SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 22 Juni 2018   -HARI INI-
  Kamis, 21 Juni 2018
  Rabu, 20 Juni 2018
  Selasa, 19 Juni 2018
  Senin, 18 Juni 2018
  Minggu, 17 Juni 2018
  Sabtu, 16 Juni 2018
POKOK RENUNGAN
Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.
DITULIS OLEH
Pdt. Goenawan Susanto
Gembala Jemaat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Memasuki Tahun 2018
Memasuki Tahun 2018
Minggu, 31 Desember 2017
Memasuki Tahun 2018
Matius 28:20b
Memasuki tahun 2018

Matius 28:20b
Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.

Hari ini kita ada di hari terakhir tahun 2017. Sebentar lagi kita akan memasuki tahun 2018. Tahun 2018 adalah tahun yang penuh dengan tanda tanya, tahun yang sangat sulit untuk diprediksi. Karena pada tahun 2018 akan dilaksanakan Pilkada serentak di 171 daerah, yaitu 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten. Dan di Jawa Tengah sendiri akan dilaksanakan pemilihan gubernur. Khususnya Kota Semarang sebagai ibukota Jawa Tengah tentu akan merasakan hangatnya suhu politik sebagai efek pilkada. Suasana menjelang Pemilihan presiden 2019 juga pasti sudah terasa di tahun 2018. Partai-partai pengusung calon RI1 akan saling berlomba mempopulerkan calonnya masing-masing. Kita berdoa agar tidak terjadi benturan-benturan yang mengakibatkan kegaduhan dan goncangan situasi negeri kita. Hal-hal yang tidak kita inginkan kiranya tidak terjadi.

Kita percaya kepada Allah Sang Penguas...selengkapnya »
Kaum difabel [different ability] sering diidentikkan sebagai kaum disable, atau golongan yang kurang mampu terutama untuk mandiri apalagi berprestasi. Tapi faktanya, banyak di antara mereka menjadi inspirasi, bahkan beberapa menjadi inspirasi sepanjang masa. Mereka memang hanya manusia biasa, yang merasakan tekanan dan beban sangat berat. Namun, di balik segala kekurangan tersebut, mereka berjuang dan berhasil melewati batasan yang dimiliki. Mereka berhasil “mengalahkan” diri sendiri sehingga bisa menguatkan mentalitasnya menerima apa adanya diri sendiri. Dan, dengan kesadaran tersebut, mereka mampu meraih apa pun yang dicita-citakan, sehingga bisa jadi inspirasi bagi sekelilingnya. Inilah nilai yang wajib kita miliki bukan hanya bagi mereka yang tumbuh dengan kekurangan. Sebab sejatinya, kita semua punya halangan dan rintangan yang wajib ditaklukkan. Sang Pencipta memberikan ujian bukan untuk melemahkan, namun justru jadi titik tolak untuk menguatkan. Untuk itulah, mari kita belajar dari sosok dengan keterbatasan namun bisa melampaui batasannya.Bila disuruh menyebut ilmuwan paling berpengaruh di era sekarang ini, nama Stephen Hawking bisa dipastikan berada di posisi teratas. Karyanya yang dipublikasikan pada 1988—“A Brief History of Time”—merupakan salah satu karya terpenting dalam pengetahuan dan akan terus dipelajari sepanjang masa. Teori lubang hitam dari Hawking, setara dengan teori relativitas Einstein dan teori evolusi dari Darwin. Hebatnya, Hawking menciptakan karya-karya pengetahuan terpenting sepanjang sejarah peradaban di saat dirinya terkena sklerosis lateral amiotrofik [ALS]. Penyakit yang membuatnya lumpuh dan harus mengandalkan kursi roda untuk aktivitasnya tersebut,ternyata tak menghalanginya untuk terus berkarya. Meski untuk menulis ia harus dibantu voice synthesizer yang terhubung pada sebuah komputer, tapi tekadnya sangat besar untuk terus berkarya, mengatasi keterbatasannya tersebut. Pesan yang ditinggalkan Stephen Hawking adalah “Jangan menyerah dalam bekerja.” Bekerja memberikan makna dan tujuan hidup. Kehidupan kosong tanpa itu. Selalu ingat untuk memandang tinggi ke bintang, bukan melihat ke bawah. Coba untuk mencerna apa yang kamu lihat dan tentang apa yang membuat semesta ada. Manusia hidup di planet kecil, [yang mengorbit] pada sebuah bintang yang sangat biasa. Tapi kita dapat mencoba memahami alam semesta. Itulah yang membuat kita sangat istimewa. Jika kita cukup beruntung untuk menemukan cinta, ingat itu ada dan jangan membuangnya. Seberapa pun sulitnya kehidupan, selalu ada hal yang bisa kita lakukan dan sukses pada bidang tersebut. Disetiap langkah hidup kita ini Tuhan selalu punya maksud pada hidup kita masing-masing, tinggal bagaimana kita menyikapi kesempatan itu. Banyak orang menyerah dengan keadaan karena mereka tidak menyadari akan maksud dan rencana Tuhan tetapi orang yang mengerti maksud Tuhan tidak akan berhenti sebelum menemukan dan mendapatkan tujuannya.
Cerita dari teman kalimantan mengisahkan tentang jemaat yang digembalakan mengalami kelimpahan karena panen karet dan sawitnya melimpah. Sebagai petani yang sukses, jemaat ini ingin sekali memiliki barang-barang yang bagus. Kemudian ia pergi ke kota untuk jalan-jalan dan berbelanja kebutuhan sehari-hari. Dalam perjalannya di kota, ia melihat iklan air mineral yang sejuk dari televisi. Ia mulai tertarik untuk bisa merasakan kesejukan yang dilihat di iklan itu. Akhirnya ia membeli lemari Es, televisi, DVD dan alat elektronik yang lainnya karena sedang banyaknya uang. Sesampai dirumah, ia ketemu dengan bapak pendetanya, kemudia terjadi percakapan Pendeta : “banyak sekali barang belanjaannya pak!” Jemaat : “iya pak, saya beli Lemari Es, TV, DVD, kipas angin, setrika dll [ dengan sombongnya ] Pendeta : “wah hebat ya, lalu nanti cara pakainya gimana ? la daerah kita kan belum ada listrik terus nyalahkanya bagaimana ?” Jemaat : “oh iya ya [ sambil pegangan kepala ] [ untuk menghindari malu ] ia mengatakan ndak papa pak pendeta, nanti lemari Es bisa dibuat lemari baju, dan yang penting punya.” Pendeta : heem Kisah ini bagi kita akan punya penafsiran sendiri, namun ketika saya perhatikan dari cerita tersebut saya melihat bagian yang prinsip dari jemaat ini yaitu tidak paham, dan hanya mau mengikuti kesenangan karena harta kepemilikan. Keadaan kurang paham sering kali terjadi dalam hidup kebanyakan orang ketika menerima pesan, entah tidak memperhatikan, cuek, menganggap sudah tahu dll. Dan hal inilah yang menyebabkan terbengkalainnya suatu misi atau tujuan karena kurang paham. Dalam perjalanan bersama Yesus sering kali para murid belum mengerti maksud dari Yesus ketika Tuhan Yesus memberikan suatu pesan. Dalam injil Yohanes 4 ditunjukkan bagaimana murid-murid Tuhan Yesus tidak mengerti jika Yesus sedang berbicara masa penuaian. Namun yang dipikirkan adalah makanan bukan pengajaran tentang bagaimana saat penuaian yang harus dikerjakan. Persolannya karena mereka terlalu asik dengan kondisi mereka. Bersama Yesus yang serba ada dan selama mereka bersama dengan Yesus mereka hanya melakukan kegiatan rutin tanpa memahami maksud Gurunya. Kita sering melakukan yang justru tidak berfaedah dan jauh dari maksud dan rencana Tuhan. Kecenderungan kita hanya berputar-putar dengan kegiatan yang sama dan menghabiskan energi. Oleh karenanya kita perlu memahami secara benar maksud Tuhan yang ditaruh dalam diri kita jemaat agar sesuai dengan maksud Tuhan yaitu fokus pada jiwa2 bukan asesoris yang tidak ada hubungan dengan maksud Tuhan dibumi.
Setiap mahluk hidup membutuhkan rasa aman agar sehat secara psikologis. Oleh sebab itu mereka diperlengkapi dengan kemampuan untuk melindungi diri. Contoh, keong memiliki cangkang untuk melindungi badannya yang lemah. Kura-kura memiliki tempurung yang kuat untuk menyembunyikan bagian tubuhnya. Bunglon mempunyai kemampuan ‘berkamuflase’ untuk melindungi dirinya. Manusia dengan akal budinya, mengembangkan diri dan ilmunya untuk melindungi diri. Pakaian dirancang untuk melindungi dari cuaca. Rumah dibangun untuk melindungi dari cuaca, serangan binatang buas, dan sebagainya. Intinya, setiap mahluk hidup, khususnya manusia, butuh terlindungi sehingga merasa aman. Untuk mencapai keluarga yang sehat secara psikologis membutuhkan rasa aman. Jika kita berkaca dari keluarga Yusuf dan Maria, kita bisa melihat situasi sulit yang harus dihadapi yang mengancam rasa aman keluarga tersebut. Kehamilan Maria yang di luar nalar manusia, usaha pembunuhan oleh Herodes, menyingkir ke Mesir sebagai orang asing, kembali ke tanah Israel tetapi tetap ada ancaman merupakan situasi yang bisa merenggut rasa aman keluarga mereka. Tetapi mereka sanggup menghadapi bahkan melewati ‘ancaman’ yang bisa merusak rasa aman keluarga mereka. Hal tersebut disebabkan: 1. Ketaatan Maria dan ketulusan hati Yusuf. Ketaatan dan ketulusan hati merupakan perpaduan yang sanggup meredam setiap situasi yang berpotensi menghilangkan rasa aman. Ketaatan Maria menerima sebuah situasi yang tidak mudah telah memberinya keikhlasan dan kelapangan hati untuk mengandung bayi Yesus. Ketulusan hati Yusuf menerima kondisi Maria yang telah hamil meredakan gejolak hatinya yang semula berniat memutus pertunangannya dengan Maria. Dan karena ketulusan hatinya, Yusuf bersedia menikahi, melindungi, dan bertanggung jawab sepenuhnya kepada Maria dan bayi Yesus. Sikap-sikap tersebut telah membangun rasa aman dalam keluarga mereka. 2. Campur tangan Ilahi. Terciptanya rasa aman dalam keluarga mereka tidak lepas dari campur tangan Allah. Beberapa kali Allah mengutus malaikatnya untuk menyampaikan pesan-pesan penting kepada Maria dan Yusuf. Maria dan Yusuf mengerti rencana illahi bagi manusia berkat penjelasan malaikat. Bayi Yesus selamat dari usaha pembunuhan Herodes juga karena campur tangan Allah. Campur tangan Allah tersebut telah meredam gejolak batin Maria – Yusuf dan membawa keselamatan bayi Yesus. Setiap keluarga tentu tidak luput dari kondisi yang bisa merusak rasa aman. Perbedaan pendapat dan kebiasaan, konflik antar anggota keluarga, masalah keuangan, sakit penyakit, bisnis yang macet, dan sebagainya berpotensi merenggut rasa aman. Hadapilah semua itu dengan ketaatan dan ketulusan hati, serta selalu harapkan campur tangan Allah.
Balai Pertemuan yang berwujud sebuah rumah adat panggung di suatu Perkampungan Raja siang itu cukup padat. Rombongan kami terdiri dari 6 orang awam dan 4 orang kru sebuah majalah. Ditambah penduduk yang hadir, tak banyak tempat yang lowong di bagian depan rumah panggung itu. Siang itu dilangsungkan ritual penyambutan tamu sesuai adat sebuah pulau kecil yang terletak di Nusa Tenggara Timur. Di antara sekian banyak hal yang menarik perhatian kami, terselip sebuah penuturan yang membuat saya terpana. Meskipun hampir seluruh penduduk Perkampungan Raja percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, untuk mengambil keputusan-keputusan penting tetaplah harus melalui ’terawangan’. Untuk itu, seekor binatang berupa ayam atau babi harus disembelih. Kemudian satu ’orang pintar’ akan ’membaca’ usus binatang sembelihan dan menetapkan keputusan yang harus dibuat. Kalau hal ini dilanggar, mereka meyakini bahwa tulah pasti datang menghampiri. Ayat-ayat bacaan Alkitab hari ini mengingatkan umat Tuhan untuk terdidik dalam pokok iman dan ajaran sehat dalam Kristus Yesus [1 Timotius 4:6]. Baiklah kita menjauhi takhayul yang diwariskan turun-temurun dan melatih diri beribadah [ayat 7]. Iman Kristen dan takhayul adalah dua hal yang kontradiktif. Walaupun hal ini banyak terjadi di berbagai belahan dunia, tak dapat dielakkan bahwa belenggu takhayul akan menghambat pertumbuhan rohani. Bagaimana mungkin orang menaruh pengharapan sepenuhnya kepada Kristus kalau hidupnya masih tergantung pada ’terawangan’, ’pantangan’ dan bermacam-macam ’syarat’? Marilah kita semakin memahami pokok iman kita, bertumbuh dalam ajaran yang sehat dan menjauhi takhayul yang membelenggu hidup manusia. Tuhan beserta kita.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Belenggu Takhayul
04 Juni '18
Menolong Sesama
16 Juni '18
Tugas Generasi Kita
10 Juni '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang