SEPEKAN TERAKHIR
  Kamis, 18 Januari 2018   -HARI INI-
  Rabu, 17 Januari 2018
  Selasa, 16 Januari 2018
  Senin, 15 Januari 2018
  Minggu, 14 Januari 2018
  Sabtu, 13 Januari 2018
  Jumat, 12 Januari 2018
POKOK RENUNGAN
Bersaksi tentang Kristus merupakan suatu kesempatan untuk memenangkan dan menyelamatkan jiwa yang berdosa bagi kemuliaan Tuhan Yesus.
DITULIS OLEH
Pdt. Y. Agus Santoso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Tiga Penghalang Untuk Bersaksi
Tiga Penghalang Untuk Bersaksi
Selasa, 05 September 2017
Tiga Penghalang Untuk Bersaksi
Kisah Para Rasul 1:4-10

Pak Martono baru saja mengikuti pelatihan Pekabaran Injil yang diadakan oleh gerejanya. Metode yang diajarkan untuk bersaksi sangat sederhana dan orang-orang yang dijangkau lebih dahulu adalah mereka yang dalam lingkup terdekat. Setelah selesai pelatihan pak Martono sadar bahwa selama ini ia telah menyia-nyiakan waktu dan kesempatan untuk bersaksi. Ia juga menyadari kalau selama ini tidak memiliki keberanian untuk bersaksi. Setelah menyelesaikan pelatihan pak Martono berkomitmen untuk bersaksi tentang Tuhan Yesus kepada mereka yang belum mengenal Tuhan Yesus terutama yang ada di lingkungan terdekatnya.

Nats bacaan hari ini berbicara tentang tugas pokok orang percaya saat menantikan Tuhan Yesus datang kembali ke dunia untuk kedua kalinya. Tugas utama orang percaya adalah bersaksi, bukan hanya sekedar menunggu dengan diam dan tidak berbuat sesuatu. Mengapa sampai saat ini orang percaya enggan untuk bersaksi tentang Tuhan Yesus meskipun kesempatan dan waktunya ada? Berikut ini merupakan hasil sharing salah satu Komcil yang membahas topik tentang bersaksi bagi Kristus.

Pertama, kita tidak bersaksi tentang Kristus k...selengkapnya »
Kata “Anugerah” berarti pemberian dari pihak yang “lebih tinggi” kepada yang “lebih rendah” atau dari tuan kepada hamba. Jika kata tersebut dihayati dalam “kacamata” iman, maka kata “anugerah” tersebut menjadi sangat dalam. Bukan hanya sekedar pemberian yang asal diberikan oleh Tuhan, namun di balik pemberian tersebut ada rencana yang tidak dapat dimengerti dengan akal budi manusia. Agar manusia senantiasa berpengharapan serta menerima curahan anugerah-Nya, maka mereka harus menerima Tuhan dengan kesungguhan. Tuhan sangat mengasihi Daud. Kepemimpinan Daud bukan hanya untuk suku Yehuda, sehingga Tuhan berkenan mengangkat Daud menjadi pemimpin atas Israel. Kekuasaan yang awalnya dari lingkup kecil [terbatas], sekarang meluas kepada bangsa besar [ayat 3]. Inilah bukti anugerah Tuhan yang tidak terselami akal budi manusia, yaitu Tuhan menggunakan Daud menjadi raja atas suku-suku bangsa Israel. Kehidupan Daud sekarang bukan untuk sukunya sendiri, tetapi meluas ke seluruh suku Israel [ayat 9-10]. Menerima anugerah dari Tuhan adalah berkat besar bagi diri sendiri, namun sebenarnya di balik anugerah yang diterima secara individu ada maksud dan rencana Tuhan yang lebih luas, bukan saja dalam area pribadi tetapi mencakup area yang luas. Daud menerima anugerah kepemimpinan dari Tuhan, secara individual Daud diberkati, tetapi di balik penganugerahan itu Tuhan ingin agar tidak saja suku Yehuda yang diberkati, tetapi kepada semua suku Israel. Jadi Anugerah yang diterima orang percaya harus dirasakan pula oleh sesama sebagai perwujudan kasih sejati seperti yang dikehendaki Tuhan. Relasi yang harmonis antara orang percaya dengan Tuhan berdampak terhadap kehidupan yang lebih luas. Anugerah tersebut memang menjadi milik personal, namun harus dimanfaatkan untuk menyatakan kasih Tuhan kepada sesama. Dengan demikian bangunan spiritualitas yang terjadi adalah karakter hidup menghamba [bnd. 2 Korintus 12:2-10]. Dengan memperingati Natal, maka kita kembali diingatkan bahwa kita menerima anugerah keselamatan dari Allah dan supaya kita mewartakan kepada banyak orang. Selamat Natal dan selamat menjadi berkat.
Berlutut di hadapan Tuhan tidaklah hanya berbicara tentang sikap doa, tetapi juga sikap hati di mana kita mencari Tuhan. Doa adalah hal yang dapat dilakukan oleh siapapun juga, dan mengandung kuasa yang besar. Charles Stanley dalam bukunya ’Landmines in The Path of the Believer’ [Ranjau yang tersembunyi di balik jalan orang percaya] menyatakan, ’Kita berdiri makin tinggi dan kuat di atas lutut kita.’ Buku tersebut menceritakan tentang keadaan di mana dia mengalami saat-saat yang begitu gelap dan putus asa, dia terbangun di tengah malam dan duduk di sisi tempat tidurnya dan berdoa. Ia menyerukan seluruh persoalannya kepada Tuhan, dan kemudian meminta Tuhan menolong dia untuk dapat tidur kembali. Pada saat ia terombang-ambing dan putus asa, dia belajar satu hal yang sangat penting yaitu, ’Jika saya tetap fokus pada Tuhan, saya akan memperoleh pertolongan, kekuatan dan kemenangan untuk melewatinya, sekalipun dunia di sekeliling saya nampaknya akan runtuh’. Doa akan menolong kita fokus pada Tuhan. Malas berdoa membuat kita terfokus pada keadaan kita. Seperti yang Yesus nyatakan, ’Berjaga-jagalah dan berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan. Roh memang penurut tetapi daging lemah.’ Kekuatan kita terletak di dalam doa, tetapi banyak kali kita mengabaikan doa. Kita memiliki banyak waktu untuk mendengar khotbah-khotbah, seminar-seminar, bahkan kesaksian-kesaksian tentang pentingnya doa. Namun kita tidak memiliki waktu untuk dapat berdoa. Bila kita menabung waktu dalam doa, maka kita sedang menanamkan kuasa yang besar dalam hidup ini. Sesungguhnya yang menjadi persoalan bagi orang percaya bukanlah karena kekurangan pengetahuan tentang doa, tetapi karena sikap malas berdoa. Bagaimana kita dapat membuang sikap malas berdoa? Dengan mengaku di hadapan Tuhan akan kemalasan kita dan meminta kepada Tuhan agar memberikan hati dan jiwa yang haus kepada Tuhan. Kesibukan dalam kehidupan telah membuat kita mengabaikan doa. Kita kehilangan poin penting dari kehidupan kekristenan, dan menempatkannya pada urutan ke sekian. Sadarilah bahwa doa menjadi basis utama dan segala berkat-berkat Tuhan yang telah disediakan-Nya.
Peristiwanya terjadi amat sangat lama, puluhan tahun yang lalu. Waktu itu saya menghadiri perayaan Natal mahasiswa di sebuah Seminari [Sekolah Alkitab]. Hati saya terperangah, terkagum-kagum menyaksikan sajian musik genta [lonceng] mengumandangkan lagu “Kesukaan Bagi Dunia”. Jumlah genta yang dimainkan tidak begitu banyak tapi dentang genta itu bergema memenuhi kalbu saya, membawa angan-angan saya melayang ke ribuan tahun yang lalu. Para malaikat menyanyi memberitakan natal pertama kepada para gembala di tengah-tengah kesunyian malam. Entah kenapa air mata sukacita mengalir tak terbendungkan mengenang masa itu. Sampai saat ini genta natal itu masih bergema di hati di saat tangan saya memegang lilin kecil yang menyala di malam Natal. Cerita lonceng natal adalah salah satu simbol/lambang Natal. Asal-usul lonceng dijadikan simbol natal karena bunyi lonceng yang bergema melambangkan berita tentang kelahiran Juruselamat yang dibawa para malaikat. Berita tentang kelahiran Yesus Kristus adalah suatu berita yang membawa kesukaan bagi dunia. Nabi Yesaya telah menubuatkan tentang kedatangan Yesus Kristus, Sang Mesias. Gema lonceng natal memberitakan : 1. Bahwa “Allah itu Raja” [ayat 7], Yesus Kristus memang datang ke dalam dunia sebagai Raja yang memerintah secara rohani dalam kebenaran. 2. Berita ini mendatangkan penghiburan dan sukacita [ayat 9]. Yesus Kristus adalah Terang Dunia. Ketika Ia datang, kegelapan sirna karena kegelapan tidak dapat menguasainya [Yohanes 1:1-9]. 3. Berita itu adalah berita keselamatan. Sang Penebus sudah datang. Ketika umat manusia yang berdosa mau menerima-Nya oleh iman kepada-Nya, ia diselamatkan. Dari status seorang musuh Allah diubah menjadi anak-anak Allah [Yohanes 1:12]. 4. Berita itu adalah berita penyertaan Allah bagi umat-Nya. Yesus Kristus disebut Imanuel [Matius 1:23], Allah beserta kita. 5. Berita itu sekaligus tentang Yesus Kristus sebagai Hamba yang menderita [ayat 13]. Sekalipun Ia raja, Ia datang dalam kesederhanaan, bahkan kepapaan dengan palungan sebagai tempat lahir-Nya. Namun itu semua tidak mengurangi kasih Bapa bagi umat-Nya. Terima kasih Bapa buat gema lonceng Natal yang memberikan suatu sukacita besar bagi umat manusia.
Waktu berjalan dengan begitu cepat dan tidak terasa tulisan demi tulisan yang ada di renungan warta jemaat sudah berjalan selama tujuh tahun lamannya. Sejak tulisan renungan warta untuk pertama kalinya dimuat di dalam warta jemaat pada bulan Januari tahun 2011, hingga di hari terakhir di tahun 2017 ini, ada banyak hal menarik di dalamnya. Para penulis renungan harian berusaha memberikan yang terbaik bagi para pembaca renungan ini. Para penulis berusaha menuangkan ide dan perenungannya untuk mengajak jemaat dan seluruh pembaca dapat bertumbuh imannya melalui tulisan ini. Bukan hal yang mudah bagi para penulis untuk menyajikan ide yang segar, original dan bermanfaat bagi para pembaca. Lihatlah, bagaimana ide tulisan dengan ilustrasi tokoh imajimer yang bernama Benay dan Sambey, dikemas dengan segar yang kemudian membawa jemaat masuk dalam refleksi yang lebih dalam. Atau ilustrasi seputar kisah pribadi dari sang penulis yang dimunculkan dalam tulisannya. Juga ilustrasi pengantar berupa hal-hal yang terkait dengan sepakbola atau film juga turut muncul di sana. Bahkan ulasan seputar politik maupun kejadian sehari-hari yang update pun pernah muncul dalam renungan harian warta jemaat. Konsisten untuk tetap menulis dan menuangkan ide yang segar sebagai bahan perenungan untuk renungan di warta jemaat bukan hal yang sederhana dan mudah bagi para penulis. Para Penulis hanya alatnya Tuhan untuk memberkati jemaat melalui tulisan. Jika bukan karena Tuhan yang membimbing, para penulis bukanlah siapa-siapa. Tuhan yang membimbing dan memberikan kekuatan! Nabi Samuel beserta seluruh umat Israel pun menyadari hal yang serupa. Bangsa Israel merasakan dan tahu benar tentang sulitnya berperang melawan orang Filistin. Bahkan tidak jarang juga bangsa Israel harus menelan kekalahan dari lawannya itu seperti yang dikisahkan di dalam 1 Samuel 4. Seperti halnya sebuah roda yang ada kalanya di atas dan ada kalanya di bawah, kisah sebaliknya justru diceritakan di 1 Samuel 7. Di dalam 1 Samuel 7, bangsa Israel mengalami kemenangan yang luar biasa. Apakah kemenangan ini adalah karena bangsa Israel yang hebat? Nabi samuel memberi jawaban dengan mendirikan sebuah “monumen” dengan berkata, ’Eben-Haezer, katanya: ’Sampai di sini TUHAN menolong kita’ [ay. 12]. Kata-kata ini bukanlah hanya sebuah perkataan formalitas, namun ada makna mendalam di dalamnya. Sebuah ungkapan iman yang menyatakan Tuhan yang menjadi pelindung, penolong, dan pembela bagi umat Israel di dalam segala keadaan. Bagaimana dengan kita? Apakah kita masih percaya bahwa Tuhan menolong dan menyertai kita hingga detik ini? Masihkah percaya dengan kuasa Tuhan yang tidak terbatas? Masihkah kita percaya pada kebaikan Tuhan? Ataukah justru dari hari ke hari kita menjadi ragu kepada Tuhan? Tinggal beberapa saat lagi kita meninggalkan tahun yang lama untuk memulai tahun yang baru. Kiranya di tahun yang baru, iman itu tidak menjadi pudar. Iman kita harus terus menyala-nyala di dalam Tuhan. Sebab dari sekarang dan sampai selama-lamanya, Tuhan selalu menolong kita. Selamat bersukacita di dalam Tuhan di tahun yang baru. Tuhan Yesus memberkati.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Bukan Sisanya
05 Januari '18
Menyiapkan Lahan Hati
09 Januari '18
Kunci Keberhasilan Di Tahun Ini
14 Januari '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang