SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 27 Mei 2018   -HARI INI-
  Sabtu, 26 Mei 2018
  Jumat, 25 Mei 2018
  Kamis, 24 Mei 2018
  Rabu, 23 Mei 2018
  Selasa, 22 Mei 2018
  Senin, 21 Mei 2018
POKOK RENUNGAN
Marilah kita tetap berkomitmen pada natur kita sebagai satu tubuh Kristus supaya kita tetap bersatu. Dengan demikian kita menjadi kesaksian yang indah bagi masyarakat di sekitar kita.
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas Budianto
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Tetap Bersatu
Tetap Bersatu
Jumat, 13 Oktober 2017
Tetap Bersatu
1 Korintus 1:10-13

“The Beatles menjadi sangat independen. Setiap orang dari mereka merasa bebas. Suatu malam Ringgo Starr menyambangi John dan ia bilang ingin keluar. George Harrison adalah orang berikutnya dan kemudian John. Paul McCartney adalah satu-satunya orang yang berusaha untuk menyatukan The Beatles. Namun tiga lainnya berpikir bahwa dia mempertahankan The Beatles sebagai bandnya. Mereka merasa The Beatles adalah bandnya Paul, dan mereka tidak suka itu.” Itulah sepenggal cuplikan wawancara yang dilakukan oleh Huffington Post pada Yoko Ono, istri John Lennon, pada tahun 1987 silam tentang penyebab bubarnya The Beatles di tahun 1970.

Perselisihan [ketegangan] bisa menyebabkan anggota sebuah organisasi, perkumpulan ataupun komunitas berjalan sendiri-sendiri dan menginginkan kebebasan. Tidak lagi mau terikat dan komit pada kesepakatan yang telah dibuat dan disetujui bersama. Jika sudah ada pada titik itu, maka perpisahan tidak akan terelakan. Sulit rasanya untuk menyatukan kembali. ‘Bubar jalan’ biasanya yang akan menjadi satu-satunya pilihan.

Rasul Paulus menasihati jemaat Korintus untuk tetap seia sekata, erat bersat...selengkapnya »
Ada seorang yang hidupnya berputus asa karena bekerja cukup lama namun tidak menghasilkan keuntungan dalam hidupnya. Akhirnya dia berkonsultasi dengan seorang yang sukses berjualan nasi kucing. Setelah itu dia meminjam modal dan mulai usaha berjualan nasi kucing sebagaimana dia belajar dari penjual nasi kucing. Akhirnya dia berhasil dan kehidupannya berubah sama sekali. Tiap hari ada rasa sukacita meskipun capek kerjanya tiap sore sampai malam hari kecuali minggu dia libur. Namun kerja keras dan kemauan untuk berubah dari kehidupannya merupakan motivasi yang penting untuk keberhasilannya saat ini. Peristiwa ini mengingatkan cerita Rasul Petrus dan para murid yang mengalami putus asa. Kisah Para Rasul 3 mencatat tentang perubahan hidup yang dialami para murid Tuhan Yesus setelah mereka mengalami lawatan Allah melalui Roh Kudus. Petrus salah satu murid Tuhan Yesus yang kisah hidupnya dicatat dalam Kisah Para Rasul 3. Apa yang dapat kita pelajari dari kehidupan Rasul Petrus berkaitan dengan lawatan kuasa Allah yang dialaminya. Pertama, Petrus itu penakut dan penyangkal Tuhan Yesus [Yoh 18:12-27]. Ketika Tuhan Yesus di tangkap dan diadili, Petrus mengalami ketakutan dan menyangkal ketika ditanya oleh seseorang bahwa dirinya merupakan orang yang dekat dan kenal dengan Tuhan Yesus. Kedua, Kepercayaan Petrus dipulihkan oleh Tuhan Yesus [Yoh 21:1-19]. Ketika Tuhan Yesus bangkit dari kematian, di danau Tiberias Tuhan Yesus memulihkan kepercayaan diri Petrus terhadap Dia. Dan Tuhan Yesus kembali memanggil Petrus untuk melayani sebagai saksi-Nya dan gembala jemaat. Ketiga, Petrus berani bersaksi tentang Tuhan Yesus [KPR 3:11-26]. Petrus berani bersaksi dan membela diri, bahwa mujizat yang dilakukannya terhadap orang lumpuh di pintu gerbang Bait Allah karena Tuhan Yesus yang pernah mereka salibkan di Golgota namun bangkit pada hari ketiga dari kematian. Keberanian Petrus bersaksi tentang Tuhan Yesus merupakan pekerjaan Roh Kudus yang telah berdiam di dalam hidupnya. Hidup Petrus sekarang diubahkan dari seorang penakut untuk bersaksi menjadi seorang pemberani dalam bersaksi tentang Kristus. Hanya Roh Kuduslah yang sanggup mengubah kehidupan Petrus sedemikian rupa berbeda dari yang sebelumnya. Demikian pula dengan kehidupan kita di zaman ini sebagai murid dan saksi Tuhan Yesus di dunia. Bila Roh Kudus memenuhi hidup kita dan melawat hidup kita maka, kita akan seperti Petrus menjadi orang yang berani bersaksi tentang Kristus dan bisa melakukan mujizat melalui doa kita kepada orang sakit.
Kita pernah mendengar pepatah yang mengatakan, “tidak ada rotan akarpun jadi.” artinya kalau tidak ada rotan dapat digantikan dengan akar. Tentunya tidak demikian dengan firman Tuhan untuk memberitakan injil bisa saja kita pakai sarana teknologi yang berkembang begitu cepat saat ini namun tentu kita tidak boleh mengabaikan perintah Tuhan untuk memberitakan injil dengan bertatap muka. Tuhan Yesus memberi perintah seperti yang tertulis dalam Markus 16:15 mengatakan: Lalu Ia berkata kepada mereka: ’Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” Dalam ayat ini Tuhan Yesus memberi perintah kepada para murid untuk pergi memberitakan injil kepada segala mahluk. Sekaligus memberikan keteladanan dan memberikan contoh kehidupan Kis 1:8”... Menjadi saksi ...” tentang kehidupan yang menjadi contoh tidak sekedar berbicara. Mari jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus kita beritakan Injilnya yang sesuai dengan salah satu visi gereja kita hidup yang berdampak pada sesama dapat kita genapkan dalam hidup ini.
Seorang pria mengalami kejadian tak mengenakkan ketika hendak membeli mobil di sebuah showroom di Karawang Barat karena penampilannya sederhana. ’Waktu itu saya diminta tolong oleh adik yang kerja di Timika Papua untuk membeli mobil secara cash,’ katanya. Namun karena ia hanya memakai sandal jepit dan celana pendek, jangankan dilayani oleh pelayan showroom, dilirik saja tidak. ’Mas-mas pelayan itu malah pergi meninggalkan saya lalu kembali ngerumpi bersama teman-temannya sambil makan rujak,’ tuturnya. Merasa diperlakukan sebelah mata, akhirnya ia pun kesal. Dan saking kesalnya, ia mengeluarkan uang 350 juta di tasnya. “Tadinya saya mau beli mobil di sini, tapi karena mas-mas dan mbak-mbak memandang remeh, saya mending mencari showroom lain yang lebih sopan kepada pelanggan,’ katanya sambil bergegas pergi meninggalkan showroom mobil tersebut. Salah menilai pernah dilakukan oleh Samuel ketika Tuhan mengutusnya untuk mengurapi salah seorang anak Isai menjadi raja menggantikan Saul. Satu persatu anak-anak Isai masuk bertemu dengan Samuel. Mulai dari Eliab, kemudian Abinadab, dilanjutkan Syama sampai tujuh anak Isai lewat di depannya, tetapi ternyata tidak seorangpun yang dipilih oleh Tuhan. Samuel sempat salah menilai ketika ia melihat Eliab. Samuel menyangka Eliablah yang dipilih untuk diurapi karena ia melihat perawakan Eliab yang tinggi. Dan Tuhan mengingatkan Samuel, “Janganlah pandang paras atau perawakannya yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Allah melihat hati. Salah menilai seringkali terjadi karena kecenderungan ‘melihat apa yang di depan mata’; hanya melihat penampilan fisik semata. Padahal penampilan fisik bisa saja ‘menipu’ karena tidak sepenuhnya merepresentasikan diri seseorang. Penilaiaan yang hanya berdasarkan penampilan fisik merupakan penilaian yang terburu-buru, gampangan dan dangkal. Penilaian seperti ini bisa mengakibatkan sikap meremehkan, memandang negatif, bahkan menghakimi. Tentunya penilaian tersebut bukan saja tidak fair, tetapi sangat merugikan pihak yang dinilai. Allah tidak seperti manusia dalam menilai. ‘Allah melihat hati’. Allah melihat bahkan mengetahui dengan tepat ‘sisi dalam’ dari seseorang. Allah adalah pribadi Maha Tahu, tentu tidak sulit untuk melihat hati. Lalu bagaimana dengan kita, manusia yang bukan pribadi mahatahu? Untuk kita bisa menilai dengan baik; tidak terjebak hanya menilai secara fisik, maka kita harus berusaha untuk mengenal lebih dalam pribadi seseorang. Membangun relasi yang baik, berusaha menyelami cara berpikirnya, bahkan menenmpatkan diri kita pada posisinya. Dengan demikian kita tidak akan salah menilai.
Dalam hidup ini pikiran seseorang akan menentukan perasaan dan kehendak serta perbuatannya. Contoh: pikiran yang penuh dengan kekuatiran akan diikuti perasaan takut/cemas dan berpengaruh terhadap tindakannya sehari-hari. Pikiran bahwa dirinya orang penting dan harus dihormati orang lain akan membawa perasaan tinggi hati dan berpengaruh terhadap sikap dan perilakunya. Amsal mengingatkan bahwa bahwa apa yang dipikirkan seseorang itu menentukan keberadaannya, “For as he thinks in his heart, so is he”, “you are what you think”. [Amsal 23:7] Demikian juga dalam kehidupan iman, pola pikir yang ada dalam diri anak Tuhan juga akan menentukan keberadaannya di hadapan Tuhan. Rasul Paulus menasihatkan supaya kita menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus [Pilipi 2:5]. Jadi pola pikir anak Tuhan harus seperti pola pikir Tuhan Yesus, yang dilandasi oleh kesediaan mengosongkan diri, merendahkan diri dan taat mutlak kepada Bapa. Yang diutamakan adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya [Yohanes 4:34]. Gaya hidup seperti ini yang rasul Paulus maksudkan dengan pola hidup yang berpadanan dengan Injil [Pilipi 1:27]. Injil adalah module khusus bagi anak Tuhan yang telah diajarkan dan diteladankan oleh Tuhan Yesus. Jelas pola pikir dan gaya hidup deperti ini sangat berbeda sekali dengan yang dimiliki anak-anak dunia, seperti perbedaan antara gandum dan lalang. Untuk memiliki pola pikir seperti tersebut di atas tidak mudah, diperlukan pembaharuan pikiran setiap hari melalui pembelajaran kebenaran Injil yang murni oleh pertolongan Roh Kudus [Roma 12 : 2]. Sebagaimana rasul Petrus menyatakan bahwa pola pikir kita dikuduskan oleh ketaatan kepada kebenaran/Injil [I Petrus 1:22]. Akan dialami realitas bahwa seorang anak Tuhan yang mengenakan pola pikir Kristus akan mengalami “kesulitan untuk akrab” dengan orang-orang yang tidak mengenal/tidak peduli kebenaran, tidak takut dan tidak menghormati Tuhan dalam sikap hidupnya sehari-hari. Meskipun demikian, anak Tuhan dengan pola pikir Kristus tidak berarti hidupnya menjadi tidak wajar atau kehilangan “kemanusiaan”. Kita akan tetap masih menjalani hidup seperti manusia lain, dalam : bekerja, mencari nafkah, berkeluarga, menikmati keindahan alam ciptaan Tuhan, mengembangkan dan menikmati kreasi seni, hobi, olah raga, rekreasi dll. Secara umum bisa dikatakan “tampak luar tetap sama, namun dalamnya [mind set] berbeda”. Anak Tuhan yang mengenakan pola pikir Kristus akan mengalami tidak merasa nyaman hidup di bumi [yang makin fasik, penuh ketragisan], makin menghayati bahwa dunia ini bukan rumahnya, makin kuat merasakan keberadaannya sebagai musafir, sehingga fokus hidupnya makin kuat ke Langit Baru dan Bumi Baru.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Berita Bohong
04 Mei '18
Keadilan Dan Damai Sejahtera
27 April '18
Anggur Baru Kirbat Baru
06 Mei '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang