SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 20 April 2018   -HARI INI-
  Kamis, 19 April 2018
  Rabu, 18 April 2018
  Selasa, 17 April 2018
  Senin, 16 April 2018
  Minggu, 15 April 2018
  Sabtu, 14 April 2018
POKOK RENUNGAN
PONDASI IMAN KITA ADALAH KRISTUS, TIDAK BISA DIGANTIKAN DENGAN SESUATU YANG LAIN.
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas P. Chandra
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Tiada Rotan Akarpun Jadi ?
Tiada Rotan Akarpun Jadi ?
Sabtu, 22 Juli 2017
Tiada Rotan Akarpun Jadi ?
1 Korintus 3:12

Tiada akar rotanpun jadi. Begitu bunyi sebuah peribahasa. Jika tidak ada yang baik, maka yang kurang baik pun dapat digunakan. Pisau bisa kita gunakan untuk memotong kertas jika tidak ada gunting, misalnya. Daun pisang pun bisa kita pakai sebagai pelindung kepala ketika hujan, jika tak ada payung. Tetapi bagaimana jika kertas yang harus kita potong mempunyai bentuk yang rumit? Tentu saja pisau tidak menghasilkan potongan sesempurna gunting. Bagaimana pula jika hujan turun cukup lebat? Daun pisang lebih mudah robek dan tidak dapat difungsikan lagi.

Beda dengan kehidupan jasmani. Peribahasa ’tiada rotan akar pun jadi’ tidak seharusnya menjadi prinsip kita dalam menjalani kehidupan rohani. Mendirikan ’bangunan Allah’ di dalam diri kita membutuhkan bahan-bahan yang berkualitas. Kita tidak dapat menggunakan bahan pengganti secara sembarangan. Kristus adalah satu-satunya pondasi yang ditempatkan oleh Allah. Kita tidak bisa menggantikannya dengan yang lain, termasuk hamba Tuhan atau nabi Tuhan sekalipun. Alkitab sebagai tuntunan kita tidak bisa digantikan dengan buku-buku rohani atau ucapan pengkhotbah. Berdoa tidak...selengkapnya »
Mengikuti jejak Yesus 1 Petrus 2:21, 23 [21] Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya. [23] Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil. Saat ini kita hidup di tengah zaman dimana orang suka saling mencaci maki. Melalui media sosial orang saling mengungkapkan kebenciannya. Dalam dunia nyata juga orang saling mencaci maki. Caci maki dibalas dengan caci maki. Bahkan para tokoh dan pejabatpun, yang seharusnya menjadi panutan buat masyarakat, saling mencaci maki. Kehidupan menjadi bising dan tidak nyaman karena penuh dengan ungkapan kebencian, hujatan, dan makian. Hidup di tengah zaman seperti ini bagaimanakah kita menyikapinya? Kristus telah memberikan suatu teladan bagi kita. Ketika Dia diperlakukan dengan kejam, dibully, dihina, disiksa, disakiti, Dia tidak membalas. Dia menanggung semua itu dengan sikap rela. Dia sadar akan apa yang sedang Dia lakukan. Dia sedang menjalankan sebuah pekerjaan penebusan. Dia sedang menanggung penderitaan bagi banyak orang, termasuk saudara dan saya. Dia tahu bahwa apa yang Dia kerjakan akan mendatangkan keselamatan dan kesembuhan bagi banyak orang. Karena itu Dia tidak mau membalas perlakuan orang atas diri-Nya. Kadang kita ketemu dengan orang yang egois dan tidak mau tahu perasaan orang lain. Orang itu melakukan hal-hal yang menyakitkan. Bagaimana kita meresponnya? Kecenderungan manusiawi kita tentu saja adalah membalas. Tindakan membalas tidak menyelesaikan persoalan. Tindakan membalas akan menghasilkan tindakan membalas juga. Balas membalas. Tindakan balas membalas apapun bentuknya, entah pertengkaran, pertikaian, percekcokan, maupun peperangan, akan berujung pada kehancuran di kedua belah pihak. Pertengkaran selalu menyisakan kebencian dan sakit hati yang semakin dalam. Apalagi peperangan mengakibatkan hancurnya peradaban. Tuhan Yesus memberikan sebuah teladan cara mengatasi tindakan kebencian, yaitu dengan memberikan pengampunan. Pengampunan adalah suatu cara yang ampuh untuk mematahkan kebencian. Di Minggu Paskah ini marilah kita belajar mengikuti jejak Yesus. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
Pak Petrus seorang aktivis pelayanan sebuah Gereja terserang penyakit kangker lever akut. Menurut diagnosis dokter usianya tinggal tiga bulan lagi. Namun karena kuasa mujizat Allah, pak Petrus dianugrahi Tuhan waktu 15 tahun lagi. Setelah dirinya sembuh dan mendapatkan kesempatan hidup selama 15 tahun, waktu tersebut tidak dia sia-siakan. Pak Petrus semakin giat melakukan pemberitaan Injil bagi jiwa-jiwa yang belum mengenal Tuhan Yesus. Selama periode 15 tahun pak Petrus berhasil memenangkan banyak jiwa-jiwa baru melalui kesaksian hidupnya sendiri. Sebagai orang percaya kita mempercayai ada kehidupan kekal setelah kematian. Kita juga meyakini bahwa Tuhan Yesus akan datang kembali ke dunia untuk kedua kalinya. Kita juga yakin bahwa hidup kita di dunia ada batasnya. Oleh sebab itu renungan kita hari ini berbicara tentang bagaimana kita mempergunakan waktu yang tersisa dari kehidupan kita saat ini [ayat 2]. Kita juga belajar dari Mazmur 90:10 bahwa setiap kita mendapatkan jatah kehidupan antara 70-80 tahun. Berarti saat ini kita memiliki waktu yang tersisa dari kehidupan kita untuk berjaga-jaga dan mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk memasuki kekekalan atau untuk menyambut kedatangan Tuhan Yesus kedua kalinya. Hal-hal apakah yang harus kita lakukan dengan sisa waktu yang tersedia saat ini ? Pertama, Bersikaplah militan terhadap dosa apapun yang menggodai diri kita untuk melakukannya [ayat 1-3]. Kita harus tegas berani bersikap melawan kuasa dosa yang mencoba menggoda diri kita. Tentu saja ini merupakan perjuangan hidup yang tidak mudah bagi kita. Karena selama bertahun-tahun kita sudah membiasakan diri untuk menuruti hawa nafsu dosa apalagi sekarang kita harus berhenti dari kebiasaan tersebut. Contoh, orang kecanduan rokok, pornografi, miras, berjudi akan sangat susah berhenti apabila dalam dirinya sendiri tidak ada tekad dan komitmen untuk berhenti dari kebiasaan buruk tersebut. Makanya ayat 2 berkata agar kita tidak menuruti kedagingan kita, tetapi menggunakan sisa waktu kita untuk melakukan kehendak Allah. Salah satu cara melakukan kehendak Allah kita harus berani sangkal diri dan pikul salib untuk mengikuti Tuhan Yesus Kristus. Kedua, Kuasailah dirimu supaya kita mampu melakukan kehendak Allah [ayat 7 – 11]. Untuk bisa hidup tenang, berdoa dan mengasihi seseorang dibutuhkan penguasaan diri. Terlebih untuk mengasihi dan berdoa bagi orang yang menjadi musuh kita, yang menyakiti hati kita, yang telah mengecewakan kita pada zaman ini. Dunia yang sedang bergejolak dan penuh persaingan serta permusuhan hanya dapat dimenangkan oleh pribadi-pribadi yang dapat menguasai diri. Tanpa penguasaan diri, kita akan terseret arus masuk kepusaran dunia yang penuh hawa nafsu saat ini. Oleh sebab itu pergunakanlah waktu yang tersisa untuk berpikir dan melakukan hal-hal yang bernilai kekekalan.
Orang percaya yang telah ditebus oleh darah Yesus [penebusan Salib Kristus] telah dibeli dengan harga yang lunas dibayar dan dirinya menjadi milik Tuhan [I Korintus 6:19-20]. Berarti hidupnya tidak boleh memiliki cita-cita, keinginan untuk meraih sesuatu, kecuali sesuatu itu berguna bagi Tuhan. Keinginannya haruslah bukan untuk kepentingannya sendiri, bukan untuk harga diri, gengsi, kehormatan di mata manusia. [Lukas 14:33] Dalam ayat bacaan tertulis : “…semua orang yang menerima-Nya diberi kuasa [the right, hak istimewa] supaya menjadi anak-anak Allah,...” menjadi pribadi luar biasa, berkarakter serupa dengan Tuhan Yesus. Menjadi anak Allah tentunya bukan hanya sekadar status, namun benar-benar bisa berkeadaan sebagai anak Allah. Untuk mencapai keberadaan sebagai anak Allah tidaklah mudah, harus melalui proses panjang menjadi murid. Manusia diciptakan dengan . kehendak bebas di dalam dirinya, Tuhan tidak mengambil alih kemudi hidup atau kedaulatan manusia. Manusialah yang mengendalikan hidupnya, apakah mau mengarahkan hidupnya hanya untuk melakukan kehendak dan keinginan Tuhan atau tidak. Jadi yang sangat penting dalam hidup ini adalah, apakah kita sudah secara sadar rela dididik sebagai murid Kristus. Bapa sudah menganugerahkan fasilitas-fasilitas untuk membentuk kita bisa hidup sama seperti Kristus telah hidup, mengikuti jejak-Nya [I Yohanes 2:6] Fasilitas-fasilitas tersebut berupa : 1. Karya Penebusan oleh darah Yesus yang mahal harganya [I Petrus 1:18-19]. Dengan penebusan ini kita diubah status dari pemberontak menjadi orang kudus [I Korintus 1:2a]. Inilah yang disebut sebagai pengudusan pasif, yang hanya Tuhan yang dapat melakukannya. 2. Kebenaran Injil, yaitu kuasa Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, yaitu mengembalikan manusia kepada rancangan Allah semula, memiliki kemuliaan Allah, menjadi serupa dengan Tuhan Yesus [Roma 1:16]. Rasul Petrus mengingatkan bahwa kita menyucikan diri oleh ketaatan kepada kebenaran [I Petrus 1:22]. Kita harus sungguh-sungguh belajar Kebenaran Injil. Hal ini disebut pengudusan aktif. 3. Roh Kudus : Menuntun orang percaya kepada segala Kebenaran [Injil], menolong kita dalam proses pengudusan [Yohanes 16:13] 4. Penggarapan Bapa melalui peristiwa-peristiwa dalam kehidupan sehari-hari [Roma 8:28] Berkeberadaan sebagai anak Allah [bukan sekadar status] adalah hal yang menyenangkan hati Bapa, kita harus memperkarakannya setiap hari sepanjang waktu singkat yang masih ada.
Istilah “lumpuh” berkonotasi sangat negative yaitu tidak berdaya atau tidak ada kegiatan apapun. Suatu misal ada ungkapan “karena banjir yang tidak kunjung surut maka Jakarta lumpuh total”, kata “lumpuh” mengartikan bahwa Jakarta hampir pasti tidak ada kegiatan berarti. Demikian juga dengan keadaan Si lumpuh yang diceritakan dalam Injil Lukas 5:17-26. Dalam perikop tersebut tidak menyebut nama orang yang lumpuh, orang tersebut memang benar terlihat pasif dalam cerita itu. Yang terlihat aktif adalah teman-teman yang mengusung Si lumpuh itu [5:18-20]. Mungkin saja Si lumpuh itu sebelumnya memang seorang yang telah mengalami hopeless, putus harapan, apatis masa bodoh. Kelumpuhan telah membuat semua menjadi sirna, tidak ada lagi semangat hidup. Jangan-jangan Si lumpuh itu pun tidak bersedia ketemu Yesus hanya karena bujuk rayu atau sedikit dipaksa oleh teman-temannya maka dia “ngikut sajalah, terserahlah…”.Akhirnya teman-temannyalah yang membawa kepada Yesus [ay.18]. Teman-temannya memang sangat aktif misalnya bersedia membawa Si lumpuh kepada Yesus kemudian ketika sampai kepada Yesus ternyata terhalang oleh orang banyak, teman-temanya yang mengusungnya tidak putus asa, berusaha keras bagaimana caranya supaya bisa menemui berhadapan muka dengan Yesus. Mereka memutar otak, bekerja sama, dan menemukan ide yaitu dengan membongkar atap tepat di atas posisi di mana Yesus berada dan menurunkan Si lumpuh tepat di depan Yesus. Dan “ketika Yesus melihat iman mereka” [ay.20], Yesus tidak mengatakan iman Si lumpuh, maka terjadilah mujizat kesembuhan, si lumpuh itu berdiri dan mengangkat tilamnya kemudian memuliakan Allah dan pulang [ay.24-25]. Dari kisah dalam Injil di atas, dapat di ambil pelajaran menarik bagi kita semua bahwa dua atau tiga orang [teman/sahabat] yang berkumpul sepakat bersam-sama dalam doa maka Tuhan menjawabnya. Teman atau sahabat yang punya iman mampu menolong rekannya yang sedang mengalami persoalan. Betapa pentingnya peran teman atau sahabat yang beriman bagi rekannya. Saudara sudahkah kita selalu menjadi teman/sahabat yang baik, yang menjadi berkat, dan marilah kita senantiasa bersedia menjadi teman kepada siapa pun supaya dalam pertemanan itu kita bisa memberi pelayanan yang terbaik bagi banyak orang, dan nama Tuhan dipermuliakan. Amin.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Dusta Mahkamah Agama
10 April '18
Sudah Selesai
28 Maret '18
Menghargai Pengorbanan Yesus
22 Maret '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang