SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 22 Juni 2018   -HARI INI-
  Kamis, 21 Juni 2018
  Rabu, 20 Juni 2018
  Selasa, 19 Juni 2018
  Senin, 18 Juni 2018
  Minggu, 17 Juni 2018
  Sabtu, 16 Juni 2018
POKOK RENUNGAN
Jadikan kehadiran kita sebagai hadiah Natal terbaik dalam keluarga dan bagi siapa saja, jadilah pembawa kebahagiaan dalam kehadiran kita.
DITULIS OLEH
Bp. Widodo Gunawan
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hadiah Natal1
Hadiah Natal1
Rabu, 27 Desember 2017
Hadiah Natal1
Filipi 2:5

Kita sering mencari-cari hadiah Natal untuk keluarga, kerabat atau teman-teman tercinta. Kegiatan mencari yang serasi dan berarti untuk setiap pribadi tidak gampang. Namun ada ’sebuah usulan kado’ yang penuh arti bagi setiap pribadi! Kado yang satu ini mampu menyempurnakan kado yang sudah kita siapkan. Kado ini tidak dijual di toko, kita bisa menghadiahkannya. Ya, setiap saat dan tak perlu membeli! Ini adalah hadiah terindah dan tak ternilai bagi orang-orang yang kita sayangi, yaitu “KEHADIRAN”.

Kehadiran orang yang dikasihi rasanya adalah kado yang tak ternilai harganya. Memang kita bisa juga hadir di hadapannya lewat SMS, telepon, foto, facebook, instagram, atau WA. Namun dengan berada di sampingnya, kita dan dia dapat berbagi perasaan, perhatian, dan kasih sayang secara lebih utuh dan intensif. Dengan demikian, kualitas kehadiran adalah sangat penting.

Lalu dalam kehadiran kita, setidaknya ada 7 hal yang perlu diperhatikan, yaitu “SEPERTI YESUS”, men...selengkapnya »
Sam Foss adalah seorang musafir. Suatu ketika di dalam perjalanannya ia merasa lelah dan haus yang sangat. Ia datang mendekati sebuah rumah kecil tidak bercat yang berdiri di atas sebuah bukit. Dekat sisi jalan yang menuju rumah itu, ia melihat tanda dengan tulisan, ’masuklah, dan dapatkan minuman yang dingin.’ Tidak berapa jauh dari tulisan itu Foss menemukan sebuah mata air yang dingin dan sejuk. Di atas mata air itu tersedia gayung tua untuk menciduk air dan di bangku dekat mata air tersebut ada keranjang berisi buah apel yang segar segar dengan tulisan, ’layanilah diri anda sendiri’. Penuh rasa ingin tahu, Foss bergegas menemui pasangan suami istri yang tinggal di rumah kecil itu dan ia pun bertanya tentang tulisan dekat mata air dan keranjang apel yang dilihatnya’. Pasangan suami yang sudah tua itu ternyata tidak mempunyai anak dan mereka hidup dari hasil kebun apel mereka yang tidak seberapa. Mereka bisa digolongkan sangat miskin tetapi dalam hal mata air dan apel, mereka merasa kaya dan berkelimpahan sehingga mereka ingin sekali membagikan kelimpahan tersebut kepada orang-orang yang kebetulan lewat di situ. ’Dalam hal uang kami terlalu miskin untuk menolong orang lain.’ kata pemilik rumah kecil itu, ’tetapi kami berpikir dengan cara ini kami dapat menambahkan serta menutupi apa yang kurang pada kami sehingga kami tetap dapat melakukan sesuatu untuk orang lain.’ Setiap orang dapat melakukan sesuatu untuk menolong sesamanya. Kita tidak harus menunggu sampai kita cukup mampu dan cukup berada barulah memikirkan kepentingan sesama. Mungkin kita semiskin pasangan suami isteri diatas, kita masih memiliki lebih banyak dari apa yang mereka miliki. Tetapi sekalipun kita memiliki banyak hal, kita tetaplah orang-orang ’miskin’ sebab tidak pernah berpikir untuk menolong orang lain. ’Kekayaan seseorang tidak dapat dinilai dari apa yang ia miliki, tetapi dari apa yang ia berikan kepada sesama,’ demikian kata para bijak. Adakah kita memiliki kerinduan untuk berbuat kebaikan bagi sesama? Begitu banyak orang yang kecewa karena tidak menemukan apa yang mereka harapkan dari orang percaya. Tuhan tidak akan menanyakan berapa banyak perusahaan kita, berapa banyak harta yang kita miliki dan berapa banyak tabungan kita, tetapi yang akan Tuhan tanyakan adalah apa yang sudah kita lakukan dengan semua yang sudah Tuhan percayakan kepada kita.
Seorang organis gereja sedang berlatih memainkan lagu ciptaan Felix Mendelssohn, tetapi ia masih saja belum dapat memainkannya dengan baik. Karena kesal, ia lalu membereskan perlengkapan musiknya dan hendak pergi. Ia tidak memperhatikan kalau ada seseorang yang masuk dan duduk di bangku depan gereja. Saat organis tersebut beranjak pergi, orang itu maju ke depan dan bertanya apakah ia boleh memainkan lagu itu. ’Saya tak pernah mengizinkan siapa pun menyentuh organ ini!’ tukas sang organis. Setelah dua kali memohon dengan sopan, akhirnya sang organis yang galak itu dengan berat hati mengizinkannya. Orang itu akhirnya duduk dan memainkan musik yang indah sehingga alunan musiknya memenuhi gereja. Setelah selesai, sang organis bertanya, ’Siapakah Anda?’ Lelaki itu menjawab, ’Saya Felix Mendelssohn.’ Tadinya sang organis hampir saja melarang si pencipta lagu memainkan musik ciptaannya sendiri! Sering kali kita terlalu ingin memainkan “nada-nada kehidupan kita sendiri dan melarang Sang Pencipta memainkan musik yang indah”. Seperti halnya organis yang keras kepala itu, dengan berat hati kita melepaskan tangan kita dari tuts-tuts organ. Seperti pengalaman hidup yang dialami oleh pemazmur bahwa seluruh perjalanan hidupnya senantiasa dipimpin oleh Tuhan. Demikian juga pemazmur menyadari bahwa kalau dirinya kuat dan mampu menghadapi persoalan hidupnya itu karena semata-mata pertolongan Tuhan. Tidak cukup sampai di situ bahwa keberhasilan Daud menjadi penguasa atas Yehuda dan seluruh wilayah Israel itu karena perbuatan tangan TUHAN. Dengan demikian Daud dengan lugas berkata,”Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak; Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang [ay.5-6].” Saudara-saudara kekasih Tuhan, sudah semestinya bahwa kita harus melakukan segala kehidupan ini. Banyak hal yang dilakukan dengan baik, tetapi dalam kehidupan ini kita sering menghadapi kenyataan yang di luar kemampuan. Kita sudah memeras seluruh kemampuan tetapi berakhir dengan nihil, dan akhirnya kita sampai pada perasaan lelah dan kepayahan. Dalam keadaan seperti ini kita diingatkan kembali akan pentingnya berserah dalam pimpinan Tuhan. Dari persoalan hidup yang ringan sampai yang berat, mari kita serahkan kepada Tuhan. Biarkan tangan Tuhan yang turut memainkan “tuts” kehidupan, karena Dia sang pencipta atas kita, ijinkan Dia memimpin seluruh hidupmu, Tuhan memampukan kita menjalani kehidupan ini dengan baik dan penuh keberhasilan. Berserahlah kepada Tuhan.
Suatu saat, di perempatan jalan Gajahmada Kampung kali, saya melihat seorang anak perempuan kecil, penjual koran, menawarkan koran pada seorang pengendara motor, tapi tidak mau membeli koran. Anak kecil penjual koran terus menawarkan. Kemudian pengendara motor mengeluarkan uang dari dompet dan ia memberikan sebagai sedekah saja. Anak kecil tersebut menolak lalu meninggalkan motor tersebut, saya amati, ternyata dia menangis tersedu-sedu, dia merasa dianggap sebagai “pengemis”. Saya merasa bersimpati dan kagum pada gadis kecil penjual koran tersebut. Beberapa waktu kemudian saya sengaja lewat di jalan yang sama, penjual koran yang sama melihat saya dan menawari koran. Saya buka jendela dan saya tanya harga koran berapa? Dia menjawab Rp 2000,-. Lalu saya mengambil uang Rp 5000,- dan memberikan padanya: “Dik kembaliannya buat adik ya”. Si anak kecil tersebut tidak mau menerima, dan tetap bersikukuh minta Rp 2000,- saja. Saya hanya bisa menghela nafas panjang. Kita memang harus mendidik generasi penerus bangsa ini bukan bermental peminta-minta. “Kerja adalah sebuah kehormatan’. Suatu pantangan bagi anak kita, generasi penerus memiliki “mental pengemis”. Kerja bukanlah masalah uang semata, namun lebih mendalam mempunyai sesuatu arti bagi hidup kita. Kadang mata kita menjadi ’hijau’ melihat uang, sampai akhirnya melupakan apa arti pentingnya kebanggaan profesi yang kita miliki.Bukan masalah tinggi rendah atau besar kecilnya suatu profesi, namun yang lebih penting adalah etos kerja, dalam arti penghargaan terhadap apa yang kita kerjakan. Sekecil apapun yang kita kerjakan, sejauh itu memberikan rasa bangga di dalam diri, maka itu akan memberikan arti besar.
Balai Pertemuan yang berwujud sebuah rumah adat panggung di suatu Perkampungan Raja siang itu cukup padat. Rombongan kami terdiri dari 6 orang awam dan 4 orang kru sebuah majalah. Ditambah penduduk yang hadir, tak banyak tempat yang lowong di bagian depan rumah panggung itu. Siang itu dilangsungkan ritual penyambutan tamu sesuai adat sebuah pulau kecil yang terletak di Nusa Tenggara Timur. Di antara sekian banyak hal yang menarik perhatian kami, terselip sebuah penuturan yang membuat saya terpana. Meskipun hampir seluruh penduduk Perkampungan Raja percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, untuk mengambil keputusan-keputusan penting tetaplah harus melalui ’terawangan’. Untuk itu, seekor binatang berupa ayam atau babi harus disembelih. Kemudian satu ’orang pintar’ akan ’membaca’ usus binatang sembelihan dan menetapkan keputusan yang harus dibuat. Kalau hal ini dilanggar, mereka meyakini bahwa tulah pasti datang menghampiri. Ayat-ayat bacaan Alkitab hari ini mengingatkan umat Tuhan untuk terdidik dalam pokok iman dan ajaran sehat dalam Kristus Yesus [1 Timotius 4:6]. Baiklah kita menjauhi takhayul yang diwariskan turun-temurun dan melatih diri beribadah [ayat 7]. Iman Kristen dan takhayul adalah dua hal yang kontradiktif. Walaupun hal ini banyak terjadi di berbagai belahan dunia, tak dapat dielakkan bahwa belenggu takhayul akan menghambat pertumbuhan rohani. Bagaimana mungkin orang menaruh pengharapan sepenuhnya kepada Kristus kalau hidupnya masih tergantung pada ’terawangan’, ’pantangan’ dan bermacam-macam ’syarat’? Marilah kita semakin memahami pokok iman kita, bertumbuh dalam ajaran yang sehat dan menjauhi takhayul yang membelenggu hidup manusia. Tuhan beserta kita.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Pribadi Roh Kudus
23 Mei '18
Peran Tubuh Dalam Ibadah Yang Sejati
19 Juni '18
Semangat Berbagi Hidup
27 Mei '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang