SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 20 April 2018   -HARI INI-
  Kamis, 19 April 2018
  Rabu, 18 April 2018
  Selasa, 17 April 2018
  Senin, 16 April 2018
  Minggu, 15 April 2018
  Sabtu, 14 April 2018
POKOK RENUNGAN
Betapa indahnya kelihatan dari puncak bukit-bukit kedatangan pembawa berita, yang mengabarkan berita damai dan memberitakan kabar baik, yang mengabarkan berita selamat dan berkata kepada Sion: ’Allahmu itu Raja! [Yesaya 52:7]
DITULIS OLEH
Pnt. Andreas Haryanto
Penatua
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Persiapkan Jalan Bagi Sang Raja
Persiapkan Jalan Bagi Sang Raja
Sabtu, 16 Desember 2017
Persiapkan Jalan Bagi Sang Raja
Markus 1:2-5

Ketika raja Salman dari Arab Saudi akan mengunjungi negara lain, maka utusan kerajaan akan berangkat lebih dahulu ke negara tujuan beberapa hari sebelumnya. Mereka membawa berbagai peralatan untuk kenyamanan raja ketika berkunjung. Jumlah peralatan dan personilnya cukup besar sehingga harus menggunakan sebuah pesawat terbang jumbo. Mereka menyiapkan sarana yang akan dipakai oleh raja mulai turun dari pesawat sampai seluruh kebutuhan raja. Mereka berkoordinasi dengan pihak keamanan setempat untuk menjaga keamanan raja dan rombongannya. Mempersiapkan makanan kesukaan raja yang akan disantap selama perjalanan. Selama perjalanan kunjungan harus tercipta suasana yang menyenangkan hati raja.

Yohanes Pembaptis adalah utusan Allah untuk mempersiapkan kedatangan Sang Mesias, Raja Damai. Ia berseru-seru di padang gurun, “Persiapkan jalan bagi Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya; Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu.” Banyak orang dari seluruh daerah Yudea dan Yerusalem bertobat dan sambil mengaku dosanya dibaptis di sungai Yordan.

Beberapa hari lagi kita akan memperingati lahirnya Sang...selengkapnya »
Pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu. Hari pertama dimulai hari Sabtu sore, Markus tampaknya menunjukkan bahwa para wanita itu selesai membeli rempah-rempah pada malam sebelumnya, dan datang ke kubur Yesus pada pagi hari sebelum ada orang lain di sana [Markus 16:1,2]. Pagi itu para perempuan melihat fakta batu penutup kubur telah terguling, bahkan mereka terkejut ketika melihat mayat Yesus sudah tidak ada. [Lukas 24:2,3]. Saat mereka termangu-mangu, tiba-tiba datang dua orang berdiri dekat mereka memakai pakaian berkilau-kilau. Kedua orang itu membawa kabar yang melebihi pemikiran perempuan-perempuan itu, bahwa Yesus telah bangkit dan mendahului mereka ke Galilea [Lukas 24:4-7]. Respon luar biasa perempuan-perempuan itu, mereka lari memberitakan semua itu kepada teman-temannya. Kebangkitan Kristus yang kita rayakan pada hari Paskah, memberi kita sukacita karena kemenangan iman itu terbukti. Seperti para perempuan itu setelah melihat fakta kubur kosong, mereka semakian percaya apa yang dijanjikanNya, ’...Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari.’ [Markus 8:31]. Yesus telah bangkit dari kematianNya!. Hebatnya, kuasa kebangkitanNya itu didahului oleh tanda-tanda yang ajaib: terjadi gempa bumi yang dahsyat dan turunnya malaikat dari langit yang wajahnya bagaikan kilat dengan pakaian putih seperti salju [Matius 28:1-3]. KuburNya yang kosong membuktikan kuasaNya sangat hebat dan dahsyat. Maka dari itu setiap orang percaya tidak perlu takut dan ragu dalam mengiring Kristus. KebangkitanNya benar-benar memberi keyakinan dan kepastian akan jaminan keselamatan kekal bagi kita. Mari, jangan sia-siakan keselamatan yang telah kita terima ini karena keselamatan kekal itu hanya ada di dalam Yesus. Sangat memprihatinkan jika ada orang percaya yang rela meninggalkan iman Kristus demi mendapatkan pasangan hidup, jabatan atau kemewahan dunia ini. Rasul Paulus mengatakan,’Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.’ [1 Korintus 15:14]. Kristus telah bangkit! Tidak seharusnya kita menjalani hidup ini dengan ketakutan dan keraguan. Sebaliknya, mari kita tatap masa depan dengan kepala tegak karena kita memiliki Tuhan yang hidup. Beritakanlah kabar kesukaan ini kepada dunia!
Mengalami Tuhan yang bangkit Yohanes 20:24-29 Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: ’Kami telah melihat Tuhan!’ Tetapi Tomas berkata kepada mereka: ’Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.’ [ayat 25] Tomas tidak percaya bahwa Tuhan Yesus bangkit dan hidup. Sebelumnya murid-murid yang lain telah berjumpa dengan Yesus yang bangkit, tetapi waktu itu Tomas tidak ada bersama mereka. Tomas tidak mengalami Tuhan yang bangkit karena dia tidak ikut berkumpul bersama murid-murid yang lain. Tomas termasuk tipe orang yang sulit percaya sebelum melihat bukti. Dia menuntut bukti kebangkitan Yesus dengan cara meraba atau menyentuh dengan tangannya sendiri tubuh Yesus yang bangkit. Lalu Yesus menampakkan diri dan mempersilahkan Tomas mencucukkan jarinya ke dalam lobang bekas paku dan mencucukkan tangannya ke dalam lambung-Nya. Apa yang bisa kita pelajari dari peristiwa ini? Pertama, bahwa Tuhan Yesus yang bangkit itu adalah pribadi yang riil, nyata. Dia bukan sekedar ada dalam cerita atau dalam angan-angan para murid. Dia hadir secara nyata di tengah murid-murid-Nya. Dia menyatakan bahwa Dia tetap hidup dan berkuasa, seperti sebelum Dia mati di kayu salib. Dia juga tetap hidup sampai hari ini. Kita bisa mengalami kehadiran-Nya secara nyata pula. Kedua, Tuhan Yesus menyatakan diri-Nya di tengah persekutuan murid-murid-Nya, ketika mereka sedang berdoa bersama. Tomas ketinggalan menyaksikan Tuhan karena dia tidak ikut persekutuan mereka. Di sini kita melihat betapa pentingnya persekutuan orang percaya atau ibadah bersama. Tuhan Yesus hadir dan menyapa umat-Nya yang bersatu hati di dalam doa, sebab Dia sendiri pernah berkata: ’Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.’ [Matius 18:20]. Marilah kita merindukan kehadiran Tuhan yang bangkit di dalam hidup kita. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
Seorang guru bijak mendatangi muridnya yang tampak murung. ’Kenapa kau murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini?’ sang guru bertanya. ’Guru hidupku penuh masalah. Sulit bagiku untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya.’ jawab sang murid. Sang guru tersenyum. ’Nak, ambillah segelas air dan dua genggam garam, bawalah kemari.’ Si muridpun beranjak pelan tanpa semangat, mengambil gelas dan garam yang diminta gurunya. ’Coba ambil segenggam garam dan masukkan ke gelas air itu’, kata gurunya. ’Sekarang kau minum airnya sedikit.’ Si muridpun melakukannya. Wajahnya meringis karena minum air asin. ’Bagaimana rasanya?’ tanya sang guru. ’Asin sekali dan perutku jadi mual.’ jawab sang murid. ’Sekarang kau ikut aku.’ Sang guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat pondokan mereka. ’Ambil garam yang tersisa dan tebarkan ke danau.’ Si murid menebar garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. ’Sekarang coba kau minum air danau itu.’ kata sang guru. Si murid menangkupkan kedua tangannya mengambil air danau, dan membawa ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di kerongkongannya, sang guru bertanya kepadanya. ’Bagaimana rasanya?’ ’Segar sekali.’ kata si murid. ’Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?’ ’Tidak sama sekali’ kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang guru hanya tersenyum memperhatikannya membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas. ’Nak.’ kata sang guru setelah muridnya selesai minum. ’Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah diketahui oleh Tuhan, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia inipun demikian. Tidak ada satupun manusia, walau dia seorang nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah. Rasa ’asin’ dari penderitaan yang kita alami itu sangat tergantung dari besarnya hati yang menampungnya. Jadi nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan hati dalam dadamu itu sebesar danau.’ Si murid terdiam mendengarkan. Milikilah hati yang lapang, hati yang penuh dengan ucapan syukur dan yang sanggup menampung setiap perkara yang terjadi dalam hidup kita.
Pengorbanan yang tidak sia-sia 1 Korintus 15:17 dan 20 [17] Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu. [20] Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. Ketika kita menyaksikan film tentang penderitaan Yesus, kita bisa membayangkan betapa beratnya penderitaan yang dialami oleh Yesus. Kita merasa ngeri, walaupun hanya menyaksikan adegan di film. Apalagi kejadian yang sesungguhnya, tak terbayangkan peristiwa yang sangat mengerikan itu. Namun ada yang lebih mengerikan lagi...... Andaikan semua penderitaan yang sudah dijalani oleh Yesus itu ternyata hanya sesuatu yang percuma saja. Apa jadinya jika penderitaan yang seberat itu hanya berujung pada kematian yang mengenaskan dan ternyata tidak membuahkan hasil apa-apa? Ahhh, tak bisa dibayangkan..... Tetapi puji syukur kepada Allah Bapa yang adil dan benar, yang berkuasa di bumi dan di Sorga. DIA tidak membiarkan penderitaan dan kematian Putera-Nya itu berakhir dengan sia-sia. Sesudah kematian ada kebangkitan. Akhir hidup Yesus di dunia ini tidak berakhir dengan kematian yang memilukan, tetapi dengan kemenangan besar yang berupa kebangkitan dari antara orang mati. Kuasa dosa dan maut ditaklukkan. Manusia yang ditawan oleh belenggu dosa dibebaskan supaya menjadi umat Allah yang merdeka. Haleluya. Pengorbanan Yesus tidak sia-sia. Penderitaan yang sedemikian berat telah terbayarkan oleh kemenangan dan jiwa-jiwa yang diselamatkan. Oleh karena itu kita mempunyai dasar iman yang kokoh dan pengharapan yang pasti akan hidup kekal yang sudah disediakan bagi yang percaya kepada Dia. Dan kita mempunyai alasan yang tak terbantahkan untuk bersaksi bahwa di dalam Kristus ada jaminan keselamatan. Saudaraku, keselamatan yang sudah kita terima oleh percaya kepada Kristus adalah hasil dari sebuah pengorbanan yang teramat besar. Oleh karena itu marilah kita menjalani hidup kita dengan penuh rasa syukur kepada Tuhan dan menyaksikan kebangkitan-Nya. Selamat Paskah. Pdt. Goenawan Susanto
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Tetap Semangat
03 April '18
Keberadaan Sebagai Anak-Anak Allah
17 April '18
Jadilah Sahabat Yang Jadi Berkat
21 Maret '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang