SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 22 Juni 2018   -HARI INI-
  Kamis, 21 Juni 2018
  Rabu, 20 Juni 2018
  Selasa, 19 Juni 2018
  Senin, 18 Juni 2018
  Minggu, 17 Juni 2018
  Sabtu, 16 Juni 2018
POKOK RENUNGAN
Setialah sampai akhir, setialah mengikuti Tuhan sampai akhir hidup kita
DITULIS OLEH
Pdt. Denny D. Kristianto
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Sudah Selesai
Sudah Selesai
Rabu, 28 Maret 2018
Sudah Selesai
Yohanes 19:28-30
Sejenak kita tinggalkan Sambey, Pdt. Itong dan Mbah Wanidy dengan segala pikiran yang berkecamuk di kepala mereka. Marilah kita arahkan pandangan mata kita nun jauh di sana. Pada sosok Benay yang berada di Iraq, negeri Saddam Husein yang kaya minyak namun sekaligus kaya konflik. Ya, Benay masih hidup dan sangat rindu untuk dapat segera pulang ke tanah air. Ia sudah kangen dengan nasi goreng babat, lunpia Semarang, dan tentu saja nasi bungkus dan racikan kopi khas angkringan Mbah Wanidy. Ia sangat rindu pula pada Sambey, sahabat karibnya. Bayangan canda tawa dan keakraban di antara mereka terukir indah di langit-langit angannya. Dan itu semua membuat waktu penantian seperti ini terasa begitu lama dan sangat menyiksa batin Benay. Namun di sela-sela dera kerinduan itu, ada nuansa kepuasan yang tak terlukiskan dalam nurani Benay. “Sudah selesai”, kata Benay. Kalimat singkatnya itu merangkumkan semua jerih lelah dan pengorbanan yang telah ia persembahkan dalam misi kemanusiaan yang penuh risiko. Ya, Benay sungguh bersyukur diberi kesempatan untuk mencicipi pengalaman-pengalaman yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Melalui pengalaman-pengalaman itu hidupnya makin diperkaya dan kian merasakan campur tangan Tuhan sungguh nyata.

Jemaat yang terkasih. Sama seperti Bena...selengkapnya »
Seorang organis gereja sedang berlatih memainkan lagu ciptaan Felix Mendelssohn, tetapi ia masih saja belum dapat memainkannya dengan baik. Karena kesal, ia lalu membereskan perlengkapan musiknya dan hendak pergi. Ia tidak memperhatikan kalau ada seseorang yang masuk dan duduk di bangku depan gereja. Saat organis tersebut beranjak pergi, orang itu maju ke depan dan bertanya apakah ia boleh memainkan lagu itu. ’Saya tak pernah mengizinkan siapa pun menyentuh organ ini!’ tukas sang organis. Setelah dua kali memohon dengan sopan, akhirnya sang organis yang galak itu dengan berat hati mengizinkannya. Orang itu akhirnya duduk dan memainkan musik yang indah sehingga alunan musiknya memenuhi gereja. Setelah selesai, sang organis bertanya, ’Siapakah Anda?’ Lelaki itu menjawab, ’Saya Felix Mendelssohn.’ Tadinya sang organis hampir saja melarang si pencipta lagu memainkan musik ciptaannya sendiri! Sering kali kita terlalu ingin memainkan “nada-nada kehidupan kita sendiri dan melarang Sang Pencipta memainkan musik yang indah”. Seperti halnya organis yang keras kepala itu, dengan berat hati kita melepaskan tangan kita dari tuts-tuts organ. Seperti pengalaman hidup yang dialami oleh pemazmur bahwa seluruh perjalanan hidupnya senantiasa dipimpin oleh Tuhan. Demikian juga pemazmur menyadari bahwa kalau dirinya kuat dan mampu menghadapi persoalan hidupnya itu karena semata-mata pertolongan Tuhan. Tidak cukup sampai di situ bahwa keberhasilan Daud menjadi penguasa atas Yehuda dan seluruh wilayah Israel itu karena perbuatan tangan TUHAN. Dengan demikian Daud dengan lugas berkata,”Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak; Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang [ay.5-6].” Saudara-saudara kekasih Tuhan, sudah semestinya bahwa kita harus melakukan segala kehidupan ini. Banyak hal yang dilakukan dengan baik, tetapi dalam kehidupan ini kita sering menghadapi kenyataan yang di luar kemampuan. Kita sudah memeras seluruh kemampuan tetapi berakhir dengan nihil, dan akhirnya kita sampai pada perasaan lelah dan kepayahan. Dalam keadaan seperti ini kita diingatkan kembali akan pentingnya berserah dalam pimpinan Tuhan. Dari persoalan hidup yang ringan sampai yang berat, mari kita serahkan kepada Tuhan. Biarkan tangan Tuhan yang turut memainkan “tuts” kehidupan, karena Dia sang pencipta atas kita, ijinkan Dia memimpin seluruh hidupmu, Tuhan memampukan kita menjalani kehidupan ini dengan baik dan penuh keberhasilan. Berserahlah kepada Tuhan.
Sudah berapa lama kita menjadi orang Kristen ? Apa yang sudah kita lakukan bagi Tuhan dan Sesama ? Apakah kita selama ini masih memikirkan diri sendiri, keluarga sendiri, perusahaan/bisnis sendiri ? Kalaupun melayani juga sesungguhya hanya untuk diri sendiri, seperti popularitas diri sendiri, dll, yang selalu hanya fokus kepada diri sendiri. Ataukah sebaliknya rela mengorbankan diri demi kepentingan, kemajuan, membangun orang orang lain, pihak lain. Pernahkan kita berpikir untuk berbuah bagi Tuhan ? Berbuah berarti bermanfaat, berdampak, menjadi berkat, membawa berkat bagi orang lain. Pernahkan kita melihat pohon blimbing makan buahnya sendiri ? Ataupun buah apapun makan buahnya sendiri ? Buah yang dihasilkan oleh sebuah pohon selalu akan dinikmati oleh pihak lain. Entah itu binatang, entah itu manusia. Buah juga berguna untuk memperbanyak/multiplikasi diri. Artinya menjadikan lebih banyak yang sama/serupa, dan tidak pernah terjadi dengan berbuah pohon itu akan menggemukan diri sendiri. Jadi yang dimaksud dengan berbuah disini adalah: Pertama, menjadi berkat, berdampak, bermanfaat bagi orang-orang di lingkungannya. Semuanya tadi dapat kita lakukan melalui perkataan, pikiran, uluran tangan, tenaga, bahkan harta kita. Kedua, memperbanyak diri sendiri. Maksudnya menjadikan orang lain/sesama menjadi murid Kristus seperti kita, yang juga dapat menjadi berkat, berdampak, bermanfaat bagi lingkungannya, untuk kemudian memuridkan orang lain. Tuntunan firman Tuhan bagi kita untuk menghasilkan buah sangat jelas. Tidak alasan bagi kita untuk berdalih tidak tahu, tidak bisa. Hanya ada satu cara untuk dapat menjadi berkat, berdampak, bermanfaat, bagi lingkungan kalau kita mau. Sesungguhnya berbuah merupakan kerinduan Tuhan Yesus sendiri atas hidup kita. Maka kata Tuhan: ”Tinggalah di dalam Aku, dan Aku di dalam kamu. Maka ia akan berbuah banyak.
Jurnalis sebuah radio mewawancarai ibu Wenny seorang korban bom yang masih dirawat di sebuah rumah sakit karena harus dilakukan tindakan operasi beberapa kali akibat serpihan bom yang masuk dalam tubuhnya. Ibu Wenny juga kehilangan kedua anaknya yang meninggal karena bom yang sama. Di tengah kelemahan tubuhnya dia bisa bercerita dengan antusias ketika ditanya peristiwa bom yang mengenai dirinya dan kedua anaknya. Dia ingat peristiwa itu karena dia tidak pingsan, dia melihat 2 orang remaja berboncengan sepeda motor masuk ke halaman gereja melewati pintu keluar di mana dia dan anak-anaknya juga sedang berjalan masuk lewat pintu yang sama. Tiba-tiba bom meledak dan dia terjatuh dengan banyak luka di tubuhnya. Yang menarik ketika ditanya andai kata ibu bertemu pelaku yang membuat ibu terluka dan kedua anak ibu meninggal, apa yang akan ibu katakan ? Jawabnya“ Saya mengasihi dan mengampuni mereka, saya tidak akan menuntut mereka dengan minta hukuman yang setimpal”. Firman Tuhan berkata janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, lakukan apa yang baik bagi semua orang. Hidup berdamai dengan semua orang. Jangan menuntut pembalasan, tetapi berilah kepada murka Allah sebab ada tertulis :Pembalasan adalah hak-Ku, Akulah yang akan menuntut pembalasan. Berbuatlah kebaikan kepada seterumu dengan memberi kepadanya apa yang dibutuhkannya. Ketika kita mengalami perlakuan orang lain yang membuat kita kecewa, marah, sakit hati dan menderita, bagaimana respons kita ? Bila kita membaca atau mendengar berita rekan, sanak keluarga kita atau saudara kita seiman mengalami penderitaan akibat ulah orang yang tidak bertanggung jawab apakah kita dengan penuh amarah menyarankan untuk menuntut balas ? Mari kita taati firman Tuhan di atas, untuk mengampuni dan tidak menuntut balas dan menyerahkan peristiwa tersebut ke tangan Tuhan karena pembalasan adalah hak-Nya.
Curahan Roh Kudus dalam diri Petrus, tidak hanya membangkitkan keberanian untuk menyampaikan Firman Tuhan saja, tapi juga melembutkan hati Petrus. Terbukti ketika Petrus melihat seorang peminta-minta yang lumpuh, hatinya tergerak oleh belas kasihan. Keinginan nya untuk memberi sesuatu kepada peminta-minta itu begitu kuat, meskipun dia tidak memiliki sesuatu yang berharga untuk diberikan kepada peminta-minta itu. Tapi itu tidak menyurutkan Petrus untuk tetap “memberi”, karena Petrus tahu bahwa dia memiliki sesuatu yang lebih besar dari sekedar emas dan perak, yaitu Yesus. Dan nyata, kuasa Yesus mampu memenuhi kebutuhan peminta-minta yang lumpuh itu, sehingga dia bisa sembuh dari kelumpuhannya, bisa berjalan, dan sudah tentu, itulah pemberian terbesar yang diterima oleh peminta-minta itu. Dalam kehidupan kita sehari-hari, seringkali kita juga mengalami situasi seperti itu, berjumpa dengan teman, kerabat, atau kenalan kita yang membutuhkan sesuatu. Dan seringkali pula kita berfikir, apa yang bisa saya berikan buat mereka? Mungkin kita tidak memiliki cukup harta untuk bisa membantu orang lain, tapi janganlah itu membuat kita urung untuk memberi. Seperti Petrus mengatakan “… apa yang kupunyai,kuberikan kepadamu : Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu……”. Kitapun bisa memberikan kasih Yesus Kristus kepada yang membutuhkan. Mungkin tindakan kita tidak bisa membuat orang lumpuh menjadi sembuh dari kelumpuhannya, tapi ada banyak hal yang bisa Tuhan kerjakan bagi orang-orang yang kita bawa kepada Nya. Apa yang kita miliki? Belas kasih, perhatian, telinga untuk mendengar, hati yang terbeban untuk berdoa, tenaga untuk membantu, pikiran untuk mengeluarkan ide-ide, kata-kata untuk menghibur dan menguatkan. Banyak sekali yang kita miliki, ketika Kasih Yesus dan kuasa Roh Kudus itu memenuhi hati kita, dan itulah yang dibutuhkan oleh mereka yang sakit, yang sedang dirundung duka, yang tengah terpuruk, yang dalam masalah berat. Jangan tahan, berikan apa yang bisa kita berikan kepada mereka yang membutuhkan. Tuhan Yesus yang akan bekerja lebih jauh dan memberi hasil buat apa yang kita berikan bagi orang lain. Dan pada akhirnya nama Tuhan Yesus yang akan dipermuliakan melalui perbuatan kita.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Keselamatan Keluarga Kita
03 Juni '18
Peran Tubuh Dalam Ibadah Yang Sejati
19 Juni '18
Semangat Berbagi Hidup
27 Mei '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang