SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 27 Mei 2018   -HARI INI-
  Sabtu, 26 Mei 2018
  Jumat, 25 Mei 2018
  Kamis, 24 Mei 2018
  Rabu, 23 Mei 2018
  Selasa, 22 Mei 2018
  Senin, 21 Mei 2018
POKOK RENUNGAN
Jika malas berdoa, sesungguhnya kita sedang kehilangan berkat istimewa yang telah disediakan Tuhan.
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas P. Chandra
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Rumah Doa
Rumah Doa
Sabtu, 23 Desember 2017
Rumah Doa
Ratapan 3:55-57
Berlutut di hadapan Tuhan tidaklah hanya berbicara tentang sikap doa, tetapi juga sikap hati di mana kita mencari Tuhan. Doa adalah hal yang dapat dilakukan oleh siapapun juga, dan mengandung kuasa yang besar. Charles Stanley dalam bukunya ’Landmines in The Path of the Believer’ [Ranjau yang tersembunyi di balik jalan orang percaya] menyatakan, ’Kita berdiri makin tinggi dan kuat di atas lutut kita.’ Buku tersebut menceritakan tentang keadaan di mana dia mengalami saat-saat yang begitu gelap dan putus asa, dia terbangun di tengah malam dan duduk di sisi tempat tidurnya dan berdoa. Ia menyerukan seluruh persoalannya kepada Tuhan, dan kemudian meminta Tuhan menolong dia untuk dapat tidur kembali. Pada saat ia terombang-ambing dan putus asa, dia belajar satu hal yang sangat penting yaitu, ’Jika saya tetap fokus pada Tuhan, saya akan memperoleh pertolongan, kekuatan dan kemenangan untuk melewatinya, sekalipun dunia di sekeliling saya nampaknya akan runtuh’.

Doa akan menolong kita fokus pada Tuhan. Malas berdoa membuat kita terfokus pada keadaan kita. Seperti yang Yesus nyatakan, ’Berjaga-jagalah dan berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan. Roh memang penurut tetapi daging lemah.’ Kekuatan kita terletak di dalam doa, tetapi banyak kali kita ...selengkapnya »
Penyebar semangat Roma 12:11 Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. Sejak menerima kepenuhan Roh Kudus pada hari Pentakosta, murid-murid Yesus dipenuhi dengan semangat yang menyala-nyala untuk bersaksi tentang Kristus. Walaupun mereka diancam, dihambat dan dihalangi dalam memberitakan Kristus, tapi oleh karena semangat yang menyala itu mereka tidak menyerah. Mereka tetap giat dalam melayani Tuhan, memberitakan Kristus dan melakukan yang terbaik untuk keselamatan jiwa-jiwa. Tuhan Yesus berkata: ’Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu’ [Kisah Para Rasul 1:8]. Kuasa adalah kekuatan, tenaga, energi [power]. Gereja yang dipenuhi oleh Roh Kudus akan kelihatan melalui semangatnya di dalam melayani Tuhan dan memenangkan jiwa. Gereja yang memiliki kuasa tidak akan gampang menyerah di dalam menghadapi tantangan hidup. Dia akan memiliki semangat yang menyala dan menyebarkan semangat itu kepada sekitarnya. Seperti kalau ada api yang berkobar pasti di sekitarnya akan terasa panas. Demikian juga gereja yang dipenuhi oleh Roh Kudus, semangatnya akan dirasakan oleh sekitarnya. Namun apa jadinya jika gereja tidak lagi memiliki semangat? Bagaimana sekitarnya dapat merasakan pengaruh gereja, kalau gereja menjadi dingin? Oleh karena itu Firman Tuhan berkata: ’Biarlah rohmu menyala-nyala.’ Atau dengan kata lain, jagalah supaya jangan padam rohmu atau semangatmu. Gereja adalah pusat semangat. Orang-orang yang ada di dalam gereja harus dipenuhi Roh Kudus supaya selalu penuh dengan semangat. Gereja harus memancarkan semangat, sehingga orang di sekitar gereja melihat bahwa ada sesuatu yang berbeda di gereja, oleh karena Roh Allah ada di dalam gereja. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
Ketika Lawatan Allah terjadi Mazmur 126:1-3 Ketika TUHAN memulihkan keadaan Sion, keadaan kita seperti orang-orang yang bermimpi. Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai. Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa: ’TUHAN telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!’ TUHAN telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita. Apa yang terjadi bila Allah melawat umat-Nya? Kita harus mengerti saat Allah melawat kita. Jangan sampai kita tidak mengerti saat Allah melawat kita. Bangsa Israel tidak mengerti saat Allah melawat mereka, sehingga mereka menolak Yesus sebagai Mesias. Lawatan Allah atau yang sering disebut juga kebangunan rohani [revival] terjadi berulang kali dan di banyak tempat. Salah satu di antaranya yang paling besar dan berdampak luas adalah yang terjadi di Welsh [Inggris] pada tahun 1904. Api kebangunan rohani di kota Welsh ini telah menyebabkan 100.000 orang lebih bertobat dan meluas ke seluruh Inggris dan menyebar ke negara-negara lain, termasuk ke India [pada tahun 1906] dan ke Korea [pada tahun 1907]. Apa yang terjadi sebenarnya? Apakah karena ada orang yang merencanakan dan menggerakkan? Tidak. Itu terjadi di luar batas kemampuan manusia. Api kegerakan rohani itu bermula dari sebuah titik, membakar hati satu atau beberapa orang, lalu menyebar luas kepada lebih banyak orang dan menyebar melintasi batas wilayah bahkan melintasi batas negara. Apa yang terjadi dalam peristiwa-peristiwa lawatan Allah itu? - Yang paling utama adalah adanya kesadaran akan hadirat Allah yang nyata. Mereka dicekam oleh perasaan takut akan Allah. Dan karena itu banyak di antara mereka yang tertempelak hatinya oleh karena perbuatan-perbuatan dosa yang telah mereka lakukan. Mereka menyesal akan dosa-dosanya dan memohon ampun kepada Tuhan. Mereka menangis dan memohon belas kasih kepada Tuhan. - Mereka haus akan kebenaran dan membutuhkan Firman Tuhan. Mereka giat beribadah di gereja. Gereja menjadi penuh karena banyak orang yang merindukan hadirat Tuhan dan menerima pengajaran Firman Tuhan. - Mereka merasakan sukacita oleh karena menerima anugerah pengampunan yang melepaskan mereka dari beban akibat kutuk dosa. Mereka bernyanyi dengan penuh sukacita. - Terjadi perubahan di dalam hidup moral mereka oleh karena pertobatan yang sejati. Mereka tidak lagi melakukan perbuatan-perbuatan dosa. Lawatan Allah yang seperti inilah yang kita rindukan terjadi di tengah kita. Pdt. Goenawan Susanto
Di dalam kehidupan bergereja, acap kali persembahan umat Kristiani kepada Tuhan diwujudkan dalam bentuk pelayanan. Dan pelayanan di gereja pada umumnya, langsung maupun tak langsung, saling terkait satu sama lain. Satu seksi pelayanan saja bisa beranggotakan banyak orang; yang berarti banyak ide, banyak usul, banyak potensi kreasi yang terkumpul di sana. Belum lagi kaitannya dengan bidang-bidang pelayanan yang lain. Kondisi ini membuat gesekan antar anggota tidak terelakkan. Para pelayan Tuhan sering menganggap bahwa ’hasil akhir’ dari sebuah pelayanan adalah yang mendasari penilaian Tuhan sehingga masing-masing pribadi berusaha keras untuk memperjuangkan apa yang menurutnya paling ideal. Bahkan tak jarang ’perjuangan’nya itu sampai mencederai perasaan rekan-rekan sepelayanan. Sesungguhnya, apakah seperti itu persembahan pelayanan yang diperkenan oleh Tuhan? Bacaan Firman Tuhan pada hari ini mengingatkan umat Kristiani bahwa Tuhan sangat mementingkan kebersihan hati, kerukunan dan perdamaian di antara umat-Nya. Kristus sendiri yang memerintahkan umat-Nya untuk membereskan masalah yang ada, sebelum mempersembahkan sesuatu kepada-Nya [Mat 5:23-24]. Tuhan tidak hanya memandang persembahan yang dihaturkan di hadapan-Nya, namun Ia juga melihat kondisi hati si pemberi persembahan. Apakah dia datang dengan hati yang bersih? Apakah dia masih terlibat dalam perselisihan dengan orang lain? Apalagi dengan sesama rekan sepelayanan. Ironis sekali jika kita menganggap persembahan pelayanan kita berhasil bagus, padahal di balik itu ada hati dan perasaan-perasaan yang tersakiti karena idealisme pribadi kita. Marilah menjadi pribadi-pribadi pelayan Tuhan yang lebih dewasa. Mari menghaturkan persembahan kepada Tuhan melalui proses yang saling menghargai. Biarlah dunia melihat kerjasama dan perilaku kita yang baik sehingga mereka memuliakan Bapa di Surga.
Seorang pria mengalami kejadian tak mengenakkan ketika hendak membeli mobil di sebuah showroom di Karawang Barat karena penampilannya sederhana. ’Waktu itu saya diminta tolong oleh adik yang kerja di Timika Papua untuk membeli mobil secara cash,’ katanya. Namun karena ia hanya memakai sandal jepit dan celana pendek, jangankan dilayani oleh pelayan showroom, dilirik saja tidak. ’Mas-mas pelayan itu malah pergi meninggalkan saya lalu kembali ngerumpi bersama teman-temannya sambil makan rujak,’ tuturnya. Merasa diperlakukan sebelah mata, akhirnya ia pun kesal. Dan saking kesalnya, ia mengeluarkan uang 350 juta di tasnya. “Tadinya saya mau beli mobil di sini, tapi karena mas-mas dan mbak-mbak memandang remeh, saya mending mencari showroom lain yang lebih sopan kepada pelanggan,’ katanya sambil bergegas pergi meninggalkan showroom mobil tersebut. Salah menilai pernah dilakukan oleh Samuel ketika Tuhan mengutusnya untuk mengurapi salah seorang anak Isai menjadi raja menggantikan Saul. Satu persatu anak-anak Isai masuk bertemu dengan Samuel. Mulai dari Eliab, kemudian Abinadab, dilanjutkan Syama sampai tujuh anak Isai lewat di depannya, tetapi ternyata tidak seorangpun yang dipilih oleh Tuhan. Samuel sempat salah menilai ketika ia melihat Eliab. Samuel menyangka Eliablah yang dipilih untuk diurapi karena ia melihat perawakan Eliab yang tinggi. Dan Tuhan mengingatkan Samuel, “Janganlah pandang paras atau perawakannya yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Allah melihat hati. Salah menilai seringkali terjadi karena kecenderungan ‘melihat apa yang di depan mata’; hanya melihat penampilan fisik semata. Padahal penampilan fisik bisa saja ‘menipu’ karena tidak sepenuhnya merepresentasikan diri seseorang. Penilaiaan yang hanya berdasarkan penampilan fisik merupakan penilaian yang terburu-buru, gampangan dan dangkal. Penilaian seperti ini bisa mengakibatkan sikap meremehkan, memandang negatif, bahkan menghakimi. Tentunya penilaian tersebut bukan saja tidak fair, tetapi sangat merugikan pihak yang dinilai. Allah tidak seperti manusia dalam menilai. ‘Allah melihat hati’. Allah melihat bahkan mengetahui dengan tepat ‘sisi dalam’ dari seseorang. Allah adalah pribadi Maha Tahu, tentu tidak sulit untuk melihat hati. Lalu bagaimana dengan kita, manusia yang bukan pribadi mahatahu? Untuk kita bisa menilai dengan baik; tidak terjebak hanya menilai secara fisik, maka kita harus berusaha untuk mengenal lebih dalam pribadi seseorang. Membangun relasi yang baik, berusaha menyelami cara berpikirnya, bahkan menenmpatkan diri kita pada posisinya. Dengan demikian kita tidak akan salah menilai.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Yang Dipercaya Tuhan
16 Mei '18
Pola Pikir Yang Benar Seorang Anak Tuhan
22 Mei '18
Bersaksi Bagi Kristus
18 Mei '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang