SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 20 April 2018   -HARI INI-
  Kamis, 19 April 2018
  Rabu, 18 April 2018
  Selasa, 17 April 2018
  Senin, 16 April 2018
  Minggu, 15 April 2018
  Sabtu, 14 April 2018
POKOK RENUNGAN
“Menerima anugerah keselamatan dari Tuhan adalah bersifat personal, namun Tuhan ingin supaya disampaikan kepada banyak orang, sehingga menjadi nyata kasih Allah bagi dunia.”
DITULIS OLEH
Pdt. Nathanael Rabono
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Menghayati Anugerahnya
Menghayati Anugerahnya
Selasa, 26 Desember 2017
Menghayati Anugerahnya
2 Samuel 5:1-5, 9-10

Kata “Anugerah” berarti pemberian dari pihak yang “lebih tinggi” kepada yang “lebih rendah” atau dari tuan kepada hamba. Jika kata tersebut dihayati dalam “kacamata” iman, maka kata “anugerah” tersebut menjadi sangat dalam. Bukan hanya sekedar pemberian yang asal diberikan oleh Tuhan, namun di balik pemberian tersebut ada rencana yang tidak dapat dimengerti dengan akal budi manusia. Agar manusia senantiasa berpengharapan serta menerima curahan anugerah-Nya, maka mereka harus menerima Tuhan dengan kesungguhan.

Tuhan sangat mengasihi Daud. Kepemimpinan Daud bukan hanya untuk suku Yehuda, sehingga Tuhan berkenan mengangkat Daud menjadi pemimpin atas Israel. Kekuasaan yang awalnya dari lingkup kecil [terbatas], sekarang meluas kepada bangsa besar [ayat 3]. Inilah bukti anugerah Tuhan yang tidak terselami akal budi manusia, yaitu Tuhan menggunakan Daud menjadi raja atas suku-suku bangsa Israel. Kehidupan Daud sekarang bukan untuk sukunya sendiri, tetapi meluas ke seluruh suku Israel [ayat 9-10].

Menerima anugerah dari Tuhan adalah berkat besar bagi diri sendiri, namun sebenarnya di balik anugerah yan...selengkapnya »
Sebuah penggalan lirik lagu yang berbunyi “kita dipilih dari segala bangsa, kita dipilih jadi umat-Nya, kita dipilih dan dikuduskan-Nya, membawa kemuliaan hanya bagi Dia”. Lirik dari lagu ini tegas mengatakan bahwa kita sebagai orang-orang yang menjadi umat Allah yang dikuduskanNya dari keadaan yang semula tidak kudus menjadi kudus oleh karena Dia, dan kita memiliki tugas yaitu untuk menjadi alat bagi kemuliaan-Nya. Tuhan memiliki tujuan bagi setiap kita, umat yang dikasihi-Nya. Sebuah hal yang luar biasa bagi kita yang pada dasarnya adalah manusia yang berdosa. Namun, oleh karena kasih karunia Allah kita memperoleh pengampunan melalui pengorbanan Kristus di kayu salib. Karena Allah sendiri yang telah memilih kita untuk menjadi umat-Nya maka dari itu kita perlu meresponi panggilan tersebut dengan benar. Hidup benar dan kudus di hadapan Tuhan sebagai wujud dari rasa syukur kita kepada Allah dan juga sebagai wujud bakti kita kepada-Nya. Dalam kitab Imamat 20:26 dikatakan bahwa Tuhan adalah kudus dan kita juga haruslah kudus, karena Ia telah memisahkan dan memilih kita sebagai umat kepunyaan-Nya. Maka sangat jelas bagi kita untuk hidup kudus sesuai dengan Firman-Nya. Hidup kudus berarti menjaga hidup kita untuk tetap lurus berjalan dalam kebenaran Firman Tuhan dalam setiap aspek kehidupan. Dan dengan demikin kita yang telah dikuduskan oleh karena Dia, dapat membawa terang kemuliaan Allah untuk kita tunjukan kepada dunia ini supaya menjadi berkat bagi orang-orang yang belum percaya kepada-Nya. Jemaat Tuhan yang terkasih, marilah kita menjadi umat Tuhan yang membawa terang kemuliaan-Nya melalui apa yang ada pada diri kita melalui sikap hidup kita. Dengan hidup lurus sesuai dengan firman-Nya, maka dengan itu pula nama Tuhan semakin dipermuliakan. Jika kita telah dipilih menjadi umat pilihan-Nya, maka kita juga memiliki tugas tanggung jawab untuk mempermuliaakan Tuhan.
Secara alamiah seorang ibu mengandung selama 9 bulan 10 hari bias juga kurang atau lebih. Selama hamil dia akan menderita, tidak bebas bergerak dengan perut yang membesar, sulit untuk tidur dengan normal, sering mual dan juga sering tidak mempunyai selera makan. Badan menjadi tambah berat sehingga cepat lelah. Pada waktu bersalin merasakan sakit yang tak terlukiskan. Di tengah penderitaan waktu hamil dan bersalin dia tidak pernah menyerah karena penderitaan yang dialami pasti hanya sementara. Penderitaan itu akan diganti dengan sukacita dengan lahirnya seorang bayi yang mungil dan memberi kebahagiaan bagi sang ibu dan keluarganya. Setiap makhluk di dunia termasuk orang Kristen bisa mengalami penderitaan yang datang silih berganti selama masih hidup dalam dunia. Seperti seorang ibu yang sakit waktu bersalin, anak Tuhan pantang menyerah bila penderitaan datang karena yakin bahwa penderitaan yang dialami saat ini tidak sebanding dengan kemuliaan yang kelak akan didapatkan. Roh Kudus akan membantu sebagai perantara berdoa kepada Allah ketika kita tidak dapat berdoa karena beratnya beban. Dalam setiap penderitaan Allah ikut bekerja untuk mendatangkan kebaikan kepada kita. Yang harus dilakukan pada waktu ada masalah adalah tetap tekun dalam iman kepada-Nya. Kita tidak kebal terhadap masalah yang datang silih berganti dan mendatangkan penderitaan. Janganlah menyerah pada penderitaan tetapi tetaplah tekun dalam beribadah, berdoa, baca, renungkan dan lakukan Firman-Nya karena hal itu adalah bagian kita. Penderitaan ada masanya dan selama dalam penderitaan Roh Kudus akan memberi kekuatan. Dan dibalik setiap masalah pasti ada rencana Tuhan yang indah bagi kita. Ingatlah bahwa setiap penderitaan yang kita alami tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan kita terima.
Banyak tokoh di dunia ini terus menginspirasi masyarakat luas untuk jangka waktu yang cukup lama. Di antaranya Martin Luther King, Jr., yang berjuang melawan diskriminasi ras di Amerika Serikat, Mother Theresa, yang rela terjun langsung ke lapangan untuk merawat orang sakit di India, William Wilberforce, yang berjuang menghapus perbudakan di Inggris, Romo Mangun yang berjuang di Yogyakarta, untuk merubah kondisi masyarakat di Kali Code, dan masih banyak lagi tokoh lainnya. Apakah kunci keberhasilan mereka? Mereka terus menjagai komitmen yang telah dibuat. Walaupun harus mengalami masa-masa berat, mereka pantang menyerah sehingga mencapai akhir perjuangan. Alkitab juga mencatat tokoh-tokoh yang menjaga komitmen hingga akhir. Contohnya Paulus. Setelah bertobat, ia memberitakan Injil, terutama kepada bangsa bukan Yahudi. Hal ini bukan perkara yang mudah. Begitu banyak tantangan berat menghampirinya, dari kaum Yahudi, dari orang-orang bukan Yahudi, dari alam [2 Korintus 11:23-33], bahkan dari penyakit tubuhnya [2 Korintus 12:7,8]. Namun, ia tetap dapat menjaga komitmennya. Rahasianya? Dari waktu ke waktu ia menjalani pertandingan iman dengan selalu melupakan apa yang di belakang [dalam bahasa Yunani kata ’melupakan’ di sini tidak sama seperti kalau kita lupa sesuatu. Kata ini lebih berarti tidak berfokus ke masa lalu, tetapi kepada tujuan, visi hidup di depan] dan mengarahkan diri pada tujuan hidupnya, yakni memenuhi panggilan Tuhan [Filipi 3:13,14]. Apakah berbagai tantangan juga terus menghantam kita, sehingga kita sulit menjaga komitmen? Seperti Paulus, kita ini hamba yang dituntut untuk taat, maka mintalah kekuatan dari Tuhan. Seperti Paulus, kita ini hamba yang Tuhan pilih dan layakkan untuk menjadi saksi-Nya, maka ingatlah pentingnya tugas yang harus terus kita kerjakan. Sebab hanya dengan kekuatan yang datangnya dari Tuhan sajalah kita dimampukan untuk tetap setia dan tetap berkomitmen untuk mengikut dan melayani-Nya.
Pengorbanan yang tidak sia-sia 1 Korintus 15:17 dan 20 [17] Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu. [20] Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. Ketika kita menyaksikan film tentang penderitaan Yesus, kita bisa membayangkan betapa beratnya penderitaan yang dialami oleh Yesus. Kita merasa ngeri, walaupun hanya menyaksikan adegan di film. Apalagi kejadian yang sesungguhnya, tak terbayangkan peristiwa yang sangat mengerikan itu. Namun ada yang lebih mengerikan lagi...... Andaikan semua penderitaan yang sudah dijalani oleh Yesus itu ternyata hanya sesuatu yang percuma saja. Apa jadinya jika penderitaan yang seberat itu hanya berujung pada kematian yang mengenaskan dan ternyata tidak membuahkan hasil apa-apa? Ahhh, tak bisa dibayangkan..... Tetapi puji syukur kepada Allah Bapa yang adil dan benar, yang berkuasa di bumi dan di Sorga. DIA tidak membiarkan penderitaan dan kematian Putera-Nya itu berakhir dengan sia-sia. Sesudah kematian ada kebangkitan. Akhir hidup Yesus di dunia ini tidak berakhir dengan kematian yang memilukan, tetapi dengan kemenangan besar yang berupa kebangkitan dari antara orang mati. Kuasa dosa dan maut ditaklukkan. Manusia yang ditawan oleh belenggu dosa dibebaskan supaya menjadi umat Allah yang merdeka. Haleluya. Pengorbanan Yesus tidak sia-sia. Penderitaan yang sedemikian berat telah terbayarkan oleh kemenangan dan jiwa-jiwa yang diselamatkan. Oleh karena itu kita mempunyai dasar iman yang kokoh dan pengharapan yang pasti akan hidup kekal yang sudah disediakan bagi yang percaya kepada Dia. Dan kita mempunyai alasan yang tak terbantahkan untuk bersaksi bahwa di dalam Kristus ada jaminan keselamatan. Saudaraku, keselamatan yang sudah kita terima oleh percaya kepada Kristus adalah hasil dari sebuah pengorbanan yang teramat besar. Oleh karena itu marilah kita menjalani hidup kita dengan penuh rasa syukur kepada Tuhan dan menyaksikan kebangkitan-Nya. Selamat Paskah. Pdt. Goenawan Susanto
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Swa Bhuwana Paksa
09 April '18
Pengorbanan Yang Tidak Sia-Sia
30 Maret '18
Tak Melihat Namun Percaya
18 April '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang