SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 12 Desember 2017   -HARI INI-
  Senin, 11 Desember 2017
  Minggu, 10 Desember 2017
  Sabtu, 09 Desember 2017
  Jumat, 08 Desember 2017
  Kamis, 07 Desember 2017
  Rabu, 06 Desember 2017
POKOK RENUNGAN
“Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum.” [Yesaya 42:3]
DITULIS OLEH
Pdt. Victor Y. Nugraha
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Menjadi Baru Bersama Yesus
Menjadi Baru Bersama Yesus
Jumat, 01 Desember 2017
Menjadi Baru Bersama Yesus
Efesus 2:1-7

Di Film terbaru buatan DC yang di produksi oleh Warner Bros, yang berjudul “Justice League”, dimunculkan satu sosok superhero yang tidak terlalu familiar yang dikenal dengan panggilan Cyborg. Jika dibandingkan dengan superhero lain yang muncul dalam film ini, seperti Batman, Superman, Aquaman, Wonder Woman dan The Flash, maka nama Cyborg tidak sepopuler jagoan lainnya. Apakah berarti Cyborg adalah superhero yang tidak istimewa? Eits... tunggu dulu! Jangan salah! Justru dalam film ini Cyborg memegang peran penting dalam kesuksesan misi yang dijalankan.

Cyborg adalah superhero yang tidak bisa melupakan masa lalunya. Sebelum dibentuk menjadi Cyborg, dia dulunya adalah seorang remaja yang cerdas dan berbakat. Namun karena kecelakaan yang menyebabkan dia dalam kondisi kritis, maka sang ayah melakukan eksperimen untuk menyelamatkan nyawanya. Eksperimen sang ayah pun berhasil, nyawa sang anak tertolong, namun beberapa bagian tubuh harus diganti menjadi robot. Hasilnya sosok Cyborg pun hidup. Saat mengetahui bagian tubuhnya “aneh”, Cyborg terus menerus merenungi nasibnya. Dia merasa menjadi orang aneh dan berbeda dari manusia pada umumnya. Dia terus mengenang masa lalunya sebagai manusia normal dan membenci tubuh Cyborgnya yang sekarang. Keterpurukan itu akhirnya s...selengkapnya »
Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Hewan itu menangis dengan memilukan selama berjam-jam, sementara si petani memikirkan apa yang harus dilakukannya. Akhirnya, Ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan sumur juga perlu ditimbun karena bisa membahayakan, jadi tidak berguna untuk menolong si keledai. Ia mengajak tetangga-tetangganya untuk datang membantunya. Mereka membawa sekop, mulai menyekop tanah dan menimbun sumur tersebut. Pada mulanya ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis penuh kengerian. Tetapi kemudian semua orang takjub karena si keledai menjadi diam. Setelah beberapa sekop tanah lagi dituangkan ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang karena apa yang dilihatnya. Walaupun punggungnya terus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu. Sementara tetangga-tetangga si petani terus menuangkan tanah kotor ke atas punggung hewan itu, si keledai terus juga menguncangkan badannya dan melangkah naik. Segera saja semua orang terpesona ketika si keledai meloncati tepi sumur dan selamatlah dia. Selama kita hidup, maka seringkali kita akan menerima segala macam tanah dan kotoran, yaitu segala macam masalah dan persoalan kehidupan ini. Cara untuk keluar dari “sumur masalah” adalah dengan menghilangkan segala pikiran negatif dalam diri kita dan mampu menderita, serta terus bekerja dengan sungguh-sungguh. Selanjutnya mulai menyelesaikan masalah dengan terus melangkah maju, setahap demi setahap, terus mengatasi masalah demi masalah seumur hidup kita. [WIN] Pokok renungan: Setiap masalah merupakan satu batu pijakan untuk melangkah. Kita dapat keluar dari ’sumur’ yang terdalam dengan tetap mengandalkan Tuhan, berpikir positif dan terus berjuang. Jangan pernah menyerah!
“Ajar kami Tuhan, menghitung hari-hari…. Agar kami beroleh hati bijaksana…….” Lagu lama yang kata-katanya diambil dari kitab Mazmur 90:12 itu tiba-tiba saja terlintas dibenak saya. Dan langsung saja saya rengeng-rengeng sambil membereskan tugas-tugas rumah tangga. Mulut saya terus menyanyikan lagu itu berulang-ulang, sementara pikiran saya terus menerus mencerna kata-kata dalam lagu itu. Mengapa pemazmur meminta kepada Tuhan untuk mengajarnya? Mengapa tidak meminta diajar oleh guru, oleh suami atau istri, atau teman? Jawabannya sederhana, karena manusia terbatas hikmatnya, manusia tidak selalu bisa menjadi tempat belajar karena manusia banyak kekurangannya, karena manusia tidaklah sempurna. Kalau kita belajar dari manusia belum tentu kebijaksanaan yang kita dapat, mungkin kekecewaan, atau malah kemarahan. Tapi ketika Tuhan sendiri yang mengajar kita, sudah pasti hikmat kita akan bertambah dan kebijaksanaan akan kita peroleh. Mengapa pemazmur minta diajar untuk menghitung hari-hari? Mengapa bukan menghitung berkat-berkat, menghitung kesulitan demi kesulitan, menghitung persoalan yang ada? Karena dalam setiap hari yang kita lalui, banyak hal yang terjadi. Kejadian yang menyenangkan, yang membahagiakan, pengharapan yang menjadi kenyataan, doa yang terkabul, atau kekecewaan yang didapat, ketakutan yang tak kunjung berakhir, kepedihan dan kesusahan yang tiba-tiba saja datang. Itu beberapa situasi yang tiba-tiba bisa menghampiri kita setiap hari. Karena itu sangat perlu bagi kita merenungkan apa yang terjadi.Menimbang baik dan buruknya dari setiap kejadian yang timbul. Agar kita tidak salah dalam melangkah, dalam menjalani hari-hari kita. Mohon hikmat kepada Tuhan dalam menyikapi setiap peristiwa yang terjadi. Mohon Dia memimpin di setiap waktu yang kita lalui. Ketika kita menjadikan Tuhan sebagai guru dalam menjalani hari demi hari yang kita lalui, maka Dia akan memberi hati yang bijaksana. Kebijaksanaan akan terlihat dari cara seseorang berpikir, bertutur kata dan bersikap. Kebijaksanaan akan menimbulkan sukacita, menjadi berkat bagi orang-orang di sekelilingnya dan sudah pasti akan menciptakan suasana damai sejahtera. Karena itu mintalah kepada Dia untuk terus mengajar menghitung hari-hari, agar kita beroleh hati yang bijaksana.
Ketika kita menanam pohon buah-buahan, wo......, alangkah senangnya hati kita melihat pohon yang kita tanam berbuah lebat. Bagi seorang petani buah-buahan, hasil buah yang banyak berarti pemasukan yang banyak juga. Untuk memperoleh buah yang banyak kita harus memperhatikan dan merawat kondisi pohon yang ditanam. Dibutuhkan tanah yang baik, air yang cukup, sinar matahari, pupuk, dsb. Tanah, air, udara, sinar matahari, pupuk merupakan penunjang sumber alam yang sangat penting. Itu semua bukan ciptaan manusia tapi ciptaan Sang Pencipta alam yang Mahakuasa. Seperti juga petani buah-buahan yang mengharapkan pohon yang ditanam berbuah banyak, demikian juga Tuhan. Manusia dicipta Tuhan dan ditempatkan di bumi. Tuhan mengharapkan/menghendaki manusia berbuah banyak. Firman Tuhan dengan jelas mengatakan bahwa Bapa kita di sorga dipermuliakan apabila kita berbuah banyak dan kita disebut sebagai murid-murid-Nya. Dua hal utama yang harus kita lakukan sebagai orang Kristen, yaitu memuliakan Tuhan, Bapa kita yang kekal dan menjadi murid-Nya. Kita perlu merenungkan dalam-dalam arti Kristen. Kristen adalah pengikut Kristus, Kristen adalah murid Kristus. Begitu kita menyebut diri kita Kristen tidak cukup hanya rajin kebaktian di gereja, baca Alkitab dan berdoa setiap hari, aktif melayani pekerjaan Tuhan. Kita perlu bertanya pada diri sendiri, “Apakah hidup kita sudah menghasilkan buah?”; “Apakah hidup kita sudah berbuah banyak untuk memuliakan Tuhan?“ Agar berbuah banyak, hidup ini harus menyatu, tinggal di dalam Tuhan Yesus Kristus. Di luar Dia, hidup kita tidak akan menghasilkan buah. Proses selanjutnya, kita harus selalu siap dibersihkan Tuhan. Pembersihan yang Tuhan lakukan membuat hidup kita berbuah banyak. Selamat berbuah lebat bagi Kristus.
Seorang nenek begitu setia beribadah kepada Tuhan di usianya yang semakin bertambah. Demikian juga sang nenek terus berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan melalui ibadah sekalipun keadaan hujan atau panas. Bahkan tubuh tuanya yang seringkali mengalami sakit, tidakmembuatnya melupakan setiap hari minggu untuk tetap beribadah kepada Tuhan. Sang nenek berpikir bahwa dengan beribadah, ia sedang bertemu dengan Tuhannya. Tetangga yang melihat kehidupannya begitu tertarik dengan apa yang dilakukannya .Sampai suatu saat, tetangga nenek yang awalnya tidak mempercayai Yesus sebagai Tuhan dan Juru selamat, akhirnya menjadi percaya karena melihat kehidupannya. Seringkali kita berpikir kalau menjadi berkat berarti kita harus mengeluarkan rupiah dari dompet kita. Tidak salah memang, namun melalui kehidupan ini kita bisa menjadi berkat bagi banyak orang seperti contoh kisah nenek di atas, termasuk juga melalui bibir kita menjadi berkat bagi banyak orang. Penulis surat Ibrani mengingatkan supaya kita mempunyai ucapan bibir yang memuliakan Allah. Tentu orang yang mendengar perkataan kita akan memuji-muji dan memuliakan Allah karena kebaikkan-Nya. Contohnya, Paulus dan Silas sekalipun di penjara [Kisah Para Rasul 16:25] atau ucapan syukur yang kita perkatakan dari mulut bibir kita sekalipun menghadapi masalah dan tantangan. Ketika orang lain mendengarnya, tentu mereka juga akan mendapatkan semangat yang baru dari kehidupan ini. Saat kita belajar melalui mulut bibir ini mengucap syukur tidak saja memperkenankan hati Tuhan [1 Tesalonika 5:18], tetapi juga membuat orang yang mendengarnya mendapatkan harapan baru. Mari kita bawa hidup ini, khususnya melalui perkataan kita, menjadi berkat bagi banyak orang. Sehingga seperti perintah Tuhan kepada Abraham supaya Abraham diberkati Tuhan dan menjadi berkat bagi banyak orang, demikianlah juga kita kiranya menjadi berkat dan menikmati berkat Abraham dalam kehidupan kita ini.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Ketika Ketidakadilan Melukai
06 Desember '17
Berhiaskan Kekudusan
20 November '17
Persembahkan HidupMu
05 Desember '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang