SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 19 Februari 2018   -HARI INI-
  Minggu, 18 Februari 2018
  Sabtu, 17 Februari 2018
  Jumat, 16 Februari 2018
  Kamis, 15 Februari 2018
  Rabu, 14 Februari 2018
  Selasa, 13 Februari 2018
POKOK RENUNGAN
Kekanglah lidah kita, ubah diri dan jadilah si pembawa damai melalui lidah bibir kita.
DITULIS OLEH
Bp. Andreas T. Loso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Memang Lidah Tak Bertulang
Memang Lidah Tak Bertulang
Senin, 04 Desember 2017
Memang Lidah Tak Bertulang
Mazmur 120:1-7

Seorang teman dekat pernah bercerita pada saya, dia sangat kecewa dengan salah seorang rekan ketika dia masih bekerja di sebuah distributor. Selama ia bekerja di sana, rekannya itu sangat baik. Rekan tersebut sering membantunya. Bahkan begitu dekatnya, mereka sering bertukar pikiran untuk menyelesaikan masalah yang sulit dikerjakan. Beberapa waktu kemudian, teman saya memutuskan untuk berhenti bekerja. Kemudian dia bertemu dengan orang yang menggantikan posisinya. Orang tersebut bercerita bahwa rekannya sering bercerita hal-hal negatif tentang dirinya. Dia sangat terkejut mendengar cerita tersebut. Teman saya tidak percaya akan semua itu karena rekannya merupakan rekan kerja yang begitu baik. Yang membuat dia heran adalah tentang hal-hal yang tidak pernah teman saya ceritakan, tetapi orang baru yang menggantikan posisinya ini tahu. Akibatnya teman saya ini begitu geram, marah dan sangat kecewa.

Kenyataan ini sering kali terjadi dalam hubungan kita dengan orang lain. Kita difitnah. Dalam lingkup apapun, untuk mendapatkan posisi, pekerjaan, ataupun hubungan yang diinginkan, ada orang yang tega memfitnah pesaingnya agar ...selengkapnya »
Gairah zaman adalah filosofi, cara berpikir yang membentuk gaya hidup yang dikenakan oleh hampir semua manusia sekarang ini dan yang telah dianggap sebagai gaya hidup wajar, bahkan sering dianggap sebagai gaya hidup ideal. Gaya hidup ini masih banyak dikenakan oleh orang kristen, aktivis gereja, bahkan oleh para rohaniawan. Tuhan Yesus mengingatkan bahwa pada saat menjelang kedatangan-Nya, kedurhakaan manusia semakin bertambah, zaman semakin fasik, manusia tidak takut akan Tuhan, tidak peduli hukum atau kehendak Tuhan. Dalam suratnya, rasul Petrus juga mengingatkan bahwa pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek yang hidup menuruti hawa nafsunya. Orang-orang yang mengejek Tuhan dengan perbuatannya, mereka membelakangi Tuhan dan memberontak terhadap Tuhan [II Petrus 3 : .3]. Dalam suratnya kepada Timotius, rasul Paulus juga menyatakan tentang gairah zaman ini di mana moral manusia sudah jauh dari standar kebenaran dan kesucian Tuhan. Kita harus menyadari bahwa pengaruh suasana dunia yang fasik ini telah menyusup dalam kehidupan banyak orang kristen dan gereja sehingga mereka hidup dalam kewajaran anak dunia. Tidak menyadari bahwa hidupnya telah jauh dari standar kebenaran yang seharusnya dikenakan oleh anak-anak Tuhan. Untuk melawan pengaruh gairah zaman ini, harus berjuang untuk bertumbuh dalam : 1. Perubahan pribadi dan pola pikir sampai menjadi serupa dengan Tuhan Yesus yang sempurna seperti Bapa [Matius 5 : 48] 2. Mengarahkan selera jiwa/keinginan kita seperti yang dimiliki oleh Tuhan Yesus : “Makanan- Ku ialah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” [Yohanes 4 : 34]. 3. Menjaga tujuan/visi hidup , yaitu Tuhan dan Kerajaan-Nya. Untuk itu harus terus memikirkan dan mencari perkara-perkara yang di atas [Kolose 3 : 1 – 2], yaitu : - kesempurnaan karakter - bebas dari percintaan dunia - hati yang mengasihi dan mengabdi kepada Tuhan tanpa batas, dan - pikiran yang berfokus pada Kerajaan Surga, Langit Baru dan Bumi Baru.
Pak Budi adalah seorang Kristen sejak kecil. Dia bertumbuh dalam Gereja yang memiliki komunitas kecil untuk sarana pertumbuhan rohani jemaat. Pada suatu saat pak Budi memiliki pergumulan tentang keselamatan dirinya di hadapan Allah. Dia juga sempat meragukan apakah Yesus Kristus benar-benar Allah. Akhirnya Pak Budi di yakinkan keselamatan hidupnya melalui bimbingan pak Slamet sebagai pemimpin komcil. Pak Budi berusaha meyakinkan bahwa keselamatan hidupnya di dalam Kristus di jamin dan Kristus memang benar-benar Allah yang menjadi manusia untuk menyelamatkan manusia berdosa. Keraguan tentang siapa Yesus Kristus sebenarnya bukan cuma pergumulan pak Budi saja, tetapi pergumulan banyak orang baik yang sudah mengenal dan percaya Tuhan Yesus maupun mereka yang belum percaya kepada Tuhan Yesus. Yang belum percaya layak kita maklumi sebab mereka berada di luar Kristus, tapi bagi yang sudah percaya Tuhan Yesus hal ini harus kita perhatikan dengan serius. Sebab akan berdampak dalam kehidupannya di kemudian hari. Sebagaimana bacaan renungan kita hari ini yang berkaitan dengan kehidupan Yohanes Pembaptis yang telah membaptis Tuhan Yesus dan memperkenalkan Tuhan Yesus kepada orang banyak melalui kotbahnya. Saat berada di dalam penjara menunggu bagaimana nasibnya selanjutnya di tangan Raja Herodes, dirinya sempat meragukan keberadaan Tuhan Yesus sebagai Sang Mesias. Oleh sebab itu dia mengutus muridnya untuk mempertanyakan hal ini kepada Tuhan Yesus. Ternyata jawaban Tuhan Yesus sangat mengejutkan. Pertama Dia meyakinkan bahwa Diri-Nya adalah Mesias melalui tanda-tanda yang telah di buatnya [ayat 4-6]. KeDua Dia, mulai berbicara tentang diri Yohanes Pembaptis [ayat 7-14]. Di katakan tidak ada seorangpun yang lahir di Israel memiliki pribadi lebih besar dari Yohanes Pembaptis. Pelajaran yang kita dapat melalui bacaan ini adalah kebesaran dan kasih Tuhan Yesus yang selalu ingin meyakinkan siapapun orang yang sempat meragukan keberadaan-Nya sebagai Sang Mesias. Supaya dengan pernyataan Tuhan Yesus, orang tersebut tidak lagi ragu-ragu melainkan akan melangkah dengan mantap dalam iman kepada dan bersama Tuhan Yesus. Bagaimana dengan diri kita saat ini, yakinkah kita bahwa Tuhan Yesus adalah Mesias Sang Juruselamat manusia berdosa? Jika kita masih sempat meragukannya sama seperti Yohanes Pembaptis, maka temukan jawabannya melalui pembacaan dan pendalam Firman Allah terutama Injil Yohanes niscaya kita akan diyakinkan siapa Tuhan Yesus Kristus yang sebenarnya.
Pada hari minggu tanggal 14 Januari 2018, saya mendapat tugas untuk mendampingi Ibadah Raya I. Seperti biasa jam 4.30 WIB saya sudah bangun dari tidur mempersiapkan diri untuk pergi ke Gereja. Dan tepat jam 5, saya berangkat ke gereja. Dalam perjalanan tepatnya di jalan Jangli Raya, saya berpapasan dengan 3 anak remaja laki. Mereka menaiki 2 sepeda motor tanpa alas kaki dan suara sepeda motornya cukup memekakan telinga. Sampai di pertigaan Jalan Jangli Raya dan Jalan Dr. Wahidin ketemu lagi dengan ke 3 anak tersebut Saya sempat beradu pandang dengan salah seorang anak remaja, tiba tiba saya merasa kasihan dan menangis di jalan. Saya mulai mendoakan ke 3 anak remaja tersebut supaya Tuhan tolong, Tuhan selamatkan dan Tuhan pakai menjadi hamba-Nya. Kalau kita baca nats di atas, Yesus menyatakan bahwa setiap orang yang tidak percaya kepada Nya berada di bawah hukuman [ayat 18] Mungkin untuk memperkenalkan Kristus kepada orang lain kita tidak punya cukup keberanian, namun ada cara lain untuk kita jangkau jiwa jiwa malalui doa-doa kita buat orang orang yang belum mengenal Tuhan. Kita bisa berdoa buat Suami/Istri, berdoa untuk anak anak kita atau sebaliknya berdoa untuk saudara, tetangga juga teman. Melalui doa kita bisa jangkau banyak orang. Cara ini tidak memerlukan tempat, tenaga apa lagi uang. Yang dibutuhkan adalah beban dan belas kasihan untuk jiwa jiwa yang ada. Mari Bp/Ibu/Sdr/i Jemaat yang di kasihi Tuhan, sudah saatnya kita melaksanakan salah satu kehendak Tuhan [yohanes 4:34] untuk menjangkau jiwa jiwa melalui doa-doa kita.
“Mbah, Benay akan segera kembali ke tanah air”, kata Rabenay pada Mbah Wanidy yang masih terpingkal-pingkal menahan tawa. “Apa! Benay akan kembali? Dia masih hidup?”, tanya Mbah Wanidy keheranan. “Benar Mbah, menurut informasi yang saya terima, KBRI di Iraq telah menyampaikan pengumuman bahwa para sukarelawan asal Indonesia akan mulai dipulangkan pada awal tahun 2018 ini. Konon salah satu nama yang disebut adalah Benay, adik kandung saya.” Wajah Mbah Wanidy sumringah mendengar kabar baik ini. Sukacita meletup-letup dalam sanubarinya. Wajahnya berseri-seri berhias pengharapan. “Wah..wah.., tampaknya Mbah Wanidy gembira sekali. Bahkan lebih gembira dibandingkan dengan saya.” Mbah mengangguk-angguk mengiyakan. “Mengapa Mbah begitu gembira ketika mendapatkan kabar bahwa Benay akan pulang?” tanya Rabenay penasaran. “Ya tentu saya senang karena pertama-tama Benay selamat. Bagaimanapun juga dia itu adalah konsumen fanatikdi warung saya. Kedua, heem…ehem….kembalinya Benay ke Semarang berarti tumbuh mekarnya kembali harapan saya”, jawab Mbah Wanidy. “Harapan apa itu, Mbah” tanya Rabenay. “Heek…e..heeem…harapan untuk terbayarnyahutang-hutang Benay pada saya.” Wajah Rabenay pun memerah karena malu. Jemaat yang terkasih. Harapan Mbah Wanidy yang sempat terkubur, kini tumbuh kembali karena ada kemungkinan Benay masih hidup dan akan kembali ke tanah air. Demikian juga dengan Ayub. Dalam penderitaannya yang teramat pedih, Ayub bergumul dengan Tuhan. Sahabat-sahatabnya hadir untuk memberikan nasehat. Namun apa boleh buat, nasehat-nasehat mereka malah cenderung menuduh dan makin menyesakkan hatinya. Ayub merasa bahwa harapannya sudah hilang. Semangatnya sudah patah berkeping-keping dan di matanya hanya tampak kematian yang segera akan menghampirinya [ay. 1, 11-16]. Namun apa yang Ayub perkirakan tidaklah seperti yang Allah pikirkan. Sejak dari mulanya penderitaan Ayub diperhatikan oleh Allah. Jerit pergumulannya di dengarkan oleh-Nya. Harapannya tidak dilenyapkan sama sekali. Malah pada waktu yang Allah tetapkan, keadaan Ayub dipulihkan dengan luar biasa [Ayub 42]. Jemaat yang dikasihi Tuhan. Apakah kita sedang mengalami pergumulan? Atau masalah dalam hidup ini? Apakah kita merasa jerit tangis kita dalam doa-doa terasa jauh dari Tuhan? Seolah-oleh mata kita sudah hampir kering? Namun percayalah bahwa kasih Allah tidak akan pernah sedikitpun meninggalkan anak-anak-Nya. Tetaplah berlaku benar dan setia, tetaplah berpengharapan di dalam Tuhan karena masa depan itu sungguh ada tersedia bagi kita. Selamat membangun harapan. Terpujilah Tuhan!
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Berakar, Bertumbuh, Berbuah
10 Februari '18
Hidup Dalam Keharmonisan
11 Februari '18
Bersaksi Dengan Hikmat1
03 Februari '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang