SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 27 Mei 2018   -HARI INI-
  Sabtu, 26 Mei 2018
  Jumat, 25 Mei 2018
  Kamis, 24 Mei 2018
  Rabu, 23 Mei 2018
  Selasa, 22 Mei 2018
  Senin, 21 Mei 2018
POKOK RENUNGAN
Hidup ditengah-tengah gairah dunia yang makin fasik ini, berjuanglah untuk mempertahankan integritas sebagai anak-anak Tuhan, dengan mengenakan gaya hidup yang berpola pada gaya hidup yang dikenakan oleh Tuhan Yesus.
DITULIS OLEH
Bp. Gunawan Laksmana
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Waspada Terhadap Pengaruh Gairah Zaman
Waspada Terhadap Pengaruh Gairah Zaman
Jumat, 19 Januari 2018
Waspada Terhadap Pengaruh Gairah Zaman
Matius 24 : 12, II Timotius 3 : 1 – 5

Gairah zaman adalah filosofi, cara berpikir yang membentuk gaya hidup yang dikenakan oleh hampir semua manusia sekarang ini dan yang telah dianggap sebagai gaya hidup wajar, bahkan sering dianggap sebagai gaya hidup ideal. Gaya hidup ini masih banyak dikenakan oleh orang kristen, aktivis gereja, bahkan oleh para rohaniawan. Tuhan Yesus mengingatkan bahwa pada saat menjelang kedatangan-Nya, kedurhakaan manusia semakin bertambah, zaman semakin fasik, manusia tidak takut akan Tuhan, tidak peduli hukum atau kehendak Tuhan.

Dalam suratnya, rasul Petrus juga mengingatkan bahwa pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek yang hidup menuruti hawa nafsunya. Orang-orang yang mengejek Tuhan dengan perbuatannya, mereka membelakangi Tuhan dan memberontak terhadap Tuhan [II Petrus 3 : .3]. Dalam suratnya kepada Timotius, rasul Paulus juga menyatakan tentang gairah zaman ini di mana moral manusia sudah jauh dari standar kebenaran dan kesucian Tuhan. Kita harus menyadari bahwa pengaruh suasana dunia yang fasik ini telah menyusup dalam kehidupan banyak orang kristen dan gereja sehingga mereka hidup dalam kewajaran anak du...selengkapnya »
Mas Noto seorang pemuda lugu dari desa lereng pegunungan Bromo di Jawa Timur akan berangkat bekerja di Jakarta sebagai manajer pemasaran dari Bank Lippo. Alumni salah satu Universitas Terkenal di Surabaya jurusan Ekonomi Manajemen ini memang tergolong pemuda cerdas dan berprestasi sehingga Bank Lippo berminat merekrut menjadi pegawainya. Saat sebelum berangkat ke Jakarta dia mengadakan persekutuan doa dan syukuran di desanya. Ada banyak pesan dan harapan yang disampaikan kepada dirinya baik dari Bapak Gembala, Bapak Lurah, juga orang tuanya sendiri sebagai bekal dirinya berjuang di Jakarta. Dari sekian banyak pesan yang disampaikan hanya satu pesan yang senantiasa dia ingat dan lakukan dengan segenap hati yaitu pesan dari ayahnya tercinta. Bagi dia pesan sang ayah merupakan hal yang patut diingat dan dilakukan karena sang ayah sangat kenal dirinya dan kebutuhannya. Tiga tahun kemudian Mas Noto sudah menjadi orang sukses dan penting di jajaran Bank Lippo dan mulai mencari anak desa untuk bergabung bekerja dengan dirinya. Nats yang tertulis di atas merupakan pesan penting yang Tuhan Yesus sampaikan kepada para murid sebelum diri-Nya terangkat ke Surga. Pesan itu disampaikan saat menjawab pertanyaan para murid. Ternyata pesan tersebut berisi dua hal penting dan satu hal di sampaikan oleh Para Malaikat kepada para murid-Nya. Pesan tersebut antara lain. Pertama, mereka tidak perlu tahu kapan waktu yang tepat saat pemulihan bangsa Israel terjadi. Sebab hal ini merupakan wewenang dari Bapa di Surga [ayat 7]. Kedua, sekarang yang harus mereka kerjakan sepeninggal Tuhan Yesus adalah sebagai saksi – saksi dari karya penebusan Tuhan Yesus di kayu salib bagi keselamatan orang berdosa. Wilayah kesaksian mereka adalah dari Kota Yerusalem sampai ke ujung bumi [ayat 8]. Tugas itu akan mereka kerjakan setelah mereka menerima Roh Kudus sampai Tuhan Yesus datang kembali ke dunia ini. Dan salah satu pesan Malaikat yang disampaikan kepada mereka adalah tentang kembalinya Tuhan Yesus ke bumi untuk kedua kalinya sejak kenaikan diri-Nya Ke Surga. Pesan itu hendak menegaskan bahwa suatu saat Tuhan Yesus pasti kembali ke dunia ini untuk menjemput kita yang percaya dan menjadi murid-Nya. Sudahkah kita melakukan pesan Tuhan Yesus di atas sebagai bukti bahwa kita adalah murid – murid-NYa.
“Simon Petrus naik ke perahu lalu menghela jala itu ke darat, penuh ikan-ikan besar: seratus lima puluh tiga ekor banyaknya, dan sungguhpun sebanyak itu, jala itu tidak koyak” [Yohanes 21:11]. Apa maksud penyebutan angka ini? Jika maksudnya hanya sekedar memberi informasi, alangkah lebih sederhananya disebut “sangat banyak” atau “jala itu penuh”. Atau jika ingin menunjuk pada jumlah ikan yang didapat, lebih lazim disebut dengan satuan berat, seperti kilogram, gram, dsb. Lalu apa maksud dari penyebutan angka 153? Kalau dalam sebuah cerita dicantumkan suatu angka, maka angka itu biasanya ada fungsinya. Demikian juga halnya dengan angka 153 yang ditulis dalam kisah ini. Pada jaman itu, menurut Ilmu pengetahuan Yunani, jumlah jenis ikan yang diketahui berjumlah 153 macam. Karena itu para murid mengasosiasikan angka 153 ini dengan angka jumlah jenis ikan tersebut. Itulah jumlah jenis ikan yang mereka ketahui. Angka itu bagi mereka berarti: semua jenis ikan di dunia ini. Ketika dulu Yesus memanggil murid-murid-Nya, Ia berkata, ’Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.’ [Markus 1:17]. Dalam kisah ini, Yesus kembali menegaskan dan mengingatkan murid untuk tetap “menebarkan jala” dan “menjaring jiwa”. Pertemuan awal Yesus dengan para murid terjadi pada peristiwa “menjaring ikan”. Kini pun sesudah peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus, dengan peristiwa serupa yang mirip [lihat kejadian dan tempat dalam Yohanes 21:1-14] ingatan murid-murid kembali dibawa untuk mengigat kembali peristiwa tersebut sekaligus mempertegas dan memperjelas panggilan mereka untuk menjadi saksi bagi semua bangsa. Murid-murid menjaring 153 ikan, memiliki makna khusus yaitu perihal tugas bersaksi dan menjangkau jiwa bagi semua bangsa. Ajakan ini bukan terbatas bagi murid-murid yang hidup pada saat itu saja. Melainkan juga panggilan dan tugas kita sebagai murid Yesus di masa kini. Peristiwa pentakosta adalah peristiwa turunnya Roh Kudus bagi setiap orang percaya. Roh yang memberi kita rasa aman, keberanian dan kedamaian untuk kita terus bersaksi mewartakan berita tentag Kabar Sukacita di dalam Yesus Kristus.
Seseorang yang mengalami peristiwa menyenangkan maupun menyedihkan dalam hidupnya dan sangat berkesan pasti tidak akan terlupakan seumur hidup. Dalam situasi apapun pada setiap kesempatan pasti dia akan menceriterakan peristiwa tersebut kepada orang lain dengan antusias. Seorang ibu yang sedang dirawat di rumah sakit bisa bercerita tentang peristiwa di masa lalunya kepada setiap orang yang menengoknya. Ada juga seorang bapak yang lumpuh karena stroke dan duduk di kursi roda bisa bercerita dengan semangat tentang masa lalunya walaupun dengan artikulasi yang tidak jelas. Pada hakekatnya setiap orang akan menceriterakan peristiwa yang pernah dialaminya seumur hidup dalam situasi apapun. Ketika Yesus melintasi kota Sikhar di Samaria dan sedang istirahat di tepi sumur Yakub datanglah seorang wanita yang akan mengambil air di situ. Dalam perbincangan wanita itu dengan Yesus, dia merasa kagum karena Yesus tahu akan kehidupannya tanpa dia bercerita. Dia merasakan sesuatu yang beda dan dia menyakini Yesus lawan bicaranya adalah Mesias. Ditinggalkan tempayannya dan dia berlari kembali ke dalam kota bercerita mengenai peristiwa yang dialaminya. Dampak dari ceritanya banyak orang Samaria berbondong-bondong pergi menemui Yesus di sumur itu. Setelah berjumpa dan berbincang dengan Yesus maka orang banyak itu percaya kepada-Nya. Wanita Samaria itu bersaksi kepada banyak orang dan menyelamatkan mereka. Pastilah seumur hidup dia bersaksi tentang peristiwa pertemuannya dengan Yesus. Kita mengenal dan menerima Yesus melalui peristiwa perjumpaan dengan Dia. Setiap orang mempunyai pengalaman dengan Yesus yang berbeda. Apakah setiap pengalaman dengan Yesus dalam hidup kita merupakan sebuah peristiwa yang sangat berkesan ? Pasti kita akan sangat antusias bercerita kepada banyak orang tentang karya-Nya seperti ketika menceritakan keberhasilan anak kita. Roh Kudus yang memenuhi hidup kita akan senantiasa mengingatkan kita untuk bersaksi dalam keadaan apapun dan seumur hidup. Melalui kesaksian kita akan membawa orang yang mendengarnya mengalami proses pertobatan.
Ketika tinggal di Bandung, ada sebuah tempat wisata kuliner di kawasan Lembang yang cukup menarik bagi saya. Bukan sekedar karena makanannya yang lezat menggoyang lidah, tetapi juga menyuguhkan suasana alami yang hening, fresh, dan berhawa sejuk. Di sana mata kita dimanjakan dengan hijaunya pepohonan, indahnya penataan saung-saung dan lampu-lampu obor. Ornamen-ornamen tradisional semakin menambah kentalnya suasana pedesaan nan asri. Konsep mendekatkan diri ke alam yang ditampilkan telah menarik banyak pengunjung sehingga menjadikan tempat itu sebagai salah satu tujuan favorit pecinta kuliner. Ya, di tengah-tengah hiruk pikuknya perkotaan, padatnya jadwal bisnis dan pekerjaan, bahkan permasalahan dan tekanan hidup, setiap orang mendambakan suasana yang tenang dan segar untuk meluruhkan segala kesesakan hidup; menemukan kelegaan bagi jiwa. Tidak heran jika tempat-tempat wisata yang berkonsep ‘back to nature’ [kembali ke alam] selalu dipenuhi pengunjung, khususnya di waktu liburan. Berbicara tentang kelegaan bagi jiwa, Daud telah menemukan tempat yang paling memberi ketenangan saat mengalami gundah gulana karena beratnya deraan pergumulan. Ada orang-orang yang merancangkan kejahatan kepadanya. Mereka berusaha menjatuhkan dan meremukkannya. Berusaha merebut kedudukannya. Fitnahan dan dusta disebar untuk merusak nama baiknya supaya Daud jatuh dan terhempas. Di depan Daud mereka tersenyum dan memberkati, tetapi hati mereka dipenuhi kutuk dan rencana jahat. Mereka bagai musuh dalam selimut. Daud merasa terancam; kehilangan rasa aman. Hatinya merasa tidak tenang. Dia membutuhkan ‘gunung batu’ tempat perlindungan yang aman. Dia membutuhkan ‘kota benteng’ tempat pertahanan yang tenang. Dia mendambakan keselamatan dalam kondisi kritis hidupnya. Ke mana Daud mencarinya? Pada siapa Daud menemukannya? Ya, dia mencari dan menemukan keselamatannya dalam Allah, sumber pengharapannya. Kepada-Nya, Daud mempercayakan hidupnya. Di dalam Dia, Daud mendapat perlindungan sehingga jiwanya tetap aman dan tenang. Oleh-Nya, Daud tetap kuat, tidak goyah meskipun diterpa badai nan menggelora. Saat jiwa kita mengalami gundah gulana; saat pikiran kita disesaki ketakutan dan kegetiran; saat hati kita resah penuh dengan ketidak tenangan; saat pandangan kita gelap pekat sepertinya tidak ada jalan selamat; saat hidup kita bagaikan telur di ujung tanduk dan nyaris jatuh remuk; Kepada siapa kita datang? Ke mana kita mencari perlindungan? Siapa yang kita percaya dan harapkan? Seharusnya jawabannya adalah Allah di dalam Yesus Kristus, dan bukan yang lain. Hanya Dia satu-satunya!
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Penyebar Semangat
29 April '18
Anggur Baru Kirbat Baru
06 Mei '18
Siapa Tempat Perlindunganmu?
01 Mei '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang