SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 20 April 2018   -HARI INI-
  Kamis, 19 April 2018
  Rabu, 18 April 2018
  Selasa, 17 April 2018
  Senin, 16 April 2018
  Minggu, 15 April 2018
  Sabtu, 14 April 2018
POKOK RENUNGAN
Tuhan Yesus Kristus adalah Sahabat Setia kita di sepanjang masa.
DITULIS OLEH
Ibu Evylia H. Goenawan
Ibu Gembala
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Sahabat Sepanjang Masa
Sahabat Sepanjang Masa
Kamis, 02 November 2017
Sahabat Sepanjang Masa
Yohanes 15:13-16

Selama sekitar dua setengah tahun teman yang satu itu benar-benar tak terpisahkan dengan saya. Di mana ada dia, di situ ada saya. Keluarganya menyambut saya dengan baik, begitu juga keluarga saya terhadapnya. Kami berjanji untuk selalu saling terbuka. Sepengetahuan saya, tidak ada rahasia di antara kami. Masa-masa ceria di bangku SD kami lalui tanpa sehari pun tak bertemu, meskipun kami tidak sekelas.

Tak disangka-sangka persahabatan itu kandas di kelas VI SD. Sangat tiba-tiba dan begitu mengejutkan. Sulit diungkapkan betapa sepi dan sedih rasanya ditinggal oleh orang terdekat. Padahal sebentar lagi ujian kelulusan sekolah sudah menghadang.

Syukurlah di saat-saat yang berat itu ada Tuhan Yesus Kristus, Sahabat setia yang tak pernah meninggalkan saya. Meskipun saat itu saya tengah marah dan kecewa dengan kesusahan yang bertubi-tubi menimpa hidup saya, Sahabat setia saya dengan sabar menemani dan melindungi. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang m...selengkapnya »
Pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu. Hari pertama dimulai hari Sabtu sore, Markus tampaknya menunjukkan bahwa para wanita itu selesai membeli rempah-rempah pada malam sebelumnya, dan datang ke kubur Yesus pada pagi hari sebelum ada orang lain di sana [Markus 16:1,2]. Pagi itu para perempuan melihat fakta batu penutup kubur telah terguling, bahkan mereka terkejut ketika melihat mayat Yesus sudah tidak ada. [Lukas 24:2,3]. Saat mereka termangu-mangu, tiba-tiba datang dua orang berdiri dekat mereka memakai pakaian berkilau-kilau. Kedua orang itu membawa kabar yang melebihi pemikiran perempuan-perempuan itu, bahwa Yesus telah bangkit dan mendahului mereka ke Galilea [Lukas 24:4-7]. Respon luar biasa perempuan-perempuan itu, mereka lari memberitakan semua itu kepada teman-temannya. Kebangkitan Kristus yang kita rayakan pada hari Paskah, memberi kita sukacita karena kemenangan iman itu terbukti. Seperti para perempuan itu setelah melihat fakta kubur kosong, mereka semakian percaya apa yang dijanjikanNya, ’...Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari.’ [Markus 8:31]. Yesus telah bangkit dari kematianNya!. Hebatnya, kuasa kebangkitanNya itu didahului oleh tanda-tanda yang ajaib: terjadi gempa bumi yang dahsyat dan turunnya malaikat dari langit yang wajahnya bagaikan kilat dengan pakaian putih seperti salju [Matius 28:1-3]. KuburNya yang kosong membuktikan kuasaNya sangat hebat dan dahsyat. Maka dari itu setiap orang percaya tidak perlu takut dan ragu dalam mengiring Kristus. KebangkitanNya benar-benar memberi keyakinan dan kepastian akan jaminan keselamatan kekal bagi kita. Mari, jangan sia-siakan keselamatan yang telah kita terima ini karena keselamatan kekal itu hanya ada di dalam Yesus. Sangat memprihatinkan jika ada orang percaya yang rela meninggalkan iman Kristus demi mendapatkan pasangan hidup, jabatan atau kemewahan dunia ini. Rasul Paulus mengatakan,’Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.’ [1 Korintus 15:14]. Kristus telah bangkit! Tidak seharusnya kita menjalani hidup ini dengan ketakutan dan keraguan. Sebaliknya, mari kita tatap masa depan dengan kepala tegak karena kita memiliki Tuhan yang hidup. Beritakanlah kabar kesukaan ini kepada dunia!
Seorang kusir koboy akan mengendalikan kudanya menuju ke sasaran sesuai dengan apa yang akan ditujunya. Demikian juga masalah hidup, setiap orang dikendalikan oleh apa yang ada dalam dirinya sesuai sasaran yang akan dicapainya. Hidup Paulus dikendalikan oleh ”panggilan sorgawi dari Allah dalam Yesus Kristus” itulah sebabnya ia ingin sekalimengenal kuasa kebangkitan Yesus, ia rela menderita demi bersekutu dengan Yesus yang juga sudah menderita untuk dia. Bahkan Paulus menganggap segala sesuatu rugi tanpa pengenalan akan Yesus yang jauh lebih mulia dari apapun di dunia ini [ayat 8]. Sekarang apa yang mengendalikan hidup kita? Banyak orang yang hidupnya dikendalikan oleh sesuatu yang keliru sebagai contoh : 1.Dikendalikan oleh rasa bersalah: mereka dipermainkan oleh masa lalu, menghukum diri sendiri tanpa sadar bahkan melarikan diri dengan bersembunyi dalam hal-hal kenikmatan dunia [narkoba, diskotik, dugem dsb] 2.Dikendalikan oleh kemarahan dan kebencian: mereka gampang tersinggung, sensitif bahkan kalau marah sampai meledak-ledak tak terkendali sehingga menimbulkan kerugian dalam dirinya, orang lain dan lingkungan sekitarnya. 3.Dikendalikan oleh rasa takut: banyak hal yang dapat membuat kita takut, kuatir namun jika hidup kita sudah dikendalikan oleh rasa takut, kuatir maka tanpa sadar kita sudah membangun penjara bagi diri kita. 4.Dikendalikan oleh materialisme: uang, harta memang berguna namun ketika uang dan harta menjadi tujuan yang utama maka ia sudah terjebak di dalam materialisme, ketika sudah terjebak ia rela mengorbankan harkat dan harga diri itulah sebabnya ia akan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya [korupsi, merampok, mencuri, prostitusi dsb]. 5.Dikendalikan oleh kebutuhan pengalaman: pengakuan memang sudah menjadi kebutuhan setiap orang namun jika hidup kita sudah dikendalikan oleh keinginan untuk selalu diakui, maka sesungguhnya kita sedang menggadaikan hidup kita kepada penilaian orang lain/dunia ini. Seperti pertanyaan yang di atas, apa yang mengendalikan hidup anda ? memang hidup harus memiliki tujuan, tanpa tujuan hidup tanpa arti. Apa tujuan hidup kita? yaitu sesuai dengan rencana dan kehendak Allah. Jangan gantikan hanya dengan kekayaan, keberhasilan, kemasyuran, kesenangan karena semua itu hanya sampingan bukan tujuan. Jika kita mengerti rencana dan kehendak Allah atas hidup kita maka kita sedang menuju kepada hidup yang berarti, terfokus, termotivasi dan menjadikan hidup ini menjadi lebih mudah untuk dijalani karena ada Tuhan Yesus Kristus yang menyertai kita. Amin.
Mengikuti jejak Yesus 1 Petrus 2:21, 23 [21] Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya. [23] Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil. Saat ini kita hidup di tengah zaman dimana orang suka saling mencaci maki. Melalui media sosial orang saling mengungkapkan kebenciannya. Dalam dunia nyata juga orang saling mencaci maki. Caci maki dibalas dengan caci maki. Bahkan para tokoh dan pejabatpun, yang seharusnya menjadi panutan buat masyarakat, saling mencaci maki. Kehidupan menjadi bising dan tidak nyaman karena penuh dengan ungkapan kebencian, hujatan, dan makian. Hidup di tengah zaman seperti ini bagaimanakah kita menyikapinya? Kristus telah memberikan suatu teladan bagi kita. Ketika Dia diperlakukan dengan kejam, dibully, dihina, disiksa, disakiti, Dia tidak membalas. Dia menanggung semua itu dengan sikap rela. Dia sadar akan apa yang sedang Dia lakukan. Dia sedang menjalankan sebuah pekerjaan penebusan. Dia sedang menanggung penderitaan bagi banyak orang, termasuk saudara dan saya. Dia tahu bahwa apa yang Dia kerjakan akan mendatangkan keselamatan dan kesembuhan bagi banyak orang. Karena itu Dia tidak mau membalas perlakuan orang atas diri-Nya. Kadang kita ketemu dengan orang yang egois dan tidak mau tahu perasaan orang lain. Orang itu melakukan hal-hal yang menyakitkan. Bagaimana kita meresponnya? Kecenderungan manusiawi kita tentu saja adalah membalas. Tindakan membalas tidak menyelesaikan persoalan. Tindakan membalas akan menghasilkan tindakan membalas juga. Balas membalas. Tindakan balas membalas apapun bentuknya, entah pertengkaran, pertikaian, percekcokan, maupun peperangan, akan berujung pada kehancuran di kedua belah pihak. Pertengkaran selalu menyisakan kebencian dan sakit hati yang semakin dalam. Apalagi peperangan mengakibatkan hancurnya peradaban. Tuhan Yesus memberikan sebuah teladan cara mengatasi tindakan kebencian, yaitu dengan memberikan pengampunan. Pengampunan adalah suatu cara yang ampuh untuk mematahkan kebencian. Di Minggu Paskah ini marilah kita belajar mengikuti jejak Yesus. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
Berdoa adalah kegiatan terpenting dalam kehidupan Gereja. Doa dikatakan sebagai nafas orang beriman, artinya adalah bahwa berdoa merupakan bagian terpenting yang tidak dapat ditinggalkan. Seperti manusia pada umumnya bernafas adalah bukti bahwa manusia itu hidup, demikian juga dengan berdoa maka Gereja akan tampak sebagai Gereja yang hidup. Di dalam doa maka terungkap bahwa orang percaya mengakui kebesaran dan kedaulatan Allah. Seperti dalam doa Tuhan Yesus yang selalu berserah diri kepada kedaulatan Bapa, “...tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” [Mat. 26:39]. Pertanyaanya adalah bagaimana supaya doa-doa kita menjadi doa yang berkualitas seperti doa Tuhan Yesus? Supaya doa-doa kita menjadi doa yang berkualitas, maka berdoalah setiap waktu di dalam Roh, dan berdoa yang tidak ada putus-putusnya untuk segala orang Kudus [Ef.6:18]. Kata “di dalam Roh” [en pneumatikos] bukan menunjuk pada “glosolali” atau bahasa lidah, tetapi bermakna berdoa yang ada dalam pimpinan kuasa Roh Kudus. Berdoa yang berkualitas adalah berdoa yang berserah penuh dalam pimpinan kuasa Roh, sehingga doa-doa kita tidak berorientasi pada doa-doa kedagingan yaitu ungkapan-ungkapan yang berkutat pada permohonan untuk diri sendiri. Doa yang ada dalam pimpinan Roh Kudus akan membawa kita semua pada penyembahan kepada Allah dan kita akan masuk dalam keintiman dengan Bapa, masuk dalam hadirat Allah. Dalam doa seperti itulah kita akan dipimpin oleh Roh untuk berkata “kehendakMulah yang jadi bukan kehendakku”. Di dalam doa yang berkualitas itu [dipimpin Roh] maka doa-doa syafaat selalu mendapat porsi yang baik [berdoa untuk segala orang kudus atau berdoa untuk pekabaran Injil]. Baiklah saudara-saudara, kita semua akan terus berdoa dalam pimpinan Roh Kudus. Bagaimana supaya kita bisa berdoa dalam pimpinan Roh Kudus? Mintalah Roh Kudus membimbing saudara ketika berdoa. Sebenarnya apa yang bisa kita berikan kepada Tuhan? Semuanya adalah milik Tuhan, Dia tidak butuh apa-apa dari kita. Tetapi Tuhan senang apabila anak-anak-Nya dekat dengan-Nya, dekat dengan Bapa, ya melalui doa. Bapa senang kalau anak-anak-Nya pada nurut, mengikuti kehendak-Nya dan untuk menjadi anak-anak penurut Bapa maka mereka harus selalu menghampiri dan mendekat, ya melalui doa. Lalu bagaimana dengan permohonan doa-doa pribadi? Jangan kuatir, kalau kita dekat dengan Bapa, maka Bapa mengetahui segala apa kebutuhanmu, tanpa kita meminta-minta Bapa kita yang bertanggungjawab penuh atas hidup kita. Amin.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Jesus Effect
12 April '18
Pengorbanan Yang Tidak Sia-Sia1
01 April '18
Mengalami Tuhan Yang Bangkit
08 April '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang