SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 12 Desember 2017   -HARI INI-
  Senin, 11 Desember 2017
  Minggu, 10 Desember 2017
  Sabtu, 09 Desember 2017
  Jumat, 08 Desember 2017
  Kamis, 07 Desember 2017
  Rabu, 06 Desember 2017
POKOK RENUNGAN
Pendidikan yang benar menghasilkan karakter yang tegar.
DITULIS OLEH
Pdt. Laij Andreany
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Pendidikan Rohani, pentingkah?
Pendidikan Rohani, pentingkah?
Jumat, 10 November 2017
Pendidikan Rohani, pentingkah?
Ulangan 6:7

Di sebuah Sekolah Dasar pagi-pagi sebelum anak-anak belajar di kelas, mereka dibiasakan dengan membersihkan halaman dan merawat tanaman di depan kelas masing-masing. Anak-anak melakukannya dengan penuh sukacita. Pukul tujuh pagi bel berbunyi dan mereka memulai pelajaran di hari itu dengan menyanyi dan berdoa. Itu adalah bagian dari salah satu bentuk kurikulum pembentukan karakter yang diterapkan di sekolah itu.

Pendidikan adalah hal yang sangat penting baik itu pendidikan umum terlebih lagi pendidikan rohani. Sebab bukan hanya mempersiapkan anak-anak yang merupakan generasi penerus keluarga, bangsa, dan gereja untuk masa depan di bumi tapi juga untuk masuk dalam kehidupan kekal. Pendidikan rohani yang membentuk karakter anak adalah modal yang terpenting karena itu tidak bolah diabaikan atau dianggap remeh oleh para orangtua.

Ada beberapa sebab mengapa orangtua mengabaikan pendidikan rohani: ada orangtua yang memang tidak mengerti/menyadari pentingnya pendidikan, t...selengkapnya »
Kejujuran dan kepercayaan Amsal 22:1 Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas. Pada hari Kamis tanggal 16 November 2017 terjadi sebuah kecelakaan tunggal. Sebuah mobil menabrak tiang lampu penerangan jalan [bukan tiang listrik seperti kata banyak orang]. Meskipun tidak dalam kecepatan tinggi kelihatannya mobil itu rusak parah bagian depannya. Seorang penumpang di dalam mobil itu mengalami cedera berupa memar di kepalanya. Para pembaca pasti tahu siapa yang saya maksud. Banyak orang tidak percaya bahwa itu adalah kecelakaan yang murni, walaupun tidak ada yang berani memastikan bahwa itu adalah sebuah rekayasa. Berbagai macam penjelasan diberikan oleh pihak yang mengalami kecelakaan itu. [Memang sungguh aneh bahwa seorang yang mengalami kecelakaan harus meyakinkan kepada publik bahwa dirinya benar-benar mengalami kecelakaan]. Tapi biarpun diyakinkan sedemikian rupa publik tetap tidak percaya terhadap penjelasan pihak yang mengalami kecelakaan itu. Banyak orang mengalami kecelakaan, tapi tidak perlu berusaha meyakinkan publik bahwa dirinya telah mengalami kecelakaan. Tidak perlu dijelaskan apalagi diyakinkan juga orang-orang sudah tahu bahwa telah terjadi kecelakaan atas orang tersebut. Tapi mengapa yang satu tadi berbeda? Karena publik sudah tidak percaya kepada orang yang mengalami kecelakaan itu. Andaikan dia sebenarnya sungguh-sungguh mengalami kecelakaan pun, publik tetap tidak percaya. Mengapa bisa demikian? Masalahnya adalah soal kepercayaan publik terhadap track record orang tersebut. Apa pelajaran yang bisa kita petik dari kejadian ini? Pelajaran yang bisa kita petik dari peristiwa ini adalah: 1. Nama baik [reputasi] itu sesuatu yang sangat berharga. Firman Tuhan berkata bahwa nama baik itu lebih berharga daripada kekayaan yang besar. Punya kekayaan yang besar tetapi kalau tidak mempunyai nama baik hidup kita tidak ada nilainya. 2. Kepercayaan dari publik tidak bisa diganti dengan penjelasan apapun. Publik menilai kejujuran kita dari track record kita. Kalau track record jelek tidak bisa dihapus dengan penjelasan apapun. Kita hanya bisa menjaga agar track record kita tetap baik. Berjalanlah dalam kebenaran, maka hidupmu akan beruntung. Tuhan memberkati. Pdt. Goenawan Susanto
Beberapa ekor lalat nampak terbang berpesta di atas tong sampah di depan sebuah rumah. Melihat pintu terbuka, seekor lalat bergegas terbang memasuki rumah itu. Si lalat langsung menuju sebuah meja yang penuh dengan makanan lezat. “Saya bosan dengan sampah-sampah itu, ini saatnya menikmati makanan segar,” katanya. Setelah kenyang, si lalat bergegas keluar menuju pintu masuk. Namun ternyata pintu kaca itu telah tertutup rapat. Si lalat hinggap sesaat di pintu memandangi kawan-kawannya yang melambai-lambaikan tangan seolah meminta agar dia bergabung kembali dengan mereka.Si lalat pun terbang di sekitar kaca, sesekali melompat dan menerjang kaca itu. Dengan tak kenal menyerah dia mencoba keluar dari pintu kaca. Lalat itu merayap mengelilingi kaca dari atas ke bawah dan dari kiri ke kanan bolak-balik, demikian terus dan terus berulang-ulang. Hari makin petang, si lalat itu nampak kelelahan dan kelaparan. Esok paginya nampak lalat itu terkulai lemas terkapar di lantai. Tak jauh darinya, tampak serombongan semut merah berjalan beriringan keluar dari sarang untuk mencari makan. Dan ketika menjumpai lalat yang tak berdaya itu, serentak mereka mengerumuni dan beramai-ramai menggigit tubuhnya hingga mati. mereka pun beramai-ramai mengangkut bangkai lalat yang malang itu ke sarang. Dalam perjalanan, seekor semut kecil bertanya kepada rekannya yang lebih tua, “Ada apa dengan lalat ini, Pak? Mengapa dia sekarat?” “Oh.., itu sering terjadi, ada saja lalat yang mati sia-sia seperti ini. Sebenarnya mereka ini telah berusaha. Dia telah berusaha keras keluar dari pintu kaca itu. Namun ketika tak juga menemukan jalan keluar, dia frustasi dan kelelahan hingga akhirnya jatuh sekarat dan menjadi menu makan malam kita.” Semut kecil itu manggut-manggut, namun masih penasaran dan bertanya lagi, “Aku masih tidak mengerti, bukannya lalat itu sudah berusaha keras? Kenapa tidak berhasil?” Masih sambil berjalan dan memanggul bangkai lalat, semut tua itu menjawab, “Lalat itu adalah seorang yang tak kenal menyerah dan telah mencoba berulang kali, hanya saja dia melakukannya dengan cara-cara yang sama.” Semut tua itu memerintahkan rekan-rekannya berhenti sejenak seraya melanjutkan perkataannya, namun kali ini dengan mimik dan nada lebih serius, “Ingat anak muda, jika kamu melakukan sesuatu dengan cara yang sama, tetapi mengharapkan hasil yang berbeda, maka nasib kalian akan seperti lalat ini.” Seringkali kehidupan kita sebagai orang percaya ingin mencapai pertumbuhan menjadi serupa dengan Kristus. Kita ingin sekali keluar dari kebiasaan rutin kita dan terkadang bosan dengan kehidupan kekristenan kita saat ini, sehingga kita mengupayakan segala sesuatunya dengan cara kita sendiri. Tapi sayang ujung-ujungnya adalah hal yang sama dan membosankan. Dampak inilah yang mengakibatkan kita mulai mundur teratur dengan meninggalkan persekutuan dan ibadah. Dan itu banyak kita jumpai. Namun Yesus mengajarkan kita untuk melekat kepada-Nya. Hanya itu “ tinggal di dalam” Dia. Tujuannya adalah kita banyak belajar dan mengikuti apa yang menjadi maksud-Nya, bukan maksud kita. Dan hanya itu yang membuat kita dinamis dan menghasilkan.
Pengelola bukan pemilik Kejadian 2:15 TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. Tuhan membuat Taman Eden lalu menempatkan manusia di dalam taman itu. Posisi manusia di taman itu tentu bukan sebagai pemilik tapi sebagai pengelola. Andaikan manusia tidak sadar dengan posisinya itu, dia bisa saja berbuat semaunya dengan taman itu. Tapi manusia selalu diingatkan bahwa di taman itu kedudukannya adalah sebagai pengelola, bukan pemilik. Karena itu Tuhan memberikan batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar oleh manusia. Kecenderungan kita sebagai manusia adalah mau menjadi penguasa atas segala yang Tuhan percayakan kepada kita. Dan karena merasa sebagai penguasa manusia berbuat semaunya dengan kekayaan yang dipercayakan oleh Tuhan, misalnya dengan cara: memboroskan harta untuk kenikmatan dirinya sendiri, tidak mau merawat atau bahkan membiarkan kerusakan lingkungan sekitarnya. Kalau kita dipinjami sebuah barang oleh orang lain, maka kita punya tanggung jawab untuk merawat barang itu dengan baik. Kita harus menjaganya agar barang itu jangan sampai rusak. Semua harta atau kekayaan yang kita punya asalnya dari Tuhan. Baik itu kekayaan yang berujud materi, kesehatan, kepandaian, keahlian, maupun yang lainnya, kita dapatkan dari Tuhan, meskipun itu melalui orang lain. Kita mendapatkan warisan dari orang tua kita, kepandaian dari guru atau orang yang mengajari kita, pekerjaan dari relasi kita. Semua itu Tuhan berikan kepada kita untuk kita kelola, dan kita pakai baik untuk kesejahteraan diri kita maupun untuk orang lain. Firman di atas mengatakan bahwa manusia diberi tanggung jawab untuk mengusahakan dan memelihara taman Eden itu. Mengusahakan artinya mengembangkan, seperti hamba yang menerima talenta, lalu menjalankan talenta itu, dari 5 menjadi 10, dari 2 menjadi 4 [Matius 25:14-16]. Sedangkan Memelihara artinya merawat agar taman itu tetap terjaga dengan baik, tidak rusak dan keindahannya tetap terjaga. Alangkah indahnya hidup ini jika kita menyadari dan melaksanakan tanggung jawab kita sebagai pengelola dari kekayaan yang Tuhan percayakan kepada kita. Pdt. Goenawan Susanto
Hari Pengucapan Syukur adalah hari libur nasional yang diperingati di beberapa negara, di antaranya adalah Amerika Serikat, Kanada, Jerman, Jepang, dll. Warga Amerika Serikat merayakannya pada Kamis keempat di bulan November, sedangkan warga Kanada merayakannya pada Senin kedua Oktober. Pada mulanya Thanksgiving merupakan peristiwa jamuan makan yang diadakan warga pendatang di Amerika Serikat sebagai ucapan syukur atas keberhasilan panen mereka. Jamuan makan di musim gugur yang berlangsung sampai tiga hari itu dihadiri pula oleh penduduk asli Amerika yang tinggal tak seberapa jauh dari tanah yang mereka tempati. Pada perkembangannya, peringatan Thanksgiving Day bergeser menjadi sekedar momen mudik bagi mereka yang merayakan. Dan buat sebagian orang yang terlalu sibuk untuk berkumpul dengan keluarga besar, Thanksgiving Day tak ubahnya seperti hari libur nasional biasa. Hari Pengucapan Syukur mulai kehilangan makna. Manusia memang mudah teralihkan. Mudah lupa. Banyak kemurahan yang diterima dari Tuhan, dianggap biasa. Sedikit kesusahan yang diijinkan terjadi, dianggap malapetaka. Berkali-kali dianugerahi belas kasihan, tidak sadar juga. Manusia memang gudangnya lupa. Tetapi umat kepunyaan Tuhan tidak boleh menyerah pada kecenderungan daging. Mari tetap mengingat semua kebaikan Tuhan; mari tetap mengucap syukur karena kasih setia-Nya tak berkesudahan. Biarlah setiap hari yang kita jalani menjadi hari pengucapan syukur.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Renungan Harian
11 Desember '17
Persembahkan HidupMu
05 Desember '17
Memang Lidah Tak Bertulang
04 Desember '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang