SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 20 April 2018   -HARI INI-
  Kamis, 19 April 2018
  Rabu, 18 April 2018
  Selasa, 17 April 2018
  Senin, 16 April 2018
  Minggu, 15 April 2018
  Sabtu, 14 April 2018
POKOK RENUNGAN
Dengan banyak masalah, kita akan menjadi orang yang memiliki iman yang kuat. Tanpa masalah, kita hanya akan menjadi orang yang manja dan memiliki akar iman yang rapuh. TUHAN MEMAMPUKAN.
DITULIS OLEH
Bp. Widodo Gunawan
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Kekuatan Di Balik Masalah
Kekuatan Di Balik Masalah
Sabtu, 11 November 2017
Kekuatan Di Balik Masalah
Yakobus 1:12

Seorang tukang kebun mencoba mengadakan penelitian sederhana. Ia menanam dua tanaman yang sama pada lahan yang sama. Tanaman pertama disirami secara rutin tiap pagi dan sore, sedangkan tanaman kedua disirami dua hari sekali. Ketika tanaman itu bertumbuh cukup besar, tiba waktunya untuk menguji kekuatan akar tanaman tersebut. Perbedaannya cukup mencolok; dibutuhkan waktu kurang dari dua menit untuk mencabut akar dari tanaman pertama. Tanaman kedua, dibutuhkan waktu lebih lama, yaitu empat menit untuk bisa mencabutnya!

Mengapa hal itu bisa terjadi? Tanaman pertama dimanjakan dengan air yang ia dapat dengan mudah, sehingga akarnya tidak berusaha mencari air ke tanah yang lebih dalam. Tanaman kedua karena mendapat air yang lebih sedikit, maka mau tidak mau akarnya mencari ke sumber air, sehingga didapati akarnya jauh lebih kuat karena masuk lebih dalam ke tanah.

Saudara-saudara, cara TUHAN mendidik kita tak jauh beda dengan ilustrasi tersebut. Bayangkanlah, jika TUHAN m...selengkapnya »
“ Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu” Seandainya Tuhan menyampaikan kalimat itu kepada kita, kira-kira apa yang akan kita minta ya.? Tentu kita akan minta kesehatan dan umur panjang, atau berkat yang melimpah, keluarga yang diberkati dan rukun, suami/istri dan anak-anak yang cinta Tuhan, financial yang cukup, hutang-hutang lunas semua, bisnis yang lancar jaya dan masih banyak lagi daftar yang akan kita sodorkan. Itu logis dan manusiawi, karena kita memang memerlukan semua itu dalam kehidupan kita. Tapi coba kita lihat apa jawab Salomo, ketika kalimat itu disampaikan Tuhan kepadanya dalam kitab 1 Raja 3:5. “Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara….” [1 Raja 3:9]. Ternyata bukan umur panjang dan kekayaan yang diminta oleh Salomo, tetapi hikmat dalam menimbang perkara. Salomo tidak meminta sesuatu yang hanya berfokus kepada kehidupan pribadinya saja [ kesehatan, umur panjang, berkat, kekayaan dll ] tetapi lebih memilih permintaan yang berkwalitas, yaitu permintaan yang menambah value atau nilai dalam kepribadian nya. Hikmat, kesabaran, pengendalian diri, kerendahan hati, hati yang dipenuhi Kasih, kemurahan, adalah beberapa contoh permintaan yang berkualitas, karena bukan saja pribadi kita yang akan merasakan, tapi orang-orang disekitar kitapun akan menerima dampaknya, ketika itu semua diberikan Tuhan kepada kita. Ketika Salomo meminta hikmat kepadaNya, Tuhan memberikan banyak masalah/persoalan dalam kehidupan Salomo supaya Salomo bisa mempraktek kan apa yang sudah dimintanya. Begitupun bagi kita, saat kita minta kesabaran/kerendahan hati/hati yang dipenuhi Kasih, Tuhan akan menghadapkan kita dengan berbagai masalah/persoalan, dengan maksud supaya kitapun bisa mempraktekkan apa yang sudah kita minta. Tuhan tidak hanya memberikan sebatas yang diminta Salomo, yaitu hikmat untuk menimbang perkara, tapi Dia menambahkan apa yang tidak diminta Salomo. ”... dan juga apa yang tidak kau minta Aku berikan kepadamu, baik kekayaan maupun kemuliaan sepanjang umurmu…” [1 Raja 3:13]. Karena itu tidak perlu kawatir dengan apa yang kita butuhkan, karena Dia akan menambahkan apa yang tidak kita minta, ketika kita belajar untuk mengajukan permintaan yang lebih berkualitas kepada Nya.
Dalam sebuah cerita ilustrasi di dalam kelas, seorang guru mulai bercerita tentang kehidupan seekor Koala. Koala ini sedang belajar melakukan yang terbaik atas apa yang diperbuatnya. Pertama-tama, ketika masih kecil, seekor Koala belajar untuk melompat, lari, dan bahkan bernyanyi. Ia terus mencoba sampai bisa. Setelah itu ia juga mencoba sesuatu yang baru, mungkin banyak waktu yang diperlukan untuk mampu melakukannya. Namun ia tetap mencoba dan belajar melakukan sesuatu yang terbaik. Bahkan ia melatih dirinya sampai ia mampu menguasainya. Ia selalu mencoba lakukan yang terbaik dengan bekerja keras. Apa yang ia telah mulai, ia berusaha untuk tetap menyelesaikan meskipun kadang tidak menyenangkan. Prinsip yang dimiliki seekor Koala ini adalah tetap melakukan yang terbaik dari setiap kegiatan yang dilakukannya. Kitab Amsal 14 merupakan salah satu bagian dari kitab Amsal yang berisikan ucapan-ucapan bijak atau yang sering kita sebut hikmat. Hikmat adalah pengetahuan dan pengertian akan apa yang benar, adil, tulus, dan jujur yang tentunya berasal dari Tuhan dan bersumber kepada Tuhan. Khusus di ayat 23, yaitu dalam tiap jerih payah ada keuntungan. Setiap manusia yang hidup pasti tidak pernah terlewatkan dari sebuah kegiatan. Baik dalam pendidikan, pekerjaan, dan pelayanan. Semua itu membutuhkan tenaga, pemikiran, dan kerja keras. Ayat ini mengingatkan bahwa setiap jerih lelah yang dilakukan akan mendatangkan keuntungan. Bukankan tahun ini target jemaat Tuhan adalah melakukan yang terbaik untuk keselamatan jiwa-jiwa? Itu berarti ada sesuatu yang harus dikerjakan, ada hal-hal yang harus diupayakan supaya dapat terpenuhi. Dari apa yang akan kita kerjakan tersebut membutuhkan yang namanya jerih lelah, butuh pengorbanan dan butuh tindakan. Melakukan yang terbaik tidak bisa hanya berdiam diri, melainkan harus berjerih lelah untuk menjangkau jiwa-jiwa bagi Tuhan. Dan pastinya dalam berjerih payah itu, butuh hikmat dari Tuhan. Saudara terkasih, kita telah dipanggil Allah untuk turut bekerja dalam ladang pelayanan di dunia ini. Kita dipanggil untuk melakukan perintah Allah, yaitu mencari dan menyelamatkan yang hilang. Kita juga alat kepanjangan tangan Tuhan untuk memberitakan Injil Tuhan. Oleh sebab itu, mari belajar melakukan yang terbaik dari setiap bagian kehidupan kita untuk menghasilkan buah yang berdampak bagi sesama. Bahkan sampai mendatangkan keuntungan bagi kemuliaan nama Tuhan.
Yeremia adalah salah satu nabi yang dipakai oleh Tuhan seperti halnya Musa. Ketika Tuhan memanggil Yeremia dan memberitahukan kepadanya bahwa ia telah ditetapkan menjadi nabi bagi bangsa-bangsa. Yeremia menanggapi panggilan Tuhan dengan “Tahu diri” bahwa dirinya tidak pandai bicara, apalagi dirinya yang masih muda, belum ada pengalaman. Namun demikian bukan berarti Yeremia menolak panggilan tersebut. Ada 2 hal yang terkandung dalam tanggapan Yeremia atas panggilanNya. Pertama : Ketidakmampuannya. Yeremia menjelaskan ketidakmampuannya dalam hal berbicara karena ia sadar betul dimana seorang nabi harus tegar dalam menyampaikan perkataan Firman yang dari Tuhan kepada umatNya. Sementara ia “Tahu diri” masih muda belum berpengalaman lalu harus berbicara di hadapan sebuah bangsa, baik yang anak-anak, remaja, pemuda, dewasa dan para tua-tua yang sudah berpengalaman diantara umat-umat tersebut [ayat 6] itulah yang dibayangkan oleh Yeremia. Mampukah aku menyuarakan kehendak Tuhan? mampukah aku berbicara dengan tegas? Kedua : Penyerahan diri. Orang yang menolak sebuah tugas karena alasan tidak mampu sangat berbeda dengan orang yang menolak tugas karena memang tidak bersedia melakukan tugas tersebut. Di dalam tanggapan atas panggilannya Yeremia menjelaskan keadaan yang sesungguhnya bahwa ia memiliki kelemahan. Pengakuan Yeremia itu bukan sekedar untuk memberitahu Tuhan namun itu adalah suatu bentuk penyerahan diri. Dan Tuhan tahu hal itu. Tuhan tidak butuh hal lain dari Yeremia. Ia butuh kesediaan dan ketaatan Yeremia untuk melakukan apa yang Ia perintahkan. Kekurangan dalam diri Yeremia bukan menjadi penghalang untuk Tuhan memakainya. Hanya dengan mengulurkan tanganNya ke mulut Yeremia, kesulitan itu teratasi. Semua orang pasti memiliki kekurangan dalam dirinya termasuk kita orang percaya yang seringkali menjadi penghalang bagi diri kita untuk melakukan sesuatu untuk Tuhan tetapi apapun kekurangan itu akuilah semua di hadapan Tuhan. Tuhan tahu bagaimana memperlengkapi kita guna dipakai untuk tujuanNya bahkan dengan karunia-karunia yang tidak pernah kita duga untuk diberikan kepada kita untuk memberikan yang terbaik buat keselamatan jiwa-jiwa melalui Roh KudusNya yang ditaruh di dalam hidup kita. Nyatakan kekurangan dan kelemahan diri kepada Tuhan dan penyerahan diri kita kepadaNya maka Tuhan akan memampukan kita seperti halnya Tuhan sudah memampukan Yeremia.
Kehidupan kita orang beriman, dalam menjalani hidup sehari-hari sangat membutuhkan tuntunan dan petunjuk dari Tuhan. Pemazmur berkata,“Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.” [Mazmur 1:1-2]. Alkitab berisi tuntunan dan petunjuk dari Tuhan. Semakin kita mempelajari firman Tuhan dan merenungkannya siang dan malam semakin kita mengerti apa kehendak Tuhan, dan apa langkah-langkah yang harus kita tempuh sehingga perjalanan hidup kita selalu beruntung dan akan memberi faedah. Di Alkitab menuliskan contoh teladan hidup orang beriman melalui empat binatang kecil, “Ada empat binatang yang terkecil di bumi, tetapi yang sangat cekatan: semut, bangsa yang tidak kuat, tetapi yang menyediakan makanannya di musim panas, pelanduk, bangsa yang lemah, tetapi yang membuat rumahnya di bukit batu, belalang yang tidak mempunyai raja, namun semuanya berbaris dengan teratur, cicak yang dapat kautangkap dengan tangan, tetapi yang juga ada di istana-istana raja.” [Amsal 30:24-28]. Semut, meskipun tergolong binatang terkecil dan lemah, ia rajin, ulet dan cekatan. Selain itu semut memiliki rasa empati yang tinggi terhadap sesamanya, mereka menopang satu sama lain dan bergotong royong. Tuhan menghendaki hal yang demikian, “Bertolong-tolonglah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” [Galatia 6:2]. Belalang, dalam waktu singkat sanggup menghabiskan hasil ladang berkat kerjasama dan ketekunannya. Walapun tanpa pemimpin. Manusia tidak dapat melakukan hal itu tanpa seorang pemimpin. Di sini manusia diajar untuk tunduk kepada pemimpin agar bisa hidup teratur. Pelanduk, binatang lemah tapi mampu membuat rumahnya di atas bukit batu sehingga ia selamat dan aman apabila badai menyerang. Kita di ajar untuk menggunakan hikmat kepandaian kita untuk bertahan hidup. Cicak bintang yang dengan mudah dapat kita tangkap tetapi juga hidup di istana raja. Mengingatkan kita walaupun lemah tetapi Allah masih memberi hikmat agar kita bisa bertahan hidup dalam bahaya sekalipun. Yesus adalah Batu Karang Keselamatan kita. Sudah seharusnya kita mempercayakan hidup ini sepenuhnya kepada Dia.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Pantang Menyerah1
29 Maret '18
Tuhan Yesus Teguh Iman Dan Mengutus
14 April '18
Racun Menjadi Madu
26 Maret '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang