SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 27 Mei 2018   -HARI INI-
  Sabtu, 26 Mei 2018
  Jumat, 25 Mei 2018
  Kamis, 24 Mei 2018
  Rabu, 23 Mei 2018
  Selasa, 22 Mei 2018
  Senin, 21 Mei 2018
POKOK RENUNGAN
Hendaklah perkataanmu jangan hambar.
DITULIS OLEH
Pdt. Antonius Yulianto
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Menjadi Berkat !
Hidup Menjadi Berkat !
Kamis, 16 November 2017
Hidup Menjadi Berkat !
Ibrani 13:15
Seorang nenek begitu setia beribadah kepada Tuhan di usianya yang semakin bertambah. Demikian juga sang nenek terus berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan melalui ibadah sekalipun keadaan hujan atau panas. Bahkan tubuh tuanya yang seringkali mengalami sakit, tidakmembuatnya melupakan setiap hari minggu untuk tetap beribadah kepada Tuhan. Sang nenek berpikir bahwa dengan beribadah, ia sedang bertemu dengan Tuhannya. Tetangga yang melihat kehidupannya begitu tertarik dengan apa yang dilakukannya .Sampai suatu saat, tetangga nenek yang awalnya tidak mempercayai Yesus sebagai Tuhan dan Juru selamat, akhirnya menjadi percaya karena melihat kehidupannya.

Seringkali kita berpikir kalau menjadi berkat berarti kita harus mengeluarkan rupiah dari dompet kita. Tidak salah memang, namun melalui kehidupan ini kita bisa menjadi berkat bagi banyak orang seperti contoh kisah nenek di atas, termasuk juga melalui bibir kita menjadi berkat bagi banyak orang.

Penulis surat Ibrani mengingatkan supaya kita mempunyai ucapan bibir yang memuliakan Allah. Tentu orang yang mendengar perkataan kita akan memuji-muji dan memuliakan Allah karena kebaikkan-Nya. Contohnya, Paulus dan Silas sekal...selengkapnya »
Ada seorang yang hidupnya berputus asa karena bekerja cukup lama namun tidak menghasilkan keuntungan dalam hidupnya. Akhirnya dia berkonsultasi dengan seorang yang sukses berjualan nasi kucing. Setelah itu dia meminjam modal dan mulai usaha berjualan nasi kucing sebagaimana dia belajar dari penjual nasi kucing. Akhirnya dia berhasil dan kehidupannya berubah sama sekali. Tiap hari ada rasa sukacita meskipun capek kerjanya tiap sore sampai malam hari kecuali minggu dia libur. Namun kerja keras dan kemauan untuk berubah dari kehidupannya merupakan motivasi yang penting untuk keberhasilannya saat ini. Peristiwa ini mengingatkan cerita Rasul Petrus dan para murid yang mengalami putus asa. Kisah Para Rasul 3 mencatat tentang perubahan hidup yang dialami para murid Tuhan Yesus setelah mereka mengalami lawatan Allah melalui Roh Kudus. Petrus salah satu murid Tuhan Yesus yang kisah hidupnya dicatat dalam Kisah Para Rasul 3. Apa yang dapat kita pelajari dari kehidupan Rasul Petrus berkaitan dengan lawatan kuasa Allah yang dialaminya. Pertama, Petrus itu penakut dan penyangkal Tuhan Yesus [Yoh 18:12-27]. Ketika Tuhan Yesus di tangkap dan diadili, Petrus mengalami ketakutan dan menyangkal ketika ditanya oleh seseorang bahwa dirinya merupakan orang yang dekat dan kenal dengan Tuhan Yesus. Kedua, Kepercayaan Petrus dipulihkan oleh Tuhan Yesus [Yoh 21:1-19]. Ketika Tuhan Yesus bangkit dari kematian, di danau Tiberias Tuhan Yesus memulihkan kepercayaan diri Petrus terhadap Dia. Dan Tuhan Yesus kembali memanggil Petrus untuk melayani sebagai saksi-Nya dan gembala jemaat. Ketiga, Petrus berani bersaksi tentang Tuhan Yesus [KPR 3:11-26]. Petrus berani bersaksi dan membela diri, bahwa mujizat yang dilakukannya terhadap orang lumpuh di pintu gerbang Bait Allah karena Tuhan Yesus yang pernah mereka salibkan di Golgota namun bangkit pada hari ketiga dari kematian. Keberanian Petrus bersaksi tentang Tuhan Yesus merupakan pekerjaan Roh Kudus yang telah berdiam di dalam hidupnya. Hidup Petrus sekarang diubahkan dari seorang penakut untuk bersaksi menjadi seorang pemberani dalam bersaksi tentang Kristus. Hanya Roh Kuduslah yang sanggup mengubah kehidupan Petrus sedemikian rupa berbeda dari yang sebelumnya. Demikian pula dengan kehidupan kita di zaman ini sebagai murid dan saksi Tuhan Yesus di dunia. Bila Roh Kudus memenuhi hidup kita dan melawat hidup kita maka, kita akan seperti Petrus menjadi orang yang berani bersaksi tentang Kristus dan bisa melakukan mujizat melalui doa kita kepada orang sakit.
Efek Pentakosta Kisah Para Rasul 2:1-4 [1] Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. [2] Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; [3] dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. [4] Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, Andaikan kita hadir dalam peristiwa tercurahnya Roh Kudus untuk pertama kali ke atas para murid, kita akan merasakan betapa sukacitanya para murid itu. Padahal sebelumnya mereka dicekam oleh rasa takut. Mereka takut kepada orang-orang Yahudi yang berusaha untuk membinasakan mereka. Tetapi ketika Roh Kudus dicurahkan dan memenuhi mereka, mereka menjadi tidak takut, bahkan mereka dengan berani memberi kesaksian tentang Yesus Kristus yang telah bangkit dari kematian. Inilah salah satu efek Pentakosta. Murid Kristus yang tadinya takut menjadi berani. Firman Tuhan berkata: ’Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.’ [1 Timotius 1:7]. Juga dikatakan oleh Firman Tuhan, ’Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia.’ [1 Yohanes 4:4]. Hari ini kita merayakan hari Pentakosta. Kita memperingati saat Roh Kudus dicurahkan untuk pertama kali ke atas para murid. Hari Pentakosta tahun ini kita rayakan di tengah situasi terganggunya keamanan di negeri kita. Serentetan peristiwa teror kembali terjadi di negeri kita. Situasi ini membuat kita tidak merasa tenang. Dan bagi beberapa orang keadaan ini membuat mereka merasa takut. Keadaan yang dialami para murid Yesus pada waktu itu juga membuat mereka takut. Tetapi setelah Roh Kudus turun ke atas mereka dan mereka dipenuhi oleh Roh Kudus, mereka menang atas rasa takut itu. Mereka dengan berani bersaksi bahwa Yesus adalah Mesias dan Tuhan. Pengalaman dengan Roh Kudus bukan hanya cerita pada masa lampau, tetapi merupakan kenyataan untuk kita alami sekarang ini. Justru dalam situasi yang tidak membuat tenang ini kita bisa merasakan kehadiran Roh Kudus di dalam hidup kita yang membuat kita menang atas rasa takut. Tuhan memberkati kita semua. Selamat menyambut pengalaman yang baru dengan Roh Kudus. Pdt. Goenawan Susanto
Yesus sudah bangkit dari kematian, saatnya Dia berbuat sesuatu yaitu membuktikan bahwa diri-Nya benar-benar hidup kepada murid-murid-Nya. Selama empat puluh hari Yesus yang bangkit itu berulang-ulang menampakkan diri-Nya kepada murid-murid-Nya. Yesus yang bangkit pertama-tama menampakkan diri-Nya kepada murid-murid-Nya, yang adalah para rasul dan juga kepada setidaknya lima ratus orang lebih [bnd. 1 Kor 15:5-8]. Pembuktian bahwa diri-Nya bangkit adalah sangat penting karena kebangkitan adalah tonggak bagi gereja mula-mula untuk melangkah lebih lanjut. Muncul pertanyaan: “mengapa Yesus yang bangkit tidak menampakkan diri, sebagai pembuktian bahwa diri-Nya hidup sebagai anak Allah, kepada pemimpin-pemimpin agama Yahudi sebagai pelopor eksekusi penyaliban?” Memang kita tidak tahu alasannya, hanya Yesus saja yang tahu, namun setidaknya kita bisa mengatakan bahwa dengan menampakkan diri-Nya kepada para murid maka Yesus ingin melakukan yang terpenting pasca kebangkitan. Pembuktian kepada para “musuh-Nya” mungkin itu tidak penting bagi Yesus. Yesus ingin tindakan nyata dan segera fokus kepada pemberitaan Kerajaan Allah melalui para murid-murid-Nya. Yesus ingin segera kembali kepada murid-murid-Nya yang selama kurang lebih 3 tahun dibina untuk “mengambil alih” dan melanjutkan misi Allah sebelum Yesus naik ke Surga. Hanya murid-murid sajalah yang layak melanjutkan misi Allah menyelamatkan manusia berdosa di dalam nama Yesus Kristus. Oleh sebab itu Dia memberi kuasa sebagai kelengkapan pekabaran Injil Kerajaan Allah. Saudara-saudara, jikalau kita adalah bagian dari bilangan anggota tubuh Kristus maka kita juga mendapatkan kepercayaan untuk menjalankan misi Allah di dalam nama Tuhan Yesus. Mengapa Yesus selama di dunia harus memanggil para murid? Karena Yesus tidak selamanya di dunia ini sebagai manusia. Yesus ingin berita keselamatan harus terus-menerus disampaikan kepada semua bangsa sampai kapan pun selama masih ada kehidupan keturunan manusia di bumi ini. Maka murid-murid Yesus [gereja] yang harus melanjutkan misi agung ini. Namun sebelum kita bersungguh-sungguh melaksanakan kesaksian dan penginjilan kita perlu menenangkan hati, menunggu perintah bahwa janji Bapa dicurahkan, yaitu kepenuhan Roh Kudus. Mengapa demikian? Karena hanya dengan pimpinan kuasa Roh Kudus kita dimampukan melakukan tugas yang mustahil bagi manusa. Intinya menjalankan misi Allah, memberitakan Injil tidak dengan kekuatan sendiri tetapi dengan kuasa Allah Roh Kudus, dan kalau kita bersedia maka Dia akan membimbing kita dan memberi kemampuan.Amin.
Hari ini tibalah saat yang ditunggu-tunggu. Benay akan segera meninggalkan Iraq untuk kembali ke tanah air. Ada sukacita dirasakannya karena tidak lama lagi ia akan berjumpa dengan paman dan keluarganya, dengan Pdt. Itong, Mbah Wanidy, dan tentu saja Sambey, sahabatnya, yang sudah lama ia rindukan. Namun ada pula kesedihan. Sembari menatap jauh ke arah horizon negeri 1001 malam itu, Benay menangis tersedu. Hatinya hancur melihat negeri-negeri Arabia yang terus dilanda konflik. Kapankah akan tercipta kedamaian dimana orangtua dapat bekerja dengan aman dan membangun keluarga yang bahagia? Bilamanakah anak-anak dapat bersekolah dan bermain dengan ceria tanpa rasa takut lagi? Bilamanakah umat beragama yang berbeda dapat hidup berdampingan tanpa kebencian? Rasanya hampir mustahil harapan-harapan itu dapat terwujud. Mengingat kepentingan-kepentingan ambisius dari berbagai negara yang tidak berorientasi pada keadilan oleh semua dan bagi semua. Padahal keadilan itu bagaikan tanah untuk tumbuh suburnya pohon keadilan. “Aaahh mungkin hanya Tuhan yang mampu membuat negeri-negeri ini berkeadilan dan damai”, gumam Benay sambil mengusap air matanya. Jemaat yang dikasihi Tuhan. Keadilan adalah terjemahan dari kata tsedaqah dalam bahasa Ibrani. Kata tsedaqah juga bisa diterjemahkan sebagai kebenaran. Dan keadilan/kebenaran adalah kata yang penting dalam Alkitab kita. Sebab keadilan/kebenaran adalah dasar dari terciptanya kondisi damai sejahtera [32:17]. Dengan kata lain, damai sejahtera tanpa didahului oleh adanya keadilan/kebenaran adalah damai sejahtera yang palsu [32:9-14]. Sebagaimana tampak dari kondisi umat Yehuda yang mendambakan kedamaian tetapi tak kunjung mereka alami. Mengapa itu terjadi? Sebab mereka berlaku tidak adil dan tidak benar di hadapan Tuhan dan sesamanya. Tangan mereka berbuat jahat, mulut mereka berdusta, lidah mereka melakukan kecurangan dan fitnah, berbuat tidak adil pada orang lain, bertindak lalim dan kejam [59:2-7]. Akibatnya kedamaian menjauh dari mereka dan tangan Tuhan tak kunjung menolong mereka. Jemaat yang terkasih. Kita tentu mendambakan damai sejahtera tercipta dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan dan negara kita. Oleh sebab itu marilah kita berupaya berbuat adil dan benar sesuai dengan kehendak Tuhan. Baik dalam relasi kita dengan Tuhan maupun dengan sesama yang adalah anggota keluarga kita, rekan-rekan sepekerjaan, sepelayanan dan saudara sebangsa setanah air kita. Dan apabila kita melihat atau menjadi korban ketidakadilan yang dilakukan orang lain, tegurlah ia namun janganlah sampai membalas dengan berlaku tidak adil kepadanya. Semoga dengan berbuat demikian kita dapat mengalami dan merasakan damai sejahtera yang sejati yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Selamat berbuat adil dan benar. Terpujilah Tuhan!
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Pembawa Terang Yang Takut Pada Kegelapan
14 Mei '18
Ketika Lawatan Allah Terjadi
13 Mei '18
Gagal Dan Berhasil
25 Mei '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang