SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 19 Februari 2018   -HARI INI-
  Minggu, 18 Februari 2018
  Sabtu, 17 Februari 2018
  Jumat, 16 Februari 2018
  Kamis, 15 Februari 2018
  Rabu, 14 Februari 2018
  Selasa, 13 Februari 2018
POKOK RENUNGAN
Setiap hari yang kita jalani dengan pimpinan Tuhan lebih dari cukup bagi kita untuk selalu mengucap syukur.
DITULIS OLEH
Ibu Evylia H. Goenawan
Ibu Gembala
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Thanksgiving Day
Thanksgiving Day
Sabtu, 02 Desember 2017
Thanksgiving Day
1 Tesalonika 5:18

Hari Pengucapan Syukur adalah hari libur nasional yang diperingati di beberapa negara, di antaranya adalah Amerika Serikat, Kanada, Jerman, Jepang, dll. Warga Amerika Serikat merayakannya pada Kamis keempat di bulan November, sedangkan warga Kanada merayakannya pada Senin kedua Oktober.

Pada mulanya Thanksgiving merupakan peristiwa jamuan makan yang diadakan warga pendatang di Amerika Serikat sebagai ucapan syukur atas keberhasilan panen mereka. Jamuan makan di musim gugur yang berlangsung sampai tiga hari itu dihadiri pula oleh penduduk asli Amerika yang tinggal tak seberapa jauh dari tanah yang mereka tempati.

Pada perkembangannya, peringatan Thanksgiving Day bergeser menjadi sekedar momen mudik bagi mereka yang merayakan. Dan buat sebagian orang yang terlalu sibuk untuk berkumpul dengan keluarga besar, Thanksgiving Day tak ubahnya seperti hari libur nasional biasa. Hari Pengucapan Syukur mulai kehilangan makna.

Manusia memang mudah teralihkan. Mudah lupa. Banyak...selengkapnya »
Saya bisa membayangkan kemarahan Naaman, ketika seorang suruhan Nabi Elisa menyampaikan pesan “pergilah mandi tujuh kali dalam sungai Yordan…” kepadanya. Sudah pasti Naaman marah luar biasa, dia merasa direndahkan dan diremehkan. Kalau saja tidak ditahan oleh pegawai-pegawainya, mungkin Nabi Elisa dan suruhannya sudah dihabisi. Wajar saja Naaman begitu marah, bagaimana tidak? Naaman seorang panglima perang yang terpandang [ay 1], berkedudukan tinggi, berprestasi dalam karirnya, dan sudah pasti secara social ekonomi dia diatas rata-rata. Tapi mengapa Tuhan ijinkan Naaman mengalami masalah berupa penyakit kusta, penyakit yang notabene banyak diderita oleh orang-orang dari kalangan bawah? Dan mengapa cara yang Tuhan pakai untuk menyembuhkanpun adalah cara yang tidak wajar? Bahkan terkesan aneh, mungkin memalukan dan tidak lazim? Tuhan bisa saja melenyapkan penyakit Naaman begitu saja, atau menyembuhkan dengan cara yang lebih baik, karena itu perkasa yang sangat mudah bagi Dia. Tetapi Dia Allah yang mengerti betul, apa yang seharusnya disembuhkan dari diri Naaman. Tuhan hanya memakai penyakit kusta sebagai alat untuk menyembuhkan “penyakit” Naaman yang sebenarnya. Keangkuhan dan kesombongan yang ada pada Naaman [ay. 12], itu yang ingin disembuhkan Tuhan. Untunglah Naaman mau memperbaiki diri, dia menyadari akan keangkuhan dan kesombongannya, dan belajar untuk merendahkan diri [ay.14]. Dan ketika Naaman membuka diri terhadap apa yang dikehendaki Tuhan, mujizatpun terjadi, dia sembuh dari penyakitnya. Seringkali masalah yang ada dalam kehidupan kita begitu lama tidak ada jalan keluarnya, tidak kunjung ada pertolongan dariNya. Ada baiknya kita meneliti, menyelidiki, adakah sikap kita sudah benar, adakah kita sudah taat pada perintahNya, apakah kita masih sering melanggar rambu-rambu yang sudah ditetapkan Nya, apakah sifat/kebiasaan kita tidak sesuai dengan Firman Nya?. Adakalanya Tuhan memakai masalah untuk tujuan memperbaiki sesuatu dari diri kita yang tidak benar menurut pandangan Nya. Yang menjadi focus bagi Tuhan bukan sekedar menolong masalah itu, tetapi hidup kita yang sejati, sikap hati kita yang benar terhadap Firman Nya dan lingkungan. Tuhan ingin kita memiliki hati dan hidup yang benar sesuai dengan FirmanNya. Karena itu Dia terlebih dahulu akan memperbaiki sikap, hati dan hidup kita menjadi seturut dengan kehendakNya. Seperti Naaman yang dengan kesadaran mau merendahkan diri dan mentaati perintah Nya, mari kita belajar membuka hati, membiarkan Tuhan bekerja memperbaiki titik lemah kita. Dan saat kelemahan kita sudah diperbaikiNya, maka masalah kitapun akan Dia selesaikan juga, dan mujizat bukan hanya dialami oleh Naaman, tapi kitapun akan mengalami juga.
Ada berbagai motivasi yang mendasari seeorang melakukan kebaikan, antara lain perasaan belas kasihan, tidak mau kalah dengan orang lain, ingin mendapat pujian. Perikop renungan kita hari ini berbicara mengenai “Hal memberi sedekah”, dalam terjemahan bahasa Inggris dipakai kalimat “ Lakukan kebaikan untuk memuliakan Tuhan “ Dari kebenaran Firman Tuhan ini, jelas bagi kita bahwa berbuat kebaikan baik berupa materi /sedekah, pertolongan harus didasari motivasi yang benar, tulus jangan sampai ada tujuan yang terselubung. Pertama, jika kita melakukan kewajiban agama yang dalam terjemahan bahasa Inggris dipakai kata charitable = murah hati, suka berderma tidak untuk dipamerkan supaya dilihat orang karena jika itu yang kita lakukan maka kita tidak akan mendapat upah dari Bapa di Surga [ayat 1]. Kedua, jika kita melakukan kebaikan jangan kita mencanangkan [menggembar-gemborkan ] untuk mencari pujian dari manusiaseperti yang dilakukan orang munafik karena hanya itulah upah yang akan kita terima [ayat 2] Ketiga, dikatakan jika kita melakukan kebaikan jangan sampai tangan kiri tahu apa yang dilakukan tangan kanan kita dan juga kita harus melakukannya dengan tersembunyi. Artimya tidak seorangpun perlu mengetahui kebaikan yang kita lakukan [ayat 3,4]. Pada umumnya memang sulit menyimpan kebaikan yang telah dilakukan karena pada kenyataannya, kita pasti tahu apa yang tangan kanan dan kiri lakukan. Dalam Alkitab BIS, kata tersembunyi dipakai kata diam-diam artinya hanya Bapa di Surga yang mengetahui dan akan membalasnya kepada kita. Dari apa yang kita renungkan hari ini, marilah kita lakukan kebaikan dengan tulus hati tanpa motivasi yang terselubung untuk kepentingan pribadi. Amin.
“Benay pulang, Benay akan pulang, asyik-asyik...lalalalalala.” Sore itu Mbah Wanidy tampak gembira sekali. Seraya meracik segelas es teh pesanan Pdt. Itong, ia tak habis-habisnya bernyayi-nyanyi sambil sesekali bergoyang pinggul. “Lho...Mbah Wanidy dapat kabar dari mana?”, tanya Pdt. Itong, “Jangan keburu gembira dulu Mbah! Rumor yang beredar justru menyatakan bahwa Benay sudah tidak ada alias mati, kesrempet bom di Iraq.” “No..no..no..no”, jawab Mbah Wanidy ke Inggris-inggrisan, “Kali ini sumber beritaku terjamin keakuratannya. Mas Rabenay, kakak kandung Benay, tanpa sengaja aku bertemu dengannya di pelabuhan. Dan ia sendiri yang menyampaikan bahwa awal tahun 2018 ini Benay akan pulang kampung.” Pdt. Itong memandang keheranan dan hampir tidak percaya bahwa Benay akan pulang. “Tapi..ngomong-ngomong mengapa Mbah Wanidy kok senang sekali jika Benay akan pulang? Bukankah dia tukang ngutang di warung Mbah?” “Justru itulah Nak Itong. Kalo Benay pulang ada harapan hutangnya dibayar lunas..nas..nas.” “Emangnya berapa hutang Benay?” tanya Pdt. Itong. “Rp. 37.739! Belum termasuk bunga dan PPN.” “Walah..walah..utang segitu saja kok dipikirin”, kata Pdt. Itong, “Hutang Mbah Wanidy pada saya kan jumlahnya jauh lebih besar. Masih ingat jumlahnya?” Tak menduga bakal “ditembak” seperti itu wajah keriput Mbah Wanidy segera memerah. Ia tampak malu sekali. Jemaat yang terkasih. Kisah di atas memiliki kesejajaran dengan hal mengampuni yang diajarkan oleh Tuhan Yesus kepada Rasul Petrus. Melalui sebuah perumpamaan, Tuhan mengisahkan bagaimana pengampunan harus menjadi gaya hidup Rasul Petrus. Bukan tujuh kali mengampuni. Melainkan 70 X 7 kali. Dalam hal ini Tuhan tidak bermaksud mengajari Rasul Petrus matematika, yaitu hasilnya 490 kali mengampuni. Tetapi maksud sebenarnya adalah mengampuni setiap saat dan tak ada batasnya. Mengapa? Karena Tuhan, oleh kasih karunia-Nya, telah lebih dahulu mengampuni Rasul Petrus. Padahal, sama seperti seluruh umat manusia, dosa dan pelanggaran Rasul Petrus begitu besar. Maka kepada orang-orang yang pernah berbuat salah atau menyakiti hatinya, Tuhan berkehendak agar Rasul Petrus mau mengampuni mereka. Sebab dengan demikian ia belajar mensyukuri pengampunan Tuhan yang telah diterimanya. Jemaat yang dikasihi Tuhan. Sama seperti kepada Rasul Petrus, Tuhan juga menghendaki kita untuk menjadi ahli dalam mengampuni. Jangan salah sangka! Pengampunan tidak harus berbarengan dengan hilangnya sakit hati; Pengampunan juga tidak harus segera diikuti dengan pulihnya relasi seperti sedia kala; Pengampunan tidak selalu harus menghilangkan konsekwensi/hukuman yang harus diterima oleh orang yang menyalahi kita. Pengampunan adalah hal keputusan. Keputusan pribadi kita untuk mau mengampuni orang lain. Dan itu berarti demi terpeliharanya kesejahteraan dan kedamaian dalam hati kita. Selamat mengampuni. Terpujilah Tuhan!.
Ketika saya sedang mendoakan jemaat yang sakit cukup lama karena faktor usia, saya sangat tertarik dengan perawat atau pengasuh dari jemaat yang sakit tersebut. Ketertarikan saya adalah ketika saya bertanya sudah berapa lama bekerja sebagai pengasuh orang sakit. Ia menjawab “saya melakukan pekerjaan ini sudah dua puluh tahun, dan saya sangat menyenangi pekerjaan saya ini.“ Itu adalah jawaban dari pengasuh tersebut. Pernah ia diajak bekerja diperusahaan. Namun ia menolak karena hasrat yang ada dalam dirinya adalah bisa menolong orang yang sedang sakit dan bisa menghibur dia yang sakit. Kadang ia kasihan melihat lansia yang ditinggal sendirian oleh anaknya yang sibuk mencari kekayaan dan usahanya sehingga lupa dengan orang tuanya. Tidak jarang ia diomel-omeli oleh pasien atau pihak keluarga, namun ia selalu senyum dan menjawab maaf dan sebagainya. Ia senang bisa menghantarkan lansia yang dalam masa kritisnya dengan doa dan semangat untuk bersyukur kepada Tuhan. Ia sangat senang bisa membagikan kekuatan yang ia miliki untuk membantu lansia. Dan yang menjadi kesukaannya ialah menolong orang lain untuk tidak kuatir bertemu Tuhan disaat hari akhirnya hingga yang dilayani mengenal Tuhan. Mengasuh lansia memang pekerjaan tidak populer dan itu tidak semua orang punya hati disana. Penting kita ketahui bahwa kita bisa menghibur dan menolong orang lain di dalam setiap apapun pekerjaan kita. Kita harus menyadari bahwa Tuhan menyertai kalau kita, kalau kita punya hati untuk jiwa-jiwa. Sering kali kita lupa, bahwa melalui apa yang kita kerjakan bisa menolong orang lain untuk mengenal Tuhan dan mengasihi Tuhan. Namun kita terkadang belum sampai disana. Tuhan tempatkan dipekerjaan dan usaha kita untuk bisa menjadi berkat dan belajar mensyukuri atas apa yang telah diperbuat dalam kehidupan kita. Sebab dengan kita melakukan pekerjaan dengan sungguh-sungguh, kita sudah melayani Tuhan. dan melakukan apa yang menjadi tujuan Tuhan atas kehidupan kita. Tujuan Tuhan bagi kita yaitu diberkati untuk menjadi berkat juga mengelola apa yang Tuhan percayakan dalam kehidupan kita. Oleh karenanya sesederhana apapun yang kita lakukan lakukanlah dengan segenap hati dan percayala jika kita melakukan dengan segenap hati orang yang ada disekitar kita pun akan terberkati, Semua yang kita lakukan dengan segenap hati pasti akan menjadi berkat dan kesukaan kepada setiap orang karena mereka merasakan dampak yang kita perbuat, selagi kita bisa berkarya dan melakukan sesuatu yang dapat menolong orang marilah kita melakukannya dengan segenap hati kita untuk Tuhan dan sesama.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Ahli Dalam Mengampuni
29 Januari '18
Sempat Meragukan Kristus
15 Februari '18
Humblebrags
12 Februari '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang