SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 19 Februari 2018   -HARI INI-
  Minggu, 18 Februari 2018
  Sabtu, 17 Februari 2018
  Jumat, 16 Februari 2018
  Kamis, 15 Februari 2018
  Rabu, 14 Februari 2018
  Selasa, 13 Februari 2018
POKOK RENUNGAN
Berilah kesempatan Allah menolong kita dengan menjaga diri kita dengan baik.
DITULIS OLEH
Bp. Andreas T. Loso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Tuhan Membantu Mereka Yang Membantu Dirinya
Tuhan Membantu Mereka Yang Membantu Dirinya
Selasa, 22 Agustus 2017
Tuhan Membantu Mereka Yang Membantu Dirinya
Mazmur 46:2

Saat akhir kelas, salah satu mahasiswa menanyakan bahan-bahan ujian yang akan saya ujikan di akhir semester. Kebetulan waktu itu saya belum mengakhiri jam perkuliahan, maka saya membuat kesepakatan bentuk soal dan cara ujiannya. Saya mengajukan dua pilihan, yaitu openbook atau membuat paper. Karena semua sepakat memilih ujian openbook, maka saya mempersilahkan mahasiswa membawa buku yang menurut mereka mendukung ujian.

Ketika ujian, saya melihat semua mahasiswa membawa bermacam-macam buku. Tetapi ada seorang mahasiswa tidak membawa buku satupun, dia hanya membawa selembar kertas soal ujian dan dua lembar folio. Sontak saya bertanya, “Loh, kamu kok nggak bawa buku atau catatan kuliah satupun, apakah sudah siap semua?” Jawabnya, “Saya tidak punya buku, Pak sedang buku catatan, saya lupa menaruhnya.” Dan dapat ditebak, mahasiswa tersebut tidak bisa mengerjakan soal satupun. Akhirnya ia mendapat nilai E. Peristiwa tersebut memperlihatkan seseorang yang tidak berusaha membantu dirinya sendiri agar berhasil. Memang dia sudah berdoa minta Tuhan memperlancar ujiannya, tetapi tanpa usaha membantu dirinya, mana mungki...selengkapnya »
Berlutut dihadapan Tuhan, tidaklah hanya berbicara tentang sikap doa, tetapi juga sikap hati di mana kita mencari Tuhan. Dr. Charles Stanley dalam bukunya ’Landmines in The Path of the Believer’ [Ranjau yang tersembunyi di balik jalan orang percaya] menyatakan, ’Kita berdiri makin tinggi dan kuat di atas lutut kita’. Buku ini menceritakan tentang keadaan di mana dia mengalami saat-saat yang begitu gelap dan putus asa, dia terbangun di tengah malam dan duduk di sisi tempat tidurnya dan berdoa. Ia menyerahkan seluruh persoalannya kepada Tuhan dan kemudian meminta Tuhan menolong dia untuk dapat tidur kembali. Pada saat ia terombang-ambing dan putua asa, dia belajar satu hal yang sangat penting yaitu, ’Jika saya tetap fokus pada Tuhan, saya akan memperoleh pertolongan, kekuatan dan kemampuan untuk melewatinya, sekalipun dunia di sekeliling saya nampaknya akan runtuh.’ Doa akan menolong kita fokus pada Tuhan. Malas berdoa membuat kita terfokus pada keadaan kita. Kekuatan kita terletak di dalam doa, tetapi banyak kali kita mengabaikan doa. Kita memiliki banyak waktu untuk mendengar khotbah-khotbah, seminar-seminar, bahkan kesaksian-kesaksian tentang pentingnya doa. Namun kita tidak memiliki waktu untuk berdoa. Bila kita menabung waktu dalam doa, maka kita sedang menanam kuasa yang besar dalam hidup ini. Sesungguhnya yang menjadi persoalan bagi orang percaya bukanlah karena kekurangan pengetahuan tentang doa, tetapi karena sikap malas berdoa. Bagaimana kita dapat membuang sikap malas berdoa? Dengan mengakui dihadapan Tuhan akan kemalasan kita dan meminta kepada Tuhan agar memberikan hati dan jiwa yang haus kepada Tuhan. Roma 7:21 mengatakan, ’Jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku.’ Bukankah kita merasakan betapa sulitnya untuk berdoa sekalipun keinginan untuk berdoa selalu ada? Jadi, mintalah kepada Tuhan agar cinta untuk rumah dan hadiratNya menghanguskan kita. Pahamilah prinsip kebenaran tentang ’Rumahku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.’ Yesus memberikan pernyataan ini ketika Dia sedang menunggang-balikkan segala kesibukan yang ada di rumah Tuhan. Kesibukan dalam kehidupan telah membuat kita mengabaikan doa. Kita kehilangan poin penting dari kehidupan kekristenan, dan menempatkannya pada urutan kesekian. Sadarilah bahwa doa menjadi basis utama dari segala berkat-berkat Tuhan yang telah disediakanNya.
Penulis Paul Little mengatakan bahwa kita sering kali tidak bersaksi seperti Yesus. Kita cenderung cepat menyalahkan orang lain. Paul Little menulis, ’Kita sering kali berpikir keliru, yakni jika kita tidak menyalahkan suatu sikap atau tindakan yang salah, berarti kita menyetujuinya.’ Dia menambahkan, ’Kita tidak hanya harus menghindari sikap menyalahkan orang lain, tetapi juga perlu mempelajari seni memberikan pujian yang rasional.’ Paul Little juga menceritakan pengalaman seorang penulis bernama Charles Trumbull. Di sebuah kereta api, sang penulis bertemu seorang pemabuk yang melontarkan kata-kata tak senonoh dan duduk di sampingnya. Ketika laki-laki itu menawarkan minumannya, Trumbull sama sekali tidak menyalahkan orang itu. Malahan dia menjawab, ’Tidak, terima kasih, tapi saya tahu Anda sangat murah hati.’ Mendengar kata- katanya, mata laki-laki itu langsung bersinar. Sewaktu mereka bercakap-cakap, laki-laki itu mendengar tentang Pribadi yang menawarkan air kehidupan yang dapat memuaskannya. Tak lama kemudian ia pun menerima Kristus. Kita dapat belajar banyak tentang bersaksi secara efektif dengan belajar dari Yesus, melalui peristiwa saat Yesus bersaksi kepada wanita yang ditemui-Nya di sumur [Yohanes 4:5-26]. Sebenarnya secara sosial Yesus tidak boleh berbicara dengan wanita Samaria itu, karena Yesus orang Yahudi. Dalam kisah tersebut diceritakan Yesus meminta minum kepada wanita itu. Ini dilakukan-Nya dengan sikap menghargai wanita tersebut. Bisa saja Yesus menyalahkan cara hidup wanita yang penuh dosa itu, tetapi Dia tidak melakukannya. Pada saat kita bersaksi tentang Yesus, ingatlah bahwa kita perlu hikmat. Artinya adalah cara kita bersaksi harus cerdik. Dapat membaca situasi serta diperlukan timming yang tepat. Semua itu perlu dilakukan agar Kabar Sukacita tentang Yesus dapat diterima oleh orang di sekitar kita. Semua orang dapat mendengarkan dengan penuh sukacita. Mari beritakan Injil dengan berhikmat.
Di dalam diri manusia ada hasrat atau kehendak. Itulah yang menggerakkan manusia ke arah mana dan akan berbuat apa. Manusia tidak mungkin berjalan tanpa arah, bergerak tanpa hasrat. Manusia bergerak ingin mendapatkan sesuatu itulah hidup, bergerak, tidak berhenti. Manusia yang berhenti berarti mati. Orang lumpuh, bahkan yang tidak punya kaki pun bukan berarti hilang hasrat dan keinginan. Hanya orang matilah yang tidak memiliki gerak dan hasrat lagi. Keinginan dan keinginan, hasrat dan hasrat itulah hakekat manusia hidup. Tetapi tahukah hai semua manusia ! bahwa dengan hasrat atau keinginan itulah engkau digerakkan bisa menuju kebinasaan, tetapi juga sebaliknya bisa mendapatkan kehidupan. Hanya persoalannya adalah siapa yang menggerakkan keinginan atau hasrat itu? Ada dua hal yang menggerakkan yaitu: 1. roh diri sendiri [roh kedagingan], dan 2. Roh Tuhan. Mari kita lihat keduanya : 1. Hidup yang digerakkah roh diri sendiri [kedagingan]. Adalah hidup yang menuruti hasrat keinginan diri sendiri yang tidak mungkin menuju kebenaran, karena semua manusia telah diperhamba dosa yang selalu menuruti hawa nafsu kedagingan yang bertentangan dengan Allah [Rom 8:6a-8], yang berujung kepada kebinasaan. 2. Hidup yang digerakkan oleh Roh Kristus [Roh Kudus] Adalah hidup yang dipimpin oleh Roh Kristus, yaitu ketika kita percaya kepada Tuhan Yesus, menerima Kristus secara pribadi, sehingga Dia berkenan tinggal dalam hidup kita, dan kita bersedia dipimpin arah hidup kita oleh-Nya maka kita akan berolah kehidupan [Roma 8:9,10] Jadi semua itu tergantung dengan kita sendiri, kita mau dipimpin Roh Kristus yang adalah pemberi kehidupan kekal atau kita mau memimpin diri sendiri, artinya kita tidak bersedia dipimpin Roh Tuhan tidak bersedia hidup dan lahir baru, maunya memuaskan keinginan kedagingan itulah jalan kebinasaan. Roh Kristus yang memimpin kita maka sertamerta membawa seluruh tubuh kita [jasmani] ikut memuji Tuhan dan bersaksi di sekitarnya, tetapi sebaliknya, barang siapa yang tidak bersedia menerima pimpinan Roh Ktistus maka ujung-ujungnya adalah pemuasan hawa nafsu secara jasmani, yang tidak memberi dampak positif di sekitarnya. Jadi pemahamannya simpel [sederhana]: barang siapa yang belum lahir baru [belum bersedia dipimpin Roh Kristus] bertentangan dengan orang yang telah lahir baru [bersedia dipimpin Roh Kristus]. Yang tidak lahir baru akan binasa tetapi yang bersedia lahir baru beroleh kehidupan kekal [Roma 8:13]. Jadi manusia batiniah [inner man] tidak selalu bertentangkan dengan manusia jasmaniah [outer man], yang dipertentangkan adalah manusia yang sudah lahir baru dan yang belum lahir baru.
Sejak ditemukannya benua Amerika oleh Columbus pada abad 15 dan diketahui bahwa benua baru tersebut menyimpan kekayaan alam yang luar biasa, ribuan orang dari Eropa berduyun-duyun datang kesana. Puncaknya adalah di abad 19 ketika terjadi ’demam emas’. Tersebutlah seorang pria yang juga datang ke Amerika hendak menambang emas, namun betapa kecewanya ia menerima kenyataan bahwa emas yang diimpikan sudah habis. Sementara uang untuk pulang menipis. Dengan gontai dan pikiran kosong, ia berjalan mendekati kereta kudanya. Untuk sekian menit, pikirannya menerawang entah ke mana, sambil tangannya memegang terpal penutup kereta kudanya. Ahaa!! Tiba-tiba datang ide cemerlang ke dalam pikirannya. Dengan tangan masih memegang terpal penutup kereta kuda, ia memandang ke arah penambang yang sedang bekerja keras mengumpulkan butiran emas, dengan kondisi pakaian yang sudah tidak jelas. Sontak muncul ide cerdas di pikirannya. Ia bertanya di dalam hati, ’Mengapa tidak ada celana khusus penambang yang terbuat dari bahan yang kuat seperti terpal ini? Selain lebih awet, kulit penambang juga bisa terlindungi dari goresan yang membuat sakit’. Siapa menyangka berawal dari rasa frustasi akibat gagal menjadi penambang emas, pria tadi secara tidak sengaja menemukan ide untuk membuat bahan celana yang terbuat dari terpal. Bahan celana yang kelak disebut jeans itu kini sudah dipakai di seluruh dunia, sebagai bagian yang tidak bisa dipisahkan dari mode. Pria itu bernama Levi Strauss, seorang Yahudi-Jerman, yang produknya dikenal dengan merk Levi’s. Dahulu Israel dikenal sebagai negeri yang gersang. Seluruh negeri dikelilingi hamparan gurun pasir, tak ada satupun tanaman bisa tumbuh kecuali kaktus. Sumber air pun tidak ada, lalu apa yang mau diharap dari negeri seperti itu? Namun sebagai bangsa yang cerdas, bangsa Yahudi terus maju dan tidak menyerah dengan kondisi alam seperti itu. Didukung kecanggihan teknologi, saat ini Israel dikenal sebagai penghasil buah-buahan terbaik di dunia. Mazmur 126:4, Tuhan berjanji memulihkan Sion dan memulihkan batang-batang air kering di tanah Negeb. Tuhan berkuasa mengubah padang gurun menjadi kebun buah-buahan, sesuatu yang mustahil bagi logika manusia! [Yes 32:15]. Hal ini yang dikehendaki Tuhan atas gerejaNya. Jangan mudah menyerah dengan kondisi yang ada!
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Berakar, Bertumbuh, Berbuah
10 Februari '18
Yang Tersayang Sudah Pulang
25 Januari '18
Beda Standart
14 Februari '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang