SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 27 Mei 2018   -HARI INI-
  Sabtu, 26 Mei 2018
  Jumat, 25 Mei 2018
  Kamis, 24 Mei 2018
  Rabu, 23 Mei 2018
  Selasa, 22 Mei 2018
  Senin, 21 Mei 2018
POKOK RENUNGAN
Setiap masalah merupakan satu batu pijakan untuk melangkah. Kita dapat keluar dari ’sumur’ yang terdalam dengan tetap mengandalkan Tuhan, berpikir positif dan terus berjuang. Jangan pernah menyerah!
DITULIS OLEH
Bp. Widodo Gunawan
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Keledai Yang Berpikir Positif Dan Berusaha
Keledai Yang Berpikir Positif Dan Berusaha
Jumat, 08 Desember 2017
Keledai Yang Berpikir Positif Dan Berusaha
Ulangan 31:6

Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Hewan itu menangis dengan memilukan selama berjam-jam, sementara si petani memikirkan apa yang harus dilakukannya. Akhirnya, Ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan sumur juga perlu ditimbun karena bisa membahayakan, jadi tidak berguna untuk menolong si keledai. Ia mengajak tetangga-tetangganya untuk datang membantunya. Mereka membawa sekop, mulai menyekop tanah dan menimbun sumur tersebut.

Pada mulanya ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis penuh kengerian. Tetapi kemudian semua orang takjub karena si keledai menjadi diam. Setelah beberapa sekop tanah lagi dituangkan ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang karena apa yang dilihatnya.

Walaupun punggungnya terus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki ...selengkapnya »
Kita pernah mendengar pepatah yang mengatakan, “tidak ada rotan akarpun jadi.” artinya kalau tidak ada rotan dapat digantikan dengan akar. Tentunya tidak demikian dengan firman Tuhan untuk memberitakan injil bisa saja kita pakai sarana teknologi yang berkembang begitu cepat saat ini namun tentu kita tidak boleh mengabaikan perintah Tuhan untuk memberitakan injil dengan bertatap muka. Tuhan Yesus memberi perintah seperti yang tertulis dalam Markus 16:15 mengatakan: Lalu Ia berkata kepada mereka: ’Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” Dalam ayat ini Tuhan Yesus memberi perintah kepada para murid untuk pergi memberitakan injil kepada segala mahluk. Sekaligus memberikan keteladanan dan memberikan contoh kehidupan Kis 1:8”... Menjadi saksi ...” tentang kehidupan yang menjadi contoh tidak sekedar berbicara. Mari jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus kita beritakan Injilnya yang sesuai dengan salah satu visi gereja kita hidup yang berdampak pada sesama dapat kita genapkan dalam hidup ini.
“Simon Petrus naik ke perahu lalu menghela jala itu ke darat, penuh ikan-ikan besar: seratus lima puluh tiga ekor banyaknya, dan sungguhpun sebanyak itu, jala itu tidak koyak” [Yohanes 21:11]. Apa maksud penyebutan angka ini? Jika maksudnya hanya sekedar memberi informasi, alangkah lebih sederhananya disebut “sangat banyak” atau “jala itu penuh”. Atau jika ingin menunjuk pada jumlah ikan yang didapat, lebih lazim disebut dengan satuan berat, seperti kilogram, gram, dsb. Lalu apa maksud dari penyebutan angka 153? Kalau dalam sebuah cerita dicantumkan suatu angka, maka angka itu biasanya ada fungsinya. Demikian juga halnya dengan angka 153 yang ditulis dalam kisah ini. Pada jaman itu, menurut Ilmu pengetahuan Yunani, jumlah jenis ikan yang diketahui berjumlah 153 macam. Karena itu para murid mengasosiasikan angka 153 ini dengan angka jumlah jenis ikan tersebut. Itulah jumlah jenis ikan yang mereka ketahui. Angka itu bagi mereka berarti: semua jenis ikan di dunia ini. Ketika dulu Yesus memanggil murid-murid-Nya, Ia berkata, ’Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.’ [Markus 1:17]. Dalam kisah ini, Yesus kembali menegaskan dan mengingatkan murid untuk tetap “menebarkan jala” dan “menjaring jiwa”. Pertemuan awal Yesus dengan para murid terjadi pada peristiwa “menjaring ikan”. Kini pun sesudah peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus, dengan peristiwa serupa yang mirip [lihat kejadian dan tempat dalam Yohanes 21:1-14] ingatan murid-murid kembali dibawa untuk mengigat kembali peristiwa tersebut sekaligus mempertegas dan memperjelas panggilan mereka untuk menjadi saksi bagi semua bangsa. Murid-murid menjaring 153 ikan, memiliki makna khusus yaitu perihal tugas bersaksi dan menjangkau jiwa bagi semua bangsa. Ajakan ini bukan terbatas bagi murid-murid yang hidup pada saat itu saja. Melainkan juga panggilan dan tugas kita sebagai murid Yesus di masa kini. Peristiwa pentakosta adalah peristiwa turunnya Roh Kudus bagi setiap orang percaya. Roh yang memberi kita rasa aman, keberanian dan kedamaian untuk kita terus bersaksi mewartakan berita tentag Kabar Sukacita di dalam Yesus Kristus.
Di sebuah kota kecil, tinggalah keluarga kecil yang hanya terdiri dari ayah, ibu dan anaknya perempuan. Ayah ibu itu sangat sayang kepada anak tunggalnya tersebut. Mereka berharap anak satu-satunya yang akan meneruskan usaha konveksinya. Namun yang terjadi di balik mimpi indah suami istri itu. Anak itu mengalami panas tinggi dan meninggal saat perjalanan menuju rumah sakit. Mereka putus asa karena sudah tidak lagi memiliki penerus usahanya, karena sang istri sudah tidak bisa mengandung. Selama satu setengah tahun mereka mengalami keputus asaan. Kesetiaan suami istri ini untuk mengalami mujizat membawa mereka setia dalam doa malam. Benar yang mereka imani. dalam tahun ke 5 setelah kematian anaknya, mereka di karuniai anak laki-laki satunya di masa mereka menginjak usia 48 tahun. Dari peristiwa di atas, dapat kita lihat bahwa goncangan dapat berupa masalah yang datang silih berganti, atau berbagai macam kesulitan. Tetapi di saat kita mengalaminya jangan menjadi gentar atau takut, sebab Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Dia peduli dan tahu setiap hal yang menimpa kita. Setiap tantangan atau masalah yang terjadi tidak akan pernah membuat kita terpuruk, sebaliknya malah akan semakin menguatkan iman kita di dalam Yesus. Melalui setiap tantangan atau goncangan, Tuhan ingin melihat bagaimana kualitas iman percaya kita kepadaNya. Jika Tuhan di pihak kita, maka tidak ada satupun yang dapat melawan kita. Tuhan akan senantiasa menjaga dan melindungi di saat badai kehidupan menerpa. Ia akan memberikan pertolongan kepada setiap umat-Nya. Nahum 1:7 berkata bahwa Tuhan menjadi tempat perlindungan ketika kita mengalami masalah, dan Ia mengenal orang yang berlindung kepadaNya. Bahkan di tengah goncangan, Tuhan juga tetap memberikan kekuatan, kedamaian dan ketenangan. Sehingga kita dapat bertahan menghadapi semuanya. Firman Tuhan adalah jaminan yang memberikan pengharapan yang pasti. Jadi berlindunglah pada Tuhan, dan tetaplah teguh dalam Yesus. Seperti dalam firman dikisahkan, Yesus dan murid-murid-Nya berada dalam perahu. Tiba-tiba mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu. Para murid menjadi panik. Mereka memanggil Yesus, dan Ia meneduhkan angin ribut tersebut dan danau pun menjadi teduh kembali. Yesus adalah Tuhan yang berkuasa atas alam semesta, sehingga kita tidak perlu takut. Yang diperlukan hanyalah iman yang teguh pada Tuhan. Karena itu, kita harus terus mengandalkan Dia saja. Sebab orang yang mengandalkan Tuhan tidak akan dikecewakan.
Seorang pria mengalami kejadian tak mengenakkan ketika hendak membeli mobil di sebuah showroom di Karawang Barat karena penampilannya sederhana. ’Waktu itu saya diminta tolong oleh adik yang kerja di Timika Papua untuk membeli mobil secara cash,’ katanya. Namun karena ia hanya memakai sandal jepit dan celana pendek, jangankan dilayani oleh pelayan showroom, dilirik saja tidak. ’Mas-mas pelayan itu malah pergi meninggalkan saya lalu kembali ngerumpi bersama teman-temannya sambil makan rujak,’ tuturnya. Merasa diperlakukan sebelah mata, akhirnya ia pun kesal. Dan saking kesalnya, ia mengeluarkan uang 350 juta di tasnya. “Tadinya saya mau beli mobil di sini, tapi karena mas-mas dan mbak-mbak memandang remeh, saya mending mencari showroom lain yang lebih sopan kepada pelanggan,’ katanya sambil bergegas pergi meninggalkan showroom mobil tersebut. Salah menilai pernah dilakukan oleh Samuel ketika Tuhan mengutusnya untuk mengurapi salah seorang anak Isai menjadi raja menggantikan Saul. Satu persatu anak-anak Isai masuk bertemu dengan Samuel. Mulai dari Eliab, kemudian Abinadab, dilanjutkan Syama sampai tujuh anak Isai lewat di depannya, tetapi ternyata tidak seorangpun yang dipilih oleh Tuhan. Samuel sempat salah menilai ketika ia melihat Eliab. Samuel menyangka Eliablah yang dipilih untuk diurapi karena ia melihat perawakan Eliab yang tinggi. Dan Tuhan mengingatkan Samuel, “Janganlah pandang paras atau perawakannya yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Allah melihat hati. Salah menilai seringkali terjadi karena kecenderungan ‘melihat apa yang di depan mata’; hanya melihat penampilan fisik semata. Padahal penampilan fisik bisa saja ‘menipu’ karena tidak sepenuhnya merepresentasikan diri seseorang. Penilaiaan yang hanya berdasarkan penampilan fisik merupakan penilaian yang terburu-buru, gampangan dan dangkal. Penilaian seperti ini bisa mengakibatkan sikap meremehkan, memandang negatif, bahkan menghakimi. Tentunya penilaian tersebut bukan saja tidak fair, tetapi sangat merugikan pihak yang dinilai. Allah tidak seperti manusia dalam menilai. ‘Allah melihat hati’. Allah melihat bahkan mengetahui dengan tepat ‘sisi dalam’ dari seseorang. Allah adalah pribadi Maha Tahu, tentu tidak sulit untuk melihat hati. Lalu bagaimana dengan kita, manusia yang bukan pribadi mahatahu? Untuk kita bisa menilai dengan baik; tidak terjebak hanya menilai secara fisik, maka kita harus berusaha untuk mengenal lebih dalam pribadi seseorang. Membangun relasi yang baik, berusaha menyelami cara berpikirnya, bahkan menenmpatkan diri kita pada posisinya. Dengan demikian kita tidak akan salah menilai.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Menggali Talenta
12 Mei '18
Siapa Tempat Perlindunganmu?
01 Mei '18
Pesan Sang Kristus
05 Mei '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang