SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 20 April 2018   -HARI INI-
  Kamis, 19 April 2018
  Rabu, 18 April 2018
  Selasa, 17 April 2018
  Senin, 16 April 2018
  Minggu, 15 April 2018
  Sabtu, 14 April 2018
POKOK RENUNGAN
Karena Anak Manusia adalah Tuhan dari hari Sabat.
DITULIS OLEH
Sdr. Daud Sugiyarno
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Tuhan Atas Hari Sabat
Tuhan Atas Hari Sabat
Kamis, 19 Oktober 2017
Tuhan Atas Hari Sabat
Matius 12:1-8

Orang Farisi juga menjadi bagian dari rombongan yang selalu mengikuti Yesus. Namun tujuan mereka selalu mengikuti Yesus bukanlah untuk menjadi murid-Nya atau mendengarkan Firman, melainkan hanya untuk mencari kesalahan Yesus. Mereka membenci Yesus dan pengikut-Nya.

Kehidupan Yesus dan pengikut-Nya begitu baik sehingga para orang Farisi tidak dapat membuat mereka dibenci oleh orang banyak. Pada ayat pertama dan kedua dituliskan bahwa hal yang dapat mereka temukan hanyalah para murid memakan bulir gandum pada hari Sabat karena mereka lapar. Orang Farisi itu menganggap para murid melanggar hukum Sabat. Orang Yahudi tidak boleh bekerja di ladang pada hari Sabat, dan para murid memetik bulir gandum. Memetik bulir gandum mereka anggap sama dengan bekerja di ladang. Orang Farisi begitu picik, mereka mencari-cari alasan yang mereka anggap kuat untuk menjatuhkan Yesus. Mereka adalah orang-orang yang hanya tahu peraturan tetapi tidak pernah memahami esensi dari peraturan itu dan menjadi orang yang kaku dan mudah sekali menghakimi orang lain.

Tuhan Yesus membongkar kepicikan orang Farisi dengan memberikan contoh dari 1 S...selengkapnya »
Mengalami Tuhan yang bangkit Yohanes 20:24-29 Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: ’Kami telah melihat Tuhan!’ Tetapi Tomas berkata kepada mereka: ’Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.’ [ayat 25] Tomas tidak percaya bahwa Tuhan Yesus bangkit dan hidup. Sebelumnya murid-murid yang lain telah berjumpa dengan Yesus yang bangkit, tetapi waktu itu Tomas tidak ada bersama mereka. Tomas tidak mengalami Tuhan yang bangkit karena dia tidak ikut berkumpul bersama murid-murid yang lain. Tomas termasuk tipe orang yang sulit percaya sebelum melihat bukti. Dia menuntut bukti kebangkitan Yesus dengan cara meraba atau menyentuh dengan tangannya sendiri tubuh Yesus yang bangkit. Lalu Yesus menampakkan diri dan mempersilahkan Tomas mencucukkan jarinya ke dalam lobang bekas paku dan mencucukkan tangannya ke dalam lambung-Nya. Apa yang bisa kita pelajari dari peristiwa ini? Pertama, bahwa Tuhan Yesus yang bangkit itu adalah pribadi yang riil, nyata. Dia bukan sekedar ada dalam cerita atau dalam angan-angan para murid. Dia hadir secara nyata di tengah murid-murid-Nya. Dia menyatakan bahwa Dia tetap hidup dan berkuasa, seperti sebelum Dia mati di kayu salib. Dia juga tetap hidup sampai hari ini. Kita bisa mengalami kehadiran-Nya secara nyata pula. Kedua, Tuhan Yesus menyatakan diri-Nya di tengah persekutuan murid-murid-Nya, ketika mereka sedang berdoa bersama. Tomas ketinggalan menyaksikan Tuhan karena dia tidak ikut persekutuan mereka. Di sini kita melihat betapa pentingnya persekutuan orang percaya atau ibadah bersama. Tuhan Yesus hadir dan menyapa umat-Nya yang bersatu hati di dalam doa, sebab Dia sendiri pernah berkata: ’Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.’ [Matius 18:20]. Marilah kita merindukan kehadiran Tuhan yang bangkit di dalam hidup kita. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
“ Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu” Seandainya Tuhan menyampaikan kalimat itu kepada kita, kira-kira apa yang akan kita minta ya.? Tentu kita akan minta kesehatan dan umur panjang, atau berkat yang melimpah, keluarga yang diberkati dan rukun, suami/istri dan anak-anak yang cinta Tuhan, financial yang cukup, hutang-hutang lunas semua, bisnis yang lancar jaya dan masih banyak lagi daftar yang akan kita sodorkan. Itu logis dan manusiawi, karena kita memang memerlukan semua itu dalam kehidupan kita. Tapi coba kita lihat apa jawab Salomo, ketika kalimat itu disampaikan Tuhan kepadanya dalam kitab 1 Raja 3:5. “Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara….” [1 Raja 3:9]. Ternyata bukan umur panjang dan kekayaan yang diminta oleh Salomo, tetapi hikmat dalam menimbang perkara. Salomo tidak meminta sesuatu yang hanya berfokus kepada kehidupan pribadinya saja [ kesehatan, umur panjang, berkat, kekayaan dll ] tetapi lebih memilih permintaan yang berkwalitas, yaitu permintaan yang menambah value atau nilai dalam kepribadian nya. Hikmat, kesabaran, pengendalian diri, kerendahan hati, hati yang dipenuhi Kasih, kemurahan, adalah beberapa contoh permintaan yang berkualitas, karena bukan saja pribadi kita yang akan merasakan, tapi orang-orang disekitar kitapun akan menerima dampaknya, ketika itu semua diberikan Tuhan kepada kita. Ketika Salomo meminta hikmat kepadaNya, Tuhan memberikan banyak masalah/persoalan dalam kehidupan Salomo supaya Salomo bisa mempraktek kan apa yang sudah dimintanya. Begitupun bagi kita, saat kita minta kesabaran/kerendahan hati/hati yang dipenuhi Kasih, Tuhan akan menghadapkan kita dengan berbagai masalah/persoalan, dengan maksud supaya kitapun bisa mempraktekkan apa yang sudah kita minta. Tuhan tidak hanya memberikan sebatas yang diminta Salomo, yaitu hikmat untuk menimbang perkara, tapi Dia menambahkan apa yang tidak diminta Salomo. ”... dan juga apa yang tidak kau minta Aku berikan kepadamu, baik kekayaan maupun kemuliaan sepanjang umurmu…” [1 Raja 3:13]. Karena itu tidak perlu kawatir dengan apa yang kita butuhkan, karena Dia akan menambahkan apa yang tidak kita minta, ketika kita belajar untuk mengajukan permintaan yang lebih berkualitas kepada Nya.
Sahabat adalah seorang yang menemani dikala orang lain meninggalkan kita seorang diri. Tidak hanya hadir pada waktu sukacita melainkan juga pada waktu susah dan terpuruk. Didasari oleh kasih yang tulus ia akan berada disisi kita dalam segala keadaan dan mau menerima apapun keberadaan kita. Akan selalu siap untuk ditegur dan dikoreksi demi kebaikan bersama. Akan menjaga rahasia dan tidak akan melanggar untuk kepentingan sendiri. Komitmen untuk melakukan apa yang menjadi kesepakatan bersama apapun yang terjadi. Kasih seorang sahabat tidak lekang oleh waktu. Itulah pernyataan Walter Winchell seorang komentator radio di Amerika tentang sahabat. Yesus adalah sahabat yang sejati yang dengan kasih rela memberikannyawa-Nya untuk sahabat-sahabat-Nya. Tiada kasih yang lebih besar dari pada kasih Yesus. Yang disebut sebagai sahabat-Nya ialah mereka yang melakukan perintah-Nya. Kendati taat melakukan perintah tidak disebut sebagai hamba tetapi sahabat karena diberitahukan segala sesuatu yang dari Bapa. Dia sendiri yang memilih siapa yang menjadi sahabat-Nya dan yang terpilih harus menghasilkan buah. Semua sahabat-Nya harus mengasihi sesama seperti kasih-Nya pada manusia. Kita bersyukur telah dipilih menjadi sahabat-Nya dan seyogyanya kita berperilaku sebagai sahabat yang sejati kepada-Nya. Kita berkomitmen untuk taat pada perintah-Nya dan tidak ada sedikitpun keinginan untuk melanggarnya. Kita rela untuk menerima teguran atau koreksi bila suatu saat kita khilaf meskipun setiap teguran akan mendatangkan ketidak nyamanan. Ketika harus melewati masa sukar atau penderitaan kita akan tetap setia kepada-Nya dan tidak berpaling kepada yang lain. Kasih kita kepada-Nya tidak lekang oleh waktu dan senantiasa akan kita ceritakan kepada semua orang betapa besar kasih karunia Sahabat sejati kita.
Saat seseorang melontarkan ide yang dianggapnya “cemerlang” dengan antusias, penuh semangat membara bisa saja tiba-tiba menjadi lunglai, lesu. Mengapa ??? Karena ternyata tidak ada yang mendukung ide cemerlangnya itu bahkan tidak sedikit yang mencelanya. Semangatnya seolah bersayap, terbang meninggalkan dirinya, mulutnya terkunci tak sanggup lagi mengeluarkan kata-kata sanggahan. Peristiwa semacam ini sering terjadi bahkan mungkin kita sendiri pernah mengalaminya. Lain halnya dengan Bartimeus, si pengemis buta anak Timeus yang selalu duduk di pinggir jalan mengharap berkat dari orang-orang yang lewat. Walau buta dia tipe orang yang pantang menyerah, selalu semangat. Suatu hari Yesus keluar dari Yerikho bersama-sama para murid dan orang banyak yang berbondong-bondong yang tentu saja membuat suasana menjadi sangat ramai dan menarik perhatian Bartimeus. Ketika Bartimeus mendengar bahwa yang lewat itu adalah Yesus dari Nazaret, serta merta dia berteriak, berseru kepada Yesus untuk mengasihaninya [ayat 47]. Banyak orang merasa tidak nyaman dengan teriakannya itu dan menegurnya supaya diam. Namun larangan itu tidak membuatnya putus asa !! Bartimeus tetap semangat, dia berseru semakin keras untuk minta belas kasihan Yesus [ayat 48]. Yesus menghentikan langkah-Nya, meminta mereka memanggil Bartimeus [ayat 49]. Dengan segera dia berdiri, pergi menjumpai Yesus dan ketika Yesus menanyakan apa yang diinginkannya, tanpa ragu Bartimeus menjawab dia ingin dapat melihat. [ayat 50,51]. Di akhir kisah ini kita tahu Yesus membuat Bartimeus “si buta” dapat melihat kembali karena imannya kepada Yesus dari Nazaret yang diakuinya sebagai “Rabuni/Guru” dan ditinggalkannyalah pekerjaannya sebagai pengemis, mengikuti perjalanan Yesus [ayat 52]. Bagaimana dengan kita? Dalam perjalanan hidup kita, baik di keluarga, pekerjaan bahkan mungkin dalam pelayanan begitu banyak tantangan seakan merintangi bahkan kadang “menjegal” yang membuat kita putus asa, kehilangan semangat. Mari kita belajar dari Bartimeus “si buta” yang selalu semangat dan menghargai sang Rabuni yang memberinya kesempatan untuk dapat melihat dengan cara mengikuti-Nya ke mana sang Guru pergi. Semangat !!!! Amin.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Pengorbanan Yang Tidak Sia-Sia1
01 April '18
Sudah Selesai
28 Maret '18
Tuhan Yesus Teguh Iman Dan Mengutus
14 April '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang