SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 19 Februari 2018   -HARI INI-
  Minggu, 18 Februari 2018
  Sabtu, 17 Februari 2018
  Jumat, 16 Februari 2018
  Kamis, 15 Februari 2018
  Rabu, 14 Februari 2018
  Selasa, 13 Februari 2018
POKOK RENUNGAN
Janganlah kita sampai tersesat ke lembah gelap hanya karena mengikuti keinginan sendiri dan mengabaikan Tuhan.
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas Budianto
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Mencari Yang Terhilang
Mencari Yang Terhilang
Sabtu, 18 November 2017
Mencari Yang Terhilang
Matius 18:10-14

Di dalam kehidupan, manusia pasti pernah mengalami saat-saat yang sulit dan merasa tersesat tidak tahu harus berbuat apa. Mungkin mengalami pencobaan di dalam kehidupan keluarga, kesulitan ekonomi dan mungkin juga mengalami kekeringan rohani dalam kehidupan spiritual. Dan akhirnya hidup serasa tersesat tidak tahu harus ke mana dan bagaimana. Hal itu mungkin pernah kita alami, namun itulah keidupan yang harus dijalani.

Jika hidup kita sedang tersesat atau mungkin pernah tersesat maka mari kita melihat kembali apa yang Yesus ajarkan. Dalam Injil Matius 18:10-14, Tuhan Yesus memberikan pengajaran tentang kasih kepada yang terhilang. Yesus mengatakan bahwa anak-anak yang polos itu sama seperti malaikat-malaikat di surga yang memandang wajah Allah. Sebenarnya malaikat tidaklah identik dengan anak kecil, tetapi Tuhan Yesus mengingatkan bahwa di hadapan Allah, para malaikat memandang wajah Bapa-Nya dan bersikap seperti anak kecil yang rendah dan taat mutlak. Ketaatan dan kerendahan hati inilah yang membuat para malaikat sujud dan menyembah Allah. Setelah memberikan gambaran umat-Nya yang dikasihi seperti anak-anak, lalu Ia menggambarkan umat yang dikasihi-Nya seperti domba-domba yang dikasihi oleh gembala mereka. Umat-Nya yang dipandang rendah oleh dunia ini pun dicari ...selengkapnya »
Gairah zaman adalah filosofi, cara berpikir yang membentuk gaya hidup yang dikenakan oleh hampir semua manusia sekarang ini dan yang telah dianggap sebagai gaya hidup wajar, bahkan sering dianggap sebagai gaya hidup ideal. Gaya hidup ini masih banyak dikenakan oleh orang kristen, aktivis gereja, bahkan oleh para rohaniawan. Tuhan Yesus mengingatkan bahwa pada saat menjelang kedatangan-Nya, kedurhakaan manusia semakin bertambah, zaman semakin fasik, manusia tidak takut akan Tuhan, tidak peduli hukum atau kehendak Tuhan. Dalam suratnya, rasul Petrus juga mengingatkan bahwa pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek yang hidup menuruti hawa nafsunya. Orang-orang yang mengejek Tuhan dengan perbuatannya, mereka membelakangi Tuhan dan memberontak terhadap Tuhan [II Petrus 3 : .3]. Dalam suratnya kepada Timotius, rasul Paulus juga menyatakan tentang gairah zaman ini di mana moral manusia sudah jauh dari standar kebenaran dan kesucian Tuhan. Kita harus menyadari bahwa pengaruh suasana dunia yang fasik ini telah menyusup dalam kehidupan banyak orang kristen dan gereja sehingga mereka hidup dalam kewajaran anak dunia. Tidak menyadari bahwa hidupnya telah jauh dari standar kebenaran yang seharusnya dikenakan oleh anak-anak Tuhan. Untuk melawan pengaruh gairah zaman ini, harus berjuang untuk bertumbuh dalam : 1. Perubahan pribadi dan pola pikir sampai menjadi serupa dengan Tuhan Yesus yang sempurna seperti Bapa [Matius 5 : 48] 2. Mengarahkan selera jiwa/keinginan kita seperti yang dimiliki oleh Tuhan Yesus : “Makanan- Ku ialah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” [Yohanes 4 : 34]. 3. Menjaga tujuan/visi hidup , yaitu Tuhan dan Kerajaan-Nya. Untuk itu harus terus memikirkan dan mencari perkara-perkara yang di atas [Kolose 3 : 1 – 2], yaitu : - kesempurnaan karakter - bebas dari percintaan dunia - hati yang mengasihi dan mengabdi kepada Tuhan tanpa batas, dan - pikiran yang berfokus pada Kerajaan Surga, Langit Baru dan Bumi Baru.
Tema gereja tahun ini: Lakukan yang terbaik untuk keselamatan jiwa-jiwa, ini seirama dengan Amanat Agung yang tertulis di Injil Markus dan Matius. Mereka yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, selanjutnya dididik menjadi murid yang harus melakukan segala sesuatu yang telah diajarkan oleh Tuhan Yesus. Ada proses yang tidak sederhana dalam Amanat Agung, yaitu: Injil [kebenaran Tuhan] diberitakan baik secara langsung maupun tidak langsung [melalui kesaksian hidupnya Matius 5:16], orang yang mau percaya selanjutnya dididik menjadi murid Tuhan Yesus, dan orang percaya yang sudah menjadi murid juga harus pergi dan memberitakan Injil kepada orang lain, lahir orang percaya baru yang harus dididik menjadi murid. Demikian seterusnya seperti suatu reaksi berantai dalam pembuatan sebuah bom atom. Supaya proses penginjilan berjalan lancar perlu dipahami kebenaran yang terkait proses keselamatan jiwa. Anugerah keselamatan melalui penebusan salib harganya sangat mahal [I Petrus 1:18] dan bertujuan supaya manusia bisa dikembalikan kepada rancangan semula Tuhan waktu menciptakannya, serupa dengan Penciptanya. Dengan demikian manusia bisa menemukan kembali kemuliaan Tuhan yang telah hilang/berkurang [Roma 3:23], orang percaya bisa mengenakan kodrat ilahi, hidup kudus dan tidak bercacat tidak bercela di hadapan Tuhan dan manusia [Efesus 1:4]. Proses pengudusan orang percaya, pertama oleh darah Kristus yang tercurah di kayu salib [Pengudusan pasif yang hanya bisa dilakukan Bapa], selanjutnya kita dikuduskan oleh ketaatan kepada kebenaran melalui pimpinan Roh Kudus [I Petrus 1:22, Yohanes 14:26], hal ini menuntut tanggung jawab masing-masing individu, disebut juga pengudusan aktif. Dalam hal ini gereja harus berfungsi sebagai “sekolah teologia” bagi jemaat supaya anggota jemaat bertumbuh dalam memahami kebenaran Injil yang murni dan para pimpinan rohani dan aktivis gereja menampilkan sosok teladan yang bisa menjadi model dalam mentaati segala sesuatu yang telah diajarkan oleh Tuhan Yesus. Syarat penting dalam proses keselamatan adalah manusia harus percaya kepada Tuhan Yesus dan Injil yang diajarkan-Nya. Percaya Tuhan Yesus bukan sekedar mengakui secara pikiran akan status dan riwayat-Nya. Iman berarti penyerahan dan penurutan/ketaatan mutlak kepada pribadi yang dipercayai [= iman Abraham]. Untuk memiliki iman taraf ini memang tidak mudah, namun diperlukan perjuangan dan usaha serius untuk mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar [Lukas 13:24, Pilipi 2:12]. Melepaskan diri dari segala miliknya, yaitu tidak mencintai dunia [Lukas 14:33, Matius 13:22].
“…aku ki kurang sabar piye to jeng? Wes puluhan tahun dikecewak’ke, disakiti atiku….tak ampuni terus..,nek wong liyo mesti wes ora tahan ngadepi wong koyo de’en, tapi nek ngene terus, opo yo aku kudu sabar terus? Kudu ngampuni terus?, aku wes kesel… capek jeng, wes cukup kesabaranku, sabar kan yo ono bates’e to jeng…” Demikian curhatan seorang ibu kepada temannya dalam menghadapi suamianya. Mungkin kita pernah mengalami saat-saat seperti itu, jenuh dan capek ketika harus terus menerus bersabar dan mengampuni anggota keluarga ataupun teman yang tak henti-hentinya menguji kesabaran kita. Sebagai manusia yang tidak sempurna, naluri dan kedagingan kita tentu tidak selamanya terkontrol. Ada kalanya emosi kita terpancing untuk membalas setiap ketidak adilan yang kita terima. Ketika kita hanya memikirkan kedagingan, maka sudah pasti amarah, dendam dan membalas ketidak adilan menjadi hal yang wajar dilakukan, mengingat manusia tidak memiliki kekuatan untuk bisa bersabar dan mengampuni. Dan kata-kata “kesabaran ada batasnya, karena manusia lemah” menjadi permakluman bagi kita. Itulah standart kita, manusia yang penuh kelemahan. Tapi ternyata bukan itu yang diinginkan Tuhan dari umatNya. Dia ingin kita memiliki standart yang sama dengan Nya dalam hal mengampuni. Dalam Matius 18:21-22, Petrus mengajukan standart tujuh kali dalam mengampuni seseorang, tapi Tuhan Yesus menginginkan kita mengampuni seseorang tujuh puluh kali tujuh. Bukan hanya sampai disitu, bahkan Tuhan Yesus mengatakan bahwa Bapa di Sorga tidak akan mengampuni kita, apabila kita tidak mengampuni orang lain dengan segenap hati. Artinya selama manusia masih mempunyai hati, selama itu pula dia harus mengampuni sampai kedasar hati, sampai segenap hati. Artinya tidak ada celah untuk tidak mengampuni kepada siapapun. Wow…..berat sekali standart yang ditetapkan Tuhan buat kita, rasanya terlalu tinggi buat manusia yang sangat lemah ini. Tapi bagi Tuhan tidak ada hal yang mustahil. Roh kuduslah yang akan terus menerus mengingatkan kita untuk berusaha mencapai standart tinggi itu. Roh kudus yang akan selalu mengajar kita menghadapi ujian kesabaran yang serasa tak ada habisnya, sampai kita bisa memenuhi standart yang diberikan Tuhan bagi kita.
Hidup dalam keharmonisan Roma 12:16 Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai! Sebuah paduan suara akan menghasilkan nyanyian yang merdu jika semua anggotanya saling menyesuaikan suara mereka. Semua jenis suara, baik sopran, alto, tenor dan bas, jika diselaraskan dengan baik akan menciptakan paduan suara yang indah. Apabila ada suara yang terlalu tinggi atau terlalu rendah itu akan mengganggu paduan suara itu dan menciptakan suara sumbang atau disharmoni. Demikian juga tidak boleh ada suara yang terlalu keras atau menonjol. Seperti halnya dengan paduan suara demikianlah kehidupan kita di dalam komunitas, baik itu di masyarakat umum, gereja, atau bahkan komunitas apa saja. Agar hidup berkomunitas menjadi indah, maka setiap orang yang ada di dalam komunitas itu harus saling menyesuaikan dirinya dengan yang lain. Semuanya harus selaras dan seimbang sehingga terjadi sebuah harmoni. Jika ada yang ingin menonjol, berkuasa, bahkan mendominasi yang lainnya, maka akan terjadi disharmoni, dan kehidupan berkomunitas menjadi tidak bisa dinikmati. Agar tercipta sebuah paduan suara yang indah maka semua anggota harus berlatih dengan disiplin. Memang dibutuhkan latihan yang cukup keras, agar tidak menjadi paduan suara yang asal-asalan. Di dalam latihan itu semua anggota belajar menyelaraskan suaranya dengan yang lain. Suara yang salah, yang tidak sesuai dengan notasi, atau yang sumbang, yang terlalu tinggi atau terlalu rendah, harus dikoreksi. Setiap anggota paduan suara harus siap dikoreksi. Jika tidak, maka dia akan mengganggu paduan suara itu. Demikian juga dalam kehidupan berkomunitas, kita perlu berlatih untuk menyelaraskan diri kita dengan yang lain. Kita harus mau dikoreksi. Memang pada waktu dikoreksi kita merasa tidak enak. Tetapi di situ akan kelihatan siapa yang sungguh-sungguh ingin hidupnya memuliakan Tuhan atau ingin menuruti kehendak hatinya sendiri. Kiranya Tuhan menolong kita sehingga dapat mewujudkan keharmonisan dalam hidup berkomunitas. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Lakukan Kebaikan
13 Februari '18
Mata Tuhan Melihat
23 Januari '18
Berakar, Bertumbuh, Berbuah
10 Februari '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang