SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 20 April 2018   -HARI INI-
  Kamis, 19 April 2018
  Rabu, 18 April 2018
  Selasa, 17 April 2018
  Senin, 16 April 2018
  Minggu, 15 April 2018
  Sabtu, 14 April 2018
POKOK RENUNGAN
Tuhan selalu memberikan yang terbaik kepada kita, hanya saja terkadang kita gagal memahaminya.
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas P. Chandra
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Yang Terbaik
Yang Terbaik
Jumat, 23 Juni 2017
Yang Terbaik
Matius 7:11

Tak semua yang kita anggap baik, itu baik juga di mata orang lain. Demikian juga halnya soal memberi. Kita mungkin menganggapnya sebagai pemberian terbaik, namun bisa saja orang yang menerima pemberian kita itu tidak berpikir demikian. Pengalaman seperti ini saya alami ketika hendak memberikan kado ulang tahun untuk anak saya. Saya berusaha mencari kado terbaik. Saya pikir anak saya akan membuka kado tersebut dan wajahnya akan berbinar-binar begitu mengetahui apa yang ada di dalamnya. Namun ternyata tidaklah demikian. Anak saya tetap mengucapkan terima kasih, tapi dari ekspresi wajahnya saya tahu bahwa ia sebenarnya tidak begitu menyukai hadiah yang saya berikan.

Memikirkan hal itu, saya teringat akan hubungan kita dengan Bapa sorgawi. Betapa sering kita mengecewakan hati Bapa, yaitu ketika kita merasa tidak cocok dengan apa yang telah diberikan-Nya. Padahal Bapa selalu memberikan yang terbaik kepada anak-anak-Nya. Kita saja yang gagal paham. Pergumulan kita anggap hadiah yang menyulitkan, padahal pergumulan adalah hadiah yang membuat kita kuat. Tekanan kita anggap hukuman, padahal di balik itu ada berkat yang tersembunyi. Gesekan dan konflik kita anggap sesuatu yang mengesalkan, padahal itu diberikan Tuhan untuk membentuk karakter kita. Masalahnya terletak pada c...selengkapnya »
Sejenak kita tinggalkan Sambey, Pdt. Itong dan Mbah Wanidy dengan segala pikiran yang berkecamuk di kepala mereka. Marilah kita arahkan pandangan mata kita nun jauh di sana. Pada sosok Benay yang berada di Iraq, negeri Saddam Husein yang kaya minyak namun sekaligus kaya konflik. Ya, Benay masih hidup dan sangat rindu untuk dapat segera pulang ke tanah air. Ia sudah kangen dengan nasi goreng babat, lunpia Semarang, dan tentu saja nasi bungkus dan racikan kopi khas angkringan Mbah Wanidy. Ia sangat rindu pula pada Sambey, sahabat karibnya. Bayangan canda tawa dan keakraban di antara mereka terukir indah di langit-langit angannya. Dan itu semua membuat waktu penantian seperti ini terasa begitu lama dan sangat menyiksa batin Benay. Namun di sela-sela dera kerinduan itu, ada nuansa kepuasan yang tak terlukiskan dalam nurani Benay. “Sudah selesai”, kata Benay. Kalimat singkatnya itu merangkumkan semua jerih lelah dan pengorbanan yang telah ia persembahkan dalam misi kemanusiaan yang penuh risiko. Ya, Benay sungguh bersyukur diberi kesempatan untuk mencicipi pengalaman-pengalaman yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Melalui pengalaman-pengalaman itu hidupnya makin diperkaya dan kian merasakan campur tangan Tuhan sungguh nyata. Jemaat yang terkasih. Sama seperti Benay yang telah setia dan berhasil menyelesaikan misinya, demikian juga dengan Yesus Kristus. Hidupnya sungguh-sungguh dibaktikan-Nya untuk menggenapi seluruh kehendak Bapa. Yaitu kehendak untuk menanggung dosa seisi dunia, supaya manusia yang berdosa mendapatkan anugerah keselamatan oleh iman kepada-Nya.Saat-saat penghinaan, penyiksaan dan penyaliban yang begitu menyakitkan, menjadi saat-saat yang lama bagi Yesus. Namun Dia begitu sabar menanggungnya dan menjalaninya dengan setia. Hingga saat pamungkas yang dinanti-nanti tiba. Dengan tergantung di kayu salib, Yesus berkata, “Sudah selesai.” Dia menundukkan kepala lalu menyerahkan nyawa-Nya. Dengan perkataan itu Yesus maksudkan untuk menyatakan bahwa: pertama, misi penyelamatan-Nya untuk menggenapi kehendak Bapa sudah rampung; kedua, jangan ada lagi praktek-praktek ketidakadilan dengan mengorbankan orang-orang lemah, miskin dan tak berdaya untuk menanggung/menutupi kesalahan para penguasa yang tak bernurani. Jemaat yang dikasihi Tuhan. Beberapa hari menjelang peringatan Jumat Agung dan Paskah ini, marilah kita bersyukur buat anugerah keselamatan yang sudah kita terima. Sekaligus kita mengingat bahwa keselamatan itu harganya sangat mahal, yaitu seharga darah Kristus yang suci dan dengan demikian harganya tak terkira. Marilah kita menghargai-Nya dengan hidup benar dan adil di hadapan Tuhan dan bagi semua orang. Janganlah kita hidup menikmati gelimang dosa lagi. Dan jauhilah sikap dan tindakan yang mencari aman dengan mengabaikan dan mengkambing-hitamkan orang-orang kecil “yang tak berdosa”. Selamat bersyukur. Terpujilah Tuhan!
Orang percaya yang telah ditebus oleh darah Yesus [penebusan Salib Kristus] telah dibeli dengan harga yang lunas dibayar dan dirinya menjadi milik Tuhan [I Korintus 6:19-20]. Berarti hidupnya tidak boleh memiliki cita-cita, keinginan untuk meraih sesuatu, kecuali sesuatu itu berguna bagi Tuhan. Keinginannya haruslah bukan untuk kepentingannya sendiri, bukan untuk harga diri, gengsi, kehormatan di mata manusia. [Lukas 14:33] Dalam ayat bacaan tertulis : “…semua orang yang menerima-Nya diberi kuasa [the right, hak istimewa] supaya menjadi anak-anak Allah,...” menjadi pribadi luar biasa, berkarakter serupa dengan Tuhan Yesus. Menjadi anak Allah tentunya bukan hanya sekadar status, namun benar-benar bisa berkeadaan sebagai anak Allah. Untuk mencapai keberadaan sebagai anak Allah tidaklah mudah, harus melalui proses panjang menjadi murid. Manusia diciptakan dengan . kehendak bebas di dalam dirinya, Tuhan tidak mengambil alih kemudi hidup atau kedaulatan manusia. Manusialah yang mengendalikan hidupnya, apakah mau mengarahkan hidupnya hanya untuk melakukan kehendak dan keinginan Tuhan atau tidak. Jadi yang sangat penting dalam hidup ini adalah, apakah kita sudah secara sadar rela dididik sebagai murid Kristus. Bapa sudah menganugerahkan fasilitas-fasilitas untuk membentuk kita bisa hidup sama seperti Kristus telah hidup, mengikuti jejak-Nya [I Yohanes 2:6] Fasilitas-fasilitas tersebut berupa : 1. Karya Penebusan oleh darah Yesus yang mahal harganya [I Petrus 1:18-19]. Dengan penebusan ini kita diubah status dari pemberontak menjadi orang kudus [I Korintus 1:2a]. Inilah yang disebut sebagai pengudusan pasif, yang hanya Tuhan yang dapat melakukannya. 2. Kebenaran Injil, yaitu kuasa Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, yaitu mengembalikan manusia kepada rancangan Allah semula, memiliki kemuliaan Allah, menjadi serupa dengan Tuhan Yesus [Roma 1:16]. Rasul Petrus mengingatkan bahwa kita menyucikan diri oleh ketaatan kepada kebenaran [I Petrus 1:22]. Kita harus sungguh-sungguh belajar Kebenaran Injil. Hal ini disebut pengudusan aktif. 3. Roh Kudus : Menuntun orang percaya kepada segala Kebenaran [Injil], menolong kita dalam proses pengudusan [Yohanes 16:13] 4. Penggarapan Bapa melalui peristiwa-peristiwa dalam kehidupan sehari-hari [Roma 8:28] Berkeberadaan sebagai anak Allah [bukan sekadar status] adalah hal yang menyenangkan hati Bapa, kita harus memperkarakannya setiap hari sepanjang waktu singkat yang masih ada.
Sahabat adalah seorang yang menemani dikala orang lain meninggalkan kita seorang diri. Tidak hanya hadir pada waktu sukacita melainkan juga pada waktu susah dan terpuruk. Didasari oleh kasih yang tulus ia akan berada disisi kita dalam segala keadaan dan mau menerima apapun keberadaan kita. Akan selalu siap untuk ditegur dan dikoreksi demi kebaikan bersama. Akan menjaga rahasia dan tidak akan melanggar untuk kepentingan sendiri. Komitmen untuk melakukan apa yang menjadi kesepakatan bersama apapun yang terjadi. Kasih seorang sahabat tidak lekang oleh waktu. Itulah pernyataan Walter Winchell seorang komentator radio di Amerika tentang sahabat. Yesus adalah sahabat yang sejati yang dengan kasih rela memberikannyawa-Nya untuk sahabat-sahabat-Nya. Tiada kasih yang lebih besar dari pada kasih Yesus. Yang disebut sebagai sahabat-Nya ialah mereka yang melakukan perintah-Nya. Kendati taat melakukan perintah tidak disebut sebagai hamba tetapi sahabat karena diberitahukan segala sesuatu yang dari Bapa. Dia sendiri yang memilih siapa yang menjadi sahabat-Nya dan yang terpilih harus menghasilkan buah. Semua sahabat-Nya harus mengasihi sesama seperti kasih-Nya pada manusia. Kita bersyukur telah dipilih menjadi sahabat-Nya dan seyogyanya kita berperilaku sebagai sahabat yang sejati kepada-Nya. Kita berkomitmen untuk taat pada perintah-Nya dan tidak ada sedikitpun keinginan untuk melanggarnya. Kita rela untuk menerima teguran atau koreksi bila suatu saat kita khilaf meskipun setiap teguran akan mendatangkan ketidak nyamanan. Ketika harus melewati masa sukar atau penderitaan kita akan tetap setia kepada-Nya dan tidak berpaling kepada yang lain. Kasih kita kepada-Nya tidak lekang oleh waktu dan senantiasa akan kita ceritakan kepada semua orang betapa besar kasih karunia Sahabat sejati kita.
Pak Petrus seorang aktivis pelayanan sebuah Gereja terserang penyakit kangker lever akut. Menurut diagnosis dokter usianya tinggal tiga bulan lagi. Namun karena kuasa mujizat Allah, pak Petrus dianugrahi Tuhan waktu 15 tahun lagi. Setelah dirinya sembuh dan mendapatkan kesempatan hidup selama 15 tahun, waktu tersebut tidak dia sia-siakan. Pak Petrus semakin giat melakukan pemberitaan Injil bagi jiwa-jiwa yang belum mengenal Tuhan Yesus. Selama periode 15 tahun pak Petrus berhasil memenangkan banyak jiwa-jiwa baru melalui kesaksian hidupnya sendiri. Sebagai orang percaya kita mempercayai ada kehidupan kekal setelah kematian. Kita juga meyakini bahwa Tuhan Yesus akan datang kembali ke dunia untuk kedua kalinya. Kita juga yakin bahwa hidup kita di dunia ada batasnya. Oleh sebab itu renungan kita hari ini berbicara tentang bagaimana kita mempergunakan waktu yang tersisa dari kehidupan kita saat ini [ayat 2]. Kita juga belajar dari Mazmur 90:10 bahwa setiap kita mendapatkan jatah kehidupan antara 70-80 tahun. Berarti saat ini kita memiliki waktu yang tersisa dari kehidupan kita untuk berjaga-jaga dan mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk memasuki kekekalan atau untuk menyambut kedatangan Tuhan Yesus kedua kalinya. Hal-hal apakah yang harus kita lakukan dengan sisa waktu yang tersedia saat ini ? Pertama, Bersikaplah militan terhadap dosa apapun yang menggodai diri kita untuk melakukannya [ayat 1-3]. Kita harus tegas berani bersikap melawan kuasa dosa yang mencoba menggoda diri kita. Tentu saja ini merupakan perjuangan hidup yang tidak mudah bagi kita. Karena selama bertahun-tahun kita sudah membiasakan diri untuk menuruti hawa nafsu dosa apalagi sekarang kita harus berhenti dari kebiasaan tersebut. Contoh, orang kecanduan rokok, pornografi, miras, berjudi akan sangat susah berhenti apabila dalam dirinya sendiri tidak ada tekad dan komitmen untuk berhenti dari kebiasaan buruk tersebut. Makanya ayat 2 berkata agar kita tidak menuruti kedagingan kita, tetapi menggunakan sisa waktu kita untuk melakukan kehendak Allah. Salah satu cara melakukan kehendak Allah kita harus berani sangkal diri dan pikul salib untuk mengikuti Tuhan Yesus Kristus. Kedua, Kuasailah dirimu supaya kita mampu melakukan kehendak Allah [ayat 7 – 11]. Untuk bisa hidup tenang, berdoa dan mengasihi seseorang dibutuhkan penguasaan diri. Terlebih untuk mengasihi dan berdoa bagi orang yang menjadi musuh kita, yang menyakiti hati kita, yang telah mengecewakan kita pada zaman ini. Dunia yang sedang bergejolak dan penuh persaingan serta permusuhan hanya dapat dimenangkan oleh pribadi-pribadi yang dapat menguasai diri. Tanpa penguasaan diri, kita akan terseret arus masuk kepusaran dunia yang penuh hawa nafsu saat ini. Oleh sebab itu pergunakanlah waktu yang tersisa untuk berpikir dan melakukan hal-hal yang bernilai kekekalan.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Kebaikan Yang Terbalik
16 April '18
KebangkitanNya Memberi Pengharapan
02 April '18
Pengorbanan Yang Tidak Sia-Sia
30 Maret '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang