NIKMATI & BAGIKAN
  Artikel & Kesaksian
  Tulis Artikel / Kesaksian Anda
  Subscribe Renungan
  Electronic Formulir
  Form Permohonan Doa
  Form Katekisasi Baptisan Air
  Form Bimbingan Pra Nikah
  Form Penyerahan Anak
  Form Pendaftaran SPK Pemenang
  Form Pendaftaran Pelayanan
NEWS & EVENT
ELECTRONIC FORM
Manfaatkan fasilitas formulir online, untuk efisiensi waktu dan tenaga Anda (tanpa harus ke kantor sekretariat gereja).
GO PAPERLESS - REDUCE USING PAPER - THINK BEFORE YOU PRINT - SAVE EARTH
  Form Pendaftaran SPK Pemenang
  Form Katekisasi Baptisan Air
  Form Bimbingan Pra Nikah
  Form Pendaftaran Pelayanan
  Form Penyerahan Anak
Home  »  Media  »  Artikel & Kesaksian  »  Pemimpin Berintegritas: No Share Hoax
Pemimpin Berintegritas: No Share Hoax
Pemimpin Berintegritas: No Share Hoax
anonymous
Hoax, kata yang marak kita dengar belakangan ini. Sebenarnya apa sih hoax itu?

Hoax berasal dari kata `hocus` atau `hocus pocus` yang artinya `sim salabim`. Istilah `april mop`, 1 April, juga merupakan salah satu contoh hoax.

Di dunia ini hanya mengenal `hitam` & `putih`, salah & benar. Warna abu-abu ada, tapi kebenaran yang abu-abu sama sekali tidak ada. Hitam-putih menunjukkan ketegasan akan keyakinan dari kebenaran yang kita pegang.

Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat. Mat 5:37.

Kebenaran disini bukan berarti iman/agama/kepercayaan, tapi arti secara umum, kebenaran dari setiap apa yang kita percayai, yang terwujud dalam bentuk tutu...selengkapnya »
Jim Caviezel adalah seorang aktor biasa dengan peran-peran kecil dalam film-film yang juga tidak besar. Peran terbaik yang pernah dimilikinya (sebelum The Passion of The Christ) adalah sebuah film perang yang berjudul `The Thin Red Line`. Itupun hanya salah satu peran dari begitu banyak aktor besar yang berperan dalam film kolosal itu. Dalam The Thin Red Line, Jim berperan sebagai prajurit yang berkorban demi menolong teman-temannya yang terluka dan terkepung musuh, ia berlari memancing musuh ke arah yang lain walaupun ia tahu ia akan mati, dan akhirnya musuhpun mengepung dan membunuhnya. Kharisma kebaikan, keramahan, dan rela berkorbannya ini menarik perhatian Mel Gibson, yang sedang mencari aktor yang tepat untuk memerankan konsep film yang sudah lama disimpannya, menunggu orang yang tepat untuk memerankannya. Saya terkejut suatu hari dikirimkan naskah sebagai peran utama dalam sebuah film besar. Belum pernah saya bermain dalam film besar apalagi sebagai peran utama. Tapi yang membuat saya lebih terkejut lagi adalah ketika tahu peran yang harus saya mainkan. Ayolah..., Dia ini Tuhan, siapa yang bisa mengetahui apa yang ada dalam pikiran Tuhan dan memerankannya? Mereka pasti bercanda. Besok paginya saya mendapat sebuah telepon, `Hallo ini, Mel`. Kata suara dari telpon tersebut. `Mel siapa?`, Tanya saya bingung. Saya tidak menyangka kalau itu Mel Gibson, salah satu aktor dan sutradara Hollywood terbesar. Mel kemudian meminta kami bertemu, dan saya menyanggupinya. Saat kami bertemu, Mel kemudian menjelaskan panjang lebar tentang film yang akan dibuatnya. Film tentang Tuhan Yesus yang berbeda dari film-film lain yang pernah dibuat tentang Dia. Mel juga menyatakan bahwa akan sangat sulit dalam memerankan film ini, salah satunya saya harus belajar bahasa dan dialek alamik, bahasa yang digunakan pada masa itu. Dan Mel kemudian menatap tajam saya, dan mengatakan sebuah resiko terbesar yang mungkin akan saya hadapi. Katanya bila saya memerankan film ini, mungkin akan menjadi akhir dari karir saya sebagai actor di Hollywood. Sebagai manusia biasa saya menjadi gentar dengan resiko tersebut. Memang biasanya aktor pemeran Yesus di Hollywood, tidak akan dipakai lagi dalam film-film lain. Ditambah kemungkinan film ini akan dibenci oleh sekelompok orang Yahudi yang berpengaruh besar dalam bisnis pertunjukan di Hollywood. Sehingga habislah seluruh karir saya dalam dunia perfilman. Dalam kesenyapan menanti keputusan saya apakah jadi bermain dalam film itu, saya katakan padanya. `Mel apakah engkau memilihku karena inisial namaku juga sama dengan Jesus Christ (Jim Caviezel), dan umurku sekarang 33 tahun, sama dengan umur Yesus Kristus saat Ia disalibkan?` Mel menggeleng setengah terperengah, terkejut, menurutnya ini menjadi agak menakutkan. Dia tidak tahu akan hal itu, ataupun terluput dari perhatiannya. Dia memilih saya murni karena peran saya di `The Thin Red Line`. Baiklah Mel, aku rasa itu bukan sebuah kebetulan, ini tanda panggilanku, semua orang harus memikul salibnya. Bila ia tidak mau memikulnya maka ia akan hancur tertindih salib itu. Aku tanggung resikonya, mari kita buat film ini! Maka saya pun ikut terjun dalam proyek film tersebut. Dalam persiapan karakter selama berbulan-bulan saya terus bertanya-tanya, dapatkah saya melakukannya? Keraguan meliputi saya sepanjang waktu. Apa yang seorang Anak Tuhan pikirkan, rasakan, dan lakukan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut membingungkan saya, karena begitu banya referensi mengenai Dia dari sudut pandang berbeda-beda. Akhirnya hanya satu yang bisa saya lakukan, seperti yang Yesus banyak lakukan yaitu lebih banyak berdoa. Memohon tuntunanNya melakukan semua ini. Karena siapalah saya ini memerankan Dia yang begitu besar. Masa lalu saya bukan seorang yang dalam hubungan denganNya. Saya memang lahir dari keluarga Katolik yang taat, kebiasaan-kebiasaan baik dalam keluarga memang terus mengikuti dan menjadi dasar yang baik dalam diri saya. Saya hanyalah seorang pemuda yang bermain bola basket dalam liga SMA dan kampus, yang bermimpi menjadi seorang pemain NBA yang besar. Namun cedera engkel menghentikan karir saya sebagai atlit bola basket. Saya sempat kecewa pada Tuhan, karena cedera itu, seperti hancur seluruh hidup saya. Saya kemudian mencoba peruntungan dalam casting-casting, sebuah peran sangat kecil membawa saya pada sebuah harapan bahwa seni peran munkin menjadi jalan hidup saya. Kemudian saya mendalami seni peran dengan masuk dalam akademi seni peran, sambil sehari-hari saya terus mengejar casting. Dan kini saya telah berada dipuncak peran saya. Benar Tuhan, Engkau yang telah merencanakan semuanya, dan membawaku sampai disini. Engkau yang mengalihkanku dari karir di bola basket, menuntunku menjadi aktor, dan membuatku sampai pada titik ini. Karena Engkau yang telah memilihku, maka apapun yang akan terjadi, terjadilah sesuai kehendak-Mu. Saya tidak membayangkan tantangan film ini jauh lebih sulit dari pada bayangan saya. Di make-up selama 8 jam setiap hari tanpa boleh bergerak dan tetap berdiri, saya adalah orang satu-satunya di lokasi syuting yang hampir tidak pernah duduk. Sungguh tersiksa menyaksikan kru yang lain duduk-duduk santai sambil minum kopi. Kostum kasar yang sangat tidak nyaman, menyebabkan gatal-gatal sepanjang hari syuting membuat saya sangat tertekan. Salib yang digunakan, diusahakan seasli mungkin seperti yang dipikul oleh Yesus saat itu. Saat mereka meletakkan salib itu dipundak saya, saya kaget dan berteriak kesakitan, mereka mengira itu akting yang sangat baik, padahal saya sungguh-sungguh terkejut. Salib itu terlalu berat, tidak mungkin orang biasa memikulnya, namun saya mencobanya dengan sekuat tenaga. Yang terjadi kemudian setelah dicoba berjalan, bahu saya copot, dan tubuh saya tertimpa salib yang sangat berat itu. Dan sayapun melolong kesakitan, minta pertolongan. Para kru mengira itu akting yang luar biasa, mereka tidak tahu kalau saya dalam kecelakaan sebenarnya. Saat saya memulai memaki, menyumpah dan hampir pingsan karena tidak tahan dengan sakitnya, maka merekapun terkejut, sadar apa yang sesungguhnya terjadi dan segera memberikan saya perawatan medis. Sungguh saya merasa seperti setan karena memaki dan menyumpah seperti itu, namun saya hanya manusia biasa yang tidak biasa menahannya. Saat dalam pemulihan dan penyembuhan, Mel datang pada saya. Ia bertanya apakah saya ingin melanjutkan film ini, ia berkata ia sangat mengerti kalau saya menolak untuk melanjutkan film itu. Saya bekata pada Mel, saya tidak tahu kalau salib yang dipikul Tuhan Yesus seberat dan semenyakitkan seperti itu. Tapi kalau Tuhan Yesus mau memikul salib itu bagi saya, maka saya akan sangat malu kalau tidak memikulnya walau sebagian kecil saja. Mari kita teruskan film ini. Maka mereka mengganti salib itu dengan ukuran yang lebih kecil dan dengan bahan yang lebih ringan, agar bahu saya tidak terlepas lagi, dan mengulang seluruh adegan pemikulan salib itu. Jadi yang penonton lihat didalam film itu merupakan salib yang lebih kecil dari aslinya. Bagian syuting selanjutnya adalah bagian yang mungkin paling mengerikan, baik bagi penonton dan juga bagi saya, yaitu syuting penyambukan Yesus. Saya gemetar menghadapi adegan itu, Karena cambuk yang digunakan itu sungguhan. Sementara punggung saya hanya dilindungi papan setebal 3 cm. Suatu waktu para pemeran prajurit Roma itu mencambuk dan mengenai bagian sisi tubuh saya yang tidak terlindungi papan. Saya tersengat, berteriak kesakitan, bergulingan ditanah sambil memaki orang yang mencambuk saya. Semua kru kaget dan segera mengerubungi saya untuk memberi pertolongan. Tapi bagian paling sulit, bahkan hampir gagal dibuat yaitu pada bagian penyaliban. Lokasi syuting di Italia sangat dingin, sedingin musim salju, para kru dan figuran harus manggunakan mantel yang sangat tebal untuk menahan dingin. Sementara saya harus telanjang dan tergantung diatas kayu salib, diatas bukit yang tertinggi disitu. Angin dari bukit itu bertiup seperti ribuan pisau menghujam tubuh saya. Saya terkena hypothermia (penyakit kedinginan yang biasa mematikan), seluruh tubuh saya lumpuh tak bisa bergerak, mulut saya gemetar bergoncang tak terkendalikan. Mereka harus menghentikan syuting, karena nyawa saya jadi taruhannya. Semua tekanan, tantangan, kecelakaan dan penyakit membawa saya sungguh depresi. Adegan-adegan tersebut telah membawa saya kepada batas kemanusiaan saya. Dari adegan-keadegan lain semua kru hanya menonton dan menunggu saya sampai pada batas kemanusiaan saya, saat saya tidak mampu lagi baru mereka menghentikan adegan itu. Ini semua membawa saya pada batas-batas fisik dan jiwa saya sebagai manusia. Saya sungguh hampir gila dan tidak tahan dengan semua itu, sehingga seringkali saya harus lari jauh dari tempat syuting untuk berdoa. Hanya untuk berdoa, berseru pada Tuhan kalau saya tidak mampu lagi, memohon Dia agar memberi kekuatan bagi saya untuk melanjutkan semuanya ini. Saya tidak bisa, masih tidak bisa membayangkan bagaimana Yesus sendiri melalui semua itu, bagaimana menderitanya Dia. Dia bukan sekedar mati, tetapi mengalami penderitaan luar biasa yang panjang dan sangat menyakitkan, bagi fisik maupun jiwaNya. Dan peristiwa terakhir yang merupakan mujizat dalam pembuatan film itu adalah saat saya ada diatas kayu salib. Saat itu tempat syuting mendung gelap karena badai akan datang, kilat sambung menyambung diatas kami. Tapi Mel tidak menghentikan pengambilan gambar, karena memang cuaca saat itu sedang ideal sama seperti yang seharusnya terjadi seperti yang diceritakan. Saya ketakutan tergantung diatas kayu salib itu, disamping kami ada dibukit yang tinggi, saya adalah objek yang paling tinggi, untuk dapat dihantam oleh halilintar. Baru saja saya berpikir ingin segera turun karena takut pada petir, sebuah sakit yang luar biasa menghantam saya beserta cahaya silau dan suara menggelegar sangat kencang (setan tidak senang dengan adanya pembuatan film seperti ini). Dan sayapun tidak sadarkan diri. Yang saya tahu kemudian banyak orang yang memanggil-manggil meneriakkan nama saya, saat saya membuka mata semua kru telah berkumpul disekeliling saya, sambil berteriak-teriak `dia sadar! dia sadar!` (dalam kondisi seperti ini mustahil bagi manusia untuk bisa selamat dari hamtaman petir yang berkekuatan berjuta-juta volt kekuatan listrik, tapi perlindungan Tuhan terjadi disini). `Apa yang telah terjadi?` Tanya saya. Mereka bercerita bahwa sebuah halilintar telah menghantam saya diatas salib itu, sehingga mereka segera menurunkan saya dari situ. Tubuh saya menghitam karena hangus, dan rambut saya berasap, berubah menjadi model Don King. Sungguh sebuah mujizat kalau saya selamat dari peristiwa itu. Melihat dan merenungkan semua itu seringkali saya bertanya, `Tuhan, apakah Engkau menginginkan film ini dibuat? Mengapa semua kesulitan ini terjadi, apakah Engkau menginginkan film ini untuk dihentikan`? Namun saya terus berjalan, kita harus melakukan apa yang harus kita lakukan. Selama itu benar, kita harus terus melangkah. Semuanya itu adalah ujian terhadap iman kita, agar kita tetap dekat padaNya, supaya iman kita tetap kuat dalam ujian. Orang-orang bertanya bagaimana perasaan saya saat ditempat syuting itu memerankan Yesus. Oh... itu sangat luar biasa... mengagumkan... tidak dapat saya ungkapkan dengan kata-kata. Selama syuting film itu ada sebuah hadirat Tuhan yang kuat melingkupi kami semua, seakan-akan Tuhan sendiri berada disitu, menjadi sutradara atau merasuki saya memerankan diriNya sendiri. Itu adalah pengalaman yang tak terkatakan. Semua yang ikut terlibat dalam film itu mengalami lawatan Tuhan dan perubahan dalam hidupnya, tidak ada yang terkecuali. Pemeran salah satu prajurit Roma yang mencambuki saya itu adalah seorang muslim, setelah adegan tersebut, ia menangis dan menerima Yesus sebagai Tuhannya. Adegan itu begitu menyentuhnya. Itu sungguh luar biasa. Padahal awalnya mereka datang hanya karena untuk panggilan profesi dan pekerjaan saja, demi uang. Namun pengalaman dalam film itu mengubahkan kami semua, pengalaman yang tidak akan terlupakan. Dan Tuhan sungguh baik, walaupun memang film itu menjadi kontroversi. Tapi ternyata ramalan bahwa karir saya berhenti tidak terbukti. Berkat Tuhan tetap mengalir dalam pekerjaan saya sebagai aktor. Walaupun saya harus memilah-milah dan membatasi tawaran peran sejak saya memerankan film ini. Saya harap mereka yang menonton The Passion Of The Christ, tidak melihat saya sebagai aktornya. Saya hanyalah manusia biasa yang bekerja sebagai aktor, jangan kemudian melihat saya dalam sebuah film lain kemudian mengaitkannya dengan peran saya dalam The Passion of The Christ dan menjadi kecewa. Tetap pandang hanya pada Yesus saja, dan jangan lihat yang lain. Sejak banyak bergumul berdoa dalam film itu, berdoa menjadi kebiasaan yang tak terpisahkan dalam hidup saya. Film itu telah menyentuh dan mengubah hidup saya, saya berharap juga hal yang sama terjadi pada hidup anda. Amin.
Buat para ibu-ibu rumah tangga, yang memiliki passion dengan bisnis direct selling, pasti sudah tidak asing dengan brand alat rumah tangga, khususnya alat penyimpanan makanan dan minuman dengan kualitas tinggi, anti bakteri, dan BPA-Free yang bernama Twin Tulipware. Ternyata dibalik brand besar dari Twin Tulipware, ada kesaksian indah, mengenai perjuangan kesuksesan dari sang CEO, Bapak Paulus Mulyadi. Kita baca kesaksian beliau. Kehidupan Paulus Mulyadi yang kini menjadi pengusaha sukses ternyata diawali oleh masa kecil yang begitu sulit. Bahkan hanya untuk makan siang saja, Paulus kecil harus rela menjual perabotan rumah seperti seprei, yang hasil penjualannya nanti akan digunakan untuk membeli makanan seperti tempe dan tahu di pinggir jalan. Kesulitan ekonomi yang mendera keluarganya membuat Paulus kecil harus rela membantu sang orang tua untuk berjualan. Timbul rasa malu juga rasa iri terhadap teman-temannya yang dapat bermain, sementara dirinya di usia yang relatif muda harus keliling berjualan. Untuk mendapatkan uang jajan, Paulus kecil mendapatkannya dari hasil penjualan kelereng yang dimenangkannya dalam permainan dengan teman-teman. Meskipun dirinya dan keluarganya pindah ke Jakarta untuk mencoba peruntungan mendapatkan perekonomian yang layak, namun kehidupan mereka tetap tidak beubah. Keluarga Paulus tinggal dirumah neneknya yang berjualan makanan. Disitu Paulus membantu usaha sang nenek dengan mencuci piring dan menghidangkan makanan. Tidak berhenti disitu Paulus juga harus berkeliling menjual kue yang dibuat oleh sang ibu ke toko-toko dan warung makanan. Depresi karena rutinitas kehidupan dan masa depannya yang dianggap suram, Paulus sempat ingin melarikan diri dari rumahnya. Namun niatnya tersebut tidak terlaksana karena seorang pendeta yang berada didekat rumahnya menahan dan memberikan pengertian agar Paulus tidak melakukan hal nekat itu. `Lalu dia (pendeta) bujuk saya, akhirnya saya masuk lagi kedalam rumah. Lalu saya diajak berdoa, dan waktu berdoa itulah saya disadarkan Tuhan, oh iya ya saya tidak boleh seperti itu. Itulah titik balik saya,` kata Paulus. Memasuki masa kuliah, Paulus pun tetap berjuang untuk berdagang, dengan keliling menawarkan panci kepada warga sekitar. Namun kegagalan demi kegagalan terus dialaminya. Namun seorang bapak menyemangatinya dan mengajak Paulus untuk ikut berdagang dengan caranya. Ketika cara sang bapak berhasil, muncullah semangat dan Paulus untuk fokus dalam dagangannya. Kegetiran hidup yang dijalani dengan penuh semangat, kerja keras, mental baja, doa dan harapan, membuat Tuhan mengangat kehidupan Paulus usaha bisnisnya yang dirintis mulai dari nol. `Tanpa saya sadar, saya jadi salesman itu dari kecil ternyata. Door to door itu jadi bagian saya dari kecil. Baru sekarang saya lihat, baru sekarang saya bersyukur pada Tuhan, kalau saya itu punya mental baja dan nggak malu, dan itu ternyata merupakan proses dalam kehidupan saya. Saya bersyukur Tuhan memproses saya sedemikian rupa, sehingga sekarang saya tahan banting,` ungkapnya. `Sampai hari ini Tuhan Yesus tidak pernah tinggalkan saya. Dan saya ada, perusahaan ini ada, karena pertolongan Tuhan Yesus. Tanpa pertolongan Tuhan Yesus saya ini tidak punya apa-apa. Gak punya lah, apa sih yang bisa dibanggakan? Gak ada yang bisa dibanggakan. Yang bisa saya banggakan adalah Tuhan Yesus dibelakang semua ini,` tutup Paulus mensyukuri karya Tuhan Yesus dalam hidupnya.
Hoax, kata yang marak kita dengar belakangan ini. Sebenarnya apa sih hoax itu? Hoax berasal dari kata `hocus` atau `hocus pocus` yang artinya `sim salabim`. Istilah `april mop`, 1 April, juga merupakan salah satu contoh hoax. Di dunia ini hanya mengenal `hitam` & `putih`, salah & benar. Warna abu-abu ada, tapi kebenaran yang abu-abu sama sekali tidak ada. Hitam-putih menunjukkan ketegasan akan keyakinan dari kebenaran yang kita pegang. Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat. Mat 5:37. Kebenaran disini bukan berarti iman/agama/kepercayaan, tapi arti secara umum, kebenaran dari setiap apa yang kita percayai, yang terwujud dalam bentuk tutur kata & perbuatan kita secara pribadi. Sebab dari buahnya pohon itu dikenal. Mat 12:33b. Tutur kata & perbuatan kita merupakan salah satu produk buah yang kita hasilkan, yang paling nyata, yang bisa dilihat & dinilai orang. Baik-buruknya diri kita, seberapa mahal & berharga nya diri kita bukan dinilai dari seberapa mahal barang yang kita pakai, tapi dari apa yang kita hasilkan. Dari buah yang kamu hasilkan, kamu akan dikenal mereka. Setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Mat 7:16-17. Apapun yang kita share (lisan maupun tulisan - via sosmed), terutama yang bukan bersumber dari diri kita pribadi (dari internet/opini pribadi orang lain), ketika kita sudah memutuskan untuk men-share hal tersebut, artinya kita MENYETUJUI & MENGAMINI apapun kata (lisan/tulisan) yang kita share tersebut. Ketika kita akan membeli sebuah produk properti/gadget/dll., seberapapun budget nya, tentu kita tidak akan asal beli (kecuali budget tak terbatas, tanpa pikir panjang otomatis kita akan pilih yang PALING MAHAL - dengan pertimbangan bahwa yang paling mahal adalah yang terbaik kualitasnya). Kita cari tau produsen nya siapa, spesifikasi nya bagaimana, dll. Sebisa mungkin kita akan pilih yang BEST OF THE BEST. Benar kan? Padahal secara prinsip dasar, manusia tentu ingin selalu dipandang baik di mata manusia lainnya. Tapi soal informasi yang kita share, seringkali kita ASAL. Baca judul menarik, langsung share tanpa baca dulu isinya benar/tidak, tanpa cari tau sumber nya dari mana, sumber nya kredibel atau tidak. Apa jadinya kalau seorang pemimpin men-share berita hoax? Berita yang tidak teruji kebenarannya, berita yang abu-abu, apalagi berita yang jelas ngawur & tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Bukan hanya akan menjatuhkan harga diri kita sebagai pemimpin, tapi itu artinya juga kita menganggap rendah orang-orang yang kita share info/berita hoax tersebut. Berita hoax = SAMPAH, tidak berguna & justru cenderung menyesatkan, bukannya kedamaian tapi menimbulkan keresahan. Kalau berita-berita seperti itu yang kita share, artinya kita menganggap OTAK mereka = TONG SAMPAH? Karena apapun informasi yang kita terima (dengar/baca) tentu akan melewati otak kita, baik itu hanya lewat begitu saja maupun tersimpan dalam memori otak kita, benar kan? Ada yang berdalih, `menurutku konten nya bagus & bermanfaat, jadi ya aku share aja, mengenai kebenaran konten nya ya aku kurang tau ya`. Alasan seperti itu kurang bertanggung jawab. Apapun yang kita perbuat harus bisa kita pertanggungjawabkan. Kalau memang tidak yakin kebenarannya, lebih baik tidak usah share, daripada menyesatkan. Topik berita yang banyak dimanfaatkan sebagai berita hoax, antara lain berita politik, ekonomi, dan kesehatan. So, lebih selektiflah, terutama untuk topik-topik tersebut. Terutama Anda, seorang pemimpin, siapapun Anda. Gembala, rohaniwan, penatua, diaken, pengerja, pemimpin komcil, guru sekolah minggu, kepala pemerintahan (ketua RT/RW/dst.). Ataupun Anda yang hanya seorang jemaat Kristen biasa, Anda juga adalah seorang pemimpin dimanapun Anda berada (di keluarga/tempat kerja/masyarakat/dll). Ya, sadar/tidak, secara umum (kecuali secara politik), banyak orang Kristen yang `di-tua-kan` (diantara sesama kalangan masyarakat biasa), dianggap punya nilai lebih dibanding orang lain. Seorang pemimpin, mau tidak mau, tentu dianggap lebih dewasa, lebih rohani, dll. Jadi, apapun yang di share oleh Anda, seorang pemimpin, tentu akan dipercayai, dianggap benar, & akan ditelan mentah-mentah (tanpa kroscek kebenarannya dll) oleh siapapun orang yang menerima broadcast share Anda. So, untuk Anda yang setuju dengan artikel ini, sebelum broadcast/share sesuatu hal, baik secara lisan maupun tulisan, pastikan kebenarannya. 1) Tidak perlu share info/berita yang tidak jelas sumbernya. 2) Cek kebenaran sumber & isi beritanya, bila perlu cek di google, bandingkan dengan media kredibel lainnya. 3) Pilih media yang sudah dipercaya, berimbang & sudah terbukti bertahun-tahun kompeten di bidang nya. Berikut media online yang direkomendasikan (urutan tidak mempengaruhi). 01) viva.co.id 02) tempo.co 03) detik.com 04) femina.co.id 05) kompas.com 06) okezone.com 07) merdeka.com 08) liputan6.com 09) jawapos.com 10) republika.co.id 11) tribunnews.com 12) metrotvnews.com 13) sp.beritasatu.com 14) cnnindonesia.com 15) mediaindonesia.com Pastikan alamat web sesuai dengan penulisan diatas, bukan alamat yang diplesetkan. Kalau memang kita belum bisa memberitakan Injil dimanapun Tuhan tempatkan, jangan sampai justru kita menjadi pembawa/penyebar berita hoax. Yuk, sama seperti Tuhan Yesus, Sang Pembawa Kabar Baik, sudah seharusnya kita sebagai pengikutnya juga mewartakan kabar baik, mewartakan kebenaran, yang mendatangkan damai sejahtera. Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera. Yes 32:17a.
Saya tidak mempunyai pilihan lain kecuali mati atau menemukan obat untuk menyembuhkan diri saya sendiri yang saat ini menderita kanker payudara. Saya seorang ilmuwan, yang butuh penjelasan dan masuk akal tentang penyakit yang mematikan dan menyerang satu dari 12 wanita di Inggris ini. Saya telah telah menderita karena kehilangan satu payudara dan telah menjalani radioterapi. Sekarang saya menjalani kemoterapi yang menyakitkan dan saya juga telah diperiksa oleh beberapa spesialis yang paling terkemuka di negeri ini. Saya merasa maut akan menjemput saya. Tapi, saya ingin hidup karena saya mempunyai suami yang mencintai saya, rumah indah dan dua anak kecil yang memerlukan bimbingan saya. Dan, keinginan hidup ini mendorong saya untuk menggali fakta-fakta, yang baru sedikit diketahui oleh sejumlah kecil ilmuwan pada waktu itu. Setiap orang yang berhubungan dengan kanker payudara akan tahu bahwa beberapa faktor penyebab atau resiko dari penyakit ini antara laini usia tua, mens terlalu dini, menopause terlambat dan sejarah keluarga dengan kanker payudara, sungguh-sungguh tidak dapat kita cegah. Tetapi ada banyak faktor resiko lainnya yang dapat kita kontrol dengan baik. Faktor-faktor resiko yang terkontrol ini dengan mudah terwujud dalam perubahan-perubahan sederhana yang dapat kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari kita untuk mencegah atau mengobati kanker payudara. Petunjuk pertama dalam memahami penyebab berkembangnya kanker payudara saya datang pada saat suami saya Peter, yang juga ilmuwan, pulang ke tanah air setelah bekerja di China, ketika saya sedang menjalani pengobatan kemoterapi. Ia membawa kartu-kartu dan surat-surat, serta beberapa ramuan dari tumbuh-tumbuhan, yang diberikan oleh teman-teman dan ilmuwan-ilmuwan mitra saya di China. Ramuan-ramuan itu dikirimkan kepada saya untuk menyembuhkan kanker payudara ini. Meskipun kami menghadapi keadaan yang menyedihkan pada saat itu, kami dapat tertawa lepas, dan saya ingat telah mencetuskan perkataan bahwa ramuan ini merupakan pengobatan bagi kanker payudara di China, dan tidak mengherankan bahwa wanita-wanita di China berusaha terhindar dari penyakit ini. Kata-kata itu selalu teringat di benak saya. Mengapa wanita-wanita di China tidak terkena kanker payudara? Saya pernah bekerja sama dengan mitra-mitra China dalam penelitian tentang hubungan antara kimia tanah dan penyakit, dan mengingat beberapa statistik yang telah dibuat. Faktor Gaya Hidup Penyakit ini boleh dikatakan tidak terdapat di seluruh negeri China. Hanya 10.000 wanita di China wafat karena penyakit ini, dibandingkan dengan persentase menakutkan bahwa satu di antara 12 wanita di Inggris meninggal dunia karena penyakit ini. Bahkan angka ini lebih mengerikan lagi dan menjadi rata-rata satu di antara 10 wanita di sebagian besar negara-negara Barat. Hal ini bukanlah karena China merupakan negeri yang lebih bersifat pedesaan, dan tidak banyak terkena polusi perkotaan. Di daerah Hong Kong yang padat, persentase meningkat menjadi 34 di antara 10.000 wanita, namun toh masih jauh lebih sedikit daripada di Barat. Kota-kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang juga memiliki persentase yang hampir sama dengan China. Padahal kedua kota ini telah diserang dengan senjata nuklir, sehingga selain kanker yang berhubungan dengan polusi, kita dapat memperkirakan adanya kasus-kasus kanker yang terkait dengan radiasi. Kesimpulan yang dapat kita peroleh dari statistik ini sungguh mengejutkan. Apabila seorang wanita Barat pindah ke kota industri Hiroshima yang terkena radiasi, resiko terkena kanker payudara ini dapat menjadi satu berbanding dua. Tentu saja hal ini tidak masuk akal. Saya merasa yakin bahwa ada sebuah faktor gaya hidup yang bukan terkait dengan polusi, urbanisasi atau lingkungan hidup yang nyata-nyata telah meningkatkan kemungkinan wanita Barat terkena kanker payudara. Saya kemudian menemukan bahwa penyebab perbedaan besar dalam persentase kanker payudara antara negara-negara Timur dan Barat bukanlah karena faktor genetika. Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa apabila orang China atau Jepang pindah ke Barat, dalam satu atau dua generasi persentase kanker payudara mereka mendekati persentase dari penduduk negara di mana mereka tinggal. Hal yang sama terjadi apabila orang-orang Timur sepenuhnya meniru gaya hidup Barat di Hong Kong. Sesungguhnya, nama populer yang disebutkan orang di China bagi kanker payudara adalah Penyakit Wanita Kaya. Ini disebabkan bahwa di China, hanya orang-orang kaya yang dapat menikmati apa yang disebut sebagai Makanan Hong Kong. Orang-orang China menggambarkan semua makanan Barat, termasuk semua kudapan dari es krim dan coklat sampai spaghetti dan keju, sebagai Makanan Hong Kong karena hanya terdapat di bekas koloni Inggris dan dulu jarang ada di daratan China. Jadi sungguh masuk akal bagi saya bahwa apa yang menyebabkan kanker payudara saya ini dan banyaknya penderita penyakit tersebut di negara saya hampir dipastikan berasal dari sesuatu yang berhubungan dengan gaya hidup Barat kita, dari kalangan menengah yang lebih baik. Angka ini juga besar bagi para pria di sini. Saya telah mengamati dalam penelitian saya bahwa banyak data tentang kanker prostat juga sampai pada kesimpulan yang sama. Tidak Mengkonsumsi Produk Susu Menurut angka dari WHO, jumlah pria yang terkena kanker prostat di China pedesaan hampir tidak ada, hanya 0,5 pria di antara 100.000. Namun demikian di Inggris, Skotlandia dan Wales, angka ini 70 kali lebih tinggi. Seperti kanker payudara, penyakit ini merupakan penyakit kalangan menengah dan terutama menyerang kelompok-kelompok sosial yang lebih kaya dan mempunyai kehidupan sosial-ekonomi yang lebih tinggi, yaitu mereka yang dapat menikmati makanan yang bergizi tinggi. Saya teringat berkata kepada suami saya, Ayo Peter, kamu baru saja pulang dari China. Apa sih gaya hidup China yang sangat berbeda dengan kita? Mengapa mereka tidak terkena kanker payudara? Kami memutuskan untuk menggunakan latar belakang ilmu kami bersama-sama dan melakukan pendekatan dengan logika. Kami memeriksa data ilmiah yang mengarahkan kami pada kandungan lemak dalam makanan. Para peneliti pada tahun 1980-an telah menemukan bahwa hanya 14% kalori di hidangan China terdiri atas lemak, dibandingkan dengan hampir 36% di Barat. Tetapi makanan yang telah saya makan selama bertahun-tahun sebelum terkena kanker payudara ini sangat rendah lemak dan berserat tinggi. Selain itu, sebagai ilmuwan saya tahu bahwa asupan lemak pada orang dewasa tidak menunjukkan peningkatan resiko kanker payudara dalam sebagian besar investigasi yang telah dilakukan pada kelompok-kelompok besar wanita selama dua belas tahun. Lalu pada suatu hari sesuatu yang agak istimewa terjadi. Peter dan saya telah bekerja sama begitu erat selama bertahun-tahun lamanya sehingga saya tidak yakin siapa di antara kami berdua yang berkata terlebih dahulu: Orang-orang China tidak makan produk dari susu! Sulit untuk menjelaskan kepada orang yang bukan ilmuwan terjadinya dentingan pikiran dan perasaan yang mendadak ketika menyadari bahwa pikiran kita terbuka pada sesuatu hal yang penting. Rasanya seperti ada banyak potongan gambar di dalam otak kita dan tiba-tiba, dalam beberapa detik, semua teka-teki ini terangkai dengan baik sehingga membentuk gambar yang jelas. Tiba-tiba saya teringat kembali betapa banyak orang China yang tidak dapat mencernakan susu dengan baik, betapa orang-orang China yang bekerja dengan saya selalu berkata bahwa susu hanya untuk bayi, dan bagaimana salah seorang sahabat karib saya, yang keturunan China, dengan sopan selalu menolak keju pada saat jamuan malam. Saya tahu bahwa tak ada orang China yang hidup secara tradisional, yang menggunakan susu sapi atau produk dari susu untuk memberi makan kepada bayinya. Dalam adat istiadat mereka, mereka menggunakan inang untuk menyusui tetapi tidak pernah produk dari susu. Dan, secara budaya, orang-orang China menganggap gaya Barat kita yang sangat menyukai susu dan produk dari susu sebagai sesuatu yang sangat aneh. Saya teringat ketika menjamu sebuah delegasi besar ilmuwan China tidak lama setelah berakhirnya Revolusi Budaya di China pada tahun 1980-an. Atas nasihat Biro Luar Negeri, kami telah meminta kepada perusahaan jasa boga untuk menyediakan puding yang mengandung banyak es krim. Setelah menanyakan dari apa puding itu dibuat, semua ilmuwan China itu, termasuk interpreter, dengan sopan namun tegas menolak untuk memakannya, dan mereka tidak dapat dibujuk untuk mengubah pikiran mereka. Pada waktu itu kami semua senang dan menikmati porsi tambahan! Saya menemukan bahwa susu adalah salah satu penyebab umum alergi makanan. Sekitar 70% penduduk dunia tidak dapat mencernakan gula susu, Laktosa, sehingga para ahli gizi berpendapat bahwa kondisi ini normal bagi orang dewasa, dan bukan merupakan sebuah Deficiency (kekurangan). Mungkin alam berusaha mengatakan kepada kita bahwa kita telah mengkonsumsi makanan yang salah. Menghentikan Produk Susu Sebelum saya terkena kanker payudara untuk pertama kali, saya telah makan banyak produk dari susu, seperti susu tanpa lemak, keju rendah lemak dan yoghurt. Saya menggunakannya sebagai sumber protein saya yang utama. Saya juga makan daging cincang sapi yang tidak berlemak, yang sekarang baru saya sadari mungkin sering berasal dari sapi perah. Agar dapat mengatasi kemoterapi untuk tonjolan kanker saya yang kelima ini, saya telah makan yoghurt organik agar alat-alat pencernaan saya dapat pulih kembali dan mengembalikan bakteri-bakteri yang baik ke dalam usus saya. Baru-baru ini, saya menemukan bahwa pada tahun 1989 yang lalu, yoghurt telah terlibat dalam kanker ovarium (indung telur). Dr. Daniel Cramer dari University of Harvard telah meneliti ratusan wanita penderita kanker indung telur dan telah mencatat dengan rinci apa yang biasa mereka makan. Coba saya tahu tentang hal ini ketika ia pertama kali menemukannya. Mengikuti nasihat Peter dan pendapat saya tentang makanan China, saya memutuskan untuk tidak saja menghentikan yoghurt tetapi semua produk dari susu, saat ini juga. Keju, mentega dan yoghurt serta semua makanan yang mengandung susu saya buang ke sampah. Betapa mengherankan bahwa begitu banyak produk termasuk sup buatan, biskuit dan kue mengandung susu. Bahkan banyak merk margarin yang dijual dengan bahan dari minyak kedelai, minyak bunga matahari atau minyak zaitun dapat mengandung produk susu. Oleh karena itu saya kemudian membaca semua kandungan yang tercetak di label-label makanan. Sampai saat itu, saya setia mengukur perkembangan tonjolan kanker saya yang kelima ini dengan alat pengukur dan mencatat hasilnya. Meskipun para dokter dan suster banyak memberi semangat dan berkata positif kepada saya, pengamatan saya sendiri mengungkapkan kenyataan yang pahit. Seri kemoterapi saya yang pertama untuk tonjolan kelima ini tidak berhasil tonjolan itu tetap sama. Kemudian saya menghapuskan produk-produk dari susu. Beberapa hari kemudian tonjolan itu mulai mengecil. Sekitar dua minggu setelah seri kemoterapi saya yang kedua dan seminggu setelah tidak mengkonsumsi produk dari susu, tonjolan di leher saya mulai terasa gatal. Kemudian tonjolan itu melunak dan mengecil. Garis di alat pengukur, yang tadinya tidak menunjukkan perubahan, sekarang menunjuk ke bawah setelah tumor itu menjadi kecil dan mengecil lagi. Dan secara signifikan, saya mencatat bahwa daripada menurun secara perlahan-lahan (membentuk curve yang halus) seperti biasanya terjadi pada kanker, tumor yang mengecil ini digambarkan seperti garis lurus yang menuju ke bagian bawah alat pengukur, yang menggambarkan penyembuhan, bukan pembasmian (atau pengurangan) tumor. Tonjolan Menghilang Pada hari Sabtu siang sekitar enam minggu setelah tidak mengkonsumsi produk-produk susu ini, saya melakukan meditasi selama sejam kemudian meraba apa yang yang masih tersisa dari tonjolan saya. Saya tidak menemukannya lagi. Padahal saya sangat berpengalaman dalam mendeteksi tonjolan kanker, karena saya menemukan kelima tonjolan kanker saja itu sendiri. Saya turun ke tingkat bawah rumah dan meminta suami saya meraba leher saya. Ia pun tidak menemukan tonjolan apapun juga. Hari Kamis berikutnya saya harus memeriksakan diri saya pada dokter spesialis kanker saya di Cross Hospital London. Ia memeriksa saya dengan teliti, terutama leher saya di mana sebelumnya ada tumor. Tadinya ia tercengang dan kemudian gembira ketika berkata, Saya tidak menemukannya. Ternyata tidak seorangpun dari dokter-dokter saya yang memperkirakan bahwa seseorang dengan jenis dan stadium kanker saya (yang jelas-jelas sudah menyebar ke sistem getah bening) dapat bertahan hidup, apalagi begitu sehat dan gembira. Dokter spesialis saya merasa sangat bahagia seperti saya. Tadinya ketika saya membicarakan gagasan saya dengannya, ia dapat memahami tetapi bersikap skeptis. Tetapi saya tahu bahwa sekarang ia menggunakan peta yang menunjukkan persentase kanker di China di dalam kuliah-kuliah yang diberikannya, dan menganjurkan makanan tanpa produk susu bagi pasien-pasien penderita kanker. Saya sekarang meyakini adanya kesamaan dalam pertalian antara produk dari susu dan kanker payudara dengan merokok dan kanker paru-paru. Saya percaya bahwa dengan mengidentifikasi pertalian antara kanker payudara dan produk susu dan kemudian mengembangkan makanan yang khusus ditujukan untuk mempertahankan kesehatan dari payudara dan sistem hormon saya, telah menyembuhkan saya. Sangat sulit bagi saya, dan mungkin juga bagi anda, untuk menerima bahwa sebuah zat yang begitu alami seperti susu dapat berdampak begitu mencelakakan bagi kesehatan. Tetapi saya merupakan bukti hidup bahwa hal itu benar-benar terjadi dan mulai besok saya akan mengungkapkan rahasia kegiatan saya yang mengubah semuanya ini. Dikutip dari buku: Your Life in Your Hands (Prof. Jane Plant, Ph.D, CBE.) Marilah kita bagikan informasi penting ini kepada semua keluarga, sahabat & kerabat yg kita kasihi. Tetap sehat, tetap semangat, agar makin bisa jadi berkat! Tuhan Yesus memberkati.
BARCODE BBM CHANNELS
ARTIKEL & KESAKSIAN
Jadwal Ibadah Minggu
24 Juni 2018
Kebaktian I - Pk.06:00 WIB
Pdt. Andreas Arie HS.
Kebaktian II - Pk.09:00 WIB
Pdt. Andreas Arie HS.
Kebaktian III - Pk.17:00 WIB
Pdt. Andreas Arie HS.
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang