SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 12 Desember 2017   -HARI INI-
  Senin, 11 Desember 2017
  Minggu, 10 Desember 2017
  Sabtu, 09 Desember 2017
  Jumat, 08 Desember 2017
  Kamis, 07 Desember 2017
  Rabu, 06 Desember 2017
POKOK RENUNGAN
Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan yang ajaib di antara segala suku bangsa. Sebab TUHAN maha besar dan terpuji sangat, Ia lebih dahsyat dari pada segala allah.
DITULIS OLEH
Pdt. Goenawan Susanto
Gembala Jemaat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Pakailah Medsos Untuk Memasyurkan Nama Tuhan
Pakailah Medsos Untuk Memasyurkan Nama Tuhan
Minggu, 29 Oktober 2017
Pakailah Medsos Untuk Memasyurkan Nama Tuhan
Mazmur 96:3-4
Pakailah Medsos untuk memasyhurkan nama Tuhan

Mazmur 96:3-4
Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan yang ajaib di antara segala suku bangsa. Sebab TUHAN maha besar dan terpuji sangat, Ia lebih dahsyat dari pada segala allah.

Banyak diantara kita yang saya yakin adalah pemakai media sosial [medsos], entah itu Facebook, Twitter, Instagram, atau yang lainnya. Ada banyak manfaat yang bisa kita dapatkan dengan menggunakan media sosial, antara lain:
- mendapatkan informasi, berita dan pengetahuan
- menambah teman dan komunitas tanpa batas
- mendapatkan hiburan: film, lagu-lagu, gambar-gambar, dll.
- sarana promosi bisnis
- sarana mengekspresikan diri
- sarana berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan orang lain
Di samping itu masih ada banyak manfaat lain yang bisa kita dapatkan dari menggunakan media sosial.
Tapi berapa banyak dari kita yang memanfaatkan media sosial untuk memuliakan Tuhan?
Ingatkah kita bahwa kita adalah garam da...selengkapnya »
Beberapa ekor lalat nampak terbang berpesta di atas tong sampah di depan sebuah rumah. Melihat pintu terbuka, seekor lalat bergegas terbang memasuki rumah itu. Si lalat langsung menuju sebuah meja yang penuh dengan makanan lezat. “Saya bosan dengan sampah-sampah itu, ini saatnya menikmati makanan segar,” katanya. Setelah kenyang, si lalat bergegas keluar menuju pintu masuk. Namun ternyata pintu kaca itu telah tertutup rapat. Si lalat hinggap sesaat di pintu memandangi kawan-kawannya yang melambai-lambaikan tangan seolah meminta agar dia bergabung kembali dengan mereka.Si lalat pun terbang di sekitar kaca, sesekali melompat dan menerjang kaca itu. Dengan tak kenal menyerah dia mencoba keluar dari pintu kaca. Lalat itu merayap mengelilingi kaca dari atas ke bawah dan dari kiri ke kanan bolak-balik, demikian terus dan terus berulang-ulang. Hari makin petang, si lalat itu nampak kelelahan dan kelaparan. Esok paginya nampak lalat itu terkulai lemas terkapar di lantai. Tak jauh darinya, tampak serombongan semut merah berjalan beriringan keluar dari sarang untuk mencari makan. Dan ketika menjumpai lalat yang tak berdaya itu, serentak mereka mengerumuni dan beramai-ramai menggigit tubuhnya hingga mati. mereka pun beramai-ramai mengangkut bangkai lalat yang malang itu ke sarang. Dalam perjalanan, seekor semut kecil bertanya kepada rekannya yang lebih tua, “Ada apa dengan lalat ini, Pak? Mengapa dia sekarat?” “Oh.., itu sering terjadi, ada saja lalat yang mati sia-sia seperti ini. Sebenarnya mereka ini telah berusaha. Dia telah berusaha keras keluar dari pintu kaca itu. Namun ketika tak juga menemukan jalan keluar, dia frustasi dan kelelahan hingga akhirnya jatuh sekarat dan menjadi menu makan malam kita.” Semut kecil itu manggut-manggut, namun masih penasaran dan bertanya lagi, “Aku masih tidak mengerti, bukannya lalat itu sudah berusaha keras? Kenapa tidak berhasil?” Masih sambil berjalan dan memanggul bangkai lalat, semut tua itu menjawab, “Lalat itu adalah seorang yang tak kenal menyerah dan telah mencoba berulang kali, hanya saja dia melakukannya dengan cara-cara yang sama.” Semut tua itu memerintahkan rekan-rekannya berhenti sejenak seraya melanjutkan perkataannya, namun kali ini dengan mimik dan nada lebih serius, “Ingat anak muda, jika kamu melakukan sesuatu dengan cara yang sama, tetapi mengharapkan hasil yang berbeda, maka nasib kalian akan seperti lalat ini.” Seringkali kehidupan kita sebagai orang percaya ingin mencapai pertumbuhan menjadi serupa dengan Kristus. Kita ingin sekali keluar dari kebiasaan rutin kita dan terkadang bosan dengan kehidupan kekristenan kita saat ini, sehingga kita mengupayakan segala sesuatunya dengan cara kita sendiri. Tapi sayang ujung-ujungnya adalah hal yang sama dan membosankan. Dampak inilah yang mengakibatkan kita mulai mundur teratur dengan meninggalkan persekutuan dan ibadah. Dan itu banyak kita jumpai. Namun Yesus mengajarkan kita untuk melekat kepada-Nya. Hanya itu “ tinggal di dalam” Dia. Tujuannya adalah kita banyak belajar dan mengikuti apa yang menjadi maksud-Nya, bukan maksud kita. Dan hanya itu yang membuat kita dinamis dan menghasilkan.
Sebuah lilin kecil sangat berguna ketika listrik padam. Sebuah senter sangat membantu untuk menerangi jalan yang akan dilalui. Kedua benda ini sangat diperlukan oleh manusia ketika malam hari mengalami pemadaman lampu dan masalah-masalah yang berkaitan dengan listrik. Keberadaan benda tersebut membantu untuk menerangi ruangan sehingga manusia masih bisa melakukan aktivitas. Jikalau dalam kondisi pemadaman listrik dan tidak dijumpai benda-benda tersebut, maka segala aktivitas akan terganggu. Mungkin saja benda tersebut dianggap remeh dan juga tidak terlalu penting, namun justru benda-benda tersebut menjadi penyelamat ketika tiba-tiba terjadi hal-hal yang tidak diinginkan berkenaan dengan listrik. Dalam sebuah perumpaan tentang pelita dikatakan bahwa orang yang membawa pelita tidak akan menaruh di bawah tempat tidur maupun tempat yang tersembunyi. Melainkan akan meletakkannya di atas kaki dian supaya terang terpancar ke semua ruangan. Sehingga pelita yang menyala tersebut akan memberikan pengaruh yang besar pada ruangan yang terkena sinarnya. Pelita menyingkapkan semua yang tersembunyi. Jika gelap datang, maka pelita akan menyala dan memberikan penerangan. Jikalau tidak ada pelita yang menyala, maka segala sesuatu yang tersembunyi tidak kelihatan. Maka pelita harus tetap bercahaya agar sesuatu yang tersembunyi dapat dinyatakan. Agar pelita tetap menyala dibutuhkan persediaan minyak untuk mengisi ulang supaya pelitanya tidak padam. Hidup yang berdampak positif menjadi sebuah keinginan dan kerinduan bagi setiap orang. Terkhusus bagi orang kristiani yang juga menjadi bagian dari kehidupan untuk berbuah pada sesama. Perintah untuk berbuah tertulis dalam Alkitab dan diwajibkan untuk benar-benar terwujud dalam kehidupan. Karena dengan buah tersebut kehidupan akan berdampak pada yang lain. Keberdampakan hidup kita dapat dilihat dan dinikmati dari buah yang dikeluarkan melalui perkataan dan tindakan. Salah satunya adalah tetap memancarkan terang kasih Tuhan untuk menerangi kehidupan yang ada di sekeliling kita. Maka di dalam Tuhan, kita sudah seharusnya memberikan dampak positif bagi sesama.
Pada Olimpiade 2012 di London, ada pemandangan yang tak biasa di lintasan lari. Seorang pelari bernama Oscar Pistorius menarik perhatian penonton karena tidak memiliki kaki dan berlari menggunakan dua buah kaki palsu yang terbuat dari serat karbon. Walau tidak mendapat medali, dia mencatat waktu tercepat ke 13 dari 49 peserta. Ketika di Paralimpiade 2012 di London, dia mendapat medali emas di lari estafet 4 x 100 meter. Dia lahir tanpa tulang fibula [betis], sehingga pada usia 11 tahun kedua kakinya diamputasi sampai lutut. Di tengah kekurangan secara fisik dan kesulitan yang dihadapi, dia tekun untuk berlatih lari dengan kaki palsunya. Dia tekun dan disiplin dalam berlatih sesuai aturan-aturan yang diharuskan bagi pelari. Karena ketekunannya, dia berhasil menjadi juara pada usia 25 tahun. Setiap orang percaya harus meninggalkan beban dosa dan dengan tekun berlomba dalam kehidupan yang diwajibkan. Walaupun banyak rintangan dan kesulitan tetap harus dilakukan dengan mata yang tertuju kepada Kristus yang membawa iman kita kepada kesempurnaan. Dia yang mengabaikan kehinaan, tekun memikul salib sebagai ganti sukacita yang disediakan bagi-Nya. Sekarang Dia duduk di sebelah kanan tahta Allah. Jangan kita menjadi lemah dan putus asa karena dalam pergumulan kita melawan dosa belum sampai mencucurkan darah. Sebagai manusia, masing-masing kita mempunyai kekurangan, tetapi tetaplah tekun dalam melatih diri untuk menang dalam perlombaaan hidup. Dalam menghadapi tantangan dibutuhkan ketekunan untuk mengalami Tuhan setiap hari melalui perenungan Firman-Nya. Di tengah kesulitan dan himpitan, tetaplah mata rohani kita tertuju kepada Kristus yang akan menyempurnakan iman kita. Jangan kita putus asa dan kehilangan iman di tengah penderitaan, ingatlah bahwa penderitaan kita belum sebanding dengan penderitaan-Nya.
Pengelola bukan pemilik Kejadian 2:15 TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. Tuhan membuat Taman Eden lalu menempatkan manusia di dalam taman itu. Posisi manusia di taman itu tentu bukan sebagai pemilik tapi sebagai pengelola. Andaikan manusia tidak sadar dengan posisinya itu, dia bisa saja berbuat semaunya dengan taman itu. Tapi manusia selalu diingatkan bahwa di taman itu kedudukannya adalah sebagai pengelola, bukan pemilik. Karena itu Tuhan memberikan batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar oleh manusia. Kecenderungan kita sebagai manusia adalah mau menjadi penguasa atas segala yang Tuhan percayakan kepada kita. Dan karena merasa sebagai penguasa manusia berbuat semaunya dengan kekayaan yang dipercayakan oleh Tuhan, misalnya dengan cara: memboroskan harta untuk kenikmatan dirinya sendiri, tidak mau merawat atau bahkan membiarkan kerusakan lingkungan sekitarnya. Kalau kita dipinjami sebuah barang oleh orang lain, maka kita punya tanggung jawab untuk merawat barang itu dengan baik. Kita harus menjaganya agar barang itu jangan sampai rusak. Semua harta atau kekayaan yang kita punya asalnya dari Tuhan. Baik itu kekayaan yang berujud materi, kesehatan, kepandaian, keahlian, maupun yang lainnya, kita dapatkan dari Tuhan, meskipun itu melalui orang lain. Kita mendapatkan warisan dari orang tua kita, kepandaian dari guru atau orang yang mengajari kita, pekerjaan dari relasi kita. Semua itu Tuhan berikan kepada kita untuk kita kelola, dan kita pakai baik untuk kesejahteraan diri kita maupun untuk orang lain. Firman di atas mengatakan bahwa manusia diberi tanggung jawab untuk mengusahakan dan memelihara taman Eden itu. Mengusahakan artinya mengembangkan, seperti hamba yang menerima talenta, lalu menjalankan talenta itu, dari 5 menjadi 10, dari 2 menjadi 4 [Matius 25:14-16]. Sedangkan Memelihara artinya merawat agar taman itu tetap terjaga dengan baik, tidak rusak dan keindahannya tetap terjaga. Alangkah indahnya hidup ini jika kita menyadari dan melaksanakan tanggung jawab kita sebagai pengelola dari kekayaan yang Tuhan percayakan kepada kita. Pdt. Goenawan Susanto
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Tekun1
17 November '17
Apakah Dia Benay?
27 November '17
Pengelola Bukan Pemilik
12 November '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang