SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 20 April 2018   -HARI INI-
  Kamis, 19 April 2018
  Rabu, 18 April 2018
  Selasa, 17 April 2018
  Senin, 16 April 2018
  Minggu, 15 April 2018
  Sabtu, 14 April 2018
POKOK RENUNGAN
Tuaian yang berlibat ganda hanya di hasilkan oleh setiap Hati yang terbuka untuk Tuhan
DITULIS OLEH
Pdm. Andreas T. Loso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Menyiapkan Lahan Hati
Menyiapkan Lahan Hati
Selasa, 09 Januari 2018
Menyiapkan Lahan Hati
Hosea 10:12

Dari sejak kecil saya senang memelihara anjing. Saya selalu mengajari setiap anjing saya untuk melakukan prilaku-prilaku baik. Misal: makan harus dengan duduk, tidak boleh memakan makanan yang tidak di taruh tempat makannya, dan lainya. Saya berusaha mendidiknya dengan susah payah. Bahkan saya pernah di gigitnya ketika saya mengajari makan di tempatnya. Ketika anjing itu masih kecil pernah saya ikat di tempat tidurnya, karena tidak mau tidur di tempat yang saya buat. Semua kesulitan itu membuahkan hasil. Anjing saya berkali-kali diberi makanan beracun tidak pernah berhasil. Karena Anjing saya tidak mau makan makanan yang tidak ditempatnya. Malah anjing tetangga yang mati.

Peristiwa di atas mengingatkan kita. Jika hidup kita ingin mengerti kehendak dan rencana Tuhan, harus siap menerima didikan, teguran Tuhan. Didikan, teguranNya memang tidak enak, tapi memberkati kita. Masih banyak orang Kristen yang mudah sekali tersinggung dan marah ketika mendengar firman Tuhan yang keras. Lalu kita pun mogok tidak mau pergi ke gereja, atau tetap beribadah tapi kita pindah ke gereja lain. Inilah gambaran dari hati yang keras! Kita tidak mau menerima teguran! Hati yang demikian...selengkapnya »
Berita tentang kebangkitan orang mati pada waktu itu menarik perhatian masyarakat daerah Balas Klomprik karena salah seorang bapak warga Kristen di desa itu mengalami kebangkitan dari kematian saat ibadah tutup peti dilaksanakan. Tentu saja peristiwa tersebut membuat sedikit kegaduhan antara percaya dan tidak percaya bahwa kebangkitan dari kematian yang sudah berlangsung lebih dari 12 jam menjadi kenyataan. Bapak yang baru saja dibangkitkan dari kematian mulai bercerita kepada warga jemaat maupun masyarakat yang hadir saat itu tentang hal apa saja yang dialaminya saat mengalami peristiwa kematian yang dialaminya. Bapak itu hidup kembali, sembuh total dari penyakitnya dan mulai banyak bersaksi tentang Kristus. Hingga meninggal dunia 18 tahun kemudian. Namun dari sisa waktu hidupnya sudah banyak orang berdosa diperkenalkan kepada Tuhan Yesus dan Kerajaan Surga. Demikian pula dengan nats bacaan hari ini. Para murid Tuhan Yesus tidak mempercayai berita tentang kebangkitan Guru-Nya dari kematian yang telah disampaikan oleh beberapa orang kepada mereka [ayat 11, 13]. Hal ini terjadi karena mereka masih berkabung dan menangisi nasib Tuhan Yesus sebagai Guru-Nya yang mati tersalib [ayat 10]. Akhirnya Tuhan Yesus sendiri yang hadir menampakkan diri kepada kesebelas murid-Nya setelah kesaksian orang yang diutus untuk memberitakan kabar tentang kebangkitan diri-Nya tidak mereka percayai [ayat 14]. Pertama, Tuhan Yesus menegur dengan keras ketidak percayaan dalam diri murid-Nya yang tidak mau mendengarkan dan mempercayai berita tentang kematian dan kebangkitan-Nya yang beberapa kali sudah disampaikan sebelum peristiwa penyaliban-Nya [ayat 14]. Ketidak percayaan merupakan hal yang sangat menghambat diri mereka untuk dapat mempercayai Tuhan Yesus secara penuh. Jadi jangan menganggap sepeleh terhadap ketidak percayaan yang seringkali muncul dalam diri dan hati kita. Suatu saat ketidak percayaan itu akan membunuh iman kita untuk percaya sepenuhnya kepada pribadi dan karya Tuhan Yesus. Kedua, Tuhan Yesus mengutus mereka untuk bersaksi tentang berita Injil [ayat 15-20]. Tugas utama mereka adalah mengusir setan, menyembuhkan orang sakit, membuat mujizat dan memberitakan injil inilah tugas utama seorang saksi Kristus di dunia ini. Apabila kita melakukan dengan setia keempat tugas tersebut janji Tuhan Yesus adalah Dia akan turut bekerja untuk meneguhkan kesaksian kita [ayat 20]. Di sekitar kita masih banyak jiwa-jiwa berdosa yang belum mendengar berita Injil maka menjadi tugas dan tanggungjawab kita saat ini untuk melangkah memenangkan mereka. Tugas kita hanya bersaksi dan berdoa selanjutnya Allah yang akan bekerja dalam hidup mereka.
Mengapa Tuhan Yesus tidak langsung naik ke Surga ? Mengapa harus menunggu di bumi selama 40 hari ? Salah satu alasannya adalah membuktikan bahwa Tuhan Yesus benar-benar bangkit dan hidup [Kis 1:3]. Berulangkali Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya. Sehingga mereka benar-benar percaya sepenuh hati dan tidak meragukan kebangkitan-Nya. Soren Kierkegaard membagi prilaku manusia ke dalam 3 tingkatan. Pertama, Aesthetic yaitu orang yang melakukan sesuatu hal berdasarkan apa yang dia suka. Tingkat ini bicara soal perasaan nyaman. Kedua, rasional yaitu menilai sesuatu berdasarkan masuk akal atau tidak, benar atau salah. Sesuatu akan dilakukan kalau masuk akal dan benar. Ketiga, iman kehendak Tuhan yang menjadi prioritas. Merasa nyaman itu perlu, bertindak rasional juga dibutuhkan. Tetapi ada satu hal yang tidak boleh diabaikan, yaitu kehendak Tuhan. Tomas adalah salah satu murid Yesus yang sulit percaya karena ia tidak melihat sendiri kebangkitan Yesus. Mungkin Tomas sangat kecewa. Perasaannya tergoncang melihat melihat Yesus di tangkap, diadili, disiksa, digantung di kayu salib sampai mati. Tomas berpikir dengan logikanya sendiri, sehingga dia menolak saat murid-murid lain memberi kesaksian bahwa mereka melihat Yesus bangkit. Banyak peristiwa dalam hidup kita yang bisa menggoncang perasaan. Kita bisa hilang pengharapan. Pikiran tidak mampu melihat kemungkinan-kemungkinan yang dapat Allah lakukan. Ketika dukacita, masalah berat menimpa, kita bersikap dan bertindak sebatas perasaan dan logika saja. Tuhan Yesus menegur Tomas: “Berbahagialah orang yang tidak melihat tetapi percaya.” Kita harus memiliki sikap berdasarkan pertimbangan iman. Iman melampaui perasaan dan logika manusia karena iman bersumber dari Firman Tuhan, Dengan iman yang teguh kita akan menjadi orang yang berbahagia.
Dalam sebuah cerita ilustrasi di dalam kelas, seorang guru mulai bercerita tentang kehidupan seekor Koala. Koala ini sedang belajar melakukan yang terbaik atas apa yang diperbuatnya. Pertama-tama, ketika masih kecil, seekor Koala belajar untuk melompat, lari, dan bahkan bernyanyi. Ia terus mencoba sampai bisa. Setelah itu ia juga mencoba sesuatu yang baru, mungkin banyak waktu yang diperlukan untuk mampu melakukannya. Namun ia tetap mencoba dan belajar melakukan sesuatu yang terbaik. Bahkan ia melatih dirinya sampai ia mampu menguasainya. Ia selalu mencoba lakukan yang terbaik dengan bekerja keras. Apa yang ia telah mulai, ia berusaha untuk tetap menyelesaikan meskipun kadang tidak menyenangkan. Prinsip yang dimiliki seekor Koala ini adalah tetap melakukan yang terbaik dari setiap kegiatan yang dilakukannya. Kitab Amsal 14 merupakan salah satu bagian dari kitab Amsal yang berisikan ucapan-ucapan bijak atau yang sering kita sebut hikmat. Hikmat adalah pengetahuan dan pengertian akan apa yang benar, adil, tulus, dan jujur yang tentunya berasal dari Tuhan dan bersumber kepada Tuhan. Khusus di ayat 23, yaitu dalam tiap jerih payah ada keuntungan. Setiap manusia yang hidup pasti tidak pernah terlewatkan dari sebuah kegiatan. Baik dalam pendidikan, pekerjaan, dan pelayanan. Semua itu membutuhkan tenaga, pemikiran, dan kerja keras. Ayat ini mengingatkan bahwa setiap jerih lelah yang dilakukan akan mendatangkan keuntungan. Bukankan tahun ini target jemaat Tuhan adalah melakukan yang terbaik untuk keselamatan jiwa-jiwa? Itu berarti ada sesuatu yang harus dikerjakan, ada hal-hal yang harus diupayakan supaya dapat terpenuhi. Dari apa yang akan kita kerjakan tersebut membutuhkan yang namanya jerih lelah, butuh pengorbanan dan butuh tindakan. Melakukan yang terbaik tidak bisa hanya berdiam diri, melainkan harus berjerih lelah untuk menjangkau jiwa-jiwa bagi Tuhan. Dan pastinya dalam berjerih payah itu, butuh hikmat dari Tuhan. Saudara terkasih, kita telah dipanggil Allah untuk turut bekerja dalam ladang pelayanan di dunia ini. Kita dipanggil untuk melakukan perintah Allah, yaitu mencari dan menyelamatkan yang hilang. Kita juga alat kepanjangan tangan Tuhan untuk memberitakan Injil Tuhan. Oleh sebab itu, mari belajar melakukan yang terbaik dari setiap bagian kehidupan kita untuk menghasilkan buah yang berdampak bagi sesama. Bahkan sampai mendatangkan keuntungan bagi kemuliaan nama Tuhan.
Kita ditebus dari cara hidup yang sia-sia dengan harga yang sangat mahal [I Petrus 1:18-19]. Karya Keselamatan yang dilaksanakan oleh Yesus adalah rancangan agung Bapa begitu manusia jatuh dalam dosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Penebusan salib ini menggenapi kasih dan rasa keadilan Bapa. Pengorbanan yang dipikul oleh Yesus bukan suatu sandiwara, tapi suatu hal yang sangat serius, melibatkan pertaruhan sangat dahsyat bagi Bapa maupun Yesus sebagai pelaksananya. Untuk melaksanakan misi Bapa-Nya, Yesus [sebagai manusia] telah sungguh-sungguh berjuang untuk taat mutlak kepada Bapa. Situasi di taman Getsemani menjelang Yesus ditangkap menggambarkan perjuangan tersebut [Matius 26 : 37 - 38]. Puncak perjuangannya bisa disaksikan pada saat Dia berseru: “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku” dan “Yesus berseru dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya [Matius 27:46 dan 50]. Acara peringatan Paskah dengan berbagai drama, pemutaran “The Passion of Christ”, memang bisa menimbulkan rasa iba, simpati dan empati, emosi kesedihan muncul sampai mengeluarkan air mata. Tentunya tidak salah berempati terhadap Yesus. Namun menyambut Paskah tidak cukup hanya dengan simpati dan empati. Yesus sendiri mengatakan “ …, janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu !”[Lukas 23:28]. Bagi Yesus tugas penebusan yang diemban-Nya sudah tuntas pada saat Dia mengatakan “sudah selesai” [Lukas 19 : 30]. Dia sudah berjuang dan menang [Ibrani 5:7]. Sebagai umat tebusan, kita harus menghargai pengorbanan Yesus, yang tidak cukup dilakukan dengan perkataan, nyanyian yang kita naikkan bagi-Nya. Tapi harus dimulai dengan sikap hati yang menghargai Pribadi dan pengorbanan-Nya. Diikuti dengan perjuangan sungguh-sungguh untuk menggenapi tujuan anugerah penebusan diberikan, yaitu manusia dikembalikan / dipulihkan pada rancangan semula Bapa, menjadi serupa dengan Penciptanya, memiliki kemuliaan Allah, diubah dari kodrat dosa menjadi kodrat illahi, sempurna seperti Bapa, kudus dan tidak bercacat dihadapan-Nya [Efesus 1:4].
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Pengorbanan Yang Tidak Sia-Sia
30 Maret '18
Menjaga Komitmen
27 Maret '18
Pergunakanlah Waktu Yang Tersisa
24 Maret '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang