SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 19 Februari 2018   -HARI INI-
  Minggu, 18 Februari 2018
  Sabtu, 17 Februari 2018
  Jumat, 16 Februari 2018
  Kamis, 15 Februari 2018
  Rabu, 14 Februari 2018
  Selasa, 13 Februari 2018
POKOK RENUNGAN
‘Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang supaya kamu dapat berdoa.’ [1 Petrus 4:7]
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas Budianto
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Mengatasi Kepanikan
Mengatasi Kepanikan
Senin, 02 Oktober 2017
Mengatasi Kepanikan
Ratapan 3:20-26
“Mau tes kerja. Duh, belum mulai tesnya, kok aku udah mules aja. Gimana dong ini?” Mulai deh, keluar keringat sebiji jagung, menggigit jari, menghela napas berkali-kali. Mondar mandir, entah mengambil minum, entah ke belakang, entah cuma jalan ke depan kemudian masuk kembali. Mungkin kita pernah mengalami situasi seperti itu, mudah panik dan khawatir berlebihan.

Masalah yang menekan bisa membuat kita bingung dan kehilangan kesabaran. Kemudian kepanikan melanda dan merasa ‘seolah-olah’ Tuhan tidak memperdulikan kita. Saat kepanikan ini melanda, tak jarang akan banyak jebakan yang bisa kita menjauh dari Tuhan. Parahnya lagi, saat hilang kesabaran kita akan mengalami rasa stres, depresi, kehilangan kontrol diri, dan lain sebagainya. Seseorang yang panik seringkali berimajinasi yang berlebihan saat menanggapi sesuatu. Hal yang sederhana bisa mendadak menjadi rumit, sedangkan hal yang tidak penting untuk dipikirkan, justru menjelma menjadi masalah besar yang menyita perhatian. Dari keresahan pikiran tersebut, kekhawatiran pun muncul, lalu menjadi kepanikan.

Para murid pernah mengalami kepanikan yang luar biasa ketika perahu yang mereka tumpangi diterpa angin bad...selengkapnya »
Jadilah seperti Gideon Hakim-hakim 6:15-16 Tetapi jawabnya kepada-Nya: ’Ah Tuhanku, dengan apakah akan kuselamatkan orang Israel? Ketahuilah, kaumku adalah yang paling kecil di antara suku Manasye dan akupun seorang yang paling muda di antara kaum keluargaku.’ Berfirmanlah TUHAN kepadanya: ’Tetapi Akulah yang menyertai engkau, sebab itu engkau akan memukul kalah orang Midian itu sampai habis.’ Tuhan memanggil Gideon untuk menjadi alat-Nya, untuk menyelamatkan umat-Nya dari penindasan bangsa Midian. Tapi Gideon merasa dirinya tidak memiliki kemampuan untuk melakukan tugas itu. Dia merasa bahwa dia berasal dari kaum yang tidak punya pengaruh di kalangan umat Israel, dan juga dia merasa masih terlalu muda. Tetapi Tuhan tidak membutuhkan orang yang punya kemampuan tinggi atau punya latar belakang yang hebat. Tuhan hanya membutuhkan seorang yang siap untuk dipakai-Nya. Tuhan mencari orang untuk menyelamatkan umat-Nya yang saat ini tertindas oleh kuasa dosa. Seperti bangsa Israel pada waktu itu, sekarang banyak orang yang menderita akibat dosa. Ada yang keluarganya hancur, ada yang menderita sakit penyakit, ada yang terikat oleh narkoba, hawa nafsu yang memalukan, maupun kebiasaan yang merusak kehidupan mereka sendiri. Hidup mereka hancur akibat dosa dan kesalahan yang mereka perbuat sendiri. Mereka tidak bisa lepas dari belenggu itu dan berharap ada yang menolong mereka. Kita tahu bahwa di dalam Injil ada kuasa Allah yang menyelamatkan. Berarti yang diperlukan oleh mereka adalah berita bahwa Allah yang penuh kasih karunia itu sanggup memberi pertolongan kepada mereka, jika mereka percaya kepada Kristus. Tapi siapa yang memberi tahu kepada mereka? Memang tidak mudah untuk menyelamatkan jiwa yang terbelenggu dosa. Kuasa Iblis selalu berusaha menghalangi dan menggagalkan karya keselamatan atas orang berdosa. Iblis menghendaki sebisa mungkin tetap menancapkan kekuasaannya atas jiwa-jiwa tersebut. Namun firman Tuhan berkata bahwa Allah sendiri yang menyertai kita, sehingga kita akan mengalahkan kuasa Iblis itu. Jadilah seperti Gideon, yang siap dan rela dipakai Allah untuk menyelamatkan umat-Nya. Tuhan memberkati. Pdt. Goenawan Susanto
“…aku ki kurang sabar piye to jeng? Wes puluhan tahun dikecewak’ke, disakiti atiku….tak ampuni terus..,nek wong liyo mesti wes ora tahan ngadepi wong koyo de’en, tapi nek ngene terus, opo yo aku kudu sabar terus? Kudu ngampuni terus?, aku wes kesel… capek jeng, wes cukup kesabaranku, sabar kan yo ono bates’e to jeng…” Demikian curhatan seorang ibu kepada temannya dalam menghadapi suamianya. Mungkin kita pernah mengalami saat-saat seperti itu, jenuh dan capek ketika harus terus menerus bersabar dan mengampuni anggota keluarga ataupun teman yang tak henti-hentinya menguji kesabaran kita. Sebagai manusia yang tidak sempurna, naluri dan kedagingan kita tentu tidak selamanya terkontrol. Ada kalanya emosi kita terpancing untuk membalas setiap ketidak adilan yang kita terima. Ketika kita hanya memikirkan kedagingan, maka sudah pasti amarah, dendam dan membalas ketidak adilan menjadi hal yang wajar dilakukan, mengingat manusia tidak memiliki kekuatan untuk bisa bersabar dan mengampuni. Dan kata-kata “kesabaran ada batasnya, karena manusia lemah” menjadi permakluman bagi kita. Itulah standart kita, manusia yang penuh kelemahan. Tapi ternyata bukan itu yang diinginkan Tuhan dari umatNya. Dia ingin kita memiliki standart yang sama dengan Nya dalam hal mengampuni. Dalam Matius 18:21-22, Petrus mengajukan standart tujuh kali dalam mengampuni seseorang, tapi Tuhan Yesus menginginkan kita mengampuni seseorang tujuh puluh kali tujuh. Bukan hanya sampai disitu, bahkan Tuhan Yesus mengatakan bahwa Bapa di Sorga tidak akan mengampuni kita, apabila kita tidak mengampuni orang lain dengan segenap hati. Artinya selama manusia masih mempunyai hati, selama itu pula dia harus mengampuni sampai kedasar hati, sampai segenap hati. Artinya tidak ada celah untuk tidak mengampuni kepada siapapun. Wow…..berat sekali standart yang ditetapkan Tuhan buat kita, rasanya terlalu tinggi buat manusia yang sangat lemah ini. Tapi bagi Tuhan tidak ada hal yang mustahil. Roh kuduslah yang akan terus menerus mengingatkan kita untuk berusaha mencapai standart tinggi itu. Roh kudus yang akan selalu mengajar kita menghadapi ujian kesabaran yang serasa tak ada habisnya, sampai kita bisa memenuhi standart yang diberikan Tuhan bagi kita.
Gereja: Komunitas Keselamatan Kisah Para Rasul 2:46-47 Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan. Gereja adalah komunitas keselamatan. Sejak semula Allah merancang gereja untuk menjadi sebuah komunitas dimana orang-orang mengalami keselamatan. Perhatikanlah kalimat ini: ’Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.’ Apa artinya ’diselamatkan’? Artinya, orang-orang yang masuk ke dalam komunitas itu dipulihkan hubungannya dengan Alllah dan dengan sesama. Mereka menerima anugerah pengampunan dosa, sehingga hubungan dengan Allah dipulihkan. Karena mereka merasakan kasih dan anugerah Allah, maka hati mereka dipenuhi dengan sukacita. Mereka suka berkumpul untuk memuji Tuhan. Mereka suka berkumpul untuk mendengar pengajaran Firman Tuhan dan untuk berbagi. Mereka saling berbagi harta mereka, saling membantu dalam meringankan beban hidup saudara seiman. Tidak ada di antara mereka yang kekurangan. Mereka yang masuk ke dalam komunitas itu bukan orang-orang yang telah sempurna. Mereka juga orang-orang berdosa. Tetapi mereka bersepakat untuk menjalani hidup sebagai orang-orang yang diselamatkan. Mereka mau belajar dan bersedia untuk diajar dengan kebenaran Firman Tuhan, agar hidup mereka mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Inilah arti komunitas keselamatan, yaitu gereja. Seringkali Gereja di masa kini melupakan jati dirinya sebagai komunitas keselamatan. Gereja banyak disibukkan dengan aktivitas-aktivitas yang tidak mengarah pada hidup keselamatan. Kita harus sadar dan berubah. Kita harus pastikan bahwa gereja kita adalah sebuah komunitas keselamatan. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
“Benay pulang, Benay akan pulang, asyik-asyik...lalalalalala.” Sore itu Mbah Wanidy tampak gembira sekali. Seraya meracik segelas es teh pesanan Pdt. Itong, ia tak habis-habisnya bernyayi-nyanyi sambil sesekali bergoyang pinggul. “Lho...Mbah Wanidy dapat kabar dari mana?”, tanya Pdt. Itong, “Jangan keburu gembira dulu Mbah! Rumor yang beredar justru menyatakan bahwa Benay sudah tidak ada alias mati, kesrempet bom di Iraq.” “No..no..no..no”, jawab Mbah Wanidy ke Inggris-inggrisan, “Kali ini sumber beritaku terjamin keakuratannya. Mas Rabenay, kakak kandung Benay, tanpa sengaja aku bertemu dengannya di pelabuhan. Dan ia sendiri yang menyampaikan bahwa awal tahun 2018 ini Benay akan pulang kampung.” Pdt. Itong memandang keheranan dan hampir tidak percaya bahwa Benay akan pulang. “Tapi..ngomong-ngomong mengapa Mbah Wanidy kok senang sekali jika Benay akan pulang? Bukankah dia tukang ngutang di warung Mbah?” “Justru itulah Nak Itong. Kalo Benay pulang ada harapan hutangnya dibayar lunas..nas..nas.” “Emangnya berapa hutang Benay?” tanya Pdt. Itong. “Rp. 37.739! Belum termasuk bunga dan PPN.” “Walah..walah..utang segitu saja kok dipikirin”, kata Pdt. Itong, “Hutang Mbah Wanidy pada saya kan jumlahnya jauh lebih besar. Masih ingat jumlahnya?” Tak menduga bakal “ditembak” seperti itu wajah keriput Mbah Wanidy segera memerah. Ia tampak malu sekali. Jemaat yang terkasih. Kisah di atas memiliki kesejajaran dengan hal mengampuni yang diajarkan oleh Tuhan Yesus kepada Rasul Petrus. Melalui sebuah perumpamaan, Tuhan mengisahkan bagaimana pengampunan harus menjadi gaya hidup Rasul Petrus. Bukan tujuh kali mengampuni. Melainkan 70 X 7 kali. Dalam hal ini Tuhan tidak bermaksud mengajari Rasul Petrus matematika, yaitu hasilnya 490 kali mengampuni. Tetapi maksud sebenarnya adalah mengampuni setiap saat dan tak ada batasnya. Mengapa? Karena Tuhan, oleh kasih karunia-Nya, telah lebih dahulu mengampuni Rasul Petrus. Padahal, sama seperti seluruh umat manusia, dosa dan pelanggaran Rasul Petrus begitu besar. Maka kepada orang-orang yang pernah berbuat salah atau menyakiti hatinya, Tuhan berkehendak agar Rasul Petrus mau mengampuni mereka. Sebab dengan demikian ia belajar mensyukuri pengampunan Tuhan yang telah diterimanya. Jemaat yang dikasihi Tuhan. Sama seperti kepada Rasul Petrus, Tuhan juga menghendaki kita untuk menjadi ahli dalam mengampuni. Jangan salah sangka! Pengampunan tidak harus berbarengan dengan hilangnya sakit hati; Pengampunan juga tidak harus segera diikuti dengan pulihnya relasi seperti sedia kala; Pengampunan tidak selalu harus menghilangkan konsekwensi/hukuman yang harus diterima oleh orang yang menyalahi kita. Pengampunan adalah hal keputusan. Keputusan pribadi kita untuk mau mengampuni orang lain. Dan itu berarti demi terpeliharanya kesejahteraan dan kedamaian dalam hati kita. Selamat mengampuni. Terpujilah Tuhan!.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Beda Standart
14 Februari '18
Menjadi Saksi Yang Efektif Untuk Keselamatan Jiwa-Jiwa
07 Februari '18
Berdoalah
24 Januari '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang