SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 27 Mei 2018   -HARI INI-
  Sabtu, 26 Mei 2018
  Jumat, 25 Mei 2018
  Kamis, 24 Mei 2018
  Rabu, 23 Mei 2018
  Selasa, 22 Mei 2018
  Senin, 21 Mei 2018
POKOK RENUNGAN
‘Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang supaya kamu dapat berdoa.’ [1 Petrus 4:7]
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas Budianto
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Mengatasi Kepanikan
Mengatasi Kepanikan
Senin, 02 Oktober 2017
Mengatasi Kepanikan
Ratapan 3:20-26
“Mau tes kerja. Duh, belum mulai tesnya, kok aku udah mules aja. Gimana dong ini?” Mulai deh, keluar keringat sebiji jagung, menggigit jari, menghela napas berkali-kali. Mondar mandir, entah mengambil minum, entah ke belakang, entah cuma jalan ke depan kemudian masuk kembali. Mungkin kita pernah mengalami situasi seperti itu, mudah panik dan khawatir berlebihan.

Masalah yang menekan bisa membuat kita bingung dan kehilangan kesabaran. Kemudian kepanikan melanda dan merasa ‘seolah-olah’ Tuhan tidak memperdulikan kita. Saat kepanikan ini melanda, tak jarang akan banyak jebakan yang bisa kita menjauh dari Tuhan. Parahnya lagi, saat hilang kesabaran kita akan mengalami rasa stres, depresi, kehilangan kontrol diri, dan lain sebagainya. Seseorang yang panik seringkali berimajinasi yang berlebihan saat menanggapi sesuatu. Hal yang sederhana bisa mendadak menjadi rumit, sedangkan hal yang tidak penting untuk dipikirkan, justru menjelma menjadi masalah besar yang menyita perhatian. Dari keresahan pikiran tersebut, kekhawatiran pun muncul, lalu menjadi kepanikan.

Para murid pernah mengalami kepanikan yang luar biasa ketika perahu yang mereka tumpangi diterpa angin bad...selengkapnya »
Traveling adalah aktivitas yang sangat bermanfaat dan membawa kesegaran. Bepergian ke tempat-tempat yang tidak biasa dijumpai, menikmati spot wisata yang unik dan indah, rasanya sangat menyenangkan. Namun sejatinya esensi traveling bukan sekedar itu. Menempuh perjalanan, tiba di tujuan, mengabadikannya dengan berfoto dan membaginya ke media sosial ... hanyalah bagian dari traveling. Setiap tempat memiliki kisah dan keunikan masing-masing. Ada masyarakat setempat dengan budaya dan adat istiadatnya; ada makanan khas dan proses pengolahannya; ada kepercayaan yang dianut dan kebiasaan-kebiasaannya; semua itu dikenal dengan istilah ’kearifan lokal’. Bila seorang traveler tak peduli akan hal itu dan hanya mengincar foto-foto kece yang diburu tanpa kenal tatakrama ... itu berarti ia belum menyentuh esensi traveling itu sendiri. Ada kemiripan antara traveler dengan umat Kristiani yang sering disebut sebagai musafir di dunia ini. Sebagai musafir-musafir yang menyandang Amanat Agung dari Yesus Kristus, umat Kristiani tak bisa menghindari dan mengabaikan masyarakat setempat, budaya dan adat istiadat yang mereka junjung, serta agama yang mereka anut. Bagaimana umat Kristiani akan membawa terang jika menjejakkan kaki di tempat yang gelap saja enggan dan takut? Apa yang dikatakan oleh Rasul Paulus dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus patut kita teladani. Bacaan kita pada hari ini memaparkan bagaimana Rasul Paulus hidup sedemikian rupa sehingga keberadaannya bisa diterima oleh berbagai kalangan. Dan pada akhirnya, melalui kehadirannya orang-orang dapat dimenangkan. Kiranya ayat-ayat renungan pada hari ini membuka wawasan umat Kristiani untuk menjadi pewarta Amanat Agung dengan lebih baik lagi. Tuhan beserta kita.
Di dalam kehidupan bergereja, acap kali persembahan umat Kristiani kepada Tuhan diwujudkan dalam bentuk pelayanan. Dan pelayanan di gereja pada umumnya, langsung maupun tak langsung, saling terkait satu sama lain. Satu seksi pelayanan saja bisa beranggotakan banyak orang; yang berarti banyak ide, banyak usul, banyak potensi kreasi yang terkumpul di sana. Belum lagi kaitannya dengan bidang-bidang pelayanan yang lain. Kondisi ini membuat gesekan antar anggota tidak terelakkan. Para pelayan Tuhan sering menganggap bahwa ’hasil akhir’ dari sebuah pelayanan adalah yang mendasari penilaian Tuhan sehingga masing-masing pribadi berusaha keras untuk memperjuangkan apa yang menurutnya paling ideal. Bahkan tak jarang ’perjuangan’nya itu sampai mencederai perasaan rekan-rekan sepelayanan. Sesungguhnya, apakah seperti itu persembahan pelayanan yang diperkenan oleh Tuhan? Bacaan Firman Tuhan pada hari ini mengingatkan umat Kristiani bahwa Tuhan sangat mementingkan kebersihan hati, kerukunan dan perdamaian di antara umat-Nya. Kristus sendiri yang memerintahkan umat-Nya untuk membereskan masalah yang ada, sebelum mempersembahkan sesuatu kepada-Nya [Mat 5:23-24]. Tuhan tidak hanya memandang persembahan yang dihaturkan di hadapan-Nya, namun Ia juga melihat kondisi hati si pemberi persembahan. Apakah dia datang dengan hati yang bersih? Apakah dia masih terlibat dalam perselisihan dengan orang lain? Apalagi dengan sesama rekan sepelayanan. Ironis sekali jika kita menganggap persembahan pelayanan kita berhasil bagus, padahal di balik itu ada hati dan perasaan-perasaan yang tersakiti karena idealisme pribadi kita. Marilah menjadi pribadi-pribadi pelayan Tuhan yang lebih dewasa. Mari menghaturkan persembahan kepada Tuhan melalui proses yang saling menghargai. Biarlah dunia melihat kerjasama dan perilaku kita yang baik sehingga mereka memuliakan Bapa di Surga.
Efek Pentakosta Kisah Para Rasul 2:1-4 [1] Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. [2] Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; [3] dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. [4] Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, Andaikan kita hadir dalam peristiwa tercurahnya Roh Kudus untuk pertama kali ke atas para murid, kita akan merasakan betapa sukacitanya para murid itu. Padahal sebelumnya mereka dicekam oleh rasa takut. Mereka takut kepada orang-orang Yahudi yang berusaha untuk membinasakan mereka. Tetapi ketika Roh Kudus dicurahkan dan memenuhi mereka, mereka menjadi tidak takut, bahkan mereka dengan berani memberi kesaksian tentang Yesus Kristus yang telah bangkit dari kematian. Inilah salah satu efek Pentakosta. Murid Kristus yang tadinya takut menjadi berani. Firman Tuhan berkata: ’Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.’ [1 Timotius 1:7]. Juga dikatakan oleh Firman Tuhan, ’Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia.’ [1 Yohanes 4:4]. Hari ini kita merayakan hari Pentakosta. Kita memperingati saat Roh Kudus dicurahkan untuk pertama kali ke atas para murid. Hari Pentakosta tahun ini kita rayakan di tengah situasi terganggunya keamanan di negeri kita. Serentetan peristiwa teror kembali terjadi di negeri kita. Situasi ini membuat kita tidak merasa tenang. Dan bagi beberapa orang keadaan ini membuat mereka merasa takut. Keadaan yang dialami para murid Yesus pada waktu itu juga membuat mereka takut. Tetapi setelah Roh Kudus turun ke atas mereka dan mereka dipenuhi oleh Roh Kudus, mereka menang atas rasa takut itu. Mereka dengan berani bersaksi bahwa Yesus adalah Mesias dan Tuhan. Pengalaman dengan Roh Kudus bukan hanya cerita pada masa lampau, tetapi merupakan kenyataan untuk kita alami sekarang ini. Justru dalam situasi yang tidak membuat tenang ini kita bisa merasakan kehadiran Roh Kudus di dalam hidup kita yang membuat kita menang atas rasa takut. Tuhan memberkati kita semua. Selamat menyambut pengalaman yang baru dengan Roh Kudus. Pdt. Goenawan Susanto
Suatu ketika seorang pria berkonsultasi dengan Norman Vincent Peale. Ia tampak sedih. ’Semuanya telah hilang. Tidak ada lagi yang saya miliki dalam hidup ini. Tak ada harapan lagi, aku sekarang hidup dalam kegelapan yang amat dalam. Aku telah kehilangan hidup ini’, kata pria itu. Norman Vincent Peale, penulis buku ’The Power of Positive Thinking’, tersenyum dan berkata: ’Mari kita pelajari keadaan anda.’ Pada selembar kertas ia menggambar sebuah garis lurus dari atas ke bawah tepat di tengah-tengah halaman. Ia menyarankan agar pada kolom kiri pria itu menuliskan apa-apa yang telah hilang dari hidupnya. Sedangkan pada kolom kanan, ia menulis apa-apa yang masih dimiliki. ’Kita tak perlu mengisi kolom sebelah kanan, aku sudah tak punya apa-apa lagi.’ kata pria itu . ’Lalu kapan kau bercerai dari istrimu?’ tanya Norman. ’Aku tidak bercerai dari istriku. Ia amat mencintaiku!’ jawab pria itu. ’Mari kita catat itu sebagai nomor satu di kolom sebelah kanan ’Istri yang amat mencintai’. Nah, sekarang kapan anakmu itu masuk penjara?’. ’Anda ini konyol sekali. Tak ada anakku yang masuk penjara!’jawab pria itu ’Bagus! Itu nomor dua untuk kolom sebelah kanan. Anak-anak tidak berada dalam penjara.’ kata Norman. Setelah beberapa pertanyaan dengan nada yang serupa, akhirnya pria itu menyadari banyak hal bagus yang dia miliki, ia mulai tersenyum dan bahkan tertawa, menyadari betapa dia masih memiliki banyak sekali hal yang menyenangkan, keluarga yang baik, pekerjaan yang baik, teman yang baik, dan banyak hal yang baik yang bisa kita gali dalam kehidupan kita. ’Luar biasa, betapa segala sesuatunya berubah ketika kita berpikir positif, berpikir yang baik-baik,’ katanya.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Yang Dipercaya Tuhan
16 Mei '18
Menggali Talenta
12 Mei '18
Berita Bohong
04 Mei '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang