SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 21 Januari 2018   -HARI INI-
  Sabtu, 20 Januari 2018
  Jumat, 19 Januari 2018
  Kamis, 18 Januari 2018
  Rabu, 17 Januari 2018
  Selasa, 16 Januari 2018
  Senin, 15 Januari 2018
POKOK RENUNGAN
Dengan banyak masalah, kita akan menjadi orang yang memiliki iman yang kuat. Tanpa masalah, kita hanya akan menjadi orang yang manja dan memiliki akar iman yang rapuh. TUHAN MEMAMPUKAN.
DITULIS OLEH
Bp. Widodo Gunawan
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Kekuatan Di Balik Masalah
Kekuatan Di Balik Masalah
Sabtu, 11 November 2017
Kekuatan Di Balik Masalah
Yakobus 1:12

Seorang tukang kebun mencoba mengadakan penelitian sederhana. Ia menanam dua tanaman yang sama pada lahan yang sama. Tanaman pertama disirami secara rutin tiap pagi dan sore, sedangkan tanaman kedua disirami dua hari sekali. Ketika tanaman itu bertumbuh cukup besar, tiba waktunya untuk menguji kekuatan akar tanaman tersebut. Perbedaannya cukup mencolok; dibutuhkan waktu kurang dari dua menit untuk mencabut akar dari tanaman pertama. Tanaman kedua, dibutuhkan waktu lebih lama, yaitu empat menit untuk bisa mencabutnya!

Mengapa hal itu bisa terjadi? Tanaman pertama dimanjakan dengan air yang ia dapat dengan mudah, sehingga akarnya tidak berusaha mencari air ke tanah yang lebih dalam. Tanaman kedua karena mendapat air yang lebih sedikit, maka mau tidak mau akarnya mencari ke sumber air, sehingga didapati akarnya jauh lebih kuat karena masuk lebih dalam ke tanah.

Saudara-saudara, cara TUHAN mendidik kita tak jauh beda dengan ilustrasi tersebut. Bayangkanlah, jika TUHAN m...selengkapnya »
Ungkapan ini tepat sekali dikenakan pada Tuhan Yesus. Dia peduli kepada manusia yang telah jatuh dalam dosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Manusia yang terhilang tanpa pengharapan ditemukan kembali oleh Penciptanya, untuk mewarisi Kerajaan-Nya. Kita sebagai umat tebusan-Nya harus menjadikan ungkapan ini tidak sekedar slogan saja, tetapi suatu tema kehidupan yang di praktikkan. Tuhan Yesus datang bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani, bukan untuk dipedulikan tapi mempedulikan [Matius 20:27-28]. Sesungguhnya untuk mengaplikasikan ungkapan ini secara benar, diperlukan pertaruhan yang sangat mahal, yaitu segenap hidup kita. Kepedulian terhadap sesama harus lahir dari kerelaan memberi diri, dan hanya kita sendiri yang bisa menggairahkannya sesuai dengan kehendak bebas yang sudah Tuhan karuniakan. Dalam kisah orang Samaria yang baik hati, kepedulian yang dimiliki oleh orang Samaria lahir dari kesadaran diri yang murni/tulus, suatu kepedulian tanpa pamrih [Lukas 10:30-37]. Imam dan Lewi dalam kisah tersebut tentuya sudah memahami tentang kepedulian terhadap sesama, tetapi mereka tidak memiliki hati untuk orang lain. Kepedulian terhadap sesama adalah respon kita terhadap keselamatan yang Tuhan anugerahkan kepada kita, kesadaran untuk membalas kebaikan Tuhan. Bila kita sudah ditebus dengan harga yang begitu mahal dan dilepaskan dari api kekal, seharusnya sudah cukup mendorong kita untuk membalas kebaikan Tuhan. Namun bila kita mempunyai pola pikir bahwa hidup untuk mencari keuntungan dan kesenangan duniawi, pasti tidak akan mengerti hal kepedulian ini. 1. Tuhan Yesus telah memberi teladan kepedulian ini [Lukas 9:11], dengan ciri-ciri: Kepedulian dilandasi oleh kasih, bukan upah. Seperti yang diperagakan oleh rasul Paulus ketika dia berkata, “Upahku adalah kalau aku boleh melayani tanpa upah” [1 Korintus 9:18]. 2. Semua bentuk kepedulian harus mengarah kepada keselamatan dalam Tuhan Yesus. Bukan sekedar untuk membantu memenuhi kebutuhan jasmani, bukan untuk kepentingan sesuatu atau seseorang. Bukan sekedar membuat jemaat menjadi anggota gereja yang rajin datang ke gereja, tetapi benar-benar bisa mengubah mereka menjadi sempurna seperti Bapa, berkepribadian Anak Allah yang layak menjadi mempelai Tuhan yang tak bercacat di hadapan Tuhan.
Suprapto nampak bersedih hati dan rasa putus asa dalam hidupnya karena menderita sakit paru-paru. Penyebabnya mengkonsumsi rokok secara berlebihan. Suatu saat Yanto sahabat dekatnya datang mengunjungi dan mendoakan dia. Oleh Yanto, mas Suprapto diperkenalkan kepada Tuhan Yesus. Suprapto mau menerima Tuhan Yesus dalam hidupnya dan mau di doakan oleh Yanto. Selesai didoakan mohon kesembuhan dan pengampunan dosa, hidup Suprapto berubah merasa damai sejahtera. Dia mulai mempunyai pengharapan untuk di sembuhkan oleh Tuhan Yesus. Rasa sedih hatinya berganti dengan sukacita dan rasa putusasanya digantikan dengan damai sejahtera. Tema Gereja kita tahun 2018 adalah “ LAKUKAN YANG TERBAIK BUAT KESELAMATAN JIWA–JIWA”. Jika kita ingin memiliki kehidupan seperti mas Yanto yang memiliki kerinduan untuk memenangkan jiwa-jiwa berdosa bagi Tuhan Yesus, maka kita harus memiliki hati Tuhan Yesus. Tanpa kita memiliki hati Tuhan Yesus dan menghidupi hati Tuhan Yesus, mustahil kita bisa menjadi pemenang-pemenang bagi jiwa- jiwa yang berdosa. Pertama, hati Tuhan Yesus yang rindu membuat orang berdosa bertobat [Luk 5 : 32]. Lihatlah waktu Tuhan Yesus diperhadapkan dengan perempuan yang kedapatan berbuat zinah yang seharusnya dihukum mati dengan dilempari batu. Tuhan Yesus tidak menghakimi perempuan tersebut tetapi memberi pengampuan dan menyelamatkan perempuan tersebut dari maut. Tuhan Yesus mengharapkan perempuan tersebut berhenti berbuat dosa dan hidup sesuai dengan kebenaran Allah. Kedua, hati Tuhan Yesus yang rindu mencari dan menyelamatkan yang terhilang [Luk 19:10]. Lihatlah bagaimana Tuhan Yesus memanggil dan menyelamatkan si Zakheus seorang pemunggut cukai yang sangat dibenci oleh masyarakat karena pekerjaannya. Tuhan Yesus mau duduk makan dan mampir ke rumah Zakheus demi menyelamatkan dia yang terhilang dari hadapan Allah karena sibuk cari duit untuk keuntungan dirinya sendiri. Ketiga, hati Tuhan Yesus yang berbelas kasihan [Markus 1:41 ; 6:34]. Lihat bagaimana Tuhan Yesus berbelas kasihan melihat orang lumpuh yang selama 38 tahun menantikan kesembuhan di pinggir kolam Betesdha. Padahal disekeliling pinggir kolam tersebut banyak sekali orang yang sakit menantikan kesembuhan. Namun perhatian dan belas kasihan Tuhan Yesus tertuju kepada orang yang lumpuh itu. Tuhan Yesus mengetahui bahwa dia sudah 38 tahun dalam keadaan seperti itu. Kalau kita memiliki hati seperti Tuhan Yesus, pasti akan banyak jiwa – jiwa orang berdosa, orang yang terhilang dan orang yang menderita sakit akan tertolong, akan terlayani melalui kehidupan kita sepanjang tahun 2018. Sehingga apa yang menjadi tema Gereja kita tahun ini jadi kenyataan.
Bangsa Indonesia akan menjalani “tahun yang sibuk” di sepanjang tahun ini hingga tahun 2019 nanti. Indonesia akan menyelenggatakan “hajatan politik dan pesta demokrasi” besar. Paling tidak hingga tahun depan, yaitu pemilihan kepala daerah secara serentak di beberapa daerah di tahun 2018. Dan pemilihan legislatif dan pemilihan Presiden di tahun 2019. Jika kita berbicara tentang “hajatan politik”, maka ada fenomena yang selalu menyertainya. Apa itu? Politikus dadakan mulai bermunculan. Mulai dari hanya sekedar menjadi pengamat dan memprediksi perkembangan politik, hingga merapatkan diri ke parpol untuk dapat tampil menjadi politikus yang layak untuk maju dalam pemilihan. Kita semua tidak tahu, apakah semuanya itu dilandasi dengan sebuah motivasi yang benar atau hanya sekedar ingin tenar. Fenomena di atas seolah-olah juga mewabah hingga ke gereja. Tidak sedikit kita melihat fenomena, orang-orang yang “katanya” ingin terjun dalam hal kerohanian karena panggilan Tuhan. Mulai dari menjadi pelayan mimbar, menjadi hamba Tuhan ataupun menjadi pemberita Injil, namun ujung-ujungnya ternyata hanya untuk popularitas dan kenyamanan diri. Semuanya itu akan teruji dengan waktu apakah motivasi yang dibawa adalah benar, atau hanya sekedar kamuflase kebohongan belaka. Sebagai utusan Allah yang dipercaya untuk memberitakan Injil, Rasul Paulus menyampaikan pengajaran dengan motivasi yang benar. Pengajaran yang disampaikannya bukan untuk menyenangkan hati manusia, melainkan menyenangkan hati Allah. Paulus tidak mengajar dengan perkataan yang manis. Paulus juga tidak mengajar untuk mendapatkan uang atau mencari pujian dari manusia. Paulus memberitakan Injil dan menjalankan panggilan pelayanan-Nya semua dengan motivasi yang benar dan bukan untuk keuntungan diri semata. Namun sayangnya, masih banyak orang Kristen yang takut menyatakan kebenaran. Mereka lebih memilih menyenangkan orang, agar keberadaannya diterima, dan mencari sanjungan orang lain. Berkata-kata dengan manis, namun tujuannya melenceng, supaya diri pribadi terus dipercaya tampil di depan umum, supaya diri pribadi nyaman, dan sebagainya. Jangan sampai kita lupa bahwa hidup ini adalah milik Allah dan harus dipersembahkan bagi kemuliaan nama-Nya. Kita dipanggil untuk mewartakan Injil dengan murni, tanpa tipu daya atau motivasi yang terselubung. Ingatlah selalu, manusia mungkin dapat kita bohongi dengan penampilan manis kita, namun Tuhan tidak dapat dibohongi dengan semuanya itu. Jadilah murid Kristus yang mempunyai motivasi yang tulus dan benar di hadapan Allah. Jadilah pewarta kebenaran Firman yang tulus dan benar.
Pada pertengahan bulan Desember 2017, di rumah nenek saya ada acara keluarga besar. Mulai dari keluarga tertua sampai yang termuda berkumpul di sana, bahkan mengundang tetangga-tetangga dan saudara. Acara tersebut sudah direncanakan dan dibicarakan bersama. Sehingga membutuhkan persiapan yang cukup supaya acara berjalan lancar. Mereka membagi tugas, para ibu dan wanita bagian dapur, yaitu mulai dari belanja sampai masak-memasak. Bagian para bapak dan pria mempersiapkan tempat. Ada yang mengecat rumah, ada yang memasang lampu tambahan untuk penerangan dan sebagainya. Semua sudah dipersiapkan sesuai dengan rencana. Namun, terjadi keterlambatan saat penyajian makanan, karena orang yang membantu membagikan makanan jumlahnya sedikit. Di saat seperti itu, mungkin ada perasaan tidak enak [sedikit panik] dengan para tamu yang hadir karena harus menunggu cukup lama. Tetapi semua dapat di atasi. Para tamu masih sabar menanti karena pada saat itu juga sedang hujan turun. Sehingga mereka tidak terburu-buru meninggalkan acara tersebut. Hal yang hampir sama juga pernah dialami ketika ada perkawinan di Kana. Saat itu keluarga mempelai kehabisan anggur untuk disajikan kepada para tamu. Sehingga muncul kepanikan dan perasaan tidak nyaman ketika mendengar masalah tersebut. Karena dalam tradisi Yahudi, anggur memainkan peranan penting dalam pesta perkawinan. Keluarga mempelai tentu sangat malu jika tidak bisa memberikan sajian anggur tersebut. Sehingga masalah tersebut harus segera dicarikan solusinya karena para tamu tidak mungkin menunggu beberapa jam, hari, bahkan minggu karena itu adalah pesta perkawinan. Dalam kondisi tersebut, tidak mungkin mempelai sendiri yang mencari solusinya. Dan ketika Maria mengetahui masalah tersebut, Maria dengan sigap mencari solusi, yaitu dengan datang kepada Yesus. Maria sangat percaya bahwa Yesus sanggup menyelesaikan masalah tersebut. Yesus sanggup memberikan jawaban yang tepat untuk mengatasi kondisi tersebut. Masih di minggu awal tahun 2018 ini mari kita melihat bahwa masalah tidak mungkin tidak ada. Beban dan tanggung jawab semua juga tentu ada. Namun mari kita melihat bahwa Tuhan Yesus selalu ada untuk memberikan solusi dan jawaban. Rasa panik dan kekuatiran mungkin juga muncul di saat-saat yang mendesak, tetapi mari kita belajar untuk menyerahkan segala sesuatunya itu kepada Tuhan yang mampu memberikan jawaban atas kehidupan kita. Karena Tuhan tidak akan membiarkan anak-anak yang dikasihi-Nya mendapatkan malu.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Lahir Untuk Peduli
06 Januari '18
Bukan Efek Soda
28 Desember '17
Milikilah Hati Tuhan Yesus
17 Januari '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang