SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 19 Februari 2018   -HARI INI-
  Minggu, 18 Februari 2018
  Sabtu, 17 Februari 2018
  Jumat, 16 Februari 2018
  Kamis, 15 Februari 2018
  Rabu, 14 Februari 2018
  Selasa, 13 Februari 2018
POKOK RENUNGAN
“Persembahan hidup kepada Allah merupakan ibadah sejati yang bisa membuat hidup kita semakin berkenan di hadapan Allah hari lepas hari.”
DITULIS OLEH
Pdt. Y. Agus Santoso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Persembahkan HidupMu
Persembahkan HidupMu
Selasa, 05 Desember 2017
Persembahkan HidupMu
Roma 12:1-2

Mas Nanang baru saja selesai studi SMK jurusan mesin dan bermaksud melanjutkan studi ke jurusan teknik sambil bekerja. Akhirnya dia diterima di salah satu perusahaan bengkel automotif sebagai tenaga teknisi dan sorenya masih memiliki kesempatan untuk melanjutkan kuliah. Namun satu komitmen yang mas Nanang tidak pernah lupa adalah memberikan waktunya untuk melayani anak-anak tunas dan Youth di gerejanya. Bagi mas Nanang apa yang dikerjakan setelah percaya Tuhan Yesus adalah untuk memuliakan Dia melalui hidupnya. Akhirnya mas Nanang dapat menikmati berkat Allah, karena bisa lulus kuliah tepat waktu dan di pekerjaan, dia dipercaya sebagai kepala devisi teknik yang membawahi banyak anak buah.

Renungan hari ini sudah tidak asing bagi kita bahkan sudah berulang kali kita membaca dan mendengarkan ulasan dari nats ini, akan tetapi kali ini kita akan membahas sisi yang lain dari nats tersebut, yaitu mengapa kita sebagai orang yang sudah percaya kepada Tuhan Yesus harus mempersembahkan tubuh kita atau hidup kita seutuhnya kepada Allah sebagai perwujudan ibadah sejati kita.

Pertama, demi Kemurahan Allah [ayat 1]. Inilah al...selengkapnya »
Berlutut dihadapan Tuhan, tidaklah hanya berbicara tentang sikap doa, tetapi juga sikap hati di mana kita mencari Tuhan. Dr. Charles Stanley dalam bukunya ’Landmines in The Path of the Believer’ [Ranjau yang tersembunyi di balik jalan orang percaya] menyatakan, ’Kita berdiri makin tinggi dan kuat di atas lutut kita’. Buku ini menceritakan tentang keadaan di mana dia mengalami saat-saat yang begitu gelap dan putus asa, dia terbangun di tengah malam dan duduk di sisi tempat tidurnya dan berdoa. Ia menyerahkan seluruh persoalannya kepada Tuhan dan kemudian meminta Tuhan menolong dia untuk dapat tidur kembali. Pada saat ia terombang-ambing dan putua asa, dia belajar satu hal yang sangat penting yaitu, ’Jika saya tetap fokus pada Tuhan, saya akan memperoleh pertolongan, kekuatan dan kemampuan untuk melewatinya, sekalipun dunia di sekeliling saya nampaknya akan runtuh.’ Doa akan menolong kita fokus pada Tuhan. Malas berdoa membuat kita terfokus pada keadaan kita. Kekuatan kita terletak di dalam doa, tetapi banyak kali kita mengabaikan doa. Kita memiliki banyak waktu untuk mendengar khotbah-khotbah, seminar-seminar, bahkan kesaksian-kesaksian tentang pentingnya doa. Namun kita tidak memiliki waktu untuk berdoa. Bila kita menabung waktu dalam doa, maka kita sedang menanam kuasa yang besar dalam hidup ini. Sesungguhnya yang menjadi persoalan bagi orang percaya bukanlah karena kekurangan pengetahuan tentang doa, tetapi karena sikap malas berdoa. Bagaimana kita dapat membuang sikap malas berdoa? Dengan mengakui dihadapan Tuhan akan kemalasan kita dan meminta kepada Tuhan agar memberikan hati dan jiwa yang haus kepada Tuhan. Roma 7:21 mengatakan, ’Jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku.’ Bukankah kita merasakan betapa sulitnya untuk berdoa sekalipun keinginan untuk berdoa selalu ada? Jadi, mintalah kepada Tuhan agar cinta untuk rumah dan hadiratNya menghanguskan kita. Pahamilah prinsip kebenaran tentang ’Rumahku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.’ Yesus memberikan pernyataan ini ketika Dia sedang menunggang-balikkan segala kesibukan yang ada di rumah Tuhan. Kesibukan dalam kehidupan telah membuat kita mengabaikan doa. Kita kehilangan poin penting dari kehidupan kekristenan, dan menempatkannya pada urutan kesekian. Sadarilah bahwa doa menjadi basis utama dari segala berkat-berkat Tuhan yang telah disediakanNya.
Bill Gates adalah seorang yang sukses dalam bidang IT dengan produk software Microsoft yang telah mendunia. Suatu saat dia dan isterinya diwawancarai oleh majalah Time, salah satu pertanyaannya “Mengapa anda memutuskan untuk member begitu banyak dari keuntungan bisnis anda kepada kepentingan dunia?” Jawabnya “Sangat jelas bagi kami bahwa kami tidak pernah berpikir untuk memberikan keuntungan ini bagi anak-anak kami sendiri. Ketika kami mulai melihat adanya ketidakadilan yang besar di dunia ini, kami yakin dapat membantu kehidupan manusia melalui peningkatan kesehatan. [ Majalah Time 7 November 2005 ]. Bill Gates telah menabur kebaikan dalam hidupnya. Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena prinsip yang Tuhan ajarkan adalah bertolong-tolonganlah untuk saling menanggung beban. Karena dengan demikian maka kita akan memenuhi hokum Kristus. Jangan pakai waktu kita untuk menabur dalam daging dengan melakukan perbuatan-perbuatan tercela dan bertentangan dengan Firman Tuhan yang akan menuai kebinasaan. Mereka yang menabur dalam Roh dengan melakukan perbuatan terpuji dan menabur kebaikan akan menuai hidup yang kekal. Janganlah kita mempermainkan waktu singkat yang kita miliki karena apa yang kita tabur akan kita tuai. Marilah kita menguji diri kita sendiri apakah kita sudah termasuk golongan orang yang menabur kebaikan. Kita tidak harus seperti Bill Gates, kita bias berbuat sesuatu di tengah keterbatasan kita untuk kebaikan banyak orang, walaupun yang kita lakukan hanya sesuatu yang sederhana, karena kebaikan tidak hanya berbentuk materi. Banyak orang sekitar kita membutuhkan perhatian dan bantuan kita, apakah kita sudah meresponinya? Ingatlah dengan menabur kebaikan akan berdampak membawa jiwa-jiwa kepada keselamatan dalam Kristus Yesus.
“…aku ki kurang sabar piye to jeng? Wes puluhan tahun dikecewak’ke, disakiti atiku….tak ampuni terus..,nek wong liyo mesti wes ora tahan ngadepi wong koyo de’en, tapi nek ngene terus, opo yo aku kudu sabar terus? Kudu ngampuni terus?, aku wes kesel… capek jeng, wes cukup kesabaranku, sabar kan yo ono bates’e to jeng…” Demikian curhatan seorang ibu kepada temannya dalam menghadapi suamianya. Mungkin kita pernah mengalami saat-saat seperti itu, jenuh dan capek ketika harus terus menerus bersabar dan mengampuni anggota keluarga ataupun teman yang tak henti-hentinya menguji kesabaran kita. Sebagai manusia yang tidak sempurna, naluri dan kedagingan kita tentu tidak selamanya terkontrol. Ada kalanya emosi kita terpancing untuk membalas setiap ketidak adilan yang kita terima. Ketika kita hanya memikirkan kedagingan, maka sudah pasti amarah, dendam dan membalas ketidak adilan menjadi hal yang wajar dilakukan, mengingat manusia tidak memiliki kekuatan untuk bisa bersabar dan mengampuni. Dan kata-kata “kesabaran ada batasnya, karena manusia lemah” menjadi permakluman bagi kita. Itulah standart kita, manusia yang penuh kelemahan. Tapi ternyata bukan itu yang diinginkan Tuhan dari umatNya. Dia ingin kita memiliki standart yang sama dengan Nya dalam hal mengampuni. Dalam Matius 18:21-22, Petrus mengajukan standart tujuh kali dalam mengampuni seseorang, tapi Tuhan Yesus menginginkan kita mengampuni seseorang tujuh puluh kali tujuh. Bukan hanya sampai disitu, bahkan Tuhan Yesus mengatakan bahwa Bapa di Sorga tidak akan mengampuni kita, apabila kita tidak mengampuni orang lain dengan segenap hati. Artinya selama manusia masih mempunyai hati, selama itu pula dia harus mengampuni sampai kedasar hati, sampai segenap hati. Artinya tidak ada celah untuk tidak mengampuni kepada siapapun. Wow…..berat sekali standart yang ditetapkan Tuhan buat kita, rasanya terlalu tinggi buat manusia yang sangat lemah ini. Tapi bagi Tuhan tidak ada hal yang mustahil. Roh kuduslah yang akan terus menerus mengingatkan kita untuk berusaha mencapai standart tinggi itu. Roh kudus yang akan selalu mengajar kita menghadapi ujian kesabaran yang serasa tak ada habisnya, sampai kita bisa memenuhi standart yang diberikan Tuhan bagi kita.
Suatu hari sebuah status facebook seorang teman yang dikenal sebagai pribadi yang sederhana membuat mata terbelalak. Kira-kira begini bunyinya, ’Wah, aku bingung mau BERHEMAT bagaimana lagi. UANG JAJAN ANAK dari 7 JETI SEMINGGU sudah kupangkas jadi separuhnya! Tapi kepala masih saja nyut-nyutan dengan GAJI MEPET seperti ini.’ Dan status itu ramai menuai komentar dari mana-mana. Ada yang memuji-muji keberuntungannya yang bagi sebagian orang bagaikan mimpi. Ada juga yang mengecam keluhannya sebagai kamuflase untuk mewartakan ke’tajiran’nya. Sampai akhirnya si pemilik status menyatakan bahwa itu hanya status main-main. Ternyata dia sedang mengikuti tantangan membuat status ’humblebrags’. Meninggikan diri dengan kemasan kalimat yang ’merendah’, itulah humblebrags. Saking seringnya menjumpai model yang seperti ini, sampai-sampai ada yang mendapat ide untuk melombakannya sebagai guyonan satire. Di pasar, di perkumpulan RT, di arena olah raga, di layar televisi, di lingkungan sekolah, di tempat kerja ... di mana ada orang berkumpul, di situ kita temui humblebrags. Ruang lingkup rohani pun tidak luput dari hal ini. Hati-hati dengan motivasi di balik setiap hal yang kita sampaikan. Baik lisan maupun tulisan. Sharing hal-hal rohani pun sangat bisa terpeleset menjadi ajang untuk mendulang pujian bagi diri sendiri. Ketika unsur SAYA menjadi dominan dan menggeser supremasi TUHAN ... berhati-hatilah.Jangan bosan berguru kepada Tuhan Yesus Kristus untuk belajar menjadi rendah hati. Selalu ingat untuk berhati-hati. Tuhan tidak menyukai kecongkakan dan tinggi hati. Dua hal yang menjadi jaminan bagi perilaku congkak dan tinggi hati adalah kehancuran dan kejatuhan. Tentu saja kita ingin menjauhinya keduanya.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Berdoalah
24 Januari '18
Sempat Meragukan Kristus
15 Februari '18
Hidup Menurut Roh Vs Menurut Daging
02 Februari '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang