SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 12 Desember 2017   -HARI INI-
  Senin, 11 Desember 2017
  Minggu, 10 Desember 2017
  Sabtu, 09 Desember 2017
  Jumat, 08 Desember 2017
  Kamis, 07 Desember 2017
  Rabu, 06 Desember 2017
POKOK RENUNGAN
Setiap masalah merupakan satu batu pijakan untuk melangkah. Kita dapat keluar dari ’sumur’ yang terdalam dengan tetap mengandalkan Tuhan, berpikir positif dan terus berjuang. Jangan pernah menyerah!
DITULIS OLEH
Bp. Widodo Gunawan
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Keledai Yang Berpikir Positif Dan Berusaha
Keledai Yang Berpikir Positif Dan Berusaha
Jumat, 08 Desember 2017
Keledai Yang Berpikir Positif Dan Berusaha
Ulangan 31:6

Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Hewan itu menangis dengan memilukan selama berjam-jam, sementara si petani memikirkan apa yang harus dilakukannya. Akhirnya, Ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan sumur juga perlu ditimbun karena bisa membahayakan, jadi tidak berguna untuk menolong si keledai. Ia mengajak tetangga-tetangganya untuk datang membantunya. Mereka membawa sekop, mulai menyekop tanah dan menimbun sumur tersebut.

Pada mulanya ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis penuh kengerian. Tetapi kemudian semua orang takjub karena si keledai menjadi diam. Setelah beberapa sekop tanah lagi dituangkan ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang karena apa yang dilihatnya.

Walaupun punggungnya terus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki ...selengkapnya »
Hari Pengucapan Syukur adalah hari libur nasional yang diperingati di beberapa negara, di antaranya adalah Amerika Serikat, Kanada, Jerman, Jepang, dll. Warga Amerika Serikat merayakannya pada Kamis keempat di bulan November, sedangkan warga Kanada merayakannya pada Senin kedua Oktober. Pada mulanya Thanksgiving merupakan peristiwa jamuan makan yang diadakan warga pendatang di Amerika Serikat sebagai ucapan syukur atas keberhasilan panen mereka. Jamuan makan di musim gugur yang berlangsung sampai tiga hari itu dihadiri pula oleh penduduk asli Amerika yang tinggal tak seberapa jauh dari tanah yang mereka tempati. Pada perkembangannya, peringatan Thanksgiving Day bergeser menjadi sekedar momen mudik bagi mereka yang merayakan. Dan buat sebagian orang yang terlalu sibuk untuk berkumpul dengan keluarga besar, Thanksgiving Day tak ubahnya seperti hari libur nasional biasa. Hari Pengucapan Syukur mulai kehilangan makna. Manusia memang mudah teralihkan. Mudah lupa. Banyak kemurahan yang diterima dari Tuhan, dianggap biasa. Sedikit kesusahan yang diijinkan terjadi, dianggap malapetaka. Berkali-kali dianugerahi belas kasihan, tidak sadar juga. Manusia memang gudangnya lupa. Tetapi umat kepunyaan Tuhan tidak boleh menyerah pada kecenderungan daging. Mari tetap mengingat semua kebaikan Tuhan; mari tetap mengucap syukur karena kasih setia-Nya tak berkesudahan. Biarlah setiap hari yang kita jalani menjadi hari pengucapan syukur.
Ketika kita menanam pohon buah-buahan, wo......, alangkah senangnya hati kita melihat pohon yang kita tanam berbuah lebat. Bagi seorang petani buah-buahan, hasil buah yang banyak berarti pemasukan yang banyak juga. Untuk memperoleh buah yang banyak kita harus memperhatikan dan merawat kondisi pohon yang ditanam. Dibutuhkan tanah yang baik, air yang cukup, sinar matahari, pupuk, dsb. Tanah, air, udara, sinar matahari, pupuk merupakan penunjang sumber alam yang sangat penting. Itu semua bukan ciptaan manusia tapi ciptaan Sang Pencipta alam yang Mahakuasa. Seperti juga petani buah-buahan yang mengharapkan pohon yang ditanam berbuah banyak, demikian juga Tuhan. Manusia dicipta Tuhan dan ditempatkan di bumi. Tuhan mengharapkan/menghendaki manusia berbuah banyak. Firman Tuhan dengan jelas mengatakan bahwa Bapa kita di sorga dipermuliakan apabila kita berbuah banyak dan kita disebut sebagai murid-murid-Nya. Dua hal utama yang harus kita lakukan sebagai orang Kristen, yaitu memuliakan Tuhan, Bapa kita yang kekal dan menjadi murid-Nya. Kita perlu merenungkan dalam-dalam arti Kristen. Kristen adalah pengikut Kristus, Kristen adalah murid Kristus. Begitu kita menyebut diri kita Kristen tidak cukup hanya rajin kebaktian di gereja, baca Alkitab dan berdoa setiap hari, aktif melayani pekerjaan Tuhan. Kita perlu bertanya pada diri sendiri, “Apakah hidup kita sudah menghasilkan buah?”; “Apakah hidup kita sudah berbuah banyak untuk memuliakan Tuhan?“ Agar berbuah banyak, hidup ini harus menyatu, tinggal di dalam Tuhan Yesus Kristus. Di luar Dia, hidup kita tidak akan menghasilkan buah. Proses selanjutnya, kita harus selalu siap dibersihkan Tuhan. Pembersihan yang Tuhan lakukan membuat hidup kita berbuah banyak. Selamat berbuah lebat bagi Kristus.
Apakah yang membuat orang menjadi sakit hati, jengkel, ataupun pedih? Ada banyak hal penyebabnya. Misalnya perlakuan yang tidak adil, fitnah, perlakukan yang semena-mena, diremehkan, pengkhianatan, dll. Hal seperti itu sering menimpa banyak orang, termasuk juga orang-orang beriman. Sebenarnya orang yang sakit hati, pedih, dan perih menanggung kejengkelan yang sangat dalam adalah orang yang tidak mendapat keadilan dalam hidupnya baik itu di lingkungan pekerjaan, masyarakat, pendidikan bahkan juga di keluarga. Bagaimana sikap orang beriman ketika dirinya sedang menghadapi perasaan sakit hati, kejengkelan karena ulah orang lain yang memperlakukannya tidak adil dan semena-mena? Mari kita memperhatikan sikap Daud ketika dia sedang menghadapi perlakuan yang tidak adil. Daud mengalami perlakuan semena-mena, suatu ketidakadilan, mungkin semacam fitnahan [ayat 6]. Apa yang dilakukan Daud? Yang dilakukan Daud adalah mendatangi Tuhan, menghampiri tahta Tuhan dalam doa yang hidup. Kemudian dalam doanya itu Daud memohon supaya Tuhan memberi keadilan [ayat 1]. Selain itu Daud mengutarakan bagaimana dia hidup dengan penuh iman dan takut akan Tuhan [ayat 1b, 3], sehingga dia berani mengatakan di hadapan Tuhan bahwa dirinya memiliki kehidupan yang bermoral: tidak duduk dan bergaul dengan para penipu dan orang munafik [ayat 4]; Dia benci dengan perkumpulan orang yang berbuat jahat [ayat 5]; hidup dalam ketulusan [ayat 11a]. Begitu seriusnya Daud berdoa memohon supaya dia tidak mati sia-sia bersama dengan orang-orang berdosa, yaitu para penumpah darah, yang berbuat mesum, dan yang suka menerima suap [ayat 9-10]. Semua kebenaran yang melekat dalam kehidupannya, disampaikannya hanya kepada TUHAN. Saudara kekasih Tuhan, sikap seperti Daud-lah yang harus dilakukan orang beriman ketika dia sedang menghadapi perlakuakn semena-mena dan ketidakadilan. Datang hanya kepada TUHAN, bukan kepada manusia karena manusia bisa memberi arahan yang salah, minta keadilan bukan minta kemenangan. Sebab bagi orang beriman tidak diperkenankan membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi menyerahkan semuanya pada Tuhan dan tetap bersikap kasih kepada “seteru” kita [Roma 12:9-10]. Datang kepada Tuhan dalam pergumulan doa yang serius, sampaikan segala keluh kesahmu hanya kepada Tuhan.
Kejujuran dan kepercayaan Amsal 22:1 Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas. Pada hari Kamis tanggal 16 November 2017 terjadi sebuah kecelakaan tunggal. Sebuah mobil menabrak tiang lampu penerangan jalan [bukan tiang listrik seperti kata banyak orang]. Meskipun tidak dalam kecepatan tinggi kelihatannya mobil itu rusak parah bagian depannya. Seorang penumpang di dalam mobil itu mengalami cedera berupa memar di kepalanya. Para pembaca pasti tahu siapa yang saya maksud. Banyak orang tidak percaya bahwa itu adalah kecelakaan yang murni, walaupun tidak ada yang berani memastikan bahwa itu adalah sebuah rekayasa. Berbagai macam penjelasan diberikan oleh pihak yang mengalami kecelakaan itu. [Memang sungguh aneh bahwa seorang yang mengalami kecelakaan harus meyakinkan kepada publik bahwa dirinya benar-benar mengalami kecelakaan]. Tapi biarpun diyakinkan sedemikian rupa publik tetap tidak percaya terhadap penjelasan pihak yang mengalami kecelakaan itu. Banyak orang mengalami kecelakaan, tapi tidak perlu berusaha meyakinkan publik bahwa dirinya telah mengalami kecelakaan. Tidak perlu dijelaskan apalagi diyakinkan juga orang-orang sudah tahu bahwa telah terjadi kecelakaan atas orang tersebut. Tapi mengapa yang satu tadi berbeda? Karena publik sudah tidak percaya kepada orang yang mengalami kecelakaan itu. Andaikan dia sebenarnya sungguh-sungguh mengalami kecelakaan pun, publik tetap tidak percaya. Mengapa bisa demikian? Masalahnya adalah soal kepercayaan publik terhadap track record orang tersebut. Apa pelajaran yang bisa kita petik dari kejadian ini? Pelajaran yang bisa kita petik dari peristiwa ini adalah: 1. Nama baik [reputasi] itu sesuatu yang sangat berharga. Firman Tuhan berkata bahwa nama baik itu lebih berharga daripada kekayaan yang besar. Punya kekayaan yang besar tetapi kalau tidak mempunyai nama baik hidup kita tidak ada nilainya. 2. Kepercayaan dari publik tidak bisa diganti dengan penjelasan apapun. Publik menilai kejujuran kita dari track record kita. Kalau track record jelek tidak bisa dihapus dengan penjelasan apapun. Kita hanya bisa menjaga agar track record kita tetap baik. Berjalanlah dalam kebenaran, maka hidupmu akan beruntung. Tuhan memberkati. Pdt. Goenawan Susanto
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Memang Lidah Tak Bertulang
04 Desember '17
Terang Bagi Yang Berjalan Di Kegelapan
03 Desember '17
Berhiaskan Kekudusan
20 November '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang