SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 22 Juni 2018   -HARI INI-
  Kamis, 21 Juni 2018
  Rabu, 20 Juni 2018
  Selasa, 19 Juni 2018
  Senin, 18 Juni 2018
  Minggu, 17 Juni 2018
  Sabtu, 16 Juni 2018
POKOK RENUNGAN
Janganlah kamu mendukakan Roh Kudus yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan. [Efesus 4:30]
DITULIS OLEH
Pdt. Laij Andreany
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Pribadi Roh Kudus
Pribadi Roh Kudus
Rabu, 23 Mei 2018
Pribadi Roh Kudus
Yohanes 14:16

Minggu lalu baru saja kita merayakan perayaan Hari Pentakosta. Kita kembali diingatkan/disadarkan betapa pentingnya Roh Kudus. Orang percaya perlu Roh Kudus dalam hidupnya. Roh Kudus memberi kekuatan dan kuasa untuk berani bersaksi tentang Kristus. Roh Kudus memberi kuasa untuk hidup berkemenangan. Dan Roh Kudus juga memberi kuasa-kuasa yang lainnya kepada orang percaya. Semuanya itu sangat benar. Sayangnya, ada orang yang beranggapan bahwa Roh Kudus sebatas kuasa saja, mereka mengejar kekuatan/kuasa, tetapi mereka lupa bahwa Roh Kudus adalah satu pribadi yang punya pikiran, perasaan dan kehendak. Mereka tidak merasa perlu bersekutu denga pribadi Roh Kudus itu sendiri.

Roh Kudus hadir sebagai Penolong yang menyertai orang percaya. Roh Kudus diutus sebagai penghibur dan mengajarkan segala sesuatu kepada orang percaya. Sekali lagi, Roh Kudus bukan sekedar kekuatan, bukan pula sekedar kuasa ataupun energi. Tetapi Roh Kudus adalah satu pribadi. Seperti Yesus Kristus menyertai murid-murid-Nya selama kurang lebih tiga setengah tahun di bumi demikian pula Roh Kudus menyertai orang percaya selama-lamanya.

Sebagai satu prib...selengkapnya »
Setelah cukup beristirahat dan melepas rindu dengan keluarga terdekat. Benay segera menyambangi Sambey, sahabatnya. Di halaman depan gereja mereka berjanji untuk bertemu. Sambey sudah tak sabar menunggu kedatangan Benay yang sangat dirindukannya itu. Begitu dilihatnya Benay turun dari angkot orange di seberang jalan, segera ia berteriak keras, “Bennn....Benaaaaaay!” “Sambeeeeey....!” teriak Benay membalas. Begitu jalanan sepi, Benay segera berlari mendapatkan Sambey. Dua sahabat kental ini segera berpelukan sangat erat dan bertangis-tangisan. “Ben...Ben...aku kira kamu sudah mati di Iraq”, ucap Sambey sambil sesenggukan. “Gak Sam, aku masih hidup. Tuhan melindungi aku dari segala marabahaya, bahkan dari bom sekalipun.” Pertemuan dua sahabat ini tidak hanya menarik perhatian jemaat yang menanti ibadah pentakosta. Mereka keluar dan turut merayakan kedatangan Benay. Beberapa jemaat tak kuasa menahan tangis haru dan terduduk lemas karena tak menyangka bisa melihat Benay kembali. Terlebih Sambey, energi dan emosinya terkuras habis. Namun ada sukacita tak terkira yang menguasai hati Sambey dan Benay. Hingga mereka tak menyadari jika sudah berangkulan cukup lama. Jemaat yang terkasih. Perjumpaan saling merindukan antara Sambey dan Benay di atas memberikan gambaran kepada kita akan kerinduan Tuhan untuk berjumpa dan menyertai kita setiap hari melalui Roh Kudus. Kerinduan Tuhan itu penting untuk kita respon dengan kerinduan yang sama, yaitu rindu dipenuhi dan dipimpin oleh Roh Kudus. Untuk dapat mempunyai kerinduan tersebut, pertama, kita perlu menyadari bahwa pimpinan Roh Kudus adalah kebutuhan kita yang sangat penting. Tanpa Roh Kudus hidup rohani kita akan mandul karena tak mempunyai kuasa untuk melawan keinginan daging [Roma 8:2-9]. Kedua, Tuhan tidak eman-eman untuk memenuhi kita dengan Roh Kudus. Jika kita memintanya—dalam doa—maka Tuhan akan memberikan Roh Kudus untuk memenuhi dan memimpin hidup kita. Jika ini terjadi maka terjadilah perjumpaan saling merindukan antara kita dan Roh Kudus. Perjumpaan itu pastilah diliputi dengan sukacita dan kekuatan. Jemaat yang dikasihi Tuhan. Kebutuhaan kita akan berkat-berkat Tuhan secara materi tidak akan lebih penting dibandingkan kebutuhan kita akan Roh Kudus. Oleh sebab itu, milikilah kerinduan yang terdalam dan mintalah pada Tuhan agar hidup kita dipenuhi dan dipimpin Roh Kudus. Maka Tuhan akan mengabulkan permintaan kita dengan memberi yang terbaik, yaitu Roh Kudus. Bukalah hati, berdoalah dan sambutlah kehadiran Roh Kudus dalam hidup kita. Selamat berjumpa dengan Roh Kudus setiap hari. Selamat menikmati pimpinan-Nya. Terpujilah Tuhan!
Balai Pertemuan yang berwujud sebuah rumah adat panggung di suatu Perkampungan Raja siang itu cukup padat. Rombongan kami terdiri dari 6 orang awam dan 4 orang kru sebuah majalah. Ditambah penduduk yang hadir, tak banyak tempat yang lowong di bagian depan rumah panggung itu. Siang itu dilangsungkan ritual penyambutan tamu sesuai adat sebuah pulau kecil yang terletak di Nusa Tenggara Timur. Di antara sekian banyak hal yang menarik perhatian kami, terselip sebuah penuturan yang membuat saya terpana. Meskipun hampir seluruh penduduk Perkampungan Raja percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, untuk mengambil keputusan-keputusan penting tetaplah harus melalui ’terawangan’. Untuk itu, seekor binatang berupa ayam atau babi harus disembelih. Kemudian satu ’orang pintar’ akan ’membaca’ usus binatang sembelihan dan menetapkan keputusan yang harus dibuat. Kalau hal ini dilanggar, mereka meyakini bahwa tulah pasti datang menghampiri. Ayat-ayat bacaan Alkitab hari ini mengingatkan umat Tuhan untuk terdidik dalam pokok iman dan ajaran sehat dalam Kristus Yesus [1 Timotius 4:6]. Baiklah kita menjauhi takhayul yang diwariskan turun-temurun dan melatih diri beribadah [ayat 7]. Iman Kristen dan takhayul adalah dua hal yang kontradiktif. Walaupun hal ini banyak terjadi di berbagai belahan dunia, tak dapat dielakkan bahwa belenggu takhayul akan menghambat pertumbuhan rohani. Bagaimana mungkin orang menaruh pengharapan sepenuhnya kepada Kristus kalau hidupnya masih tergantung pada ’terawangan’, ’pantangan’ dan bermacam-macam ’syarat’? Marilah kita semakin memahami pokok iman kita, bertumbuh dalam ajaran yang sehat dan menjauhi takhayul yang membelenggu hidup manusia. Tuhan beserta kita.
Tugas generasi kita Mazmur 78:6-7 supaya dikenal oleh angkatan yang kemudian, supaya anak-anak, yang akan lahir kelak, bangun dan menceritakannya kepada anak-anak mereka, supaya mereka menaruh kepercayaan kepada Allah dan tidak melupakan perbuatan-perbuatan Allah, tetapi memegang perintah-perintah-Nya; Saya pernah menemukan sebuah posting di medsos yang mengatakan bahwa kita yang lahir di tahun 1960-70-80an, adalah generasi yang paling beruntung. Karena kitalah generasi yg mengalami loncatan teknologi yang begitu mengejutkan di abad ini, dengan kondisi usia prima. Kitalah generasi dengan masa kecil bertubuh lebih sehat dari anak masa kini, karena lompat tali, loncat tinggi, petak umpet, gobak sodor, main kelereng, karetan adalah permainan yang tiap hari akrab dengan kita. Sekaligus saat ini mata dan jari kita tetap lincah memainkan berbagai game di gadget. Kitalah generasi terakhir yang pernah menikmati lancarnya jalan raya tanpa macet dimana-mana walaupun jalan belum diaspal. Juga bersepeda onthel / motor menikmati segarnya angin jalan raya tanpa helm di kepala. Kitalah generasi terakhir yang pernah menikmati jalan kaki berkilo meter tanpa perlu berpikir ada penculik yg membayangi kita. Kitalah generasi terakhir yang pernah begitu mengharapkan datangnya Pak Pos menyampaikan surat dari sahabat dan kekasih, namun dilain sisi kita juga bisa menikmati email bahkan membuat blog pribadi kita. Sebenarnya ada yang lebih lagi. Kita yang lahir di tahun-tahun 50-80an adalah generasi yang sangat beruntung secara rohani, karena kita mengalami masa-masa kebangunan rohani. Kita sempat menikmati KKR-KKR yang memberikan semangat rohani. Ada banyak bermunculan persekutuan-persekutuan doa yang membawa semangat pembaharuan bagi gereja-gereja yang saat itu mengalami kesuaman. Sebagian dari kita yang pernah menjadi pelajar atau mahasiswa pasti pernah diajak untuk bergabung dalam persekutuan doa di sekolah-sekolah atau kampus-kampus. Kita juga sempat menikmati kegerakan pujian dan penyembahan, dengan munculnya lagu-lagu pujian baru yang membawa semangat baru pula. Ada banyak orang yang mengalami pertobatan dan pembaharuan iman melalui kegerakan-kegerakan rohani itu. Dan hasilnya adalah orang-orang Kristen generasi sekarang ini. Pernahkah kita bertanya: Lalu apa? Apakah maksud Tuhan untuk generasi kita ini? Tuhan punya maksud untuk generasi kita, yaitu agar kita menjadi generasi yang mengenal Dia dengan benar. Agar kita mengenal Dia sebagai Allah yang dahsyat dan penuh kasih karunia. Namun bukan hanya sampai di situ saja. Kita punya tugas generasi, yaitu untuk menyampaikan pengenalan akan Allah itu kepada generasi selanjutnya. Agar generasi di bawah kita nantinya juga percaya kepada Allah dan mentaati perintah-perintah-Nya. Pdt. Goenawan Susanto
Kesatuan mendatangkan berkat Mazmur 133:1-3 Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya. Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya. Kita tahu bahwa kesatuan itu baik, indah, dan menyenangkan. Siapapun pasti menyukai yang baik, indah dan menyenangkan. Tapi mengapa sulit sekali untuk mwujudkan dan memelihara kesatuan? Kesatuan seringkali hanya sebatas wacana saja, tidak terwujud dalam tindakan nyata. Padahal Firman Tuhan berkata bahwa dimana ada kesatuan ke sana Tuhan memerintahkan berkat-berkat-Nya. Jika tidak ada kesatuan Tuhan tidak akan mendatangkan berkat-Nya. Apakah kita tidak suka diberkati Tuhan? Kita sering berpikir bahwa berkat Tuhan itu bersifat individual. ’Berkat untuk saya tidak ada hubungannya dengan berkat untuk orang lain.’ Padahal menurut Firman-Nya, berkat Tuhan itu tidak untuk seseorang saja, tapi untuk sekelompok orang, diberikan bersama-sama, atau dengan kata lain bersifat kolektif. Tuhan memberkati sebuah keluarga maupun gereja secara bersama-sama. Di Alkitab, janji berkat Tuhan itu bersifat kolektif. Sebagai contoh Kisah Para Rasul 2:39 mengatakan: ’Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita.’ Jika Tuhan memberkati sebuah keluarga, maka semua yang ada di keluarga itu ikut merasakan berkat Tuhan. Bahkan berkat Tuhan bisa berlaku untuk sebuah kota. Firman Tuhan berkata: ’Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.’ [Yeremia 29:7]. Jadi kita tidak boleh memikirkan kesejahteraan diri kita saja. Kalau kota kita mengalami kesulitan, kita yang tinggal di dalamnya juga akan mengalami kesulitan. Kalau kota kita sejahtera dan diberkati Tuhan, maka kita pun akan ikut merasakan kesejahteraannya. Marilah mulai sekarang kita berdoa dan mengerjakan segala sesuatu bukan untuk kepentingan diri kita masing-masing. Berdoalah dan usahakanlah kesejahteraan untuk keluarga, gereja dan kota kita. Peliharalah kesatuan, agar berkat Tuhan senantiasa mengalir bagi kita bersama. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Gagal Dan Berhasil
25 Mei '18
Bersaksi Seumur Hidup
24 Mei '18
Jangan Lupakan Doa
14 Juni '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang