SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 24 Januari 2020   -HARI INI-
  Kamis, 23 Januari 2020
  Rabu, 22 Januari 2020
  Selasa, 21 Januari 2020
  Senin, 20 Januari 2020
  Minggu, 19 Januari 2020
  Sabtu, 18 Januari 2020
POKOK RENUNGAN
Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia… [I Kor 10:13]
DITULIS OLEH
Pdm. Andreas T. Loso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Rencana Tuhan Terbaik
Rencana Tuhan Terbaik
Kamis, 19 Desember 2019
Rencana Tuhan Terbaik
Roma 8:28

Pak Samuel mengalami masalah besar dalam usia ke-7 pernikahannya. Dia beserta istri dan kedua anaknya di usir dari rumah yang mereka bangun bersama. Secara keuangan pak Samuel sudah tidak memiliki dana untuk mencari rumah. Jalan satu-satunya, dia hanya berdoa. Hanya dalam 1 minggu setelah berdoa, dia di pinjami rumah oleh seseorang selama 2 tahun. Pak Samuel mengalami kekecewaan besar dengan keluarga besarnya. Namun selama 2 tahun itulah pak Samuel sadar, bahwa peristiwa itu merupakan proses yang Allah lakukan bagi keluarganya. Karena setelah 2 tahun itu justru bisa memiliki mobil, rumah dan lainnya. Dia sadar jika masih tinggal bersama keluarga besarnya, tidak akan bisa memiliki semua tadi. Mengapa ? Karena rumah berpenghuni 3 KK itu sangat kecil.

Peristiwa di atas mengajar kita, bahwa selama kita hidup di dunia pasti tidak pernah lepas dari yang namanya proses. Sekalipun saat kita menjalankan proses tidak menyenangkan, bahkan saat proses terjadi kita sering bertanya kepada Tuhan, mengapa hal ini harus terjadi? Namun sebenarnya setiap proses yang diijinkan Tuhan itu bertujuan mendidik kita agar semakin dewasa, semakin bertumbuh dan dimurnikan di dalam Tuhan.
Semua ...selengkapnya »
Ketika saya masih usia anak-anak, pamanku kerja di Jakarta. Dia pulang ke Salatiga 1 tahun sekali. Kebiasaan pamanku saat akan pulang, selalu mengirim surat kepada orang tuaku. Peristiwa inilah yang aku nantikan. Karena kepulangan paman ke rumah berati akan membawa barang ataupun oleh-oleh buat aku. Orang tuaku menjadi sibuk ketika menjelang kedatangan paman. Kami membersihkan rumah dan kamar buat pamanku. Sukacita sangat terasa di keluargaku menjelang sampai kedatangan pamanku. Minggu ini kita dan gereja pada umumnya di sibukkan dengan riuhnya sukacita Natal. Hari kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu hari penyelamatan Allah yang dinubuatkan oleh nabi Zefanya: Allah berkenan memaafkan kesalahan umat-Nya dan berkenan tinggal di antara umat-Nya. Bersorak-sorailah, bersukacita dan beria-rialah dengan segenap hati sebab Tuhan ada di antara kita, kata nabi Zefanya. Lalu, apa yang harus kita persiapkan untuk menyambut kedatangan Yesus? Yohanes Pembaptis memberikan jawaban, yaitu Pertama, berlaku adil dan jujur sesuai dengan tugas dan tanggung jawab kita, serta berbagi kelebihan kepada mereka yang berkekurangan [Lukas 3:10-18]. Selain kebaikan hati yang dinampakkan dalam perbuatan hidup sehari-hari, Ke dua, Rasul Paulus juga meminta kita untuk tetap mengandalkan Tuhan dan bersyukur selalu [Filipi 4:4-7]. Hal konkrit inilah yang mesti kita buat selama masa penantian. Inilah yang menjadi persiapan kita untuk menyambut Tuhan yang mau tinggal di antara kita. Saudara yang terkasih, janji keselamatan Allah yang dinubuatkan oleh nabi Zefanya terpenuhi dalam diri Yesus Kristus. Ketika bangsa Israel mendengar janji keselamatan ini, mereka begitu bahagia dan bersorak-sorai. Jika saja bangsa Israel yang menerima janji itu masih hidup hingga saat ini, tentu mereka akan sangat bergembira ria. Mendengar janji itu saja, mereka menjadi girang gembira, apalagi jika janji itu terpenuhi? Tentu kegirangan mereka akan berlipat-lipat. Betapa beruntungnya kita. Bangsa Israel menerima janji keselamatan itu, tetapi yang mengalaminya adalah kita. Allah tidak hanya tinggal di antara kita tetapi tinggal dalam diri kita secara pribadi, yaitu saat kita menerima komuni kudus. Karena itu kegembiraan dan sorak-sorai kita seharusnya melebihi bangsa Israel. Syukur kita seharusnya lebih hebat dari Israel. Dan apa yang dimintakan Yohanes Pembaptis dan Rasul Paulus untuk kita buat dalam menyambut Tuhan yang berkenan datang dan tinggal di antara kita, seharusnya kita buat dengan lebih sungguh-sungguh. Selamat mempersiapkan diri menyambut Natal.
Saya pernah memotong bambu dengan ukuran satu meter. Alat pengukur yang saya gunakan adalah “meteran” yang sudah lama saya beli dari toko besi. Pada saat saya mau memotong bambu satu meter lagi ternyata “meteran” yang akan saya pakai sebagai pengukur tidak saya temukan. Entah di mana, saya lupa meletakkan. Akhirnya saya menggunakan bambu satu meter yang sudah saya potong pertama sebagai alat pengukur. Alhasil potongan bambu berikutnya ternyata tidak tepat satu meter panjangnya. Mengapa? karena alat pengukur, yang bukan “meteran” itu bukanlah alat pengukur yang benar [standar]. Dalam Efesus 4:21 dikatakan bahwa,”... kita telah menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus,...”. Apa yang terjadi setelah menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran Yesus? Yang terjadi adalah kita diperbaharui roh dan pikiran kita [ay.23]. Ketika kebenaran Kristus, yaitu firman Tuhan Yesus, kita terima secara terus menerus, bukan sekali atau “sekali-kali”! maka firman kebenaran itu kita serap dengan iman maka terjadilah pembaharuaan roh dan pikiran kita. Maka segala perbuatan, perilaku, tingkah-laku, perkataan, yang kita munculkan dalam kehidupan sehari-hari adalah karakter Kristus yang telah ‘meresap’ masuk dalam hidup kita. Hidup kita menampilkan karakter Kristus, sehingga kita menjadi serupa dengan Yesus [2 Kor.3:18]. Hidup kita jadi benar seperti Yesus, karena ukuran kebenaran yang dipakai tepat yaitu kebenaran Kristus. Kebenaran Kristus yang ada pada kita menjadikan kita memiliki suatu ciri khas yaitu ciri khas sebagai murid Yesus, berkarakter Kristus. Bagaimana jelasnya? Ketika kita berkarakter Kristus maka kita akan melakukan seperti yang dikehendaki Kristus, yaitu “Kristus datang untuk melayani bukan dilayani, [Mrk. 10:45]. Murid Yesus memiliki ciri khas hidup melayani dan mengasihi seorang terhadap yang lain [1 Pet. 4:7-11]. Semua yang kita lakukan adalah kebenaran yang diimplementasikan dalam bentuk pelayanan pertama-tama kepada saudara seiman kemudian keluar kepada sesama manusia. Tampak sangat sederhana perintah Yesus bagi kita yaitu seorang terhadap yang lain harus mengasihi dan melayani dengan kata lain adalah perintah untuk saling mengasihi, sebagai perintah baru. Sebuah transformasi [perubahan] akan terjadi di mana-mana apabila prinsip saling mengasihi dan melayani itu dijalankan, di keluarga yang merupakan lembaga terkecil bahkan sampai pada tingkat organisasi terbesar yaitu suatu Negara akan terjadi perubahan. Mengapa demikian? karena dalam prinsip saling mengasihi dan melayani terjadi sebuah kegerakan yaitu semua melayani dan semua terlayani. Perubahan terjadi.
Natal, kelahiran Yesus Kristus di dunia adalah sebuah bentuk ketaatan Anak kepada Bapa-Nya. Allah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia dan menjadi sama dengan manusia, dalam rangka misi-Nya untuk menebus manusia dari dosa. Dia lahir di kandang ternak. Tidak memiliki tempat tinggal dan berkali-kali mendapat ancaman. Padahal dalam pelayanan-Nya banyak mujizat terjadi, orang lumpuh berjalan, buta melihat, tuli mendengar, mati dibangkitkan. Memberi kelegaan pada mereka yang letih lesu dan berbeban berat. Memberi makan kepada ribuan orang yang lapar. Dia tetap taat pada misi Allah ketika dipukul, diludahi, diberi mahkota duri, dicambuk dan sampai mati di kayu salib. Pada waktu malam saat gembala-gembala menjaga domba mereka di padang Efrata, datanglah sorang malaikat menemui mereka dan berkata :’Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa. Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” Mendengar berita yang disertai dengan sejumlah besar memuji Allah : “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia”, mereka cepat-cepat berangkat ke Betlehem. Mereka harus mengatasi kesulitan dan masalah bila berangkat, gelap gulita, menggiring domba-domba di tengah malam. Suatu perkerjaan yang sulit, tetapi mereka taat untuk berjumpa dengan Sang Juru Selamat. Saat ini Yesus tidak lahir di kandang Betlehem, tetapi di hati kita. Bila Sang Firman itu ada dalam hidup kita, seharusnya kita taat melakukannya, Banyak tantangan dan kesulitan yang kita hadapi waktu kita melakukan Firman Tuhan, tetapi kesulitan yang kita hadapi tidak sebanding dengan penderitaan dan pengorbanan Yesus dalam menaati misi Allah. Marilah kita teladani gembala-gembala di Efrata yang tidak menunda waktu untuk merespons Firman Tuhan. Natal mengingatkan kita akan sebuah ketaatan.
Kemarin, Hari ini dan Esok Tuhan Menolong 1 Samuel 7:12 Kemudian Samuel mengambil sebuah batu dan mendirikannya antara Mizpa dan Yesana; ia menamainya Eben-Haezer, katanya: ’Sampai di sini TUHAN menolong kita.’ Samuel mendirikan sebuah batu sebagai tugu peringatan bahwa sampai pada saat itu Tuhan sudah memberi pertolongan kepada bangsa Israel. Tugu peringatan itu berfungsi selain sebagai pengingat tentang apa yang sudah dialami pada masa lalu, tetapi juga penguat untuk menghadapi tantangan di hari esok. Ayat ini mengajarkan agar kita selalu mengingat pertolongan Tuhan. Jika kita mengingat akan pertolongan-Nya maka kita tidak akan mudah bimbang/ragu/takut dalam menghadapi kesulitan dan kesusahan di masa yang akan datang. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari, tetapi kita bisa mengingat apa yang Tuhan sudah kerjakan dalam hidup kita. Tuhan tetap sama. Tuhan yang kemarin pernah menolong kita adalah Tuhan yang berjanji akan menolong kita kembali. Janji-Nya tidak berubah. Bagaimana agar kita mengalami pertolongan Tuhan pada saat kita memerlukannya? Ayat 3 mengatakan: ’Jika kamu berbalik kepada TUHAN dengan segenap hati, maka jauhkanlah para allah asing dan para Asytoret dari tengah-tengahmu dan tujukan hatimu kepada TUHAN dan beribadahlah hanya kepada-Nya; maka Ia akan melepaskan kamu dari tangan orang Filistin.’ Berbalik kepada Tuhan dan beribadah kepada-Nya dengan segenap hati adalah langkah pertama agar kita mengalami pertolongan Tuhan. Biasanya kalau dalam kondisi terjepit orang baru sadar bahwa dia butuh Tuhan. Tuhan hanya sebagai tambal butuh. Tetapi Tuhan tahu siapakah orang yang mencari Dia dengan sungguh-sungguh atau pura-pura. Orang yang sungguh-sungguh pasti akan meninggalkan jalan hidupnya yang salah. Ada yang harus kita singkirkan ketika kita mau berbalik kepada Tuhan. Hal-hal yang tidak berkenan di hadapan-Nya harus kita singkirkan. Langkah yang kedua agar mengalami pertolongan Tuhan adalah dengan berseru kepada-Nya sampai datang pertolongan dari Tuhan. Ayat 8 mengatakan: Lalu kata orang Israel kepada Samuel: ’Janganlah berhenti berseru bagi kami kepada TUHAN, Allah kita, supaya Ia menyelamatkan kami dari tangan orang Filistin itu.’ Jangan berhenti berseru kepada Tuhan, itulah kuncinya. Ketika situasi menjadi genting, umat Tuhan tidak lari, tapi mereka berseru kepada Tuhan, sampai Tuhan menolong mereka. Banyak orang berdoa minta pertolongan Tuhan, tapi hanya sekedar saja. Setelah sekali dua kali, lalu berhenti, karena pengharapannya kepada Tuhan tidak sungguh-sungguh. Sebentar lagi kita akan memasuki tahun 2020. Jangan lupakan pertolongan Tuhan, beribadahlah hanya kepada Tuhan, dan bertekunlah dalam doa, agar kita selalu mengalami penyertaan dan pertolongan-Nya. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
FOLLOW OUR INSTAGRAM
RENUNGAN HARIAN
Selamat Datang 2020
01 Januari '20
Berpegang Pada PerintahNya
04 Januari '20
Eben Haezer1
27 Desember '19
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang