SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 19 Februari 2018   -HARI INI-
  Minggu, 18 Februari 2018
  Sabtu, 17 Februari 2018
  Jumat, 16 Februari 2018
  Kamis, 15 Februari 2018
  Rabu, 14 Februari 2018
  Selasa, 13 Februari 2018
POKOK RENUNGAN
Sudahkah kita bergabung dan bertekun dalam Komcil untuk kita bertumbuh menjadi murid Kristus?
DITULIS OLEH
Pdt. Denny D. Kristianto
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Merindukan Benay
Merindukan Benay
Selasa, 31 Oktober 2017
Merindukan Benay
Efesus 4:11-12

Setahun sudah ingatan akan Benay menguap dari ingatan jemaat. Namun pada Bulan Misi seperti saat ini, mendadak kenangan akan sosok pemuda pendek bertubuh tambun, berkulit hitam dan berkelakuan konyol itu kembali hadir. Tak terkecuali pada Sambey, sahabat karib Benay. Pemuda kurus sebatang kara yang kemudian lebih dikenal sebagai Tuan Joko Ndokondo, itu menitikkan air mata kerinduan di ruang interaksi gereja. “Benay, oh...Benay, aku merindukanmu!” rintih pilu Sambey. Setiap jemaat yang lewat memberikan penghiburan kepadanya seraya menyatakan bahwa mereka juga merindukan Benay.

Jemaat teringat bahwa setahun yang lalu, di bulan Misi seperti saat ini, Benay pernah melakukan kekonyolan dengan memberitakan Injil kepada kera-kera di Goa Kreo. Kekonyolan yang merupakan kritik terhadap rasa aman berlebihan dari orang-orang Kristen saat ini sehingga melupakan tugas memberitakan “kabar baik” kepada orang lain. Dan jika setahun lalu Benay memutuskan berangkat ke Iraq untuk bergabung dengan para sukarelawan misi, tidak lain karena komitmennya pada panggilan Tuhan untuk memberitakan Injil. Meski berisiko tinggi karena Iraq adalah daerah konflik, Benay pantang mundur. Kepergiannya ke Iraq bukan untuk membunuh orang yang berbeda keyakinan dengannya. Namun kepergiannya un...selengkapnya »
“…aku ki kurang sabar piye to jeng? Wes puluhan tahun dikecewak’ke, disakiti atiku….tak ampuni terus..,nek wong liyo mesti wes ora tahan ngadepi wong koyo de’en, tapi nek ngene terus, opo yo aku kudu sabar terus? Kudu ngampuni terus?, aku wes kesel… capek jeng, wes cukup kesabaranku, sabar kan yo ono bates’e to jeng…” Demikian curhatan seorang ibu kepada temannya dalam menghadapi suamianya. Mungkin kita pernah mengalami saat-saat seperti itu, jenuh dan capek ketika harus terus menerus bersabar dan mengampuni anggota keluarga ataupun teman yang tak henti-hentinya menguji kesabaran kita. Sebagai manusia yang tidak sempurna, naluri dan kedagingan kita tentu tidak selamanya terkontrol. Ada kalanya emosi kita terpancing untuk membalas setiap ketidak adilan yang kita terima. Ketika kita hanya memikirkan kedagingan, maka sudah pasti amarah, dendam dan membalas ketidak adilan menjadi hal yang wajar dilakukan, mengingat manusia tidak memiliki kekuatan untuk bisa bersabar dan mengampuni. Dan kata-kata “kesabaran ada batasnya, karena manusia lemah” menjadi permakluman bagi kita. Itulah standart kita, manusia yang penuh kelemahan. Tapi ternyata bukan itu yang diinginkan Tuhan dari umatNya. Dia ingin kita memiliki standart yang sama dengan Nya dalam hal mengampuni. Dalam Matius 18:21-22, Petrus mengajukan standart tujuh kali dalam mengampuni seseorang, tapi Tuhan Yesus menginginkan kita mengampuni seseorang tujuh puluh kali tujuh. Bukan hanya sampai disitu, bahkan Tuhan Yesus mengatakan bahwa Bapa di Sorga tidak akan mengampuni kita, apabila kita tidak mengampuni orang lain dengan segenap hati. Artinya selama manusia masih mempunyai hati, selama itu pula dia harus mengampuni sampai kedasar hati, sampai segenap hati. Artinya tidak ada celah untuk tidak mengampuni kepada siapapun. Wow…..berat sekali standart yang ditetapkan Tuhan buat kita, rasanya terlalu tinggi buat manusia yang sangat lemah ini. Tapi bagi Tuhan tidak ada hal yang mustahil. Roh kuduslah yang akan terus menerus mengingatkan kita untuk berusaha mencapai standart tinggi itu. Roh kudus yang akan selalu mengajar kita menghadapi ujian kesabaran yang serasa tak ada habisnya, sampai kita bisa memenuhi standart yang diberikan Tuhan bagi kita.
Saya bisa membayangkan kemarahan Naaman, ketika seorang suruhan Nabi Elisa menyampaikan pesan “pergilah mandi tujuh kali dalam sungai Yordan…” kepadanya. Sudah pasti Naaman marah luar biasa, dia merasa direndahkan dan diremehkan. Kalau saja tidak ditahan oleh pegawai-pegawainya, mungkin Nabi Elisa dan suruhannya sudah dihabisi. Wajar saja Naaman begitu marah, bagaimana tidak? Naaman seorang panglima perang yang terpandang [ay 1], berkedudukan tinggi, berprestasi dalam karirnya, dan sudah pasti secara social ekonomi dia diatas rata-rata. Tapi mengapa Tuhan ijinkan Naaman mengalami masalah berupa penyakit kusta, penyakit yang notabene banyak diderita oleh orang-orang dari kalangan bawah? Dan mengapa cara yang Tuhan pakai untuk menyembuhkanpun adalah cara yang tidak wajar? Bahkan terkesan aneh, mungkin memalukan dan tidak lazim? Tuhan bisa saja melenyapkan penyakit Naaman begitu saja, atau menyembuhkan dengan cara yang lebih baik, karena itu perkasa yang sangat mudah bagi Dia. Tetapi Dia Allah yang mengerti betul, apa yang seharusnya disembuhkan dari diri Naaman. Tuhan hanya memakai penyakit kusta sebagai alat untuk menyembuhkan “penyakit” Naaman yang sebenarnya. Keangkuhan dan kesombongan yang ada pada Naaman [ay. 12], itu yang ingin disembuhkan Tuhan. Untunglah Naaman mau memperbaiki diri, dia menyadari akan keangkuhan dan kesombongannya, dan belajar untuk merendahkan diri [ay.14]. Dan ketika Naaman membuka diri terhadap apa yang dikehendaki Tuhan, mujizatpun terjadi, dia sembuh dari penyakitnya. Seringkali masalah yang ada dalam kehidupan kita begitu lama tidak ada jalan keluarnya, tidak kunjung ada pertolongan dariNya. Ada baiknya kita meneliti, menyelidiki, adakah sikap kita sudah benar, adakah kita sudah taat pada perintahNya, apakah kita masih sering melanggar rambu-rambu yang sudah ditetapkan Nya, apakah sifat/kebiasaan kita tidak sesuai dengan Firman Nya?. Adakalanya Tuhan memakai masalah untuk tujuan memperbaiki sesuatu dari diri kita yang tidak benar menurut pandangan Nya. Yang menjadi focus bagi Tuhan bukan sekedar menolong masalah itu, tetapi hidup kita yang sejati, sikap hati kita yang benar terhadap Firman Nya dan lingkungan. Tuhan ingin kita memiliki hati dan hidup yang benar sesuai dengan FirmanNya. Karena itu Dia terlebih dahulu akan memperbaiki sikap, hati dan hidup kita menjadi seturut dengan kehendakNya. Seperti Naaman yang dengan kesadaran mau merendahkan diri dan mentaati perintah Nya, mari kita belajar membuka hati, membiarkan Tuhan bekerja memperbaiki titik lemah kita. Dan saat kelemahan kita sudah diperbaikiNya, maka masalah kitapun akan Dia selesaikan juga, dan mujizat bukan hanya dialami oleh Naaman, tapi kitapun akan mengalami juga.
Pada masa Musa memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir untuk masuk ke tanah yang dijanjikan Tuhan, bangsa Israel sebenarnya sudah mengalami begitu banyak penyertaan Tuhan sepanjang perjalanan mereka. Mulai dari tiang api dan tiang awan untuk menghangatkan disaat dingin dan memayungi mereka disaat panas: “TUHAN berjalan di depan mereka, pada siang hari dalam tiang awan untuk menuntun mereka di jalan, dan pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka, sehingga mereka dapat berjalan siang dan malam. Dengan tidak beralih tiang awan itu tetap ada pada siang hari dan tiang api pada waktu malam di depan bangsa itu.” [Keluaran 13:21-22], burung puyuh yang diberikan Tuhan karena mereka bersungut-sungut hanya makan roti terus menerus [Keluaran 16:13] dan lain-lain, sampai sebuah mukjizat besar ketika Tuhan membelah laut Teberau sehingga mereka bisa berjalan melewati laut itu sementara Firaun dan tentaranya habis tersapu laut yang kembali menutup di saat mereka melintasinya. [Keluaran 14]. Ini baru beberapa dari bukti nyata penyertaan Tuhan yang mereka saksikan langsung dengan mata kepala sendiri. Apakah bangsa Israel ini menjadi teguh imannya dan bisa percaya penuh kepada Tuhan? Sayangnya tidak. Dasar bangsa yang keras kepala dan tidak tahu terima kasih, mereka terus berulang-ulang menunjukkan sikap buruk mereka, baik lewat keluh kesah bahkan menyembah ilah lain hingga beberapa generasi selanjutnya. Kembali kepada perjalanan mereka menuju Kanaan, Musa sudah mengingatkan mereka bahwa mereka seharusnya sadar bahwa mata mereka sendiri sebetulnya sudah menyaksikan segala perbuatan besar Tuhan [Ulangan 11:2-6]. Dan sebuah ketegasan pun dikatakan oleh Musa: “Sebab matamu sendirilah yang telah melihat segala perbuatan besar yang dilakukan TUHAN.” [Ulangan 11:7]. Tetapi bangsa Israel tetap tegar tengkuk, tidak menyadari penyertaan Allah, bahkan memerontak kepada Allah. Tidakkah ini pun menjadi teguran buat kita? Kita seringkali hanya sibuk terfokus memandang masalah sehingga lupa bagaimana Tuhan telah menyertai kita selama ini. Berbagai bukti nyata penyertaan Tuhan yang pernah kita alami kita kesampingkan, lalu kita hanya sibuk mengeluh menghadapi berbagai kesulitan hidup. Oleh sebab itu lihatlah janji Tuhan yang indah ini: “suatu negeri yang dipelihara oleh TUHAN, Allahmu: mata TUHAN, Allahmu, tetap mengawasinya dari awal sampai akhir tahun.” [Ulangan 11:12]. Janji yang sama Tuhan berikan kepada kita dalam memasuki tahun 2018 ini. Kita belum melihatnya, tapi sesungguhnya apa yang disediakan Tuhan akan dinyatakan kepada kita. Tuhan menghendaki kita untuk taat melakukan setiap kehendak-Nya. Maka Janji-Nya akan di nyatakan kepada kita, Jika kita mendahulukan kerajaan Allah dan kebenaranNya maka semua akan ditambahkan kepada kita [ Matius 6:33].
Bill Gates adalah seorang yang sukses dalam bidang IT dengan produk software Microsoft yang telah mendunia. Suatu saat dia dan isterinya diwawancarai oleh majalah Time, salah satu pertanyaannya “Mengapa anda memutuskan untuk member begitu banyak dari keuntungan bisnis anda kepada kepentingan dunia?” Jawabnya “Sangat jelas bagi kami bahwa kami tidak pernah berpikir untuk memberikan keuntungan ini bagi anak-anak kami sendiri. Ketika kami mulai melihat adanya ketidakadilan yang besar di dunia ini, kami yakin dapat membantu kehidupan manusia melalui peningkatan kesehatan. [ Majalah Time 7 November 2005 ]. Bill Gates telah menabur kebaikan dalam hidupnya. Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena prinsip yang Tuhan ajarkan adalah bertolong-tolonganlah untuk saling menanggung beban. Karena dengan demikian maka kita akan memenuhi hokum Kristus. Jangan pakai waktu kita untuk menabur dalam daging dengan melakukan perbuatan-perbuatan tercela dan bertentangan dengan Firman Tuhan yang akan menuai kebinasaan. Mereka yang menabur dalam Roh dengan melakukan perbuatan terpuji dan menabur kebaikan akan menuai hidup yang kekal. Janganlah kita mempermainkan waktu singkat yang kita miliki karena apa yang kita tabur akan kita tuai. Marilah kita menguji diri kita sendiri apakah kita sudah termasuk golongan orang yang menabur kebaikan. Kita tidak harus seperti Bill Gates, kita bias berbuat sesuatu di tengah keterbatasan kita untuk kebaikan banyak orang, walaupun yang kita lakukan hanya sesuatu yang sederhana, karena kebaikan tidak hanya berbentuk materi. Banyak orang sekitar kita membutuhkan perhatian dan bantuan kita, apakah kita sudah meresponinya? Ingatlah dengan menabur kebaikan akan berdampak membawa jiwa-jiwa kepada keselamatan dalam Kristus Yesus.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Mengenal Tuhan, Menanggalkan Kesombongan
16 Februari '18
Waspada Terhadap Pengaruh Gairah Zaman
19 Januari '18
Gereja : Komunitas Keselamatan
04 Februari '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang