SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 27 Mei 2018   -HARI INI-
  Sabtu, 26 Mei 2018
  Jumat, 25 Mei 2018
  Kamis, 24 Mei 2018
  Rabu, 23 Mei 2018
  Selasa, 22 Mei 2018
  Senin, 21 Mei 2018
POKOK RENUNGAN
Setiap hari yang kita jalani dengan pimpinan Tuhan lebih dari cukup bagi kita untuk selalu mengucap syukur.
DITULIS OLEH
Ibu Evylia H. Goenawan
Ibu Gembala
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Thanksgiving Day
Thanksgiving Day
Sabtu, 02 Desember 2017
Thanksgiving Day
1 Tesalonika 5:18

Hari Pengucapan Syukur adalah hari libur nasional yang diperingati di beberapa negara, di antaranya adalah Amerika Serikat, Kanada, Jerman, Jepang, dll. Warga Amerika Serikat merayakannya pada Kamis keempat di bulan November, sedangkan warga Kanada merayakannya pada Senin kedua Oktober.

Pada mulanya Thanksgiving merupakan peristiwa jamuan makan yang diadakan warga pendatang di Amerika Serikat sebagai ucapan syukur atas keberhasilan panen mereka. Jamuan makan di musim gugur yang berlangsung sampai tiga hari itu dihadiri pula oleh penduduk asli Amerika yang tinggal tak seberapa jauh dari tanah yang mereka tempati.

Pada perkembangannya, peringatan Thanksgiving Day bergeser menjadi sekedar momen mudik bagi mereka yang merayakan. Dan buat sebagian orang yang terlalu sibuk untuk berkumpul dengan keluarga besar, Thanksgiving Day tak ubahnya seperti hari libur nasional biasa. Hari Pengucapan Syukur mulai kehilangan makna.

Manusia memang mudah teralihkan. Mudah lupa. Banyak...selengkapnya »
Curahan Roh Kudus dalam diri Petrus, tidak hanya membangkitkan keberanian untuk menyampaikan Firman Tuhan saja, tapi juga melembutkan hati Petrus. Terbukti ketika Petrus melihat seorang peminta-minta yang lumpuh, hatinya tergerak oleh belas kasihan. Keinginan nya untuk memberi sesuatu kepada peminta-minta itu begitu kuat, meskipun dia tidak memiliki sesuatu yang berharga untuk diberikan kepada peminta-minta itu. Tapi itu tidak menyurutkan Petrus untuk tetap “memberi”, karena Petrus tahu bahwa dia memiliki sesuatu yang lebih besar dari sekedar emas dan perak, yaitu Yesus. Dan nyata, kuasa Yesus mampu memenuhi kebutuhan peminta-minta yang lumpuh itu, sehingga dia bisa sembuh dari kelumpuhannya, bisa berjalan, dan sudah tentu, itulah pemberian terbesar yang diterima oleh peminta-minta itu. Dalam kehidupan kita sehari-hari, seringkali kita juga mengalami situasi seperti itu, berjumpa dengan teman, kerabat, atau kenalan kita yang membutuhkan sesuatu. Dan seringkali pula kita berfikir, apa yang bisa saya berikan buat mereka? Mungkin kita tidak memiliki cukup harta untuk bisa membantu orang lain, tapi janganlah itu membuat kita urung untuk memberi. Seperti Petrus mengatakan “… apa yang kupunyai,kuberikan kepadamu : Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu……”. Kitapun bisa memberikan kasih Yesus Kristus kepada yang membutuhkan. Mungkin tindakan kita tidak bisa membuat orang lumpuh menjadi sembuh dari kelumpuhannya, tapi ada banyak hal yang bisa Tuhan kerjakan bagi orang-orang yang kita bawa kepada Nya. Apa yang kita miliki? Belas kasih, perhatian, telinga untuk mendengar, hati yang terbeban untuk berdoa, tenaga untuk membantu, pikiran untuk mengeluarkan ide-ide, kata-kata untuk menghibur dan menguatkan. Banyak sekali yang kita miliki, ketika Kasih Yesus dan kuasa Roh Kudus itu memenuhi hati kita, dan itulah yang dibutuhkan oleh mereka yang sakit, yang sedang dirundung duka, yang tengah terpuruk, yang dalam masalah berat. Jangan tahan, berikan apa yang bisa kita berikan kepada mereka yang membutuhkan. Tuhan Yesus yang akan bekerja lebih jauh dan memberi hasil buat apa yang kita berikan bagi orang lain. Dan pada akhirnya nama Tuhan Yesus yang akan dipermuliakan melalui perbuatan kita.
“Simon Petrus naik ke perahu lalu menghela jala itu ke darat, penuh ikan-ikan besar: seratus lima puluh tiga ekor banyaknya, dan sungguhpun sebanyak itu, jala itu tidak koyak” [Yohanes 21:11]. Apa maksud penyebutan angka ini? Jika maksudnya hanya sekedar memberi informasi, alangkah lebih sederhananya disebut “sangat banyak” atau “jala itu penuh”. Atau jika ingin menunjuk pada jumlah ikan yang didapat, lebih lazim disebut dengan satuan berat, seperti kilogram, gram, dsb. Lalu apa maksud dari penyebutan angka 153? Kalau dalam sebuah cerita dicantumkan suatu angka, maka angka itu biasanya ada fungsinya. Demikian juga halnya dengan angka 153 yang ditulis dalam kisah ini. Pada jaman itu, menurut Ilmu pengetahuan Yunani, jumlah jenis ikan yang diketahui berjumlah 153 macam. Karena itu para murid mengasosiasikan angka 153 ini dengan angka jumlah jenis ikan tersebut. Itulah jumlah jenis ikan yang mereka ketahui. Angka itu bagi mereka berarti: semua jenis ikan di dunia ini. Ketika dulu Yesus memanggil murid-murid-Nya, Ia berkata, ’Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.’ [Markus 1:17]. Dalam kisah ini, Yesus kembali menegaskan dan mengingatkan murid untuk tetap “menebarkan jala” dan “menjaring jiwa”. Pertemuan awal Yesus dengan para murid terjadi pada peristiwa “menjaring ikan”. Kini pun sesudah peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus, dengan peristiwa serupa yang mirip [lihat kejadian dan tempat dalam Yohanes 21:1-14] ingatan murid-murid kembali dibawa untuk mengigat kembali peristiwa tersebut sekaligus mempertegas dan memperjelas panggilan mereka untuk menjadi saksi bagi semua bangsa. Murid-murid menjaring 153 ikan, memiliki makna khusus yaitu perihal tugas bersaksi dan menjangkau jiwa bagi semua bangsa. Ajakan ini bukan terbatas bagi murid-murid yang hidup pada saat itu saja. Melainkan juga panggilan dan tugas kita sebagai murid Yesus di masa kini. Peristiwa pentakosta adalah peristiwa turunnya Roh Kudus bagi setiap orang percaya. Roh yang memberi kita rasa aman, keberanian dan kedamaian untuk kita terus bersaksi mewartakan berita tentag Kabar Sukacita di dalam Yesus Kristus.
Seseorang yang mengalami peristiwa menyenangkan maupun menyedihkan dalam hidupnya dan sangat berkesan pasti tidak akan terlupakan seumur hidup. Dalam situasi apapun pada setiap kesempatan pasti dia akan menceriterakan peristiwa tersebut kepada orang lain dengan antusias. Seorang ibu yang sedang dirawat di rumah sakit bisa bercerita tentang peristiwa di masa lalunya kepada setiap orang yang menengoknya. Ada juga seorang bapak yang lumpuh karena stroke dan duduk di kursi roda bisa bercerita dengan semangat tentang masa lalunya walaupun dengan artikulasi yang tidak jelas. Pada hakekatnya setiap orang akan menceriterakan peristiwa yang pernah dialaminya seumur hidup dalam situasi apapun. Ketika Yesus melintasi kota Sikhar di Samaria dan sedang istirahat di tepi sumur Yakub datanglah seorang wanita yang akan mengambil air di situ. Dalam perbincangan wanita itu dengan Yesus, dia merasa kagum karena Yesus tahu akan kehidupannya tanpa dia bercerita. Dia merasakan sesuatu yang beda dan dia menyakini Yesus lawan bicaranya adalah Mesias. Ditinggalkan tempayannya dan dia berlari kembali ke dalam kota bercerita mengenai peristiwa yang dialaminya. Dampak dari ceritanya banyak orang Samaria berbondong-bondong pergi menemui Yesus di sumur itu. Setelah berjumpa dan berbincang dengan Yesus maka orang banyak itu percaya kepada-Nya. Wanita Samaria itu bersaksi kepada banyak orang dan menyelamatkan mereka. Pastilah seumur hidup dia bersaksi tentang peristiwa pertemuannya dengan Yesus. Kita mengenal dan menerima Yesus melalui peristiwa perjumpaan dengan Dia. Setiap orang mempunyai pengalaman dengan Yesus yang berbeda. Apakah setiap pengalaman dengan Yesus dalam hidup kita merupakan sebuah peristiwa yang sangat berkesan ? Pasti kita akan sangat antusias bercerita kepada banyak orang tentang karya-Nya seperti ketika menceritakan keberhasilan anak kita. Roh Kudus yang memenuhi hidup kita akan senantiasa mengingatkan kita untuk bersaksi dalam keadaan apapun dan seumur hidup. Melalui kesaksian kita akan membawa orang yang mendengarnya mengalami proses pertobatan.
Hari yang telah lama dinantikan, akhirnya tiba juga. Pada siang, tanggal 1 Mei 2018, Benay menapakkan kakinya di Bandara Ahmad Yani. Tidak ada kerabat yang menjemputnya. Sambey sahabatnya pun tidak. Maklum, Benay memang tidak ingin kedatangannya diketahui oleh mereka. Dengan taxi bandara ia pun meluncur menuju rumah paman yang sudah sangat dirindukannya. Namun malang tak bisa ditolak. Benay terjebak macet. Ia lupa jika hari itu adalah Mayday, peringatan hari buruh sedunia. Iring-iringan demonstrasi buruh menyemarakkan kota Semarang. Hati Benay kesal sekali dibuatnya. Dari spion tengah, sopir taxi melihat gelagat kekesalan Benay. “Mas, sabar ya? Ini hari mereka.” “Tahukah Mas, latarbelakang peringatan Mayday ini?” tanya pak sopir. Benay mengangguk pelan. “Peristiwanya terjadi pada tanggal 1 Mei 1886. Sebanyak 80.000-an buruh di Amerika Serikat mengadakan demontrasi menuntut pengurangan jam kerja. Saat itu jam kerja buruh sangat tidak manusiawi. Buruh harus bekerja 18 – 20 jam/hari dan tidak ada yang mempedulikan nasib buruk mereka. Demonstrasi itu ditanggapi dengan tembakan senapan yang menewaskan ratusan buruh”, kata Benay. “Baguslah kalau Mas tahu sejarahnya. Kelak jika Mas jadi boss dan mempunyai bawahan, berusahalah untuk berlaku adil dan jujur kepada mereka.” Jemaat yang terkasih. Mayoritas jemaat Kristen mula-mula terdiri dari para budak dan hamba sahaya. Hanya sedikit orang berpendidikan dan orang kaya. Kala itu orang-orang kecil sangat tertarik dengan kekristenan yang mengajarkan bahwa di hadapan Allah semua orang sama. Allah tidak memandang suku-bangsa, status sosial dan jenis kelamin. Dan dengan demikian setiap orang berhak menerima janji Allah [Galatia 3:26-29]. Di sisi lain, bagi orang-orang berstatus sosial tinggi yang tidak ingin kehilangan prestise, menjadi Kristen adalah pergumulan berat. Namun oleh anugerah Allah, ada juga orang-orang terpandang yang dengan sukacita beriman pada Yesus Kristus.Kepada orang-orang kaya dan berpangkat inilah Allah memberikan perintah agar mereka berlaku adil dan jujur kepada para hambanya. Sebab dengan berlaku demikian itu mereka mewujud-nyatakan sifat Allah yang adil dan jujur pada setiap orang. Jemaat yang dikasihi Tuhan. Kita jarang sekali turut mengucapkan selamat hari buruh. Padahal diantara jemaat tentu ada yang bekerja sebagai buruh. Mungkin di benak kita peringatan ini tidaklah penting atau malah mengganggu saja.Namun setidaknya peringatan hari buruh dapat mengingatkan kita akan martabat setiap orang di hadapan Tuhan adalah sama.Dan dengan demikian jika kebetulan kita berstatus sebagai buruh, janganlah berkecil hati. Teruslah berjuang. Bekerjalah dengan tekun dan ulet. Atau kebetulan kita mempekerjakan pembantu rumah tangga atau karyawan di toko atau di perusahaan yang kita kelola, berlakulah adil dan jujur kepada mereka. Perlakukanlah mereka sebagai rekan kerja. Berkatilah dengan memberi upah yang layak untuk mereka terima.Selamat Hari Buruh. Terpujilah Tuhan!
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Roh Kudus Mengubah Kehidupan Kita
19 Mei '18
Bersaksi?...Siapa Takut? !!!
17 Mei '18
Siapa Tempat Perlindunganmu?
01 Mei '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang