SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 15 Juli 2018   -HARI INI-
  Sabtu, 14 Juli 2018
  Jumat, 13 Juli 2018
  Kamis, 12 Juli 2018
  Rabu, 11 Juli 2018
  Selasa, 10 Juli 2018
  Senin, 09 Juli 2018
POKOK RENUNGAN
Jika malas berdoa, sesungguhnya kita sedang kehilangan berkat istimewa yang telah disediakan Tuhan.
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas P. Chandra
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Rumah Doa
Rumah Doa
Sabtu, 23 Desember 2017
Rumah Doa
Ratapan 3:55-57
Berlutut di hadapan Tuhan tidaklah hanya berbicara tentang sikap doa, tetapi juga sikap hati di mana kita mencari Tuhan. Doa adalah hal yang dapat dilakukan oleh siapapun juga, dan mengandung kuasa yang besar. Charles Stanley dalam bukunya ’Landmines in The Path of the Believer’ [Ranjau yang tersembunyi di balik jalan orang percaya] menyatakan, ’Kita berdiri makin tinggi dan kuat di atas lutut kita.’ Buku tersebut menceritakan tentang keadaan di mana dia mengalami saat-saat yang begitu gelap dan putus asa, dia terbangun di tengah malam dan duduk di sisi tempat tidurnya dan berdoa. Ia menyerukan seluruh persoalannya kepada Tuhan, dan kemudian meminta Tuhan menolong dia untuk dapat tidur kembali. Pada saat ia terombang-ambing dan putus asa, dia belajar satu hal yang sangat penting yaitu, ’Jika saya tetap fokus pada Tuhan, saya akan memperoleh pertolongan, kekuatan dan kemenangan untuk melewatinya, sekalipun dunia di sekeliling saya nampaknya akan runtuh’.

Doa akan menolong kita fokus pada Tuhan. Malas berdoa membuat kita terfokus pada keadaan kita. Seperti yang Yesus nyatakan, ’Berjaga-jagalah dan berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan. Roh memang penurut tetapi daging lemah.’ Kekuatan kita terletak di dalam doa, tetapi banyak kali kita ...selengkapnya »
Kaum difabel [different ability] sering diidentikkan sebagai kaum disable, atau golongan yang kurang mampu terutama untuk mandiri apalagi berprestasi. Tapi faktanya, banyak di antara mereka menjadi inspirasi, bahkan beberapa menjadi inspirasi sepanjang masa. Mereka memang hanya manusia biasa, yang merasakan tekanan dan beban sangat berat. Namun, di balik segala kekurangan tersebut, mereka berjuang dan berhasil melewati batasan yang dimiliki. Mereka berhasil “mengalahkan” diri sendiri sehingga bisa menguatkan mentalitasnya menerima apa adanya diri sendiri. Dan, dengan kesadaran tersebut, mereka mampu meraih apa pun yang dicita-citakan, sehingga bisa jadi inspirasi bagi sekelilingnya. Inilah nilai yang wajib kita miliki bukan hanya bagi mereka yang tumbuh dengan kekurangan. Sebab sejatinya, kita semua punya halangan dan rintangan yang wajib ditaklukkan. Sang Pencipta memberikan ujian bukan untuk melemahkan, namun justru jadi titik tolak untuk menguatkan. Untuk itulah, mari kita belajar dari sosok dengan keterbatasan namun bisa melampaui batasannya.Bila disuruh menyebut ilmuwan paling berpengaruh di era sekarang ini, nama Stephen Hawking bisa dipastikan berada di posisi teratas. Karyanya yang dipublikasikan pada 1988—“A Brief History of Time”—merupakan salah satu karya terpenting dalam pengetahuan dan akan terus dipelajari sepanjang masa. Teori lubang hitam dari Hawking, setara dengan teori relativitas Einstein dan teori evolusi dari Darwin. Hebatnya, Hawking menciptakan karya-karya pengetahuan terpenting sepanjang sejarah peradaban di saat dirinya terkena sklerosis lateral amiotrofik [ALS]. Penyakit yang membuatnya lumpuh dan harus mengandalkan kursi roda untuk aktivitasnya tersebut,ternyata tak menghalanginya untuk terus berkarya. Meski untuk menulis ia harus dibantu voice synthesizer yang terhubung pada sebuah komputer, tapi tekadnya sangat besar untuk terus berkarya, mengatasi keterbatasannya tersebut. Pesan yang ditinggalkan Stephen Hawking adalah “Jangan menyerah dalam bekerja.” Bekerja memberikan makna dan tujuan hidup. Kehidupan kosong tanpa itu. Selalu ingat untuk memandang tinggi ke bintang, bukan melihat ke bawah. Coba untuk mencerna apa yang kamu lihat dan tentang apa yang membuat semesta ada. Manusia hidup di planet kecil, [yang mengorbit] pada sebuah bintang yang sangat biasa. Tapi kita dapat mencoba memahami alam semesta. Itulah yang membuat kita sangat istimewa. Jika kita cukup beruntung untuk menemukan cinta, ingat itu ada dan jangan membuangnya. Seberapa pun sulitnya kehidupan, selalu ada hal yang bisa kita lakukan dan sukses pada bidang tersebut. Disetiap langkah hidup kita ini Tuhan selalu punya maksud pada hidup kita masing-masing, tinggal bagaimana kita menyikapi kesempatan itu. Banyak orang menyerah dengan keadaan karena mereka tidak menyadari akan maksud dan rencana Tuhan tetapi orang yang mengerti maksud Tuhan tidak akan berhenti sebelum menemukan dan mendapatkan tujuannya.
Pak Martono adalah seorang yang sulit untuk mempercayai Allah, bertemu dengan pak Thomas yang mempercayai tentang keberadaan Allah. Melalui percakapan yang panjang pak Martono minta bukti nyata bahwa Allah itu sungguh ada dan Maha Kuasa. Suatu saat anak pak Thomas menderita tumor otak ganas dan diprediksi masa hidupnya tinggal beberapa bulan saja. Segala upaya pak Thomas untuk menyembuhkan anaknya sudah maksimal, tinggal berdoa dan berserah saja kepada Allah. Akhirnya lewat pergumulan doa dan penyerahan total kepada Allah anak pak Thomas mampu disembuhkan secara total dan usianya diperpanjang oleh Allah. Dari peristiwa ini pak Martono menjadi percaya bahwa Allah itu ada dan Maha Kuasa. Renungan kita memang mengingatkan agar sebagai orang yang percaya jangan hidup menyerupai dunia ini. Tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu supaya kita tahu dan mengenal kehendak Allah dengan benar dan melakukannya, seperti yang dialami pak Thomas setia pada Allah walaupun sempat mengalami jalan buntu. Dengan demikian kita mampu menjadi saksi bagi orang lain di tengah-tengah dunia. Keadaan dunia saat ini semakin menjadi sangat sekuler, hal ini ditandai dengan munculnya pendapat bahwa di dunia ini tidak ada satu kebenaranpun yang bersifat mutlak. Jadi apabila tidak ada satu kebenaranpun yang bersifat mutlak sebagai ukuran kebenaran, bagaimana kita bisa mengukur bahwa sesuatu itu benar dan baik adanya. Disinilah kekristenan tampil di tengah dunia untuk menjadi saksi. Bahwa didalam pribadi Allah dan Firman-Nya ada suatu kebenaran mutlak yang dapat dijadikan standard untuk mengukur suatu kebenaran. Yohanes 17:17, mengatakan bahwa Firman Allah adalah kebenaran. Yohanes 14:6, mengatakan bahwa Tuhan Yesus adalah jalan menuju kebenaran yang sesungguhnya. Maka kita sebagai orang Kristen yang hidup ditengah zaman dan dunia yang semakin menjadi sekuler, hendaknya berani menjadi saksi Allah. Kita harus menjadi saksi dengan menyatakan bahwa di dunia ini ada suatu kebenaran yang mutlak yang dapat dijadikan ukuran bagi semua kebenaran yang ada di dunia ini. Kebenaran itu ada di dalam Firman Allah yaitu pribadi Tuhan Yesus Kristus yang telah menetapkan suatu hukum yang berlaku bagi semua manusia di dunia ini sebagai kebenaran moral [Keluaran 20:1-17].
Anak SD akan lebih mudah mencerna ilmu pengetahuan tentang tanam-tanaman yang diajarkan kepada merekaketika diajak keluar kelas. Kepada mereka ditunjukkan secara visual jenis-jenis tanaman dan pepohonan yang ada di sekitar mereka. Pohon mangga menghasilkan buah mangga. Pohon jambu menghasilkan buah jambu. Pohon pepaya menghasilkan buah pepaya, dan seterusnya. Dari buahnya kita mengenal pohonnya. Setiap jenis pohon menghasilkan buah yang khas. Ini adalah sesuatu hal yang alamiah. Dalam Matius 3:1-12, Yohanes Pembabtis menyampaikan hal yang sama, sesuatu yang sebenarnya sangat alamiah. Dengan jelas dan tegas ia mengatakan bahwa orang yang menyatakan dirinya sudah bertobat pasti menghasilkan buah yang sesuai dengan pertobatan. Sebagai seorang pengajar kebenaran Taurat, seharusnya orang Farisi menghasilkan buah pertobatan seperti yang diajarkannya. Pertama, kejujuran bukan kemunafikan. Orang farisi suka berdoa hanya untuk dilihat orang banyak, padahal hati mereka jauh dari Tuhan. Kedua, kepedulian membebaskan yang tertindas bukan membebani orang dengan peraturan agamawi. Ketiga, kerendahan hati untuk belajar kebenaran bukan selalu menyalahkan. Orang Farisi merasa dirinya benar dan menyalahkan orang lain. Pertanyaannya yang perlu kita renungkan: Sudahkan kita bertobat ?. Sudahkan kita menghasilkan buah yang sesuai dengan pertobatan ? Sudahkan kita jujur di hadapan Allah dan semua orang ? Sudahkan kita menolong orang lain yang tertindas dan terbelenggu oleh ikatan dosa ? Bersediakah kita terus belajar dan melakukan kebenaran Firman Tuhan ? Ingatlah, bahwa kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api [ayat 10]. Marilah kita gunakan kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya.
Malam itu Winoyo datang ke rumah Temo. Karena malam minggu, mereka bercerita ngobrol tentang keadaan keluarga mereka. Winoyo menceritakan kakak ayahnya yang baru berusia sekitar 50 tahun. Sejak ia terjatuh dan kakinya patah, dia mulai bermalas-malasan untuk berbuat sesuatu. Dia berkata bahwa sudah tidak mau lagi untuk membatntu pekerjaan rumah tangga. Sehingga semua di serahkan ke anaknya. Semua kebutuhan hidupnya bergantung pada anaknya. Kemudian Temo juga bercerita,bahwa ayahnya mempunyai seorang adik laki-laki yang hidupnya sehari-harinya menjaga tokonya. Ketika pagi hari sedang membuka rolling pintu toko, tiba-tiba pintunya lepas jatuh ke bawah menjatuhi kakinya sehingga salah satu kakinya harus diaputasi. Dalam kondisi kaki tinggal satu, bapak ini tetap bekerja menjaga tokonya. Dia tidak serta merta menyerahkan ke anaknya dan berserah pada anaknya karena merasa masih mampu. Dia tetap berkarya walaupun cacat. Adik dari ayah Temo ini juga tidak bergantung pada anaknya walaupun anaknya mampu. Gambaran ini mengungkapkan tentang sikap orang terhadap Tuhan yang berbeda-beda. Ada yang sepenuhnya bersandar pada Allah tetapi banyak juga yang mengaku bersandar kepada Tuhan namun sebenarnya masih bersandar pada hal-hal yang lain seperti pada harta, anak, suami dan orang tertentu. Firman Tuhan hari ini menganjar kepada kita tentang dua hal. Pertama, Allah adalah pribadi yang tidak terbatas kasih dan kuasaNya. Tidak ada kasih dan kuasa yang dapat dibandingkan dengan kasih dan kuasa Kristus. Secara manusia, orang cenderung mencari perlindungan dan sandaran yang lebih kuat, misalnya seorang yang kurang mampu berharap penuh kepada orang yang lebih mampu dan kaya, seorang yang sakit-sakitan terlalu berharap penuh pada medis dan obat-obatan, orang yang sudah tua terlalu berharap penuh pada anak-anaknya. Tetapi kenyataannya, semua tempat sandaran di luar Allah adalah sangat terbatas. Kedua, Janji Allah adalah ya dan amin. Setiap apa yang telah Tuhan janjikan kapada setiap anak-anaknya akan di genapiNya. Oleh sebab itu Tuhan meminta kita untuk mentaati Firman Allah, maka IA juga bertanggung jawab atas semua yang Ia firmankan. Tuhan menghendaki agar kita melekat padaNya. Jika hati kita sudah melekat kepada Tuhan dan melakukan FirmanNya, apakah yang akan kita kuatirkan? Marilah kita belajar menyerahkan seluruh kehidupan kita pada Tuhan karena Dia akan memimpin dalam setiap kehidupan kita. Dia Allah yang hidup dan sumber perlindungan kita di manapun kita berada.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Pertemuan Yang Membawa Damai
14 Juli '18
Tidak Menuntut Balas
21 Juni '18
Pengampunan Yang Melegakan
22 Juni '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang