SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 20 April 2018   -HARI INI-
  Kamis, 19 April 2018
  Rabu, 18 April 2018
  Selasa, 17 April 2018
  Senin, 16 April 2018
  Minggu, 15 April 2018
  Sabtu, 14 April 2018
POKOK RENUNGAN
“Sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.”
DITULIS OLEH
Sdr. Daud Sugiyarno
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Dalam Kebenaran
Hidup Dalam Kebenaran
Kamis, 06 Juli 2017
Hidup Dalam Kebenaran
Mazmur 1:1-6

Menjadi orang yang benar bukanlah perkara yang gampang untuk dilakukan. Terlebih pada era modern saat ini banyak sekali hal-hal yang dapat membuat iman percaya kita kepada Kristus menjadi goyah sehingga tidak lagi hidup dalam kebenaran. Di dalam Perjanjian Baru arti orang benar ialah orang yang menyadari dan mengakui bahwa dia adalah orang berdosa, bertobat dan dibenarkan. Orang benar bukanlah orang yang tidak pernah melanggar hukum Tuhan karena tidak ada manusia yang tidak pernah berbuat dosa.

Bagaimanakah kita bisa tahu apakah hidup kita sudah benar di hadapan Tuhan? Dalam Mazmur 1:1-6 dituliskan ciri orang benar. Pertama, orang benar gemar akan Firman Tuhan. Membaca dan merenungkan Firman dan melakukannya karena ia sadar bahwa dirinya adalah orang yang berdosa dan membutuhkan Firman Tuhan sebagai tuntunan hidup. Sehingga ia tidak akan lagi menggunakan hidupnya untuk melakukan perbuatan yang tidak berkenan kepada Allah. Kedua, orang benar akan selalu mendapat kekuatan dari Allah dan apa yang dikerjakan berhasil. Kekuatan dan pengharapan orang yang hidup benar adalah datangnya dari Allah karena hidupnya senantiasa berada di dekat-Nya. Sehingga ketika ia melakukan segala pekerjaan pasti akan menyerahkannya kepada tangan Tuhan yang akan membuatnya berhasil. Ketiga,...selengkapnya »
Dalam sebuah cerita ilustrasi di dalam kelas, seorang guru mulai bercerita tentang kehidupan seekor Koala. Koala ini sedang belajar melakukan yang terbaik atas apa yang diperbuatnya. Pertama-tama, ketika masih kecil, seekor Koala belajar untuk melompat, lari, dan bahkan bernyanyi. Ia terus mencoba sampai bisa. Setelah itu ia juga mencoba sesuatu yang baru, mungkin banyak waktu yang diperlukan untuk mampu melakukannya. Namun ia tetap mencoba dan belajar melakukan sesuatu yang terbaik. Bahkan ia melatih dirinya sampai ia mampu menguasainya. Ia selalu mencoba lakukan yang terbaik dengan bekerja keras. Apa yang ia telah mulai, ia berusaha untuk tetap menyelesaikan meskipun kadang tidak menyenangkan. Prinsip yang dimiliki seekor Koala ini adalah tetap melakukan yang terbaik dari setiap kegiatan yang dilakukannya. Kitab Amsal 14 merupakan salah satu bagian dari kitab Amsal yang berisikan ucapan-ucapan bijak atau yang sering kita sebut hikmat. Hikmat adalah pengetahuan dan pengertian akan apa yang benar, adil, tulus, dan jujur yang tentunya berasal dari Tuhan dan bersumber kepada Tuhan. Khusus di ayat 23, yaitu dalam tiap jerih payah ada keuntungan. Setiap manusia yang hidup pasti tidak pernah terlewatkan dari sebuah kegiatan. Baik dalam pendidikan, pekerjaan, dan pelayanan. Semua itu membutuhkan tenaga, pemikiran, dan kerja keras. Ayat ini mengingatkan bahwa setiap jerih lelah yang dilakukan akan mendatangkan keuntungan. Bukankan tahun ini target jemaat Tuhan adalah melakukan yang terbaik untuk keselamatan jiwa-jiwa? Itu berarti ada sesuatu yang harus dikerjakan, ada hal-hal yang harus diupayakan supaya dapat terpenuhi. Dari apa yang akan kita kerjakan tersebut membutuhkan yang namanya jerih lelah, butuh pengorbanan dan butuh tindakan. Melakukan yang terbaik tidak bisa hanya berdiam diri, melainkan harus berjerih lelah untuk menjangkau jiwa-jiwa bagi Tuhan. Dan pastinya dalam berjerih payah itu, butuh hikmat dari Tuhan. Saudara terkasih, kita telah dipanggil Allah untuk turut bekerja dalam ladang pelayanan di dunia ini. Kita dipanggil untuk melakukan perintah Allah, yaitu mencari dan menyelamatkan yang hilang. Kita juga alat kepanjangan tangan Tuhan untuk memberitakan Injil Tuhan. Oleh sebab itu, mari belajar melakukan yang terbaik dari setiap bagian kehidupan kita untuk menghasilkan buah yang berdampak bagi sesama. Bahkan sampai mendatangkan keuntungan bagi kemuliaan nama Tuhan.
Berdoa adalah kegiatan terpenting dalam kehidupan Gereja. Doa dikatakan sebagai nafas orang beriman, artinya adalah bahwa berdoa merupakan bagian terpenting yang tidak dapat ditinggalkan. Seperti manusia pada umumnya bernafas adalah bukti bahwa manusia itu hidup, demikian juga dengan berdoa maka Gereja akan tampak sebagai Gereja yang hidup. Di dalam doa maka terungkap bahwa orang percaya mengakui kebesaran dan kedaulatan Allah. Seperti dalam doa Tuhan Yesus yang selalu berserah diri kepada kedaulatan Bapa, “...tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” [Mat. 26:39]. Pertanyaanya adalah bagaimana supaya doa-doa kita menjadi doa yang berkualitas seperti doa Tuhan Yesus? Supaya doa-doa kita menjadi doa yang berkualitas, maka berdoalah setiap waktu di dalam Roh, dan berdoa yang tidak ada putus-putusnya untuk segala orang Kudus [Ef.6:18]. Kata “di dalam Roh” [en pneumatikos] bukan menunjuk pada “glosolali” atau bahasa lidah, tetapi bermakna berdoa yang ada dalam pimpinan kuasa Roh Kudus. Berdoa yang berkualitas adalah berdoa yang berserah penuh dalam pimpinan kuasa Roh, sehingga doa-doa kita tidak berorientasi pada doa-doa kedagingan yaitu ungkapan-ungkapan yang berkutat pada permohonan untuk diri sendiri. Doa yang ada dalam pimpinan Roh Kudus akan membawa kita semua pada penyembahan kepada Allah dan kita akan masuk dalam keintiman dengan Bapa, masuk dalam hadirat Allah. Dalam doa seperti itulah kita akan dipimpin oleh Roh untuk berkata “kehendakMulah yang jadi bukan kehendakku”. Di dalam doa yang berkualitas itu [dipimpin Roh] maka doa-doa syafaat selalu mendapat porsi yang baik [berdoa untuk segala orang kudus atau berdoa untuk pekabaran Injil]. Baiklah saudara-saudara, kita semua akan terus berdoa dalam pimpinan Roh Kudus. Bagaimana supaya kita bisa berdoa dalam pimpinan Roh Kudus? Mintalah Roh Kudus membimbing saudara ketika berdoa. Sebenarnya apa yang bisa kita berikan kepada Tuhan? Semuanya adalah milik Tuhan, Dia tidak butuh apa-apa dari kita. Tetapi Tuhan senang apabila anak-anak-Nya dekat dengan-Nya, dekat dengan Bapa, ya melalui doa. Bapa senang kalau anak-anak-Nya pada nurut, mengikuti kehendak-Nya dan untuk menjadi anak-anak penurut Bapa maka mereka harus selalu menghampiri dan mendekat, ya melalui doa. Lalu bagaimana dengan permohonan doa-doa pribadi? Jangan kuatir, kalau kita dekat dengan Bapa, maka Bapa mengetahui segala apa kebutuhanmu, tanpa kita meminta-minta Bapa kita yang bertanggungjawab penuh atas hidup kita. Amin.
Seorang guru bijak mendatangi muridnya yang tampak murung. ’Kenapa kau murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini?’ sang guru bertanya. ’Guru hidupku penuh masalah. Sulit bagiku untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya.’ jawab sang murid. Sang guru tersenyum. ’Nak, ambillah segelas air dan dua genggam garam, bawalah kemari.’ Si muridpun beranjak pelan tanpa semangat, mengambil gelas dan garam yang diminta gurunya. ’Coba ambil segenggam garam dan masukkan ke gelas air itu’, kata gurunya. ’Sekarang kau minum airnya sedikit.’ Si muridpun melakukannya. Wajahnya meringis karena minum air asin. ’Bagaimana rasanya?’ tanya sang guru. ’Asin sekali dan perutku jadi mual.’ jawab sang murid. ’Sekarang kau ikut aku.’ Sang guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat pondokan mereka. ’Ambil garam yang tersisa dan tebarkan ke danau.’ Si murid menebar garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. ’Sekarang coba kau minum air danau itu.’ kata sang guru. Si murid menangkupkan kedua tangannya mengambil air danau, dan membawa ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di kerongkongannya, sang guru bertanya kepadanya. ’Bagaimana rasanya?’ ’Segar sekali.’ kata si murid. ’Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?’ ’Tidak sama sekali’ kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang guru hanya tersenyum memperhatikannya membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas. ’Nak.’ kata sang guru setelah muridnya selesai minum. ’Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah diketahui oleh Tuhan, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia inipun demikian. Tidak ada satupun manusia, walau dia seorang nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah. Rasa ’asin’ dari penderitaan yang kita alami itu sangat tergantung dari besarnya hati yang menampungnya. Jadi nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan hati dalam dadamu itu sebesar danau.’ Si murid terdiam mendengarkan. Milikilah hati yang lapang, hati yang penuh dengan ucapan syukur dan yang sanggup menampung setiap perkara yang terjadi dalam hidup kita.
Kehidupan kita orang beriman, dalam menjalani hidup sehari-hari sangat membutuhkan tuntunan dan petunjuk dari Tuhan. Pemazmur berkata,“Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.” [Mazmur 1:1-2]. Alkitab berisi tuntunan dan petunjuk dari Tuhan. Semakin kita mempelajari firman Tuhan dan merenungkannya siang dan malam semakin kita mengerti apa kehendak Tuhan, dan apa langkah-langkah yang harus kita tempuh sehingga perjalanan hidup kita selalu beruntung dan akan memberi faedah. Di Alkitab menuliskan contoh teladan hidup orang beriman melalui empat binatang kecil, “Ada empat binatang yang terkecil di bumi, tetapi yang sangat cekatan: semut, bangsa yang tidak kuat, tetapi yang menyediakan makanannya di musim panas, pelanduk, bangsa yang lemah, tetapi yang membuat rumahnya di bukit batu, belalang yang tidak mempunyai raja, namun semuanya berbaris dengan teratur, cicak yang dapat kautangkap dengan tangan, tetapi yang juga ada di istana-istana raja.” [Amsal 30:24-28]. Semut, meskipun tergolong binatang terkecil dan lemah, ia rajin, ulet dan cekatan. Selain itu semut memiliki rasa empati yang tinggi terhadap sesamanya, mereka menopang satu sama lain dan bergotong royong. Tuhan menghendaki hal yang demikian, “Bertolong-tolonglah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” [Galatia 6:2]. Belalang, dalam waktu singkat sanggup menghabiskan hasil ladang berkat kerjasama dan ketekunannya. Walapun tanpa pemimpin. Manusia tidak dapat melakukan hal itu tanpa seorang pemimpin. Di sini manusia diajar untuk tunduk kepada pemimpin agar bisa hidup teratur. Pelanduk, binatang lemah tapi mampu membuat rumahnya di atas bukit batu sehingga ia selamat dan aman apabila badai menyerang. Kita di ajar untuk menggunakan hikmat kepandaian kita untuk bertahan hidup. Cicak bintang yang dengan mudah dapat kita tangkap tetapi juga hidup di istana raja. Mengingatkan kita walaupun lemah tetapi Allah masih memberi hikmat agar kita bisa bertahan hidup dalam bahaya sekalipun. Yesus adalah Batu Karang Keselamatan kita. Sudah seharusnya kita mempercayakan hidup ini sepenuhnya kepada Dia.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Tak Melihat Namun Percaya
18 April '18
Cintailah Gerejamu
15 April '18
Sahabat
19 April '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang