SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 21 Januari 2018   -HARI INI-
  Sabtu, 20 Januari 2018
  Jumat, 19 Januari 2018
  Kamis, 18 Januari 2018
  Rabu, 17 Januari 2018
  Selasa, 16 Januari 2018
  Senin, 15 Januari 2018
POKOK RENUNGAN
Perjumpaan pribadi dengan Tuhanlah yang membuat kita kuat dalam menghadapi cobaan hidup.
DITULIS OLEH
Sdr. Daud Sugiarno
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Perjumpaan Yang Mengubahkan
Perjumpaan Yang Mengubahkan
Kamis, 14 September 2017
Perjumpaan Yang Mengubahkan
Lukas 2:8-20

Allah menyampaikan pesan mengenai kelahiran Sang Juruselamat, yaitu Yesus Kristus kepada para gembala-gembala domba di padang pada waktu itu. Dan dari gembala-gembala inilah berita paling baik dan paling mengherankan yang pernah didengar diberitakan kepada orang-orang banyak. Berita ini yang ditunggu-tunggu karena Mesias yang dinantikan telah datang ke dunia sebagai Juruselamat.

Mari kita melihat bagaimana para gembala meresponi dan menanggapi berita yang mereka dengar dari malaikat itu. Pertama, mereka segera pergi ke Betlehem untuk melihat sendiri. ‘Maka mereka cepat-cepat berangkat’ [ayat 16], dan mendapatkan apa yang mereka cari. Reaksi mereka bukan hal percaya atau tidak percaya, melainkan ingin tahu, tanpa prasangka. Hal ini yang patut untuk kita ikuti, yaitu memiliki kepercayaan yang penuh kepada Tuhan tanpa berprasangka buruk terhadap Tuhan, serta ketika kita sungguh-sungguh mencari Tuhan pasti kita akan mendapati-Nya. Kedua, setelah para gembala melihat Yesus, mereka tidak berdiam diri saja. Namun mereka memberitahukan apa yang mereka lihat dan dengar. Mereka tidak menyimpan berita baik itu hanya untuk diri sendiri, mereka ingin semua orang mengetahuinya. Hal ini juga seharusnya dapat mendorong kita untuk juga mengabarkan Injil kepada semua orang dan...selengkapnya »
Pada pertengahan bulan Desember 2017, di rumah nenek saya ada acara keluarga besar. Mulai dari keluarga tertua sampai yang termuda berkumpul di sana, bahkan mengundang tetangga-tetangga dan saudara. Acara tersebut sudah direncanakan dan dibicarakan bersama. Sehingga membutuhkan persiapan yang cukup supaya acara berjalan lancar. Mereka membagi tugas, para ibu dan wanita bagian dapur, yaitu mulai dari belanja sampai masak-memasak. Bagian para bapak dan pria mempersiapkan tempat. Ada yang mengecat rumah, ada yang memasang lampu tambahan untuk penerangan dan sebagainya. Semua sudah dipersiapkan sesuai dengan rencana. Namun, terjadi keterlambatan saat penyajian makanan, karena orang yang membantu membagikan makanan jumlahnya sedikit. Di saat seperti itu, mungkin ada perasaan tidak enak [sedikit panik] dengan para tamu yang hadir karena harus menunggu cukup lama. Tetapi semua dapat di atasi. Para tamu masih sabar menanti karena pada saat itu juga sedang hujan turun. Sehingga mereka tidak terburu-buru meninggalkan acara tersebut. Hal yang hampir sama juga pernah dialami ketika ada perkawinan di Kana. Saat itu keluarga mempelai kehabisan anggur untuk disajikan kepada para tamu. Sehingga muncul kepanikan dan perasaan tidak nyaman ketika mendengar masalah tersebut. Karena dalam tradisi Yahudi, anggur memainkan peranan penting dalam pesta perkawinan. Keluarga mempelai tentu sangat malu jika tidak bisa memberikan sajian anggur tersebut. Sehingga masalah tersebut harus segera dicarikan solusinya karena para tamu tidak mungkin menunggu beberapa jam, hari, bahkan minggu karena itu adalah pesta perkawinan. Dalam kondisi tersebut, tidak mungkin mempelai sendiri yang mencari solusinya. Dan ketika Maria mengetahui masalah tersebut, Maria dengan sigap mencari solusi, yaitu dengan datang kepada Yesus. Maria sangat percaya bahwa Yesus sanggup menyelesaikan masalah tersebut. Yesus sanggup memberikan jawaban yang tepat untuk mengatasi kondisi tersebut. Masih di minggu awal tahun 2018 ini mari kita melihat bahwa masalah tidak mungkin tidak ada. Beban dan tanggung jawab semua juga tentu ada. Namun mari kita melihat bahwa Tuhan Yesus selalu ada untuk memberikan solusi dan jawaban. Rasa panik dan kekuatiran mungkin juga muncul di saat-saat yang mendesak, tetapi mari kita belajar untuk menyerahkan segala sesuatunya itu kepada Tuhan yang mampu memberikan jawaban atas kehidupan kita. Karena Tuhan tidak akan membiarkan anak-anak yang dikasihi-Nya mendapatkan malu.
Pernahkah kita memperhatikan minuman bersoda ketika dibuka dan kemudian dituangkan ke sebuah gelas? Ketika sebuah botol atau kaleng minuman bersoda dibuka akan menimbulkan suara mendesis. Suara tersebut berasal dari tekanan gas karbon dioksida yang keluar dari dalam botol atau kaleng. Ada dorongan gas yang kuat keluar sehingga menimbulkan bunyi. Kemudian ketika dituang ke dalam gelas, maka akan ada busa yang mengembang dengan cepat ke atas tetapi sesaat kemudian hilang. Beberapa orang mengatakannya sebagai efek soda. Kelahiran Tuhan Yesus ke dunia menyiratkan semangat Natal itu sendiri. Dari renungan-renungan warta yang telah kita baca selama bulan Desember ini dan dari ayat nats hari ini tentang nubuatan seorang hamba Tuhan yang menderita, kita bisa mendaftarkan semangat Natal yang bisa terus kita hidupi setiap hari, dan bukan hanya sekedar ketika menyambut Natal di bulan Desember. Semangat itu antara lain: semangat kesederhanaan, semangat kepedulian kepada sesama, semangat cinta kasih dan hidup damai dengan sesama, semangat mengabdikan hidup dan kerelaan berkorban bagi Tuhan, dan masih banyak lagi yang bisa kita sebutkan. Tetapi intinya, bukan pada seberapa banyak semangat Natal yang bisa kita daftarkan, tetapi justru pada seberapa banyak semangat Natal yang bisa kita praktikan dan hidupi. Beberapa hari yang lalu kita merayakan Natal dengan penuh antusias dan sukacita yang besar. Ibadah Christmas Eve dan Christmas Celebration dikemas dengan acara yang menggugah jiwa dan memberi gairah baru. Ada berkat rohani yang kita peroleh dari ibadah-ibadah tersebut. Tetapi lebih dari itu, harapannya adalah Natal tidak sekedar menjadi semacam ‘efek soda’ dalam kehidupan kita, yang hanya memacu dan menyemangati kita sesaat saja. Hendaknya semangat Natal terus mewarnai kehidupan kita di hari-hari selanjutnya, khususnya di tahun 2018 yang beberapa hari lagi kita masuki.
Peristiwanya terjadi amat sangat lama, puluhan tahun yang lalu. Waktu itu saya menghadiri perayaan Natal mahasiswa di sebuah Seminari [Sekolah Alkitab]. Hati saya terperangah, terkagum-kagum menyaksikan sajian musik genta [lonceng] mengumandangkan lagu “Kesukaan Bagi Dunia”. Jumlah genta yang dimainkan tidak begitu banyak tapi dentang genta itu bergema memenuhi kalbu saya, membawa angan-angan saya melayang ke ribuan tahun yang lalu. Para malaikat menyanyi memberitakan natal pertama kepada para gembala di tengah-tengah kesunyian malam. Entah kenapa air mata sukacita mengalir tak terbendungkan mengenang masa itu. Sampai saat ini genta natal itu masih bergema di hati di saat tangan saya memegang lilin kecil yang menyala di malam Natal. Cerita lonceng natal adalah salah satu simbol/lambang Natal. Asal-usul lonceng dijadikan simbol natal karena bunyi lonceng yang bergema melambangkan berita tentang kelahiran Juruselamat yang dibawa para malaikat. Berita tentang kelahiran Yesus Kristus adalah suatu berita yang membawa kesukaan bagi dunia. Nabi Yesaya telah menubuatkan tentang kedatangan Yesus Kristus, Sang Mesias. Gema lonceng natal memberitakan : 1. Bahwa “Allah itu Raja” [ayat 7], Yesus Kristus memang datang ke dalam dunia sebagai Raja yang memerintah secara rohani dalam kebenaran. 2. Berita ini mendatangkan penghiburan dan sukacita [ayat 9]. Yesus Kristus adalah Terang Dunia. Ketika Ia datang, kegelapan sirna karena kegelapan tidak dapat menguasainya [Yohanes 1:1-9]. 3. Berita itu adalah berita keselamatan. Sang Penebus sudah datang. Ketika umat manusia yang berdosa mau menerima-Nya oleh iman kepada-Nya, ia diselamatkan. Dari status seorang musuh Allah diubah menjadi anak-anak Allah [Yohanes 1:12]. 4. Berita itu adalah berita penyertaan Allah bagi umat-Nya. Yesus Kristus disebut Imanuel [Matius 1:23], Allah beserta kita. 5. Berita itu sekaligus tentang Yesus Kristus sebagai Hamba yang menderita [ayat 13]. Sekalipun Ia raja, Ia datang dalam kesederhanaan, bahkan kepapaan dengan palungan sebagai tempat lahir-Nya. Namun itu semua tidak mengurangi kasih Bapa bagi umat-Nya. Terima kasih Bapa buat gema lonceng Natal yang memberikan suatu sukacita besar bagi umat manusia.
Kunci keberhasilan di tahun ini Yosua 1:8 Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung. Baru dua minggu kita menjalani tahun 2018. Apakah anda masih ingat resolusi atau rencana atau goal yang anda buat di akhir tahun kemarin? Apakah anda ingin berhasil mewujudkan rencana dan goal itu di tahun ini? Bagaimana supaya usaha dan perjalanan kita di tahun ini berhasil? Firman di atas meneguhkan Yosua ketika akan memasuki Tanah Kanaan. Di hadapannya ada tantangan-tantangan yang besar. Dia harus menyeberangi sungai Yordan, menghadapi orang-orang yang waktu itu menduduki Kanaan dengan kota-kotanya yang kuat [seperti kota Yerikho dengan temboknya yang tebal], juga harus menghadapi orang-orang yang bertubuh raksasa. Apakah dia bisa berhasil mengalahkan semua tantangan itu? Pasti ada perasaan kuatir dan takut menghadapi tantangan yang berat itu. Tetapi Firman Tuhan memberinya kekuatan untuk tidak kuatir dan takut. Firman Tuhan mengingatkan dia akan pentingnya memperkatakan dan merenungkan Firman Tuhan. Firman itu sangat tepat buat kita juga di awal tahun ini. Di hadapan kita ada tantangan-tantangan yang harus kita hadapi. Tuhan tidak ingin kita menyerah menghadapi tantangan apapun. Bukankah Dia adalah Tuhan yang menyertai kita dan yang membuat perjalanan kita berhasil? Namun Dia meminta kita untuk bertindak hati-hati sesuai dengan Firman-Nya. Inilah yang akan menjadi faktor penentu keberhasilan kita. Tuhan sudah menunjukkan caranya agar kita berhasil, yaitu dengan memperkatakan dan merenungkan Firman Tuhan. Penting sekali bagi kita untuk mengucapkan Firman itu di mulut kita. Apa yang kita ucapkan itu berkuasa. Dengan mengucapkan Firman itu berarti kita mengaminkan dan mengikuti kebenaran dari Firman itu. ’Tetapi firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan.’ [Ulangan 30:14] Marilah membiasakan diri untuk memperkatakan Firman Tuhan. Dengan kita memperkatakan Firman Tuhan, kita sedang mempersiapkan jalan menuju keberhasilan. Tuhan memberkati kita. Pdt. Goenawan Susanto
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Waspada Terhadap Pengaruh Gairah Zaman
19 Januari '18
Demonstrasi Kasih Allah
08 Januari '18
Damai Dalam Badai
16 Januari '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang