SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 15 Juli 2018   -HARI INI-
  Sabtu, 14 Juli 2018
  Jumat, 13 Juli 2018
  Kamis, 12 Juli 2018
  Rabu, 11 Juli 2018
  Selasa, 10 Juli 2018
  Senin, 09 Juli 2018
POKOK RENUNGAN
“Hidup yang dupelihara dan dijamin oleh Allah dalam Tuhan Yesus membuat jiwa kita tenang dan damai serta melahirkan rasa syukur yang dalam karena Allah beserta kita di sepanjang kehidupan kita di dunia ini.”
DITULIS OLEH
Pdt. Y. Agus Santoso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Dijamin Dan Dipelihara
Hidup Dijamin Dan Dipelihara
Senin, 24 Juli 2017
Hidup Dijamin Dan Dipelihara
Matius 7:7-11

Pak Wasis penjual bakmi jawa baru percaya Tuhan Yesus meskipun sudah lama merindukan hal tersebut karena belum ada orang yang membimbingnya untuk percaya. Melalui seorang pelanggan, ia sekeluarga diperkenalkan kepada Tuhan Yesus melalui pemberitaan 4 Hukum Rohani. Kehidupan keluarga pak Wasis dalam sehari-hari sangatlah sederhana. Beliau bersaksi tentang perbedaan yang dialami sebelum dan sesudah percaya Tuhan Yesus adalah adanya kedamaian, tidak lagi takut dan kuatir tentang masa depannya sebab hidupnya dijamin dan dipelihara di dalam Tuhan Yesus Kristus. Sekarang saat menunggu pembeli di warung bakminya pak Wasis bisa memuji Tuhan atau membaca Alkitab melalui HP yang dimilikinya. Hidup yang dijamin dan dipelihara di dalam Tuhan Yesuslah yang mendatangkan sukacita dan rasa syukur di hati keluarga pak Wasis.

Renungan kita hari ini berbicara tentang janji Tuhan Yesus Kristus kepada para murid-Nya melalui pengajaran tentang berdoa. Pokok pengajaran tentang berdoa terdapat di Matius 6:5-15, sedangkan janji Tuhan Yesus tentang pengabulan doa baru tertulis di Matius 7:7-11. Pokok ini penting disampaikan Tuhan Yesus agar para murid-Nya tetap mempercayai Allah sebab DIAlah yang memelihara dan menjamin hidup mereka. Dialah yang menjawab setiap doa yang dipanjatkan kepada ...selengkapnya »
Seorang petani akan mempersiapkan ladang dengan sungguh-sungguh sebelum ditanami dengan berbagai macam tanaman. Tanah dengan dicangkul akan menjadi gembur dan rumput-rumput yang mengganggu akan disingkirkan. Setelah ladang siap, maka benih tanaman akan ditanam di tanah yang telah dipersiapkan. Juga tidak ketinggalan diberi pupuk dengan harapan benih yang ditanam akan tumbuh dengan baik. Ketika benih yang ditanam mulai bertumbuh baik, maka si petani pasti akan bersukacita akan hal itu, karna apa yang dikerjakannya berhasil. Sukacita yang dirasakan seorang petani ketika mendapati apa yang ditanam bertumbuh dengan baik. Sama halnya dengan Bapa kita di Surga yang senantiasa menginginkan anak-anaknya dapat bertumbuh baik ke arah Kristus. Kristus adalah Guru agung kita semua. Melalui kehidupan Kristuslah kita harus belajar menjadi sama seperti Dia. Mengapa ke arah Kristus?, karna Kristus telah membawa kita kepada hidup yang kekal. Kita telah memperoleh jaminan hidup kekal. Maka dari itu kita juga harus menghargai pengorbanan-Nya dengan berusaha hidup sesuai kehendak-Nya. Bertumbuh dalam hal apa?, bertumbuh dalam hal rohani merupakan keperluan yang penting bagi umat Tuhan. Seperti yang terdapat dalam surat Filipi 3:1-10. Paulus melihat bahwa banyak orang memalsukan ibadah dengan bermegah pada hal-hal lahiriah. Paulus mengarahkan untuk menyembah kepada Allah dalam Roh pada pengenalan akan Kristus. Ia membuang semua sifat lahiriah dan menganggapnya sampah jika dibandingkan dengan Kristus. Dan pengenalan akan Kristus adalah tujuan utamanya. Maka dari itu bertumbuh secara rohani merupakan hal yang sangat penting bagi kita semua. Karena itulah yang dikehendaki Kristus bagi anak-anak-Nya Jemaat yang terkasih, mari kita bersama-sama membuat Bapa kita di surga bersukacita melalui hidup kita yang selalu bertumbuh ke arah Kristus. Bertumbuh dalam hal rohani merupakan hal yang harus kita capai. Sehingga hidup kita juga akan menghasilkan buah yang baik yang dapat dilihat oleh orang lain. Dan dengan demikian pula kita menjadi hamba yang baik, juga hidup kita dapat mempermuliakan nama-Nya.
Beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan teman lama yang hampir 4 tahun tidak bertemu. Ketika ia sedang dalam urusan pekerjaan di Semarang. Kami bertemu dan mulai membicarakan mengenai pekerjaannya yang saat ini baru mulai dirintis kembali. Namun bukan itu saja, ada hal-hal yang jauh lebih menarik yang dibahas, yaitu masa-masa pertemanan beberapa tahun yang lalu. Ada banyak cerita yang lucu dan sangat konyol pada waktu itu dilakukan. Akan tetapi pertemuan yang demikian kadang membuat kita mengenang dan belajar bahwa kita pernah menjalani pengalaman yang tidak bisa terulang di saat ini. Mungkin perpisahan dulu terjadi begitu saja karena faktor pekerjaan dan sebagainya. Namun ada juga hal-hal yang ternyata belum terselesaikan ketika dahulu pergi begitu saja. Dan pertemuan tersebut melegakan sekaligus membawa damai sejahtera. Hal-hal yang terasa mengganjal di hati dapat diselesaikan dengan sukacita. Pertemuan Yakub dan Esau juga begitu mendebarkan hati Yakub. Jauh sebelum Yakub bertatap muka dengan Esau, ada perasaan takut, kuatir, sekaligus cemas bahwa kakaknya Esau akan mengadakan perhitungan dengannya. Di dalam lubuk hatinya tersimpan perasaan yang campur aduk untuk menemui kakaknya. Apalagi ia mengingat peristiwa perpisahan dengan kakaknya yang menimbulkan sakit hati. Ia telah menipu kakak sekaligus ayahnya. Sehingga rencana untuk kembali menemui kakaknya membuatnya berpikir keras bagaimana dan apa yang harus ia lakukan untuk menghadapi kakaknya nanti. Oleh karenanya, Yakub menyuruh utusan terlebih dahulu untuk menemui Esau serta ia membagi pasukan menjadi dua kelompok, pikirnya kalau kakaknya menyerang, kelompoknya yang belakang dapat melarikan diri. Yakub juga mengirimkan banyak hadiah untuk Esau untuk mendapatkan belas kasihnya [ayat 3-21]. Setelah Yakub bergumul dengan Allah, hatinya mulai yakin untuk bertemu dengan Esau. Namun apa yang terjadi ketika keduanya bertemu? Mereka saling tangis-tangisan [ayat 4]. Artinya adalah sudah tidak ada lagi dendam di dalam hati Esau. Maka damailah hati Yakub karena pertemuan tersebut. Jemaat yang terkasih, jikalau di dalam hati kita menyimpan banyak kegundahan, kegalauan karena sesuatu yang belum beres, maka hati kita tetap akan merasa gelisah, takut, dan kuatir. Apalagi kalau kita menyimpan kesalahan orang lain atau kita pernah melukai orang lain dan belum ada pemberesan, maka hati kita tidak akan merasa damai yang sejati. Oleh karena sebuah pertemuan akan menyelesaikan setiap masalah jikalau kita terlebih dahulu bergumul dengan Tuhan untuk meminta hikmat-Nya.
Sepulang sekolah, Temo tidak langsung pulang ke rumah. Tetapi hari itu Temo langsung menuju Rumah Sakit di Kota tempat sekolahnya. Ternyata Temo mengunjungi Tinayanti saudara sepupunya yang habis kecelakaan motor. Ketika di Rumah Sakit, Temo melihat dokter yang menatap seorang gadis terbaring lemah dengan kaki dan tangannya dibalut perban. Tiba-tiba dokter bertanya kepada Temo: “ Apakah kamu saudara kadungnya ? Jawab Temo: “ Tidak Pak, Kenapa dokter ?”. Tetapi dokter meminta Temo untuk memanggil semua anggota keluarganya. Dokter itu menjelaskan bahwa sepupu Temo ini hanya dapat hidup dengan transfusi darah, karena dia telah kekurangan banyak darah akibat kecelakaan itu. Setelah semua terkumpul, mereka di cek darah untuk menemukan darah yang cocok dan layak untuk diambil darahnya. Dan satu-satunya yang dapat memenuhi syarat diambil darahnya adalah adik sepupunya yang kecil. Dia adalah Toni adik kandung Tinayanti yang kecelakaan. Maka dokterpun berjongkok lalu berkata dengan lembut kepada Toni, “ Toni, kakakmu sangat menderita dan sangat membutuhkan darah supaya ia dapat sembuh, dan sehat kembali. Kalau kakakmu tidak segera mendapatkan darah akan segera mati. Maukah adik memberikan darah untuk kakak ?”. Mata Toni yang baru berusia 6 tahun itu terbelalak. Dokter dan keluarga Temo memandang Toni kecil dalam keadaan takut dan bingung menanti jawabanya. Tetapi tak lama kemudian, Toni pun mengangkat kepalanya dan berkata dengan sangat mantap, “ Tentu dokter, saya bersedia.” Maka segera Toni diambil darahnya. Setelah darahnya mulai ditransfusikan ke dalam tubuh Tinayanti kakak yang sangat di cintai Toni, iapun berdiri dekat dokter lalu dengan pelan tapi sangat jelas ia bertanya sambil memegang tangan dokter, “ Dokter, darah saya sudah diambil dan sedang kuberikan kepada kakakku. Kapan aku akan mati, dokter ?” Mendengar perkataan itu dokter dan keluarga Temo baru memahami dan menyadari arti pengorbanan yang sejati dari seseorang kepada orang yang ia kasihi. Ia telah mempersembahkan hidupnya melalui darahnya untuk menyelamatkan hidup kakaknya. Toni ini mengingatkan kita akan perkataan Tuhan Yesus, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” Yohanes 15:13. Tuhan Yesus menumpahkan darah-Nya di kayu salib untuk menyelamatkan hidup kita semua dari kematian kekal akibat dosa. Sekarang marilah bertobat, melakukan perintah-Nya dan mempercaya hidup kita sepenuhnya kepada Yesus yang telah mengorbankan diri-Nya untuk kita yang seharusnya mendapatkan hukuman Maut. Amin.
Belajarlah kepada Yesus Matius 11:28-29 Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Kehidupan kita tidak lepas dari yang namanya belajar. Dengan belajar kita bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Dengan belajar kita bisa mengatasi masalah demi masalah dalam hidup kita. Sepanjang hidup kita akan dan harus terus menerus belajar. Belajar bukan hanya di sekolah, tetapi di dalam kehidupan nyata ini. Bahan yang kita pelajari bukan hanya yang tertulis di buku, tetapi yang ada di kehidupan kita. Pengalaman bukan guru kita. Pengalaman hanyalah bahan pelajaran, sedangkan Guru Agung kita adalah Tuhan Yesus. Yesus memanggil kita bukan hanya untuk lepas dari beban hidup kita yang berat, tetapi juga untuk belajar kepada Dia. Dia adalah Guru dan Tuhan kita, yang ingin menuntun perjalanan hidup kita menuju kepada rencana-Nya yang Agung. Namun untuk sampai kepada rencana Agung itu diperlukan perjuangan, yaitu dengan belajar kepada Dia. Apa yang Tuhan inginkan adalah kita belajar untuk taat kepada kehendakNya. Seringkali kita sulit untuk taat kepada kehendak-Nya. Namun bukan berarti itu adalah perkara yang mustahil. Taat kepada kehendak Tuhan membutuhkan kemauan dan juga usaha untuk belajar. Belajar mengerti kehendak-Nya dengan tepat. Belajar untuk memahami maksud-Nya yang baik. Belajar mengendalikan keinginan diri kita sendiri. Firman Tuhan berkata: ’Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu. Janganlah seperti kuda atau bagal yang tidak berakal, yang kegarangannya harus dikendalikan dengan tali les dan kekang, kalau tidak, ia tidak akan mendekati engkau. [Mazmur 32:8-9] Marilah belajar kepada Yesus, belajar mengikuti kehendak-Nya, sehingga hidup kita akan semakin serupa dengan diri-Nya. Tuhan memberkati. Pdt. Goenawan Susanto
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Mempertahankan Kemenangan
05 Juli '18
Bukan Batu Sandungan
28 Juni '18
Belajarlah Kepada Yesus
01 Juli '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang