SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 27 Mei 2018   -HARI INI-
  Sabtu, 26 Mei 2018
  Jumat, 25 Mei 2018
  Kamis, 24 Mei 2018
  Rabu, 23 Mei 2018
  Selasa, 22 Mei 2018
  Senin, 21 Mei 2018
POKOK RENUNGAN
Sudahkah kita bergabung dan bertekun dalam Komcil untuk kita bertumbuh menjadi murid Kristus?
DITULIS OLEH
Pdt. Denny D. Kristianto
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Merindukan Benay
Merindukan Benay
Selasa, 31 Oktober 2017
Merindukan Benay
Efesus 4:11-12

Setahun sudah ingatan akan Benay menguap dari ingatan jemaat. Namun pada Bulan Misi seperti saat ini, mendadak kenangan akan sosok pemuda pendek bertubuh tambun, berkulit hitam dan berkelakuan konyol itu kembali hadir. Tak terkecuali pada Sambey, sahabat karib Benay. Pemuda kurus sebatang kara yang kemudian lebih dikenal sebagai Tuan Joko Ndokondo, itu menitikkan air mata kerinduan di ruang interaksi gereja. “Benay, oh...Benay, aku merindukanmu!” rintih pilu Sambey. Setiap jemaat yang lewat memberikan penghiburan kepadanya seraya menyatakan bahwa mereka juga merindukan Benay.

Jemaat teringat bahwa setahun yang lalu, di bulan Misi seperti saat ini, Benay pernah melakukan kekonyolan dengan memberitakan Injil kepada kera-kera di Goa Kreo. Kekonyolan yang merupakan kritik terhadap rasa aman berlebihan dari orang-orang Kristen saat ini sehingga melupakan tugas memberitakan “kabar baik” kepada orang lain. Dan jika setahun lalu Benay memutuskan berangkat ke Iraq untuk bergabung dengan para sukarelawan misi, tidak lain karena komitmennya pada panggilan Tuhan untuk memberitakan Injil. Meski berisiko tinggi karena Iraq adalah daerah konflik, Benay pantang mundur. Kepergiannya ke Iraq bukan untuk membunuh orang yang berbeda keyakinan dengannya. Namun kepergiannya un...selengkapnya »
Di dalam kehidupan bergereja, acap kali persembahan umat Kristiani kepada Tuhan diwujudkan dalam bentuk pelayanan. Dan pelayanan di gereja pada umumnya, langsung maupun tak langsung, saling terkait satu sama lain. Satu seksi pelayanan saja bisa beranggotakan banyak orang; yang berarti banyak ide, banyak usul, banyak potensi kreasi yang terkumpul di sana. Belum lagi kaitannya dengan bidang-bidang pelayanan yang lain. Kondisi ini membuat gesekan antar anggota tidak terelakkan. Para pelayan Tuhan sering menganggap bahwa ’hasil akhir’ dari sebuah pelayanan adalah yang mendasari penilaian Tuhan sehingga masing-masing pribadi berusaha keras untuk memperjuangkan apa yang menurutnya paling ideal. Bahkan tak jarang ’perjuangan’nya itu sampai mencederai perasaan rekan-rekan sepelayanan. Sesungguhnya, apakah seperti itu persembahan pelayanan yang diperkenan oleh Tuhan? Bacaan Firman Tuhan pada hari ini mengingatkan umat Kristiani bahwa Tuhan sangat mementingkan kebersihan hati, kerukunan dan perdamaian di antara umat-Nya. Kristus sendiri yang memerintahkan umat-Nya untuk membereskan masalah yang ada, sebelum mempersembahkan sesuatu kepada-Nya [Mat 5:23-24]. Tuhan tidak hanya memandang persembahan yang dihaturkan di hadapan-Nya, namun Ia juga melihat kondisi hati si pemberi persembahan. Apakah dia datang dengan hati yang bersih? Apakah dia masih terlibat dalam perselisihan dengan orang lain? Apalagi dengan sesama rekan sepelayanan. Ironis sekali jika kita menganggap persembahan pelayanan kita berhasil bagus, padahal di balik itu ada hati dan perasaan-perasaan yang tersakiti karena idealisme pribadi kita. Marilah menjadi pribadi-pribadi pelayan Tuhan yang lebih dewasa. Mari menghaturkan persembahan kepada Tuhan melalui proses yang saling menghargai. Biarlah dunia melihat kerjasama dan perilaku kita yang baik sehingga mereka memuliakan Bapa di Surga.
Curahan Roh Kudus dalam diri Petrus, tidak hanya membangkitkan keberanian untuk menyampaikan Firman Tuhan saja, tapi juga melembutkan hati Petrus. Terbukti ketika Petrus melihat seorang peminta-minta yang lumpuh, hatinya tergerak oleh belas kasihan. Keinginan nya untuk memberi sesuatu kepada peminta-minta itu begitu kuat, meskipun dia tidak memiliki sesuatu yang berharga untuk diberikan kepada peminta-minta itu. Tapi itu tidak menyurutkan Petrus untuk tetap “memberi”, karena Petrus tahu bahwa dia memiliki sesuatu yang lebih besar dari sekedar emas dan perak, yaitu Yesus. Dan nyata, kuasa Yesus mampu memenuhi kebutuhan peminta-minta yang lumpuh itu, sehingga dia bisa sembuh dari kelumpuhannya, bisa berjalan, dan sudah tentu, itulah pemberian terbesar yang diterima oleh peminta-minta itu. Dalam kehidupan kita sehari-hari, seringkali kita juga mengalami situasi seperti itu, berjumpa dengan teman, kerabat, atau kenalan kita yang membutuhkan sesuatu. Dan seringkali pula kita berfikir, apa yang bisa saya berikan buat mereka? Mungkin kita tidak memiliki cukup harta untuk bisa membantu orang lain, tapi janganlah itu membuat kita urung untuk memberi. Seperti Petrus mengatakan “… apa yang kupunyai,kuberikan kepadamu : Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu……”. Kitapun bisa memberikan kasih Yesus Kristus kepada yang membutuhkan. Mungkin tindakan kita tidak bisa membuat orang lumpuh menjadi sembuh dari kelumpuhannya, tapi ada banyak hal yang bisa Tuhan kerjakan bagi orang-orang yang kita bawa kepada Nya. Apa yang kita miliki? Belas kasih, perhatian, telinga untuk mendengar, hati yang terbeban untuk berdoa, tenaga untuk membantu, pikiran untuk mengeluarkan ide-ide, kata-kata untuk menghibur dan menguatkan. Banyak sekali yang kita miliki, ketika Kasih Yesus dan kuasa Roh Kudus itu memenuhi hati kita, dan itulah yang dibutuhkan oleh mereka yang sakit, yang sedang dirundung duka, yang tengah terpuruk, yang dalam masalah berat. Jangan tahan, berikan apa yang bisa kita berikan kepada mereka yang membutuhkan. Tuhan Yesus yang akan bekerja lebih jauh dan memberi hasil buat apa yang kita berikan bagi orang lain. Dan pada akhirnya nama Tuhan Yesus yang akan dipermuliakan melalui perbuatan kita.
Suatu hari Michaelangelo, pemahat terkenal dari Italia menerima batu pualam besar dari beberapa orang laki-laki, padahal ia tidak pernah memesannya. Pengangkut-pengangkut batu itu mengatakan bahwa mereka telah membawa batu pualam itu ke rumah pemahat yang bernama Donatelo. Donatelo menolak batu itu, karena melihat banyak keretakan pada batu pualam itu. Ketika Michaelangelo memeriksa batu itu, ia membenarkan pendapat Donatelo, tetapi Michaelangelo melihat batu itu dengan sudut pandang yang lain. Michaelangelo melihat batu itu sebagai tantangan untuk menghasilkan karya seni yang bernilai tinggi. Dari ke hari Michaelangelo berpikir mencari ide, akan diapakan batu pualam yang retak-retak itu. Setelah beberapa waktu lamanya, akhirnya ia menemukan ide yang bagus dan mulai memahat batu pualam itu. Dari batu pualam yang retak-retak itu akhirnya Michaelangelo menciptakan karya seni yang indah dan menarik. Karya seni itu adalah sebuah patung yang besar, yakni patung raja Daud. Manusia sering melihat bahwa kecacatan adalah suatu halangan yang besar untuk dapat berkarya. Ada seorang pemudi tunarungu yang menjadi berkat bagi banyak orang. Kecacatan tidak menjadi penghalang yang besar baginya untuk melakukan hal-hal yang berguna, seperti layaknya orang normal. Orang tuanya memberikan kesempatan untuk kursus menjahit dan kemudian ia bekerja di sebuah garmen. Di garmen itu ia menjadi penjahit gaun pengantin, yang ongkos jahitnya bisa mencapai jutaan rupiah. Orang tuanya juga memberikan kesempatan untuk kursus mengetik dan komputer, sehingga ia dipakai sebagai pengetik buletin di tempat pelayanannya. Yang paling mengagumkan adalah keluwesannya dalam bergaul. Jika ia berkenalan dengan sesama tuna rungu, maka dalam waktu yang relatif singkat ia akan menjadikan mereka sebagai teman. Di antara teman-temannya itu ada beberapa orang yang berbeda agama, tetapi ia memperlakukan mereka dengan baik. Setiap temannya akan diajak ke rumah, kemudian diajarkannya firman Tuhan dan akhirnya diajak ke komsel tunarungu. Banyak anak tunarungu yang telah dibawanya kepada Yesus. Sebagai orang yang sehat, apakah kita dapat menganggap orang yang baru dikenal sebagai teman dan kemudian terbeban membawanya kepada Yesus? Jika Tuhan memakai seorang pemudi tunarungu sebagai alat untuk menjangkau sesamanya, mengapa kita tidak? Yang menjadi pokok permasalahan adalah: Kita tidak pernah serius untuk menggali dan mengembangkan talenta yang Tuhan percayakan. Ingatlah, Tuhan sudah memperlengkapi kita dengan talenta dan suatu saat Ia akan meminta laporan pertanggunganja-wab kita.
Ada seorang yang hidupnya berputus asa karena bekerja cukup lama namun tidak menghasilkan keuntungan dalam hidupnya. Akhirnya dia berkonsultasi dengan seorang yang sukses berjualan nasi kucing. Setelah itu dia meminjam modal dan mulai usaha berjualan nasi kucing sebagaimana dia belajar dari penjual nasi kucing. Akhirnya dia berhasil dan kehidupannya berubah sama sekali. Tiap hari ada rasa sukacita meskipun capek kerjanya tiap sore sampai malam hari kecuali minggu dia libur. Namun kerja keras dan kemauan untuk berubah dari kehidupannya merupakan motivasi yang penting untuk keberhasilannya saat ini. Peristiwa ini mengingatkan cerita Rasul Petrus dan para murid yang mengalami putus asa. Kisah Para Rasul 3 mencatat tentang perubahan hidup yang dialami para murid Tuhan Yesus setelah mereka mengalami lawatan Allah melalui Roh Kudus. Petrus salah satu murid Tuhan Yesus yang kisah hidupnya dicatat dalam Kisah Para Rasul 3. Apa yang dapat kita pelajari dari kehidupan Rasul Petrus berkaitan dengan lawatan kuasa Allah yang dialaminya. Pertama, Petrus itu penakut dan penyangkal Tuhan Yesus [Yoh 18:12-27]. Ketika Tuhan Yesus di tangkap dan diadili, Petrus mengalami ketakutan dan menyangkal ketika ditanya oleh seseorang bahwa dirinya merupakan orang yang dekat dan kenal dengan Tuhan Yesus. Kedua, Kepercayaan Petrus dipulihkan oleh Tuhan Yesus [Yoh 21:1-19]. Ketika Tuhan Yesus bangkit dari kematian, di danau Tiberias Tuhan Yesus memulihkan kepercayaan diri Petrus terhadap Dia. Dan Tuhan Yesus kembali memanggil Petrus untuk melayani sebagai saksi-Nya dan gembala jemaat. Ketiga, Petrus berani bersaksi tentang Tuhan Yesus [KPR 3:11-26]. Petrus berani bersaksi dan membela diri, bahwa mujizat yang dilakukannya terhadap orang lumpuh di pintu gerbang Bait Allah karena Tuhan Yesus yang pernah mereka salibkan di Golgota namun bangkit pada hari ketiga dari kematian. Keberanian Petrus bersaksi tentang Tuhan Yesus merupakan pekerjaan Roh Kudus yang telah berdiam di dalam hidupnya. Hidup Petrus sekarang diubahkan dari seorang penakut untuk bersaksi menjadi seorang pemberani dalam bersaksi tentang Kristus. Hanya Roh Kuduslah yang sanggup mengubah kehidupan Petrus sedemikian rupa berbeda dari yang sebelumnya. Demikian pula dengan kehidupan kita di zaman ini sebagai murid dan saksi Tuhan Yesus di dunia. Bila Roh Kudus memenuhi hidup kita dan melawat hidup kita maka, kita akan seperti Petrus menjadi orang yang berani bersaksi tentang Kristus dan bisa melakukan mujizat melalui doa kita kepada orang sakit.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Jangan Salah Menilai
15 Mei '18
Ketul
10 Mei '18
Menggali Talenta
12 Mei '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang