SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 20 April 2018   -HARI INI-
  Kamis, 19 April 2018
  Rabu, 18 April 2018
  Selasa, 17 April 2018
  Senin, 16 April 2018
  Minggu, 15 April 2018
  Sabtu, 14 April 2018
POKOK RENUNGAN
Jadikan Firman Tuhan sebagai bahan perenungan harian kita, bukan yang lain.
DITULIS OLEH
Ibu Rini Handoyo
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Renungan Harian
Renungan Harian
Senin, 11 Desember 2017
Renungan Harian
Yosua 1:8
Biasanya ketika seseorang menciptakan atau membuat sesuatu pada pertama kalinya tidak serta merta sempurna, pasti ada trial and error atau percobaan-percobaan dan ada kesalahan-kesalahan pada ciptaannya. Dan dibutuhkan beberapa kali percobaan sehingga sesuatu yang diciptakan itu menjadi sempurna. Tapi tidak demikian dengan pencipta manusia. Tuhan menciptakan manusia hanya dengan sekali bentukan saja [Kejadian 2:7] dan jadilah manusia yang sempurna. Tidak ada kesalahan dalam penciptaan-Nya. Hal yang detail dari fisik manusia sampai pikiran, perasaan, hati, semua sudah diperhitungkan dengan sempurna oleh Pencipta kita.

Dia tahu bahwa hati dan pikiran manusia akan mudah dikuasai oleh hal-hal yang terjadi dalam kehidupannya. Karena itu melalui hamba-hamba-Nya, Allah menyampaikan Firman yang merupakan guidebook bagi manusia untuk menjalani kehidupan ini. Salah satu Firman-Nya yang disampaikan kepada Yosua adalah “Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi RENUNGKANLAH itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis didalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung”. Dia tahu benar bahwa masalah-masalah yang ada di sekitar kita, pencobaan yang sedang terjadi, sakit-penyaki...selengkapnya »
Orang percaya yang telah ditebus oleh darah Yesus [penebusan Salib Kristus] telah dibeli dengan harga yang lunas dibayar dan dirinya menjadi milik Tuhan [I Korintus 6:19-20]. Berarti hidupnya tidak boleh memiliki cita-cita, keinginan untuk meraih sesuatu, kecuali sesuatu itu berguna bagi Tuhan. Keinginannya haruslah bukan untuk kepentingannya sendiri, bukan untuk harga diri, gengsi, kehormatan di mata manusia. [Lukas 14:33] Dalam ayat bacaan tertulis : “…semua orang yang menerima-Nya diberi kuasa [the right, hak istimewa] supaya menjadi anak-anak Allah,...” menjadi pribadi luar biasa, berkarakter serupa dengan Tuhan Yesus. Menjadi anak Allah tentunya bukan hanya sekadar status, namun benar-benar bisa berkeadaan sebagai anak Allah. Untuk mencapai keberadaan sebagai anak Allah tidaklah mudah, harus melalui proses panjang menjadi murid. Manusia diciptakan dengan . kehendak bebas di dalam dirinya, Tuhan tidak mengambil alih kemudi hidup atau kedaulatan manusia. Manusialah yang mengendalikan hidupnya, apakah mau mengarahkan hidupnya hanya untuk melakukan kehendak dan keinginan Tuhan atau tidak. Jadi yang sangat penting dalam hidup ini adalah, apakah kita sudah secara sadar rela dididik sebagai murid Kristus. Bapa sudah menganugerahkan fasilitas-fasilitas untuk membentuk kita bisa hidup sama seperti Kristus telah hidup, mengikuti jejak-Nya [I Yohanes 2:6] Fasilitas-fasilitas tersebut berupa : 1. Karya Penebusan oleh darah Yesus yang mahal harganya [I Petrus 1:18-19]. Dengan penebusan ini kita diubah status dari pemberontak menjadi orang kudus [I Korintus 1:2a]. Inilah yang disebut sebagai pengudusan pasif, yang hanya Tuhan yang dapat melakukannya. 2. Kebenaran Injil, yaitu kuasa Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, yaitu mengembalikan manusia kepada rancangan Allah semula, memiliki kemuliaan Allah, menjadi serupa dengan Tuhan Yesus [Roma 1:16]. Rasul Petrus mengingatkan bahwa kita menyucikan diri oleh ketaatan kepada kebenaran [I Petrus 1:22]. Kita harus sungguh-sungguh belajar Kebenaran Injil. Hal ini disebut pengudusan aktif. 3. Roh Kudus : Menuntun orang percaya kepada segala Kebenaran [Injil], menolong kita dalam proses pengudusan [Yohanes 16:13] 4. Penggarapan Bapa melalui peristiwa-peristiwa dalam kehidupan sehari-hari [Roma 8:28] Berkeberadaan sebagai anak Allah [bukan sekadar status] adalah hal yang menyenangkan hati Bapa, kita harus memperkarakannya setiap hari sepanjang waktu singkat yang masih ada.
Kita ditebus dari cara hidup yang sia-sia dengan harga yang sangat mahal [I Petrus 1:18-19]. Karya Keselamatan yang dilaksanakan oleh Yesus adalah rancangan agung Bapa begitu manusia jatuh dalam dosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Penebusan salib ini menggenapi kasih dan rasa keadilan Bapa. Pengorbanan yang dipikul oleh Yesus bukan suatu sandiwara, tapi suatu hal yang sangat serius, melibatkan pertaruhan sangat dahsyat bagi Bapa maupun Yesus sebagai pelaksananya. Untuk melaksanakan misi Bapa-Nya, Yesus [sebagai manusia] telah sungguh-sungguh berjuang untuk taat mutlak kepada Bapa. Situasi di taman Getsemani menjelang Yesus ditangkap menggambarkan perjuangan tersebut [Matius 26 : 37 - 38]. Puncak perjuangannya bisa disaksikan pada saat Dia berseru: “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku” dan “Yesus berseru dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya [Matius 27:46 dan 50]. Acara peringatan Paskah dengan berbagai drama, pemutaran “The Passion of Christ”, memang bisa menimbulkan rasa iba, simpati dan empati, emosi kesedihan muncul sampai mengeluarkan air mata. Tentunya tidak salah berempati terhadap Yesus. Namun menyambut Paskah tidak cukup hanya dengan simpati dan empati. Yesus sendiri mengatakan “ …, janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu !”[Lukas 23:28]. Bagi Yesus tugas penebusan yang diemban-Nya sudah tuntas pada saat Dia mengatakan “sudah selesai” [Lukas 19 : 30]. Dia sudah berjuang dan menang [Ibrani 5:7]. Sebagai umat tebusan, kita harus menghargai pengorbanan Yesus, yang tidak cukup dilakukan dengan perkataan, nyanyian yang kita naikkan bagi-Nya. Tapi harus dimulai dengan sikap hati yang menghargai Pribadi dan pengorbanan-Nya. Diikuti dengan perjuangan sungguh-sungguh untuk menggenapi tujuan anugerah penebusan diberikan, yaitu manusia dikembalikan / dipulihkan pada rancangan semula Bapa, menjadi serupa dengan Penciptanya, memiliki kemuliaan Allah, diubah dari kodrat dosa menjadi kodrat illahi, sempurna seperti Bapa, kudus dan tidak bercacat dihadapan-Nya [Efesus 1:4].
Mengikuti jejak Yesus 1 Petrus 2:21, 23 [21] Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya. [23] Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil. Saat ini kita hidup di tengah zaman dimana orang suka saling mencaci maki. Melalui media sosial orang saling mengungkapkan kebenciannya. Dalam dunia nyata juga orang saling mencaci maki. Caci maki dibalas dengan caci maki. Bahkan para tokoh dan pejabatpun, yang seharusnya menjadi panutan buat masyarakat, saling mencaci maki. Kehidupan menjadi bising dan tidak nyaman karena penuh dengan ungkapan kebencian, hujatan, dan makian. Hidup di tengah zaman seperti ini bagaimanakah kita menyikapinya? Kristus telah memberikan suatu teladan bagi kita. Ketika Dia diperlakukan dengan kejam, dibully, dihina, disiksa, disakiti, Dia tidak membalas. Dia menanggung semua itu dengan sikap rela. Dia sadar akan apa yang sedang Dia lakukan. Dia sedang menjalankan sebuah pekerjaan penebusan. Dia sedang menanggung penderitaan bagi banyak orang, termasuk saudara dan saya. Dia tahu bahwa apa yang Dia kerjakan akan mendatangkan keselamatan dan kesembuhan bagi banyak orang. Karena itu Dia tidak mau membalas perlakuan orang atas diri-Nya. Kadang kita ketemu dengan orang yang egois dan tidak mau tahu perasaan orang lain. Orang itu melakukan hal-hal yang menyakitkan. Bagaimana kita meresponnya? Kecenderungan manusiawi kita tentu saja adalah membalas. Tindakan membalas tidak menyelesaikan persoalan. Tindakan membalas akan menghasilkan tindakan membalas juga. Balas membalas. Tindakan balas membalas apapun bentuknya, entah pertengkaran, pertikaian, percekcokan, maupun peperangan, akan berujung pada kehancuran di kedua belah pihak. Pertengkaran selalu menyisakan kebencian dan sakit hati yang semakin dalam. Apalagi peperangan mengakibatkan hancurnya peradaban. Tuhan Yesus memberikan sebuah teladan cara mengatasi tindakan kebencian, yaitu dengan memberikan pengampunan. Pengampunan adalah suatu cara yang ampuh untuk mematahkan kebencian. Di Minggu Paskah ini marilah kita belajar mengikuti jejak Yesus. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
Kehidupan kita orang beriman, dalam menjalani hidup sehari-hari sangat membutuhkan tuntunan dan petunjuk dari Tuhan. Pemazmur berkata,“Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.” [Mazmur 1:1-2]. Alkitab berisi tuntunan dan petunjuk dari Tuhan. Semakin kita mempelajari firman Tuhan dan merenungkannya siang dan malam semakin kita mengerti apa kehendak Tuhan, dan apa langkah-langkah yang harus kita tempuh sehingga perjalanan hidup kita selalu beruntung dan akan memberi faedah. Di Alkitab menuliskan contoh teladan hidup orang beriman melalui empat binatang kecil, “Ada empat binatang yang terkecil di bumi, tetapi yang sangat cekatan: semut, bangsa yang tidak kuat, tetapi yang menyediakan makanannya di musim panas, pelanduk, bangsa yang lemah, tetapi yang membuat rumahnya di bukit batu, belalang yang tidak mempunyai raja, namun semuanya berbaris dengan teratur, cicak yang dapat kautangkap dengan tangan, tetapi yang juga ada di istana-istana raja.” [Amsal 30:24-28]. Semut, meskipun tergolong binatang terkecil dan lemah, ia rajin, ulet dan cekatan. Selain itu semut memiliki rasa empati yang tinggi terhadap sesamanya, mereka menopang satu sama lain dan bergotong royong. Tuhan menghendaki hal yang demikian, “Bertolong-tolonglah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” [Galatia 6:2]. Belalang, dalam waktu singkat sanggup menghabiskan hasil ladang berkat kerjasama dan ketekunannya. Walapun tanpa pemimpin. Manusia tidak dapat melakukan hal itu tanpa seorang pemimpin. Di sini manusia diajar untuk tunduk kepada pemimpin agar bisa hidup teratur. Pelanduk, binatang lemah tapi mampu membuat rumahnya di atas bukit batu sehingga ia selamat dan aman apabila badai menyerang. Kita di ajar untuk menggunakan hikmat kepandaian kita untuk bertahan hidup. Cicak bintang yang dengan mudah dapat kita tangkap tetapi juga hidup di istana raja. Mengingatkan kita walaupun lemah tetapi Allah masih memberi hikmat agar kita bisa bertahan hidup dalam bahaya sekalipun. Yesus adalah Batu Karang Keselamatan kita. Sudah seharusnya kita mempercayakan hidup ini sepenuhnya kepada Dia.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Tetap Semangat
03 April '18
Cintailah Gerejamu
15 April '18
Jadilah Sahabat Yang Jadi Berkat
21 Maret '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang