SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 21 Januari 2018   -HARI INI-
  Sabtu, 20 Januari 2018
  Jumat, 19 Januari 2018
  Kamis, 18 Januari 2018
  Rabu, 17 Januari 2018
  Selasa, 16 Januari 2018
  Senin, 15 Januari 2018
POKOK RENUNGAN
Betapa indahnya kelihatan dari puncak bukit-bukit kedatangan pembawa berita, yang mengabarkan berita damai dan memberitakan kabar baik, yang mengabarkan berita selamat dan berkata kepada Sion: ’Allahmu itu Raja! [Yesaya 52:7]
DITULIS OLEH
Pnt. Andreas Haryanto
Penatua
Renungan Lain oleh Penulis:
  Tekun1
Home  »  Renungan  »  Persiapkan Jalan Bagi Sang Raja
Persiapkan Jalan Bagi Sang Raja
Sabtu, 16 Desember 2017
Persiapkan Jalan Bagi Sang Raja
Markus 1:2-5

Ketika raja Salman dari Arab Saudi akan mengunjungi negara lain, maka utusan kerajaan akan berangkat lebih dahulu ke negara tujuan beberapa hari sebelumnya. Mereka membawa berbagai peralatan untuk kenyamanan raja ketika berkunjung. Jumlah peralatan dan personilnya cukup besar sehingga harus menggunakan sebuah pesawat terbang jumbo. Mereka menyiapkan sarana yang akan dipakai oleh raja mulai turun dari pesawat sampai seluruh kebutuhan raja. Mereka berkoordinasi dengan pihak keamanan setempat untuk menjaga keamanan raja dan rombongannya. Mempersiapkan makanan kesukaan raja yang akan disantap selama perjalanan. Selama perjalanan kunjungan harus tercipta suasana yang menyenangkan hati raja.

Yohanes Pembaptis adalah utusan Allah untuk mempersiapkan kedatangan Sang Mesias, Raja Damai. Ia berseru-seru di padang gurun, “Persiapkan jalan bagi Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya; Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu.” Banyak orang dari seluruh daerah Yudea dan Yerusalem bertobat dan sambil mengaku dosanya dibaptis di sungai Yordan.

Beberapa hari lagi kita akan memperingati lahirnya Sang...selengkapnya »
Langkah awal adalah langkah yang sangat menentukan. Dalam sebuah pertandingan olah raga, langkah awal/start sangat menentukan. Langkah awal yang salah akan berakibat fatal. Langkah awal yang benarakan memampukan kita menyelesaikan pertandingan dengan baik bahkan meraih kemenangan. Langkah awal apa yang kita ambil menghadapi tahun2018 yang terbentang di depan kita? Sungai Yordan yang dalam dan lebar [keadaan pada waktu itu] ada di depan Yosua ketika ia memimpin umat Israel berkalan menuju tanah perjanjian. Bagaimana cara menyeberangkan umat Israel? Langkah awal apa yang Yosua lakukan menghadapi sungai Yordan yang terbentang di depan mereka? Langkah awal Yosua adalah mengikuti petunjuk Firman Tuhan, mengajak umat Tuhan mengkuduskan diri dan percaya bahwa Tuhan akan melakukan perbuatan ajaib. Langkah awal Yosua selanjutnya diikuti oleh langkah awal para Imam, langkah iman, mereka mengangkat tabut perjanjian dan mencelupkan kaki mereka ke dalam air, wow...mujizat terjadi. Sungai Yordan sebak, berhentilah air itu mengalir lalu menyeberanglah bangsa itu. Tahun 2018 mungkin merupakan bentangan waktu dengan banyak masalah, tantangan dan kesulitan yang mustahil untuk diselesaikan. Mari kita berani ambil langkah awal sesuai petunjuk Firman Tuhan, kita melangkah ke depan dengan langkah iman. Jangan berdiam diri meratapi kesulitan. Mari kita mulai bangkit dan mulai melangkah. Langkah awal dengan ketaatan dan iman akan menghasilkan mujizat demi mujizat Tuhan.
Berlutut di hadapan Tuhan tidaklah hanya berbicara tentang sikap doa, tetapi juga sikap hati di mana kita mencari Tuhan. Doa adalah hal yang dapat dilakukan oleh siapapun juga, dan mengandung kuasa yang besar. Charles Stanley dalam bukunya ’Landmines in The Path of the Believer’ [Ranjau yang tersembunyi di balik jalan orang percaya] menyatakan, ’Kita berdiri makin tinggi dan kuat di atas lutut kita.’ Buku tersebut menceritakan tentang keadaan di mana dia mengalami saat-saat yang begitu gelap dan putus asa, dia terbangun di tengah malam dan duduk di sisi tempat tidurnya dan berdoa. Ia menyerukan seluruh persoalannya kepada Tuhan, dan kemudian meminta Tuhan menolong dia untuk dapat tidur kembali. Pada saat ia terombang-ambing dan putus asa, dia belajar satu hal yang sangat penting yaitu, ’Jika saya tetap fokus pada Tuhan, saya akan memperoleh pertolongan, kekuatan dan kemenangan untuk melewatinya, sekalipun dunia di sekeliling saya nampaknya akan runtuh’. Doa akan menolong kita fokus pada Tuhan. Malas berdoa membuat kita terfokus pada keadaan kita. Seperti yang Yesus nyatakan, ’Berjaga-jagalah dan berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan. Roh memang penurut tetapi daging lemah.’ Kekuatan kita terletak di dalam doa, tetapi banyak kali kita mengabaikan doa. Kita memiliki banyak waktu untuk mendengar khotbah-khotbah, seminar-seminar, bahkan kesaksian-kesaksian tentang pentingnya doa. Namun kita tidak memiliki waktu untuk dapat berdoa. Bila kita menabung waktu dalam doa, maka kita sedang menanamkan kuasa yang besar dalam hidup ini. Sesungguhnya yang menjadi persoalan bagi orang percaya bukanlah karena kekurangan pengetahuan tentang doa, tetapi karena sikap malas berdoa. Bagaimana kita dapat membuang sikap malas berdoa? Dengan mengaku di hadapan Tuhan akan kemalasan kita dan meminta kepada Tuhan agar memberikan hati dan jiwa yang haus kepada Tuhan. Kesibukan dalam kehidupan telah membuat kita mengabaikan doa. Kita kehilangan poin penting dari kehidupan kekristenan, dan menempatkannya pada urutan ke sekian. Sadarilah bahwa doa menjadi basis utama dan segala berkat-berkat Tuhan yang telah disediakan-Nya.
Pesta akhir tahun seakan menjadi puncak dari segala sukacita setelah 365 hari melewati kehidupan yang penuh dengan lika-liku. Rasa puas, lega, bahagia tertumpah di akhir tahun itu, beriringan dengan doa-doa yang dipanjatkan di detik-detik akhir ataupun sorak-sorai yang gegap gempita menyambut datangnya hari yang baru di tahun yang baru. Seiring dengan berakhirnya pesta akhir tahun, munculah tanda tanya besar, bagaimana dengan tahun yang akan datang? Apakah yang akan terjadi, apakah usaha dan pekerjaan bisa berjalan seperti tahun yang lalu? Apakah kesehatan akan menjadi lebih baik ataukah memburuk? Bagaimana dengan situasi politik, keamanan negara dan bangsa? Bagaimana dengan keluarga, studi anak-anak? Bayangan pertanyaan-pertanyaan itu akan dengan mudah membuat nyali kita menciut ketika kita tahu bahwa semakin hari hidup tidak semakin mudah. Tantangan, masalah, dan persoalan sudah pasti akan menghadang langkah-langkah kita. Demikian juga ketika Tuhan memanggil Abram untuk pergi dari tanah kelahirannya menuju ke negeri yang dijanjikan Tuhan. Abram tidak mengetahui tujuan pastinya, bagaimana keadaan negeri tersebut, berapa lama harus melakukan perjalanan, bagaimana dengan keamanan dalam perjalanan, dll. Yang dilakukan Abram ialah percaya kepada Tuhan karena Abram mengenal siapa yang menyuruhnya pergi. Abram percaya bahwa Tuhan yang “dipercaya”nya tidak akan meninggalkan, tidak akan menelantarkan, dan tidak akan menjerumuskannya. Belajar dari Abram dalam menempuh perjalanan menuju ke negeri yang dijanjikan Tuhan, kita bisa meneladani apa yang dilakukan Abram kepada Tuhan. Percaya saja, Dia pasti akan menuntun kita menempuh perjalanan di tahun yang baru ini. Dia tidak akan meninggalkan kita begitu saja, tapi akan terus menyertai. Dia menyediakan yang kita perlukan. Apa yang kita butuhkan dalam menjalani hari-hari yang akan datang? Rasa aman? Kekuatan? Penghiburan? Hikmat? Semua akan diberikan bagi kita. Mendirikan mezbah dan memanggil nama Tuhan, itu yang dilakukan Abram selama dia melakukan perjalanan ke negeri yang dijanjikan Tuhan [ayat 7-8]. Kita bisa meneladani apa yang dilakukan Abram supaya perjalanan kita melewati tahun 2018 inipun dapat kita jalani dengan berhasil. Jangan takut, jangan menjadi tawar hati untuk memulai langkah di tahun yang baru ini, tapi percaya saja… Dia pasti menolong kita.
Dihargai dan dipulihkan Yesaya 43:1, 4a [1] Tetapi sekarang, beginilah firman TUHAN yang menciptakan engkau, hai Yakub, yang membentuk engkau, hai Israel: ’Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku. [4] Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, ..... Satu minggu kita sudah menjalani tahun 2018. Di depan kita ada hari-hari yang penuh ketidakpastian. Firman Tuhan di atas memberi kita kekuatan agar kita tidak takut menjalani hari-hari di depan kita. Bangsa Israel pernah mengalami hari-hari yang penuh kesulitan, oleh karena kesalahan mereka sendiri. Mereka meninggalkan Tuhan dan berpaling kepada illah-illah lain. Maka Tuhan menyerahkan mereka kepada bangsa lain yang menindas mereka. Yerusalem dikepung oleh tentara Babel dan akhirnya jatuh ke tangan bangsa asing itu. Mereka ditawan dan diangkut ke negeri Babel dan di sana dipekerjakan sebagai budak. Dalam kondisi itu harga diri mereka terinjak-injak. Mereka dipermalukan dan dihina. ’Katanya punya Allah yang perkasa, kok kalah? Katanya umat pilihan dari segala bangsa, kok malah jadi budak?’ Mereka menjadi bangsa yang kehilangan harga diri. Martabat mereka direndahkan. Suatu penderitaan yang sangat memedihkan hati dialami oleh umat Allah. Allah mengutus nabi Yesaya untuk menyampaikan berita tentang kelepasan dan pemulihan. ’Biarpun harga dirimu telah jatuh, dan engkau merasa dirimu tak berharga, tetapi engkau tetap milik-Ku. Engkau tetap berharga dimataKu,’ kata Firman Tuhan. Bagi saudara yang merasa terhina, yang merasa harga dirinya sedang terinjak-injak, Tuhan sedang berbicara kepada saudara, bahwa engkau berharga di mata-Nya. Tuhan akan memulihkan keadaanmu. Jika engkau menyerahkan hidupmu kepada-Nya, Dia akan mengangkat engkau, sehingga engkau tidak akan lagi dipermalukan. Bacalah Yesaya 49:7, ’Beginilah firman TUHAN, Penebus Israel, Allahnya yang Mahakudus, kepada dia yang dihinakan orang, kepada dia yang dijijikkan bangsa-bangsa, kepada hamba penguasa-penguasa: ’Raja-raja akan melihat perbuatan-Ku, lalu bangkit memberi hormat, dan pembesar-pembesar akan sujud menyembah, oleh karena TUHAN yang setia oleh karena Yang Mahakudus, Allah Israel, yang memilih engkau.’ Pdt. Goenawan Susanto
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Lahir Untuk Peduli
06 Januari '18
Siap Menyambut KedatanganNya
21 Desember '17
Waspada Terhadap Pengaruh Gairah Zaman
19 Januari '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang