SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 19 Februari 2018   -HARI INI-
  Minggu, 18 Februari 2018
  Sabtu, 17 Februari 2018
  Jumat, 16 Februari 2018
  Kamis, 15 Februari 2018
  Rabu, 14 Februari 2018
  Selasa, 13 Februari 2018
POKOK RENUNGAN
Pendidikan yang benar menghasilkan karakter yang tegar.
DITULIS OLEH
Pdt. Laij Andreany
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Pendidikan Rohani, pentingkah?
Pendidikan Rohani, pentingkah?
Jumat, 10 November 2017
Pendidikan Rohani, pentingkah?
Ulangan 6:7

Di sebuah Sekolah Dasar pagi-pagi sebelum anak-anak belajar di kelas, mereka dibiasakan dengan membersihkan halaman dan merawat tanaman di depan kelas masing-masing. Anak-anak melakukannya dengan penuh sukacita. Pukul tujuh pagi bel berbunyi dan mereka memulai pelajaran di hari itu dengan menyanyi dan berdoa. Itu adalah bagian dari salah satu bentuk kurikulum pembentukan karakter yang diterapkan di sekolah itu.

Pendidikan adalah hal yang sangat penting baik itu pendidikan umum terlebih lagi pendidikan rohani. Sebab bukan hanya mempersiapkan anak-anak yang merupakan generasi penerus keluarga, bangsa, dan gereja untuk masa depan di bumi tapi juga untuk masuk dalam kehidupan kekal. Pendidikan rohani yang membentuk karakter anak adalah modal yang terpenting karena itu tidak bolah diabaikan atau dianggap remeh oleh para orangtua.

Ada beberapa sebab mengapa orangtua mengabaikan pendidikan rohani: ada orangtua yang memang tidak mengerti/menyadari pentingnya pendidikan, t...selengkapnya »
Kehidupan doa merupakan hal yang baik dan penting bagi orang percaya. Di saat mengalami kesulitan hidup yang datang bertubi-tubi maka orang percaya akan merespon setiap masalah dengan berdoa meminta kekuatan dan pertolongan Tuhan. Orang yang takut akan Tuhan selalu memiliki respon vertikal kepada Tuhan ketika menghadapi segala sesuatu. Orang yang percaya kepada Tuhan akan selalu melihat ke arah Dia dan bergantung penuh pada-Nya dan menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya sumber pengharapan dalam hidup. Segala sesuatu di dunia ini adalah berasal dari Tuhan. Tuhan yang menciptakan segala sesuatu. Kita harus menyadari bahwa semua yang ada di bumi ini dipelihara oleh-Nya dan ditopang oleh Firman-Nya yang penuh kuasa [ Ibrani 1:3]. Maka dalam berdoa haruslah kita memahami bahwa seluruh dunia ditopang oleh Dia, sehingga ketika kita di dalam kesulitan dan pencobaan. Kita tidak akan menyerah dan putus asa dalam berdoa karena kita tahu bahwa Ia sendiri yang selalu menopang dan menjaga ciptaan-Nya. Selanjutnya kita tidak akan putus asa dalam berdoa sambil mengingat kembali siapa Allah. Allah kita adalah Allah yang maha perkasa serta tidak ada yang sanggup melawan kehendak-Nya. Maka pada saat kita berdoa pun kekuatan yang dari Allah akan membangkitkan kita dari kekawatiran dan ketakutan kita. Ini adalah kekuatan sejati dalam mengikut Tuhan. Selanjutnya adalah ketika kita berdoa marilah kita tidak berfokus hanya kepada diri kita sendiri. Marilah kita belajar, ketika berdoa juga memiliki tujuan bagi pekerjaan-pekerjaan Tuhan dan memuliakan nama-Nya. Berdoalah juga supaya Tuhan memakai hidup kita untuk menyatakan kehendak-Nya kepada orang sekitar kita. [Kisah Para Pasul 4:23-31] Marilah kita sebagi anak-anak-Nya memiliki kehidupan doa yang benar. Karena ketika hal itu kita lakukan dengan kesungguhan hati maka kehidupan iman kita juga akan semakin kuat berakar kepada kristus, sehingga apapun masalah yang kita hadapi tidak membuat kita putus pengharapan, namun semakin percaya teguh kepada Allah kita.
“Mbah, Benay akan segera kembali ke tanah air”, kata Rabenay pada Mbah Wanidy yang masih terpingkal-pingkal menahan tawa. “Apa! Benay akan kembali? Dia masih hidup?”, tanya Mbah Wanidy keheranan. “Benar Mbah, menurut informasi yang saya terima, KBRI di Iraq telah menyampaikan pengumuman bahwa para sukarelawan asal Indonesia akan mulai dipulangkan pada awal tahun 2018 ini. Konon salah satu nama yang disebut adalah Benay, adik kandung saya.” Wajah Mbah Wanidy sumringah mendengar kabar baik ini. Sukacita meletup-letup dalam sanubarinya. Wajahnya berseri-seri berhias pengharapan. “Wah..wah.., tampaknya Mbah Wanidy gembira sekali. Bahkan lebih gembira dibandingkan dengan saya.” Mbah mengangguk-angguk mengiyakan. “Mengapa Mbah begitu gembira ketika mendapatkan kabar bahwa Benay akan pulang?” tanya Rabenay penasaran. “Ya tentu saya senang karena pertama-tama Benay selamat. Bagaimanapun juga dia itu adalah konsumen fanatikdi warung saya. Kedua, heem…ehem….kembalinya Benay ke Semarang berarti tumbuh mekarnya kembali harapan saya”, jawab Mbah Wanidy. “Harapan apa itu, Mbah” tanya Rabenay. “Heek…e..heeem…harapan untuk terbayarnyahutang-hutang Benay pada saya.” Wajah Rabenay pun memerah karena malu. Jemaat yang terkasih. Harapan Mbah Wanidy yang sempat terkubur, kini tumbuh kembali karena ada kemungkinan Benay masih hidup dan akan kembali ke tanah air. Demikian juga dengan Ayub. Dalam penderitaannya yang teramat pedih, Ayub bergumul dengan Tuhan. Sahabat-sahatabnya hadir untuk memberikan nasehat. Namun apa boleh buat, nasehat-nasehat mereka malah cenderung menuduh dan makin menyesakkan hatinya. Ayub merasa bahwa harapannya sudah hilang. Semangatnya sudah patah berkeping-keping dan di matanya hanya tampak kematian yang segera akan menghampirinya [ay. 1, 11-16]. Namun apa yang Ayub perkirakan tidaklah seperti yang Allah pikirkan. Sejak dari mulanya penderitaan Ayub diperhatikan oleh Allah. Jerit pergumulannya di dengarkan oleh-Nya. Harapannya tidak dilenyapkan sama sekali. Malah pada waktu yang Allah tetapkan, keadaan Ayub dipulihkan dengan luar biasa [Ayub 42]. Jemaat yang dikasihi Tuhan. Apakah kita sedang mengalami pergumulan? Atau masalah dalam hidup ini? Apakah kita merasa jerit tangis kita dalam doa-doa terasa jauh dari Tuhan? Seolah-oleh mata kita sudah hampir kering? Namun percayalah bahwa kasih Allah tidak akan pernah sedikitpun meninggalkan anak-anak-Nya. Tetaplah berlaku benar dan setia, tetaplah berpengharapan di dalam Tuhan karena masa depan itu sungguh ada tersedia bagi kita. Selamat membangun harapan. Terpujilah Tuhan!
Suatu hari sebuah status facebook seorang teman yang dikenal sebagai pribadi yang sederhana membuat mata terbelalak. Kira-kira begini bunyinya, ’Wah, aku bingung mau BERHEMAT bagaimana lagi. UANG JAJAN ANAK dari 7 JETI SEMINGGU sudah kupangkas jadi separuhnya! Tapi kepala masih saja nyut-nyutan dengan GAJI MEPET seperti ini.’ Dan status itu ramai menuai komentar dari mana-mana. Ada yang memuji-muji keberuntungannya yang bagi sebagian orang bagaikan mimpi. Ada juga yang mengecam keluhannya sebagai kamuflase untuk mewartakan ke’tajiran’nya. Sampai akhirnya si pemilik status menyatakan bahwa itu hanya status main-main. Ternyata dia sedang mengikuti tantangan membuat status ’humblebrags’. Meninggikan diri dengan kemasan kalimat yang ’merendah’, itulah humblebrags. Saking seringnya menjumpai model yang seperti ini, sampai-sampai ada yang mendapat ide untuk melombakannya sebagai guyonan satire. Di pasar, di perkumpulan RT, di arena olah raga, di layar televisi, di lingkungan sekolah, di tempat kerja ... di mana ada orang berkumpul, di situ kita temui humblebrags. Ruang lingkup rohani pun tidak luput dari hal ini. Hati-hati dengan motivasi di balik setiap hal yang kita sampaikan. Baik lisan maupun tulisan. Sharing hal-hal rohani pun sangat bisa terpeleset menjadi ajang untuk mendulang pujian bagi diri sendiri. Ketika unsur SAYA menjadi dominan dan menggeser supremasi TUHAN ... berhati-hatilah.Jangan bosan berguru kepada Tuhan Yesus Kristus untuk belajar menjadi rendah hati. Selalu ingat untuk berhati-hati. Tuhan tidak menyukai kecongkakan dan tinggi hati. Dua hal yang menjadi jaminan bagi perilaku congkak dan tinggi hati adalah kehancuran dan kejatuhan. Tentu saja kita ingin menjauhinya keduanya.
Di dalam diri manusia ada hasrat atau kehendak. Itulah yang menggerakkan manusia ke arah mana dan akan berbuat apa. Manusia tidak mungkin berjalan tanpa arah, bergerak tanpa hasrat. Manusia bergerak ingin mendapatkan sesuatu itulah hidup, bergerak, tidak berhenti. Manusia yang berhenti berarti mati. Orang lumpuh, bahkan yang tidak punya kaki pun bukan berarti hilang hasrat dan keinginan. Hanya orang matilah yang tidak memiliki gerak dan hasrat lagi. Keinginan dan keinginan, hasrat dan hasrat itulah hakekat manusia hidup. Tetapi tahukah hai semua manusia ! bahwa dengan hasrat atau keinginan itulah engkau digerakkan bisa menuju kebinasaan, tetapi juga sebaliknya bisa mendapatkan kehidupan. Hanya persoalannya adalah siapa yang menggerakkan keinginan atau hasrat itu? Ada dua hal yang menggerakkan yaitu: 1. roh diri sendiri [roh kedagingan], dan 2. Roh Tuhan. Mari kita lihat keduanya : 1. Hidup yang digerakkah roh diri sendiri [kedagingan]. Adalah hidup yang menuruti hasrat keinginan diri sendiri yang tidak mungkin menuju kebenaran, karena semua manusia telah diperhamba dosa yang selalu menuruti hawa nafsu kedagingan yang bertentangan dengan Allah [Rom 8:6a-8], yang berujung kepada kebinasaan. 2. Hidup yang digerakkan oleh Roh Kristus [Roh Kudus] Adalah hidup yang dipimpin oleh Roh Kristus, yaitu ketika kita percaya kepada Tuhan Yesus, menerima Kristus secara pribadi, sehingga Dia berkenan tinggal dalam hidup kita, dan kita bersedia dipimpin arah hidup kita oleh-Nya maka kita akan berolah kehidupan [Roma 8:9,10] Jadi semua itu tergantung dengan kita sendiri, kita mau dipimpin Roh Kristus yang adalah pemberi kehidupan kekal atau kita mau memimpin diri sendiri, artinya kita tidak bersedia dipimpin Roh Tuhan tidak bersedia hidup dan lahir baru, maunya memuaskan keinginan kedagingan itulah jalan kebinasaan. Roh Kristus yang memimpin kita maka sertamerta membawa seluruh tubuh kita [jasmani] ikut memuji Tuhan dan bersaksi di sekitarnya, tetapi sebaliknya, barang siapa yang tidak bersedia menerima pimpinan Roh Ktistus maka ujung-ujungnya adalah pemuasan hawa nafsu secara jasmani, yang tidak memberi dampak positif di sekitarnya. Jadi pemahamannya simpel [sederhana]: barang siapa yang belum lahir baru [belum bersedia dipimpin Roh Kristus] bertentangan dengan orang yang telah lahir baru [bersedia dipimpin Roh Kristus]. Yang tidak lahir baru akan binasa tetapi yang bersedia lahir baru beroleh kehidupan kekal [Roma 8:13]. Jadi manusia batiniah [inner man] tidak selalu bertentangkan dengan manusia jasmaniah [outer man], yang dipertentangkan adalah manusia yang sudah lahir baru dan yang belum lahir baru.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Berakar, Bertumbuh, Berbuah
10 Februari '18
Langkah Orang Benar
31 Januari '18
Jadilah Seperti Gideon
28 Januari '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang