SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 12 Desember 2017   -HARI INI-
  Senin, 11 Desember 2017
  Minggu, 10 Desember 2017
  Sabtu, 09 Desember 2017
  Jumat, 08 Desember 2017
  Kamis, 07 Desember 2017
  Rabu, 06 Desember 2017
POKOK RENUNGAN
Setiap hari yang kita jalani dengan pimpinan Tuhan lebih dari cukup bagi kita untuk selalu mengucap syukur.
DITULIS OLEH
Ibu Evylia H. Goenawan
Ibu Gembala
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Thanksgiving Day
Thanksgiving Day
Sabtu, 02 Desember 2017
Thanksgiving Day
1 Tesalonika 5:18

Hari Pengucapan Syukur adalah hari libur nasional yang diperingati di beberapa negara, di antaranya adalah Amerika Serikat, Kanada, Jerman, Jepang, dll. Warga Amerika Serikat merayakannya pada Kamis keempat di bulan November, sedangkan warga Kanada merayakannya pada Senin kedua Oktober.

Pada mulanya Thanksgiving merupakan peristiwa jamuan makan yang diadakan warga pendatang di Amerika Serikat sebagai ucapan syukur atas keberhasilan panen mereka. Jamuan makan di musim gugur yang berlangsung sampai tiga hari itu dihadiri pula oleh penduduk asli Amerika yang tinggal tak seberapa jauh dari tanah yang mereka tempati.

Pada perkembangannya, peringatan Thanksgiving Day bergeser menjadi sekedar momen mudik bagi mereka yang merayakan. Dan buat sebagian orang yang terlalu sibuk untuk berkumpul dengan keluarga besar, Thanksgiving Day tak ubahnya seperti hari libur nasional biasa. Hari Pengucapan Syukur mulai kehilangan makna.

Manusia memang mudah teralihkan. Mudah lupa. Banyak...selengkapnya »
Seorang ibu dengan tubuh lemah terbaring di atas tempat tidur. Ia sudah seminggu lebih menjalani rawat inap di sebuah rumah sakit. Kondisi sakitnya bisa dibilang lumayan parah. Bahkan karena sulit bernafas, maka dokter harus memasang alat dengan membuat lubang di pangkal lehernya. Tetapi kesan sedih tidak terpancar dari wajahnya. Setiap kali sahabat, kerabat, dan kenalan datang menjenguknya, senyuman selalu terlihat mengembang di bibirnya. Ketika mengalami kesulitan berbicara, ia selalu mengangkat dan menggerakkan kedua jari telunjuknya ke atas dan kemudian mengacungkan kedua jempol tangannya seolah-olah ingin berkata, “Tuhan selalu baik.” Ia begitu tabah hati menghadapi sakitnya. Untuk tabah bukanlah perkara yang mudah. Tabah bukan sekedar sabar, tetapi jauh lebih dari itu. Ada sisi panjang sabar di dalamnya. Karena ketabahan berarti ketahanan [daya tahan] untuk bersabar dalam menghadapi penderitaan, kesukaran, pergumulan, dsb. Bisa dibilang ketabahan adalah ketekunan untuk terus menerus bersabar. Sikap itulah yang dinasihatkan oleh Paulus kepada para penumpang dan crew kapal yang ditumpanginya menuju Roma ketika mereka diombang-ambingkan oleh angin badai yang besar di tengah lautan. Berhari-hari mereka harus berjuang dan bertahan hidup mengatasi ganasnya gelombang. Tidak bisa tidur dengan nyenyak, tidak bisa makan dengan enak. Selalu kuatir karena nyawa yang terancam. Putus asa karena berbagai cara diusahakan untuk menyelamatkan diri tetapi tidak membawa hasil. Cukup berat situasi yang harus mereka hadapi. Fisik mereka capek, energi mereka terkuras, mental mereka kelelahan dan semakin lemah. Tentu dibutuhkan ketabahan hati untuk tetap bertahan. Ketika semua orang mengalami keputusasaan dan kehilangan harap, Paulus tetap tabah hati. Apa yang membuatkan tetap tabah? Ia tetap tabah karena percaya kepada Allah yang sanggup memelihara dan menyelamatkan dari situasi sulit yang sedang dihadapinya. Percaya kepada penyertaan dan pemeliharaan Allah-lah yang membuatnya tetap tabah; tetap bertahan dan kuat menghadapi kesukaran; tetap bertekun dalam kesabaran menanti pertolongan Tuhan. Sehingga dalam situasi sesulit dan seberat apapun, ia tetap optimis, tetap semangat, dan selalu menghadapi semuanya dengan senyuman sukacita. Pengharapannya tidak pernah pupus. Jemaat Tuhan yang terkasih, kita bisa berespon seperti ibu yang sedang menjalani perawatan dan juga seperti rasul Paulus saat menghadapi penderitaan, kesakitan, musibah, kerugian ataupun pergumulan-pergumulan berat lainnya. Dengan tetap tabah hati, maka hidup kita akan lebih terasa ringan dan lebih mudah. Oleh sebab itu Pandanglah saja kepada Yesus yang penuh cinta dan kasih setia.
Target orang percaya adalah menjadi murid sejati yang rela dididik oleh Tuhan dalam sekolah kehidupan selama hidup di bumi ini [Titus 2:11]. Harus dipahami bahwa agenda Bapa dengan Anugerah Keselamatan melalui penebusan salib yang sangat mahal harganya adalah mengembalikan manusia kepada rancangan semula pada waktu Tuhan menciptakannya, yaitu sempurna seperti Bapa, kudus dan tidak bercacat di hadapan-Nya. Tuhan Yesus memberikan syarat untuk bisa menjadi murid/pengikut-Nya, yaitu menyangkal diri dan memikul salib setiap hari [Lukas 9:23]. Rasul Paulus menggambarkannya dengan ungkapan “meninggalkan manusia lama” [Efesus 4:22; Kolose 3:9] Menyangkal diri pada hakikatnya adalah melepaskan kesenangan sendiri yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Dari hal-hal sederhana sampai pada kesenangan yang sudah menyatu dengan dirinya, bahkan menjadi senilai dengan nyawa atau hidupnya, yang tentunya sangat sulit dilepaskan. Kesenangan yang harus dilepaskan adalah seseorang atau sesuatu: kekayaan, kehormatan manusia, kedudukan, kenikmatan daging, hobi, perhiasan, dsb. Kesenangan tersebut sering dianggap tidak melanggar kehendak Tuhan karena dinilai wajar seperti yang dimiliki oleh manusia pada umumnya. Kesenangan telah bertahta dalam hati dan tidak terbaca oleh siapapun, bahkan dirinya sendiri, sehingga melepaskan kesenangan ibarat mencabut nyawa dan sangat menyakitkan. Hal ini bertentangan dengan prinsip hidup Tuhan Yesus yang kesenangan-Nya adalah menyenangkan hati Bapa [Yohanes 4:34]. Orang percaya yang kesenangannya seperti ini berarti tidak memiliki berhala [2 Korintus 11:2-3] Meninggalkan manusia lama berarti meninggalkan sama sekali cara berpikir, pola hidup dan gaya hidup yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Analoginya bangsa Israel yang diperintahkan untuk menumpas bangsa-bangsa [kafir] di Kanaan. Untuk itu orang percaya tidak boleh berhenti mengalami pembaharuan pikiran [Roma 12:2]. Menumpas semua unsur manusia lama perlu proses panjang yang dilakukan dengan segenap hati dan harus dimulai sejak dini/secepatnya. Kesadaran dan kesediaan yang tulus harus diikuti dengan langkah konkret untuk terus bertumbuh dalam Kebenaran Injil yang murni. Tuhan akan menolong dan menggarap kehidupan kita [Roma 8:28-29, Filipi 2:12-13].
Waspadalah terhadap pemikiran bahwa doa berarti membawa simpati dan kepedulian pribadi kita ke dalam hadirat Allah lalu menuntut supaya Dia melakukan apapun yang kita minta. Kemampuan kita menghampiri Allah bergantung sepenuhnya Kepada Yesus Kristus karena Dia yang telah menanggung dosa demi menggantikan kita. “Oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus.” Kedegilan secara rohani adalah halangan paling utama terhadap doa, karena didasarkan pada “rasa” simpatik akan hal-hal yang kita lihat di dalam diri kita dan orang lain yang menurut kita tidak membutuhkan penebusan. Kita mempunyai gagasan bahwa ada hal-hal baik dan mulia di dalam diri kita yang tidak memerlukan karya penebusan salib Kristus. Seringkali kita merasa siap dengan gagasan kita sendiri dan doa kita hanya menjadi pemujaan terhadap rasa simpatik kita sendiri. Kita berdoa, namun kita tidak menyelaraskan diri kita dengan minat dan kepedulian Allah terhadap orang lain. Ketika kita menyadari bahwa Tuhan Yesus Kristus menanggung dosa ini berarti terjadi perubahan menyeluruh terhadap semua simpati dan minat kita. Doa bagi sesama berarti kita dengan sengaja mengganti rasa simpati alami kita dengan minat Allah terhadap sesama Doa bagi sesama membuat kita tidak mempunyai waktu maupun kecenderungan untuk mendoakan “kesedihan dan belas kasihan” untuk diri kita sendiri. Kita harus menyatukan diri sepenuhnya dan menyeluruh dengan minat dan kepeduliaan Allah dalam hidup orang lain. Allah memberi kita kepekaan terhadap kehidupan orang lain sehingga menggerakkan kita untuk berdoa bagi mereka dan bukan untuk mencari kelemahan mereka.
Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Hewan itu menangis dengan memilukan selama berjam-jam, sementara si petani memikirkan apa yang harus dilakukannya. Akhirnya, Ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan sumur juga perlu ditimbun karena bisa membahayakan, jadi tidak berguna untuk menolong si keledai. Ia mengajak tetangga-tetangganya untuk datang membantunya. Mereka membawa sekop, mulai menyekop tanah dan menimbun sumur tersebut. Pada mulanya ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis penuh kengerian. Tetapi kemudian semua orang takjub karena si keledai menjadi diam. Setelah beberapa sekop tanah lagi dituangkan ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang karena apa yang dilihatnya. Walaupun punggungnya terus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu. Sementara tetangga-tetangga si petani terus menuangkan tanah kotor ke atas punggung hewan itu, si keledai terus juga menguncangkan badannya dan melangkah naik. Segera saja semua orang terpesona ketika si keledai meloncati tepi sumur dan selamatlah dia. Selama kita hidup, maka seringkali kita akan menerima segala macam tanah dan kotoran, yaitu segala macam masalah dan persoalan kehidupan ini. Cara untuk keluar dari “sumur masalah” adalah dengan menghilangkan segala pikiran negatif dalam diri kita dan mampu menderita, serta terus bekerja dengan sungguh-sungguh. Selanjutnya mulai menyelesaikan masalah dengan terus melangkah maju, setahap demi setahap, terus mengatasi masalah demi masalah seumur hidup kita. [WIN] Pokok renungan: Setiap masalah merupakan satu batu pijakan untuk melangkah. Kita dapat keluar dari ’sumur’ yang terdalam dengan tetap mengandalkan Tuhan, berpikir positif dan terus berjuang. Jangan pernah menyerah!
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Berhiaskan Kekudusan
20 November '17
Persembahkan HidupMu
05 Desember '17
Runtuhnya Tembok Yerikho
30 November '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang