SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 27 Mei 2018   -HARI INI-
  Sabtu, 26 Mei 2018
  Jumat, 25 Mei 2018
  Kamis, 24 Mei 2018
  Rabu, 23 Mei 2018
  Selasa, 22 Mei 2018
  Senin, 21 Mei 2018
POKOK RENUNGAN
‘Jangan kamu menjadi serupa dengan dunia ini tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu...’
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas Budianto
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Revolusi Mental
Revolusi Mental
Sabtu, 02 September 2017
Revolusi Mental
2 Korintus 5:17

Salah satu program yang digaungkan oleh Bapak Jokowi Widodo setelah dilantik menjadi Presiden RI adalah revolsi mental. Revolusi mental berarti sebuah usaha untuk mengembalikan karakter warga negara kepada apa yang menjadi orisinalitas atau identitas asli bangsa, yaitu karakter santun, berbudi pekerti, ramah dan bergotong royong. Presiden Jokowi menekankan pentingnya revolusi mental di tengah-tengah negeri ini karena beliau menilai sekarang ini sedikit demi sedikit karakter asli itu berubah dan itu tidak disadari. Yang lebih parah lagi tidak ada yang ‘ngerem’. Dan yang seperti itulah yang merusak mental bangsa. Perubahan karakter bangsa tersebut merupakan akar munculnya korupsi, kolusi, nepotisme, etos kerja yang buruk, bobroknya birokasi, hingga ketidaksiplinan. Karena itu Presiden Jokowi memandang pentingnya revolusi mental di bangsa ini.

Sebenarnya revolusi mental bukanlah hal yang asing bagi kekristenan karena pada hakikatnya hal tersebut merupakan salah satu aspek dari program Ilahi melalui kehadiran Yesus Kristus ke dunia. Sejak manusia jatuh dalam dosa, dosa dan kejahatan semakin marak dan berkembang. Kuasa dan kekuatannya mencengkeram dan membelenggu manusia. Bahkan di zaman Nuh dikatakan bahwa perbuatan manusia itu melahirkan kejahatan semata. Artinya...selengkapnya »
Katarak merupakan penyakit mata yang bisa mengakibatkan kebutaan, namun sebenarnya penyakit ini bisa diatasi oleh dokter dengan operasi katarak. Bisa dibilang sakit ini tidak berbahaya apabila segera diatasi, tetapi akan menjadi sangat berbahaya ketika penyakit ini dibiarkan terus menerus menebal menutup seluruh bagian-bagian di dalam mata. Persoalannya adakah tindakan untuk menghilangkan katarak penyakit penghalang penglihatan manusia itu? Penghalang atau perintang, selalu mempersulit sesuatu. Semuanya jadi tidak lancar, terhambat sehingga tidak sampai pada sesuatu yang diinginkan, sehingga berakhir dengan persoalan serius, menyebabkan kegagalan. Dua murid Yesus yang sedang berjalan ke Emaus, dengan perasaan kecewa dan berduka harus pulang ke daerah asalnya sendiri, karena mereka mengira bahwa drama eksekusi yang berakhir kematian Yesus merupakan akhir dari segalanya, akhir dari sosok Guru Agung yaitu Yesus Kristus dengan segala ajaran dan harapan-harapan yang dibangun-Nya. Ketika mereka di perjalanan sedang bercakap-cakap bertukar pikiran tentang Yesus orang Nasaret, tiba-tiba datanglah Yesus yang tidak mereka kenal, karena ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga tidak mengenali Yesus. Ketika Yesus menanyakan hal apa kiranya yang terjadi, maka mereka menjelaskan tentang apa yang terjadi tentang Yesus. Kemudian Yesus berkata kepada mereka dengan perkataan “hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya....” [a.25]. Jadi yang menutupi [penghalang] mereka terhadap Yesus adalah hati mereka yang lamban. Saudara kekasih, hati yang lamban selalu menjadi peghalang kita kepada Tuhan. Kita sulit memahami kebesaran dan kebaikan Tuhan bahkan banyak juga orang kristen yang tidak bertumbuh karena hati yang lamban. Seperti apakah hati yang lamban? Yaitu: hati yang dipenuhi dengan perasaan duka, kecewa, kepahitan, tidak ada pengampunan, kurang percaya, bebal, dsb. Hati yang lambat terbuka untuk firman tetapi cepat menerima banyak hal yang negatif sulit untuk melihat karya Tuhan yang besar, sulit bertumbuh dan sulit menerima jawaban Tuhan. Bagaimana dengan saudara saat ini? Bukalah lebar-lebar hati kita untuk firman, dan tutuplah hatimu dari segala hal yang menyebabkan kebodohan dan kelambanan hati. Amin.
Tiga tahun yang lalu saya membeli sebuah pisau yang menurut saya sangat tajam, karena dibeli langsung dari pandai besi yang baik di Mojokerto kota saya. Tetapi pisau baru itu tidak langsung saya pergunakan, karena saya masih mempunyai pisau sangat tajam yang saya beli di tempat yang sama. Pisau lama itu selalu tajam karena setelah digunakan selalu saya asah. Pisau itu masih saya pergunakan sampai sekarang karena ketajamannya. Hingga suatu saat, saya membuka laci di rumah. Saya menjadi teringat sebuah pisau yang saya beli tiga tahun yang lalu. Kondisi pisau tersebut sudah mulai berkarat dan berjamur. Sehingga ketika saya akan menggunakan pisau tersebut harus diasah ulang dengan sedikit susah payah untuk membersihkannya. Dan hasilnya dapat dilihat, pisau tersebut setelah diasah mulai terlihat ketajamannya. Ketajaman sebuah pisau dapat terlihat saat dipakai dan diasah kembali. Oleh karenanya jika mau digunakan perlu diasah ulang, maka akan terlihat ketajamannya. Demikian juga dengan kehidupan Rohani kita sesungguhnya bisa tumpul dan bahkan “ Mati “ jika kita tidak membiasakan bersentuhan dengan hal-hal Rohani. Sebab saat kita jarang membaca Alkitab dan berdoa maka kita tidak akan bisa mengerti bahasa Allah yang tertulis. Akibatnya kita menjadi seperti “ orang bodoh “ karena sering kalah dalam persoalan dan cenderung terbawa pada hawa nafsu duniawi dan saat kita sadar kita mengatakan “ Kilaf “. Begitu juga kepekaan kita akan hadirat Tuhan tergantung bagaimana hubungan kita dalam doa dan penyembahan kita. Semakin kita banyak berkomunikasi dengan Tuhan dalam doa dan penyembahan maka kita akan mudah mengenali dan memahami suara dan pimpinan Tuhan. Namun sering kali kita tidak melakukannya karena kita mungkin terlalu sibuk dengan pemberian Tuhan dan melupakan dengan yang memberi. Sehingga tidak mengherankan jika hidup kerohanian kita menjadi KETUL. Semakin kita tidak melatih kehidupan rohani kita maka sesungguhnya kita akan menjadi umat yang gampang kalah dan “mati suri“. Kita baru sadar ketika dibenturkan dengan permasalahan hidup, kemudian baru mencari pertolongan Tuhan. Oleh karenanya marilah kita membiasakan diri untuk mempertajam hubungan yang akrab dengan Tuhan dalam doa dan penyembahan serta perenungan Firman Tuhan. Dengan cara demikian jiwa dan hidup kita akan dikuatkan. Jangan merasa dengan ibadah setiap minggu ke gereja sudah cukup, tetapi setiap hari juga harus membangun hidup Rohani di manapun kita berada. Selagi ada kesempatan mari terus membangun hidup rohani kita supaya tidak ketul atau mati suri.
Dalam hidup ini pikiran seseorang akan menentukan perasaan dan kehendak serta perbuatannya. Contoh: pikiran yang penuh dengan kekuatiran akan diikuti perasaan takut/cemas dan berpengaruh terhadap tindakannya sehari-hari. Pikiran bahwa dirinya orang penting dan harus dihormati orang lain akan membawa perasaan tinggi hati dan berpengaruh terhadap sikap dan perilakunya. Amsal mengingatkan bahwa bahwa apa yang dipikirkan seseorang itu menentukan keberadaannya, “For as he thinks in his heart, so is he”, “you are what you think”. [Amsal 23:7] Demikian juga dalam kehidupan iman, pola pikir yang ada dalam diri anak Tuhan juga akan menentukan keberadaannya di hadapan Tuhan. Rasul Paulus menasihatkan supaya kita menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus [Pilipi 2:5]. Jadi pola pikir anak Tuhan harus seperti pola pikir Tuhan Yesus, yang dilandasi oleh kesediaan mengosongkan diri, merendahkan diri dan taat mutlak kepada Bapa. Yang diutamakan adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya [Yohanes 4:34]. Gaya hidup seperti ini yang rasul Paulus maksudkan dengan pola hidup yang berpadanan dengan Injil [Pilipi 1:27]. Injil adalah module khusus bagi anak Tuhan yang telah diajarkan dan diteladankan oleh Tuhan Yesus. Jelas pola pikir dan gaya hidup deperti ini sangat berbeda sekali dengan yang dimiliki anak-anak dunia, seperti perbedaan antara gandum dan lalang. Untuk memiliki pola pikir seperti tersebut di atas tidak mudah, diperlukan pembaharuan pikiran setiap hari melalui pembelajaran kebenaran Injil yang murni oleh pertolongan Roh Kudus [Roma 12 : 2]. Sebagaimana rasul Petrus menyatakan bahwa pola pikir kita dikuduskan oleh ketaatan kepada kebenaran/Injil [I Petrus 1:22]. Akan dialami realitas bahwa seorang anak Tuhan yang mengenakan pola pikir Kristus akan mengalami “kesulitan untuk akrab” dengan orang-orang yang tidak mengenal/tidak peduli kebenaran, tidak takut dan tidak menghormati Tuhan dalam sikap hidupnya sehari-hari. Meskipun demikian, anak Tuhan dengan pola pikir Kristus tidak berarti hidupnya menjadi tidak wajar atau kehilangan “kemanusiaan”. Kita akan tetap masih menjalani hidup seperti manusia lain, dalam : bekerja, mencari nafkah, berkeluarga, menikmati keindahan alam ciptaan Tuhan, mengembangkan dan menikmati kreasi seni, hobi, olah raga, rekreasi dll. Secara umum bisa dikatakan “tampak luar tetap sama, namun dalamnya [mind set] berbeda”. Anak Tuhan yang mengenakan pola pikir Kristus akan mengalami tidak merasa nyaman hidup di bumi [yang makin fasik, penuh ketragisan], makin menghayati bahwa dunia ini bukan rumahnya, makin kuat merasakan keberadaannya sebagai musafir, sehingga fokus hidupnya makin kuat ke Langit Baru dan Bumi Baru.
Minggu lalu baru saja kita merayakan perayaan Hari Pentakosta. Kita kembali diingatkan/disadarkan betapa pentingnya Roh Kudus. Orang percaya perlu Roh Kudus dalam hidupnya. Roh Kudus memberi kekuatan dan kuasa untuk berani bersaksi tentang Kristus. Roh Kudus memberi kuasa untuk hidup berkemenangan. Dan Roh Kudus juga memberi kuasa-kuasa yang lainnya kepada orang percaya. Semuanya itu sangat benar. Sayangnya, ada orang yang beranggapan bahwa Roh Kudus sebatas kuasa saja, mereka mengejar kekuatan/kuasa, tetapi mereka lupa bahwa Roh Kudus adalah satu pribadi yang punya pikiran, perasaan dan kehendak. Mereka tidak merasa perlu bersekutu denga pribadi Roh Kudus itu sendiri. Roh Kudus hadir sebagai Penolong yang menyertai orang percaya. Roh Kudus diutus sebagai penghibur dan mengajarkan segala sesuatu kepada orang percaya. Sekali lagi, Roh Kudus bukan sekedar kekuatan, bukan pula sekedar kuasa ataupun energi. Tetapi Roh Kudus adalah satu pribadi. Seperti Yesus Kristus menyertai murid-murid-Nya selama kurang lebih tiga setengah tahun di bumi demikian pula Roh Kudus menyertai orang percaya selama-lamanya. Sebagai satu pribadi, kita bisa bersekutu dan berkomunikasi dengan Roh Kudus. Kita bisa berbicara kepada-Nya dan kita bisa mendengar suara-Nya. Dia memimpin kerinduan kita untuk baca Firman Tuhan. Dia memberikan pencerahan sehingga Firman Tuhan itu menjadi hidup dalam hidup kita. Ketika kita melangkah keluar dari Firman, Dia menegur kita dan mendorong kita untuk mentaati Firman-Nya. Ketika kita taat, Roh Kudus disukakan. Nabi Yesaya pernah menyampaikan teguran kepada umat Tuhan, tetapi mereka sering memberontak dan mendukakan Roh Kudus. Tuhan yang tadinya memelihara dan melindungi mereka, kini berubah menjadi musuh mereka. Bahkan Tuhan sendiri berperang melawan mereka. Sejarah mencatat, mereka dibuang ke Babilonia selama 70 tahun. Berbahagialah kita yang menerima Roh Kudus sebagai satu pribadi yang menuntun kita kepada jalan kebenaran. Mari kita sukakan Roh Kudus dalam ketaatan kita kepada Allah.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Pribadi Roh Kudus
23 Mei '18
Gagal Dan Berhasil
25 Mei '18
Roh Kudus Mengubah Kehidupan Kita
19 Mei '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang