SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 27 Mei 2018   -HARI INI-
  Sabtu, 26 Mei 2018
  Jumat, 25 Mei 2018
  Kamis, 24 Mei 2018
  Rabu, 23 Mei 2018
  Selasa, 22 Mei 2018
  Senin, 21 Mei 2018
POKOK RENUNGAN
“Ajar kami Tuhan menghitung hari-hari, agar kami beroleh hati bijaksana.....”
DITULIS OLEH
Ibu Rini Handoyo
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Menghitung Hari-Hari
Menghitung Hari-Hari
Selasa, 21 November 2017
Menghitung Hari-Hari
Mazmur 90:12

“Ajar kami Tuhan, menghitung hari-hari…. Agar kami beroleh hati bijaksana…….” Lagu lama yang kata-katanya diambil dari kitab Mazmur 90:12 itu tiba-tiba saja terlintas dibenak saya. Dan langsung saja saya rengeng-rengeng sambil membereskan tugas-tugas rumah tangga. Mulut saya terus menyanyikan lagu itu berulang-ulang, sementara pikiran saya terus menerus mencerna kata-kata dalam lagu itu.

Mengapa pemazmur meminta kepada Tuhan untuk mengajarnya? Mengapa tidak meminta diajar oleh guru, oleh suami atau istri, atau teman? Jawabannya sederhana, karena manusia terbatas hikmatnya, manusia tidak selalu bisa menjadi tempat belajar karena manusia banyak kekurangannya, karena manusia tidaklah sempurna. Kalau kita belajar dari manusia belum tentu kebijaksanaan yang kita dapat, mungkin kekecewaan, atau malah kemarahan. Tapi ketika Tuhan sendiri yang mengajar kita, sudah pasti hikmat kita akan bertambah dan kebijaksanaan akan kita peroleh.

Mengapa pemazmur minta diajar untuk menghitung hari-hari? Mengapa bukan menghitung berkat-berkat, menghitung kesulitan demi kesulitan, menghitung persoalan yang ada? Karena dalam set...selengkapnya »
Hari yang telah lama dinantikan, akhirnya tiba juga. Pada siang, tanggal 1 Mei 2018, Benay menapakkan kakinya di Bandara Ahmad Yani. Tidak ada kerabat yang menjemputnya. Sambey sahabatnya pun tidak. Maklum, Benay memang tidak ingin kedatangannya diketahui oleh mereka. Dengan taxi bandara ia pun meluncur menuju rumah paman yang sudah sangat dirindukannya. Namun malang tak bisa ditolak. Benay terjebak macet. Ia lupa jika hari itu adalah Mayday, peringatan hari buruh sedunia. Iring-iringan demonstrasi buruh menyemarakkan kota Semarang. Hati Benay kesal sekali dibuatnya. Dari spion tengah, sopir taxi melihat gelagat kekesalan Benay. “Mas, sabar ya? Ini hari mereka.” “Tahukah Mas, latarbelakang peringatan Mayday ini?” tanya pak sopir. Benay mengangguk pelan. “Peristiwanya terjadi pada tanggal 1 Mei 1886. Sebanyak 80.000-an buruh di Amerika Serikat mengadakan demontrasi menuntut pengurangan jam kerja. Saat itu jam kerja buruh sangat tidak manusiawi. Buruh harus bekerja 18 – 20 jam/hari dan tidak ada yang mempedulikan nasib buruk mereka. Demonstrasi itu ditanggapi dengan tembakan senapan yang menewaskan ratusan buruh”, kata Benay. “Baguslah kalau Mas tahu sejarahnya. Kelak jika Mas jadi boss dan mempunyai bawahan, berusahalah untuk berlaku adil dan jujur kepada mereka.” Jemaat yang terkasih. Mayoritas jemaat Kristen mula-mula terdiri dari para budak dan hamba sahaya. Hanya sedikit orang berpendidikan dan orang kaya. Kala itu orang-orang kecil sangat tertarik dengan kekristenan yang mengajarkan bahwa di hadapan Allah semua orang sama. Allah tidak memandang suku-bangsa, status sosial dan jenis kelamin. Dan dengan demikian setiap orang berhak menerima janji Allah [Galatia 3:26-29]. Di sisi lain, bagi orang-orang berstatus sosial tinggi yang tidak ingin kehilangan prestise, menjadi Kristen adalah pergumulan berat. Namun oleh anugerah Allah, ada juga orang-orang terpandang yang dengan sukacita beriman pada Yesus Kristus.Kepada orang-orang kaya dan berpangkat inilah Allah memberikan perintah agar mereka berlaku adil dan jujur kepada para hambanya. Sebab dengan berlaku demikian itu mereka mewujud-nyatakan sifat Allah yang adil dan jujur pada setiap orang. Jemaat yang dikasihi Tuhan. Kita jarang sekali turut mengucapkan selamat hari buruh. Padahal diantara jemaat tentu ada yang bekerja sebagai buruh. Mungkin di benak kita peringatan ini tidaklah penting atau malah mengganggu saja.Namun setidaknya peringatan hari buruh dapat mengingatkan kita akan martabat setiap orang di hadapan Tuhan adalah sama.Dan dengan demikian jika kebetulan kita berstatus sebagai buruh, janganlah berkecil hati. Teruslah berjuang. Bekerjalah dengan tekun dan ulet. Atau kebetulan kita mempekerjakan pembantu rumah tangga atau karyawan di toko atau di perusahaan yang kita kelola, berlakulah adil dan jujur kepada mereka. Perlakukanlah mereka sebagai rekan kerja. Berkatilah dengan memberi upah yang layak untuk mereka terima.Selamat Hari Buruh. Terpujilah Tuhan!
Mas Noto seorang pemuda lugu dari desa lereng pegunungan Bromo di Jawa Timur akan berangkat bekerja di Jakarta sebagai manajer pemasaran dari Bank Lippo. Alumni salah satu Universitas Terkenal di Surabaya jurusan Ekonomi Manajemen ini memang tergolong pemuda cerdas dan berprestasi sehingga Bank Lippo berminat merekrut menjadi pegawainya. Saat sebelum berangkat ke Jakarta dia mengadakan persekutuan doa dan syukuran di desanya. Ada banyak pesan dan harapan yang disampaikan kepada dirinya baik dari Bapak Gembala, Bapak Lurah, juga orang tuanya sendiri sebagai bekal dirinya berjuang di Jakarta. Dari sekian banyak pesan yang disampaikan hanya satu pesan yang senantiasa dia ingat dan lakukan dengan segenap hati yaitu pesan dari ayahnya tercinta. Bagi dia pesan sang ayah merupakan hal yang patut diingat dan dilakukan karena sang ayah sangat kenal dirinya dan kebutuhannya. Tiga tahun kemudian Mas Noto sudah menjadi orang sukses dan penting di jajaran Bank Lippo dan mulai mencari anak desa untuk bergabung bekerja dengan dirinya. Nats yang tertulis di atas merupakan pesan penting yang Tuhan Yesus sampaikan kepada para murid sebelum diri-Nya terangkat ke Surga. Pesan itu disampaikan saat menjawab pertanyaan para murid. Ternyata pesan tersebut berisi dua hal penting dan satu hal di sampaikan oleh Para Malaikat kepada para murid-Nya. Pesan tersebut antara lain. Pertama, mereka tidak perlu tahu kapan waktu yang tepat saat pemulihan bangsa Israel terjadi. Sebab hal ini merupakan wewenang dari Bapa di Surga [ayat 7]. Kedua, sekarang yang harus mereka kerjakan sepeninggal Tuhan Yesus adalah sebagai saksi – saksi dari karya penebusan Tuhan Yesus di kayu salib bagi keselamatan orang berdosa. Wilayah kesaksian mereka adalah dari Kota Yerusalem sampai ke ujung bumi [ayat 8]. Tugas itu akan mereka kerjakan setelah mereka menerima Roh Kudus sampai Tuhan Yesus datang kembali ke dunia ini. Dan salah satu pesan Malaikat yang disampaikan kepada mereka adalah tentang kembalinya Tuhan Yesus ke bumi untuk kedua kalinya sejak kenaikan diri-Nya Ke Surga. Pesan itu hendak menegaskan bahwa suatu saat Tuhan Yesus pasti kembali ke dunia ini untuk menjemput kita yang percaya dan menjadi murid-Nya. Sudahkah kita melakukan pesan Tuhan Yesus di atas sebagai bukti bahwa kita adalah murid – murid-NYa.
Katarak merupakan penyakit mata yang bisa mengakibatkan kebutaan, namun sebenarnya penyakit ini bisa diatasi oleh dokter dengan operasi katarak. Bisa dibilang sakit ini tidak berbahaya apabila segera diatasi, tetapi akan menjadi sangat berbahaya ketika penyakit ini dibiarkan terus menerus menebal menutup seluruh bagian-bagian di dalam mata. Persoalannya adakah tindakan untuk menghilangkan katarak penyakit penghalang penglihatan manusia itu? Penghalang atau perintang, selalu mempersulit sesuatu. Semuanya jadi tidak lancar, terhambat sehingga tidak sampai pada sesuatu yang diinginkan, sehingga berakhir dengan persoalan serius, menyebabkan kegagalan. Dua murid Yesus yang sedang berjalan ke Emaus, dengan perasaan kecewa dan berduka harus pulang ke daerah asalnya sendiri, karena mereka mengira bahwa drama eksekusi yang berakhir kematian Yesus merupakan akhir dari segalanya, akhir dari sosok Guru Agung yaitu Yesus Kristus dengan segala ajaran dan harapan-harapan yang dibangun-Nya. Ketika mereka di perjalanan sedang bercakap-cakap bertukar pikiran tentang Yesus orang Nasaret, tiba-tiba datanglah Yesus yang tidak mereka kenal, karena ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga tidak mengenali Yesus. Ketika Yesus menanyakan hal apa kiranya yang terjadi, maka mereka menjelaskan tentang apa yang terjadi tentang Yesus. Kemudian Yesus berkata kepada mereka dengan perkataan “hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya....” [a.25]. Jadi yang menutupi [penghalang] mereka terhadap Yesus adalah hati mereka yang lamban. Saudara kekasih, hati yang lamban selalu menjadi peghalang kita kepada Tuhan. Kita sulit memahami kebesaran dan kebaikan Tuhan bahkan banyak juga orang kristen yang tidak bertumbuh karena hati yang lamban. Seperti apakah hati yang lamban? Yaitu: hati yang dipenuhi dengan perasaan duka, kecewa, kepahitan, tidak ada pengampunan, kurang percaya, bebal, dsb. Hati yang lambat terbuka untuk firman tetapi cepat menerima banyak hal yang negatif sulit untuk melihat karya Tuhan yang besar, sulit bertumbuh dan sulit menerima jawaban Tuhan. Bagaimana dengan saudara saat ini? Bukalah lebar-lebar hati kita untuk firman, dan tutuplah hatimu dari segala hal yang menyebabkan kebodohan dan kelambanan hati. Amin.
Suatu ketika seorang pria berkonsultasi dengan Norman Vincent Peale. Ia tampak sedih. ’Semuanya telah hilang. Tidak ada lagi yang saya miliki dalam hidup ini. Tak ada harapan lagi, aku sekarang hidup dalam kegelapan yang amat dalam. Aku telah kehilangan hidup ini’, kata pria itu. Norman Vincent Peale, penulis buku ’The Power of Positive Thinking’, tersenyum dan berkata: ’Mari kita pelajari keadaan anda.’ Pada selembar kertas ia menggambar sebuah garis lurus dari atas ke bawah tepat di tengah-tengah halaman. Ia menyarankan agar pada kolom kiri pria itu menuliskan apa-apa yang telah hilang dari hidupnya. Sedangkan pada kolom kanan, ia menulis apa-apa yang masih dimiliki. ’Kita tak perlu mengisi kolom sebelah kanan, aku sudah tak punya apa-apa lagi.’ kata pria itu . ’Lalu kapan kau bercerai dari istrimu?’ tanya Norman. ’Aku tidak bercerai dari istriku. Ia amat mencintaiku!’ jawab pria itu. ’Mari kita catat itu sebagai nomor satu di kolom sebelah kanan ’Istri yang amat mencintai’. Nah, sekarang kapan anakmu itu masuk penjara?’. ’Anda ini konyol sekali. Tak ada anakku yang masuk penjara!’jawab pria itu ’Bagus! Itu nomor dua untuk kolom sebelah kanan. Anak-anak tidak berada dalam penjara.’ kata Norman. Setelah beberapa pertanyaan dengan nada yang serupa, akhirnya pria itu menyadari banyak hal bagus yang dia miliki, ia mulai tersenyum dan bahkan tertawa, menyadari betapa dia masih memiliki banyak sekali hal yang menyenangkan, keluarga yang baik, pekerjaan yang baik, teman yang baik, dan banyak hal yang baik yang bisa kita gali dalam kehidupan kita. ’Luar biasa, betapa segala sesuatunya berubah ketika kita berpikir positif, berpikir yang baik-baik,’ katanya.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Pola Pikir Yang Benar Seorang Anak Tuhan
22 Mei '18
Jangan Digantikan
21 Mei '18
Berlaku Adil Dan Jujur Terhadap Hambamu
11 Mei '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang