SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 21 Januari 2018   -HARI INI-
  Sabtu, 20 Januari 2018
  Jumat, 19 Januari 2018
  Kamis, 18 Januari 2018
  Rabu, 17 Januari 2018
  Selasa, 16 Januari 2018
  Senin, 15 Januari 2018
POKOK RENUNGAN
Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.
DITULIS OLEH
Pdt. Goenawan Susanto
Gembala Jemaat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Memasuki Tahun 2018
Memasuki Tahun 2018
Minggu, 31 Desember 2017
Memasuki Tahun 2018
Matius 28:20b
Memasuki tahun 2018

Matius 28:20b
Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.

Hari ini kita ada di hari terakhir tahun 2017. Sebentar lagi kita akan memasuki tahun 2018. Tahun 2018 adalah tahun yang penuh dengan tanda tanya, tahun yang sangat sulit untuk diprediksi. Karena pada tahun 2018 akan dilaksanakan Pilkada serentak di 171 daerah, yaitu 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten. Dan di Jawa Tengah sendiri akan dilaksanakan pemilihan gubernur. Khususnya Kota Semarang sebagai ibukota Jawa Tengah tentu akan merasakan hangatnya suhu politik sebagai efek pilkada. Suasana menjelang Pemilihan presiden 2019 juga pasti sudah terasa di tahun 2018. Partai-partai pengusung calon RI1 akan saling berlomba mempopulerkan calonnya masing-masing. Kita berdoa agar tidak terjadi benturan-benturan yang mengakibatkan kegaduhan dan goncangan situasi negeri kita. Hal-hal yang tidak kita inginkan kiranya tidak terjadi.

Kita percaya kepada Allah Sang Penguas...selengkapnya »
Bulan pertama di tahun yang baru, orang menyambutnya dengan ucapan, ’Happy New Year!’ Dengan amunisi semangat yang masih menjulang tinggi, tersemat harapan bahwa tahun yang baru akan disarati oleh segala yang membawa kebaikan, kebahagiaan dan keberhasilan. Tidak sulit bagi kita untuk tersenyum lebar dan bersikap optimis menyambut tahun yang baru apabila kondisi fisik, psikis atau ekonomi kita relatif stabil. Namun pada kenyataannya hidup ini tidak sesederhana itu. Bagi sebagian orang, langkah awal menyambut tahun baru tidak seideal yang diharapkan. Ada yang mengawali langkah di tahun baru dengan masalah keluarga yang bagai benang kusut. Ada yang mengawali tahun dengan deraan penyakit yang belum juga sembuh. Ada yang memulai tahun dengan lilitan utang yang tak kunjung berkurang. Ada yang terjerat perkara-perkara rumit yang masih gelap juntrungnya. Lalu bagaimana bisa menatap bulan-bulan ke depan dengan optimis? Masih berlakukah ’Happy New Year’ dalam situasi begini? Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, melainkan orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa [Markus 2:17]. Kristus hadir di hidup kita justru karena kita ini manusia yang rentan. Mudah jatuh dalam dosa. Mudah terjerat masalah. Mudah sakit. Mudah putus asa. Justru karena itulah kita memerlukan Yesus Kristus sang Penyelamat, Raja Damai. Dia tahu kita tak mungkin bertahan tanpa kehadiran-Nya, karena itulah Ia rela merendahkan diri-Nya sedemikian rupa dan datang kepada kita. Berbahagialah setiap manusia yang menanggapi panggilan-Nya sebab dengan demikian jiwanya akan mendapat ketenangan, ’Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.’[Matius 11:28]
Pesta akhir tahun seakan menjadi puncak dari segala sukacita setelah 365 hari melewati kehidupan yang penuh dengan lika-liku. Rasa puas, lega, bahagia tertumpah di akhir tahun itu, beriringan dengan doa-doa yang dipanjatkan di detik-detik akhir ataupun sorak-sorai yang gegap gempita menyambut datangnya hari yang baru di tahun yang baru. Seiring dengan berakhirnya pesta akhir tahun, munculah tanda tanya besar, bagaimana dengan tahun yang akan datang? Apakah yang akan terjadi, apakah usaha dan pekerjaan bisa berjalan seperti tahun yang lalu? Apakah kesehatan akan menjadi lebih baik ataukah memburuk? Bagaimana dengan situasi politik, keamanan negara dan bangsa? Bagaimana dengan keluarga, studi anak-anak? Bayangan pertanyaan-pertanyaan itu akan dengan mudah membuat nyali kita menciut ketika kita tahu bahwa semakin hari hidup tidak semakin mudah. Tantangan, masalah, dan persoalan sudah pasti akan menghadang langkah-langkah kita. Demikian juga ketika Tuhan memanggil Abram untuk pergi dari tanah kelahirannya menuju ke negeri yang dijanjikan Tuhan. Abram tidak mengetahui tujuan pastinya, bagaimana keadaan negeri tersebut, berapa lama harus melakukan perjalanan, bagaimana dengan keamanan dalam perjalanan, dll. Yang dilakukan Abram ialah percaya kepada Tuhan karena Abram mengenal siapa yang menyuruhnya pergi. Abram percaya bahwa Tuhan yang “dipercaya”nya tidak akan meninggalkan, tidak akan menelantarkan, dan tidak akan menjerumuskannya. Belajar dari Abram dalam menempuh perjalanan menuju ke negeri yang dijanjikan Tuhan, kita bisa meneladani apa yang dilakukan Abram kepada Tuhan. Percaya saja, Dia pasti akan menuntun kita menempuh perjalanan di tahun yang baru ini. Dia tidak akan meninggalkan kita begitu saja, tapi akan terus menyertai. Dia menyediakan yang kita perlukan. Apa yang kita butuhkan dalam menjalani hari-hari yang akan datang? Rasa aman? Kekuatan? Penghiburan? Hikmat? Semua akan diberikan bagi kita. Mendirikan mezbah dan memanggil nama Tuhan, itu yang dilakukan Abram selama dia melakukan perjalanan ke negeri yang dijanjikan Tuhan [ayat 7-8]. Kita bisa meneladani apa yang dilakukan Abram supaya perjalanan kita melewati tahun 2018 inipun dapat kita jalani dengan berhasil. Jangan takut, jangan menjadi tawar hati untuk memulai langkah di tahun yang baru ini, tapi percaya saja… Dia pasti menolong kita.
Berlutut di hadapan Tuhan tidaklah hanya berbicara tentang sikap doa, tetapi juga sikap hati di mana kita mencari Tuhan. Doa adalah hal yang dapat dilakukan oleh siapapun juga, dan mengandung kuasa yang besar. Charles Stanley dalam bukunya ’Landmines in The Path of the Believer’ [Ranjau yang tersembunyi di balik jalan orang percaya] menyatakan, ’Kita berdiri makin tinggi dan kuat di atas lutut kita.’ Buku tersebut menceritakan tentang keadaan di mana dia mengalami saat-saat yang begitu gelap dan putus asa, dia terbangun di tengah malam dan duduk di sisi tempat tidurnya dan berdoa. Ia menyerukan seluruh persoalannya kepada Tuhan, dan kemudian meminta Tuhan menolong dia untuk dapat tidur kembali. Pada saat ia terombang-ambing dan putus asa, dia belajar satu hal yang sangat penting yaitu, ’Jika saya tetap fokus pada Tuhan, saya akan memperoleh pertolongan, kekuatan dan kemenangan untuk melewatinya, sekalipun dunia di sekeliling saya nampaknya akan runtuh’. Doa akan menolong kita fokus pada Tuhan. Malas berdoa membuat kita terfokus pada keadaan kita. Seperti yang Yesus nyatakan, ’Berjaga-jagalah dan berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan. Roh memang penurut tetapi daging lemah.’ Kekuatan kita terletak di dalam doa, tetapi banyak kali kita mengabaikan doa. Kita memiliki banyak waktu untuk mendengar khotbah-khotbah, seminar-seminar, bahkan kesaksian-kesaksian tentang pentingnya doa. Namun kita tidak memiliki waktu untuk dapat berdoa. Bila kita menabung waktu dalam doa, maka kita sedang menanamkan kuasa yang besar dalam hidup ini. Sesungguhnya yang menjadi persoalan bagi orang percaya bukanlah karena kekurangan pengetahuan tentang doa, tetapi karena sikap malas berdoa. Bagaimana kita dapat membuang sikap malas berdoa? Dengan mengaku di hadapan Tuhan akan kemalasan kita dan meminta kepada Tuhan agar memberikan hati dan jiwa yang haus kepada Tuhan. Kesibukan dalam kehidupan telah membuat kita mengabaikan doa. Kita kehilangan poin penting dari kehidupan kekristenan, dan menempatkannya pada urutan ke sekian. Sadarilah bahwa doa menjadi basis utama dan segala berkat-berkat Tuhan yang telah disediakan-Nya.
Kita sering mencari-cari hadiah Natal untuk keluarga, kerabat atau teman-teman tercinta. Kegiatan mencari yang serasi dan berarti untuk setiap pribadi tidak gampang. Namun ada ’sebuah usulan kado’ yang penuh arti bagi setiap pribadi! Kado yang satu ini mampu menyempurnakan kado yang sudah kita siapkan. Kado ini tidak dijual di toko, kita bisa menghadiahkannya. Ya, setiap saat dan tak perlu membeli! Ini adalah hadiah terindah dan tak ternilai bagi orang-orang yang kita sayangi, yaitu “KEHADIRAN”. Kehadiran orang yang dikasihi rasanya adalah kado yang tak ternilai harganya. Memang kita bisa juga hadir di hadapannya lewat SMS, telepon, foto, facebook, instagram, atau WA. Namun dengan berada di sampingnya, kita dan dia dapat berbagi perasaan, perhatian, dan kasih sayang secara lebih utuh dan intensif. Dengan demikian, kualitas kehadiran adalah sangat penting. Lalu dalam kehadiran kita, setidaknya ada 7 hal yang perlu diperhatikan, yaitu “SEPERTI YESUS”, mengikuti teladan YESUS. Seperti Yesus adalah hadiah terbesar bagimu, bagi keluargamu, dan bagi semua orang: Ia HADIR di setiap saat dalam hidupmu. Ia MENDENGARKAN setiap doa-doamu. Ia DIAM tatkala engkau mengomel, mengkritik dan mengatur hidupmu sendiri. Ia memberimu KEBEBASAN untuk memilih dan melakukan. Ia memberimu segala KEINDAHAN ciptaan-Nya yang tersedia di sekelilingmu! Ia senantiasa memberikan TANGGAPAN POSITIF yang jelas dan tulus. Ia selalu bersedia MEMAAFKANMU saat engkau datang kepada-Nya. Ia senantiasa TERSENYUM padamu, ketika engkau merasakan tidak ada pengharapan di tengah-tengah keputusasaan dan keresahan jiwa.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Siap Menyambut KedatanganNya
21 Desember '17
Milikilah Hati Tuhan Yesus
17 Januari '18
Demonstrasi Kasih Allah
08 Januari '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang