SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 19 Februari 2018   -HARI INI-
  Minggu, 18 Februari 2018
  Sabtu, 17 Februari 2018
  Jumat, 16 Februari 2018
  Kamis, 15 Februari 2018
  Rabu, 14 Februari 2018
  Selasa, 13 Februari 2018
POKOK RENUNGAN
TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.
DITULIS OLEH
Pdt. Goenawan Susanto
Gembala Jemaat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Pengelola Bukan Pemilik
Pengelola Bukan Pemilik
Minggu, 12 November 2017
Pengelola Bukan Pemilik
Kejadian 2:15
Pengelola bukan pemilik

Kejadian 2:15
TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.

Tuhan membuat Taman Eden lalu menempatkan manusia di dalam taman itu. Posisi manusia di taman itu tentu bukan sebagai pemilik tapi sebagai pengelola. Andaikan manusia tidak sadar dengan posisinya itu, dia bisa saja berbuat semaunya dengan taman itu. Tapi manusia selalu diingatkan bahwa di taman itu kedudukannya adalah sebagai pengelola, bukan pemilik. Karena itu Tuhan memberikan batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar oleh manusia.

Kecenderungan kita sebagai manusia adalah mau menjadi penguasa atas segala yang Tuhan percayakan kepada kita. Dan karena merasa sebagai penguasa manusia berbuat semaunya dengan kekayaan yang dipercayakan oleh Tuhan, misalnya dengan cara: memboroskan harta untuk kenikmatan dirinya sendiri, tidak mau merawat atau bahkan membiarkan kerusakan lingkungan sekitarnya. Kalau kita dipinjami seb...selengkapnya »
Penulis Paul Little mengatakan bahwa kita sering kali tidak bersaksi seperti Yesus. Kita cenderung cepat menyalahkan orang lain. Paul Little menulis, ’Kita sering kali berpikir keliru, yakni jika kita tidak menyalahkan suatu sikap atau tindakan yang salah, berarti kita menyetujuinya.’ Dia menambahkan, ’Kita tidak hanya harus menghindari sikap menyalahkan orang lain, tetapi juga perlu mempelajari seni memberikan pujian yang rasional.’ Paul Little juga menceritakan pengalaman seorang penulis bernama Charles Trumbull. Di sebuah kereta api, sang penulis bertemu seorang pemabuk yang melontarkan kata-kata tak senonoh dan duduk di sampingnya. Ketika laki-laki itu menawarkan minumannya, Trumbull sama sekali tidak menyalahkan orang itu. Malahan dia menjawab, ’Tidak, terima kasih, tapi saya tahu Anda sangat murah hati.’ Mendengar kata- katanya, mata laki-laki itu langsung bersinar. Sewaktu mereka bercakap-cakap, laki-laki itu mendengar tentang Pribadi yang menawarkan air kehidupan yang dapat memuaskannya. Tak lama kemudian ia pun menerima Kristus. Kita dapat belajar banyak tentang bersaksi secara efektif dengan belajar dari Yesus, melalui peristiwa saat Yesus bersaksi kepada wanita yang ditemui-Nya di sumur [Yohanes 4:5-26]. Sebenarnya secara sosial Yesus tidak boleh berbicara dengan wanita Samaria itu, karena Yesus orang Yahudi. Dalam kisah tersebut diceritakan Yesus meminta minum kepada wanita itu. Ini dilakukan-Nya dengan sikap menghargai wanita tersebut. Bisa saja Yesus menyalahkan cara hidup wanita yang penuh dosa itu, tetapi Dia tidak melakukannya. Pada saat kita bersaksi tentang Yesus, ingatlah bahwa kita perlu hikmat. Artinya adalah cara kita bersaksi harus cerdik. Dapat membaca situasi serta diperlukan timming yang tepat. Semua itu perlu dilakukan agar Kabar Sukacita tentang Yesus dapat diterima oleh orang di sekitar kita. Semua orang dapat mendengarkan dengan penuh sukacita. Mari beritakan Injil dengan berhikmat.
Tuhan punya banyak cara untuk menyayang, juga dengan memanggil pulang Kita sayu, namun mengaku Sang Empunya Hidup yang paling tahu Rasanya belum cukup, belum sempat, belum siap Tapi kata Tuhan, inilah saat yang tepat Apalah yang lebih melegakan selain cerai dari derita yang menggerus raga Sehabis berjuang demi orang-orang tersayang, tibalah saatnya untuk pulang dengan iman, damai dan tenang Meski tak terbendung tangis yang luruh dalam kelu, hati kita tahu Inilah cara terindah Tuhan untuk menyayang, dengan memanggil pulang. Mengakhiri perjumpaan dengan orang-orang terdekat tak pernah mudah. Apalagi bila terjadi secara tiba-tiba. Rasanya sulit dipercaya. Masih terasa hangatnya sentuhan tangan orang yang tersayang di dalam genggaman, sedetik kemudian telah tiada. Punah sudah rencana-rencana yang belum terlaksana. Kesempatan sudah menutup pintunya rapat-rapat. Tak terelakkan kenangan demi kenangan berputar di kepala. Kebersamaan yang tak kenal kelanjutannya. Walau kita berharap bisa lebih lama bersama orang-orang tersayang, kadang Tuhan menilai bahwa hal yang terbaik adalah dengan memanggil mereka pulang. Sebuah ketukan palu yang sangat menyentak hati orang-orang yang menyayang. Dan di saat panas terasa di pelupuk mata, ada saja yang bilang jangan berduka. Jangan seperti orang tak punya harapan. Namun berjuang menepis basah di mata pun rasanya tak sanggup juga. Ahh, setiap orang yang pernah menjalani tak akan dengan mudahnya berujar begitu-begini. Baiklah saat ini kita mengurai duka, lebih sehat melepas sesak di dada daripada menyangkalinya. Yesus pun menangis ketika dikabari bahwa sahabatnya meninggal. Tidak tabu untuk berduka. Asalkan kita mengenal kata cukup. Setelah itu mari kita melangkah lagi. Dengan keyakinan utuh bahwa yang tersayang sudah aman dan tenang bersama Pemiliknya. Meskipun kita tak lagi bersamanya, selalu ada Tuhan yang membarengi langkah kita. Tak pernah sendiri. Itulah pengharapan kita. Sampai tiba saatnya nanti kita dipertemukan kembali dan berkumpul bersama-sama dengan Kristus Yesus, Tuhan kita.
Bill Gates adalah seorang yang sukses dalam bidang IT dengan produk software Microsoft yang telah mendunia. Suatu saat dia dan isterinya diwawancarai oleh majalah Time, salah satu pertanyaannya “Mengapa anda memutuskan untuk member begitu banyak dari keuntungan bisnis anda kepada kepentingan dunia?” Jawabnya “Sangat jelas bagi kami bahwa kami tidak pernah berpikir untuk memberikan keuntungan ini bagi anak-anak kami sendiri. Ketika kami mulai melihat adanya ketidakadilan yang besar di dunia ini, kami yakin dapat membantu kehidupan manusia melalui peningkatan kesehatan. [ Majalah Time 7 November 2005 ]. Bill Gates telah menabur kebaikan dalam hidupnya. Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena prinsip yang Tuhan ajarkan adalah bertolong-tolonganlah untuk saling menanggung beban. Karena dengan demikian maka kita akan memenuhi hokum Kristus. Jangan pakai waktu kita untuk menabur dalam daging dengan melakukan perbuatan-perbuatan tercela dan bertentangan dengan Firman Tuhan yang akan menuai kebinasaan. Mereka yang menabur dalam Roh dengan melakukan perbuatan terpuji dan menabur kebaikan akan menuai hidup yang kekal. Janganlah kita mempermainkan waktu singkat yang kita miliki karena apa yang kita tabur akan kita tuai. Marilah kita menguji diri kita sendiri apakah kita sudah termasuk golongan orang yang menabur kebaikan. Kita tidak harus seperti Bill Gates, kita bias berbuat sesuatu di tengah keterbatasan kita untuk kebaikan banyak orang, walaupun yang kita lakukan hanya sesuatu yang sederhana, karena kebaikan tidak hanya berbentuk materi. Banyak orang sekitar kita membutuhkan perhatian dan bantuan kita, apakah kita sudah meresponinya? Ingatlah dengan menabur kebaikan akan berdampak membawa jiwa-jiwa kepada keselamatan dalam Kristus Yesus.
Di awal tahun ini, Pak Matsu memulai pertanian dengan pembibitan benih bunga selasih. Pembibitan ini dimulai dengan mencangkul tanah supaya menjadi gembur. Setelah itu, tanah tersebut dicampur dengan pupuk kandang agar menjadi subur. Sebelum bibit bunga selasih ditabur ditanah tersebut, Pak Matsu terlebih dahulu membuat pagar untuk sekeliling tempat pembibitan agar tidak dirusak oleh binatang-binatang piaraan. Setelah proses pengolahan tanah selesai, benih siap ditaburkan. Dan menunggu beberapa minggu untuk melihat pertumbuhan dari benih tersebut. Kira-kira 3 bulan benih yang sudah tumbuh bisa dipindahkan di ladang atau di pot. Agar menghasilkan benih yang dapat bertumbuh dengan baik maka diperlukan tanah yang subur. Dalam perumpamaan tentang penabur, Tuhan Yesus memberikan gambaran tentang kehidupan orang yang percaya. Tipe pertama adalah orang yang mendengar firman tetapi tidak menyimpannya sehingga iblis datang untuk mencurinya. Oleh sebab itu, benih itu tidak dapat tumbuh sama sekali. Tipe kedua adalah orang yang mendengar firman dengan bersukacita, tetapi tidak sampai berakar yang kuat, karena dasarnya tidak kokoh. Ketika panas terik menyengat, mulailah layu imannya tanpa menghasilkan apa-apa. Tipe ketiga adalah orang yang menerima firman, berakar, dan bertumbuh. Namun pertumbuhannya berada di tengah-tengah semak duri yang semakin hari semakin lebih besar. Akhirnya matilah pertumbuhan itu, karena tidak kuat menghadapi berbagai tantangan dan persoalan yang menghimpit dan menekannya hari lepas hari. Tipe yang keempat adalah tipe tanah yang subur. Orang percaya yang telah menyiapkan hatinya untuk ditaburi benih firman. Jadi ketika firman itu ditaburkan, maka akan bertumbuh dengan sangat baik. Ia berakar semakin kuat dan pada saatnya akan menghasilkan buah yang banyak dan dapat dinikmati. Jemaat terkasih, setiap orang percaya pasti merindukan menjadi tipe yang keempat, yaitu menjadi tempat yang subur untuk menerima firman Tuhan. Akan tetapi untuk menjadi subur tidaklah instan. Maka hidup kita harus senantiasa dipersiapkan, yaitu melatih diri berfokus pada firman, merenungkan firman itu siang dan malam, serta menggumulkan di dalam doa supaya rema itu dapat tertanam dalam hati, berakar kuat, bertumbuh subur, dan pada akhirnya berbuah lebat. Mari menyiapkan seluruh kehidupan ini menjadi tempat bertumbuh dan berbuahnya firman Tuhan.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Humblebrags
12 Februari '18
Yang Tersayang Sudah Pulang
25 Januari '18
Berakar, Bertumbuh, Berbuah
10 Februari '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang