SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 21 Januari 2018   -HARI INI-
  Sabtu, 20 Januari 2018
  Jumat, 19 Januari 2018
  Kamis, 18 Januari 2018
  Rabu, 17 Januari 2018
  Selasa, 16 Januari 2018
  Senin, 15 Januari 2018
POKOK RENUNGAN
Melayani dan mengasihi adalah sikap hidup orang percaya.
DITULIS OLEH
Sdr. Dwi Winarno
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Teladan Kasih Yesus
Teladan Kasih Yesus
Sabtu, 07 Oktober 2017
Teladan Kasih Yesus
Lukas 19:1-10

Dalam sebuah acara retreat, ada seorang pemuda yang tersentuh hatinya saat prosesi pembasuhan kaki. Ia merasakan begitu dalamnya kasih Tuhan yang rela berkorban, bahkan memberikan keteladanan dalam hal melayani. Pemuda tersebut diingatkan sepanjang kehidupannya, ia belum pernah melakukan pembasuhan kaki terutama kepada orangtuanya. Ia mengingat perjuangan orangtua dan sanak saudara yang berjuang demi pendidikan dan masa depannya. Terdengar perkataan dalam hatinya, pernahkan kamu melakukannya kepada mereka [orangtua dan keluarga]? Seketika itu ada kasih yang besar dirasakannya. Ia merasakan betapa besar kasih Tuhan Yesus yang lebih dahulu diberikan kepada umat kesayangan-Nya. Sehingga pemuda tersebut benar-benar larut dalam hadirat Allah dan terdengar suara yang lembut, “Lakukanlah dan layanilah mereka sebab Aku telah melakukan terlebih dahulu untuk uma-tKu.” Hati pemuda tersebut tergetar karena kasih Tuhan yang besar.

Berbicara tentang kasih Tuhan memang tidak pernah ada habisnya dalam kehidupan ini. Seperti yang dialami oleh Zakheus, seorang kepala pemungut cukai. Ia adalah orang yang sangat dibenci oleh banyak orang karena kebiasaannya yang suka memeras mereka sehingga tidak banyak yang mau berkawan dengannya. Namun ketika ia mendengar bahwa Yesus ada di kota...selengkapnya »
Damai dalam badai ???? Mana mungkin....! Yang ada takut, bingung, kalang kabut saat badai datang.... Tahun 2017 dengan segala kenangan manis & pahit telah kita tinggalkan. Termasuk di dalamnya badai kehidupan yang terkadang menerpa kita bahkan mungkin membuat kita trauma dan gentar menapaki hidup di tahun yang baru ini. Dari kehidupan Raja Daud yang sering menghadapi berbagai tantangan bak badai yang tiada henti, ada beberapa nasehat sang pemazmur agar kitapun dapat juga menghadapi badai kehidupan yang sewaktu-waktu Tuhan ijinkan terjadi dalam kehidupan ini. 1. Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri kepada orang yang berbuat curang sebab mereka segera lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau. [ayat 1,2] 2. Percayalah kepada Tuhan, lakukanlah yang baik; bergembiralah karena Tuhan serta serahkan hidup kepada Tuhan maka Tuhan akan memunculkan kebenaran kita seperti terang dan hak kita seperti siang. [ayat 3-6] 3. Tidak usah takut karena Tuhan menetapkan setiap langkah hidup kita yang berkenan kepada-Nya dan apabila Tuhan ijinkan kita jatuh tidak akan sampai tergeletak sebab Tuhan menopang tangan kita dan anak cucu kita tidak akan terlantar hidupnya. [ayat 23-25] 4. Nantikanlah Tuhan dan tetap ikuti jalan-Nya [ayat 34] 5. Hiduplah dengan tulus hati , jujur dan suka damai maka pasti ada masa depan dalam hidup kita.[ ayat 37] Dengan berbekal nasehat-nasehat pemazmur ini, mari kita mantap memasuki tahun 2018 !! Jika badai datang hadapi dengan damai yang dari Tuhan.
Bangsa Indonesia akan menjalani “tahun yang sibuk” di sepanjang tahun ini hingga tahun 2019 nanti. Indonesia akan menyelenggatakan “hajatan politik dan pesta demokrasi” besar. Paling tidak hingga tahun depan, yaitu pemilihan kepala daerah secara serentak di beberapa daerah di tahun 2018. Dan pemilihan legislatif dan pemilihan Presiden di tahun 2019. Jika kita berbicara tentang “hajatan politik”, maka ada fenomena yang selalu menyertainya. Apa itu? Politikus dadakan mulai bermunculan. Mulai dari hanya sekedar menjadi pengamat dan memprediksi perkembangan politik, hingga merapatkan diri ke parpol untuk dapat tampil menjadi politikus yang layak untuk maju dalam pemilihan. Kita semua tidak tahu, apakah semuanya itu dilandasi dengan sebuah motivasi yang benar atau hanya sekedar ingin tenar. Fenomena di atas seolah-olah juga mewabah hingga ke gereja. Tidak sedikit kita melihat fenomena, orang-orang yang “katanya” ingin terjun dalam hal kerohanian karena panggilan Tuhan. Mulai dari menjadi pelayan mimbar, menjadi hamba Tuhan ataupun menjadi pemberita Injil, namun ujung-ujungnya ternyata hanya untuk popularitas dan kenyamanan diri. Semuanya itu akan teruji dengan waktu apakah motivasi yang dibawa adalah benar, atau hanya sekedar kamuflase kebohongan belaka. Sebagai utusan Allah yang dipercaya untuk memberitakan Injil, Rasul Paulus menyampaikan pengajaran dengan motivasi yang benar. Pengajaran yang disampaikannya bukan untuk menyenangkan hati manusia, melainkan menyenangkan hati Allah. Paulus tidak mengajar dengan perkataan yang manis. Paulus juga tidak mengajar untuk mendapatkan uang atau mencari pujian dari manusia. Paulus memberitakan Injil dan menjalankan panggilan pelayanan-Nya semua dengan motivasi yang benar dan bukan untuk keuntungan diri semata. Namun sayangnya, masih banyak orang Kristen yang takut menyatakan kebenaran. Mereka lebih memilih menyenangkan orang, agar keberadaannya diterima, dan mencari sanjungan orang lain. Berkata-kata dengan manis, namun tujuannya melenceng, supaya diri pribadi terus dipercaya tampil di depan umum, supaya diri pribadi nyaman, dan sebagainya. Jangan sampai kita lupa bahwa hidup ini adalah milik Allah dan harus dipersembahkan bagi kemuliaan nama-Nya. Kita dipanggil untuk mewartakan Injil dengan murni, tanpa tipu daya atau motivasi yang terselubung. Ingatlah selalu, manusia mungkin dapat kita bohongi dengan penampilan manis kita, namun Tuhan tidak dapat dibohongi dengan semuanya itu. Jadilah murid Kristus yang mempunyai motivasi yang tulus dan benar di hadapan Allah. Jadilah pewarta kebenaran Firman yang tulus dan benar.
Bulan pertama di tahun yang baru, orang menyambutnya dengan ucapan, ’Happy New Year!’ Dengan amunisi semangat yang masih menjulang tinggi, tersemat harapan bahwa tahun yang baru akan disarati oleh segala yang membawa kebaikan, kebahagiaan dan keberhasilan. Tidak sulit bagi kita untuk tersenyum lebar dan bersikap optimis menyambut tahun yang baru apabila kondisi fisik, psikis atau ekonomi kita relatif stabil. Namun pada kenyataannya hidup ini tidak sesederhana itu. Bagi sebagian orang, langkah awal menyambut tahun baru tidak seideal yang diharapkan. Ada yang mengawali langkah di tahun baru dengan masalah keluarga yang bagai benang kusut. Ada yang mengawali tahun dengan deraan penyakit yang belum juga sembuh. Ada yang memulai tahun dengan lilitan utang yang tak kunjung berkurang. Ada yang terjerat perkara-perkara rumit yang masih gelap juntrungnya. Lalu bagaimana bisa menatap bulan-bulan ke depan dengan optimis? Masih berlakukah ’Happy New Year’ dalam situasi begini? Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, melainkan orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa [Markus 2:17]. Kristus hadir di hidup kita justru karena kita ini manusia yang rentan. Mudah jatuh dalam dosa. Mudah terjerat masalah. Mudah sakit. Mudah putus asa. Justru karena itulah kita memerlukan Yesus Kristus sang Penyelamat, Raja Damai. Dia tahu kita tak mungkin bertahan tanpa kehadiran-Nya, karena itulah Ia rela merendahkan diri-Nya sedemikian rupa dan datang kepada kita. Berbahagialah setiap manusia yang menanggapi panggilan-Nya sebab dengan demikian jiwanya akan mendapat ketenangan, ’Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.’[Matius 11:28]
Langkah awal adalah langkah yang sangat menentukan. Dalam sebuah pertandingan olah raga, langkah awal/start sangat menentukan. Langkah awal yang salah akan berakibat fatal. Langkah awal yang benarakan memampukan kita menyelesaikan pertandingan dengan baik bahkan meraih kemenangan. Langkah awal apa yang kita ambil menghadapi tahun2018 yang terbentang di depan kita? Sungai Yordan yang dalam dan lebar [keadaan pada waktu itu] ada di depan Yosua ketika ia memimpin umat Israel berkalan menuju tanah perjanjian. Bagaimana cara menyeberangkan umat Israel? Langkah awal apa yang Yosua lakukan menghadapi sungai Yordan yang terbentang di depan mereka? Langkah awal Yosua adalah mengikuti petunjuk Firman Tuhan, mengajak umat Tuhan mengkuduskan diri dan percaya bahwa Tuhan akan melakukan perbuatan ajaib. Langkah awal Yosua selanjutnya diikuti oleh langkah awal para Imam, langkah iman, mereka mengangkat tabut perjanjian dan mencelupkan kaki mereka ke dalam air, wow...mujizat terjadi. Sungai Yordan sebak, berhentilah air itu mengalir lalu menyeberanglah bangsa itu. Tahun 2018 mungkin merupakan bentangan waktu dengan banyak masalah, tantangan dan kesulitan yang mustahil untuk diselesaikan. Mari kita berani ambil langkah awal sesuai petunjuk Firman Tuhan, kita melangkah ke depan dengan langkah iman. Jangan berdiam diri meratapi kesulitan. Mari kita mulai bangkit dan mulai melangkah. Langkah awal dengan ketaatan dan iman akan menghasilkan mujizat demi mujizat Tuhan.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Waspada Terhadap Pengaruh Gairah Zaman
19 Januari '18
Sang Firman
29 Desember '17
Percaya Saja
02 Januari '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang