SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 12 Desember 2017   -HARI INI-
  Senin, 11 Desember 2017
  Minggu, 10 Desember 2017
  Sabtu, 09 Desember 2017
  Jumat, 08 Desember 2017
  Kamis, 07 Desember 2017
  Rabu, 06 Desember 2017
POKOK RENUNGAN
Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar. [ayat 1] Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. [ayat 5]
DITULIS OLEH
Pdt. Goenawan Susanto
Gembala Jemaat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Terang Bagi Yang Berjalan Di Kegelapan
Terang Bagi Yang Berjalan Di Kegelapan
Minggu, 03 Desember 2017
Terang Bagi Yang Berjalan Di Kegelapan
Yesaya 9:1, 5
Terang bagi yang berjalan di kegelapan

Yesaya 9:1, 5
Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar. [ayat 1]
Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. [ayat 5]

Beberapa tahun yang lalu [sudah cukup lama, saya tidak ingat persis tahunnya] mobil saya mengalami masalah di lampu depannya [lampu besar], mungkin karena sekringnya putus. Padahal waktu itu saya dalam perjalanan turun dari Kopeng menuju Ungaran, sendirian, pada malam hari. Kondisi jalan sangat gelap, menurun dan berkelok-kelok. Tidak ada yang saya mintai bantuan. Dengan perasaan takut saya tetap menjalankan mobil itu pelan-pelan sekali, di tengah kegelapan, hanya dengan penerangan lampu kecil saja. Takut karena salah-salah bisa masuk jura...selengkapnya »
Pada Olimpiade 2012 di London, ada pemandangan yang tak biasa di lintasan lari. Seorang pelari bernama Oscar Pistorius menarik perhatian penonton karena tidak memiliki kaki dan berlari menggunakan dua buah kaki palsu yang terbuat dari serat karbon. Walau tidak mendapat medali, dia mencatat waktu tercepat ke 13 dari 49 peserta. Ketika di Paralimpiade 2012 di London, dia mendapat medali emas di lari estafet 4 x 100 meter. Dia lahir tanpa tulang fibula [betis], sehingga pada usia 11 tahun kedua kakinya diamputasi sampai lutut. Di tengah kekurangan secara fisik dan kesulitan yang dihadapi, dia tekun untuk berlatih lari dengan kaki palsunya. Dia tekun dan disiplin dalam berlatih sesuai aturan-aturan yang diharuskan bagi pelari. Karena ketekunannya, dia berhasil menjadi juara pada usia 25 tahun. Setiap orang percaya harus meninggalkan beban dosa dan dengan tekun berlomba dalam kehidupan yang diwajibkan. Walaupun banyak rintangan dan kesulitan tetap harus dilakukan dengan mata yang tertuju kepada Kristus yang membawa iman kita kepada kesempurnaan. Dia yang mengabaikan kehinaan, tekun memikul salib sebagai ganti sukacita yang disediakan bagi-Nya. Sekarang Dia duduk di sebelah kanan tahta Allah. Jangan kita menjadi lemah dan putus asa karena dalam pergumulan kita melawan dosa belum sampai mencucurkan darah. Sebagai manusia, masing-masing kita mempunyai kekurangan, tetapi tetaplah tekun dalam melatih diri untuk menang dalam perlombaaan hidup. Dalam menghadapi tantangan dibutuhkan ketekunan untuk mengalami Tuhan setiap hari melalui perenungan Firman-Nya. Di tengah kesulitan dan himpitan, tetaplah mata rohani kita tertuju kepada Kristus yang akan menyempurnakan iman kita. Jangan kita putus asa dan kehilangan iman di tengah penderitaan, ingatlah bahwa penderitaan kita belum sebanding dengan penderitaan-Nya.
Hati yang tenang Amsal 14:30 Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang. Kehidupan kita dikendalikan oleh hati. Apakah kita sedang tertawa, atau sedang sedih , atau sedang marah ditentukan oleh bagaimana keadaan hati kita. Apakah kita sedang bersemangat menjalani hidup ini, ataukah sedang lesu tak bersemangat, juga ditentukan oleh keadaan hati kita. Kesehatan tubuh kita juga dipengaruhi oleh keadaan hati kita. Sebagaimana Firman Tuhan di atas mengatakan bahwa hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi hati yang iri membusukkan tulang. Firman Tuhan berkata: ’Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.’ [Amsal 4:23]. Oleh karena itu betapa pentingnya menjaga hati kita, agar selalu memancarkan kehidupan yang baik. Tetapi seringkali situasi di luar mempengaruhi bahkan mengendalikan keadaan hati kita. Misalnya tekanan-tekanan hidup, perkataan-perkataan yang negatif dari orang di sekitar kita, atau berita-berita tentang situasi politik atau ekonomi yang membuat kita kecil hati, semua itu seringkali merampas sukacita dan damai sejahtera dari dalam hati kita. Menjaga hati agar tetap tenang merupakan kunci dari hidup sehat dan bahagia. Hati yang tenang adalah hati yang selalu dekat dengan Tuhan. Di dalam dekat dengan Tuhan ada perlindungan yang sebenarnya. Itu bukan sekedar perasaan, tapi sungguh sebuah realitas. Firman Tuhan sendiri memberikan jaminan itu: ’Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku. Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah.’ [Mazmur 62:2-3] Jemaat yang dikasihi Tuhan, jika Anda ingin hidup dengan sehat dan memiliki hati yang tenang, jalanilah hidup ini dengan mempercayai Tuhan. Sekalipun dalam hidup ini kita tidak bisa mengendalikan semuanya, tetapi jika kita selalu berada dekat dengan Tuhan, kita mendapatkan perlindungan dan hati kita akan merasa tenang. Tuhan memberkati. Pdt. Goenawan Susanto
Dalam ayat ini, kelegaan sering diartikan kelepasan dari berbagai persoalan hidup dan terpenuhinya kebutuhan jasmani. Kelegaan atau perhentian sejati pada dasarnya akan dialami bila kita tidak dipenuhi pikiran kuatir. Biasanya kekuatiran berkaitan dengan kebutuhan jasmani, harta kekayaan dan berbagai fasilitas duniawi yang diharapkan dapat melengkapi dan membahagiakan hidup. Kebutuhan jasmani sebetulnya menjadi fokus utama orang yang tidak mengenal Tuhan. Akibatnya orang akan terus bergerak mencari sesuatu yang dianggap dapat memberi kelegaan. Ibarat kapal yang terus berlayar mencari pelabuhan, padahal bagi orang percaya, hanya ada satu pelabuhan yang memberi kelegaan, yaitu Tuhan Yesus. Mereka dikatakan sebagai orang yang letih lesu dan berbeban berat karena banyaknya keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Banyak orang yang datang kepada Tuhan hanya sekedar memperoleh jalan keluar atas problem kebutuhan jasmani. Sebetulnya orang percaya dipanggil untuk mengalami perhentian di dalam Tuhan, artinya merasa cukup pada saat dirinya menerima anugerah keselamatan. Keselamatan di dalam Tuhan Yesus bertujuan supaya kita bisa dikembalikan kepada rancangan semula Bapa dan dipersiapkan masuk Kerajaan-Nya [Ibrani 11:16]. Kelegaan dan ketenangan jiwa sejati akan dialami bila: 1. Pikiran tidak dipenuhi keinginan pribadi yang tidak sesuai dengan pikiran/kehendak Tuhan [Yakobus 1:14-15]. 2. Kita memahami dan mempraktekkan Kebenaran Injil yang murni [Yesaya 32:17, Yohanes 8:31-32]. 3. Memiliki rasa cukup, tidak berkeinginan memiliki fasilitas duniawi untuk mendapatkan nilai diri, prestise, ketenaran [1 Timotius 6:6-8]. 4. Memiliki karakter mulia melalui proses pemuridan. Mustahil mengalami kelegaan dan ketenangan jiwa bila kita egois, iri hati, suka marah-marah, penuh curiga, pendendam.
Seorang teman dekat pernah bercerita pada saya, dia sangat kecewa dengan salah seorang rekan ketika dia masih bekerja di sebuah distributor. Selama ia bekerja di sana, rekannya itu sangat baik. Rekan tersebut sering membantunya. Bahkan begitu dekatnya, mereka sering bertukar pikiran untuk menyelesaikan masalah yang sulit dikerjakan. Beberapa waktu kemudian, teman saya memutuskan untuk berhenti bekerja. Kemudian dia bertemu dengan orang yang menggantikan posisinya. Orang tersebut bercerita bahwa rekannya sering bercerita hal-hal negatif tentang dirinya. Dia sangat terkejut mendengar cerita tersebut. Teman saya tidak percaya akan semua itu karena rekannya merupakan rekan kerja yang begitu baik. Yang membuat dia heran adalah tentang hal-hal yang tidak pernah teman saya ceritakan, tetapi orang baru yang menggantikan posisinya ini tahu. Akibatnya teman saya ini begitu geram, marah dan sangat kecewa. Kenyataan ini sering kali terjadi dalam hubungan kita dengan orang lain. Kita difitnah. Dalam lingkup apapun, untuk mendapatkan posisi, pekerjaan, ataupun hubungan yang diinginkan, ada orang yang tega memfitnah pesaingnya agar tersingkir sehingga ia memperoleh promosi jabatan. Ini merupakan cara-cara yang kotor, jahat, “rendah” namun sering dilakukan bahkan menjadi kebiasaan. Tidak ada lagi perasaan bersalah ketika temannya itu tersingkir karena perbuatannya itu. Ada pepatah ‘LIDAH TAK BERTULANG’. Begitu mudahnya lidah bergerak sehingga merugikan orang lain. Melalui kitab Mazmur 120:3 mengingatkan bahwa kita tidak akan memperoleh manfaat atau kebaikan apapun ketika kita menfitnah orang lain hanya untuk keuntungan diri sendiri. Bibir dusta dan lidah penipu adalah kejahatan. Dampak dari fitnah bisa membuat orang lain hancur. Seseorang bisa kehilangan segalanya, bukan hanya harta atau kepemilikan, melainkan juga keluarga, pasangan bahkan anak-anaknya. Padahal ia tidak melakukan kesalahan apapun. Oleh sebab itu jagalah lidah kita. Janganlah membuat orang lain menjadi hancur hanya karena lidah kita. Dan kemudian kita mendapat gelar “Si lidah tak bertulang”.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Kelegaan/Ketenangan Jiwa Yang Sejati
13 November '17
Bersinar Dan Berdampak
09 Desember '17
Hadirnya Secercah Harapan
15 November '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang