SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 12 Desember 2017   -HARI INI-
  Senin, 11 Desember 2017
  Minggu, 10 Desember 2017
  Sabtu, 09 Desember 2017
  Jumat, 08 Desember 2017
  Kamis, 07 Desember 2017
  Rabu, 06 Desember 2017
POKOK RENUNGAN
“Ajar kami Tuhan menghitung hari-hari, agar kami beroleh hati bijaksana.....”
DITULIS OLEH
Ibu Rini Handoyo
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Menghitung Hari-Hari
Menghitung Hari-Hari
Selasa, 21 November 2017
Menghitung Hari-Hari
Mazmur 90:12

“Ajar kami Tuhan, menghitung hari-hari…. Agar kami beroleh hati bijaksana…….” Lagu lama yang kata-katanya diambil dari kitab Mazmur 90:12 itu tiba-tiba saja terlintas dibenak saya. Dan langsung saja saya rengeng-rengeng sambil membereskan tugas-tugas rumah tangga. Mulut saya terus menyanyikan lagu itu berulang-ulang, sementara pikiran saya terus menerus mencerna kata-kata dalam lagu itu.

Mengapa pemazmur meminta kepada Tuhan untuk mengajarnya? Mengapa tidak meminta diajar oleh guru, oleh suami atau istri, atau teman? Jawabannya sederhana, karena manusia terbatas hikmatnya, manusia tidak selalu bisa menjadi tempat belajar karena manusia banyak kekurangannya, karena manusia tidaklah sempurna. Kalau kita belajar dari manusia belum tentu kebijaksanaan yang kita dapat, mungkin kekecewaan, atau malah kemarahan. Tapi ketika Tuhan sendiri yang mengajar kita, sudah pasti hikmat kita akan bertambah dan kebijaksanaan akan kita peroleh.

Mengapa pemazmur minta diajar untuk menghitung hari-hari? Mengapa bukan menghitung berkat-berkat, menghitung kesulitan demi kesulitan, menghitung persoalan yang ada? Karena dalam set...selengkapnya »
Kejujuran dan kepercayaan Amsal 22:1 Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas. Pada hari Kamis tanggal 16 November 2017 terjadi sebuah kecelakaan tunggal. Sebuah mobil menabrak tiang lampu penerangan jalan [bukan tiang listrik seperti kata banyak orang]. Meskipun tidak dalam kecepatan tinggi kelihatannya mobil itu rusak parah bagian depannya. Seorang penumpang di dalam mobil itu mengalami cedera berupa memar di kepalanya. Para pembaca pasti tahu siapa yang saya maksud. Banyak orang tidak percaya bahwa itu adalah kecelakaan yang murni, walaupun tidak ada yang berani memastikan bahwa itu adalah sebuah rekayasa. Berbagai macam penjelasan diberikan oleh pihak yang mengalami kecelakaan itu. [Memang sungguh aneh bahwa seorang yang mengalami kecelakaan harus meyakinkan kepada publik bahwa dirinya benar-benar mengalami kecelakaan]. Tapi biarpun diyakinkan sedemikian rupa publik tetap tidak percaya terhadap penjelasan pihak yang mengalami kecelakaan itu. Banyak orang mengalami kecelakaan, tapi tidak perlu berusaha meyakinkan publik bahwa dirinya telah mengalami kecelakaan. Tidak perlu dijelaskan apalagi diyakinkan juga orang-orang sudah tahu bahwa telah terjadi kecelakaan atas orang tersebut. Tapi mengapa yang satu tadi berbeda? Karena publik sudah tidak percaya kepada orang yang mengalami kecelakaan itu. Andaikan dia sebenarnya sungguh-sungguh mengalami kecelakaan pun, publik tetap tidak percaya. Mengapa bisa demikian? Masalahnya adalah soal kepercayaan publik terhadap track record orang tersebut. Apa pelajaran yang bisa kita petik dari kejadian ini? Pelajaran yang bisa kita petik dari peristiwa ini adalah: 1. Nama baik [reputasi] itu sesuatu yang sangat berharga. Firman Tuhan berkata bahwa nama baik itu lebih berharga daripada kekayaan yang besar. Punya kekayaan yang besar tetapi kalau tidak mempunyai nama baik hidup kita tidak ada nilainya. 2. Kepercayaan dari publik tidak bisa diganti dengan penjelasan apapun. Publik menilai kejujuran kita dari track record kita. Kalau track record jelek tidak bisa dihapus dengan penjelasan apapun. Kita hanya bisa menjaga agar track record kita tetap baik. Berjalanlah dalam kebenaran, maka hidupmu akan beruntung. Tuhan memberkati. Pdt. Goenawan Susanto
Karya terbesar Yohanes 3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Dua minggu lagi kita akan memperingati hari Natal, hari kedatangan Sang Juruselamat dunia. Kedatangan Kristus sang Mesias telah memulai sebuah zaman baru dalam sejarah dunia ini, yaitu zaman anugerah keselamatan. Kedatangan Kristus memulai sebuah karya agung penyelamatan manusia dari dosa. Untuk mewujudkan sebuah rencana yang besar pasti dibutuhkan pengorbanan yang besar pula. Sebagai contoh, kalau sebuah produser film ingin membuat sebuah film yang fenomenal, seperti sebuah film kolosal, pasti harus mengeluarkan modal yang besar, harus mencari sutradara yang terbaik, pemeran yang terbaik, dan produsernya pasti mau memastikan bahwa semua berjalan dengan baik. Penyelamatan manusia agar dilepaskan dari belenggu dosa adalah sebuah pekerjaan yang maha besar, paling besar di segenap alam semesta. Untuk pekerjaan yang maha besar ini, Allah rela memberikan yang terbaik dari diri-Nya, yaitu Putra Tunggal-Nya. Untuk menyelamatkan manusia dari belenggu dosa memang membutuhkan biaya yang besar. Allah harus mengerjakan langsung pekerjaan ini. Dari hal ini kita bisa melihat betapa besarnya karya penyelamatan manusia, yaitu sebesar pengorbanan yang diberikan oleh Allah sendiri. Allah sendiri harus turun ke dunia dan menjelma menjadi manusia. Kita bersyukur karena hidup kita sebagai manusia begitu berharga bagi Allah, sehingga Dia rela untuk membayar harga yang begitu mahal untuk menyelamatkan kita. Demikian juga jika kita diajak untuk terlibat di dalam pekerjaan yang begitu besar dan mulia ini, kita patut menghargainya dan mengerjakannya dengan segenap hati. Tuhan Yesus mengajak kita untuk ikut terlibat di dalam pekerjaan yang besar ini. Kalau kita sudah diselamatkan dan telah mendapat jaminan hidup yang kekal, marilah kita peduli kepada jiwa-jiwa di sekitar kita yang masih memerlukan keselamatan. Ikutlah ambil bagian dengan mendoakan mereka dan memberikan kesaksian yang baik dari hidup kita yang telah ditebus oleh darah Yesus. Tuhan memberkati kita semua. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
Biasanya ketika seseorang menciptakan atau membuat sesuatu pada pertama kalinya tidak serta merta sempurna, pasti ada trial and error atau percobaan-percobaan dan ada kesalahan-kesalahan pada ciptaannya. Dan dibutuhkan beberapa kali percobaan sehingga sesuatu yang diciptakan itu menjadi sempurna. Tapi tidak demikian dengan pencipta manusia. Tuhan menciptakan manusia hanya dengan sekali bentukan saja [Kejadian 2:7] dan jadilah manusia yang sempurna. Tidak ada kesalahan dalam penciptaan-Nya. Hal yang detail dari fisik manusia sampai pikiran, perasaan, hati, semua sudah diperhitungkan dengan sempurna oleh Pencipta kita. Dia tahu bahwa hati dan pikiran manusia akan mudah dikuasai oleh hal-hal yang terjadi dalam kehidupannya. Karena itu melalui hamba-hamba-Nya, Allah menyampaikan Firman yang merupakan guidebook bagi manusia untuk menjalani kehidupan ini. Salah satu Firman-Nya yang disampaikan kepada Yosua adalah “Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi RENUNGKANLAH itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis didalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung”. Dia tahu benar bahwa masalah-masalah yang ada di sekitar kita, pencobaan yang sedang terjadi, sakit-penyakit yang sedang dirasakan akan selalu memenuhi seluruh pikiran manusia sepanjang hari. Karena itu Dia mengingatkan kita supaya yang menjadi perenungan kita baik waktu siang maupun waktu malam hari adalah Firman Tuhan. Bukan masalah, persoalan, pencobaan dan sakit-penyakit. Ketika pikiran kita dipenuhi perenungan akan masalah, persoalan, pencobaan, sakit penyakit, tidak akan ada jalan keluar, tidak akan ada damai sejahtera, dan sudah tentu apa yang menjadi rencana Tuhan dalam hidup kita akan sulit digenapi. Tetapi ketika kita belajar untuk memenuhi pikiran kita dengan perenungan Firman-Nya, Firman itu yang akan menuntun kita berpikir jernih sehingga kita bisa bertindak hati-hati, perjalanan melalui hidup ini akan berhasil, dan kita akan beruntung. Masalah, persoalan, pencobaan, sakit penyakit biar saja ada dalam kehidupan kita, tapi jangan biarkan itu semua menjadi perenungan dalam pikiran dan hati kita sepanjang hari. Biarlah hanya Firman Tuhan saja yang menjadi perenungan dalam hati dan pikiran kita baik waktu siang dan malam hari.
Seorang ibu dengan tubuh lemah terbaring di atas tempat tidur. Ia sudah seminggu lebih menjalani rawat inap di sebuah rumah sakit. Kondisi sakitnya bisa dibilang lumayan parah. Bahkan karena sulit bernafas, maka dokter harus memasang alat dengan membuat lubang di pangkal lehernya. Tetapi kesan sedih tidak terpancar dari wajahnya. Setiap kali sahabat, kerabat, dan kenalan datang menjenguknya, senyuman selalu terlihat mengembang di bibirnya. Ketika mengalami kesulitan berbicara, ia selalu mengangkat dan menggerakkan kedua jari telunjuknya ke atas dan kemudian mengacungkan kedua jempol tangannya seolah-olah ingin berkata, “Tuhan selalu baik.” Ia begitu tabah hati menghadapi sakitnya. Untuk tabah bukanlah perkara yang mudah. Tabah bukan sekedar sabar, tetapi jauh lebih dari itu. Ada sisi panjang sabar di dalamnya. Karena ketabahan berarti ketahanan [daya tahan] untuk bersabar dalam menghadapi penderitaan, kesukaran, pergumulan, dsb. Bisa dibilang ketabahan adalah ketekunan untuk terus menerus bersabar. Sikap itulah yang dinasihatkan oleh Paulus kepada para penumpang dan crew kapal yang ditumpanginya menuju Roma ketika mereka diombang-ambingkan oleh angin badai yang besar di tengah lautan. Berhari-hari mereka harus berjuang dan bertahan hidup mengatasi ganasnya gelombang. Tidak bisa tidur dengan nyenyak, tidak bisa makan dengan enak. Selalu kuatir karena nyawa yang terancam. Putus asa karena berbagai cara diusahakan untuk menyelamatkan diri tetapi tidak membawa hasil. Cukup berat situasi yang harus mereka hadapi. Fisik mereka capek, energi mereka terkuras, mental mereka kelelahan dan semakin lemah. Tentu dibutuhkan ketabahan hati untuk tetap bertahan. Ketika semua orang mengalami keputusasaan dan kehilangan harap, Paulus tetap tabah hati. Apa yang membuatkan tetap tabah? Ia tetap tabah karena percaya kepada Allah yang sanggup memelihara dan menyelamatkan dari situasi sulit yang sedang dihadapinya. Percaya kepada penyertaan dan pemeliharaan Allah-lah yang membuatnya tetap tabah; tetap bertahan dan kuat menghadapi kesukaran; tetap bertekun dalam kesabaran menanti pertolongan Tuhan. Sehingga dalam situasi sesulit dan seberat apapun, ia tetap optimis, tetap semangat, dan selalu menghadapi semuanya dengan senyuman sukacita. Pengharapannya tidak pernah pupus. Jemaat Tuhan yang terkasih, kita bisa berespon seperti ibu yang sedang menjalani perawatan dan juga seperti rasul Paulus saat menghadapi penderitaan, kesakitan, musibah, kerugian ataupun pergumulan-pergumulan berat lainnya. Dengan tetap tabah hati, maka hidup kita akan lebih terasa ringan dan lebih mudah. Oleh sebab itu Pandanglah saja kepada Yesus yang penuh cinta dan kasih setia.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Kejujuran Dan Kepercayaan
26 November '17
Hidup Bersama Mertua
14 November '17
Mencari Yang Terhilang
18 November '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang