SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 24 Januari 2020   -HARI INI-
  Kamis, 23 Januari 2020
  Rabu, 22 Januari 2020
  Selasa, 21 Januari 2020
  Senin, 20 Januari 2020
  Minggu, 19 Januari 2020
  Sabtu, 18 Januari 2020
POKOK RENUNGAN
Kasih setia Tuhan tidak pernah kering dan kebaikannya selalu ada disaat kita membutuhkannya.
DITULIS OLEH
Pdt. Benaya D. Cahyono
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Selamat Datang 2020
Selamat Datang 2020
Rabu, 01 Januari 2020
Selamat Datang 2020
Ratapan 3:21-24


Kehadiran tahun baru bukanlah suatu yang asing dan mengejutkan. Sebab setiap tahun selalu terjadi pergantian tahun. Hanya umur dan bagian tertentu dalam hidup ini yang mengalami perubahan seperti sehat, sakit, kaya, miskin, peningkatan jabatan dan banyak lagi lainnya, ini semua pernah dialami siapapun saja yang hidup dalam perjalanan tahun. Namun dalam perjalanan pergantian tahun sebenarnya Tuhan taruh sesuatu spesial dalam hidup ini. Sering kali kita tidak melihatnya dan menyadarinya bahwa di dalam tahun yang baru ada kasih dan penyertaan Tuhan begitu setia menyertai kita. Semua orang terhipnotis dengan kegembiraan berlebihan. Banyak orang menghambur-hamburkan uang untuk mencari sukacita dan mengharapkan berkat dari Tuhan menuju perjalanan tahun yang baru.

Semua orang merayakan tahun baru dengan berbagai cara. Harapannya diberkati dan mengalami kesejahteraan dalam hidup. Semua yang terbaik diinginkan agar mengalami kesuksesan dan banjir rejeki baik di keluarga dan pekerjaan. Tetapi pernahkah kita berpikir, apa yang sudah Tuhan berikan kepada kita selama ini. Tuhan begitu setia di dalam memimpin dan menuntun langkah hidup kita. Ketika kita tidak pernah berpikirpun...selengkapnya »
Malam itu, pukul setengah dua belas malam. Seorang wanita Negro rapi yang sudah berumur, sedang berdiri di tepi jalan tol Alabama. Ia nampak mencoba bertahan dalam hujan sangat deras, hampir seperti badai. Mobilnya kelihatannya lagi rusak, dan perempuan ini sangat ingin menumpang mobil. Dalam keadaan basah kuyup, ia mencoba menghentikan setiap mobil yang lewat. Mobil berikutnya dikendarai oleh seorang pemuda bule, dia berhenti untuk menolong ibu ini. Kelihatannya si bule ini tidak paham akan konflik etnis tahun 1960-an, yaitu pada saat itu. Pemuda ini akhirnya membawa si ibu Negro selamat hingga suatu tempat, untuk mendapatkan pertolongan, lalu mencarikan si ibu ini taksi. Walaupun terlihat sangat tergesa-gesa, si ibu tadi bertanya tentang alamat si pemuda. Wanita itu menulisnya, lalu mengucapkan terima kasih pada si pemuda. 7 hari berlalu, dan tiba-tiba pintu rumah pemuda bule ini diketuk seseorang. Kejutan baginya, karena yang datang ternyata kiriman sebuah televisi set besar berwarna [1960-an !] khusus dikirim kerumahnya. Terselip surat kecil tertempel di televisi, yang isinya adalah : “ Terima kasih nak, karena membantuku di jalan Tol malam itu. Hujan tidak hanya membasahi bajuku, tetapi juga jiwaku. Untung saja anda datang dan menolong saya. Karena pertolongan anda, saya masih sempat untuk hadir disisi suamiku yang sedang sekarat hingga wafatnya. Tuhan memberkati anda, karena membantu saya dan tidak mementingkan dirimu pada saat itu” Tertanda Ny.Nat King Cole. Perempuan kaya Sunem memberikan pertolongan kepada Elisa. Ia mengetahui bahwa Elisa adalah seorang abdi Allah. Sehingga ia selalu memberi makan setiap Elisa melakukan perjalanan ke daerah tersebut. Bahkan pada kesempatan yang baik, ia membuatkan sebuah kamar lengkap dengan perabotannya. Ia melakukan semua itu bukan semata-mata karena ia ingin menunjukkan kehidupannya mampu, tetapi memang ia sungguh memiliki kebaikan hati untuk menolong sesama serta menunjukkan perhatian kepada kepentingan orang lain. Elisa mengetahui bahwa perempuan Sunem sudah tidak lagi membutuhkan apa-apa lagi. Elisa melalui hambanya, menanyakan apa yang dibutuhkan oleh perempuan itu. Ternyata satu hal yang belum dimiliki olehnya, yaitu keturunan. Perempuan itu merindukan kehadiran seorang anak dalam hidupnya. Dengan perantaraan Elisa, Tuhan memenuhi kebutuhan perempuan itu, yaitu memberikan seorang anak baginya. Jemaat terkasih, salah satu bentuk pelayanan adalah memberikan pertolongan. Dari ilustrasi dan kisah perempuan Sunem, menjadi teladan yang baik bagi kita. Bentuk sederhana dari pelayanan yang bisa kita lakukan kapanpun dan di manapun. Oleh karena itu, mari terus melayani Tuhan setiap ada kesempatan, karena bagi Dialah segala kemuliaan.
Ada banyak orang Kristen tidak tertarik dan ’merasa jengah’ jika mendengar khotbah tentang ketaatan. Karena banyak yang berpikir, ketaatan selalu identik dengan larangan-larangan. Misal, tidak boleh ini tidak boleh itu, pantang melanggar, jika melanggar ada sanksi atau konsekuensinya yang akan di tanggungnya. Seperti tertulis: ’maka Aku akan membalas pelanggaran mereka dengan gada, dengan pukulan-pukulan.[ayat 32]. Karena itu tidaklah mengherankan jika orang lebih tertarik mendengar khotbah tentang berkat, keberhasilan, kemenangan, pemulihan, kesembuhan, mujizat dan sebagainya. Yang harus dipahami adalah bahwa berkat, keberhasilan, kemenangan, pemulihan, kesembuhan, mujizat adalah dampak atau upah ’bukan identik’ dari ketaatan seseorang dalam melakukan perintah Tuhan. Yang harus dipahami adalah ketaatan bukanlah sebatas larangan untuk melakukan sesuatu atau keharusan melakukan sesuatu. Tetapi merupakan keseluruhan gaya hidup yang semestinya dimiliki setiap orang percaya. Ketika ketaatan sudah menjadi gaya hidup dalam diri kita, maka melakukan ketetapan-ketetapan Tuhan bukan lagi menjadi suatu beban atau hal yang memberatkan. Melainkan menjadi sebuah kesukaan. Tuhan Yesus telah memberikan keteladanan dalam ketaatan-Nya kepada Bapa sebagai gaya hidup di sepanjang hidup-Nya. Hal itu tersirat dari pernyataan-Nya, ’Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.’ Perintah Tuhan bukan bertujuan untuk membebani, namun sesungguhnya untuk kebaikan kita. Tuhan menghendaki agar kita mengalami kebaikan, kasih setia, kebenaran, kemurahanNya. Sehingga rencana-Nya tergenapi, yaitu kehidupan berkelimpahan dan masa depan penuh harapan. Namun sayang, banyak orang memilih untuk tidak taat mengikuti jalan Tuhan. Padahal ’Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian dan peringatan-peringatan-Nya.’ [Mazmur 25:10]. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita menjadikan ketetapan-ketetapan-Nya menjadi gaya hidup kita? Seharusnya !!??
Setiap manusia pasti memiliki pengalaman hidup bermacam-macam dan berbeda satu dengan yang lainnya. Setiap pengalaman yang dialami baik itu pengalaman menyenangkan maupun tidak, pasti akan meninggalkan kesan berbeda. Terkadang pengalaman yang telah dialami akan ikut memperngaruhi sikap hidup manusia ke depannya. Misalnya seseorang akan menjadi lebih berhati-hati ketika berkendara karena memiliki pengalaman kecelakaan. Atau misalkan seseorang akan tidak mudah percaya kepada orang lain ketika pernah dibohongi. Pengalaman bisa menjadi pelajaran penting bagi manusia untuk bertindak lebih baik lagi pada hari depan. Dan menjadikan manusia tidak sembarangan untuk mengambil langkah-langkah kehidupan yang banyak diperhadapkan dengan pilihan di dalam kehidupan ini. Ketika kita melihat kembali apa yang dialami Daud pada saat ia dikejar-kejar oleh musuh-musuh yang ingin membunuhnya, Daud mengalami suatu pengalaman bersama Tuhan. Dalam 2 Samuel 22:1-7 dituliskan mengenai ucapan syukur Daud ketika ia telah dibebaskan oleh Tuhan dari cengkraman musuh-musuhnya. Pengalaman sulit Daud digambarkan seperti tali-tali dunia orang mati yang membelitnya. Namun Tuhan tidak membiarkan dia celaka. Tuhan mendengar seruan doa Daud. Bagaimana Daud bisa bertahan menghadapi musuh-musuhnya ? Karena, Pertama, dia tetap mengikuti jalan Tuhan dan tidak menjauhkan diri dari jalan Tuhan [ayat 22]. Ke dua, Dia memperhatikan segala hukum-Nya dan tidak menyimpang dari ketetapannya [ayat 23], Ke tiga, dia berlaku tidak bercela dan menjaga diri terhadap kesalehan [ayat 24]. Pengalaman yang dialami Daud menjadikan dia semakin dekat dengan Allah dan semakin beriman kepada-Nya. Orang yang benar-benar mengalami pengalaman dengan Tuhan secara nyata akan memiliki konsistensi iman yang kuat dengan apa yang dialami. Mereka akan tetap memiliki iman yang kuat ketika mengalami pengalaman yang pahit maupun manis. Kita bisa mengalami Tuhan ketika hidup kita selalu dekat dengan Tuhan. Hidup dekat dengan Tuhan melalui, tidak menyimpang dari ketetapan-Nya, berlaku tidak bercela dan menjaga diri terhadap kesalehan. Mari diawal tahun ini kita semakin rindu bersekutu dengan Tuhan supaya kita tetap kuat dalam menghadapi segala macam keadaan di hari-hari kedepan. Kita akan semakin mantap melangkah menghadapi kehidupan ini karena kita tahu bahwa Allah sendiri yang selalu menyertai dan menuntun langkah hidup kita.
Akhir tahun 2019 sudah menghadang di depan mata. Dua belas bulan hampir genap terlampaui di tahun ini. Jika kita menoleh ke belakang, pengalaman-pengalaman apa sajakah yang paling menancap di benak kita? Apakah harapan-harapan yang mengembang di awal tahun 2019 telah terwujud di akhir tahun ini? Atau justru hal-hal tak diinginkan yang banyak terjadi? Sebagaimana manusia pada umumnya, kita selalu mengharapkan hal-hal yang baik dan menyenangkan terjadi dalam hidup ini. Kita berdoa untuk kebahagiaan, kesehatan, kesejahteraan, perlindungan dan masih banyak lagi. Tetapi dalam perjalanan sepanjang dua belas bulan ini, pasti ada kalanya kita mengalami hal-hal yang tidak diinginkan, bahkan menyesakkan. Ada yang jatuh sakit, tertimpa musibah bencana alam, terbelit sengketa finansial, terlibat perseteruan tak terduga, terbebani masalah keluarga, dan lainnya. Sebagian orang tak habis pikir dan bertanya-tanya, “Mengapa???” Firman Tuhan yang tertulis di dalam Mazmur 119:71 menjawab kegundahan kita, “Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu.” Ternyata pengalaman-pengalaman yang menyesakkan itu memberi manfaat yang baik. Memang terasa sulit untuk diterima, namun itu membantu manusia belajar tentang ketetapan-ketetapan Tuhan. Itulah sebabnya Tuhan mengizinkannya terjadi meskipun manusia tak menghendaki. Jika kita mengingat kembali, harus diakui bahwa banyak pelajaran berharga yang berasal dari pengalaman-pengalaman masa lalu yang menyesakkan. Kalau bisa memilih, tentu kita tak mau mengalami hal-hal yang tidak enak. Namun tak dapat dipungkiri, kondisi yang berat itu telah membentuk kita menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih bijak daripada sebelumnya, dan lebih sanggup berserah kepada Tuhan. Oleh karena itu, marilah kita terima setiap pengalaman yang hadir dalam hidup ini dengan tangan terbuka. Mari percaya bahwa Tuhan bermaksud baik dengan menolong kita belajar perintah-perintah dan hukum-hukum-Nya yang adil. Mari tetap berharap pada Firman Tuhan, sebab dalam keadaan yang paling menyesakkan pun Tuhan tetap setia. Kasih setia-Nya menjadi penghiburan kita, sesuai dengan janji yang diucapkan-Nya kepada kita. Tuhan beserta kita.
FOLLOW OUR INSTAGRAM
RENUNGAN HARIAN
Kemarin, Hari ini dan Esok Tuhan Menolong
29 Desember '19
Eben Haezer1
27 Desember '19
Andalkan Tuhan
03 Januari '20
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang