SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 12 Desember 2017   -HARI INI-
  Senin, 11 Desember 2017
  Minggu, 10 Desember 2017
  Sabtu, 09 Desember 2017
  Jumat, 08 Desember 2017
  Kamis, 07 Desember 2017
  Rabu, 06 Desember 2017
POKOK RENUNGAN
‘Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang supaya kamu dapat berdoa.’ [1 Petrus 4:7]
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas Budianto
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Mengatasi Kepanikan
Mengatasi Kepanikan
Senin, 02 Oktober 2017
Mengatasi Kepanikan
Ratapan 3:20-26
“Mau tes kerja. Duh, belum mulai tesnya, kok aku udah mules aja. Gimana dong ini?” Mulai deh, keluar keringat sebiji jagung, menggigit jari, menghela napas berkali-kali. Mondar mandir, entah mengambil minum, entah ke belakang, entah cuma jalan ke depan kemudian masuk kembali. Mungkin kita pernah mengalami situasi seperti itu, mudah panik dan khawatir berlebihan.

Masalah yang menekan bisa membuat kita bingung dan kehilangan kesabaran. Kemudian kepanikan melanda dan merasa ‘seolah-olah’ Tuhan tidak memperdulikan kita. Saat kepanikan ini melanda, tak jarang akan banyak jebakan yang bisa kita menjauh dari Tuhan. Parahnya lagi, saat hilang kesabaran kita akan mengalami rasa stres, depresi, kehilangan kontrol diri, dan lain sebagainya. Seseorang yang panik seringkali berimajinasi yang berlebihan saat menanggapi sesuatu. Hal yang sederhana bisa mendadak menjadi rumit, sedangkan hal yang tidak penting untuk dipikirkan, justru menjelma menjadi masalah besar yang menyita perhatian. Dari keresahan pikiran tersebut, kekhawatiran pun muncul, lalu menjadi kepanikan.

Para murid pernah mengalami kepanikan yang luar biasa ketika perahu yang mereka tumpangi diterpa angin bad...selengkapnya »
Konon, wanita tidak bisa jauh dari sesuatu yang bersifat ’hiasan’. Benar atau tidak, Andalah yang menilai. Wanita mana yang tidak suka mengenakan perhiasan? Wanita mana yang tidak suka pernak-pernik? Kebanyakan wanita suka memasang pohon natal. Hal apa yang menyenangkan soal pohon natal? Menghias pohon natal itu, bukan? Setiap awal bulan Desember para kaum ibu mulai merakit kembali pohon natal dan mengubah hiasannya menurut kreasinya sendiri. Tiap tahun ganti tema. Bagi pria yang penting ada pohon natal. Tapi bagi wanita kepuasan terbesarnya adalah bagaimana pohon natal itu jadi indah karena ada hiasan-hiasannya. Tahukah Anda bahwa Tuhan juga suka hiasan? Hiasan seperti apa yang disukai Tuhan? Kekudusan. Dalam 1 Tawarikh 16:29 dikatakan, ’Sujudlah menyembah kepada Tuhan dengan berhiaskan kekudusan.’ Frasa’berhiaskan kekudusan’ ini ditulis berulang-ulang kali dalam Alkitab, yaitu ketika kita hendak datang menghampiri Tuhan. Dengan kata lain, jika kita hidup dalam kekudusan maka itu sesuatu yang sangat indah di hadapan Tuhan. Itu menyenangkan hati-Nya. Hidup dalam kekudusan membuat Tuhan puas melihat kita. Sayangnya, kerap kita mengabaikan hal ini. Kita tidak mau mengerti hati Tuhan. Kita bahkan tidak berusaha mencari tahu apa selera Tuhan dan hal apa yang menyenangkan hati-Nya. Firman Tuhan jelas mengatakan bahwa menghampiri Tuhan dengan berhiaskan kekudusan adalah sesuatu yang menyenangkan hati-Nya. Bayangkan seorang wanita yang berbinar-binar ketika melihat perhiasan, demikian juga hati Tuhan senang melihat anak-anak-Nya hidup berhiaskan kekudusan.
Terang bagi yang berjalan di kegelapan Yesaya 9:1, 5 Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar. [ayat 1] Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. [ayat 5] Beberapa tahun yang lalu [sudah cukup lama, saya tidak ingat persis tahunnya] mobil saya mengalami masalah di lampu depannya [lampu besar], mungkin karena sekringnya putus. Padahal waktu itu saya dalam perjalanan turun dari Kopeng menuju Ungaran, sendirian, pada malam hari. Kondisi jalan sangat gelap, menurun dan berkelok-kelok. Tidak ada yang saya mintai bantuan. Dengan perasaan takut saya tetap menjalankan mobil itu pelan-pelan sekali, di tengah kegelapan, hanya dengan penerangan lampu kecil saja. Takut karena salah-salah bisa masuk jurang. Kegelapan adalah sesuatu yang menakutkan. Kita tidak bisa melihat apa yang di hadapan kita. Kegelapan bisa membawa kita pada celaka. Oleh sebab itu kita tidak suka dengan kegelapan. Kegelapan menggambarkan keadaan yang buruk di dalam hidup kita. Kita merasa bahwa dunia ini gelap ketika kita sedang mengalami hal yang buruk dan tak terkendali. Mungkin itu berupa datangnya sebuah peristiwa yang tak kita kehendaki seperti musibah, sakit penyakit, kegagalan, dan sebagainya. Mungkin itu berupa kehilangan orang yang kita kasihi secara tiba-tiba. Atau berupa hal lain yang tak bisa kita prediksi dan mengejutkan kita. Orang yang mengalami hal itu akan merasa jalannya gelap dan menakutkan. Ketika kita menghadapi saat-saat yang gelap di dalam kehidupan kita, apakah kita akan berputus asa, menyalahkan orang lain, menyalahkan diri sendiri, atau bahkan menyalahkan Tuhan? Kristus datang ke dalam dunia ini untuk memberikan pengharapan bagi orang-orang yang berjalan di dalam kegelapan. Dia adalah Terang itu sendiri. Dia adalah Imanuel, menyertai kita dalam menjalani saat-saat gelap di dalam hidup kita. Sehingga kita tidak perlu takut sebab kita tidak berjalan sendirian di dalam kegelapan. Dia adalah Terang, sehingga Dia dapat menunjukkan kepada kita jalan yang aman, sehingga kita dapat lolos dari kegelapan itu. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
Ada ungkapan yang mengingatkan setiap insan untuk tidak berlaku tinggi hati dengan kemampuan yang dimilikinya, yaitu “ilmu padi” dan “di atas langit masih ada langit”. Kita tahu bahwa padi semakin berisi akan semakin merunduk, demikian juga kita diharapkan semakin tinggi kemampuan kita dalam bidang apapun, kita semakin rendah hati dan jangan lupa bahwa masih ada orang lain yang lebih hebat. Kita bisa belajar dari Raja Daud, betapa dia tetap rendah hati, tetap menghormati Raja Saul yang sangat ingin membunuhnya. Saul menjadi benci dan dengki kepada Daud sejak Daud selalu berhasil dalam peperangan mengalahkan orang Filistin dan mendengar kata-kata yang menyakitkan hatinya pada acara sambutan yang begitu meriah para perempuan dari seluruh kota Israel menyongsong Raja Saul dengan tarian dan nyanyian, “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa.” Dua kali Daud tidak mau membunuh Saul walau kesempatan sudah di depan mata. Pertama, ketika Daud bersembunyi di En-Gedi. Ia hanya memotong punca jubah Saul saat Saul membuang hajat di sebuah goa [1 Samuel 24:4]. Kedua, ketika Daud di padang Zif, hanya mengambil tombak dan kendi yang ada di sebelah kepala Saul [1 Samuel 26:12.] Mengapa Daud masih sangat menghormati Raja Saul? Bukankah semakin cepat Raja Saul mati, semakin cepat pula ia naik tahta? Bagi Daud, Saul adalah raja yang diurapi Tuhan dan Daud tahu menghormati Allah yang telah mengurapi Saul. Apa yang dilakukan Daud terhadap Raja Saul adalah suatu hal yang sulit dilakukan. Jangankan nyawa yang diancam, baru kesinggung sedikit saja umumnya orang sudah tidak bisa memberi hormat dengan tulus. Daud yang sudah tahu dengan pasti bahwa dia sudah diurapi menjadi raja pengganti Saul, tetap rendah hati dan tetap menghormati Raja Saul yang begitu membencinya. Bagaimana dengan kita?
Setelah menyeberangi sungai Yordan, bangsa Israel di bawah pimpinan Yosua menghadapi kota Yerikho dengan tembok keliling kota yang sangat tebal dan kuat. Mereka tidak bisa masuk ke dalam kota karena pintu-pintu tembok kota telah tertutup rapat. Tuhan memberikan kota Yerikho dengan mujizat, mereka mengitari tembok sehari sekali secara senyap selama 6 hari. Pada hari yang ketujuh mereka mengitari 7 kali dan pada akhir perjalanan mereka bersorak sorai, runtuhlah tembok Yerikho. Tembok Yerikho runtuh bukan karena kekuatan dan kehebatan tentara Israel, tetapi karena Tuhan yang menyerahkan kota Yerikho ke tangan bangsa Israel. Mereka percaya kepada perintah Tuhan walaupun sebuah perintah yang aneh hanya berjalan mengitari tembok dan tidak ada sedikitpun perintah untuk berperang atau menyerang. Mereka tidak sekedar percaya tetapi menaati dan melakukan perintah itu dengan segera dan tanpa berbantah-bantah. Dalam melakukan perintah Tuhan, mereka harus menanggung malu, cemooh, hinaan dan ditertawai oleh penduduk Yerikho. Setiap hari selama tujuh hari mereka harus menahan diri untuk tidak membalas setiap ejekan dan mungkin lemparan batu dari atas tembok. Di hari yang ketujuh setelah berkeliling selama 7 kali mereka bersorak-sorai dengan penuh gegap gempita diiringi dengan tiupan sangkakala oleh para imam. Mereka bersukacita memuji dan memuliakan Tuhan, runtuhlah tembok Yerikho. Setiap kita sangat mungkin menghadapi masalah besar seperti tembok-tembok Yerikho yang kuat, kokoh dan seakan tidak bisa ditembus dan diatasi yang sering membuat kita takut serta cemas. Mari kita belajar dari pengalaman bangsa Israel, percaya dan yakin bahwa janji Tuhan pasti digenapi, Dia yang memberi jalan keluar atas masalah. Lakukan bagian kita, taati dan lakukan setiap Firman Tuhan walaupun sulit dan dicemooh atau ditertawakan. Bersukacitalah senantiasa dan pujian kepada Tuhan mewarnai hari-hari kita walaupun masalah kita belum terselesaikan. Sekuat apapun tembok Yerikho yang kita hadapi pasti runtuh oleh karya Tuhan.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Dinamis Dan Efektif
24 November '17
Memang Lidah Tak Bertulang
04 Desember '17
Renungan Harian
11 Desember '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang