SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 21 Januari 2018   -HARI INI-
  Sabtu, 20 Januari 2018
  Jumat, 19 Januari 2018
  Kamis, 18 Januari 2018
  Rabu, 17 Januari 2018
  Selasa, 16 Januari 2018
  Senin, 15 Januari 2018
POKOK RENUNGAN
Jika malas berdoa, sesungguhnya kita sedang kehilangan berkat istimewa yang telah disediakan Tuhan.
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas P. Chandra
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Rumah Doa
Rumah Doa
Sabtu, 23 Desember 2017
Rumah Doa
Ratapan 3:55-57
Berlutut di hadapan Tuhan tidaklah hanya berbicara tentang sikap doa, tetapi juga sikap hati di mana kita mencari Tuhan. Doa adalah hal yang dapat dilakukan oleh siapapun juga, dan mengandung kuasa yang besar. Charles Stanley dalam bukunya ’Landmines in The Path of the Believer’ [Ranjau yang tersembunyi di balik jalan orang percaya] menyatakan, ’Kita berdiri makin tinggi dan kuat di atas lutut kita.’ Buku tersebut menceritakan tentang keadaan di mana dia mengalami saat-saat yang begitu gelap dan putus asa, dia terbangun di tengah malam dan duduk di sisi tempat tidurnya dan berdoa. Ia menyerukan seluruh persoalannya kepada Tuhan, dan kemudian meminta Tuhan menolong dia untuk dapat tidur kembali. Pada saat ia terombang-ambing dan putus asa, dia belajar satu hal yang sangat penting yaitu, ’Jika saya tetap fokus pada Tuhan, saya akan memperoleh pertolongan, kekuatan dan kemenangan untuk melewatinya, sekalipun dunia di sekeliling saya nampaknya akan runtuh’.

Doa akan menolong kita fokus pada Tuhan. Malas berdoa membuat kita terfokus pada keadaan kita. Seperti yang Yesus nyatakan, ’Berjaga-jagalah dan berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan. Roh memang penurut tetapi daging lemah.’ Kekuatan kita terletak di dalam doa, tetapi banyak kali kita ...selengkapnya »
Dengan perasaan antara yakin dan ragu, Mbah Wanidy memberanikan diri mengayunkan kakinya selangkah demi selangkah menghampiri orang yang tampak seperti Benay itu. Namun ketika jarak makin dekat, Mbah Wanidy memperlambat langkahnya. Kini keraguan lebih menguasainya. Tampak dipenglihatannya bahwa Benay lebih tua dari usia semestinya. Mbah Wanidy bertanya-tanya dalam benaknya mengapa begitu cepat Benay menjadi tua? Apakah ini karena pengaruh tekanan berat selama melayani di Iraq? Atau karena terpapar radiasi bom biologi? Tak bersedia ditaklukkan oleh keraguannya, Mbah Wanidy memantapkan langkahnya untuk menjumpai Benay-tua itu. Kini ia bertemu muka dengan muka. Tapi sesuatu yang tak diduganya terjadi. Tubuh renta Mbah Wanidy tiba-tiba bergetar hebat. Keringat dingin keluar membasahi wajahnya. Mulutnya terkatup tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Sorot mata dari Benay-tua menusuk tajam tanpa berkedip. Mbah Wanidy sangat ketakutan. Ia merasa bahwa orang bertubuh gempal yang ada di hadapannya adalah seorang preman pelabuhan, bukan Benay yang ia sangka. Jemaat yang terkasih, perasaan antara yakin dan ragu seperti yang dialami oleh Mbah Wanidy pernah dialami pula oleh Yohanes Pembaptis. Dari dalam kondisi menderita karena sedang dipenjara, Yohanes Pembaptis digelayuti keraguan apakah Yesus itu sungguh Kristus [Mesias]. Tidak mau ditaklukkan oleh keraguannya, ia menyuruh murid-muridnya untuk menjumpai dan bertanya secara langsung pada Yesus. Yesus tidak memberikan jawaban secara langsung, “ya” atau “tidak”. Dia memilih untuk menyampaikan bukti mujizat-mujizat yang telah dilakukan-Nya dan kabar baik yang diberitakan-Nya bagi orang miskin. Dengan demikian, Yesus memberi ruang pergumulan dalam diri Yohanes Pembaptis dan murid-muridnya untuk memutuskan sendiri apakah Dia adalah mesias atau tidak bagi mereka. Jemaat yang dikasihi Tuhan, berbagai penderitaan hidup yang kita alami dapat “melotot tajam” menantang iman kita. Bukankah beberapa orang di antara kita sering bertanya mengapa mengalami musibah atau masalah yang berat? Padahal sudah setia beribadah? Sudah aktif melayani Tuhan? Dalam kondisi seperti itu kita menjadi gemetar dan keraguan iman kita alami. Ini adalah hal yang wajar dalam hidup setiap orang percaya. Justru di sinilah iman kita sedang diasah dan dipertajam oleh penderitaan hidup kita. Oleh sebab itu Tuhan menghendaki kita untuk tidak kecewa dan menolak Dia. Namun sebaliknya, semakin mengarahkan diri untuk belajar berserah, bersyukur dan mengarahkan hidup pada kehendak-Nya. Berani menyangkal diri dan memikul salib. Selamat untuk tidak kecewa pada Tuhan!
Setiap memasuki tahun baru banyak orang yang takut dan ragu-ragu untuk melangkah karena melihat situasi dunia yang tidak menentu dalam segala bidang. Ekonomi yang terpuruk, situasi politik yang mencekam, keamanan yang mengkhawatirkan, bencana alam yang silih berganti. Kekhawatiran itu ditambah lagi dengan adanya ramalan-ramalan paranormal yang lebih menakutkan dan berita-berita dalam medsos yang seringkali hoax tetapi sudah terlanjur membuat pembacanya ketakutan. Daud mengatakan bahwa Tuhan menjawab pada saat ia dalam kesesakan dengan mengirim bantuan-Nya dari tempat kudus dan Dia membentenginya. Tuhan akan memberikan apa yang dia kehendaki dan menjadikan berhasil setiap yang dirancangkan. Tuhan memberi kemenangan dan memenuhi segala permintaan. Tuhan menjawab dari sorga-Nya yang kudus dan memberi kemenangan yang gilang gemilang oleh tangan kanan-Nya bagi orang yang diurapi-Nya. Allah akan mengingat segala korban persembahan dan menyukai korban bakaran yang dipersembahkannya. Atas kemenangan yang diberi-Nya, Daud bersorak sorai, mengangkat panji-panji demi Allah dan bermegah dalam nama Tuhan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi dalam tahun baru yang kita masuki. Kita khawatir apa yang akan terjadi dengan usaha/pekerjaan, keluarga, masa depan, kekristenan, dll. Tuhan berjanji akan memenuhi setiap kebutuhkan kita, dalam kesulitan dan masalah yang kita alami, Dia akan memberikan kemenangan. Bagian kita sebagai orang yang diurapi-Nya adalah memberi yang terbaik bagi-Nya, yaitu ketaatan dan keintiman dengan-Nya. Kita memuliakan Tuhan melalui setiap perkataan, perbuatan dan tindakan yang mengharumkan nama-Nya. Marilah kita memasuki tahun ini dengan penuh sukacita dan dengan keyakinan bahwa kita sanggup menanggung segala perkara di dalam Dia yang memberi kekuatan kepada kita.
Bangsa Indonesia akan menjalani “tahun yang sibuk” di sepanjang tahun ini hingga tahun 2019 nanti. Indonesia akan menyelenggatakan “hajatan politik dan pesta demokrasi” besar. Paling tidak hingga tahun depan, yaitu pemilihan kepala daerah secara serentak di beberapa daerah di tahun 2018. Dan pemilihan legislatif dan pemilihan Presiden di tahun 2019. Jika kita berbicara tentang “hajatan politik”, maka ada fenomena yang selalu menyertainya. Apa itu? Politikus dadakan mulai bermunculan. Mulai dari hanya sekedar menjadi pengamat dan memprediksi perkembangan politik, hingga merapatkan diri ke parpol untuk dapat tampil menjadi politikus yang layak untuk maju dalam pemilihan. Kita semua tidak tahu, apakah semuanya itu dilandasi dengan sebuah motivasi yang benar atau hanya sekedar ingin tenar. Fenomena di atas seolah-olah juga mewabah hingga ke gereja. Tidak sedikit kita melihat fenomena, orang-orang yang “katanya” ingin terjun dalam hal kerohanian karena panggilan Tuhan. Mulai dari menjadi pelayan mimbar, menjadi hamba Tuhan ataupun menjadi pemberita Injil, namun ujung-ujungnya ternyata hanya untuk popularitas dan kenyamanan diri. Semuanya itu akan teruji dengan waktu apakah motivasi yang dibawa adalah benar, atau hanya sekedar kamuflase kebohongan belaka. Sebagai utusan Allah yang dipercaya untuk memberitakan Injil, Rasul Paulus menyampaikan pengajaran dengan motivasi yang benar. Pengajaran yang disampaikannya bukan untuk menyenangkan hati manusia, melainkan menyenangkan hati Allah. Paulus tidak mengajar dengan perkataan yang manis. Paulus juga tidak mengajar untuk mendapatkan uang atau mencari pujian dari manusia. Paulus memberitakan Injil dan menjalankan panggilan pelayanan-Nya semua dengan motivasi yang benar dan bukan untuk keuntungan diri semata. Namun sayangnya, masih banyak orang Kristen yang takut menyatakan kebenaran. Mereka lebih memilih menyenangkan orang, agar keberadaannya diterima, dan mencari sanjungan orang lain. Berkata-kata dengan manis, namun tujuannya melenceng, supaya diri pribadi terus dipercaya tampil di depan umum, supaya diri pribadi nyaman, dan sebagainya. Jangan sampai kita lupa bahwa hidup ini adalah milik Allah dan harus dipersembahkan bagi kemuliaan nama-Nya. Kita dipanggil untuk mewartakan Injil dengan murni, tanpa tipu daya atau motivasi yang terselubung. Ingatlah selalu, manusia mungkin dapat kita bohongi dengan penampilan manis kita, namun Tuhan tidak dapat dibohongi dengan semuanya itu. Jadilah murid Kristus yang mempunyai motivasi yang tulus dan benar di hadapan Allah. Jadilah pewarta kebenaran Firman yang tulus dan benar.
Dihargai dan dipulihkan Yesaya 43:1, 4a [1] Tetapi sekarang, beginilah firman TUHAN yang menciptakan engkau, hai Yakub, yang membentuk engkau, hai Israel: ’Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku. [4] Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, ..... Satu minggu kita sudah menjalani tahun 2018. Di depan kita ada hari-hari yang penuh ketidakpastian. Firman Tuhan di atas memberi kita kekuatan agar kita tidak takut menjalani hari-hari di depan kita. Bangsa Israel pernah mengalami hari-hari yang penuh kesulitan, oleh karena kesalahan mereka sendiri. Mereka meninggalkan Tuhan dan berpaling kepada illah-illah lain. Maka Tuhan menyerahkan mereka kepada bangsa lain yang menindas mereka. Yerusalem dikepung oleh tentara Babel dan akhirnya jatuh ke tangan bangsa asing itu. Mereka ditawan dan diangkut ke negeri Babel dan di sana dipekerjakan sebagai budak. Dalam kondisi itu harga diri mereka terinjak-injak. Mereka dipermalukan dan dihina. ’Katanya punya Allah yang perkasa, kok kalah? Katanya umat pilihan dari segala bangsa, kok malah jadi budak?’ Mereka menjadi bangsa yang kehilangan harga diri. Martabat mereka direndahkan. Suatu penderitaan yang sangat memedihkan hati dialami oleh umat Allah. Allah mengutus nabi Yesaya untuk menyampaikan berita tentang kelepasan dan pemulihan. ’Biarpun harga dirimu telah jatuh, dan engkau merasa dirimu tak berharga, tetapi engkau tetap milik-Ku. Engkau tetap berharga dimataKu,’ kata Firman Tuhan. Bagi saudara yang merasa terhina, yang merasa harga dirinya sedang terinjak-injak, Tuhan sedang berbicara kepada saudara, bahwa engkau berharga di mata-Nya. Tuhan akan memulihkan keadaanmu. Jika engkau menyerahkan hidupmu kepada-Nya, Dia akan mengangkat engkau, sehingga engkau tidak akan lagi dipermalukan. Bacalah Yesaya 49:7, ’Beginilah firman TUHAN, Penebus Israel, Allahnya yang Mahakudus, kepada dia yang dihinakan orang, kepada dia yang dijijikkan bangsa-bangsa, kepada hamba penguasa-penguasa: ’Raja-raja akan melihat perbuatan-Ku, lalu bangkit memberi hormat, dan pembesar-pembesar akan sujud menyembah, oleh karena TUHAN yang setia oleh karena Yang Mahakudus, Allah Israel, yang memilih engkau.’ Pdt. Goenawan Susanto
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Menyiapkan Lahan Hati
09 Januari '18
Demonstrasi Kasih Allah
08 Januari '18
Langkah Awal
18 Januari '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang