SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 19 Februari 2018   -HARI INI-
  Minggu, 18 Februari 2018
  Sabtu, 17 Februari 2018
  Jumat, 16 Februari 2018
  Kamis, 15 Februari 2018
  Rabu, 14 Februari 2018
  Selasa, 13 Februari 2018
POKOK RENUNGAN
Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu. [Ibrani 10:36]
DITULIS OLEH
Pnt. Andreas Haryanto
Penatua
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Tekun1
Tekun1
Jumat, 17 November 2017
Tekun1
Ibrani 12:1-4
Pada Olimpiade 2012 di London, ada pemandangan yang tak biasa di lintasan lari. Seorang pelari bernama Oscar Pistorius menarik perhatian penonton karena tidak memiliki kaki dan berlari menggunakan dua buah kaki palsu yang terbuat dari serat karbon. Walau tidak mendapat medali, dia mencatat waktu tercepat ke 13 dari 49 peserta. Ketika di Paralimpiade 2012 di London, dia mendapat medali emas di lari estafet 4 x 100 meter. Dia lahir tanpa tulang fibula [betis], sehingga pada usia 11 tahun kedua kakinya diamputasi sampai lutut. Di tengah kekurangan secara fisik dan kesulitan yang dihadapi, dia tekun untuk berlatih lari dengan kaki palsunya. Dia tekun dan disiplin dalam berlatih sesuai aturan-aturan yang diharuskan bagi pelari. Karena ketekunannya, dia berhasil menjadi juara pada usia 25 tahun.

Setiap orang percaya harus meninggalkan beban dosa dan dengan tekun berlomba dalam kehidupan yang diwajibkan. Walaupun banyak rintangan dan kesulitan tetap harus dilakukan dengan mata yang tertuju kepada Kristus yang membawa iman kita kepada kesempurnaan. Dia yang mengabaikan kehinaan, tekun memikul salib sebagai ganti sukacita yang disediakan bagi-Nya. Sekarang Dia duduk di sebelah ...selengkapnya »
Ketika saya sedang mendoakan jemaat yang sakit cukup lama karena faktor usia, saya sangat tertarik dengan perawat atau pengasuh dari jemaat yang sakit tersebut. Ketertarikan saya adalah ketika saya bertanya sudah berapa lama bekerja sebagai pengasuh orang sakit. Ia menjawab “saya melakukan pekerjaan ini sudah dua puluh tahun, dan saya sangat menyenangi pekerjaan saya ini.“ Itu adalah jawaban dari pengasuh tersebut. Pernah ia diajak bekerja diperusahaan. Namun ia menolak karena hasrat yang ada dalam dirinya adalah bisa menolong orang yang sedang sakit dan bisa menghibur dia yang sakit. Kadang ia kasihan melihat lansia yang ditinggal sendirian oleh anaknya yang sibuk mencari kekayaan dan usahanya sehingga lupa dengan orang tuanya. Tidak jarang ia diomel-omeli oleh pasien atau pihak keluarga, namun ia selalu senyum dan menjawab maaf dan sebagainya. Ia senang bisa menghantarkan lansia yang dalam masa kritisnya dengan doa dan semangat untuk bersyukur kepada Tuhan. Ia sangat senang bisa membagikan kekuatan yang ia miliki untuk membantu lansia. Dan yang menjadi kesukaannya ialah menolong orang lain untuk tidak kuatir bertemu Tuhan disaat hari akhirnya hingga yang dilayani mengenal Tuhan. Mengasuh lansia memang pekerjaan tidak populer dan itu tidak semua orang punya hati disana. Penting kita ketahui bahwa kita bisa menghibur dan menolong orang lain di dalam setiap apapun pekerjaan kita. Kita harus menyadari bahwa Tuhan menyertai kalau kita, kalau kita punya hati untuk jiwa-jiwa. Sering kali kita lupa, bahwa melalui apa yang kita kerjakan bisa menolong orang lain untuk mengenal Tuhan dan mengasihi Tuhan. Namun kita terkadang belum sampai disana. Tuhan tempatkan dipekerjaan dan usaha kita untuk bisa menjadi berkat dan belajar mensyukuri atas apa yang telah diperbuat dalam kehidupan kita. Sebab dengan kita melakukan pekerjaan dengan sungguh-sungguh, kita sudah melayani Tuhan. dan melakukan apa yang menjadi tujuan Tuhan atas kehidupan kita. Tujuan Tuhan bagi kita yaitu diberkati untuk menjadi berkat juga mengelola apa yang Tuhan percayakan dalam kehidupan kita. Oleh karenanya sesederhana apapun yang kita lakukan lakukanlah dengan segenap hati dan percayala jika kita melakukan dengan segenap hati orang yang ada disekitar kita pun akan terberkati, Semua yang kita lakukan dengan segenap hati pasti akan menjadi berkat dan kesukaan kepada setiap orang karena mereka merasakan dampak yang kita perbuat, selagi kita bisa berkarya dan melakukan sesuatu yang dapat menolong orang marilah kita melakukannya dengan segenap hati kita untuk Tuhan dan sesama.
Jadilah seperti Gideon Hakim-hakim 6:15-16 Tetapi jawabnya kepada-Nya: ’Ah Tuhanku, dengan apakah akan kuselamatkan orang Israel? Ketahuilah, kaumku adalah yang paling kecil di antara suku Manasye dan akupun seorang yang paling muda di antara kaum keluargaku.’ Berfirmanlah TUHAN kepadanya: ’Tetapi Akulah yang menyertai engkau, sebab itu engkau akan memukul kalah orang Midian itu sampai habis.’ Tuhan memanggil Gideon untuk menjadi alat-Nya, untuk menyelamatkan umat-Nya dari penindasan bangsa Midian. Tapi Gideon merasa dirinya tidak memiliki kemampuan untuk melakukan tugas itu. Dia merasa bahwa dia berasal dari kaum yang tidak punya pengaruh di kalangan umat Israel, dan juga dia merasa masih terlalu muda. Tetapi Tuhan tidak membutuhkan orang yang punya kemampuan tinggi atau punya latar belakang yang hebat. Tuhan hanya membutuhkan seorang yang siap untuk dipakai-Nya. Tuhan mencari orang untuk menyelamatkan umat-Nya yang saat ini tertindas oleh kuasa dosa. Seperti bangsa Israel pada waktu itu, sekarang banyak orang yang menderita akibat dosa. Ada yang keluarganya hancur, ada yang menderita sakit penyakit, ada yang terikat oleh narkoba, hawa nafsu yang memalukan, maupun kebiasaan yang merusak kehidupan mereka sendiri. Hidup mereka hancur akibat dosa dan kesalahan yang mereka perbuat sendiri. Mereka tidak bisa lepas dari belenggu itu dan berharap ada yang menolong mereka. Kita tahu bahwa di dalam Injil ada kuasa Allah yang menyelamatkan. Berarti yang diperlukan oleh mereka adalah berita bahwa Allah yang penuh kasih karunia itu sanggup memberi pertolongan kepada mereka, jika mereka percaya kepada Kristus. Tapi siapa yang memberi tahu kepada mereka? Memang tidak mudah untuk menyelamatkan jiwa yang terbelenggu dosa. Kuasa Iblis selalu berusaha menghalangi dan menggagalkan karya keselamatan atas orang berdosa. Iblis menghendaki sebisa mungkin tetap menancapkan kekuasaannya atas jiwa-jiwa tersebut. Namun firman Tuhan berkata bahwa Allah sendiri yang menyertai kita, sehingga kita akan mengalahkan kuasa Iblis itu. Jadilah seperti Gideon, yang siap dan rela dipakai Allah untuk menyelamatkan umat-Nya. Tuhan memberkati. Pdt. Goenawan Susanto
Suatu hari sebuah status facebook seorang teman yang dikenal sebagai pribadi yang sederhana membuat mata terbelalak. Kira-kira begini bunyinya, ’Wah, aku bingung mau BERHEMAT bagaimana lagi. UANG JAJAN ANAK dari 7 JETI SEMINGGU sudah kupangkas jadi separuhnya! Tapi kepala masih saja nyut-nyutan dengan GAJI MEPET seperti ini.’ Dan status itu ramai menuai komentar dari mana-mana. Ada yang memuji-muji keberuntungannya yang bagi sebagian orang bagaikan mimpi. Ada juga yang mengecam keluhannya sebagai kamuflase untuk mewartakan ke’tajiran’nya. Sampai akhirnya si pemilik status menyatakan bahwa itu hanya status main-main. Ternyata dia sedang mengikuti tantangan membuat status ’humblebrags’. Meninggikan diri dengan kemasan kalimat yang ’merendah’, itulah humblebrags. Saking seringnya menjumpai model yang seperti ini, sampai-sampai ada yang mendapat ide untuk melombakannya sebagai guyonan satire. Di pasar, di perkumpulan RT, di arena olah raga, di layar televisi, di lingkungan sekolah, di tempat kerja ... di mana ada orang berkumpul, di situ kita temui humblebrags. Ruang lingkup rohani pun tidak luput dari hal ini. Hati-hati dengan motivasi di balik setiap hal yang kita sampaikan. Baik lisan maupun tulisan. Sharing hal-hal rohani pun sangat bisa terpeleset menjadi ajang untuk mendulang pujian bagi diri sendiri. Ketika unsur SAYA menjadi dominan dan menggeser supremasi TUHAN ... berhati-hatilah.Jangan bosan berguru kepada Tuhan Yesus Kristus untuk belajar menjadi rendah hati. Selalu ingat untuk berhati-hati. Tuhan tidak menyukai kecongkakan dan tinggi hati. Dua hal yang menjadi jaminan bagi perilaku congkak dan tinggi hati adalah kehancuran dan kejatuhan. Tentu saja kita ingin menjauhinya keduanya.
Kehidupan doa merupakan hal yang baik dan penting bagi orang percaya. Di saat mengalami kesulitan hidup yang datang bertubi-tubi maka orang percaya akan merespon setiap masalah dengan berdoa meminta kekuatan dan pertolongan Tuhan. Orang yang takut akan Tuhan selalu memiliki respon vertikal kepada Tuhan ketika menghadapi segala sesuatu. Orang yang percaya kepada Tuhan akan selalu melihat ke arah Dia dan bergantung penuh pada-Nya dan menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya sumber pengharapan dalam hidup. Segala sesuatu di dunia ini adalah berasal dari Tuhan. Tuhan yang menciptakan segala sesuatu. Kita harus menyadari bahwa semua yang ada di bumi ini dipelihara oleh-Nya dan ditopang oleh Firman-Nya yang penuh kuasa [ Ibrani 1:3]. Maka dalam berdoa haruslah kita memahami bahwa seluruh dunia ditopang oleh Dia, sehingga ketika kita di dalam kesulitan dan pencobaan. Kita tidak akan menyerah dan putus asa dalam berdoa karena kita tahu bahwa Ia sendiri yang selalu menopang dan menjaga ciptaan-Nya. Selanjutnya kita tidak akan putus asa dalam berdoa sambil mengingat kembali siapa Allah. Allah kita adalah Allah yang maha perkasa serta tidak ada yang sanggup melawan kehendak-Nya. Maka pada saat kita berdoa pun kekuatan yang dari Allah akan membangkitkan kita dari kekawatiran dan ketakutan kita. Ini adalah kekuatan sejati dalam mengikut Tuhan. Selanjutnya adalah ketika kita berdoa marilah kita tidak berfokus hanya kepada diri kita sendiri. Marilah kita belajar, ketika berdoa juga memiliki tujuan bagi pekerjaan-pekerjaan Tuhan dan memuliakan nama-Nya. Berdoalah juga supaya Tuhan memakai hidup kita untuk menyatakan kehendak-Nya kepada orang sekitar kita. [Kisah Para Pasul 4:23-31] Marilah kita sebagi anak-anak-Nya memiliki kehidupan doa yang benar. Karena ketika hal itu kita lakukan dengan kesungguhan hati maka kehidupan iman kita juga akan semakin kuat berakar kepada kristus, sehingga apapun masalah yang kita hadapi tidak membuat kita putus pengharapan, namun semakin percaya teguh kepada Allah kita.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Menabur Kebaikan1
17 Februari '18
Humblebrags
12 Februari '18
Hambatan Menjadi Peluang
27 Januari '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang