SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 21 Januari 2018   -HARI INI-
  Sabtu, 20 Januari 2018
  Jumat, 19 Januari 2018
  Kamis, 18 Januari 2018
  Rabu, 17 Januari 2018
  Selasa, 16 Januari 2018
  Senin, 15 Januari 2018
POKOK RENUNGAN
“Menerima anugerah keselamatan dari Tuhan adalah bersifat personal, namun Tuhan ingin supaya disampaikan kepada banyak orang, sehingga menjadi nyata kasih Allah bagi dunia.”
DITULIS OLEH
Pdt. Natanael Rabono
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Menghayati Anugerahnya
Menghayati Anugerahnya
Selasa, 26 Desember 2017
Menghayati Anugerahnya
2 Samuel 5:1-5, 9-10

Kata “Anugerah” berarti pemberian dari pihak yang “lebih tinggi” kepada yang “lebih rendah” atau dari tuan kepada hamba. Jika kata tersebut dihayati dalam “kacamata” iman, maka kata “anugerah” tersebut menjadi sangat dalam. Bukan hanya sekedar pemberian yang asal diberikan oleh Tuhan, namun di balik pemberian tersebut ada rencana yang tidak dapat dimengerti dengan akal budi manusia. Agar manusia senantiasa berpengharapan serta menerima curahan anugerah-Nya, maka mereka harus menerima Tuhan dengan kesungguhan.

Tuhan sangat mengasihi Daud. Kepemimpinan Daud bukan hanya untuk suku Yehuda, sehingga Tuhan berkenan mengangkat Daud menjadi pemimpin atas Israel. Kekuasaan yang awalnya dari lingkup kecil [terbatas], sekarang meluas kepada bangsa besar [ayat 3]. Inilah bukti anugerah Tuhan yang tidak terselami akal budi manusia, yaitu Tuhan menggunakan Daud menjadi raja atas suku-suku bangsa Israel. Kehidupan Daud sekarang bukan untuk sukunya sendiri, tetapi meluas ke seluruh suku Israel [ayat 9-10].

Menerima anugerah dari Tuhan adalah berkat besar bagi diri sendiri, namun sebenarnya di balik anugerah yan...selengkapnya »
“Mbah, Benay akan segera kembali ke tanah air”, kata Rabenay pada Mbah Wanidy yang masih terpingkal-pingkal menahan tawa. “Apa! Benay akan kembali? Dia masih hidup?”, tanya Mbah Wanidy keheranan. “Benar Mbah, menurut informasi yang saya terima, KBRI di Iraq telah menyampaikan pengumuman bahwa para sukarelawan asal Indonesia akan mulai dipulangkan pada awal tahun 2018 ini. Konon salah satu nama yang disebut adalah Benay, adik kandung saya.” Wajah Mbah Wanidy sumringah mendengar kabar baik ini. Sukacita meletup-letup dalam sanubarinya. Wajahnya berseri-seri berhias pengharapan. “Wah..wah.., tampaknya Mbah Wanidy gembira sekali. Bahkan lebih gembira dibandingkan dengan saya.” Mbah mengangguk-angguk mengiyakan. “Mengapa Mbah begitu gembira ketika mendapatkan kabar bahwa Benay akan pulang?” tanya Rabenay penasaran. “Ya tentu saya senang karena pertama-tama Benay selamat. Bagaimanapun juga dia itu adalah konsumen fanatikdi warung saya. Kedua, heem…ehem….kembalinya Benay ke Semarang berarti tumbuh mekarnya kembali harapan saya”, jawab Mbah Wanidy. “Harapan apa itu, Mbah” tanya Rabenay. “Heek…e..heeem…harapan untuk terbayarnyahutang-hutang Benay pada saya.” Wajah Rabenay pun memerah karena malu. Jemaat yang terkasih. Harapan Mbah Wanidy yang sempat terkubur, kini tumbuh kembali karena ada kemungkinan Benay masih hidup dan akan kembali ke tanah air. Demikian juga dengan Ayub. Dalam penderitaannya yang teramat pedih, Ayub bergumul dengan Tuhan. Sahabat-sahatabnya hadir untuk memberikan nasehat. Namun apa boleh buat, nasehat-nasehat mereka malah cenderung menuduh dan makin menyesakkan hatinya. Ayub merasa bahwa harapannya sudah hilang. Semangatnya sudah patah berkeping-keping dan di matanya hanya tampak kematian yang segera akan menghampirinya [ay. 1, 11-16]. Namun apa yang Ayub perkirakan tidaklah seperti yang Allah pikirkan. Sejak dari mulanya penderitaan Ayub diperhatikan oleh Allah. Jerit pergumulannya di dengarkan oleh-Nya. Harapannya tidak dilenyapkan sama sekali. Malah pada waktu yang Allah tetapkan, keadaan Ayub dipulihkan dengan luar biasa [Ayub 42]. Jemaat yang dikasihi Tuhan. Apakah kita sedang mengalami pergumulan? Atau masalah dalam hidup ini? Apakah kita merasa jerit tangis kita dalam doa-doa terasa jauh dari Tuhan? Seolah-oleh mata kita sudah hampir kering? Namun percayalah bahwa kasih Allah tidak akan pernah sedikitpun meninggalkan anak-anak-Nya. Tetaplah berlaku benar dan setia, tetaplah berpengharapan di dalam Tuhan karena masa depan itu sungguh ada tersedia bagi kita. Selamat membangun harapan. Terpujilah Tuhan!
Peristiwanya terjadi amat sangat lama, puluhan tahun yang lalu. Waktu itu saya menghadiri perayaan Natal mahasiswa di sebuah Seminari [Sekolah Alkitab]. Hati saya terperangah, terkagum-kagum menyaksikan sajian musik genta [lonceng] mengumandangkan lagu “Kesukaan Bagi Dunia”. Jumlah genta yang dimainkan tidak begitu banyak tapi dentang genta itu bergema memenuhi kalbu saya, membawa angan-angan saya melayang ke ribuan tahun yang lalu. Para malaikat menyanyi memberitakan natal pertama kepada para gembala di tengah-tengah kesunyian malam. Entah kenapa air mata sukacita mengalir tak terbendungkan mengenang masa itu. Sampai saat ini genta natal itu masih bergema di hati di saat tangan saya memegang lilin kecil yang menyala di malam Natal. Cerita lonceng natal adalah salah satu simbol/lambang Natal. Asal-usul lonceng dijadikan simbol natal karena bunyi lonceng yang bergema melambangkan berita tentang kelahiran Juruselamat yang dibawa para malaikat. Berita tentang kelahiran Yesus Kristus adalah suatu berita yang membawa kesukaan bagi dunia. Nabi Yesaya telah menubuatkan tentang kedatangan Yesus Kristus, Sang Mesias. Gema lonceng natal memberitakan : 1. Bahwa “Allah itu Raja” [ayat 7], Yesus Kristus memang datang ke dalam dunia sebagai Raja yang memerintah secara rohani dalam kebenaran. 2. Berita ini mendatangkan penghiburan dan sukacita [ayat 9]. Yesus Kristus adalah Terang Dunia. Ketika Ia datang, kegelapan sirna karena kegelapan tidak dapat menguasainya [Yohanes 1:1-9]. 3. Berita itu adalah berita keselamatan. Sang Penebus sudah datang. Ketika umat manusia yang berdosa mau menerima-Nya oleh iman kepada-Nya, ia diselamatkan. Dari status seorang musuh Allah diubah menjadi anak-anak Allah [Yohanes 1:12]. 4. Berita itu adalah berita penyertaan Allah bagi umat-Nya. Yesus Kristus disebut Imanuel [Matius 1:23], Allah beserta kita. 5. Berita itu sekaligus tentang Yesus Kristus sebagai Hamba yang menderita [ayat 13]. Sekalipun Ia raja, Ia datang dalam kesederhanaan, bahkan kepapaan dengan palungan sebagai tempat lahir-Nya. Namun itu semua tidak mengurangi kasih Bapa bagi umat-Nya. Terima kasih Bapa buat gema lonceng Natal yang memberikan suatu sukacita besar bagi umat manusia.
Saya bersyukur dilahirkan di tengah-tengah keluarga sederhana. Penghasilan orangtua hanya pas-pasan. Sehingga untuk membeli barang kebutuhan lainnya harus susah payah untuk mencari. Ketika akan memasuki kelas 3 SLTA, sepatu saya kelihatan rusak parah, maka saya berniat meminta kepada orangtua. Tetapi saya tidak berani meminta karena kondisi pekerjaan dan ekonomi. Sore itu tiba-tiba ibu menghampiri saya serta menegor mengapa saya tidak memberitahu kalau sepatu saya sudah rusak. Kemudian ibu mengajari saya agar “menyisihkan Rp. 200,- dari Rp. 500,- uang saku saya tiap hari. Ketika ibu memberi uang di pagi hari, ia selalu mengarahkan saya memasukan uang Rp. 200,- ke dalam “celengan” bambu. Ibu mengajari saya “menyisihkan” bukan “menyisakan” uang saku saya. Alasannya kalau menyisihkan berati benar-benar menyendirikan, disiapkan khusus. Sedangkan kalau “menyisakan” berati meninggalkan sedikit. Dan hasilnya, dalam jangka waktu 1 tahun, saya bisa membeli sepatu walaupun ibu harus menambah sejumlah uang, namun tidak memberatkan. Rumusan “sisihkan, bukan sisakan” seharusnya juga menjadi rumusan untuk waktu khusus bersama Tuhan. Seperti Daniel. Daniel adalah pembesar negara yang tentu sangat sibuk [ayat 3-4], tetapi yang mengagumkan, ia sudah punya tempat, waktu, bahkan metode yang tetap untuk bersekutu dengan Allah [ayat 11]. Dalam konteks ini, Daniel memang sedang terancam akan dilemparkan ke gua singa. Namun berdoa tiga kali sehari bukan dilakukannya karena panik dengan ancaman itu. Hal ini dicatat sudah menjadi pola kebiasannya. Ia benar-benar menyisihkan yang terbaik untuk Allah, bukan memberi sisa. Mungkin selama ini kita hanya memberi sisa-sisa waktu, sisa-sisa tenaga, serta kemauan sehingga waktu bersama Tuhan tidak berisi. Mari ubah pendekatan kita dengan menyisihkan [menyediakan], bukan menyisakan, waktu untuk berdoa dan membaca firman-Nya. Mungkin awalnya terasa berat, tetapi mintalah pertolongan Roh Kudus agar kita bijak menempatkan prioritas hidup dan diperkenankan menikmati persekutuan yang indah dengan Allah tiap hari. Persekutuan dengan Allah menolong kita menghadapi situasi hidup apapun. Di Tahun 2018 ini beri dan siapkan waktu khusus untuk Tuhan agar hidup kita makin berkenan di hadapan-Nya. Amin. [ATL] Pokok renungan: Temui Tuhan dengan menyisihkan waktu khusus untuk menghadap-Nya.
Ungkapan ini tepat sekali dikenakan pada Tuhan Yesus. Dia peduli kepada manusia yang telah jatuh dalam dosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Manusia yang terhilang tanpa pengharapan ditemukan kembali oleh Penciptanya, untuk mewarisi Kerajaan-Nya. Kita sebagai umat tebusan-Nya harus menjadikan ungkapan ini tidak sekedar slogan saja, tetapi suatu tema kehidupan yang di praktikkan. Tuhan Yesus datang bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani, bukan untuk dipedulikan tapi mempedulikan [Matius 20:27-28]. Sesungguhnya untuk mengaplikasikan ungkapan ini secara benar, diperlukan pertaruhan yang sangat mahal, yaitu segenap hidup kita. Kepedulian terhadap sesama harus lahir dari kerelaan memberi diri, dan hanya kita sendiri yang bisa menggairahkannya sesuai dengan kehendak bebas yang sudah Tuhan karuniakan. Dalam kisah orang Samaria yang baik hati, kepedulian yang dimiliki oleh orang Samaria lahir dari kesadaran diri yang murni/tulus, suatu kepedulian tanpa pamrih [Lukas 10:30-37]. Imam dan Lewi dalam kisah tersebut tentuya sudah memahami tentang kepedulian terhadap sesama, tetapi mereka tidak memiliki hati untuk orang lain. Kepedulian terhadap sesama adalah respon kita terhadap keselamatan yang Tuhan anugerahkan kepada kita, kesadaran untuk membalas kebaikan Tuhan. Bila kita sudah ditebus dengan harga yang begitu mahal dan dilepaskan dari api kekal, seharusnya sudah cukup mendorong kita untuk membalas kebaikan Tuhan. Namun bila kita mempunyai pola pikir bahwa hidup untuk mencari keuntungan dan kesenangan duniawi, pasti tidak akan mengerti hal kepedulian ini. 1. Tuhan Yesus telah memberi teladan kepedulian ini [Lukas 9:11], dengan ciri-ciri: Kepedulian dilandasi oleh kasih, bukan upah. Seperti yang diperagakan oleh rasul Paulus ketika dia berkata, “Upahku adalah kalau aku boleh melayani tanpa upah” [1 Korintus 9:18]. 2. Semua bentuk kepedulian harus mengarah kepada keselamatan dalam Tuhan Yesus. Bukan sekedar untuk membantu memenuhi kebutuhan jasmani, bukan untuk kepentingan sesuatu atau seseorang. Bukan sekedar membuat jemaat menjadi anggota gereja yang rajin datang ke gereja, tetapi benar-benar bisa mengubah mereka menjadi sempurna seperti Bapa, berkepribadian Anak Allah yang layak menjadi mempelai Tuhan yang tak bercacat di hadapan Tuhan.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Lonceng Natal
25 Desember '17
Milikilah Hati Tuhan Yesus
17 Januari '18
Menyiapkan Lahan Hati
09 Januari '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang