENUNGAN
Kekanglah lidah kita, ubah diri dan jadilah si pembawa damai melalui lidah bibir kita.
DITULIS OLEH
Pdm. Andreas T. Loso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Memang Lidah Tak Bertulang
Memang Lidah Tak Bertulang
Senin, 04 Desember 2017
Memang Lidah Tak Bertulang
Mazmur 120:1-7

Seorang teman dekat pernah bercerita pada saya, dia sangat kecewa dengan salah seorang rekan ketika dia masih bekerja di sebuah distributor. Selama ia bekerja di sana, rekannya itu sangat baik. Rekan tersebut sering membantunya. Bahkan begitu dekatnya, mereka sering bertukar pikiran untuk menyelesaikan masalah yang sulit dikerjakan. Beberapa waktu kemudian, teman saya memutuskan untuk berhenti bekerja. Kemudian dia bertemu dengan orang yang menggantikan posisinya. Orang tersebut bercerita bahwa rekannya sering bercerita hal-hal negatif tentang dirinya. Dia sangat terkejut mendengar cerita tersebut. Teman saya tidak percaya akan semua itu karena rekannya merupakan rekan kerja yang begitu baik. Yang membuat dia heran adalah tentang hal-hal yang tidak pernah teman saya ceritakan, tetapi orang baru yang menggantikan posisinya ini tahu. Akibatnya teman saya ini begitu geram, marah dan sangat kecewa.

Kenyataan ini sering kali terjadi dalam hubungan kita dengan orang lain. Kita difitnah. Dalam lingkup apapun, untuk mendapatkan posisi, pekerjaan, ataupun hubungan yang diinginkan, ada orang yang tega memfitnah pesaingnya agar ...selengkapnya »
Ketika tinggal di Bandung, ada sebuah tempat wisata kuliner di kawasan Lembang yang cukup menarik bagi saya. Bukan sekedar karena makanannya yang lezat menggoyang lidah, tetapi juga menyuguhkan suasana alami yang hening, fresh, dan berhawa sejuk. Di sana mata kita dimanjakan dengan hijaunya pepohonan, indahnya penataan saung-saung dan lampu-lampu obor. Ornamen-ornamen tradisional semakin menambah kentalnya suasana pedesaan nan asri. Konsep mendekatkan diri ke alam yang ditampilkan telah menarik banyak pengunjung sehingga menjadikan tempat itu sebagai salah satu tujuan favorit pecinta kuliner. Ya, di tengah-tengah hiruk pikuknya perkotaan, padatnya jadwal bisnis dan pekerjaan, bahkan permasalahan dan tekanan hidup, setiap orang mendambakan suasana yang tenang dan segar untuk meluruhkan segala kesesakan hidup; menemukan kelegaan bagi jiwa. Tidak heran jika tempat-tempat wisata yang berkonsep ‘back to nature’ [kembali ke alam] selalu dipenuhi pengunjung, khususnya di waktu liburan. Berbicara tentang kelegaan bagi jiwa, Daud telah menemukan tempat yang paling memberi ketenangan saat mengalami gundah gulana karena beratnya deraan pergumulan. Ada orang-orang yang merancangkan kejahatan kepadanya. Mereka berusaha menjatuhkan dan meremukkannya. Berusaha merebut kedudukannya. Fitnahan dan dusta disebar untuk merusak nama baiknya supaya Daud jatuh dan terhempas. Di depan Daud mereka tersenyum dan memberkati, tetapi hati mereka dipenuhi kutuk dan rencana jahat. Mereka bagai musuh dalam selimut. Daud merasa terancam; kehilangan rasa aman. Hatinya merasa tidak tenang. Dia membutuhkan ‘gunung batu’ tempat perlindungan yang aman. Dia membutuhkan ‘kota benteng’ tempat pertahanan yang tenang. Dia mendambakan keselamatan dalam kondisi kritis hidupnya. Ke mana Daud mencarinya? Pada siapa Daud menemukannya? Ya, dia mencari dan menemukan keselamatannya dalam Allah, sumber pengharapannya. Kepada-Nya, Daud mempercayakan hidupnya. Di dalam Dia, Daud mendapat perlindungan sehingga jiwanya tetap aman dan tenang. Oleh-Nya, Daud tetap kuat, tidak goyah meskipun diterpa badai nan menggelora. Saat jiwa kita mengalami gundah gulana; saat pikiran kita disesaki ketakutan dan kegetiran; saat hati kita resah penuh dengan ketidak tenangan; saat pandangan kita gelap pekat sepertinya tidak ada jalan selamat; saat hidup kita bagaikan telur di ujung tanduk dan nyaris jatuh remuk; Kepada siapa kita datang? Ke mana kita mencari perlindungan? Siapa yang kita percaya dan harapkan? Seharusnya jawabannya adalah Allah di dalam Yesus Kristus, dan bukan yang lain. Hanya Dia satu-satunya!
Traveling adalah aktivitas yang sangat bermanfaat dan membawa kesegaran. Bepergian ke tempat-tempat yang tidak biasa dijumpai, menikmati spot wisata yang unik dan indah, rasanya sangat menyenangkan. Namun sejatinya esensi traveling bukan sekedar itu. Menempuh perjalanan, tiba di tujuan, mengabadikannya dengan berfoto dan membaginya ke media sosial ... hanyalah bagian dari traveling. Setiap tempat memiliki kisah dan keunikan masing-masing. Ada masyarakat setempat dengan budaya dan adat istiadatnya; ada makanan khas dan proses pengolahannya; ada kepercayaan yang dianut dan kebiasaan-kebiasaannya; semua itu dikenal dengan istilah ’kearifan lokal’. Bila seorang traveler tak peduli akan hal itu dan hanya mengincar foto-foto kece yang diburu tanpa kenal tatakrama ... itu berarti ia belum menyentuh esensi traveling itu sendiri. Ada kemiripan antara traveler dengan umat Kristiani yang sering disebut sebagai musafir di dunia ini. Sebagai musafir-musafir yang menyandang Amanat Agung dari Yesus Kristus, umat Kristiani tak bisa menghindari dan mengabaikan masyarakat setempat, budaya dan adat istiadat yang mereka junjung, serta agama yang mereka anut. Bagaimana umat Kristiani akan membawa terang jika menjejakkan kaki di tempat yang gelap saja enggan dan takut? Apa yang dikatakan oleh Rasul Paulus dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus patut kita teladani. Bacaan kita pada hari ini memaparkan bagaimana Rasul Paulus hidup sedemikian rupa sehingga keberadaannya bisa diterima oleh berbagai kalangan. Dan pada akhirnya, melalui kehadirannya orang-orang dapat dimenangkan. Kiranya ayat-ayat renungan pada hari ini membuka wawasan umat Kristiani untuk menjadi pewarta Amanat Agung dengan lebih baik lagi. Tuhan beserta kita.
Mas Noto seorang pemuda lugu dari desa lereng pegunungan Bromo di Jawa Timur akan berangkat bekerja di Jakarta sebagai manajer pemasaran dari Bank Lippo. Alumni salah satu Universitas Terkenal di Surabaya jurusan Ekonomi Manajemen ini memang tergolong pemuda cerdas dan berprestasi sehingga Bank Lippo berminat merekrut menjadi pegawainya. Saat sebelum berangkat ke Jakarta dia mengadakan persekutuan doa dan syukuran di desanya. Ada banyak pesan dan harapan yang disampaikan kepada dirinya baik dari Bapak Gembala, Bapak Lurah, juga orang tuanya sendiri sebagai bekal dirinya berjuang di Jakarta. Dari sekian banyak pesan yang disampaikan hanya satu pesan yang senantiasa dia ingat dan lakukan dengan segenap hati yaitu pesan dari ayahnya tercinta. Bagi dia pesan sang ayah merupakan hal yang patut diingat dan dilakukan karena sang ayah sangat kenal dirinya dan kebutuhannya. Tiga tahun kemudian Mas Noto sudah menjadi orang sukses dan penting di jajaran Bank Lippo dan mulai mencari anak desa untuk bergabung bekerja dengan dirinya. Nats yang tertulis di atas merupakan pesan penting yang Tuhan Yesus sampaikan kepada para murid sebelum diri-Nya terangkat ke Surga. Pesan itu disampaikan saat menjawab pertanyaan para murid. Ternyata pesan tersebut berisi dua hal penting dan satu hal di sampaikan oleh Para Malaikat kepada para murid-Nya. Pesan tersebut antara lain. Pertama, mereka tidak perlu tahu kapan waktu yang tepat saat pemulihan bangsa Israel terjadi. Sebab hal ini merupakan wewenang dari Bapa di Surga [ayat 7]. Kedua, sekarang yang harus mereka kerjakan sepeninggal Tuhan Yesus adalah sebagai saksi – saksi dari karya penebusan Tuhan Yesus di kayu salib bagi keselamatan orang berdosa. Wilayah kesaksian mereka adalah dari Kota Yerusalem sampai ke ujung bumi [ayat 8]. Tugas itu akan mereka kerjakan setelah mereka menerima Roh Kudus sampai Tuhan Yesus datang kembali ke dunia ini. Dan salah satu pesan Malaikat yang disampaikan kepada mereka adalah tentang kembalinya Tuhan Yesus ke bumi untuk kedua kalinya sejak kenaikan diri-Nya Ke Surga. Pesan itu hendak menegaskan bahwa suatu saat Tuhan Yesus pasti kembali ke dunia ini untuk menjemput kita yang percaya dan menjadi murid-Nya. Sudahkah kita melakukan pesan Tuhan Yesus di atas sebagai bukti bahwa kita adalah murid – murid-NYa.
Tiga tahun yang lalu saya membeli sebuah pisau yang menurut saya sangat tajam, karena dibeli langsung dari pandai besi yang baik di Mojokerto kota saya. Tetapi pisau baru itu tidak langsung saya pergunakan, karena saya masih mempunyai pisau sangat tajam yang saya beli di tempat yang sama. Pisau lama itu selalu tajam karena setelah digunakan selalu saya asah. Pisau itu masih saya pergunakan sampai sekarang karena ketajamannya. Hingga suatu saat, saya membuka laci di rumah. Saya menjadi teringat sebuah pisau yang saya beli tiga tahun yang lalu. Kondisi pisau tersebut sudah mulai berkarat dan berjamur. Sehingga ketika saya akan menggunakan pisau tersebut harus diasah ulang dengan sedikit susah payah untuk membersihkannya. Dan hasilnya dapat dilihat, pisau tersebut setelah diasah mulai terlihat ketajamannya. Ketajaman sebuah pisau dapat terlihat saat dipakai dan diasah kembali. Oleh karenanya jika mau digunakan perlu diasah ulang, maka akan terlihat ketajamannya. Demikian juga dengan kehidupan Rohani kita sesungguhnya bisa tumpul dan bahkan “ Mati “ jika kita tidak membiasakan bersentuhan dengan hal-hal Rohani. Sebab saat kita jarang membaca Alkitab dan berdoa maka kita tidak akan bisa mengerti bahasa Allah yang tertulis. Akibatnya kita menjadi seperti “ orang bodoh “ karena sering kalah dalam persoalan dan cenderung terbawa pada hawa nafsu duniawi dan saat kita sadar kita mengatakan “ Kilaf “. Begitu juga kepekaan kita akan hadirat Tuhan tergantung bagaimana hubungan kita dalam doa dan penyembahan kita. Semakin kita banyak berkomunikasi dengan Tuhan dalam doa dan penyembahan maka kita akan mudah mengenali dan memahami suara dan pimpinan Tuhan. Namun sering kali kita tidak melakukannya karena kita mungkin terlalu sibuk dengan pemberian Tuhan dan melupakan dengan yang memberi. Sehingga tidak mengherankan jika hidup kerohanian kita menjadi KETUL. Semakin kita tidak melatih kehidupan rohani kita maka sesungguhnya kita akan menjadi umat yang gampang kalah dan “mati suri“. Kita baru sadar ketika dibenturkan dengan permasalahan hidup, kemudian baru mencari pertolongan Tuhan. Oleh karenanya marilah kita membiasakan diri untuk mempertajam hubungan yang akrab dengan Tuhan dalam doa dan penyembahan serta perenungan Firman Tuhan. Dengan cara demikian jiwa dan hidup kita akan dikuatkan. Jangan merasa dengan ibadah setiap minggu ke gereja sudah cukup, tetapi setiap hari juga harus membangun hidup Rohani di manapun kita berada. Selagi ada kesempatan mari terus membangun hidup rohani kita supaya tidak ketul atau mati suri.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Berita Bohong
04 Mei '18
Ketul
10 Mei '18
Bersaksi Seumur Hidup
24 Mei '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang