SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 20 April 2018   -HARI INI-
  Kamis, 19 April 2018
  Rabu, 18 April 2018
  Selasa, 17 April 2018
  Senin, 16 April 2018
  Minggu, 15 April 2018
  Sabtu, 14 April 2018
POKOK RENUNGAN
Beginilah firman TUHAN: ’Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN. [Yeremia 17:5]
DITULIS OLEH
Pdt. Victor Y. Nugraha
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Palu Hebat Itu Pun Hancur
Palu Hebat Itu Pun Hancur
Senin, 06 November 2017
Palu Hebat Itu Pun Hancur
Yeremia 17:1-18
Anda para pecinta komik dan film buatan Marvel? Pasti Anda tahu sosok Thor, sang dewa Petir. Thor identik dengan kekuatan petirnya dan senjata palu yang maha dahsyat. Palu milik sang dewa petir, Thor, merupakan senjata yang luar biasa dan paling ditakuti oleh lawan-lawannya. Bahkan oleh para super hero rekan Thor lainnya yang tergabung dalam group Avengers, palu Thor adalah benda yang unik dan istimewa. Hal ini dikarenakan, kecuali sosok super hero The Vision, tidak ada super hero Avengers lain yang dapat mengangkat palu Thor. Thor sangat membanggakan palu yang luar biasa ini, sebab dia yakin tidak ada sosok manapun yang dapat menghancurkan dan mengalahkan palu tersebut. Namun sebuah peristiwa mengejutkan pun terjadi pada saat dalam pertempuran melawan Hela, sang dewa kematian, yang juga merupakan kakak dari Thor. Di dalam pertempuran tersebut, palu Thor yang maha dahsyat tersebut, hancur berkeping-keping. Palu yang ditakuti dan dibanggakan tersebut ternyata dengan mudahnya hancur. Thor pun sangat terkejut sekaligus gemetar melihat kejadian ini. Hal yang paling diandalkan sekaligus dibanggakan hancur dan sekarang tidak ada lagi yang dapat dibanggakan dari kekuatan palu, sang dewa petir.

Bangsa Israel melakukan dosa besar di hadapan Tuhan dengan melakukan ritual penye...selengkapnya »
“ Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu” Seandainya Tuhan menyampaikan kalimat itu kepada kita, kira-kira apa yang akan kita minta ya.? Tentu kita akan minta kesehatan dan umur panjang, atau berkat yang melimpah, keluarga yang diberkati dan rukun, suami/istri dan anak-anak yang cinta Tuhan, financial yang cukup, hutang-hutang lunas semua, bisnis yang lancar jaya dan masih banyak lagi daftar yang akan kita sodorkan. Itu logis dan manusiawi, karena kita memang memerlukan semua itu dalam kehidupan kita. Tapi coba kita lihat apa jawab Salomo, ketika kalimat itu disampaikan Tuhan kepadanya dalam kitab 1 Raja 3:5. “Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara….” [1 Raja 3:9]. Ternyata bukan umur panjang dan kekayaan yang diminta oleh Salomo, tetapi hikmat dalam menimbang perkara. Salomo tidak meminta sesuatu yang hanya berfokus kepada kehidupan pribadinya saja [ kesehatan, umur panjang, berkat, kekayaan dll ] tetapi lebih memilih permintaan yang berkwalitas, yaitu permintaan yang menambah value atau nilai dalam kepribadian nya. Hikmat, kesabaran, pengendalian diri, kerendahan hati, hati yang dipenuhi Kasih, kemurahan, adalah beberapa contoh permintaan yang berkualitas, karena bukan saja pribadi kita yang akan merasakan, tapi orang-orang disekitar kitapun akan menerima dampaknya, ketika itu semua diberikan Tuhan kepada kita. Ketika Salomo meminta hikmat kepadaNya, Tuhan memberikan banyak masalah/persoalan dalam kehidupan Salomo supaya Salomo bisa mempraktek kan apa yang sudah dimintanya. Begitupun bagi kita, saat kita minta kesabaran/kerendahan hati/hati yang dipenuhi Kasih, Tuhan akan menghadapkan kita dengan berbagai masalah/persoalan, dengan maksud supaya kitapun bisa mempraktekkan apa yang sudah kita minta. Tuhan tidak hanya memberikan sebatas yang diminta Salomo, yaitu hikmat untuk menimbang perkara, tapi Dia menambahkan apa yang tidak diminta Salomo. ”... dan juga apa yang tidak kau minta Aku berikan kepadamu, baik kekayaan maupun kemuliaan sepanjang umurmu…” [1 Raja 3:13]. Karena itu tidak perlu kawatir dengan apa yang kita butuhkan, karena Dia akan menambahkan apa yang tidak kita minta, ketika kita belajar untuk mengajukan permintaan yang lebih berkualitas kepada Nya.
Sahabat adalah seorang yang menemani dikala orang lain meninggalkan kita seorang diri. Tidak hanya hadir pada waktu sukacita melainkan juga pada waktu susah dan terpuruk. Didasari oleh kasih yang tulus ia akan berada disisi kita dalam segala keadaan dan mau menerima apapun keberadaan kita. Akan selalu siap untuk ditegur dan dikoreksi demi kebaikan bersama. Akan menjaga rahasia dan tidak akan melanggar untuk kepentingan sendiri. Komitmen untuk melakukan apa yang menjadi kesepakatan bersama apapun yang terjadi. Kasih seorang sahabat tidak lekang oleh waktu. Itulah pernyataan Walter Winchell seorang komentator radio di Amerika tentang sahabat. Yesus adalah sahabat yang sejati yang dengan kasih rela memberikannyawa-Nya untuk sahabat-sahabat-Nya. Tiada kasih yang lebih besar dari pada kasih Yesus. Yang disebut sebagai sahabat-Nya ialah mereka yang melakukan perintah-Nya. Kendati taat melakukan perintah tidak disebut sebagai hamba tetapi sahabat karena diberitahukan segala sesuatu yang dari Bapa. Dia sendiri yang memilih siapa yang menjadi sahabat-Nya dan yang terpilih harus menghasilkan buah. Semua sahabat-Nya harus mengasihi sesama seperti kasih-Nya pada manusia. Kita bersyukur telah dipilih menjadi sahabat-Nya dan seyogyanya kita berperilaku sebagai sahabat yang sejati kepada-Nya. Kita berkomitmen untuk taat pada perintah-Nya dan tidak ada sedikitpun keinginan untuk melanggarnya. Kita rela untuk menerima teguran atau koreksi bila suatu saat kita khilaf meskipun setiap teguran akan mendatangkan ketidak nyamanan. Ketika harus melewati masa sukar atau penderitaan kita akan tetap setia kepada-Nya dan tidak berpaling kepada yang lain. Kasih kita kepada-Nya tidak lekang oleh waktu dan senantiasa akan kita ceritakan kepada semua orang betapa besar kasih karunia Sahabat sejati kita.
Mengapa Tuhan Yesus tidak langsung naik ke Surga ? Mengapa harus menunggu di bumi selama 40 hari ? Salah satu alasannya adalah membuktikan bahwa Tuhan Yesus benar-benar bangkit dan hidup [Kis 1:3]. Berulangkali Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya. Sehingga mereka benar-benar percaya sepenuh hati dan tidak meragukan kebangkitan-Nya. Soren Kierkegaard membagi prilaku manusia ke dalam 3 tingkatan. Pertama, Aesthetic yaitu orang yang melakukan sesuatu hal berdasarkan apa yang dia suka. Tingkat ini bicara soal perasaan nyaman. Kedua, rasional yaitu menilai sesuatu berdasarkan masuk akal atau tidak, benar atau salah. Sesuatu akan dilakukan kalau masuk akal dan benar. Ketiga, iman kehendak Tuhan yang menjadi prioritas. Merasa nyaman itu perlu, bertindak rasional juga dibutuhkan. Tetapi ada satu hal yang tidak boleh diabaikan, yaitu kehendak Tuhan. Tomas adalah salah satu murid Yesus yang sulit percaya karena ia tidak melihat sendiri kebangkitan Yesus. Mungkin Tomas sangat kecewa. Perasaannya tergoncang melihat melihat Yesus di tangkap, diadili, disiksa, digantung di kayu salib sampai mati. Tomas berpikir dengan logikanya sendiri, sehingga dia menolak saat murid-murid lain memberi kesaksian bahwa mereka melihat Yesus bangkit. Banyak peristiwa dalam hidup kita yang bisa menggoncang perasaan. Kita bisa hilang pengharapan. Pikiran tidak mampu melihat kemungkinan-kemungkinan yang dapat Allah lakukan. Ketika dukacita, masalah berat menimpa, kita bersikap dan bertindak sebatas perasaan dan logika saja. Tuhan Yesus menegur Tomas: “Berbahagialah orang yang tidak melihat tetapi percaya.” Kita harus memiliki sikap berdasarkan pertimbangan iman. Iman melampaui perasaan dan logika manusia karena iman bersumber dari Firman Tuhan, Dengan iman yang teguh kita akan menjadi orang yang berbahagia.
Mengikuti jejak Yesus 1 Petrus 2:21, 23 [21] Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya. [23] Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil. Saat ini kita hidup di tengah zaman dimana orang suka saling mencaci maki. Melalui media sosial orang saling mengungkapkan kebenciannya. Dalam dunia nyata juga orang saling mencaci maki. Caci maki dibalas dengan caci maki. Bahkan para tokoh dan pejabatpun, yang seharusnya menjadi panutan buat masyarakat, saling mencaci maki. Kehidupan menjadi bising dan tidak nyaman karena penuh dengan ungkapan kebencian, hujatan, dan makian. Hidup di tengah zaman seperti ini bagaimanakah kita menyikapinya? Kristus telah memberikan suatu teladan bagi kita. Ketika Dia diperlakukan dengan kejam, dibully, dihina, disiksa, disakiti, Dia tidak membalas. Dia menanggung semua itu dengan sikap rela. Dia sadar akan apa yang sedang Dia lakukan. Dia sedang menjalankan sebuah pekerjaan penebusan. Dia sedang menanggung penderitaan bagi banyak orang, termasuk saudara dan saya. Dia tahu bahwa apa yang Dia kerjakan akan mendatangkan keselamatan dan kesembuhan bagi banyak orang. Karena itu Dia tidak mau membalas perlakuan orang atas diri-Nya. Kadang kita ketemu dengan orang yang egois dan tidak mau tahu perasaan orang lain. Orang itu melakukan hal-hal yang menyakitkan. Bagaimana kita meresponnya? Kecenderungan manusiawi kita tentu saja adalah membalas. Tindakan membalas tidak menyelesaikan persoalan. Tindakan membalas akan menghasilkan tindakan membalas juga. Balas membalas. Tindakan balas membalas apapun bentuknya, entah pertengkaran, pertikaian, percekcokan, maupun peperangan, akan berujung pada kehancuran di kedua belah pihak. Pertengkaran selalu menyisakan kebencian dan sakit hati yang semakin dalam. Apalagi peperangan mengakibatkan hancurnya peradaban. Tuhan Yesus memberikan sebuah teladan cara mengatasi tindakan kebencian, yaitu dengan memberikan pengampunan. Pengampunan adalah suatu cara yang ampuh untuk mematahkan kebencian. Di Minggu Paskah ini marilah kita belajar mengikuti jejak Yesus. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Pantang Menyerah1
29 Maret '18
Cintailah Gerejamu
15 April '18
Dusta Mahkamah Agama
10 April '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang