SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 22 Juni 2018   -HARI INI-
  Kamis, 21 Juni 2018
  Rabu, 20 Juni 2018
  Selasa, 19 Juni 2018
  Senin, 18 Juni 2018
  Minggu, 17 Juni 2018
  Sabtu, 16 Juni 2018
POKOK RENUNGAN
Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia [1 Tes 4:14]
DITULIS OLEH
Ibu Evylia H. Goenawan
Ibu Gembala
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Yang Tersayang Sudah Pulang
Yang Tersayang Sudah Pulang
Kamis, 25 Januari 2018
Yang Tersayang Sudah Pulang
1 Tesalonika 4:13-14

Tuhan punya banyak cara untuk menyayang,
juga dengan memanggil pulang

Kita sayu, namun mengaku
Sang Empunya Hidup yang paling tahu
Rasanya belum cukup, belum sempat, belum siap
Tapi kata Tuhan, inilah saat yang tepat

Apalah yang lebih melegakan
selain cerai dari derita yang menggerus raga
Sehabis berjuang demi orang-orang tersayang,
tibalah saatnya untuk pulang
dengan iman, damai dan tenang

Meski tak terbendung tangis yang luruh dalam kelu,
hati kita tahu
Inilah cara terindah Tuhan untuk menyayang,
dengan memanggil pulang.

Mengakhiri perjumpaan dengan orang-orang terdekat tak pernah mudah. Apalagi bila terjadi secara tiba-tiba. Rasanya sulit dipercaya. Masih terasa hangatnya sentuhan tangan orang yang tersayang di dalam genggaman, sedetik kemudian telah tiada. Punah sudah rencana-rencana yang belum terlaksana. Kesempatan sudah menutup pintunya rapat-rapat.

Tak terelakkan kenangan demi kenangan berputar di kepala. Kebersamaan yang tak kenal kelanjut...selengkapnya »
Cerita dari teman kalimantan mengisahkan tentang jemaat yang digembalakan mengalami kelimpahan karena panen karet dan sawitnya melimpah. Sebagai petani yang sukses, jemaat ini ingin sekali memiliki barang-barang yang bagus. Kemudian ia pergi ke kota untuk jalan-jalan dan berbelanja kebutuhan sehari-hari. Dalam perjalannya di kota, ia melihat iklan air mineral yang sejuk dari televisi. Ia mulai tertarik untuk bisa merasakan kesejukan yang dilihat di iklan itu. Akhirnya ia membeli lemari Es, televisi, DVD dan alat elektronik yang lainnya karena sedang banyaknya uang. Sesampai dirumah, ia ketemu dengan bapak pendetanya, kemudia terjadi percakapan Pendeta : “banyak sekali barang belanjaannya pak!” Jemaat : “iya pak, saya beli Lemari Es, TV, DVD, kipas angin, setrika dll [ dengan sombongnya ] Pendeta : “wah hebat ya, lalu nanti cara pakainya gimana ? la daerah kita kan belum ada listrik terus nyalahkanya bagaimana ?” Jemaat : “oh iya ya [ sambil pegangan kepala ] [ untuk menghindari malu ] ia mengatakan ndak papa pak pendeta, nanti lemari Es bisa dibuat lemari baju, dan yang penting punya.” Pendeta : heem Kisah ini bagi kita akan punya penafsiran sendiri, namun ketika saya perhatikan dari cerita tersebut saya melihat bagian yang prinsip dari jemaat ini yaitu tidak paham, dan hanya mau mengikuti kesenangan karena harta kepemilikan. Keadaan kurang paham sering kali terjadi dalam hidup kebanyakan orang ketika menerima pesan, entah tidak memperhatikan, cuek, menganggap sudah tahu dll. Dan hal inilah yang menyebabkan terbengkalainnya suatu misi atau tujuan karena kurang paham. Dalam perjalanan bersama Yesus sering kali para murid belum mengerti maksud dari Yesus ketika Tuhan Yesus memberikan suatu pesan. Dalam injil Yohanes 4 ditunjukkan bagaimana murid-murid Tuhan Yesus tidak mengerti jika Yesus sedang berbicara masa penuaian. Namun yang dipikirkan adalah makanan bukan pengajaran tentang bagaimana saat penuaian yang harus dikerjakan. Persolannya karena mereka terlalu asik dengan kondisi mereka. Bersama Yesus yang serba ada dan selama mereka bersama dengan Yesus mereka hanya melakukan kegiatan rutin tanpa memahami maksud Gurunya. Kita sering melakukan yang justru tidak berfaedah dan jauh dari maksud dan rencana Tuhan. Kecenderungan kita hanya berputar-putar dengan kegiatan yang sama dan menghabiskan energi. Oleh karenanya kita perlu memahami secara benar maksud Tuhan yang ditaruh dalam diri kita jemaat agar sesuai dengan maksud Tuhan yaitu fokus pada jiwa2 bukan asesoris yang tidak ada hubungan dengan maksud Tuhan dibumi.
Kesatuan mendatangkan berkat Mazmur 133:1-3 Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya. Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya. Kita tahu bahwa kesatuan itu baik, indah, dan menyenangkan. Siapapun pasti menyukai yang baik, indah dan menyenangkan. Tapi mengapa sulit sekali untuk mwujudkan dan memelihara kesatuan? Kesatuan seringkali hanya sebatas wacana saja, tidak terwujud dalam tindakan nyata. Padahal Firman Tuhan berkata bahwa dimana ada kesatuan ke sana Tuhan memerintahkan berkat-berkat-Nya. Jika tidak ada kesatuan Tuhan tidak akan mendatangkan berkat-Nya. Apakah kita tidak suka diberkati Tuhan? Kita sering berpikir bahwa berkat Tuhan itu bersifat individual. ’Berkat untuk saya tidak ada hubungannya dengan berkat untuk orang lain.’ Padahal menurut Firman-Nya, berkat Tuhan itu tidak untuk seseorang saja, tapi untuk sekelompok orang, diberikan bersama-sama, atau dengan kata lain bersifat kolektif. Tuhan memberkati sebuah keluarga maupun gereja secara bersama-sama. Di Alkitab, janji berkat Tuhan itu bersifat kolektif. Sebagai contoh Kisah Para Rasul 2:39 mengatakan: ’Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita.’ Jika Tuhan memberkati sebuah keluarga, maka semua yang ada di keluarga itu ikut merasakan berkat Tuhan. Bahkan berkat Tuhan bisa berlaku untuk sebuah kota. Firman Tuhan berkata: ’Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.’ [Yeremia 29:7]. Jadi kita tidak boleh memikirkan kesejahteraan diri kita saja. Kalau kota kita mengalami kesulitan, kita yang tinggal di dalamnya juga akan mengalami kesulitan. Kalau kota kita sejahtera dan diberkati Tuhan, maka kita pun akan ikut merasakan kesejahteraannya. Marilah mulai sekarang kita berdoa dan mengerjakan segala sesuatu bukan untuk kepentingan diri kita masing-masing. Berdoalah dan usahakanlah kesejahteraan untuk keluarga, gereja dan kota kita. Peliharalah kesatuan, agar berkat Tuhan senantiasa mengalir bagi kita bersama. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
Sudah berapa lama kita menjadi orang Kristen ? Apa yang sudah kita lakukan bagi Tuhan dan Sesama ? Apakah kita selama ini masih memikirkan diri sendiri, keluarga sendiri, perusahaan/bisnis sendiri ? Kalaupun melayani juga sesungguhya hanya untuk diri sendiri, seperti popularitas diri sendiri, dll, yang selalu hanya fokus kepada diri sendiri. Ataukah sebaliknya rela mengorbankan diri demi kepentingan, kemajuan, membangun orang orang lain, pihak lain. Pernahkan kita berpikir untuk berbuah bagi Tuhan ? Berbuah berarti bermanfaat, berdampak, menjadi berkat, membawa berkat bagi orang lain. Pernahkan kita melihat pohon blimbing makan buahnya sendiri ? Ataupun buah apapun makan buahnya sendiri ? Buah yang dihasilkan oleh sebuah pohon selalu akan dinikmati oleh pihak lain. Entah itu binatang, entah itu manusia. Buah juga berguna untuk memperbanyak/multiplikasi diri. Artinya menjadikan lebih banyak yang sama/serupa, dan tidak pernah terjadi dengan berbuah pohon itu akan menggemukan diri sendiri. Jadi yang dimaksud dengan berbuah disini adalah: Pertama, menjadi berkat, berdampak, bermanfaat bagi orang-orang di lingkungannya. Semuanya tadi dapat kita lakukan melalui perkataan, pikiran, uluran tangan, tenaga, bahkan harta kita. Kedua, memperbanyak diri sendiri. Maksudnya menjadikan orang lain/sesama menjadi murid Kristus seperti kita, yang juga dapat menjadi berkat, berdampak, bermanfaat bagi lingkungannya, untuk kemudian memuridkan orang lain. Tuntunan firman Tuhan bagi kita untuk menghasilkan buah sangat jelas. Tidak alasan bagi kita untuk berdalih tidak tahu, tidak bisa. Hanya ada satu cara untuk dapat menjadi berkat, berdampak, bermanfaat, bagi lingkungan kalau kita mau. Sesungguhnya berbuah merupakan kerinduan Tuhan Yesus sendiri atas hidup kita. Maka kata Tuhan: ”Tinggalah di dalam Aku, dan Aku di dalam kamu. Maka ia akan berbuah banyak.
Semangat berbagi hidup Roma 12:1 Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Perayaan Pentakosta telah berlalu. Lalu apa yang selanjutnya harus kita lakukan setelah Pentakosta? Allah mencurahkan kuasa Roh Kudus-Nya bagi kita supaya kita memiliki semangat yang baru di dalam hidup kita. Hidup yang dipimpin oleh Roh Kudus adalah hidup yang bersemangat dan penuh arti. Orang yang hidupnya dipimpin Roh Kudus tidak hidup bagi dirinya sendiri, tetapi hidup bagi Allah. Teroris memberi kehidupannya untuk menghancurkan dan mematikan orang lain. Ada suatu yang ’luar biasa’ dari teroris, yaitu mereka berani menyerahkan hidupnya untuk apa yang diyakininya. Bahkan mengajak keluarganya. Dalam hal pengorbanan hidupnya teroris itu melakukan sesuatu yang luar biasa. Hanya sayangnya pengorbanan dan semangat mereka yang luar biasa itu bertujuan untuk menghancurkan atau mengambil kehidupan orang lain. Roh Kudus mendorong kita untuk memberikan hidup kita untuk kehidupan orang lain. Yang lemah dikuatkan, yang putus asa dibangkitkan harapannya, yang sakit disembuhkan. Tandanya bahwa seorang dijamah Roh Kudus adalah dia semakin giat dan semangat dalam pelayanan, rohnya menyala-nyala melayani Tuhan. Kalau hidupnya masih seperti biasanya berarti orang itu belum mengalami jamahan Roh Kudus. Rasul Paulus sebelum mengenal Kristus pernah punya semangat menghancurkan hidup orang lain, namun setelah dijamah oleh Roh Kudus hidupnya dipersembahkan untuk menyelamatkan jiwa-jiwa. Maka dia menasehatkan kita untuk mempersembahkan hidup ketika kita hidup dan masih sehat, dengan kekuatan dan kesanggupan kita. Bukan ketika kita mati. Waktu kita mati, kita sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau kita memakai hidup kita untuk membangun kehidupan orang lain, maka kematian kita akan menjadi kematian yang berarti, menjadi kemenangan yang gilang gemilang. Kematian akan menjadi persembahan hidup kita yang terakhir untuk kemuliaan Tuhan. Tuhan memberkati kita semua. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Tugas Generasi Kita
10 Juni '18
Gagal Dan Berhasil
25 Mei '18
Sang Waktu
12 Juni '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang