SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 21 Januari 2018   -HARI INI-
  Sabtu, 20 Januari 2018
  Jumat, 19 Januari 2018
  Kamis, 18 Januari 2018
  Rabu, 17 Januari 2018
  Selasa, 16 Januari 2018
  Senin, 15 Januari 2018
POKOK RENUNGAN
Tuaian yang berlibat ganda hanya di hasilkan oleh setiap Hati yang terbuka untuk Tuhan
DITULIS OLEH
Bp. Andreas T. Loso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Menyiapkan Lahan Hati
Menyiapkan Lahan Hati
Selasa, 09 Januari 2018
Menyiapkan Lahan Hati
Hosea 10:12

Dari sejak kecil saya senang memelihara anjing. Saya selalu mengajari setiap anjing saya untuk melakukan prilaku-prilaku baik. Misal: makan harus dengan duduk, tidak boleh memakan makanan yang tidak di taruh tempat makannya, dan lainya. Saya berusaha mendidiknya dengan susah payah. Bahkan saya pernah di gigitnya ketika saya mengajari makan di tempatnya. Ketika anjing itu masih kecil pernah saya ikat di tempat tidurnya, karena tidak mau tidur di tempat yang saya buat. Semua kesulitan itu membuahkan hasil. Anjing saya berkali-kali diberi makanan beracun tidak pernah berhasil. Karena Anjing saya tidak mau makan makanan yang tidak ditempatnya. Malah anjing tetangga yang mati.

Peristiwa di atas mengingatkan kita. Jika hidup kita ingin mengerti kehendak dan rencana Tuhan, harus siap menerima didikan, teguran Tuhan. Didikan, teguranNya memang tidak enak, tapi memberkati kita. Masih banyak orang Kristen yang mudah sekali tersinggung dan marah ketika mendengar firman Tuhan yang keras. Lalu kita pun mogok tidak mau pergi ke gereja, atau tetap beribadah tapi kita pindah ke gereja lain. Inilah gambaran dari hati yang keras! Kita tidak mau menerima teguran! Hati yang demikian...selengkapnya »
Bulan pertama di tahun yang baru, orang menyambutnya dengan ucapan, ’Happy New Year!’ Dengan amunisi semangat yang masih menjulang tinggi, tersemat harapan bahwa tahun yang baru akan disarati oleh segala yang membawa kebaikan, kebahagiaan dan keberhasilan. Tidak sulit bagi kita untuk tersenyum lebar dan bersikap optimis menyambut tahun yang baru apabila kondisi fisik, psikis atau ekonomi kita relatif stabil. Namun pada kenyataannya hidup ini tidak sesederhana itu. Bagi sebagian orang, langkah awal menyambut tahun baru tidak seideal yang diharapkan. Ada yang mengawali langkah di tahun baru dengan masalah keluarga yang bagai benang kusut. Ada yang mengawali tahun dengan deraan penyakit yang belum juga sembuh. Ada yang memulai tahun dengan lilitan utang yang tak kunjung berkurang. Ada yang terjerat perkara-perkara rumit yang masih gelap juntrungnya. Lalu bagaimana bisa menatap bulan-bulan ke depan dengan optimis? Masih berlakukah ’Happy New Year’ dalam situasi begini? Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, melainkan orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa [Markus 2:17]. Kristus hadir di hidup kita justru karena kita ini manusia yang rentan. Mudah jatuh dalam dosa. Mudah terjerat masalah. Mudah sakit. Mudah putus asa. Justru karena itulah kita memerlukan Yesus Kristus sang Penyelamat, Raja Damai. Dia tahu kita tak mungkin bertahan tanpa kehadiran-Nya, karena itulah Ia rela merendahkan diri-Nya sedemikian rupa dan datang kepada kita. Berbahagialah setiap manusia yang menanggapi panggilan-Nya sebab dengan demikian jiwanya akan mendapat ketenangan, ’Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.’[Matius 11:28]
Pesta akhir tahun seakan menjadi puncak dari segala sukacita setelah 365 hari melewati kehidupan yang penuh dengan lika-liku. Rasa puas, lega, bahagia tertumpah di akhir tahun itu, beriringan dengan doa-doa yang dipanjatkan di detik-detik akhir ataupun sorak-sorai yang gegap gempita menyambut datangnya hari yang baru di tahun yang baru. Seiring dengan berakhirnya pesta akhir tahun, munculah tanda tanya besar, bagaimana dengan tahun yang akan datang? Apakah yang akan terjadi, apakah usaha dan pekerjaan bisa berjalan seperti tahun yang lalu? Apakah kesehatan akan menjadi lebih baik ataukah memburuk? Bagaimana dengan situasi politik, keamanan negara dan bangsa? Bagaimana dengan keluarga, studi anak-anak? Bayangan pertanyaan-pertanyaan itu akan dengan mudah membuat nyali kita menciut ketika kita tahu bahwa semakin hari hidup tidak semakin mudah. Tantangan, masalah, dan persoalan sudah pasti akan menghadang langkah-langkah kita. Demikian juga ketika Tuhan memanggil Abram untuk pergi dari tanah kelahirannya menuju ke negeri yang dijanjikan Tuhan. Abram tidak mengetahui tujuan pastinya, bagaimana keadaan negeri tersebut, berapa lama harus melakukan perjalanan, bagaimana dengan keamanan dalam perjalanan, dll. Yang dilakukan Abram ialah percaya kepada Tuhan karena Abram mengenal siapa yang menyuruhnya pergi. Abram percaya bahwa Tuhan yang “dipercaya”nya tidak akan meninggalkan, tidak akan menelantarkan, dan tidak akan menjerumuskannya. Belajar dari Abram dalam menempuh perjalanan menuju ke negeri yang dijanjikan Tuhan, kita bisa meneladani apa yang dilakukan Abram kepada Tuhan. Percaya saja, Dia pasti akan menuntun kita menempuh perjalanan di tahun yang baru ini. Dia tidak akan meninggalkan kita begitu saja, tapi akan terus menyertai. Dia menyediakan yang kita perlukan. Apa yang kita butuhkan dalam menjalani hari-hari yang akan datang? Rasa aman? Kekuatan? Penghiburan? Hikmat? Semua akan diberikan bagi kita. Mendirikan mezbah dan memanggil nama Tuhan, itu yang dilakukan Abram selama dia melakukan perjalanan ke negeri yang dijanjikan Tuhan [ayat 7-8]. Kita bisa meneladani apa yang dilakukan Abram supaya perjalanan kita melewati tahun 2018 inipun dapat kita jalani dengan berhasil. Jangan takut, jangan menjadi tawar hati untuk memulai langkah di tahun yang baru ini, tapi percaya saja… Dia pasti menolong kita.
Kita sering mencari-cari hadiah Natal untuk keluarga, kerabat atau teman-teman tercinta. Kegiatan mencari yang serasi dan berarti untuk setiap pribadi tidak gampang. Namun ada ’sebuah usulan kado’ yang penuh arti bagi setiap pribadi! Kado yang satu ini mampu menyempurnakan kado yang sudah kita siapkan. Kado ini tidak dijual di toko, kita bisa menghadiahkannya. Ya, setiap saat dan tak perlu membeli! Ini adalah hadiah terindah dan tak ternilai bagi orang-orang yang kita sayangi, yaitu “KEHADIRAN”. Kehadiran orang yang dikasihi rasanya adalah kado yang tak ternilai harganya. Memang kita bisa juga hadir di hadapannya lewat SMS, telepon, foto, facebook, instagram, atau WA. Namun dengan berada di sampingnya, kita dan dia dapat berbagi perasaan, perhatian, dan kasih sayang secara lebih utuh dan intensif. Dengan demikian, kualitas kehadiran adalah sangat penting. Lalu dalam kehadiran kita, setidaknya ada 7 hal yang perlu diperhatikan, yaitu “SEPERTI YESUS”, mengikuti teladan YESUS. Seperti Yesus adalah hadiah terbesar bagimu, bagi keluargamu, dan bagi semua orang: Ia HADIR di setiap saat dalam hidupmu. Ia MENDENGARKAN setiap doa-doamu. Ia DIAM tatkala engkau mengomel, mengkritik dan mengatur hidupmu sendiri. Ia memberimu KEBEBASAN untuk memilih dan melakukan. Ia memberimu segala KEINDAHAN ciptaan-Nya yang tersedia di sekelilingmu! Ia senantiasa memberikan TANGGAPAN POSITIF yang jelas dan tulus. Ia selalu bersedia MEMAAFKANMU saat engkau datang kepada-Nya. Ia senantiasa TERSENYUM padamu, ketika engkau merasakan tidak ada pengharapan di tengah-tengah keputusasaan dan keresahan jiwa.
Kristus datang memberi hidup dan pengharapan Yohanes 10:10b Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. Kolose 1:27 Kepada mereka Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan! Bila ada seseorang yang baru datang ke tengah sebuah lingkungan tertentu [misalkan sebuah kampung], maka orang-orang di lingkungan itu akan bertanya-tanya: ’Siapakah orang itu? Seperti apakah pribadi dan latar belakangnya? Apakah kehadirannya akan membawa akibat yang baik atau buruk bagi orang-orang di lingkungan ini?’ Dua ribu tahun yang lalu telah datang ke dunia ini Yesus yang lahir di kota Betlehem. Para nabi sudah menubuatkan kedatangan-Nya. Dia adalah Sang Firman yang menjelma menjadi manusia. Dia datang ke dunia dengan tujuan untuk memberikan hidup dan pengharapan kepada manusia. Kristus telah datang ke dunia untuk memberikan hidup. Hidup yang dimaksud adalah zoe [dalam bahasa Yunani], yaitu hidup yang berkualitas. Hidup bukan asal hidup. Bukan hidup hanya untuk menikmati kesenangan saja. Tapi hidup yang penuh arti. Hidup yang berdampak bagi orang lain. Hidup yang berkenan di hati Tuhan. Hidup yang berpengharapan adalah hidup yang tidak hanya sebatas hidup di dunia ini saja. Tapi hidup yang melampaui batas. Sebab Kristus adalah pengharapan akan kemuliaan. Kristus sendiri saat ini ada di dalam kemuliaan di Sorga. Kristus sanggup membawa umat-Nya kepada kemuliaan yang saat ini dimiliki-Nya. Untuk semua itulah Kristus datang ke dunia ini. Dia lahir ke dunia ini dengan tujuan yang jelas. Dia datang agar manusia yang percaya kepada-Nya akan memiliki hidup dan memiliki pengharapan akan kemuliaan. Hidup di tengah dunia ini kita harus memiliki pegangan yang pasti. Jika kita memiliki iman kepada Kristus, maka kita memiliki jaminan hidup yang pasti. Pada hari Natal ini marilah kita semakin kuat di dalam iman dan pengharapan kita kepada Kristus. Pdt. Goenawan Susanto
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Siap Menyambut KedatanganNya
21 Desember '17
Memasuki Tahun 2018
31 Desember '17
Langkah Awal
18 Januari '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang