SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 15 Juli 2018   -HARI INI-
  Sabtu, 14 Juli 2018
  Jumat, 13 Juli 2018
  Kamis, 12 Juli 2018
  Rabu, 11 Juli 2018
  Selasa, 10 Juli 2018
  Senin, 09 Juli 2018
POKOK RENUNGAN
Kiranya Dia menguatkan hatimu, supaya tak bercacat dan kudus, di hadapan Allah dan Bapa kita pada waktu kedatangan Yesus, Tuhan kita, dengan semua orang kudus-Nya. [1 Tesalonika 3:13]
DITULIS OLEH
Sdr. Daud Sugiyarno
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Siap Menyambut KedatanganNya
Siap Menyambut KedatanganNya
Kamis, 21 Desember 2017
Siap Menyambut KedatanganNya
Roma 13:11-14

Dalam beberapa hari lagi kita akan bersama-sama merayakan hari kelahiran Tuhan Yesus ke dunia yang diperingati setiap tanggal 25 Desember setiap tahunnya. Rasa sukacita pastinya melingkupi hati kita dalam menyambut natal. Berbagai persiapan pasti telah kita persiapkan, misalnya memasang berbagai macam hiasan pernak-pernik natal di rumah kita masing-masing. Sungguh indah suasana natal bagi setiap kita yang menantikan peringatan kelahiran-Nya. Natal membawa pesan tersendiri bagi orang-orang percaya di seluruh dunia ini.

Memaknai arti natal yang sesungguhnya adalah penting bagi kita semua. Jika natal hanya dimaknai sebagai perayaan saja, maka natal akan kehilangan makna sesungguhnya karena kita terfokus hanya kepada perayaan yang diisi berbagai macam acara meriah. Natal akan bermakna ketika hati kita tidak hanya bersucita karena kelahiran-Nya, namun juga hati yang bersiap untuk menyambut kedatangan-Nya yang kedua kali. Dalam Roma 13:11-14 kita melihat bahwa Sang Juruselamat itu telah dekat, oleh sebab itu bangunlah dari tidurmu dan persiapkan diri untuk menyambut Dia. Namun apakah kita benar-benar telah bangun dari dosa dan pelanggaran kita, atau justru kita masih terlelap dan menikmati dosa pelanggaran kita. Dan pada akhirnya kita tidak siap menyambut Dia yang da...selengkapnya »
Piala Dunia selalu diwarnai dengan kejutan-kejutan. Salah satunya adalah tim yang awalnya tertinggal mampu membalikkan keadaan dan akhirnya memetik kemenangan yang gemilang. Sebut saja Swiss yang tertinggal dari Serbia, akhirnya menang 2-1. Belgia yang tertinggal 2 gol lebih dahulu dari Jepang, akhirnya unggul dengan scor 3-2. Apa yang menyebabkan tim-tim ini mampu membalikkan keadaan? Jawabnya adalah karena mereka bertanding dengan sikap pantang menyerah. “Aku ini orangnya seperti tim-tim itu, Sam” kata Benay kepada Sambey, “Bermental baja dan pantang menyerah!”. Sambey tampak tidak terlalu menggubris yang dikatakan Benay. Ia asyik menikmati pisang goreng hangat yang disuguhkan Mbah Wanidy. “Aku tidak sombong. Kalau mentalku lemah, mungkin aku sudah mati di Iraq, Sam!” Sambey hanya mengangguk pelan, mulutnya penuh pisang goreng nan lezat. Tiba-tiba Sambey berdiri dari kursi panjang khas kedai angkringan, dan bersamaan dengan itu Benay terjerembab jatuh berbarengan dengan tempat duduk yang njomplang. Rupa-rupanya saking semangatnya bercerita, Benay tak menyadari bahwa posisi duduknya semakin bergeser ke ujung kursi. “Jangan menyerah kawan! Bukan karena kamu mampu, tetapi karena Tuhan menyertaimu” kata Sambey menahan tawa sambil mengulurkan tangannya kepada Benay yang masih bengong. Jemaat yang terkasih, selama 400 tahun Bangsa Israel diperbudak oleh Firaun. Selama itu pula mereka berseru-seru kepada Tuhan. Meskipun Tuhan tampaknya bersembunyi dan belum mengabulkan seruan minta tolong mereka, namun mereka tidak patah semangat. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh keluarga Lewi, yaitu Amran dan Yokhebet, orangtua Musa. Keluarga ini bukan hanya menderita karena perbudakan. Tetapi juga terancam oleh titah Firaun yang memerintahkan agar setiap bayi laki-laki dari bangsa Ibrani harus dibuang ke Sungai Nil. Namun mereka pantang menyerah. Mereka berpikir dan berupaya melakukan apa yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan bayi Musa. Meski upaya yang mereka lakukan itu mengandung risiko. Namun Tuhan ternyata tidak tinggal diam. Meskipun secara tersembunyi, Tuhan menyatakan pertolongan-Nya. Upaya untuk menyelamatkan bayi Musa berhasil. Bayi Musa mendapatkan belaskasihan dari putri Firaun. Dan kelak ketika dewasa dipakai oleh Tuhan untuk memimpin pembebasan Israel dari perbudakan Mesir. Jemaat yang dikasihi Tuhan. Milikilah sikap pantang menyerah dan terus berupaya dalam mengharapkan hal-hal yang baik dalam hidup kita. Sebab kita tidak berjuang seorang diri. Tuhan yang kadangkala kita anggap bersembunyi dan belum mengabulkan seru doa kita, sebenarnya adalah Tuhan yang tidak pernah berhenti bekerja dan merancangkan yang baik dalam hidup kita. Selamat pantang menyerah. Terpujilah Tuhan.
Gegap gempita , sorak sorai & tepuk tangan terdengar riuh rendah saat seorang akrobatik selesai melakukan atraksinya berjalan di atas seutas tali yang dibentangkannya di atas air terjun Niagara. Atraksi diawali hanya berjalan pelan-pelan di atas tali tersebut, sementara penonton menyaksikan sambil menahan nafas. Saat akan berjalan balik dia memperlihatkan sebuah kereta dorong dan bertanya kepada penonton apakah mereka percaya dia bisa balik dengan selamat berjalan sambil membawa sebuah kereta tsb. Penonton berteriak bahwa mereka percaya. Dan benar ia sampai di ujung sana dengan mulus. Kemudian dia bertanya apakah mereka percaya bila di kereta dorong itu diberi beban, dia bisa membawanya dengan selamat sampai ke seberang. Penonton serentak menjawab bahwa mereka percaya. Tetapi ketika sang akrobat menanyakan siapa yang bersedia duduk di kereta itu, suasana mendadak sepi tiada suara. Tak seorangpun bersedia. Mereka mengatakan percaya tetapi mereka tidak ada nyali untuk melakukan apa yang mereka percayai karena nyawa taruhannya. Akhirnya ada seorang anak yang mau naik ke kereta dorong tsb dan dimulailah akrobat yang menegangkan itu. Para penonton saling berbisik mempertanyakan siapa anak yg sangat berani itu. Selidik punya selidik akhirnya diketahui bahwa anak itu adalah putra sang akrobatik sehingga pantas saja percaya kemampuan ayahnya. Bagaimana dengan kita anak-anak Allah? Keadaan dunia yang carut marut, banyak hal yang menakutkan, mencemaskan. Percayakah kita kepada Allah Bapa yang sanggup memberikan keselamatan kepada kita ? Sering kita dengar anak-anak Tuhan yang kuatir akan masa depannya, berpaling kepada “sang penolong” , rela meninggalkan Kristus yang sudah memberikan keselamatan karena merasa bimbang kepada kemampuanNya memelihara kehidupannya dalam dunia yang sangat sulit ini. Bagaimana dengan diri kita? Biarlah bukan hanya mulut kita yang berkata “percaya” tetapi kita buktikan dengan tindakan keseharian kita, tetap percaya “duduk di kereta dunia” yang penuh masalah sampai kita selamat di seberang sana Surga yang mulia. Amin.
World Cup 2018 sedang berlangsung. Seluruh peserta berusaha dengan sekuat tenaga untuk menjadi yang terbaik. Semua pemain mengerahkan seluruh semangat dan kemampuan terbaiknya, demi meraih kemenangan. Tim Jerman sebagai sang juara bertahan mengusung tekad untuk menang dan kembali menjadi juara. Menang adalah hal yang sangat diidam-idamkan oleh semua orang. Meraih kemenangan adalah hal yang tidak mudah, dan untuk mempertahankan kemenangan itu adalah hal yang jauh lebih sulit. Lihatah contoh di World Cup tahun ini. Tim-tim yang berlaga cukup kesulitan untuk mempertahankan kemenangan mereka sampai akhir pertandingan. Tidak hanya tim non unggulan yang merasakan hal ini, bahkan tim-tim favorit juara pun juga kesulitan untuk mempertahankan kemenangan itu. Rasul Paulus memberikan nasehat kepada jemaat di Korintus tentang hal sama seperti gambaran di atas. Jemaat Korintus diperhadapkan dengan berbagai tantangan di dalam hidup mereka. Tantangan tersebut sewaktu-waktu dapat meruntuhkan iman dan hidup jemaat korintus. Tantangan yang dihadapi berupa, ajaran-ajaran sesat, dosa, kesulitan hidup,hedonisme, dan perkembangan jaman. Semua itu dapat dengan mudah membuat iman tergerus, goyah dan hilang Kemenangan sudah diberikan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita [ay.57], dan bagaimana kita harus mempertahankannya? Rasul Paulus memberikan nasehat untuk bisa mempertahankan kemenangan tersebut, yaitu berdiri teguh, jangan goyah dan giat dalam pekerjaan Tuhan [ay.58]. Apa yang dimaksud dengan berdiri teguh, jangan goyah? Serta apa arti dari giat daam pekerjaan Tuhan? Berdiri teguh, jangan goyah di dalam pengertiannya memiliki makna berdiri dalam satu posisi terus menerus, tenang, dan setia, serta tidak bergeser. Sedangkan kata giat, memiliki makna keadaan yang berlimpah dengan kualitas dan kuantitas atau dapat diartikan dengan keadaan penuh semangat. Sikap tersebut adalah sikap yang harus dilakukan untuk mempertahankan kemenangan yang telah Tuhan Yesus berikan. Di masa kini, di mana tantangan semakin kompleks dan perkembangan jaman terus terjadi, apakah kita sanggup mempertahankan kemenangan yang Tuhan Yesus telah berikan bagi kita? Pada saat iman kita tetap teguh dan tidak goyah, serta tetap giat di dalam Tuhan, maka di saat itu kemenangan dapat kita pertahankan. Mari belajar dari nasehat yang disampaikan oleh Rasul Paulus ini, supaya kemenangan itu tetap ada di dalam diri hingga akhir hayat kita. Tetap semangat dan terus pertahankan kemenangan yang telah Tuhan Yesus berikan buat kita.
Mendengar suara Sang Gembala Mazmur 95:7‭-‬8 Sebab Dialah Allah kita, dan kitalah umat gembalaan-Nya dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya. Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya! Janganlah keraskan hatimu seperti di Meriba, seperti pada hari di Masa di padang gurun, Alkitab memakai gambaran tentang gembala dan domba-dombanya untuk menggambarkan hubungan Allah dengan umat-Nya [baca Mazmur 23:1-6; Yohanes 10:3-5]. Ada hubungan personal antara gembala dan domba-domba yang menjadi miliknya. Sehingga waktu gembala itu memanggil domba-dombanya, mereka dapat mengenali suara gembalanya, dan mereka datang. Tetapi jika yang memanggil seorang yang asing, mereka tidak mengenalinya dan menjauhi orang itu. Ini adalah sesuatu yang unik, sehingga Alkitab memakai gambaran ini untuk menggambarkan hubungan Allah dan umat-Nya, baik umat Israel maupun Gereja. Domba itu mendengar, mengenali dan merespon gembalanya. Sekalipun domba hanyalah seekor hewan yang tidak punya kecerdasan yang tinggi, tetapi dia bisa membedakan antara suara gembalanya dan suara orang lain. Dari mana dia bisa mengenali dan membedakan suara gembalanya? Tentu dari pengalamannya yang terbentuk dalam waktu yang cukup lama. Sebodoh apapun domba itu, tapi karena dia mendengar suara gembalanya berulang-ulang, dia hafal dengan suara itu. Gembala itulah yang tiap hari menuntunnya keluar dari kandang, berjalan menuju padang rumput yang segar sehingga dia bisa mendapatkan makanan dan juga minuman. Gembala itu jugalah yang menjaga dia dan melindungi dia apabila ada musuh yang datang menyerang. Gembala itu jugalah yang menuntunnya kembali pulang ke kandang. Setiap hari pengalaman seperti itu dialaminya berulang-ulang kali. Bagaimana mungkin dia tidak mengenali suara gembalanya? Jika Alkitab mengatakan bahwa Tuhan Allah kita adalah Gembala dan kita adalah kawanan domba-Nya, maka seperti itulah seharusnya hubungan kita dengan Allah kita. Melalui pengalaman setiap hari bersama Dia, kita semakin bisa mengenali suara-Nya. Kita seharusnya dapat membedakan antara suara Tuhan dan suara setan. Dan kalau kita mendengar suara-Nya maka kita harus merespon, mengikuti ajakan dan perintah-Nya. Sebab ajakan dan perintah-Nya pasti untuk kebaikan kita. Sekalipun suara-Nya itu berupa teguran yang keras ataupun perintah yang sulit kita mengerti, semua adalah untuk kebaikan kita. Marilah kita terus belajar mendengar, mengenali dan mengikuti suara Allah, Gembala kita yang baik. Tuhan memberkati. Pdt. Goenawan Susanto
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Allah Tempat Bersandar
02 Juli '18
Bukan Batu Sandungan
28 Juni '18
Keluarga Tuhan
15 Juni '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang