SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 12 Desember 2017   -HARI INI-
  Senin, 11 Desember 2017
  Minggu, 10 Desember 2017
  Sabtu, 09 Desember 2017
  Jumat, 08 Desember 2017
  Kamis, 07 Desember 2017
  Rabu, 06 Desember 2017
POKOK RENUNGAN
‘Jangan kamu menjadi serupa dengan dunia ini tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu...’
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas Budianto
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Revolusi Mental
Revolusi Mental
Sabtu, 02 September 2017
Revolusi Mental
2 Korintus 5:17

Salah satu program yang digaungkan oleh Bapak Jokowi Widodo setelah dilantik menjadi Presiden RI adalah revolsi mental. Revolusi mental berarti sebuah usaha untuk mengembalikan karakter warga negara kepada apa yang menjadi orisinalitas atau identitas asli bangsa, yaitu karakter santun, berbudi pekerti, ramah dan bergotong royong. Presiden Jokowi menekankan pentingnya revolusi mental di tengah-tengah negeri ini karena beliau menilai sekarang ini sedikit demi sedikit karakter asli itu berubah dan itu tidak disadari. Yang lebih parah lagi tidak ada yang ‘ngerem’. Dan yang seperti itulah yang merusak mental bangsa. Perubahan karakter bangsa tersebut merupakan akar munculnya korupsi, kolusi, nepotisme, etos kerja yang buruk, bobroknya birokasi, hingga ketidaksiplinan. Karena itu Presiden Jokowi memandang pentingnya revolusi mental di bangsa ini.

Sebenarnya revolusi mental bukanlah hal yang asing bagi kekristenan karena pada hakikatnya hal tersebut merupakan salah satu aspek dari program Ilahi melalui kehadiran Yesus Kristus ke dunia. Sejak manusia jatuh dalam dosa, dosa dan kejahatan semakin marak dan berkembang. Kuasa dan kekuatannya mencengkeram dan membelenggu manusia. Bahkan di zaman Nuh dikatakan bahwa perbuatan manusia itu melahirkan kejahatan semata. Artinya...selengkapnya »
Dalam ayat ini, kelegaan sering diartikan kelepasan dari berbagai persoalan hidup dan terpenuhinya kebutuhan jasmani. Kelegaan atau perhentian sejati pada dasarnya akan dialami bila kita tidak dipenuhi pikiran kuatir. Biasanya kekuatiran berkaitan dengan kebutuhan jasmani, harta kekayaan dan berbagai fasilitas duniawi yang diharapkan dapat melengkapi dan membahagiakan hidup. Kebutuhan jasmani sebetulnya menjadi fokus utama orang yang tidak mengenal Tuhan. Akibatnya orang akan terus bergerak mencari sesuatu yang dianggap dapat memberi kelegaan. Ibarat kapal yang terus berlayar mencari pelabuhan, padahal bagi orang percaya, hanya ada satu pelabuhan yang memberi kelegaan, yaitu Tuhan Yesus. Mereka dikatakan sebagai orang yang letih lesu dan berbeban berat karena banyaknya keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Banyak orang yang datang kepada Tuhan hanya sekedar memperoleh jalan keluar atas problem kebutuhan jasmani. Sebetulnya orang percaya dipanggil untuk mengalami perhentian di dalam Tuhan, artinya merasa cukup pada saat dirinya menerima anugerah keselamatan. Keselamatan di dalam Tuhan Yesus bertujuan supaya kita bisa dikembalikan kepada rancangan semula Bapa dan dipersiapkan masuk Kerajaan-Nya [Ibrani 11:16]. Kelegaan dan ketenangan jiwa sejati akan dialami bila: 1. Pikiran tidak dipenuhi keinginan pribadi yang tidak sesuai dengan pikiran/kehendak Tuhan [Yakobus 1:14-15]. 2. Kita memahami dan mempraktekkan Kebenaran Injil yang murni [Yesaya 32:17, Yohanes 8:31-32]. 3. Memiliki rasa cukup, tidak berkeinginan memiliki fasilitas duniawi untuk mendapatkan nilai diri, prestise, ketenaran [1 Timotius 6:6-8]. 4. Memiliki karakter mulia melalui proses pemuridan. Mustahil mengalami kelegaan dan ketenangan jiwa bila kita egois, iri hati, suka marah-marah, penuh curiga, pendendam.
“Kekristenan kita telah termakan usia”, kata Sambey, “seperti seorang lanjut usia yang letih dan tak tahu harus berbuat apa lagi selain menunggu panggilan-Nya.” Pdt. Itong yang berada di sampingnya terusik oleh perkataan itu dan berkomentar, “Kata-katamu sangat pesimis, Sam! Tak tepat diucapkan oleh seorang muda sepertimu.” Sambey merespon dengan memandang pendeta pembinanya itu dengan tatapan penuh arti. Seolah-olah Sambey mau mengatakan bahwa Pdt. Itong telah gagal paham terhadap maksud perkataannya itu. Lagi pula mendewakan rasa optimis juga sama salah kaprahnya jika keoptimisan itu hanya tinggal diam sebagai romantisme belaka. “Sebenarnya apa yang kamu maksudkan dengan perkataanmu itu, Sam?” tanya Pdt. Itong seolah-olah telah menyadari gagal pahamnya. Sambey menghela nafas panjang. “Aku ingin menyampaikan bahwa setiap orang percaya dipanggil bukan sekedar untuk menghabiskan usia. Apalagi menghabiskannya dalam rangkulan dosa yang terus dipelihara. Dalam hal ini Tuhan memakai hamba-hamba-Nya untuk melayani dan memperlengkapi jemaat. Tidak pada tempatnyalah jika jemaat hanya dinina-bobokan dengan janji-janji romantis yang tidak menjawab kerasnya tantangan hidup dan pelayanan yang sangat membutuhkan kekudusan dan kedewasaan rohani.” Pdt. Itong gantian merespon Sambey dengan tatapan sayunya. Jemaat yang terkasih, bangsa Yehuda telah lama menjadi umat Allah, namun perjalanan iman mereka terus diwarnai dengan pengalaman jatuh bangun. Dan pada zaman Nabi Yeremia, dosa mereka telah sangat parah. Kemerosotan hidup bangsa Yehuda tidak lepas dari andil para nabi dan imam yang gemar mendayu-mayu umat dengan janji-janji indah. Melalui nubuat mereka berkata bahwa bangsa Yehuda tidak akan mengalami perang dan kelaparan, tetapi damai sejahtera yang akan mereka alami [ayat 13]. Allah menyebut nabi dan imam seperti ini sebagai nabi dan imam yang bernubuat palsu. Karena janji-janji indah itu tidak selaras dengan hidup sehari-hari bangsa Yehuda yang telah bobrok dalam genangan lumpur dosa. Syukur kepada Allah. Dalam situasi yang demikian ini, Allah tidak tinggal diam dalam murka-Nya. Melalui Nabi Yeremia, Allah kembali menyatakan rahmat pemulihan-Nya setelah proses pertobatan dialami bangsa ini. Yaitu janji bahwa masa depan masih ada. Dan Allah sendiri merancangkan damai sejahtera yang menjadikan secercah harapan itu masih ada. Jemaat yang terkasih, jika dari tahun ke tahun hidup kekristenan kita tidak bertumbuh; pelayanan kita tidak berdampak; maka menjadi risaulah. Ini lebih baik daripada mengharapkan janji-janji romantisme kosong dari balik mimbar nan suci sekalipun. Inilah saat bagi kita untuk melihat diri dan membiarkan Roh Tuhan memulihkan dan membaharui kita. Relakanlah diri kita untuk menerima teguran dan nasihat yang membangun dari saudara-saudara seiman dan para hamba Tuhan. Niscaya damai sejahtera dari Tuhan akan menggairahkan hidup dan pelayanan kita kembali. Selamat mengalami secercah harapan.
Waspadalah terhadap pemikiran bahwa doa berarti membawa simpati dan kepedulian pribadi kita ke dalam hadirat Allah lalu menuntut supaya Dia melakukan apapun yang kita minta. Kemampuan kita menghampiri Allah bergantung sepenuhnya Kepada Yesus Kristus karena Dia yang telah menanggung dosa demi menggantikan kita. “Oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus.” Kedegilan secara rohani adalah halangan paling utama terhadap doa, karena didasarkan pada “rasa” simpatik akan hal-hal yang kita lihat di dalam diri kita dan orang lain yang menurut kita tidak membutuhkan penebusan. Kita mempunyai gagasan bahwa ada hal-hal baik dan mulia di dalam diri kita yang tidak memerlukan karya penebusan salib Kristus. Seringkali kita merasa siap dengan gagasan kita sendiri dan doa kita hanya menjadi pemujaan terhadap rasa simpatik kita sendiri. Kita berdoa, namun kita tidak menyelaraskan diri kita dengan minat dan kepedulian Allah terhadap orang lain. Ketika kita menyadari bahwa Tuhan Yesus Kristus menanggung dosa ini berarti terjadi perubahan menyeluruh terhadap semua simpati dan minat kita. Doa bagi sesama berarti kita dengan sengaja mengganti rasa simpati alami kita dengan minat Allah terhadap sesama Doa bagi sesama membuat kita tidak mempunyai waktu maupun kecenderungan untuk mendoakan “kesedihan dan belas kasihan” untuk diri kita sendiri. Kita harus menyatukan diri sepenuhnya dan menyeluruh dengan minat dan kepeduliaan Allah dalam hidup orang lain. Allah memberi kita kepekaan terhadap kehidupan orang lain sehingga menggerakkan kita untuk berdoa bagi mereka dan bukan untuk mencari kelemahan mereka.
Pada Olimpiade 2012 di London, ada pemandangan yang tak biasa di lintasan lari. Seorang pelari bernama Oscar Pistorius menarik perhatian penonton karena tidak memiliki kaki dan berlari menggunakan dua buah kaki palsu yang terbuat dari serat karbon. Walau tidak mendapat medali, dia mencatat waktu tercepat ke 13 dari 49 peserta. Ketika di Paralimpiade 2012 di London, dia mendapat medali emas di lari estafet 4 x 100 meter. Dia lahir tanpa tulang fibula [betis], sehingga pada usia 11 tahun kedua kakinya diamputasi sampai lutut. Di tengah kekurangan secara fisik dan kesulitan yang dihadapi, dia tekun untuk berlatih lari dengan kaki palsunya. Dia tekun dan disiplin dalam berlatih sesuai aturan-aturan yang diharuskan bagi pelari. Karena ketekunannya, dia berhasil menjadi juara pada usia 25 tahun. Setiap orang percaya harus meninggalkan beban dosa dan dengan tekun berlomba dalam kehidupan yang diwajibkan. Walaupun banyak rintangan dan kesulitan tetap harus dilakukan dengan mata yang tertuju kepada Kristus yang membawa iman kita kepada kesempurnaan. Dia yang mengabaikan kehinaan, tekun memikul salib sebagai ganti sukacita yang disediakan bagi-Nya. Sekarang Dia duduk di sebelah kanan tahta Allah. Jangan kita menjadi lemah dan putus asa karena dalam pergumulan kita melawan dosa belum sampai mencucurkan darah. Sebagai manusia, masing-masing kita mempunyai kekurangan, tetapi tetaplah tekun dalam melatih diri untuk menang dalam perlombaaan hidup. Dalam menghadapi tantangan dibutuhkan ketekunan untuk mengalami Tuhan setiap hari melalui perenungan Firman-Nya. Di tengah kesulitan dan himpitan, tetaplah mata rohani kita tertuju kepada Kristus yang akan menyempurnakan iman kita. Jangan kita putus asa dan kehilangan iman di tengah penderitaan, ingatlah bahwa penderitaan kita belum sebanding dengan penderitaan-Nya.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Karya Terbesar
10 Desember '17
Pengelola Bukan Pemilik
12 November '17
Kejujuran Dan Kepercayaan
26 November '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang