SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 12 Desember 2017   -HARI INI-
  Senin, 11 Desember 2017
  Minggu, 10 Desember 2017
  Sabtu, 09 Desember 2017
  Jumat, 08 Desember 2017
  Kamis, 07 Desember 2017
  Rabu, 06 Desember 2017
POKOK RENUNGAN
Kamu akan menerima kuasa kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku....
DITULIS OLEH
Pdt. Denny D. Kristianto
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Roh Pembebas
Roh Pembebas
Jumat, 20 Oktober 2017
Roh Pembebas
Yesaya 61:1-2; Lukas 4:18-19

Pernahkah kita mengalami masalah yang rumit? Pernahkah kita mengalami penderitaan? Pernahkah kita bergumul dengan tabiat dosa kita? Kita yang pernah mengalaminya tentu tahu apa artinya pembebasan. Pembebasan dalam bentuk jalan keluar adalah apa yang kita harapkan ketika masalah berat terjadi dalam bisnis kita, dalam keluarga kita, dan dalam pelayanan kita. Pembebasan dalam bentuk pembelaan dan kemenangan adalah apa yang kita harapkan ketika kita diperlakukan tidak adil oleh seseorang atau sekelompok orang. Pembebasan dalam bentuk kelepasan dan kemampuan mengendalikan diri adalah yang kita harapkan dalam pergumulan kita menghadapi daya tarik dosa. Syukur kepada Tuhan, dalam segala pergumulan yang kita hadapi, Tuhan ada beserta dengan kita. Dan Dia adalah Tuhan pembebas sejak dari mulanya.

Perhatikanlah kesaksian Alkitab. Bagaimana Tuhan membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir yang begitu berat mendera mereka. Tuhan yang sama berinisiatif untuk membebaskan mereka dari pembuangan di Babel. Apa yang diucapkan Nabi Yesaya menunjukkan bahwa Tuhan memahami jerit tangis umat-Nya yang sedang mengalami masalah dan penderitaan yang akut. Tuhan bertindak dengan mengurapi hamba yang dipilih-Nya untuk memberitakan pembebasan bagi umat-Nya. Pada awal abad pertama mase...selengkapnya »
Ketika kita menanam pohon buah-buahan, wo......, alangkah senangnya hati kita melihat pohon yang kita tanam berbuah lebat. Bagi seorang petani buah-buahan, hasil buah yang banyak berarti pemasukan yang banyak juga. Untuk memperoleh buah yang banyak kita harus memperhatikan dan merawat kondisi pohon yang ditanam. Dibutuhkan tanah yang baik, air yang cukup, sinar matahari, pupuk, dsb. Tanah, air, udara, sinar matahari, pupuk merupakan penunjang sumber alam yang sangat penting. Itu semua bukan ciptaan manusia tapi ciptaan Sang Pencipta alam yang Mahakuasa. Seperti juga petani buah-buahan yang mengharapkan pohon yang ditanam berbuah banyak, demikian juga Tuhan. Manusia dicipta Tuhan dan ditempatkan di bumi. Tuhan mengharapkan/menghendaki manusia berbuah banyak. Firman Tuhan dengan jelas mengatakan bahwa Bapa kita di sorga dipermuliakan apabila kita berbuah banyak dan kita disebut sebagai murid-murid-Nya. Dua hal utama yang harus kita lakukan sebagai orang Kristen, yaitu memuliakan Tuhan, Bapa kita yang kekal dan menjadi murid-Nya. Kita perlu merenungkan dalam-dalam arti Kristen. Kristen adalah pengikut Kristus, Kristen adalah murid Kristus. Begitu kita menyebut diri kita Kristen tidak cukup hanya rajin kebaktian di gereja, baca Alkitab dan berdoa setiap hari, aktif melayani pekerjaan Tuhan. Kita perlu bertanya pada diri sendiri, “Apakah hidup kita sudah menghasilkan buah?”; “Apakah hidup kita sudah berbuah banyak untuk memuliakan Tuhan?“ Agar berbuah banyak, hidup ini harus menyatu, tinggal di dalam Tuhan Yesus Kristus. Di luar Dia, hidup kita tidak akan menghasilkan buah. Proses selanjutnya, kita harus selalu siap dibersihkan Tuhan. Pembersihan yang Tuhan lakukan membuat hidup kita berbuah banyak. Selamat berbuah lebat bagi Kristus.
Dalam ayat ini, kelegaan sering diartikan kelepasan dari berbagai persoalan hidup dan terpenuhinya kebutuhan jasmani. Kelegaan atau perhentian sejati pada dasarnya akan dialami bila kita tidak dipenuhi pikiran kuatir. Biasanya kekuatiran berkaitan dengan kebutuhan jasmani, harta kekayaan dan berbagai fasilitas duniawi yang diharapkan dapat melengkapi dan membahagiakan hidup. Kebutuhan jasmani sebetulnya menjadi fokus utama orang yang tidak mengenal Tuhan. Akibatnya orang akan terus bergerak mencari sesuatu yang dianggap dapat memberi kelegaan. Ibarat kapal yang terus berlayar mencari pelabuhan, padahal bagi orang percaya, hanya ada satu pelabuhan yang memberi kelegaan, yaitu Tuhan Yesus. Mereka dikatakan sebagai orang yang letih lesu dan berbeban berat karena banyaknya keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Banyak orang yang datang kepada Tuhan hanya sekedar memperoleh jalan keluar atas problem kebutuhan jasmani. Sebetulnya orang percaya dipanggil untuk mengalami perhentian di dalam Tuhan, artinya merasa cukup pada saat dirinya menerima anugerah keselamatan. Keselamatan di dalam Tuhan Yesus bertujuan supaya kita bisa dikembalikan kepada rancangan semula Bapa dan dipersiapkan masuk Kerajaan-Nya [Ibrani 11:16]. Kelegaan dan ketenangan jiwa sejati akan dialami bila: 1. Pikiran tidak dipenuhi keinginan pribadi yang tidak sesuai dengan pikiran/kehendak Tuhan [Yakobus 1:14-15]. 2. Kita memahami dan mempraktekkan Kebenaran Injil yang murni [Yesaya 32:17, Yohanes 8:31-32]. 3. Memiliki rasa cukup, tidak berkeinginan memiliki fasilitas duniawi untuk mendapatkan nilai diri, prestise, ketenaran [1 Timotius 6:6-8]. 4. Memiliki karakter mulia melalui proses pemuridan. Mustahil mengalami kelegaan dan ketenangan jiwa bila kita egois, iri hati, suka marah-marah, penuh curiga, pendendam.
Terang bagi yang berjalan di kegelapan Yesaya 9:1, 5 Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar. [ayat 1] Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. [ayat 5] Beberapa tahun yang lalu [sudah cukup lama, saya tidak ingat persis tahunnya] mobil saya mengalami masalah di lampu depannya [lampu besar], mungkin karena sekringnya putus. Padahal waktu itu saya dalam perjalanan turun dari Kopeng menuju Ungaran, sendirian, pada malam hari. Kondisi jalan sangat gelap, menurun dan berkelok-kelok. Tidak ada yang saya mintai bantuan. Dengan perasaan takut saya tetap menjalankan mobil itu pelan-pelan sekali, di tengah kegelapan, hanya dengan penerangan lampu kecil saja. Takut karena salah-salah bisa masuk jurang. Kegelapan adalah sesuatu yang menakutkan. Kita tidak bisa melihat apa yang di hadapan kita. Kegelapan bisa membawa kita pada celaka. Oleh sebab itu kita tidak suka dengan kegelapan. Kegelapan menggambarkan keadaan yang buruk di dalam hidup kita. Kita merasa bahwa dunia ini gelap ketika kita sedang mengalami hal yang buruk dan tak terkendali. Mungkin itu berupa datangnya sebuah peristiwa yang tak kita kehendaki seperti musibah, sakit penyakit, kegagalan, dan sebagainya. Mungkin itu berupa kehilangan orang yang kita kasihi secara tiba-tiba. Atau berupa hal lain yang tak bisa kita prediksi dan mengejutkan kita. Orang yang mengalami hal itu akan merasa jalannya gelap dan menakutkan. Ketika kita menghadapi saat-saat yang gelap di dalam kehidupan kita, apakah kita akan berputus asa, menyalahkan orang lain, menyalahkan diri sendiri, atau bahkan menyalahkan Tuhan? Kristus datang ke dalam dunia ini untuk memberikan pengharapan bagi orang-orang yang berjalan di dalam kegelapan. Dia adalah Terang itu sendiri. Dia adalah Imanuel, menyertai kita dalam menjalani saat-saat gelap di dalam hidup kita. Sehingga kita tidak perlu takut sebab kita tidak berjalan sendirian di dalam kegelapan. Dia adalah Terang, sehingga Dia dapat menunjukkan kepada kita jalan yang aman, sehingga kita dapat lolos dari kegelapan itu. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
Seorang ibu dengan tubuh lemah terbaring di atas tempat tidur. Ia sudah seminggu lebih menjalani rawat inap di sebuah rumah sakit. Kondisi sakitnya bisa dibilang lumayan parah. Bahkan karena sulit bernafas, maka dokter harus memasang alat dengan membuat lubang di pangkal lehernya. Tetapi kesan sedih tidak terpancar dari wajahnya. Setiap kali sahabat, kerabat, dan kenalan datang menjenguknya, senyuman selalu terlihat mengembang di bibirnya. Ketika mengalami kesulitan berbicara, ia selalu mengangkat dan menggerakkan kedua jari telunjuknya ke atas dan kemudian mengacungkan kedua jempol tangannya seolah-olah ingin berkata, “Tuhan selalu baik.” Ia begitu tabah hati menghadapi sakitnya. Untuk tabah bukanlah perkara yang mudah. Tabah bukan sekedar sabar, tetapi jauh lebih dari itu. Ada sisi panjang sabar di dalamnya. Karena ketabahan berarti ketahanan [daya tahan] untuk bersabar dalam menghadapi penderitaan, kesukaran, pergumulan, dsb. Bisa dibilang ketabahan adalah ketekunan untuk terus menerus bersabar. Sikap itulah yang dinasihatkan oleh Paulus kepada para penumpang dan crew kapal yang ditumpanginya menuju Roma ketika mereka diombang-ambingkan oleh angin badai yang besar di tengah lautan. Berhari-hari mereka harus berjuang dan bertahan hidup mengatasi ganasnya gelombang. Tidak bisa tidur dengan nyenyak, tidak bisa makan dengan enak. Selalu kuatir karena nyawa yang terancam. Putus asa karena berbagai cara diusahakan untuk menyelamatkan diri tetapi tidak membawa hasil. Cukup berat situasi yang harus mereka hadapi. Fisik mereka capek, energi mereka terkuras, mental mereka kelelahan dan semakin lemah. Tentu dibutuhkan ketabahan hati untuk tetap bertahan. Ketika semua orang mengalami keputusasaan dan kehilangan harap, Paulus tetap tabah hati. Apa yang membuatkan tetap tabah? Ia tetap tabah karena percaya kepada Allah yang sanggup memelihara dan menyelamatkan dari situasi sulit yang sedang dihadapinya. Percaya kepada penyertaan dan pemeliharaan Allah-lah yang membuatnya tetap tabah; tetap bertahan dan kuat menghadapi kesukaran; tetap bertekun dalam kesabaran menanti pertolongan Tuhan. Sehingga dalam situasi sesulit dan seberat apapun, ia tetap optimis, tetap semangat, dan selalu menghadapi semuanya dengan senyuman sukacita. Pengharapannya tidak pernah pupus. Jemaat Tuhan yang terkasih, kita bisa berespon seperti ibu yang sedang menjalani perawatan dan juga seperti rasul Paulus saat menghadapi penderitaan, kesakitan, musibah, kerugian ataupun pergumulan-pergumulan berat lainnya. Dengan tetap tabah hati, maka hidup kita akan lebih terasa ringan dan lebih mudah. Oleh sebab itu Pandanglah saja kepada Yesus yang penuh cinta dan kasih setia.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Mencari Yang Terhilang
18 November '17
Karya Terbesar
10 Desember '17
Renungan Harian
11 Desember '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang