SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 21 Januari 2018   -HARI INI-
  Sabtu, 20 Januari 2018
  Jumat, 19 Januari 2018
  Kamis, 18 Januari 2018
  Rabu, 17 Januari 2018
  Selasa, 16 Januari 2018
  Senin, 15 Januari 2018
POKOK RENUNGAN
Kiranya Dia menguatkan hatimu, supaya tak bercacat dan kudus, di hadapan Allah dan Bapa kita pada waktu kedatangan Yesus, Tuhan kita, dengan semua orang kudus-Nya. [1 Tesalonika 3:13]
DITULIS OLEH
Sdr. Daud Sugiarno
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Siap Menyambut KedatanganNya
Siap Menyambut KedatanganNya
Kamis, 21 Desember 2017
Siap Menyambut KedatanganNya
Roma 13:11-14

Dalam beberapa hari lagi kita akan bersama-sama merayakan hari kelahiran Tuhan Yesus ke dunia yang diperingati setiap tanggal 25 Desember setiap tahunnya. Rasa sukacita pastinya melingkupi hati kita dalam menyambut natal. Berbagai persiapan pasti telah kita persiapkan, misalnya memasang berbagai macam hiasan pernak-pernik natal di rumah kita masing-masing. Sungguh indah suasana natal bagi setiap kita yang menantikan peringatan kelahiran-Nya. Natal membawa pesan tersendiri bagi orang-orang percaya di seluruh dunia ini.

Memaknai arti natal yang sesungguhnya adalah penting bagi kita semua. Jika natal hanya dimaknai sebagai perayaan saja, maka natal akan kehilangan makna sesungguhnya karena kita terfokus hanya kepada perayaan yang diisi berbagai macam acara meriah. Natal akan bermakna ketika hati kita tidak hanya bersucita karena kelahiran-Nya, namun juga hati yang bersiap untuk menyambut kedatangan-Nya yang kedua kali. Dalam Roma 13:11-14 kita melihat bahwa Sang Juruselamat itu telah dekat, oleh sebab itu bangunlah dari tidurmu dan persiapkan diri untuk menyambut Dia. Namun apakah kita benar-benar telah bangun dari dosa dan pelanggaran kita, atau justru kita masih terlelap dan menikmati dosa pelanggaran kita. Dan pada akhirnya kita tidak siap menyambut Dia yang da...selengkapnya »
Kata “Anugerah” berarti pemberian dari pihak yang “lebih tinggi” kepada yang “lebih rendah” atau dari tuan kepada hamba. Jika kata tersebut dihayati dalam “kacamata” iman, maka kata “anugerah” tersebut menjadi sangat dalam. Bukan hanya sekedar pemberian yang asal diberikan oleh Tuhan, namun di balik pemberian tersebut ada rencana yang tidak dapat dimengerti dengan akal budi manusia. Agar manusia senantiasa berpengharapan serta menerima curahan anugerah-Nya, maka mereka harus menerima Tuhan dengan kesungguhan. Tuhan sangat mengasihi Daud. Kepemimpinan Daud bukan hanya untuk suku Yehuda, sehingga Tuhan berkenan mengangkat Daud menjadi pemimpin atas Israel. Kekuasaan yang awalnya dari lingkup kecil [terbatas], sekarang meluas kepada bangsa besar [ayat 3]. Inilah bukti anugerah Tuhan yang tidak terselami akal budi manusia, yaitu Tuhan menggunakan Daud menjadi raja atas suku-suku bangsa Israel. Kehidupan Daud sekarang bukan untuk sukunya sendiri, tetapi meluas ke seluruh suku Israel [ayat 9-10]. Menerima anugerah dari Tuhan adalah berkat besar bagi diri sendiri, namun sebenarnya di balik anugerah yang diterima secara individu ada maksud dan rencana Tuhan yang lebih luas, bukan saja dalam area pribadi tetapi mencakup area yang luas. Daud menerima anugerah kepemimpinan dari Tuhan, secara individual Daud diberkati, tetapi di balik penganugerahan itu Tuhan ingin agar tidak saja suku Yehuda yang diberkati, tetapi kepada semua suku Israel. Jadi Anugerah yang diterima orang percaya harus dirasakan pula oleh sesama sebagai perwujudan kasih sejati seperti yang dikehendaki Tuhan. Relasi yang harmonis antara orang percaya dengan Tuhan berdampak terhadap kehidupan yang lebih luas. Anugerah tersebut memang menjadi milik personal, namun harus dimanfaatkan untuk menyatakan kasih Tuhan kepada sesama. Dengan demikian bangunan spiritualitas yang terjadi adalah karakter hidup menghamba [bnd. 2 Korintus 12:2-10]. Dengan memperingati Natal, maka kita kembali diingatkan bahwa kita menerima anugerah keselamatan dari Allah dan supaya kita mewartakan kepada banyak orang. Selamat Natal dan selamat menjadi berkat.
Alkisah, ada seorang penebang kayu. Suatu hari dia kehilangan kapaknya, sehingga dia tidak bisa bekerja. Dia mencurigai tetangganya yang mencuri kapaknya. Pagi itu ketika sang tetangga berangkat & menutupi peralatan kerjanya dengan kain, rasanya kapaknya pasti disembunyikan disana, apalagi tetangga ini senyumnya terasa tidak tulus. Pasti dia pencurinya. Besoknya, tetangganya bahkan terasa jadi ramah berlebihan karena biasanya jarang menyapa, kali ini menyempatkan berbasa-basi. Apalagi dilihat hasil tebangan kayunya dua hari ini banyak sekali, pasti dia menebang menggunakan kapak curiannya. Semakin dipikir semakin yakin. Pada hari ketiga baru disadari ternyata kapaknya tersimpan di laci dapur. Istrinya yg sedang keluar kota menyimpankan disana. Senang benar hatinya karena kapaknya dapat ditemukan kembali. Dia amati lagi tetangganya yang lewat, dan dia merasa tetangga ini tidak berkelakuan seperti pencuri & senyumnya juga tulus-tulus saja. Bahkan percakapannya terasa sangat wajar dan jujur. Dia heran kenapa kemarin dia melihat tetangganya seperti pencuri? Persepsi membentuk kenyataan, pikiran kita membentuk sudut pandang kita. Apa yang kita yakini akan semakin terlihat oleh kita sebagai kenyataan. Sebagai contoh, apapun yang dilakukan orang yang kita cintai adalah baik dan benar. Anak nakal dianggap lucu, kekasih pelit dianggap berhemat, orang cerewet dibilang perhatian, keras kepala dibilang berprinsip & makanan tidak enak dibilang bergizi. Hidup tidak pernah & tidak ada yang adil, tidak ada benar salah, kita ciptakan sudut pandang kita sendiri. Kita menemukan apa yang kita ingin temukan. Apa yang terlihat bukan kenyataan, kenyataan adalah siapa kita & bagaimana kita memandang semuanya itu. Pandangan kita berubah mengikuti perubahan jaman & keadaan. Firman Tuhan mengajarkan kepada kita orang percaya untuk memiliki pikiran yang benar dan objektif terhadap apapun. Terlebih ditahun yang baru kita jalani ini marilah kita melihat dan mengerjakan sesuatu dengan cara pandang yang benar dan mulia agar tidak terjadi kemunduran. Ada kehidupan yang lebih baik dan senantiasa melihat kejadian hidup dan orang lain dengan pengertian yang benar.
Kristus datang memberi hidup dan pengharapan Yohanes 10:10b Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. Kolose 1:27 Kepada mereka Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan! Bila ada seseorang yang baru datang ke tengah sebuah lingkungan tertentu [misalkan sebuah kampung], maka orang-orang di lingkungan itu akan bertanya-tanya: ’Siapakah orang itu? Seperti apakah pribadi dan latar belakangnya? Apakah kehadirannya akan membawa akibat yang baik atau buruk bagi orang-orang di lingkungan ini?’ Dua ribu tahun yang lalu telah datang ke dunia ini Yesus yang lahir di kota Betlehem. Para nabi sudah menubuatkan kedatangan-Nya. Dia adalah Sang Firman yang menjelma menjadi manusia. Dia datang ke dunia dengan tujuan untuk memberikan hidup dan pengharapan kepada manusia. Kristus telah datang ke dunia untuk memberikan hidup. Hidup yang dimaksud adalah zoe [dalam bahasa Yunani], yaitu hidup yang berkualitas. Hidup bukan asal hidup. Bukan hidup hanya untuk menikmati kesenangan saja. Tapi hidup yang penuh arti. Hidup yang berdampak bagi orang lain. Hidup yang berkenan di hati Tuhan. Hidup yang berpengharapan adalah hidup yang tidak hanya sebatas hidup di dunia ini saja. Tapi hidup yang melampaui batas. Sebab Kristus adalah pengharapan akan kemuliaan. Kristus sendiri saat ini ada di dalam kemuliaan di Sorga. Kristus sanggup membawa umat-Nya kepada kemuliaan yang saat ini dimiliki-Nya. Untuk semua itulah Kristus datang ke dunia ini. Dia lahir ke dunia ini dengan tujuan yang jelas. Dia datang agar manusia yang percaya kepada-Nya akan memiliki hidup dan memiliki pengharapan akan kemuliaan. Hidup di tengah dunia ini kita harus memiliki pegangan yang pasti. Jika kita memiliki iman kepada Kristus, maka kita memiliki jaminan hidup yang pasti. Pada hari Natal ini marilah kita semakin kuat di dalam iman dan pengharapan kita kepada Kristus. Pdt. Goenawan Susanto
Bangsa Indonesia akan menjalani “tahun yang sibuk” di sepanjang tahun ini hingga tahun 2019 nanti. Indonesia akan menyelenggatakan “hajatan politik dan pesta demokrasi” besar. Paling tidak hingga tahun depan, yaitu pemilihan kepala daerah secara serentak di beberapa daerah di tahun 2018. Dan pemilihan legislatif dan pemilihan Presiden di tahun 2019. Jika kita berbicara tentang “hajatan politik”, maka ada fenomena yang selalu menyertainya. Apa itu? Politikus dadakan mulai bermunculan. Mulai dari hanya sekedar menjadi pengamat dan memprediksi perkembangan politik, hingga merapatkan diri ke parpol untuk dapat tampil menjadi politikus yang layak untuk maju dalam pemilihan. Kita semua tidak tahu, apakah semuanya itu dilandasi dengan sebuah motivasi yang benar atau hanya sekedar ingin tenar. Fenomena di atas seolah-olah juga mewabah hingga ke gereja. Tidak sedikit kita melihat fenomena, orang-orang yang “katanya” ingin terjun dalam hal kerohanian karena panggilan Tuhan. Mulai dari menjadi pelayan mimbar, menjadi hamba Tuhan ataupun menjadi pemberita Injil, namun ujung-ujungnya ternyata hanya untuk popularitas dan kenyamanan diri. Semuanya itu akan teruji dengan waktu apakah motivasi yang dibawa adalah benar, atau hanya sekedar kamuflase kebohongan belaka. Sebagai utusan Allah yang dipercaya untuk memberitakan Injil, Rasul Paulus menyampaikan pengajaran dengan motivasi yang benar. Pengajaran yang disampaikannya bukan untuk menyenangkan hati manusia, melainkan menyenangkan hati Allah. Paulus tidak mengajar dengan perkataan yang manis. Paulus juga tidak mengajar untuk mendapatkan uang atau mencari pujian dari manusia. Paulus memberitakan Injil dan menjalankan panggilan pelayanan-Nya semua dengan motivasi yang benar dan bukan untuk keuntungan diri semata. Namun sayangnya, masih banyak orang Kristen yang takut menyatakan kebenaran. Mereka lebih memilih menyenangkan orang, agar keberadaannya diterima, dan mencari sanjungan orang lain. Berkata-kata dengan manis, namun tujuannya melenceng, supaya diri pribadi terus dipercaya tampil di depan umum, supaya diri pribadi nyaman, dan sebagainya. Jangan sampai kita lupa bahwa hidup ini adalah milik Allah dan harus dipersembahkan bagi kemuliaan nama-Nya. Kita dipanggil untuk mewartakan Injil dengan murni, tanpa tipu daya atau motivasi yang terselubung. Ingatlah selalu, manusia mungkin dapat kita bohongi dengan penampilan manis kita, namun Tuhan tidak dapat dibohongi dengan semuanya itu. Jadilah murid Kristus yang mempunyai motivasi yang tulus dan benar di hadapan Allah. Jadilah pewarta kebenaran Firman yang tulus dan benar.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Hadiah Natal1
27 Desember '17
Apakah Dia Benay ? [3]
01 Januari '18
Memasuki Tahun 2018
31 Desember '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang