SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 24 Januari 2020   -HARI INI-
  Kamis, 23 Januari 2020
  Rabu, 22 Januari 2020
  Selasa, 21 Januari 2020
  Senin, 20 Januari 2020
  Minggu, 19 Januari 2020
  Sabtu, 18 Januari 2020
POKOK RENUNGAN
Tuhan tidak mencari orang yang luar biasa,tetapi ia mencari orang biasa yang berhati luar biasa.
DITULIS OLEH
Pdm. Hendy Aguswibowo L.
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Pemberita Injil Pertama Di Samaria
Pemberita Injil Pertama Di Samaria
Sabtu, 05 Oktober 2019
Pemberita Injil Pertama Di Samaria
Yohanes. 4:39-42

Jika ada wanita seperti wanita Samaria ini di manapun ia ada, pasti akan dicemooh, dihina dan disingkirkan dari pergaulan. Karena punya 6 suami .Namun itu tidak terjadi pada wanita ini. Saat ia berjumpa dengan Yesus, ia berubah dan menjadi pemberita Injil yang membawa banyak orang kepada Tuhan Yesus.

Sesungguhnya orang yg merasa berdosa, seringkali membiarkan dosa itu membelenggu dirinya, tidak demikian dengan wanita ini, ia memang masih menjalani hidupnya dengan dosa yang mengikatnya, tetapi ia masih berharap kepada Pribadi yang dapat menyelamatkan dirinya.

Bagaimana mungkin seorang wanita Samaria ini dapat berubah dan menjadi pemberita injil ?? Apa yang perlu kita pelajari dari kisah ini ?? Pertama,.ia memiliki jiwa yang haus akan kebenaran. Tandanya adalah kerinduannya untuk mendapat air hidup [ayat 15]. Air hidup menunjuk kepada Roh Kudus, di mana setelah wanita ini percaya. Hidupnya sudah dibebaskan dari ketakutan, minder, rasa malu, kekawatiran, berani menerima hinaan, dan sebagainya. Jiwa yang sudah diisi dengan Roh Kudus itulah yang menggerakan kita untuk menyala-nyala beribadah, melayani, dan membuat hidu...selengkapnya »
Natal telah tiba, dunia menyambut gembira, pesta pora bersama. Adakah kita termasuk di dalamnya??? Pastinya tidak karena bagi kita umat percaya, Natal bukanlah pesta pora tetapi ucapan syukur karena Dia Sang putra Allah mau lahir untuk mati buat tebus dosa kita. Dan yang tidak boleh kita lupakan adalah kedatanganNya yang ke dua yang tak seorangpun tahu, malaikat-malaikat di Surga juga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri [Mat 24:36]. Dari Matius 25:1-13 kita membaca sebuah perumpamaan yang menceriterakan bagaimana persiapan yang dilakukan oleh gadis-gadis bijaksana dan gadis-gadis yang bodoh saat akan menyongsong mempelai laki-laki. Pada saat perumpamaan ini disampaikan, merupakan kebiasaan bagi seorang pengantin wanita Yahudi ditemani oleh sepuluh pengiring yang sepertinya adalah teman-teman dekat dan seumur dengan pengantin wanita. Juga merupakan adat kebiasaan, mempelai laki-laki datang malam hari dengan tidak ada kepastian jam/waktunya. Itulah sebabnya para gadis pengiring tentu harus membawa pelita saat menyongsong mempelai laki-laki. Karena jam/waktunya tidak diketahui seharusnya gadis-gadis pengiring membawa persediaan minyak. Ternyata yang membawa hanya 5 orang. Di akhir perumpamaan ini tragis bagi 5 gadis yang tidak membawa persediaan minyak dan mereka tidak diperkenankan masuk ruang pesta perkawinan. Bagaimana dengan diri kita ? Karena kedatangan-Nya yang kedua tidak bisa diprediksi, satu-satunya yang harus kita lakukan adalah selalu siap tidak boleh lengah walau sekejap. Mari kita bersikap bijaksana seperti lima gadis yang siap membawa minyak sehingga saat mempelai datang pelita masih bisa dinyalakan. Jangan sampai kita kehabisan minyak yaitu api Roh Kudus seperti lima gadis yang bodoh.Amin.
Sama seperti awal tahun lalu, awal tahun ini hanya sedikit orang menyambut dengan kegairahan. Kelesuan ekonomi dunia, pergumulan gereja dan kebutuhan keluarga mesti dicukupi, cukup menyita sisi ruang pikiran orang-orang yang berpenghasilan pas-pasan. Sambey yang berasal dari keluarga sederhana turut merasakan sepinya kegairahan tahun baru ini. Meski awal tahun 2020 tetap disambut meriah oleh masyarakat dan jemaat. Kembang api berseliweran memecah kegelapan malam kota Semarang. Trompet dibunyikan dengan nyaring. Doa syukur dan pengharapan dipanjatkan dengan penuh semangat di gereja-gereja. Namun, keceriaan itu hanya sesaat. Sebagai tradisi perayaan semata. Pagi harinya, Sambey kembali harus berpikir dan bergelut menata masa depannya. Ia baru saja lulus sarjana. Dan awal tahun ini adalah langkah pertamanya untuk menapaki dunia kerja yang tak kunjung didapatnya. Sama dengan Sambey, Benay baru lulus sarjana pula. Bedanya Benay telah bekerja sebagai asisten juru masak yang telah ditekuninya beberapa bulan sebelum wisuda. Namun Benay tak luput juga dari pergumulan. Pikirannya tersita dengan status jomblo tak kunjung hengkang dari hidupnya. Benay merasa ragu apakah tahun ini ia akan mendapatkan tambatan hati. Jemaat yang terkasih. Pergumulan Sambey dan Benay di atas adalah gambaran pergumulan yang ada dalam setiap diri manusia. Pergumulan tidak dapat dihapuskan dengan pijar kembang api dan bunyi terompet tahun baru. Pergumulan itu harus diterima sebagai bagian hidup. Sama seperti orang Yahudi terbuang di Babel. Mereka diminta oleh Nabi Yeremia untuk menerima pergumulan itu. Namun bukan menerima secara pasif—pasrah—tetapi menerima pergumulan itu dengan iman. Bahwa kelak, sesuai dengan janji Tuhan, mereka akan dibebaskan dari pergumulan itu. Menerima pergumulan dengan iman, berarti tidak tinggal diam dalam tetes air mata dan penyesalan yang tiada putus. Pergumulan hidup mesti disikapi dengan tetap melakukan apa yang bisa dilakukan. Di Babel, orang Yehuda diminta untuk tetap menjalankan kehidupan sehari-hari. Mereka diminta untuk mendirikan rumah, menikah dan mempunyai keturunan, bahkan mereka diperintahkan untuk turut mengusahakan kesejahteraan kota/masyarakat Babel. Sambil menunggu penggenapan janji Tuhan kepada mereka. Dengan demikian, orang Yehuda tidak kehilangan harapan, sabar dalam penantian dan terus berjuang dalam pergumulan yang mereka alami. Jemaat yang dikasihi Tuhan. Jika ada di antara kita yang menapaki tahun baru ini dengan pergumulan-pergumulan hidup yang belum usai. Janganlah takut dan menjadi lemah. Marilah tetap beriman dalam menjalani tahun 2020 ini. Dengan demikian pengharapan kita terpelihara dan kita diberi anugerah kesabaran dalam penantian janji Tuhan. Jadi tetaplah bersukacita dalam perjuangan hidup ini. Terpujilah Tuhan!
Ada banyak orang Kristen tidak tertarik dan ’merasa jengah’ jika mendengar khotbah tentang ketaatan. Karena banyak yang berpikir, ketaatan selalu identik dengan larangan-larangan. Misal, tidak boleh ini tidak boleh itu, pantang melanggar, jika melanggar ada sanksi atau konsekuensinya yang akan di tanggungnya. Seperti tertulis: ’maka Aku akan membalas pelanggaran mereka dengan gada, dengan pukulan-pukulan.[ayat 32]. Karena itu tidaklah mengherankan jika orang lebih tertarik mendengar khotbah tentang berkat, keberhasilan, kemenangan, pemulihan, kesembuhan, mujizat dan sebagainya. Yang harus dipahami adalah bahwa berkat, keberhasilan, kemenangan, pemulihan, kesembuhan, mujizat adalah dampak atau upah ’bukan identik’ dari ketaatan seseorang dalam melakukan perintah Tuhan. Yang harus dipahami adalah ketaatan bukanlah sebatas larangan untuk melakukan sesuatu atau keharusan melakukan sesuatu. Tetapi merupakan keseluruhan gaya hidup yang semestinya dimiliki setiap orang percaya. Ketika ketaatan sudah menjadi gaya hidup dalam diri kita, maka melakukan ketetapan-ketetapan Tuhan bukan lagi menjadi suatu beban atau hal yang memberatkan. Melainkan menjadi sebuah kesukaan. Tuhan Yesus telah memberikan keteladanan dalam ketaatan-Nya kepada Bapa sebagai gaya hidup di sepanjang hidup-Nya. Hal itu tersirat dari pernyataan-Nya, ’Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.’ Perintah Tuhan bukan bertujuan untuk membebani, namun sesungguhnya untuk kebaikan kita. Tuhan menghendaki agar kita mengalami kebaikan, kasih setia, kebenaran, kemurahanNya. Sehingga rencana-Nya tergenapi, yaitu kehidupan berkelimpahan dan masa depan penuh harapan. Namun sayang, banyak orang memilih untuk tidak taat mengikuti jalan Tuhan. Padahal ’Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian dan peringatan-peringatan-Nya.’ [Mazmur 25:10]. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita menjadikan ketetapan-ketetapan-Nya menjadi gaya hidup kita? Seharusnya !!??
Saya pernah memotong bambu dengan ukuran satu meter. Alat pengukur yang saya gunakan adalah “meteran” yang sudah lama saya beli dari toko besi. Pada saat saya mau memotong bambu satu meter lagi ternyata “meteran” yang akan saya pakai sebagai pengukur tidak saya temukan. Entah di mana, saya lupa meletakkan. Akhirnya saya menggunakan bambu satu meter yang sudah saya potong pertama sebagai alat pengukur. Alhasil potongan bambu berikutnya ternyata tidak tepat satu meter panjangnya. Mengapa? karena alat pengukur, yang bukan “meteran” itu bukanlah alat pengukur yang benar [standar]. Dalam Efesus 4:21 dikatakan bahwa,”... kita telah menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus,...”. Apa yang terjadi setelah menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran Yesus? Yang terjadi adalah kita diperbaharui roh dan pikiran kita [ay.23]. Ketika kebenaran Kristus, yaitu firman Tuhan Yesus, kita terima secara terus menerus, bukan sekali atau “sekali-kali”! maka firman kebenaran itu kita serap dengan iman maka terjadilah pembaharuaan roh dan pikiran kita. Maka segala perbuatan, perilaku, tingkah-laku, perkataan, yang kita munculkan dalam kehidupan sehari-hari adalah karakter Kristus yang telah ‘meresap’ masuk dalam hidup kita. Hidup kita menampilkan karakter Kristus, sehingga kita menjadi serupa dengan Yesus [2 Kor.3:18]. Hidup kita jadi benar seperti Yesus, karena ukuran kebenaran yang dipakai tepat yaitu kebenaran Kristus. Kebenaran Kristus yang ada pada kita menjadikan kita memiliki suatu ciri khas yaitu ciri khas sebagai murid Yesus, berkarakter Kristus. Bagaimana jelasnya? Ketika kita berkarakter Kristus maka kita akan melakukan seperti yang dikehendaki Kristus, yaitu “Kristus datang untuk melayani bukan dilayani, [Mrk. 10:45]. Murid Yesus memiliki ciri khas hidup melayani dan mengasihi seorang terhadap yang lain [1 Pet. 4:7-11]. Semua yang kita lakukan adalah kebenaran yang diimplementasikan dalam bentuk pelayanan pertama-tama kepada saudara seiman kemudian keluar kepada sesama manusia. Tampak sangat sederhana perintah Yesus bagi kita yaitu seorang terhadap yang lain harus mengasihi dan melayani dengan kata lain adalah perintah untuk saling mengasihi, sebagai perintah baru. Sebuah transformasi [perubahan] akan terjadi di mana-mana apabila prinsip saling mengasihi dan melayani itu dijalankan, di keluarga yang merupakan lembaga terkecil bahkan sampai pada tingkat organisasi terbesar yaitu suatu Negara akan terjadi perubahan. Mengapa demikian? karena dalam prinsip saling mengasihi dan melayani terjadi sebuah kegerakan yaitu semua melayani dan semua terlayani. Perubahan terjadi.
FOLLOW OUR INSTAGRAM
RENUNGAN HARIAN
Menyambut KedatanganNya
24 Desember '19
Ketika Kita Tertindas
28 Desember '19
Eben Haezer1
27 Desember '19
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang